• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium dan rumah kaca Ilmu dan Teknologi Benih IPB Leuwikopo, Dramaga, Bogor. Penelitian ini berlangsung dari bulan Juni 2007 sampai Desember 2007.

Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih jarak pagar (Jatropha curcas Linn.), pasir, tanah, pupuk kandang, dan air. Pada percobaan pertama benih berasal dari enam aksesi, yaitu aksesi Karanganyar, Lampung, Bengkulu, Indramayu grade A, Indramayu grade B, dan Indramayu grade C. Pada percobaan kedua dan ketiga menggunakan lima lot benih, yaitu IP-1P (Improved Population-1 dari Pakuwon), IP-1A (Improved Population-1 dari Asembagus), IP-1M (Improved Population-1 dari Muktiharjo), aksesi dari Karanganyar dan Probolinggo.

Alat-alat yang digunakan adalah boks plastik untuk mengecambahkan benih, polibag, penggaris, meteran, jangka sorong, timbangan, oven, dan alat ukur yang lain.

Metode Penelitian

Penelitian ini terdiri dari tiga percobaan yang dilaksanakan secara bertahap.

Percobaan 1: Penentuan Berbagai Macam Kriteria Kecambah Normal

Percobaan pertama bertujuan untuk memperoleh beberapa macam kriteria kecambah normal yang akan digunakan pada percobaan tahap selanjutnya, dengan menggunakan benih dari aksesi Karanganyar, Lampung, Bengkulu, Indramayu grade A, Indramayu grade B, dan Indramayu grade C.

Pada percobaan ini masing-masing aksesi terdiri dari 4 ulangan dan setiap ulangan menggunakan 25 benih. Total keseluruhan benih yang digunakan adalah 600. Benih direndam selama satu malam sebelum ditanam, selanjutnya benih dikecambahkan dalam boks plastik dengan media pasir dan diletakkan di rumah kaca selama 21 hari.

Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat perkembangan struktur penting kecambah. Struktur perkecambahan yang dihasilkan hingga hari ke-21 dikelompokkan berdasarkan morfologi kecambah. Hal ini dilakukan berdasarkan sifat kualitatif yaitu panjang hipokotil, endosperma yang menutupi kotiledon, struktur perakaran, dan munculnya plumula. Benih yang dikecambahkan diharapkan mampu memberikan keragaman struktur kecambah normal sehingga bisa diperoleh beberapa kelompok yang menunjukkan kriteria kualitatif kecambah normal. Kriteria tersebut nantinya dapat dijadikan panduan sementara untuk menentukan daya berkecambah pada lot benih yang akan diuji.

Percobaan 2: Pengujian Perkecambahan pada Beberapa Lot Benih

Tujuan dari percobaan kedua adalah untuk memilih salah satu kriteria yang telah diperoleh pada percobaan pertama. Hal ini dilakukan dengan mengaplikasikan beberapa kriteria kecambah normal yang telah diperoleh pada percobaan pertama pada beberapa lot benih.

Percobaan ini menggunakan 5 lot benih, yaitu IP-1P (Improved Population-1 dari Pakuwon), IP-1A (Improved Population-1 dari Asembagus), IP-1M (Improved Population-1 dari Muktiharjo), aksesi dari Karanganyar dan Probolinggo. Kelima lot benih tersebut direndam selama satu malam sebelum ditanam, seperti pada percobaan pertama.

Rancangan Percobaan

Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal yaitu lot benih dengan 4 ulangan. Pemilihan salah satu kriteria yang telah diperoleh pada percobaan pertama dilakukan berdasarkan uji F dan uji lanjut Duncan dengan melihat nyata atau tidaknya serta jumlah nilai tengah yang menunjukkan beda nyata antar perlakuan.

Bentuk umum dari Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor : Yij = µ + τi + εij

Dimana: i = 1, 2, 3, ………. j = 1, 2, 3, 4

Yij = Pengamatan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j µ = Rataan umum

τi = Pengaruh perlakuan ke-i

εij = Pengaruh acak pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j Pelaksanaan

Pada percobaan kedua ini, kelima lot benih dikecambahkan di polibag yang sudah berisi campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1. Masing-masing lot terdiri dari 4 ulangan dan tiap ulangan menggunakan 20 benih. Proses perkecambahan dilakukan selama 21 hari dengan menghitung daya berkecambah. Percobaan ini di laksanakan di rumah kaca.

