• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN DAN METODE PENELITIAN Metode penelitian ini menggunakan

Dalam dokumen 444648f9512fe3bda8c9a01b1c61673a (Halaman 55-60)

analitik yang bertujuan menganalisa hubungan dua variabel yaitu variabel tingkat pengetahuan keputihan dan perilaku pencegahan keputihan pada remaja putri. Jenis penelitian ini adalah bersifat observasional karena berusaha menggali informasi pada objek penelitian tanpa adanya suatu perlakuan dalam penelitian. Berdasarkan waktunya, penelitian ini bersifat cross sectional, karena mengkaji keadaan objek dan pengukuran variabelnya baik respon

maupun efek dilakukan pada waktu bersamaan.[15]

Pada penelitian ini populasinya adalah Remaja putri kelas VII di SMP Darul Mutta’allimin Sidoarjo pada bulan Maret- April 2012 sebanyak 64 orang. Sampelnya adalah remaja putri kelas VII yang sudah menstruasi di di SMP Darul Mutta’allimin Sidoarjo. Besar Sampel :

2 N(d) 1 n   N Keterangan: n = Jumlah sampel N = Jumlah Populasi d = Tingkat kepercayaan/ketepatan (0,05) Jadi besar sampel dalam penelitian ini sebanyak 55 responden.

Dalam penelitian ini cara pengambilan sampel menggunakan simple random sampling yaitu dengan cara membuat daftar (list) unit populasi kemudian dilotre.Variabel independen dalam penelitian ini adalah pengetahuan tentang keputihan. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah perilaku pencegahan keputihan.

Pengumpulan data menggunakan

kuesioner dan respondennya adalah remaja putri di kelas VII SMP Darul Muta’allimin. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner tertutup dan berstruktur dimana kuesioner tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga responden hanya tinggal memilih atau menjawab pada jawaban yang sudah ada (Hidayat, 2008).

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Uji Korelasi Rank Spearman. Uji ini digunakan untuk mengukur tingkat atau eratnya hubungan antara dua variabel yang berskala ordinal. HASIL PENELITIAN

1. Usia remaja putri tertinggi berusia 13 tahun sebanyak 61,8% dan terendah berusia 14 tahun sebanyak 5,5%.

2. Perolehan informasi tertinggi remaja

putri tentang pengetahuan

keputihansebanyak 60% dari orang tua dan terendahsebanyak 9,1%diperoleh dari sekolah.

3. Pengetahuan tentang keputihan pada remaja putri sebanyak69,1%pada kategori cukup, dan sebanyak9,1%pada kategori kurang.

4. Perilaku pencegahan keputihan sebagian besar pada kategori setuju sebanyak 52,7%remaja putri, dan sebagian kecil kategori sangat tidak setuju sebanyak 10,9% remaja putri.

Tabel 1. Distribusi Frekuensi

Karakteristik Remaja Putri di

SMP Darul Muta’allimin Sidoarjo

2012. No Variabel Jumlah (%) 1 Umur l. 11 tahun m.12 tahun n. 13 tahun o. 14 tahun 0 18 34 3 0 32,7 61,8 5,5 2 Sumber Informasi n. Orang Tua o. Sekolah p. Media Masa q. Lain-lain 33 5 11 6 60 9,1 20 10,9 3 Pengetahuan Keputihan l. Baik m.Cukup n. Kurang 12 38 5 21,8 69,1 9,1 4 Perilaku Pencegahan

i. Sangat tidak setuju j. Tidak setuju k. Setuju l. Sangat setuju 6 12 29 8 10,9 21,8 52,7 14,6 Setelah dilakukan perhitungan menggunakan uji korelasi Rank Spearman dengan komputerisasi dengan tingkat kemaknaan sebesar 0,05, hasil uji menunjukkan nilai signifikasi p = 0,000. Sehingga didapatkan nilai p< (0,05). Hal ini menunjukkan bahwa Ho ditolak dan H1 diterima yang artinya ada

hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang keputihan dengan perilaku pencegahan keputihan pada remaja putri di SMP Darul Muta’allimin tahun 2012.

Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan hasil tabulasi silang bahwa nilai tertinggi didapatkan pada remaja putri yang memiliki pengetahuan cukup dengan perilaku setuju dalam pencegahan keputihan sebanyak 69% remaja putri.

Journal Infokes Stikes Insan Unggul Surabaya 49 Tabel 2. Tabulasi Silang AntaraTingkat Pencegahan Dan Perilaku Pencegahan Keputihan

Pada Remaja Putri di SMP Darul Muta’allimin Sidoarjo 2012.

