penelitian ini adalah deskriptif, karena bertujuan untuk mendeskripsikan faktor- faktor yang mempengaruhi kelancaran kala II persalinan.(Notoatmodjo, 2010) Penelitian ini dilaksanakan pada 9-29 Juni 2012. Populasi terjangkau (finite population) adalah bagian populasi target yang dibatasi oleh tempat dan waktu
(Heriyanto, 2010).Populasi pada
penelitian ini adalah semua ibu bersalin kala II yang persalinannya di Rumah Bersalin KARUNIA Sidoarjo pada bulan Mei-Juni 2012 dengan total populasi 25 orang. Pada penelitian ini peneliti mengambil sampel ibu bersalin kala II yang persalinannya dengan menggunakan posisi litotomi di Rumah Bersalin KARUNIA Sidoarjo Pengambilan sampel ini harus memenuhi syarat, sehingga sampel dapat mewakili populasi
(Soesanto, 2010:28). Karena pada
penelitian ini termasuk populasi kecil ≤ 10.000 maka digunakan rumus :
Keterangan : N = Populasi N = Sampel
d = Penyimpangan (0,05)
Jadi sampel yang diperoleh adalah 24 ibu bersalin. Variabel dalam penelitian ini adalah power, passage, passenger, psikologis ibu, posisi persalinan dan kelancaran kala II.
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian pada Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 24 ibu bersalin di Rumah Bersalin KARUNIA Sidoarjo Juni 2012 memiliki karakteristik sebagai berikut:
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Ibu Bersalin Ibu Bersalin Di Rumah Bersalin KARUNIA Sidoarjo Juni 2012.
No Variabel Jumlah (%) 1 Umur i. <20 tahun j. 20 – 35 tahun k. >35 tahun 3 19 2 12,5 79,2 8,3 2 Paritas f. Primipara g. Multipara h. Grandemultipara 13 11 0 54,2 45,8 0 3 Pendidikan j. SD k. SMP l. SMA m.PT/Diploma 0 8 12 4 0 33,3 50 16,7 4 Pekerjaan h. Pegawai Negeri i. Swasta j. Wiraswasta k. Ibu Rumah Tangga
0 9 1 14 0 37,5 4,2 58,3 5 Power d. Kuat e. Lemah 21 3 87,5 12,5 6 Passage c. Normal d. Tidak Normal 20 4 83,3 16,7 7 Passenger a. Normal b. Tidak Normal 24 0 100 0 8 Psikologis Ibu a. Cemas b. Tidak Cemas 11 13 45,8 54,2 9 Posisi Litotomi a. Ya b. Tidak 24 0 100 0 10 Kelancaran Kala II a. Normal b. Lama 23 1 95,8 4,2 Berdasarkan Tabel 4, gambaran faktor- faktor yang mempengaruhi kelancaran kala II persalinan berdasarkan power, passage, passenger, psikologis ibu, dan posisi litotomi pada ibu bersalin di Rumah Bersalin KARUNIA Sidoarjo Juni 2012 adalah sebagai berikut :
1. Sebagian besar sebanyak 21 ibu
bersalin (91,3%) mengalami
kelancaran persalinan normal kala II dengan power yang kuat dan 2 ibu bersalin (8,7%) dengan power yang lemah, sedangkan dari 1 ibu bersalin
(100%) yang mengalami persalinan lama kala II memiliki power yang lemah.
2. Sebagian besarsebanyak 19 ibu bersalin (82,6%)mengalami persalinan normal kala II dengan kriteria passage yang normal dan 4 ibu bersalin (17,4%) dengan passage yang tidak normal, tetapi didapatkan juga dari 1 ibu bersalin (100%) yang mengalami persalinan lama kala II dengan kriteria passage yang normal.
3. Keseluruhan (100%)ibu bersalin yang mengalami persalinan normal kala II memenuhi kriteria passenger normal, sedangkan dari 1 ibu bersalin (100%) yang mengalami persalinan lama kala II juga dengan kriteria passenger yang normal.
