• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh OKTAFIANNA MALAU NIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Oleh OKTAFIANNA MALAU NIM"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

PENENTUAN UMUR BERCAK DARAH PADA MANUSIA DEWASA DENGAN KADAR HEMOGLOBIN DIBAWAH NORMAL BERDASARKAN KARTU

STANDAR WARNA NATURAL COLOR SYSTEM (NCS)

TESIS

Oleh

OKTAFIANNA MALAU NIM. 187113001

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2021

(2)

PENENTUAN UMUR BERCAK DARAH PADA MANUSIA DEWASA DENGAN KADAR HEMOGLOBIN DIBAWAH NORMAL BERDASARKAN

KARTU STANDAR WARNA NATURAL COLOR SYSTEM (NCS)

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar

dalam Program Studi Ilmu Kedokteran Forensik Dan Medikolegal pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Oleh

OKTAFIANNA MALAU NIM. 187113001

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2021

(3)

.Iudul Tesis:

PEI{EII{TUAN I.lMTlR BERCAK DARAH PADA MANUSIA DEWASA DENGAN KADAR HEMOGLOBIN DIBAWAH NORFTAL BERDASARKAN

KARTT] STANDAR \\1ARNA NAT(.|R.,1L COLOR SYSTEM (T{CS)

Narna

i

Nomor Intluk !!ahasislva:

Program

stutli

:

OKTAFIAIiNA i\'IALA t ; I E7t t3t)0 t

ILM tr KEDOKTE RAlr[ FOREN SIK DA]\ NI EDIKOL EGAL

Pembimbing I

,.iL .,\,ran Perru. h4.Kcclt\:ort Sp.F dr Adriansyah L' Ked(For)" Sp. FM Menyetuj ui

Kornrsi Pembirnbrng

Pembimbing

II

es, MKed(For), Sp. FM dr. Doaris I Marbun, MKed(Fclr), Sp. FM

Ketua Program Studi,

Ketua TKP PPDS FK

tlstl

e,;

in Rambe. Sp.S(K) dr. Cut Adeya Adella, Sp. OC{K)

Tanggal ujian Tesis: 3l Desernber 2A2l

(4)

Telah tliuji pada Tanggal: 31 Desemb*r 2O21

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua

Anggot*

TANDA TANGAN

:

tlr. Adriansyah Lubis, MKes, MKed (For), Sp. FM

1. dr. Doaris f Marbun, MKed (For), Sp. FM

2. dr. Asan Petrus,ll{. Ked(For) Sp.F

3.dr.Surjit Sillgh,DFRI,Sp.F(K)

(5)
(6)

PENENTUAN UMUR BERCAK DARAH PADA MANUSIA DEWASA DENGAN KADAR HEMOGLOBIN DIBAWAH NORMAL BERDASARKAN KARTU STANDAR

WARNA NATURAL COLOR SYSTEM (NCS)

Oktafianna Malau, Adriansyah Lubis, Doaris Ingrid Marbun, Asan Petrus, Surjit Singh Forensik Dan Medikolegal

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Email: [email protected]

ABSTRAK Latar belakang:

Bercak darah merupakan suatu tetesan darah yang berasal dari luar tubuh yang mengenai suatu permukaan dan mengalami proses pengeringan serta perubahan warna seiring dengan berjalannya waktu.3,4 Proses perubahan warna ini berlangsung antara jam ke-1 hingga jam ke-48. Lewat dari masa itu, warna bercak darah tidak akan mengalami perubahan lagi. Proses ini disebabkan teroksidasinya molekul HbO2 menjadi methemoglobin, kemudian methemoglobin akan menggalami proses hemikrom yang mengakibatkan terjadinya dekomposisi dan denaturasi dari bercak darah

Metode:

Penelitian eksperimental dengan faktorial time-series design yang mengamati dan menilai perubahan warna bercak darah pada manusia dewasa dengan kadar hemoglobin normal berdasarkan kartu standar warna Natural Color System (NCS), dengan sampel semua mahasiswa P3D FK Universitas Malahayati dengan kadar haemoglobin dibawah normal dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dilakukan dengan cara mengambil darah subjek penelitian dari ujung jari tengah sebanyak dua tetes, meneteskan diatas keramik dan membandingkan perubahan warna yang terjadi pada jam ke-1, jam ke-2, jam ke-3, jam ke-4, jam ke-5, jam ke-6, jam ke-7, jam ke-8, jam ke-10, jam ke-12, jam ke-24, jam ke-48, dengan menggunakan alat pembanding Kartu Standar Warna Natural Color System (Ncs)

Hasil:

Proses perubahan warna dari bercak darah terjadi pada jam ke-1 sampai jam ke- 6, sedangkan pada jam ke- 6 sampai jam ke-48, warna bercak darah tidak mengalami perubahan warna lagi. Hal ini dibuktikan dengan kode warna yang muncul pada jam ke-6 sampai jam ke-48 yaitu kode warna NCS S 8502- R sebanyak 87%.

Proses ini disebabkan, karena oksihemoglobin (HbO2) yang terkandung pada bercak darah dengan kadar hemoglobin di bawah normal lebih sedikit, sehingga proses penguraian ataupun proses oksidasi ini akan berlangsung lebih cepat. Yang awal mulanya dari molekul HbO2 akan berubah menjadi methemoglobin, kemudian methemoglobin akan menggalami proses hemikrom yang mengakibatkan terjadinya proses dekomposisi dan denaturasi dari bercak darah.

Kesimpulan:

Proses perubahan warna dari bercak darah terjadi pada jam ke-1 sampai jam ke- 6, sedangkan pada jam ke- 6 sampai jam ke-48, warna bercak darah tidak mengalami perubahan warna lagi. Hal ini dibuktikan dengan kode warna yang muncul pada jam ke-6 sampai jam ke-48 yaitu kode warna NCS S 8502- R sebanyak 87%.

Kata Kunci: Hb dibawah normal, perubahan warna, Natural color system (NCS), umur bercak darah, FK UnMal Lampung

(7)

DETERMINATION OF THE AGE OF BLOOD SPOTS IN ADULTS WITH HEMOGLOBIN LEVELS BELOW NORMAL BASED ON THE NATURAL COLOR SYSTEM (NCS) COLOR

STANDARD CARD

Oktafianna Malau, Adriansyah Lubis, Doaris Ingrid Marbun, Asan Petrus, Surjit Singh Department of Forensic Medicine and Medicolegal

Faculty of Medicine, University of North Sumatra Email: [email protected]

Abstract

Background: A blood spot is a drop of blood originating from outside the body that hits a surface and undergoes a drying process and changes color over time. This color change process takes place between the 1st hour to the 48th hour. After that time, the color of the blood spots will not change again. This process is caused by the oxidation of HbO2 molecules to methemoglobin, then methemoglobin will undergo a hemichrome process which results in decomposition and denaturation of blood spots.

Methods: An experimental study with a factorial time-series design that observed and assessed the color changes of blood spots in adult humans with normal hemoglobin levels based on the Natural Color System (NCS) color standard card, with a sample of all P3D students of the Faculty of Medicine, Malahayati University with hemoglobin levels below normal and meet the inclusion and exclusion criteria, carried out by taking two drops of the blood of the research subject from the tip of the middle finger, dripping on the ceramic and comparing the color changes that occur at the 1st hour, 2nd hour, 3rd hour, 4th hour , 5th hour, 6th hour, 7th hour, 8th hour, 10th hour, 12th hour, 24th hour, 48th hour, using the Natural Color Color Standard Card comparison tool System (NCS)

Result: The process of changing the color of the bloodstains occurred at the 1st hour to the 6th hour, while at the 6th hour to the 48th hour, the color of the blood spots did not change color anymore. This is evidenced by the color code that appears at the 6th hour to the 48th hour, namely the NCS S 8502-R color code as much as 87%.

This process is caused, because the oxyhemoglobin (HbO2) contained in blood spots with less hemoglobin levels below normal, so that the decomposition process or this oxidation process will take place more quickly. Initially, the HbO2 molecule will turn into methemoglobin, then methemoglobin will undergo a hemichrome process which results in the decomposition and denaturation of the blood spots.