Pengamatan

Pengamatan dilakukan terhadap semua lot benih yang digunakan dengan menghitung persen DB berdasarkan kriteria kecambah normal yang diperoleh pada percobaan pertama. Hitungan pertama daya berkecambah dilakukan pada hari ke-14 dan hitungan kedua pada hari ke-21.

Rumus perhitungan daya berkecambah: DB = Σ (KN I) + (KN II) x 100% Σ Benih yang ditanam

KN I = Kecambah Normal pada Hitungan I KN II = Kecambah Normal pada Hitungan II

Percobaan 3: Uji Korelasi antara DB Kriteria Kecambah Normal Terpilih dengan Beberapa Tolok Ukur Vigor Bibit

Percobaan ketiga bertujuan untuk menentukan kriteria kecambah normal yang dapat digunakan untuk menentukan DB dan berkorelasi dengan tolok ukur vigor bibit. Penentuan ini dilakukan dengan melihat koefisien korelasi dan koefisien determinasi antara DB berdasarkan kriteria kecambah normal yang terpilih pada percobaan kedua beberapa tolok ukur vigor bibit.

Rancangan Percobaan

Menurut Mattjik dan Sumertajaya (2002), regresi linier sederhana adalah persamaan regresi yang menggambarkan hubungan antara satu peubah bebas (X, independent variable) dan satu peubah tak bebas (Y, dependent variable), dimana hubungan keduanya dapat digambarkan sebagai suatu garis lurus. Hubungan antara peubah-peubah dapat dirumuskan dalam bentuk persamaan :

Yi = α + β Xi Keterangan: Yi = Peubah tak bebas

α = Intersep/perpotongan dengan sumbu tegak β = Kemiringan/gradien

Xi = Peubah bebas (i = 1, 2, ....)

Koefisien determinasi merupakan suatu ukuran kesesuaian garis regresi yang dicocokkan terhadap sekumpulan data yaitu untuk mengetahui sejauh mana satu peubah berhubungan dengan beberapa peubah yang lainnya. Kisaran nilai R2 mulai dari 0% sampai 100%. Menurut Mattjik dan Sumertajaya (2002) semakin besar nilai R2 berarti model semakin mampu menerangkan perilaku peubah Y.

Koefisien korelasi (r) adalah koefisien yang menggambarkan tingkat keeratan hubungan linier antara dua peubah atau lebih. Nilainya berkisar antara -1 dan 1, semakin mendekati -1 atau 1, maka semakin erat hubungan linier antara kedua peubah tersebut. Nilai r mendekati nol menggambarkan hubungan kedua peubah tersebut tidak linier (Mattjik dan Sumertajaya, 2000). Semakin tinggi nilai koefisien korelasi suatu tolok ukur (mendekati -1 atau 1), maka tolok ukur tersebut layak digunakan untuk menentukan adanya korelasi antara vigor bibit dan kriteria kecambah normal yang diperoleh.

Pelaksanaan

Kelima lot yang telah dikecambahkan pada percobaan kedua dilanjutkan hingga stadia bibit. Pembibitan dilakukan sampai 12 MST dan dilakukan di rumah kaca untuk menghindari faktor lingkungan yang berbeda-beda.

Pengamatan

Pengamatan dilakukan terhadap beberapa tolok ukur vigor bibit yaitu jumlah daun, jumlah tunas, tinggi tanaman, diameter batang, bobot basah tajuk dan akar, bobot kering tajuk dan akar, dan rasio tunas dan akar. Tolok ukur

jumlah daun, jumlah tunas, tinggi tanaman, diameter batang diamati empat kali, yaitu pada saat bibit berumur 6 MST, 8 MST, 10 MST, dan 12 MST.

Pengukuran bobot basah tajuk dan akar, bobot kering tajuk dan akar, dan rasio tunas dan akar dilakukan pada akhir penelitian. Tajuk dan akar dipisahkan dan ditimbang satu persatu, kemudian dimasukkan ke dalam katong kertas. Tanaman yang telah ditimbang bobot basah tajuk dan akar selanjutnya di oven selama tiga hari dengan suhu sebesar 60 oC. Hal ini dilakukan agar tanaman kering dengan sempurna dan tidak terbakar. Bobot kering tajuk dan akar diperoleh dengan menimbang kembali tanaman yang telah di oven.

Dokumen terkait