4. Hampir sebagian besar sebanyak 13 ibu bersalin (56,5%) mengalami persalinan normal kala II dengan kriteria psikologis tidak merasakan cemas, dan sebanyak 10 ibu bersalin (43,5%) dengan kecemasan, tetapi didapatkan juga dari 1 ibu bersalin (100%) yang mengalami persalinan lama kala II dengan kecemasan.
5. Keseluruhan (100%) ibu bersalin mengalami persalinan normal kala II keseluruhan ibu bersalin dengan menggunakan posisi litotomi, sedangkan dari 1 ibu bersalin (100%) yang mengalami persalinan lama kala II juga dengan menggunakan posisi litotomi.
Journal Infokes Stikes Insan Unggul Surabaya 39 Tabel 4. Distribusi Kelancaran Kala II
Persalinan Berdasarkan Power, Passage, Passenger, Psikologis Ibu, dan posisi litotomi Di Rumah Bersalin Karunia Sidoarjo Juni 2012. No Variabel Kelancaran Kala II Normal Lama n % n % 1 Power a. Kuat b. Lemah 21 2 91,3 8,7 0 1 0 100 2 Passage a. Normal b. Tidak Normal 19 4 82,6 17,4 1 0 100 0 3 Passenger a. Normal b. Tidak Normal 23 0 100 0 1 0 100 0 4 Psikologis Ibu a. Cemas b. Tidak Cemas 10 13 43,5 56,5 1 0 100 0 5 Posisi Litotomi a. Ya b. Tidak 23 0 100 0 1 0 100 0 PEMBAHASAN 1. Faktor Power
Distribusi responden berdasarkan tabel 3 yaitu power, sebagian besar 21 ibu bersalin (87,5%) memiliki power yang kuat.Hasil penelitian mendapatkan lebih banyak ibu bersalin dengan power yang kuat, tetapi didapatkan juga 3 ibu bersalin dengan power yang lemah dikarenakan ketidaksiapan mental sangat berpengaruh selama proses persalinan terutama saat mengejan. Proses bersalin sendiri sebenarnya merupakan sesuatu yang alamiah. Ada banyak hal yang berpengaruh terhadap kemampuan seorang ibu untuk mengejan, antara lain usia kurang dari 20 tahun yang seringkali belum berpengalaman menyesuaikan kekuatan mengedan yang baik dan usia lebih dari 35 tahun yang mayoritas kekuatan untuk mengedan berkurang, keadaan kesehatan ibu yang kurang optimal misalnya kurang gizi selama hamil, rasa ketakutan dan trauma mental pada saat proses peralinan yang lalu. Seringkali ibu bersalin tidak sabar, ingin
segera mengakhiri proses persalinan dengan mengejan sekuat-kuatnya. Padahal ini justru tidak baik, selain akan melelahkan ibu juga akan membuat jalan lahir bengkak. Mengejan dapat dimulai ketika pembukaan jalan lahir sudah cukup luas untuk dilalui bayi dan telah ada bimbingan untuk mengejan dari bidan. Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui dari 23 ibu bersalin yang mengalami kelancaran persalinan normal kala II sebagian besar 21 ibu bersalin dengan power yang kuat dan 2 ibu bersalin dengan power yang lemah, sedangkan dari 1 ibu bersalin yang mengalami persalinan lama kala II memiliki power yang lemah.
Berdasarkan hasil penelitian ibu yang memiliki power kuat dengan mengalami kelancaran kala II mayoritas didukung oleh faktor umur yaitu berusia antara 20- 35 tahun dimana merupakan tahun terbaik wanita untuk hamil karena di usia ini kematangan organ reproduksi dan hormon telah bekerja dengan baik serta daya tahan tubuh masih kuat sehingga antara kontraksi dan tenaga meneran dapat saling bekerja sama secara maksimal untuk melahirkan janin, sedangkan pada ibu dengan power lemah tetapi tetap mengalami kelancaran kala II persalinan, pada keadaan ini faktor penolong sangat diperlukan dengan dilakukannya pemberian semangat untuk tetap bertahan dan meyakinkan ibu bahwa persalinan akan dapat berjalan normal serta didukung pimpinan mengejan yang benar, begitu pun saat relaksasi tetap diberikan cara relaksasi yang tepat agar kekuatan mengejan ibu bertambah.