Conclusion: The process of changing the color of the blood spots occurs at the 1st hour to the 6th hour, while at the 6th hour to the 48th hour, the color of the bloodspot does not change color anymore. This is evidenced by the color code that appears at the 6th hour to the 48th hour, namely the NCS S 8502-R color code as much as 87%.

Key Words: Hb below normal, color change, Natural color system (NCS), age of blood spots, FK UnMal Lampung

(8)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

RIWAYAT PRIBADI

Nama : dr. Oktafianna Malau

NIM : 187041076

Tempat Tanggal Lahir : Sibolga, 25 Oktober 1980

Agama : Katholik

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Jl. Pari No 30 Sibolga

RIWAYAT PENDIDIKAN 1993 SD RK 4 Sibolga 1996 SMP Fatima Sibolga

1999 SMA Nurani Belawan Medan

2004 S1 Kedokteran Umum Universitas Methodist Indonesia

2006 Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Methodist Indonesia 2017 Magister Kesehatan Masyarakat Deli Husada Medan

2020 Magister Kedokteran Klinik (Forensik) Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT PEKERJAAN

2007 - 2010 Dokter PTT di Kabupaten Tapanuli Tengah 2010 - 2022 Dokter PNS di Kabupaten Tapanuli Tengah

RIWAYAT KELUARGA:

Nama Suami : Roy A Ginting Anak : Joanna Azya Ginting

Jovanka Early Christy Ginting Nama Orangtua : Bapak: Alm T. Malau

: Ibu: L. Pardede

Alamat orangtua : Jl. Pari No 30 Sibolga

(9)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Bapa Putra dan Roh Kudus, karena rahmat dan berkat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul: “Penentuan Umur Bercak Darah Pada Manusia Dewasa Dengan Kadar Hemoglobin Dibawah Normal Berdasarkan Kartu Standar Warna Natural Color System (Ncs)”

Fakultas Kedokteran Universitas Program Pendidikan Spesialis Forensik dan Studi Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara-Medan.

Pada kesempatan ini, Penulis juga mengucapkan terimakasih dan penghargaan setinggi – tingginya atas segala waktu, bimbingan serta pengajaran yang saya terima dalam upaya mendukung proses penyusunan dan penyelesaian dari Tesis ini, kepada:

1. Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K) Selaku Dekan FK USU.

3. dr. Asan Petrus M.Ked(For), Sp.FM selaku ketua Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK USU sekaligus penguji I, atas semua dorongan, bantuan, bimbingan dan arahan yang diberikan selama penyusunan penelitian ini.

4. dr. Adriansyah Lubis, MKes, MKed (For), Sp.FM, selaku Ketua Program Studi Ilmu Kedokteran Forensik dan Studi Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK – USU) – RSUP.H. Adam Malik Medan sekaligus sebagai pembimbing I, atas semua dorongan, bantuan, bimbingan dan arahan yang diberikan selama masa Pendidikan terutama dalam penyusunan penelitian ini.

(10)

ii

5. dr. Doaris Ingrid Marbun, M. Ked (For), Sp.FM, selaku pembimbing pendamping, atas semua dorongan, bantuan, bimbingan dan arahan yang diberikan selama selama masa Pendidikan terutama dalam penyusunan penelitian ini.

6. Dr. Surjit Singh, DFM, Sp. F(K) selaku penguji II, atas semua dorongan, bantuan, bimbingan dan arahan yang diberikan selama masa Pendidikan terutama dalam penyusunan penelitian ini.

7. Ketua Kordinator P3D FK Universitas Malahayti Bandar Lampung dr. Adrian Rival dan seluruh Mahasiswa P3D yang telah membantu selama proses pengambilan data.

8. Seluruh Dosen, guru-guru dan staf pengajar yang telah memberikan dorongan, bantuan, bimbingan dan arahan yang diberikan selama masa Pendidikan saya.

9. Kedua orangtua, Alm. T. Malau dan Mama L. Pardede yang tak henti-hentinya memberikan dukungan doa dan materil kepada saya, hingga saya dapat menjalani Pendidikan ini. Trimakasih selalu membawa namaku dalam setiap doa Mama.

10. Suami Roy Ginting, ST yang memberikan dukungan doa dan materil kepada saya, hingga saya dapat menjalani Pendidikan ini.

11. Kedua putri penulis Joanna Azya Ginting dan Jovanka Early Christy, I dedicate this writing to you, because you are my reason to keep smiling to face everything.

12. Kakak saya Ristawati A. Malau, SH, MHum yang telah memberikan begitu banyak bantuan selama saya menjalani Pendidikan ini. Thanks a lot, Sista!

(11)

iii

13. Sahabat saya dr. Rahmadsyah, MKed (For), terimakasih untuk Kerjasama terbaik yang kita jalani dalam perjuangan di masa Pendidikan ini. Thank u for being my besti!

14. dr. Irmayani, MKed (PA), Sp. PA Terimakasih untuk semua motivasi, arahan positif yang membuat saya mampu bertahan. Thank u my unbiological sister!

15. Sahabat, junior-junior sekaligus saudara di dalam nama Forensik, dr. Roland Tambunan, MKed (For), dr. Eben Ezer Debora, MKed (For), dr. Yocky Andre Siahaan, dr. Said Muzani Thank you for being my Friends.

16. Kepada semua pihak yang telah membantu, yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, terimakasih atas perhatian, pengorbanan, kesabaran dan dorongan serta doa yang diberikan kepada Penulis selama penyusunan penelitian ini.

Akhirnya penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari kata sempurna oleh karena itu Penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan dalam penulisan dimasa yang akan datang, semoga Penelitian ini dapat bermanfaat bagi kita semua yang berkecimpung di bidang Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal.

Medan, Desember 2021 Penulis

Oktafianna Malau

(12)

iv DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN SAMPUL

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PENGESAHAN

LEMBAR PENETAPAN PANITIA PENGUJI SURAT PERNYATAAN

ABSTRAK ABSTRACT

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.3.1 Tujuan Umum ... 4

1.3.2 Tujuan Khusus ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1. Darah ... 6

2.2 Pembentukan sel darah ... 6

2.3 Bahan-bahan Pembentuk darah ... 9

2.4 Mekanisme Regulasi ... 9

2.5 Komponen Darah... 11

2.5.1 Eritrosit... 12

2.5.2 Eritropoiesis ... 13

2.5.3 Membran Eritrosit ... 14

2.6 Hemoglobin ... 14

2.6.1 Fungsi Hemoglobin ... 14

2.6.2 Peningkatan dan Penurunan Hemoglobin ... 15

2.6.3 Sintesis Hemoglobin ... 15

2.6.4 Katabolisme Hemoglobin ... 16

2.6.5 Pemberi warna merah pada darah ... 16

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 18

3.1 Jenis Penelitian ... 18

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 18

3.2.1 Tempat Penelitian ... 18

3.2.2 Waktu Penelitian ... 18

3.3 Biaya Penelitian ... 19

3.4 Populasi dan Sampel Penelitian... 19

3.4.1 Populasi Penelitian ... 19

3.4.2 Sampel Penelitian ... 19

(13)

v

3.5 Tehnik Pengambilan Sampel… ... 20

3.6 Kriteria Penelitian ... 20

3.6.1 Kriteria Inklusi... 20

3.6.2 Kriteria Eksklusi ... 20

3.7 Variabel Penelitian… ... 21

3.8 Kerangka KOnsep ... 21

3.9 Defenisi Operasional ... 21

3.10 Alat dan Bahan Penelitian ... 22

3.10.1 Alat ... 22

3.10.2 Bahan Penelitian ... 23

3.11 Cara Kerja ... 23

3.12 Pengolahan dan Analisa Data ... 23

3.13 Etika Penelitian ... 24

BAB IV. HASIL PENELITIAN ... 25

4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 25

4.2 Hasil Penelitian ... 25

BAB V. PEMBAHASAN ... 34

5.1 Persentase frekuensi MahasisawaP3D Pada Kelompok Jenis kelamin ... 34

5.2 Persentase frekuensi MahasisawaP3D Pada Kelompok KadarHB ... 34

5.3 Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-1 ... 27

5.4 Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-2 ... 27

5.5 Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-3 ... 28

5.6 Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-4 ... 28

5.7 Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-5 ... 29

5.8 Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-6 ... 29

5.9 Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-7 ... 30

5.10 Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-8 ... 30

5.11 Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-9 ... 31

5.12 Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-10 ... 31

5.13 Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-11 ... 32

5.14 Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-12 ... 32

5.15 Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-24 ... 33

5.16 Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-48 ... 33

BAB VI PENUTUP ... 43

6.1 Kesimpulan ... 43

6.2 Saran ... 44

DAFTAR PUSTAKA ... 45 LAMPIRAN

(14)

