• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Umum

Enam aksesi yang digunakan dalam percobaan pertama memiliki rata-rata daya berkecambah (DB) sekitar 60%. Perhitungan DB ini berdasarkan kriteria kecambah normal secara umum, yaitu hipokotil dan radikula memiliki panjang dua sampai empat kali panjang benih dan semua struktur tumbuh menunjukkan pertumbuhan yang baik (Sadjad, 1980). Percobaan ini hanya berlangsung selama 14 hari setelah tanam (HST), karena benih yang tersisa tidak berkecambah lagi dan kondisi struktur seluruh kecambah telah berkurang keragamannya.

Daya berkecambah pada percobaan kedua sekitar 80%. Pada 14 HST tanaman tidak terserang hama ataupun penyakit (Gambar Lampiran 1), namun pada 21 HST tanaman terserang hama ulat yang memakan jaringan daun bagian dalam, sehingga terdapat bercak transparan (Gambar Lampiran 2). Tanaman yang terserang hama kurang lebih 30%, namun serangan tidak mengganggu pertumbuhan tanaman karena serangan dapat dikendalikan. Pengendalian hama dilakukan dengan menggunakan insektisida kontak dan sistemik.

Pertumbuhan bibit pada percobaan ketiga secara garis besar baik. Namun pada 8 MST kutu bertepung putih (Ferrisia virgata Cockerell (Famili Pscudococcidae : Ordo Homoptera)) menyerang tanaman (Gambar Lampiran 3). Pada 10 MST tanaman terserang penyakit Witche’s Broom yang disebabkan oleh fitoplasma (Gambar Lampiran 4). Penyakit ini dapat menyebar ke tanaman lain dengan vektor serangga Orosius argentatus (sejenis wereng) (Suastika, 2006).

Sebagian besar tanaman terserang penyakit ini (sekitar 80%) pada 11 MST dengan gejala yaitu pertumbuhan tunas-tunas lateral yang tidak diinginkan, daun berkeriput, dan kerdil. Menurut Suastika (2006) serangan penyakit ini mengganggu pertumbuhan tanaman dan cara paling efektif untuk menekan penyebaran penyakit ini adalah pemangkasan atau pencabutan tanaman yang sakit kemudian dibakar. Pada percobaan ketiga ini pengendalian tidak dilakukan karena masih ada beberapa pengamatan.

Percobaan 1

Penentuan Berbagai Macam Kriteria Kecambah Normal

Penilaian kriteria kecambah normal dilakukan berdasarkan kriteria kualitatifnya, yaitu panjang hipokotil, endosperma yang menutupi kotiledon, struktur perakaran, dan munculnya plumula. Berdasarkan pengamatan terhadap penilaian tersebut, diperoleh 4 kriteria kecambah normal, yaitu kriteria A, B, C, dan D (Gambar 1), sedangkan ciri-ciri morfologi kecambah normalnya ditunjukkan pada Tabel 1.

A B C D

Gambar 1. Kriteria Kecambah Normal A, B, C dan D

Struktur kecambah yang umum diamati yaitu panjang hipokotil dan radikula, seperti kriteria kecambah normal pada tanaman damar yaitu panjang hipokotil dan akar primer 2 kali atau lebih panjang dari benih (Suita dan Sudrajad, 2003). Pada tanaman jarak pagar diamati struktur kecambah khusus yaitu kotiledon yang ditutupi oleh endosperma, karena diduga endosperma ini akan mengganggu pertumbuhan kecambah secara keseluruhan. Pengamatan terhadap struktur khusus ini diharapkan bisa memperoleh kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan DB dan berkorelasi dengan tolok ukur vigor bibit.

Tabel 1. Ciri-Ciri Morfologi Kriteria Kecambah Normal

Kriteria Keterangan A a. Endosperma sudah terlepas

b. Kotiledon membuka sempurna (100%) dan berjumlah dua c. Muncul satu plumula

d. Panjang hipokotil lebih dari 4 kali panjang benih e. Akar adventif minimal ada 4

f. Akar primer berkembang baik dengan bulu-bulu akar yang banyak B a. Kriteria kecambah normal A termasuk dalam kriteria kecambah

normal B

b. Minimal kriteria kecambah normal B memiliki ciri-ciri :

• Endosperma masih menempel pada salah satu kotiledon, sehingga hanya satu kotiledon yang telah membuka sempurna (50%)

• Plumula sudah mulai muncul, tetapi belum terbuka

• Panjang hipokotil lebih dari 4 kali panjang benih

• Akar adventif minimal ada 4

• Akar primer berkembang baik dengan bulu-bulu akar yang cukup banyak

C a. Kriteria kecambah normal A dan B termasuk dalam kriteria kecambah normal C

b. Minimal kriteria kecambah normal C memiliki ciri-ciri :

• Endosperma masih belum terlepas dari kotiledon, sehingga kotiledon membuka sebagian (30%)