Adapun ibu dengan power lemah yang mengalami persalinan lama kala II dikarenakan faktor umur lebih dari 35 tahun yang memungkinkan pada ibu bersalin tersebut didapatkan penyakit dalam tubuh yang menyebabkan gangguan kontraksi serta tenaga ibu untuk mengejan. Usaha bidan untuk tetap melakukan
pimpinan dilakukan dengan tetap melihat keadaan umum ibu dan janin sehingga dapat dilakukan persalinan normal. Oleh karena itu, pimpinan mengejan saat persalinan juga mempengaruhi baik tidaknya tenaga meneran ibu.
2. Faktor Passage
Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui sebagian besar sebanyak 20 ibu bersalin (83,3%) memilikipassage dalam batas normal. Berdasarkan teori yang menjelaskan bahwa jalan lahir terdiri atas panggul ibu, yakni bagian tulang yang padat, dasar panggul, vagina dan introitus. Janin harus berhasil menyesuaikan dirinya terhadap jalan lahir yang relatif kaku, oleh karena itu ukuran dan bentuk panggul harus ditentukan sebelum persalinan dimulai.
Berdasarkan kenyataan hasil penelitian, passage yang normal didapat lebih banyak daripada passage yang tidak normal. Sebenarnya pada saat kehamilan telah dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan, salah satunya untuk mengukur panggul ibu yang dapat menentukan apakah ibu dapat bersalin secara normal atau tidak. Tetapi tidak cukup hanya menilai ukuran panggul ibu, terjadinya hambatan saat proses persalinan dapat disebabkan faktor passage yang lain seperti perineum yang kaku. Tingkat keregangan perineum ibu bersalin berbeda-beda disebabkan beberapa faktor misalnya faktor paritas,
pada primipara karena belum
berpengalaman melahirkan anak maka otot-otot jalan lahir masih kaku sedangkan pada multipara proses persalinan berjalan lebih cepat karena adanya pengalaman pada persalinan yang telah lalu dan disebabkan oleh otot-otot jalan lahir yang lebih lemas. Selain itu dapat pula disebabkan kebiasaan ibu untuk melakukan senam saat hamil karena senam
hamil dapat memperkuat dan
mempertahankan elastisitas otot-otot dinding perut, otot-otot dasar panggul,
ligamentum dan perineum sehingga dapat mengurangi resiko ruptur.
Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui dari 23 ibu bersalin yang mengalami persalinan normal kala II sebagian besar 19 ibu bersalin dengan kriteria passage yang normal dan 4 ibu bersalin dengan passage yang tidak normal, tetapi didapatkan juga dari 1 ibu bersalin yang mengalami persalinan lama kala II dengan kriteria passage yang normal.
Hasil penelitian didapatkan 19 ibu bersalin dengan passage normal yang mengalami kelancaran persalinan kala II dikarenakan sebagian besar memiliki umur 20-35 tahun yang artinya pada usia ini wanita dianjurkan untuk mulai mengatur kehamilan disebabkan jaringan alat-alat kandungan dan jalan lahir dalam kondisi yang baik serta pengetahuan ibu tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan mendukung dapat dilakukannya persalinan normal.