vi

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1. Waktu Penelitian ... 18

Tabel 3.2. Rincian Biaya Penelitian ... 19

Tabel 5.1. Persentase frekuensi MahasisawaP3D Pada Kelompok Jenis Kelamin ... 34

Tabel 5.2. Persentase frekuensi MahasisawaP3D Pada Kelompok Kadar HB ... 34

Tabel 5.3. Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-1 ... 27

Tabel 5.4. Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-2 ... 27

Tabel 5.5. Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-3 ... 28

Tabel 5.6. Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-4 ... 28

Tabel 5.7. Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-5 ... 29

Tabel 5.8. Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-6 ... 29

Tabel 5.9. Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-7 ... 30

Tabel 5.10. Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-8 ... 30

Tabel 5.11. Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-9 ... 31

Tabel 5.12. Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-10 ... 31

Tabel 5.13. Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-11 ... 32

Tabel 5.14. Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-12 ... 32

Tabel 5.15. Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-24 ... 33

Tabel 5.16. Persentase Kode Warna Bercak Darah pada jam ke-48 ... 33

(15)

vii

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 3.1 Kerangka konsep ... 21 Diagram 4.2.1 Distribusi Frekuensi MahasisawaP3D Pada Kelompok Jenis

kelamin ... 25 Diagram 4.2.2 Distribusi distribusi Frekuensi MahasisawaP3D Pada

Kelompok Kadar HB... 26 Diagram 4.2.3 Distribusi diistribusi Frekuensi Kode Warna Bercak Darah

pada jam ke-1 ... 27 Diagram 4.2.4 Distribusi diistribusi Frekuensi Kode Warna Bercak Darah

pada jam ke-2 ... 27 Diagram 4.2.5 Distribusi diistribusi Frekuensi Kode Warna Bercak Darah

pada jam ke-3 ... 28 Diagram 4.2.6 Distribusi diistribusi Frekuensi Kode Warna Bercak Darah

pada jam ke-4 ... 28 Diagram 4.2.7 Distribusi diistribusi Frekuensi Kode Warna Bercak Darah

pada jam ke-5 ... 29 Diagram 4.2.8 Distribusi diistribusi Frekuensi Kode Warna Bercak Darah

pada jam ke-6 ... 29 Diagram 4.2.9 Distribusi diistribusi Frekuensi Kode Warna Bercak Darah

pada jam ke-7 ... 30 Diagram 4.2.10 Distribusi diistribusi Frekuensi Kode Warna Bercak Darah

pada jam ke-8 ... 30 Diagram 4.2.11 Distribusi diistribusi Frekuensi Kode Warna Bercak Darah

pada jam ke-9 ... 31 Diagram 4.2.12 Distribusi diistribusi Frekuensi Kode Warna Bercak Darah

pada jam ke-10 ... 31 Gambar 4.2.13 Distribusi diistribusi Frekuensi Kode Warna Bercak Darah

pada jam ke-11 ... 32 Diagram 4.2.14 Distribusi diistribusi Frekuensi Kode Warna Bercak Darah

pada jam ke-12 ... 32 Diagram 4.2.15 Diagram diistribusi Frekuensi Kode Warna Bercak Darah

pada jam ke-24 ... 33 Diagram 4.2.16 Distribusi diistribusi Frekuensi Kode Warna Bercak Darah

pada jam ke-48 ... 33

(16)

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Ethical Clearance

Lampiran 2. Surat Permohonan Penelitian Lampiran 3. Surat Izin Penelitian

Lampiran 4. Lembar Penjelasan Kepada Subjek Penelitian

Lampiran 5. Lembar Persetujuan Mengikuti Penelitian Setelah Mendapat Penjelasan

Lampiran 6. Surat Selesai Penelitian Lampiran 7. Tabulasi warna bercak darah Lampiran 8. Dokumentasi

(17)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Bercak darah merupakan suatu tetesan darah yang berasal dari luar tubuh yang mengenai suatu permukaan dan mengalami proses pengeringan serta perubahan warna seiring dengan berjalannya waktu.3,4 Proses perubahan warna ini berlangsung antara jam ke-1 hingga jam ke-48. Lewat dari masa itu, warna bercak darah tidak akan mengalami perubahan lagi. Proses ini disebabkan teroksidasinya molekul HbO2 menjadi methemoglobin, kemudian methemoglobin akan menggalami proses hemikrom yang mengakibatkan terjadinya dekomposisi dan denaturasi dari bercak darah.4,6

Dalam kasus kejahatan, bagian ilmu kedokteran forensik berperan penting dalam mengungkap suatu kasus pembunuhan melalui proses-proses penyidikan yang dilakukan di tempat kejadian perkara (TKP). Pada kebanyakan kasus kejahatan dengan kekerasan fisik, seperti pembunuhan, penganiayaan, perkosaan, dan lain-lain, mungkin ditemukan darah, cairan mani, air liur, urin, rambut dan jaringan tubuh lain di tempat kejadian perkara (TKP). Bahan-bahan tersebut mungkin berasal dari korban atau pelaku kejahatan atau dari keduanya, dan dapat digunakan untuk membantu mengungkapkan peristiwa kejahatan tersebut secara ilmiah. Bahan-bahan seperti ini umumnya dijumpai dalam jumlah yang sangat sedikit, tetapi semakin cermat dan terampil seorang ahli, semakin banyaklah yang dapat diungkapkan.3

Salah satu elemen barang bukti yang penting di tempat kejadian perkara (TKP)

(18)

2

(TKP) adalah Bercak darah yang merupakan barang bukti yang sangat penting.

Selain dipergunakan untuk pemeriksaan DNA dan melakukan rekonstruksi kejadian, bercak darah di TKP dapat dipergunakan untuk memperkiraan umur bercak darah yang bermanfaat untuk membuat rentang waktu (time frame) kejadian terjadinya suatu peristiwa pidana.

Penelitian mengenai perubahan warna bercak darah pernah diteliti oleh Shahrom Wahid, seorang ahli ilmu forensik dari Malaysia. Dalam penelitiannya Shahrom menemukan bahwa sifat darah ada yang masih basah, telah beku atau kering maupun telah berubah warna perlu diperiksa. Darah yang masih basah menunjukkan perdarahan baru terjadi. Setitik darah yang membeku dan menjadi kering dapat terjadi lebih kurang dalam waktu setengah hingga satu jam pada cuaca biasa di Malaysia. Darah yang kering pada pakaian yang terkena noda menjadikan pakaian itu keras. Apabila dilipat, beberapa serpihan darah kering kelihatan gugur dari pakain. Darah kering masih berwarna merah dalam masa lebih kurang 12 jam, bertukar menjadi warna coklat pekat dalam masa lebih kurang 24 jam, dan menjadi hitam dalam masa beberapa hari hingga beberapa tahun. Pertukaran warna terjadi karena pertukaran hemoglobin bertukar menjadi methemoglobin dan hematin mengikuti masa. Dokter hanya boleh memberi pendapat sama ada kesan darah itu sangat baru (jika masih basah), masih baru (jika kering berwarna merah) atau telah lama (jika kering berwarna hitam). Darah yang kering berwarna hitam sukar untuk dikesan dengan mata pada pakaian berwarna gelap. Walau bagaimanapun, dokter tidak perlu bimbang akan hal ini karena ahli ilmu forensik mempunyai fungsi tersendiri untuk mempelajari bercak darah serta sifat – sifatnya yang lain (seperti golongan darah, jenis hemoglobin, penentuan jenis kelamin dari pada sempel darah

(19)

3

dan sebagainya pada pakaian.5

Stuart H James yang tergabung dalam IABPA (International Association of Bloodstain Pattern Analysists) pada tahun 1999 juga pernah melakukan penelitian mengenai interpretasi warna bercak darah yang ditemukan di tempat kejadian perkara di Amerika. Namun Stuart hanya meneliti warna bercak darah pada saat bercak darah tidak mengalami perubahan lagi.6