No Pengetahuan Tentang Keputihan Perilaku Pencegahan Sangat Tidak Setuju Tidak

Setuju Setuju Sangat setuju

n % n % n % n % 1 Baik 6 50 5 41,7 1 8,3 0 0 2 Cukup 0 0 7 18,4 26 68,8 5 13,2 3 Kurang 0 0 0 0 2 40,0 3 60,0 p = 0,000 PEMBAHASAN

Diketahui dari Penelitian yang dilakukan pada remaja putri tentang pengetahuan keputihan di SMP Darul Muta’allimin Sidoarjo tahun 2012, bahwa nilai tertinggi pengetahuan remaja putri tentang keputihan pada kategori cukup sebanyak 69,1%. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan sebagaimana yang telah didapatkan dari data umum hasil penelitian diantaranya berkaitan dengan umur dan sumber informasi.

Pengetahuan seseorang remaja putri dapat dipengaruhi dengan usia, sebagaimana data yang didapatkan nilai terbesar dikategorikan pada usia 13 tahun sebanyak 61,8%. Dalam hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa Kriteria umur remaja merupakan salah satu sasaran dari pendidikan salah satunya pendidikan tentang kesehatan reproduksi. Kelompok umur 10-13 tahun sebaiknya pendidikan kesehatan yang diberikan adalah proses reproduksi yang bertanggung jawab dan perkembangan fisik dan kematangan seksual remaja. Sedangkan usia 14-19 tahun ditambahkan dengan pengenalan alat reproduksi, kehamilan, dan infeksi organ reproduksi.

Dalam hal ini dari seluruh jumlah remaja putri juga pernah mendapatkan sumber informasi tentang pengetahuan keputihan dan mayoritas sebanyak 60% remaja putri sebagian besar mendapatkan sumber informasi tentang pengetahuan keputihan dari orang tua. Informasi tentang kesehatan remaja mulai diperkenalkan dan dilaksanakan dalam lingkungan keluarga, teman sebaya, dan sumber media lainnya untuk meningkatkan pengetahuan. Bahkan program kesehatan remaja juga diperkenalkan melalui instansi sekolah dalam UKS melibatkan petugas kesehatan. Dengan demikian dapat diketahui bahwa keluarga, teman sebaya, guru, tenaga kesehatan, dan sumber media lainnya merupakan sumber informasi bagi remaja.

Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan bahwa remaja putri yang sebagian besar berperilaku setuju sebanyak 52,7% remaja putri. Dari hasil data diatas dapat diamati dan dibaca bahwa perilaku yang mayoritas cukup tidak lepas dari faktor yang mempengaruhi diantaranya pengetahuan. Berdasarkan data yang didapatkan bahwa 69,1% remaja putri dari 55 remaja putri didapatkan remaja memiliki pengetahuan yang cukup.

Sesuai dengan teori perilaku merupakan suatu kegiatan aktivitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan, sehingga dimaksud dengan perilaku manusia pada hakekatnya adalah tindakan atau aktifitas dari manusia itu sendiri, baik yang diamati langsung maupun yang

tidak diamati oleh pihak luar. Dan perilaku seseorang dibentuk melalui sesuatu proses dan berlangsung dalam interaksi manusia dengan lingkungannya(Notoatmodjo, 2007).

Pada penelitian ini banyak remaja putri yang memiliki perilaku setuju dalam melakukan pencegahan keputihan dikarenakan adanya pengaruh pengetahuan yang cukup dalam penerimaan atau memahami tentang cara pencegahan keputihan dan perilaku mereka sudah terbentuk dengan adanya interaksi antara manusia dan lingkunganya serta tindakan mereka dapat dilakukan sehari-hari.

Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa remaja putri mendapatkan sumber informasi tentang pengetahuan keputihan sebagian besar dari orang tua sebanyak 60% dan sebagian kecil sumber informasi didapatkan dari sekolah sebanyak 9,1%.

Fakta diatas menunjukkan sesuai dengan teori yang dikemukakan bahwa perilaku yang positif melakukan didasari oleh pengetahuan. Dan perilaku seseorang dibentuk melalui sesuatu proses dan berlangsung dalam interaksi manusia dengan lingkungannya (Notoatmodjo, 2007).

Setelah dilakukan perhitungan menggunakan uji korelasi Rank Spearman dengan komputerisasi dengan tingkat kemaknaan sebesar 0,05, hasil uji menunjukkan nilai signifikasi p = 0, 000. Sehingga di dapatkan nilai p< . Hal ini menunjukkan bahwa Ho ditolak dan H1 diterima yang artinya ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan

tentang keputihan dengan perilaku pencegahan keputihan pada remaja putri di SMP Darul Muta’allimin tahun 2012.

Berdasarkan hasil tabulasi prosentase tertinggi dikategorikan pada pengetahuan cukup dengan perilaku setuju melakukan pencegahan keputihan sebanyak 68,8% remaja putri. Hal ini sesuai teori, bahwa perilaku yang melakukan didasari oleh pengetahuan. Dan perilaku seseorang dibentuk melalui sesuatu proses dan berlangsung dalam interaksi manusia dengan lingkungannya.