Adapun ibu dengan kriteria passage yang tidak normal tetapi dapat mengalami kelancaran kala II dikarenakan paritas yang mayoritas adalah ibu primipara dimana alat-alat urogenital yaitu perineum yang relatif masih kaku kemungkinan pula disebabkan kurangnya pengetahuan ibu untuk melakukan kegiatan-kegiatan seperti senam saat hamil untuk menjaga elastisitas otot-otot jaringan, ligamen dan perineum sehingga memerlukan tindakan episiotomi agar keadaan ibu dan janin tetap dalam kondisi baik. Dan ibu dengan passage normal tetapi mengalami persalinan lama kala II dapat dikatakan bahwa persalinan lama kala II tersebut tidak berdasarkan pada passage tetapi kemungkinan disebabkan faktor yang lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar ibu bersalin dengan kriteria passage yang normal dapat menunjang kelancaran kala II persalinan.
Journal Infokes Stikes Insan Unggul Surabaya 41 3. Faktor Passenger
Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa keseluruhan ibu bersalin (100%) memenuhi kriteria normal pada faktor passenger.Keseluruhan ibu bersalin
dengan passenger yang normal
dikarenakan saat hamil ibu sudah melakukan pemeriksaan kehamilan juga didukung dengan jumlah kunjungan yang lebih dari 4 kali sehingga pertumbuhan dan kondisi janin dapat termonitor. Selain itu, secara tidak langsung pendidikan ibu yang minimal SMP, sehingga ibu lebih dapat menerima informasi tentang pola istirahat, pola makan dan pola aktifitas yang diberikan oleh bidan demi perkembangan janin bisa normal karena dengan adanya pengetahuan dapat mempengaruhi seseorang termasuk pola hidup. Semakin banyak pengetahuan seseorang maka semakin mudah orang tersebut menerima informasi yang diberikan dan kurangnya pengetahuan akan menghambat perkembangan sikap seseorag terhadap nilai-nilai yang diperkenalkan.
Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa dari 23 ibu bersalin yang mengalami persalinan normal kala II keseluruhan ibu bersalin memenuhi kriteria passenger normal, sedangkan dari 1 ibu bersalin yang mengalami persalinan lama kala II juga dengan kriteria passenger yang normal.
Hasil penelitian menyatakan semua ibu bersalin memiliki kriteria passenger yang normal, dikarenakan faktor-faktor yang mendukung ibu untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur untuk memantau perkembangan dan kondisi janin dalam kandungan, yakni
pendidikan ibu yang minimal
berpendidikan SMP secara tidak langsung mempengaruhi pengetahuan ibu maka semakin mudah bagi ibu menerima informasi yang diberikan oleh bidan selain itu faktor pekerjaan ibu yang mayoritas adalah ibu rumah tangga yang berarti
mempunyai banyak waktu dan kesempatan untuk memeriksakan kehamilannya.
Adapun ibu dengan passenger normal tetapi mengalami persalinan lama kala II kemungkinan disebabkan faktor yang lain dan ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu bersalin dengan kriteria passenger yang normal dapat menunjang kelancaran kala II persalinan.
4. Faktor Psikologis Ibu
Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui hampir sebagian besar 13 ibu bersalin (54,2%) tidak merasakan kecemasan pada proses persalinan.Pentingnya psikologis tingkat kecemasan yang rendah didukung oleh teori bahwa emosi perempuan dalam persalinan sangat mempengaruhi reaksi kegelisahan dan ini merupakan satu faktor yang menyokong kelelahan mental dan fisik yang akan dialami. Dukungan yang penuh dari anggota keluarga penting artinya bagi seorang ibu bersalin terutama dukungan dari suami sehingga memberikan support moril terhadap ibu (Rustam, 1998).