Sampai saat ini ada beberapa metode yang dikembangkan oleh peneliti- peneliti forensik di dunia dalam menilai bercak darah. Diantaranya menggunakan alat Electrone Paragmetic Resonance (EPR), Reflectance Spectroscopy, dan High Performance Liquid Chromatgraphy (HPLC). Tetapi metode-metode ini sulit di aplikasikan secara langsung di TKP, karena pengerjaannya yang tidak praktis, faktor ketersedian alat serta biaya operasional yang tinggi, menjadi hal yang sulit untuk tidak dilakukannya metode Ini. Untuk itu, metode yang paling sederhana dalam menilai bercak darah yang ditemukan di TKP adalah dengan menilai warna dari bercak darah. 2

Pada penelitian 2011 di Medan, Harianja juga meneliti umur bercak darah yang dilihat berdasarkan perubahan warna selama 48 jam, dengan menggunakan sampel bercak darah pada manusia dewasa, dengan kadar hemoglobin yang normal. Saat pengamatan yang dilakukan, Harianja memakai kartu standar warna Natural Color System (NCS) untuk membandingkan warna bercak darah yang ia amati tersebut. Berdasarkan hasil penelitiannya ini, didapatkan kesimpulan bahwa umur bercak darah dapat dinilai berdasarkan perubahan warna yang terjadi selama 48 jam.

Pada penelitian tahun 2014 di Pekan Baru, Fitra Afdani juga meneliti

(20)

4

PERUBAHAN WARNA BERCAK DARAH PADA MANUSIA DEWASA DENGAN KADAR HEMOGLOBIN DI BAWAH NORMAL BERDASARKAN KARTU STANDAR WARNA NATURAL COLOR SYSTEM (NCS), Berdasarkan hasil penelitiannya didapatkan kesimpulan bahwa bahwa proses perubahan warna dari bercak darah terjadi pada jam ke-1 sampai jam ke- 6 dan pada jam ke-6 sampai jam ke-48, proses perubahan warna bercak darah tidak mengalami perubahan warna lagi atau mengalami Stagnan.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti ingin melakukan penelitian mengenai perubahan warna bercak darah pada manusia dewasa dengan kadar hemoglobin di bawah normal berdasarkan kartu standar warna Natural Color System (NCS)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimanakah penentuan umur bercak darah pada manusia dewasa dengan kadar hemoglobin dibawah normal berdasarkan kartu standar warna Natural Color System (NCS)?

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan umum

Untuk mengetahui umur bercak darah pada manusia dewasa dengan kadar hemoglobin dibawah normal berdasarkan kartu standar warna natural color system (NCS)

1.3.2 Tujuan khusus

1. Menentukan umur bercak darah manusia dewasa berdasarkan perubahan warna bercak darah manusia dengan kadar hemoglobin dibawah normal

(21)

5

berdasarkan kartu standar warna natural color system (NCS)

2. Mengetahui warna apa saja yang timbul pada bercak darah manusia dewasa sesuai dengan jam yang telah ditentukan.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Sebagai salah satu bahan masukan bagi para dokter di Indonesia, khususnya dokter Forensik dalam menentukan waktu terjadinya suatu peristiwa kekerasan fisik yang mengakibatkan korban terluka dan meninggalkan bercak-bercak darah yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP) 2. Sebagai salah satu bahan masukan bagi para penyidik dan para ahli

laboratorium forensik dalam menentukan waktu terjadinya suatu peristiwa kekerasan fisik yang mengakibatkan korban terluka dan meninggalkan bercak-bercak darah yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP) 3. Sebagai salah satu referensi untuk penelitian selanjutnya.

4. Memenuhi syarat dalam menyelesaikan Program Pendidikan Dokter Spesialis

(22)

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Darah

Darah merupakan komponen esensial mahluk hidup, mulai dari binatang primitif sampai manusia. Dalam keadaan fisiologik, darah selalu berada dalam pembuluh darah sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai pembawa oksigen, mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi, dan mekanisme hemostasis.7

Darah seperti yang telah didefinisikan dan yang dapat dilihat, adalah suatu cairan tubuh yang berwarna merah dan kental. Kedua sifat utama ini, yaitu warna merah dan kental, yang membedakan darah dari cairan tubuh lainnya. Kekentalan ini disebabkan oleh banyaknya senyawa dengan berat molekul yang berbeda, dari yang kecil sampai yang besar seperti protein, yang terlarut didalam darah. Warna merah, yang memberi ciri yang sangat khas bagi darah, disebabkan oleh senyawa berwarna merah yang terdapat dalam sel-sel darah merah yang tersuspensi dalam darah (Sadikin, 2002).

Jumlah dalam tubuh bervariasi, tergantung dari berat badan seseorang. Pada orang dewasa, 1/13 berat badan atau kira-kira 4,5-5 liternya adalah darah. Faktor lain yang menentukan banyaknya darah adalah usia, pekerjaan, keadaan jantung, dan pembuluh darah (Syaifuddin, 2009).

2.2 Pembentukan sel darah (Hemopoesis/Hematopoiesis)

Hemopoesis atau hematopoiesis ialah proses pembentukan darah. Tempat hemopoesis pada manusia berpindah-pindah sesuai dengan umur :

(23)

7

a) Janin: Umur 0-2 bulan (kantung kuning telur) umur 2-7 bulan (hati, limpa) umur 5-9 bulan (sumsum tulang)

b) Bayi: Sumsum tulang

c) Dewasa: Vertebra, tulang iga, sternum, tulang tengkorak, sacrum dan pelvis, ujung proksimal femur.8

Pada orang dewasa dalam keadaan fisiologik semua hemopoesis terjadi pada sumsum tulang. Untuk kelangsungan hemopoesis diperlukan :

1. Sel induk hemopoetik (hematopoietic stem cell)

Sel induk hemopoetik ialah sel-sel yang akan berkembang menjadi sel-sel darah, termasuk eritrosit, lekosit, trombosit, dan juga beberapa sel dalam sumsum tulang seperti fibroblast. Sel induk yang paling primitif sebagai pluripotent (totipotent) stem cell.

Sel induk pluripotent mempunyai sifat :

a. Self renewal : kemampuan memperbarui diri sendiri sehingga tidak akan pernah habis meskipun terus membelah;

b. Proliferative : kemampuan membelah atau memperbanyak diri;

c. Diferensiatif : kemampuan untuk mematangkan diri menjadi sel-sel dengan fungsi-fungsi tertentu.9

Menurut sifat kemampuan diferensiasinya maka sel induk hemopoetik dapat dibagi menjadi :

a. Pluripotent (totipotent)stem cell : sel induk yang mempunyai yang mempunyai kemampuan untuk menurunkan seluruh jenis sel-sel darah.

(24)

8

b. Committeed stem cell : sel induk yang mempunyai komitmet untuk berdiferensiasi melalui salah satu garis turunan sel (cell line). Sel induk yang termasuk golongan ini ialah sel induk myeloid dan sel induk limfoid.

c. Oligopotent stem cell : sel induk yang dapat berdiferensiasi menjadi hanya beberapa jenis sel. Misalnya CFU-GM (colony forming unit- granulocytelmonocyte) yang dapat berkembang hanya menjadi sel-sel granulosit dan sel-sel monosit.

d. Unipotent stem cell : sel induk yang hanya mampu berkembang menjadi satu jenis sel saja. Contoh CFU-E (colony forming unit- erythrocyte) hanya dapat menjadi eritrosit, CFU-G (colony forming unit-granulocyte) hanya mampu berkembang menjadi granulosit.

2. Lingkungan mikro (microenvirontment) sumsum tulang

Lingkungan mikro sumsum tulang adalah substansi yang memungkinkan sel induk tumbuh secara kondusif. Komponen lingkungan mikro ini meliputi:

a) Mikrosirkulasi dalam sumsum tulang b) Sel-sel stroma :

i. Sel endotel ii. Sel lemak iii. Fibroblast iv. Makrofag v. Sel reticulum

c) Matriks ekstraseluler : fibronektin, haemonektin, laminin, kolagen, dan proteoglikan.