Pernyataan diatas saling berkesinambungan dengan kata lain sebanding karena fakta dilapangan sesuai dengan teori yang ada. Akan tetapi disisi lain didapatkan dari hasil tabulasi prosentase terendah dikategorikan pada pengetahuan baik dengan perilaku setuju sebanyak 8,3%, pengetahuan cukup dengan perilaku sangat tidak setuju sebanyak 13,2%, dan pengetahuan kurang dengan perilaku setuju sebanyak 40%. Fakta diatas menunjukkan sesuai dengan teori yang dikemukakan bahwa perilaku yang melakukan didasari oleh pengetahuan. Data–data diatas menunjukkan bahwa remaja putri sangat membutuhkan informasi untuk diberikan arahan yang baik dan benar supaya dapat diberikan pengetahuan tentang keputihan terhadap perilaku pencegahan keputihan padaremaja putri untuk mencegah adanya keputihan. Karena adanya perilaku pencegahan keputihan iniakan berpengaruh atas munculnya aspek- aspek perilaku pencegahan keputihan seperti aspek fisik, aspek psikis, aspek sosial, aspek identitas diri, aspek emosi, aspek penyesuaian. Sehingga pengetahuan tentang keputihan yang cukup dan perilaku setuju dalam melakukan pencegahan keputihan dibutuhkan konseling atau penyuluhan tentang cara pencegahan keputihan pada remaja putri.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Journal Infokes Stikes Insan Unggul Surabaya 51 Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dari tingkat pengetahuan tentang keputihan dengan perilaku pencegahan keputihan pada 55 remaja putri kelas VII, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:: 1) pengetahuan tentang keputihan pada remaja putri sebanyak 69%remaja putri pada kategori cukup; 2) dalam melakukan pencegahan keputihan sebanyak 52% remaja putri berperilaku setuju; 3) ada hubungan antara pengetahuan cukup dengan perilaku setujumelakukan pencegahan keputihan p = 0,000,sehingga didapatkan nilai p< . Saran

Sesuai dengan hasil penelitian diatas maka dapat dikemukakan saran–saran sebagai berikut: 1) menggunakan penelitian ini sebagai acuandan referensi dalam pembelajaran materi mengenai kesehatan reproduksi; 2) menjadikan penelitian ini sebagai masukkan untuk melakukan penelitian selanjutnyadengan harapan dapat dilakukan pengkajian lebih luas dan lebih seksama mengenai pengetahuan tentang keputihan dan perilaku pencegahan keputihan pada remaja putri, sehingga hasil yang didapat menjadi lebih baik dan dapat melengkapi kekurangan-kekurangan dalam penelitian ini; 3) informasi tentang tahap perkembangan kesehatan reproduksi remaja khususnya tentang pengetahuan keputihan dan mengetahui perilaku pencegahan keputihan diketahui oleh para remaja putri.

KEPUSTAKAAN

1. Andira, Dita. 2010. Seluk-Beluk Kesehatan Reproduksi Wanita. Yogjakarta: A Plus Books.

2. Dalimartha, S. 2002. Tumbuhan Obat Untuk Mengatasi Keputihan. Jakarta: Puspa Swara. 3. DepKes RI. 2003. Materi Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR).Jakarta: DepKes. 4. DepKes RI. 2002. Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia.Jakarta: DepKes.

5. Glasier,Gebbie.1998. Keluarga Berencana Dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta: EGC. 6. Hamilton, Persis Mary. 2002. Prosedur Perawatan Vulva dan Perineum.Jakarta: EGC. 7. Hidayat, A.Aziz Alimul. 2009. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisis

Data.Jakarta: Salemba Medika.

8. Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapus. 9. M,Agus. 2000. Tubuh Wanita Modern. Jakarta: Elex Media Komputindo.

10.Moeliono, Laurike. 2003. Proses Belajar Aktif Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta: PKBI.

11.Manuaba, Ida Bagus Gde. 1998. Ilmu Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita.Jakarta: ARCAN.

12._____________________. 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB. Jakarta: EGC.

13._____________________. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB Untuk Pendidikan Bidan.Jakarta: EGC.

14.Nursalam, Pariani, S. 2001. Pendekatan Praktik Metodologi RisetKeperawatan. Jakarta: Sagung Seto.

15.PKBI. 2003. Dinamika Remaja (Suplemen Masa Transisi). Jakarta: Depkes RI.

16.Sarwono, Prawirohardjo. 2005. Ilmu Kebidanan.Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo.

17.Sianturi, M. 2004. Keputihan. Jakarta: FKUI.

18.Sudarsono.2001. Ilmu Filsafat, Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.

19.Soetjiningsih. 2004. Buku Ajar Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya.Jakarta: EGC.

21.Wicaksono, B.2001. Mengenal Penyakit Hubungan Seksual.Jakarta: Pioner Jaya.

HUBUNGAN OBESITAS DENGAN KEJADIAN PENYAKIT DIABETES MELLITUS

Dalam dokumen 444648f9512fe3bda8c9a01b1c61673a (Halaman 55-60)