Berkaitan dengan teori bahwa sebagian besar calon ibu terutama yang pertama kali menghadapi persalinan akan merasa cemas dan kurangnya pengetahuan mengenai proses persalinan dapat menimbulkan kecemasan pada ibu yang akan bersalin, kecemasan juga dihubungkan dengan pengalaman yang sudah lalu, misalnya kesulitan pada persalinan yang lalu, kecemasan karena anggapannya sendiri bahwa persalinan itu merupakan hal yang membahayakan. Sebagian besar ibu hamil tersebut juga selalu memeriksakan kehamilannya dan mendapat informasi tentang kecemasan dan persiapan menghadapi persalinan. Informasi tersebut sangat penting dan mempengaruhi pola pikir ibu, maka dapat membawa ibu pada suatu keyakinan akan keberhasilan dalam persalinan, pengetahuan tersebut akan mengarahkan pada persepsi positif
sehingga memotivasi ibu untuk tetap
menjaga kehamilan sampai
persalinan.Selain itu setiap ibu yang akan melahirkan memerlukan dukungan emosional untuk membantunya dalam melewati proses persalinan karena dalam persalinan dukungan sosial kemungkinan merupakan salah satu faktor yang meringankan.
Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui dari 23 ibu bersalin yang mengalami persalinan normal kala II dengan kriteria psikologis hampir sebagian besar 13 ibu bersalin tidak merasakan cemas dan sebanyak 10 ibu bersalin dengan kecemasan, tetapi didapatkan juga dari 1 ibu bersalin yang mengalami persalinan lama kala II dengan kecemasan.
Dengan hasil penelitian dari 23 ibu bersalin yang mengalami persalinan normal kala II sebanyak 13 ibu bersalin tidak merasakan kecemasan dan 10 ibu bersalin dengan kecemasan. Sebagian besar calon ibu terutama yang pertama kali menghadapi persalinan atau dikatakan primipara akan merasa cemas dan kurangnya pengetahuan mengenai proses persalinan juga dapat menimbulkan kecemasan pada ibu yang akan bersalin, kecemasan dapat timbul karena anggapannya sendiri bahwa persalinan itu merupakan hal yang membahayakan.Rasa takut kepada sesuatu yang tidak diketahui, rasa takut terhadap kesendirian dalam mengatasi suatu pengalaman seperti persalinan maka pendampingan anggota keluarga pada proses persalinan dapat mengurangi kecemasan.
Adapun ibu yang mengalami persalinan lama kala II dengan kecemasan karena kecemasan yang tidak teratasi juga akan menyebabkan persalinan menjadi lama, selain faktor psikis hal ini juga didukung oleh faktor lain.
5. Faktor Posisi Litotomi
Pada Tabel 3 yang menunjukkan distribusi berdasarkan posisi litotomi dapat diketahui keseluruhan (100%) ibu bersalin dengan menggunakan posisi litotomi.Pada kenyataan hasil penelitian didapat sebagian besar ibu bersalin dengan posisi litotomi dikarenakan kurangnya pengetahuan ibu tentang macam-macam posisi mengejan saat proses persalinan dan juga sudah menjadi kebiasaan dimasyarakat bahwa dalam persalinan menggunakan posisi litotomi sehingga ibu pun akan merasakan kenyamanan pada posisi tersebut karena posisi yang dirasa nyaman dan aman oleh ibu dapat mendukung persalinan. Posisi litotomi juga dapat memudahkan bidan untuk memantau kemajuan persalinan dan membantu proses persalinan karena kepala bayi dapat dengan mudah dimonitor, dipegang maupun diarahkan. Bidan juga akan lebih mudah apabila melakukan persalinan tindakan episiotomi sehingga laserasi dapat dikurangi.
Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui dari 23 ibu bersalin yang mengalami persalinan normal kala II keseluruhan ibu bersalin dengan menggunakan posisi litotomi, sedangkan dari 1 ibu bersalin yang mengalami persalinan lama kala II juga dengan menggunakan posisi litotomi. Hasil penelitian didapatkan dari 23 ibu bersalin yang mengalami persalinan normal kala II keseluruhan menggunakan posisi litotomi kemungkinan pada posisi ini menunjang tenaga kesehatan untuk bisa lebih leluasa membantu proses persalinan. Jalan lahir pun menghadap ke depan sehingga bidan dapat lebih mudah mengukur perkembangan pembukaan dan waktu persalinan pun bisa diprediksi secara lebih akurat. Kepala bayi lebih mudah dipegang dan diarahkan. Sehingga apabila terjadi perubahan posisi kepala bayi, maka bidan langsung bisa mengarahkan pada posisi seharusnya.