(25)

9

Lingkungn mikro sangat penting dalam hemopoesis karena berfungsi untuk:

a. Menyediakan nutrisi dan bahan hemopoesis yang dibawa oleh peredaran darah mikro dalam sumsum tulang.

b. Komunikasi antar sel (cell to cell communication), terutama ditentukan oleh adanya adhesion molecule.

c. Menghasilkan zat yang mengatur hemopoesis : hematopoietic growth factor, cytokine, dan lain-lain.

2.3 Bahan-Bahan Pembentuk Darah

Bahan-bahan yang diperlukan untuk pembentukan darah adalah :

1. Asam folat dan vitamin B12 : merupakan bahan pokok pembentuk inti sel.

2. Besi : sangat diperlukan dalam pembentukan hemoglobin.

3. Cobalt, magnesium, Cu, Zn.

4. Asam amino.

5. Vitamin lain : vitamin C. vitamin B kompleks dan lain-lain10 2.4 Mekanisme Regulasi

Mekanisme regulasi sangat penting untuk mengatur arah dan kuantitas pertumbuhan sel dan pelepasan sel darah yang matang dari sumsum tulang ke darah tepi sehingga sumsum tulang dapat merespon kebutuhan tubuh dengan tepat.

Produksi komponen darah yang berlebihan ataupun kekurangan (defisiensi) sama- sama menimbulkan penyakit. Zat-zat yang berpengaruh dalam mekanisme regulasi ini adalah :

a. Faktor pertumbuhan hemopoesis (hematopoietic growth factor)

(26)

10

i. Granulocyte-macrophage colony stimulating factor (GM-CSF) ii. Granulocyte colony stimulating factor (G-CSF)

iii. Macrophage-colony stimulating factor (M-CSF) iv. Thrombopoietin

v. Burst promoting activity (BPA) vi. Stem cell factor (kit ligand)

b. Sitokon (Cytokine) seperti misalnya IL-3 (interleukin-3), IL-4, IL-5, IL-7, IL-8, IL-9, IL-9, IL-10.

Growth factor dan sitokin sebagian besar dibentuk oleh sel-sel darah sendiri, seperti limfosit, monosit, atau makrofag, serta sebagian oleh sel- sel penunjang, seperti fibroblast dan endotil. Sitokin ada yang merangsang pertumbuhan sel induk (stimulatory cytokine), sebagian lagi menekan pertumbuhan sel induk (inhibitory cytokine). Keseimbangan kedua jenis sitokin ini sangat menentukan proses hemopoesis normal.

c. Hormon hemopoetik spesifik yaitu Erythrpoietin : merupakan hormon yang dibentuk diginjal khusus merangsang precursor eritroid.

d. Hormon nonspesifik

Beberapa jenis hormone diperlukan dalam jumlah kecil untuk hemopoesis, seperti:

i. Androgen : berfungsi menstimulasi eritropoesis.

ii. Estrogen : menimbulkan inhibisi eritropoesis.

iii. Glukokortikoid.

iv. Growth hormon

(27)

11

v. Hormone tiroid

Dalam regulasi hemopoesis normal terdapat feedback mechanism: suatu mekanisme umpan balik yang dapat merangsang hemopoesisjika tubuh kekurangan komponen darah (positive loop) atau menekan hemapoesis jika tubuh kelebihan komponen darah tertentu (negative loop).11

Karakteristik darah Menurut Desmawati, (2013) karakteristik umum darah meliputi warna, viskositas, pH, volume, dan komposisinya:

1. Warna

Darah arteri bewarna merah muda karena banyak O2 yang berkaitan dengan hemoglobin dalam sel darah merah. Darah vena bewarna merah gelap/tua karena kurang O2 dibandingkan dengan darah arteri.

2. Viskositas

Viskositas darah ¾ lebih tinggi dari pada viskositas air yaitu sebesar 1.048- 1.006.

3. pH

pH darah bersifat alkaline dengan pH 7.35-7.45 (netral 7.00).

4. Volume

Pada orang dewasa volume darah sekitar 70-75 ml/kg BB, atau sekitar 4- 5 liter.

Secara garis besar dapat dikatakan, bahwa fungsi darah ialah sebagai sarana transpor, alat homeostasis, dan alat pertahanan.

2.5 Komponen Darah

Darah terdiri atas 2 komponen utama, yaitu sebagai berikut:

a. Plasma darah Lebih dari separuh bagian dari darah merupakan cairan

(28)

12

(plasma), yang sebagian besar mengandung garam-garam terlarut dan protein. Protein utama dalam plasma adalah albumin. Protein lainnya adalah antibodi (immunoglobulin) dan protein pembekuan. Selain itu plasma juga mengandung hormon, elektrolit, lemak, gula, mineral dan vitamin.

b. Butir-butir darah (blood corpuscles), yang terdiri atas:

1. Eritrosit : sel darah merah (SDM) - red blood cell (RBC).

2. Leukosit : sel darah putih (SDP) - white blood cell (WBC).

3. Trombosit : butir pembeku-platelet. Plasma darah dikurangi protein pembekuan darah disebut sebagai serum (Bakta, 2006).

2.5.1 Eritrosit

Eritrosit membawa hemoglobin didalam sirkulasi. Ia merupakan cakram bikonkaf yang dibentuk dalam sumsum tulang. Pada mamalia, ia kehilangan intinya sebelum memasuki sirkulasi. Untuk mengangkut hemoglobin agar berkontak erat dengan jaringan dan agar pertukaran gas berhasil, eritrosit yang berdiameter 8 µm harus dapat secara berulang melalui mikrosirkulasi yang diameter minimumnya 3,5 µm, untuk mempertahankan hemoglobin dalam keadaan tereduksi (ferro) dan untuk mempertahankan keseimbangan osmotik walaupun konsentrasi protein (hemoglobin) tinggi dalam sel. Perjalanan secara keseluruhan selama masa hidupnya yang 120 hari diperkirakan sepanjang 480 km (300 mil). Untuk memenuhi fungsi ini, eritrosit adalah cakram bikonkaf yang fleksibel dengan kemampuan menghasilkan energy sebagai adenosin trifosfat (ATP) melalui jalur glikolisis anaerob (Embden-meyerhof) dan menghasilkan kekuatan pereduksi sebagai NADH melalui jalur ini serta sebagai nikotinamida adenine dinukleotida

(29)

13

fosfat tereduksi (NADPH) melalui jalur pintas heksosa monofosfat.12 2.5.2 Eritropoiesis

Pembentukan eritrosit (eritropoiesis) merupakan suatu mekanisme umpan balik. Ia dihambat oleh peningkatan kadar eritrosir bersirkulasi dan dirangsang oleh anemia. Ia juga dirangsang oleh hipoksia dan peningkan aklimatisasi ke tempat tinggi. Eritropoiesis dikendalikan oleh suatu hormon glikoprotein bersirkulasi yang dinamai eritropoietin yang terutama disekresikan oleh ginjal.13

Setiap orang memproduksi sekitar 1012 eritrosit baru tiap hari melalui proses eritropoiesis yang kompleks dan teratur dengan baik. Eritropoiesis berjalan dari sel induk menjadi prekursor eritrosit yang dapat dikenali pertama kali di sumsum tulang, yaitu pronormoblas. Pronormoblas adalah sel besar dengan sitoplasma biru tua, dengan inti ditengah dan nucleoli, serta kromatin yang sedikit menggumpal.