Journal Infokes Stikes Insan Unggul Surabaya 43 Adapun ibu bersalin dengan posisi litotomi
tetapi mengalami persalinan lama kala II karena sesuai teori bahwa posisi tersebut bisa memakan waktu lebih lama dan menyebabkan kelelahan pada ibu. Tetapi tidak dapat dibuktikan karena persalinan lama kala II juga dapat berdasarkan faktor lain.
6. Faktor Kelancaran Kala II
Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa dari sebagian besar 23 ibu bersalin (95,8%) mengalami kelancaran persalinan kala II normal.
Pada penelitian dapat diketahui hampir keseluruhan ibu bersalin mengalami kelancaran kala II. Kelancaran kala II dapat dilihat dari beberapa faktor yaitu tenaga atau usaha mengedan dan kontraksi uterus; jalan lahir yang dimiliki ibu pada persalinan yaitu segmen bawah rahim, serviks uteri dan vagina di samping itu, otot-otot jaringan ikat dan ligamen yang harus lemas dan mudah meregang; penurunan presentasi janin, letak posisi serta berat badan janin; pemberian dukungan mental untuk mengurangi kecemasan atau ketakutan ibu; serta mengatur posisi ibu dalam membimbing mengedan sesuai dengan kenyamanan ibu.Paritas berkaitan dengan kelancaran kala II persalinan karena mayoritas primi membutuhkan waktu lebih lama dibanding multi karena mekanisme pengeluaran janin yang berbeda.
Selain itu, terjalinnya kerjasama yang baik antara ibu bersalin dengan bidan juga mempengaruhi lancar atau tidaknya suatu persalinan karena bimbingan yang baik dan benar serta dukungan atas usaha ibu saat mengejan dapat mencegah ibu dari kelelahan dan memberikan motivasi untuk lebih mempertahankan kekuatan saat persalinan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dari 24 ibu bersalin, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1) Sebanyak 87,5% ibu bersalinmemiliki power yang kuat; 2) Sebanyak 83,3% ibu bersalin memiliki passage dalam batas normal; 3) 100% ibu bersalin memenuhi kriteria normal pada faktor passenger; 4) sebanyak 54,2% ibu bersalin dengan kriteria psikologis tidak merasakan kecemasan pada proses persalinan; 5) 100% ibu bersalin menggunakan posisi litotomi; 6) Sebanyak 95,8% ibu bersalin mengalami kelancaran kala II persalinan normal.
Pada 23 ibu bersalin yang mengalami kelancaran kala II persalinan berdasarkan faktor 5P (power, passage, passenger, psikologi dan posisi persalinan) didapatkan:1) 91,3% ibu bersalin memiliki power yang kuat;2) 82,6% ibu bersalin dengan kriteria passage yang normal;3) 100% ibu bersalin memenuhi kriteria passenger normal;4) 56,5% ibu bersalin adalah ibu dengan psikologis yang tidak merasakan cemas; dan 5) 100% ibu bersalinmenggunakan posisi litotomi. KEPUSTAKAAN
1. Asrinah., Putri, S dan Sulistyorini, D. 2010. Asuhan Kebidanan Masa Persalinan.Jakarta: Graha Ilmu.
2. Baskomworld. 2011. Persalinan
dengan Kala II
Memanjang.http://www.bascommetro. com/2011/10/persalinan-dengan-kala- ii-memanjang. html. Diakses tanggal 15 Maret 2012.
3. Bennet, V dan Brown, L.1993. Myles Textbook For Midwives.New York: Churchiil Livingstone.
4. BKKBN.2006. Deteksi Dini
Komplikasi Persalinan.Jakarta: BKKBN
5. Bobak.2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas.Jakarta: EGC.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KEPUTIHAN DENGAN