Pronormoblas menyebabkan terbentuknya suatu rangkaian normoblas yang makin kecil melalui sejumlah pembelahan sel. Normoblas ini juga mengandung sejunlah hemoglobin yang makin banyak (yang berwarna merah muda) dalam sitoplasma, warna sitoplasma makin biru pucat sejalan dengan hilangnya RNA dan apparatus yang mensintesis protein, sedangkan kromatin inti menjadi makin padat. Inti akhirnya dikeluarkan dari normoblas lanjut didalam sumsum tulang dan menghasilkan stadium retikulosit yang masih mengandung sedikit RNA ribosom dan masih mampu mensintesis hemoglobin.14

Sel ini sedikit lebih besar daripada eritrosit matur, berada selama 1-2 hari dalam sumsum tulang dan juga beredar di darah tepi selama 1-2 hari sebelum menjadi matur, terutama berada di limpa, saat RNA hilang seluruhnya. Eritrosit matur berwarna merah muda seluruhnya, adlah cakram bikonkaf tak berinti. Satu

(30)

14

pronormoblas biasanya menghasilkan 16 eritrosit matur. Sel darah merah berinti (normoblas) tampak dalam darah apabila eritropoiesis terjadi diluar sumsum tulang (eritropoiesis ekstramedular) dan juga terdapat pada beberapa penyakit sumsum tulang. Normoblas tidak ditemukan dalam darah tepi manusia yang normal

2.5.3 Membran Eritrosit

Membran eritrosit terdiri atas lipid dua lapis (lipid bilayer), protein membran integral, dan suatu rangka membrane. Sekitar 50% membran adalah protein, 40% lemak, dan 10 % karbohidrat. Karbohidrat hanya terdapat pada permukaan luar sedangkan protein dapat diperifer atau integral, menembus lipid dua lapis.15

2.6 Hemoglobin

Hemoglobin merupakan bagian dari eritrosit yang terdiri dari komponen heme dan globin. Heme merupakan gabungan protoporfirin dengan besi (Fe), sedangkan globin merupakan protein yang terdiri atas dua rantai alfa dan dua rantai beta.

2.6.1 Fungsi hemoglobin

Fungsi hemoglobin adalah mengangkut O2 dari paru dan dalam peredaran darah untuk dibawa ke jaringan. Ikatan hemoglobin dengan O2 disebut oksihemoglobin (HbO2), satu gram hemoglobin akan bergabung dengan 1,34 ml O2, terdapat sekitar 300 molekul hemoglobin terkandung dalam satu sel eritrosit.

Disamping O2, hemoglobin juga membawa karbon monoksida dan dengan karbon monoksida membentuk ikatan karbon monoksihemoglobin (HbCO), juga berperan dalam keseimbangan pH darah. Sintesis hemoglobin terjadi selama proses eritropoisis, pematangan sel darah merah akan mempengaruhi fungsi hemoglobin

(31)

15

(Desmawati, 2013).

Tugas akhir hemoglobin adalah menyerap karbondioksida dan ion hidrogen serta membawanya ke paru tempat zat-zat tersebut dilepaskan dari hemoglobin.

Terdapat paling sedikit 100 jenis molekul hemoglobin abnormal yang diketahui terdapat pada manusia, yang terbentuk akibat berbagai mutasi. Sebagian besar hemoglobin bermutasi karena molekul hemoglobin membawa O2 lebih sedikit dari hemoglobin normal (Nugraha, 2002).

2.6.2 Peningkatan dan penurunan hemoglobin

Peningkatan kadar hemoglobin tergantung oleh lamanya reksia, juga tergantung dari respons individu yang berbeda-beda. Kerja fisik yang berat juga dapat menaikkan kadar hemoglobin, hal ini disebabkan masuknya sejumlah eritrosit yang disimpan di dalam kapiler-kapiler ke peredaran darah atau karena hilangnya plasma (Bakta, 2006).

Kadar hemoglobin dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu usia, jenis kelamin, kehamilan, menstruasi, asupan makanan, kebiasaan minum teh atau kopi (dapat menurunkan penyerapan besi), kebiasaan merokok dan penyakit infeksi. Ada beberapa masalah klinis yang menyebabkan penurunan kadar hemoglobin seperti anemia, kanker, penyakit ginjal, pemberian cairan intravena berlebihan dan penyakit atau infeksi kronis, juga pemberian obat-obatan dalam waktu yang lama seperti antibiotika, aspirin, sulfonamide, primaquin, kloroquin

2.6.3 sintesis hemoglobin

Kandungan hemoglobin normal rata-rata 16 g/dl pada pria dan 14 g/dl pada wanita, yang semuanya terdapat dalam eritrosit. Didalam badan pria 70 kg ada sekitar 900 g hemoglobin serta 0,3 g hemoglobin dirusak dan 0,3 g disintesis setiap

(32)

16

jam. Bagian hem dari molekul hemoglobin disintesis dari glisin dan suksinil-KoA.21

2.6.4 Katabolisme hemoglobin

Bila eritrosit tua dirusak di dalam system retikuloendotel, maka bagian globin molekul hemoglobin dipecah dan hem diubah ke biliverdin. Pada manusia, kebanyakan biliverdin diubah ke bilirubin dan diekskresikan ke dalam empedu.

Besi dari hem digunakan kembali untuk sintesis hemoglobin; jika darah hilang dari badan dan defisiensi besi tidak dikoreksi, maka timbul anemia defisiensi besi.22 2.6.5 Pemberi Warna Merah Pada Darah

Protein heme berfungsi dalam pengikatan dan pengangkutan O2, serta fotosintesis. Gugus prostetik heme merupakan senyawa tetrapirol siklik, yang jejaring ekstensifnya terdiri atas ikatan rangkap terkonjugasi, yang menyerap cahaya pada ujung bawah spektrum visibel sehingga membuatnya berwarna merah gelap. Senyawa tetrapirol terdiri atas 4 molekul pirol yang dihubungkan dalam cincin planar oleh 4 jembatan metilen-α. Substituen β menentukan bentuk sebagai heme atau senyawa lain. Terdapat 1 atom besi fero (Fe2+) pada pusat cincin planar, yang bila teroksidasi, akan menghancurkan aktivitas biologik.22

Bercak darah merupakan elemen barang bukti yang penting di tempat kejadian perkara (TKP) merupakan barang bukti yang sangat penting.Selain dipergunakan untuk pemeriksaan DNA dan melakukan rekonstruksi kejadian, bercak darah di TKP dapat dipergunakan untuk memperkiraan umur bercak darah yang bermanfaat untuk membuat rentang waktu (time frame)kejadian terjadinya suatu peristiwa pidana.

Pada bercak darah dengan kadar hemoglobin di bawah normal, akan cepat

(33)

17

mengalami proses oksidasi, karena oksigen yang terlarut pada hemoglobin lebih sedikit, kemudian didukung oleh berbagai faktor seperti keadaan suhu yang tinggi, kelembaban yang rendah dan paparan sinar matahari akan mempengaruhi cepatnya proses oksidasi. Bila dilihat secara kasat mata, proses perubahan warna ini akan mengalami percepatan dari awal mulanya berwarna merah, menjadi merah kecoklatan, kemudian berwarna coklat gelap, dan sampai akhirnya warna bercak darah tersebut berwarna kehitaman. Maka dari itu, bercak darah yang ditemukan di TKP memiliki kegunaan pada proses penyidikan terutama dalam memperkirakan waktu kejadian tindak kejahatan.4, 10

Bercak darah yang paling sering ditemukan di TKP adalah di lantai. Hal ini disebabkan tetesan darah yang jatuh ke lantai mengikuti arah dari gaya gravitasi bumi. Dalam mengamati bercak darah ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, salah satunya warna dari lantai. Warna dari lantai memiliki pengaruh bagi pancaran warna bercak darah. Apabila lantai yang berwarna gelap maka pancaran warna bercak darah menjadi sedikit gelap dari warna aslinya, hal sebaliknya juga terjadi pada lantai yang memiliki warna yang terang. Selain itu jumlah dan volume tetesan darah memiliki pengaruh pada warna bercak darah, dikarenakan semakin banyaknya jumlah dan volume tetesan tersebut pada suatu objek, maka tingkat ketebalan permukaan akan semakin tebal menjadikan warna pada bercak darah lebih pekat dibandingkan jumlah dan volume tetesan yang sedikit.

Maka dari itu, dalam mendeskripsikan warna bercak darah, penyidik serta ahli forensik harus mempertimbangkan keadaan-keadaan tersebut, agar warna dari bercak darah yang ditemukan di TKP bisa diinterpretasi dengan baik.7,10

(34)

18 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian.

Penelitian merupakan penelitian eksperimental dengan faktorial time-series design yang mengamati dan menilai perubahan warna bercak darah pada manusia dewasa dengan kadar hemoglobin normal berdasarkan kartu standar warna Natural Color System (NCS)

3.2.1 Tempat Dan Waktu Penelitian.

3.2.2 Tempat penelitian

Dilakukan di lingkungan Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan.

3.2.3 Waktu penelitian

Dilakukan dalam periode waktu 10 September 2021-31 Desember 2021.

Tabel 3.1. Waktu Penelitia

KEGIATAN WAKTU PELAKSANAAN

September 2021

Oktober 2021 November 2021 Desember 2021

M 2

M 3

M 4

M 1

M 2

M 3

M 4

M 1

M 2

M 3

M 4

M 1

M 2

M 3

M 4

Pengajuan judul Studi

kepustakaan Pembacaan proposal Pengumpulan dan pengolahan data

Laporan hasil penelitian

(35)

19

3.3 Biaya Penelitian

Tabel 3.2. Biaya Penelitian

No Jenis Pengeluaran Biaya yang diusulkan (Rp)

1 Pembuatan Proposal 1.000.000

2 Alat dan Bahan 2.500.000

3 Seminar Proposal Penelitian 2.500.000

4 ATK 7.000.000

5 Transportasi 2.000.000

6 Seminar Hasil Penelitian 2.000.000

7 Pembuatan Tesis 3 000.000

Jumlah Rp. 20.000.000

3.4 Populasi dan Sampel Penelitian 3.4.1 Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh mahasiswa P3D FK Universitas Malahayati yang telah melakukan Medical Chek Up dan bersedia dijadikan objek penelitian.

3.4.2 Sampel

Sampel penelitian adalah semua mahasiswa P3D FK Universitas Malahayati dengan kadar haemoglobin dibawah normal dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

3.4.2.1 Besar Sampel

Semua mahasiswa P3D FK Universitas Malahayati dengan kadar hemoglobin dibawah normal.

3.5 Tehnik Pengambilan Sampel

Sampel penelitian yang diperoleh dari data mahasiswa P3D FK

(36)

20

Universitas Malahayati menggunakan metode total sampling.

3.6 Kriteria Penelitian

3.6.1 Kriteria inklusi.

1. Semua mahasiswa P3D FK Universitas Malahayati yang bersedia ikut serta dalam penelitian.

2. Semua mahasiswa P3D FK Universitas Malahayati yang berjenis

kelamin laki-laki dengan Hb < 13 gr/dl dan yang berjenis kelamin wanita dengan Hb < 12 gr/dl.

3.6.2 Kriteria eksklusi.

1. Mahasiswa P3D FK Universitas Malahayati yang tidak bersedia ikut serta dalam penelitian.

2. Mahasiswa P3D FK Universitas Malahayati yang berjenis kelamin laki-laki dengan Hemoglobin normal

3. Memiliki riwayat penyakit kelainan darah, penyakit-penyakit keganasan dan penyakit-penyakit infeksi lain.

4. Sedang mengkonsumsi obat-obat yang mempengaruhi proses pembentukan sel-sel darah, obat-obat yang mempengaruhi proses pembekuan darah, obat- obat yang merubah viskositas darah dan obat-obat yang menyebabkan kerusakan sel-sel darah.

3.7 Variabel Penelitian

1. Variabel bebas: laki-laki Hb < 13 gr/dl, perempuan Hb < 12 gr/dl 2. Variabel tergantung: warna bercak darah

(37)

21

3.8 Kerangka Konsep

Berdasarkan tujuan penelitian diatas maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah:

Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian 3.9 Defenisi Operasional

1. Bercak darah manusia dengan kadar hemoglobin darah dibawah normal adalah dua tetes darah yang diambil dari ujung jari tengah, kemudian diteteskan diatas keramik berwarna putih ukuran 40x40 cm.

2. Waktu yang ditentukan untuk pengamatan adalah jam ke-1, jam ke-2, jam ke- 3, jam ke-4, jam ke-5, jam ke-6, jam ke-7, jam ke-8, jam ke-10, jam ke-12, jam ke-24, jam ke-48

3. Perubahan warna adalah perubahan pada bercak darah yang diamati sesuai dengan jam yang telah ditentukan, kemudian dibandingkan dengan kartu warna dan diberi kode sesuai dengan kode yang tertera pada kartu warna.

4. Umur bercak darah manusia adalah waktu yang dihitung sejak darah diteteskan hingga terjadi perubahan warna. yang dinilai dalam satuan jam.

Merupakan skala numerik ratio.

5. kadar hemoglobin darah dibawah normal adalah < 13-17 gr/dl, dan < 12-14 Waktu

Warna

Umur bercak darah Bercak Darah

(38)

22

gr/dl yang tertera pada lembar hasil medical checkup.

6. Alat pembanding warna yang digunakan adalah kartu warna Natural Color System (NCS) yang dikeluarkan oleh Scandinavian Colour Institute (SCI) of Stockholm, Sweden. Kartu ini pertama sekali di terbitkan oleh A.S. Forsius dalam bukunya yang berjudul Physica pada tahun 1611. Kartu ini kemudian disempurnakan oleh seorang ahli Fisiologis Jerman yang bernama Ewald Hering. Kartu warna ini berlaku secara internasional, dengan menggunakan kode-kode tertentu untuk tiap warna. Skala yang dipakai adalah kategorikal nominal.

3.10 Alat dan Bahan Penelitian 3.10.1 Alat

1. Lembaran hasil pemeriksaan kesehatan menyeluruh subjek penelitian.

2. Jam 3. Lancet

4. Keramik warna putih ukuran 30 x 30 cm.

5. Alat pengukur suhu ruangan.

6. Kartu warna Natural Colour System (NCS) 3.10.2 Bahan

Dua tetes darah subjek penelitian.

3.11 Cara Kerja

1. Pengumpulan data subjek penelitian dilakukan meliputi : nama, umur, jenis kelamin, alamat.

2. Pengecekan terhadap hasil pemeriksaan kesehatan subjek penelitian secara

(39)

23

menyeluruh yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

3. Mengambil darah subjek penelitian dari ujung jari tengah dengan cara menusuk kulit dengan lancet dari ujung jari tengah sebanyak dua tetes dengan cara menusuk kulit dengan lancet, meneteskan diatas keramik dan membandingkan perubahan warna yang terjadi pada jam ke-1, jam ke-2, jam ke-3, jam ke-4, jam ke-5, jam ke-6, jam ke-7, jam ke-8, jam ke-10, jam ke- 12, jam ke-24, jam ke-48, dengan menggunakan alat penelitian.

4. Suhu ruangan selama melakukan pengamatan 25˚C

5. Menentukan warna yang terjadi sesuai dengan waktu (jam) yang telah ditentukan berdasarkan persentase jumlah warna yang paling banyak muncul.

3.12 Pengolahan dan Analisa data

1. Editing

Memeriksa ketepatan dan kelengkapan semua data yang diperoleh. Data yang belum lengkap atau ada kesalahan dilengkapi dengan mewawancarai ulang subjek penelitian.

2. Coding

Data yang telah terkumpul dikoreksi ketepatan dan kelengkapannya kemudian diberi kode secara manual sebelum diolah dengan computer.

3. Entri

Memasukkan data yang telah dibersihkan kedalam program computer.

4. Cleaning Data

Memeriksa semua data yang telah dimasukkan kedalam program computer agar tidak terjadi kesalahan dalam pemasukan data.

(40)

24

5. Saving

Menyimpan data untuk siap dianalisis.

6. Analisis Data

Data dianalisis dan disajikan dalam tabel persentase frekwensi.

3.13 Ethical Clearance

Penelitian ini akan dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Komite Etik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara Medan dengan PERSETUJUAN PELAKSANAAN PENELITIAN KESEHATAN No 1197/KEP/USU/2021.

(41)

25 BAB IV

HASIL

4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Bandar Lampung merupakan salah satu Fakultas Kedokteran pada Universitas swasta di provinsi Bandar Lampung yang berdiri sejak tahun 1994 terletak di jalan Pramuka no 27 Bandar Lampung. Mahasiswa P3D P3D FK Universitas Malahayati merupakan mahasiswa yang sudah mendapat gelar Sarjana Kedokteran dan melakukan praktek kepaniteran klinik selama 2 tahun salah satunya di Rumah sakit dikota Medan yang di kordinator oleh ketua Koordniator Perwakilan Medan.

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1 Distribusi frekuensi mahasiswa P3D pada kelompok jenis kelamin Berdasarkan penelitian yang dilakukan sejak tanggal 23 Oktober 2021 sampai dengan 23 Desember 2021 diperoleh hasil dengan rincian sebagai berikut:

didapatkan kelompok jenis kelamin laki-laki sebanyak 11 sampel dan jenis kelamin perempuan sebanyak 19 sampel.

Gambar 4.2.1 Diagram distribusi frekuensi mahasiswa P3D kelompok jenis kelamin

11 19

0 20 40 60 80 100

Laki-laki Perempuan

Jenis Kelamin Sampel

Laki-laki Perempuan

(42)

26

4.2.2 Distribusi frekuensi mahasiswa P3D pada kelompok kadar HB Distribusi Frekuensi mahasiswa P3D pada kelompok kadar hemoglobin didapatkan kelompok hemoglobin 9-9,9 sebanyak 2 sampel, kelompok hemoglobin 10-10,9 sebanyak 5 sampel, kelompok hemoglobin 11-11,9 sebanyak 11, sedangkan kelompok hemoglobin 12-12,9 sebanyak 12 sampel.

Gambar 4.2.2 Diagram distribusi frekuensi mahasiswa P3D pada kelompok kadar HB

4.2.3 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-1

Distribusi Frekuensi kode warna Warna Bercak Darah pada Jam ke-1 Didapatkan kode warna yang dominan muncul pada jam ke-1 adalah NCS S 1580- R sebanyak 25 Sampel dan NCS S 2570-R sebanyak 5 Sampel.

Ganbar 4.2.3 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-1

2 5

11 12

0 5 10 15 20 25 30

9-9,9 10-10,9 11-11,9 12-2,9

Jumlah

Kadar Hemoglobin

Kadar hemoglobin

25

5 0

5 10 15 20 25 30

NCS S 1580-R NCS S 2570-R

JUmlah

Kode warna

Jam ke 1

(43)

27

4.2.4 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-2

Distribusi Frekuensi kode warna Warna Bercak Darah pada Jam ke-2 Didapatkan kode warna yang dominan muncul pada jam ke-2 adalah NCS S 3560- R sebanyak 22 sampel dan NCS S 2570-R sebanyak 8 sampel.

Ganbar 4.2.4 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke -2

4.2.5 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-3

Distribusi Frekuensi kode warna Warna Berak Darah pada Jam ke-3 Didapatkan kode warna yang muncul pada jam ke-3 adalah NCS S 4550-Y90R sebanyak 30 sampel.

Ganbar 4.2.5 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke -3

8

22

0 5 10 15 20 25 30

NCS S 2570-R NCS S 3560-R

Jumlah

Kode warna

Jam ke 2

30

0 5 10 15 20 25 30

NCS S 4550- Y90R

Jumlah

Kode warna

Jam ke-3

(44)

28

4.2.6 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-4

Distribusi Frekuensi kode warna Warna Bercak Darah pada Jam ke-4 Didapatkan kode warna yang dominan muncul pada jam ke-4 adalah NCS S 4550- Y90R sebanyak 30 sampel.

Ganbar 4.2.6 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke -4

4.2.7 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-5

Distribusi Frekuensi kode warna Warna Bercak Darah pada Jam ke-5 Didapatkan kode warna yang dominan muncul pada jam ke-5 adalah NCS S 8010- R10B sebanyak 25 sampel dan NCS S 5040-R10B sebanyak 5 sampel.

Ganbar 4.2.7 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke -5

30

0 5 10 15 20 25 30

NCS S 5040- R10B

JUmlah

Kode warna

Jam ke 4

5

25

0 5 10 15 20 25 30

NCS S 5040- R10B

NCS S 8010- R10B

Jumlah

Kode warna

Jam ke 5

(45)

29

4.2.8 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-6

Distribusi Frekuensi kode warna Warna Bercak Darah pada Jam ke-6 Didapatkan kode warna yang dominan muncul pada jam ke-6 adalah NCS S 8502- R10 sebanyak 26 sampel dan NCS S 8010-R10B sebanyak 4 sampel.

Ganbar 4.2.8 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-6

4.2.9 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-7

Distribusi Frekuensi kode warna Warna Bercak Darah pada Jam ke-7 Didapatkan kode warna yang dominan muncul pada jam ke-7 adalah NCS S 8502- R10 sebanyak 26 sampel dan NCS S 8010-R10B sebanyak 4 sampel.

Ganbar 4.2.9 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke -7

26

4 0

5 10 15 20 25 30

NCS S 8502- R10B

NCS S 8010- R10B

Jumlah

Kode warna

Jam ke-6

26

4 0

5 10 15 20 25 30

NCS S 8502- R10B

NCS S 8010- R10B

Jumlah

Kode warna

Jam ke-7

(46)

30

4.2.10 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-8

Distribusi Frekuensi kode warna Warna Bercak Darah pada Jam ke-8 Didapatkan kode warna yang dominan muncul pada jam ke-8 adalah NCS S 8502- R10 sebanyak 26 sampel dan NCS S 8010-R10B sebanyak 4 sampel.

Ganbar 4.2.10 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke- 8

4.2.11 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-9

Distribusi Frekuensi kode warna Warna Bercak Darah pada Jam ke-9 Didapatkan kode warna yang dominan muncul pada jam ke-9 adalah NCS S 8502- R10 sebanyak 26 sampel dan NCS S 8010-R10B sebanyak 4 sampel.

Ganbar 4.2.11 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke- 9

26

4 0

5 10 15 20 25 30

NCS S 8502- R10B

NCS S 8010- R10B

Jumlah

Kode warna

Jam ke-8

26

4 0

5 10 15 20 25 30

NCS S 8502- R10B

NCS S 8010- R10B

Jumlah

Kode warna

Jam ke-9

(47)

31

4.2.12 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-10

Distribusi Frekuensi kode warna Warna Bercak Darah pada Jam ke-10 Didapatkan kode warna yang dominan muncul pada jam ke-10 adalah NCS S 8502- R10 sebanyak 26 sampel dan NCS S 8010-R10B sebanyak 4 sampel.

Ganbar 4.2.12 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke 10

4.2.13 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-11 Distribusi Frekuensi kode warna Warna Bercak Darah pada Jam ke-11 Didapatkan kode warna yang dominan muncul pada jam ke-11 adalah NCS S 8502- R10 sebanyak 26 sampel dan NCS S 8010-R10B sebanyak 4 sampel.

Ganbar 4.2.13 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-11

26

4 0

5 10 15 20 25 30

NCS S 8502- R10B

NCS S 8010- R10B

Jumlah

Kode warna

Jam ke-10

26

4 0

5 10 15 20 25 30

NCS S 8502- R10B

NCS S 8010- R10B

Jumlah

Kode warna

Jam ke-11

(48)

32

4.2.14 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-12

Distribusi Frekuensi kode warna Warna Bercak Darah pada Jam ke-12 Didapatkan kode warna yang dominan muncul pada jam ke-12 adalah NCS S 8502- R10 sebanyak 26 sampel dan NCS S 8010-R10B sebanyak 4 sampel.

Ganbar 4.2.14 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam 12

4.2.15 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-24 Distribusi Frekuensi kode warna Warna Bercak Darah pada Jam ke-24 Didapatkan kode warna yang dominan muncul pada jam ke-24 adalah NCS S 8502- R10 sebanyak 26 sampel dan NCS S 8010-R10B sebanyak 4 sampel.

Ganbar 4.2.15 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-24

26

4 0

5 10 15 20 25 30

NCS S 8502- R10B

NCS S 8010- R10B

Jumlah

Kode warna

Jam ke-12

26

4 0

5 10 15 20 25 30

NCS S 8502- R10B

NCS S 8010- R10B

Jumlah

Kode warna

Jam ke 24

Gambar

Tabel 3.1. Waktu Penelitia
Tabel 3.2. Biaya Penelitian
Gambar 4.2.1 Diagram distribusi frekuensi mahasiswa P3D kelompok jenis kelamin
Gambar 4.2.2 Diagram distribusi frekuensi mahasiswa P3D pada kelompok kadar HB
+2

Referensi

Dokumen terkait

Cerita mengatakan bahwa warna merah pada warna Gorga berasal dari darah manusia dengan tegas dibantah oleh Jesral Tambun, karena dalam Dalihan Natolu atau Suhi Ampang Naopat