• Plumula belum muncul

• Panjang hipokotil lebih dari 4 kali panjang benih

• Akar adventif minimal ada 4

• Akar primer berkembang baik dengan bulu-bulu akar yang sedikit D a. Kriteria kecambah normal A, B, dan C termasuk dalam kriteria

kecambah normal D

b. Minimal kriteria kecambah normal D memiliki ciri-ciri :

• Endosperma masih belum terlepas, sehingga kotiledon belum terlihat (0%)

• Plumula belum muncul

• Panjang hipokotil lebih dari 4 kali panjang benih

• Akar adventif minimal ada 4

• Akar primer berkembang baik dengan bulu-bulu akar sedikit Percobaan 2

Pengujian Perkecambahan pada Beberapa Lot Benih

Berdasarkan hasil rekapitulasi nilai F pengaruh lot benih terhadap DB menggunakan kriteria kecambah normal A, B, C, dan D, diperoleh hasil bahwa

semua kriteria yang telah diperoleh pada percobaan pertama mampu memberikan pengaruh yang sangat nyata antar lot benih yang digunakan (Tabel 2). Analisis sidik ragam pengaruh lot benih terhadap daya berkecambah (DB) berdasarkan beberapa kriteria kecambah normal A, B, C, dan D disajikan pada Tabel Lampiran 1 - 4.

Pada percobaan ini digunakan 5 lot benih yang diasumsikan telah mewakili mutu fisiologis benih. Lot benih yang berasal dari Improved Polulation-1 (IP-Polulation-1P, IP-Polulation-1A, dan IP-Polulation-1M) diasumsikan memiliki mutu yang tinggi, sedangkan lot benih dari aksesi (aksesi dari Karanganyar dan Probolinggo) diasumsikan memiliki mutu yang lebih rendah.

Tabel 2. Rekapitulasi Nilai F Pengaruh Lot Benih terhadap DB Berdasarkan Beberapa Kriteria Kecambah Normal

Kriteria Kecambah Normal F Hitung KK %

A 11.5 ** 13.12993

B 5.51 ** 9.027233

C 5.17 ** 8.937468

D 5.35 ** 8.774092

Ket: ** berpengaruh sangat nyata pada taraf 1 %

Pada tahap selanjutnya untuk mengetahui kriteria kecambah normal yang akan dipilih, maka dilakukan uji lanjut Duncan. Rata-rata DB menggunakan kriteria kecambah normal A, B, C, dan D pada beberapa lot benih, beserta hasil uji lanjutnya dapat dilihat pada Tabel 3.

Berdasarkan hasil uji lanjut Duncan, terlihat bahwa semua kriteria menunjukkan beda yang nyata antar beberapa lot benih yang digunakan. Selanjutnya dilakukan tabulasi jumlah nilai tengah yang berbeda sebagai akibat adanya perlakuan dengan menggunakan hasil uji lanjut Duncan pada Tabel 3. Berdasarkan hasil tabulasi ini diperoleh 3 kriteria kecambah normal, yaitu kriteria B, C, dan D. Hal ini disebabkan karena kriteria B, C, dan D menunjukkan tingkat kepekaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kriteria A (Tabel 4).

Kriteria kecambah normal yang dipilih harus dapat diaplikasikan untuk membedakan perkecambahan pada berbagai lot benih. Pada tahap selanjutnya untuk memilih salah satu kriteria yang telah diperoleh pada percobaan kedua,

dilakukan uji korelasi antara DB berdasarkan kriteria B, C, dan D dengan beberapa tolok ukur vigor bibit.

Tabel 3. Nilai Rata-Rata Daya Berkecambah Menggunakan Beberapa Kriteria Kecambah Normal pada Beberapa Lot Benih

Rata-rata (DB %) Lot A B C D L4 43.75b 71.25c 76.25c 77.50c L5 75.00a 80.00bc 82.50bc 82.50bc L1 77.50a 87.50ab 92.50ab 92.50ab L2 78.75a 86.25ab 95.00ab 97.50a L3 83.75a 95.00a 97.50a 97.50a

Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut Uji Duncan pada taraf 5%

Ket:

L1 : IP-1P (dari Pakuwon) L2 : IP-1M (dari Muktiharjo) L3 : IP-1A (dari Asembagus) L4 : Aksesi dari Karanganyar L5 : Aksesi dari Probolinggo

Tabel 4. Jumlah Nilai Tengah Perlakuan Berdasarkan Beberapa Kriteria Kecambah Normal antar Lot Benih

Kriteria Kecambah Normal Tingkat Kepekaan ( *)

) A 2 B 3 C 3 D 3 *)

Tabulasi tingkat kepekaan DB antar lot benih diperoleh dari jumlah notasi yang menunjukkan beda nyata pada uji Duncan pada Tabel 3

Percobaan 3

Uji Korelasi antara DB Kriteria Kecambah Normal Terpilih dengan Beberapa Tolok Ukur Vigor Bibit

Analisis korelasi antara tolok ukur vigor bibit dengan daya berkecambah (DB) berdasarkan kriteria kecambah normal B, C, dan D disajikan pada Tabel Lampiran 24 - 26. Nilai koefisien korelasi akan menggambarkan keeratan hubungan antar peubah, yaitu tolok ukur vigor bibit dan DB berdasarkan kriteria kecambah normal B, C, dan D. Rekapitulasi nilai koefisien korelasinya (r) terdapat pada Tabel 5.

Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat bahwa DB berdasarkan kriteria kecambah normal B memiliki hubungan dengan tolok ukur vigor bibit yaitu, jumlah daun dan tinggi tanaman pada saat bibit berumur 8 MST. Kedua tolok ukur ini memiliki keeratan yang tidak jauh berbeda. Masing-masing secara berurutan memiliki keeratan sebesar 0.53931 dan 0.57325.

Tabel 5. Nilai Koefisien Korelasi (r) antara DB Kriteria Kecambah Normal B, C, dan D dengan Beberapa Tolok Ukur Vigor Bibit

DB Berdasarkan Kriteria Kecambah Normal

B C D Tolok Ukur Pr < F r Pr < F r Pr < F r JD1 0.0542 0.43677 0.1170 0.36179 0.1514 0.33300 JD2 0.0141 0.53931 0.0240 0.50238 0.0307 0.48371 JD3 0.0621 0.42450 0.0745 0.40754 0.0995 0.37885 JD4 0.1699 0.31935 0.2444 0.27289 0.3309 0.22928 JT1 0.2323 0.27973 0.3257 0.23166 0.1255 0.35421 JT2 0.2546 0.26730 0.1045 0.37378 0.0376 0.46770 JT3 0.2952 0.24629 0.0819 0.39840 0.0411 0.46034 JT4 0.4562 0.17667 0.1278 0.35216 0.0692 0.41444 TT1 0.0723 0.41033 0.0289 0.48835 0.0387 0.46536 TT2 0.0082 0.57325 0.0080 0.57529 0.0119 0.55057 TT3 0.1500 0.33403 0.0577 0.43122 0.0745 0.40747 TT4 0.1326 0.34807 0.0769 0.40446 0.1070 0.37133 D1 0.0569 0.43244 0.1837 0.30986 0.2757 0.25613 D2 0.1322 0.34839 0.2028 0.29744 0.3047 0.24166 D3 0.7530 0.07510 0.5517 0.14152 0.7003 0.09179 D4 0.5401 -0.14564 0.5517 0.14152 0.5481 -0.14280 BBB 0.4096 0.19518 0.3059 0.24105 0.3561 0.21789 BKB 0.6898 -0.09517 0.6259 -0.11613 0.5396 -0.14583 BBA 0.6131 -0.12041 0.9495 0.01515 0.8541 -0.04393 BKA 0.7751 -0.06820 0.6231 0.11704 0.7285 0.08281 RT 0.7558 0.07424 0.5303 -0.14915 0.5734 -0.13396 Ket :

JD 1-4 : Jumlah Daun pada 6, 8, 10, dan 12 MST BKB : Bobot Kering Batang

JT 1-4 : Jumlah Tunas pada 6, 8, 10, dan 12 MST BBA : Bobot Basah Akar

TT 1-4 : Tinggi Tanaman pada 6, 8, 10, dan 12 MST BKA : Bobot Kering Akar

D 1-4 : Diameter Batang pada 6, 8, 10, dan 12 MST RT : Rasio Tunas/Akar

BBB : Bobot Basah Batang

Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa DB berdasarkan kriteria kecambah normal C memiliki hubungan dengan tolok ukur tinggi tanaman. Koefisien korelasi tertinggi dicapai saat bibit berumur 8 MST yaitu 0.57529. Daya berkecambah berdasarkan kriteria ini juga memiliki hubungan dengan tolok ukur

jumlah daun pada saat bibit berumur 8 MST dan memiliki keeratan sebesar 0.50238.

Daya berkecambah berdasarkan kriteria kecambah normal D memiliki hubungan terbanyak dengan tolok ukur vigor bibit, yaitu jumlah daun pada saat bibit berumur 8 MST, jumlah tunas pada saat bibit berumur 8 dan 10 MST, dan tinggi tanaman pada saat bibit berumur 6 dan 8 MST. Tolok ukur jumlah daun saat bibit berumur 8 MST memiliki keeratan sebesar 0.48371. Hubungan DB berdasarkan kriteria D dengan tolok ukur jumlah tunas saat bibit berumur 8 dan 10 MST memiliki nilai koefisien korelasi yang tidak jauh berbeda, yaitu 0.46770 dan 0.46034. Koefisien korelasi tertinggi pada hubungan antara DB berdasarkan kriteria kecambah normal D dan tolok ukur tinggi tanaman ditunjukkan saat bibit berumur 8 MST, yaitu 0.55057.

Hubungan antara DB berdasarkan kriteria kecambah normal B, C, dan D dengan beberapa tolok ukur vigor bibit juga dianalisis dengan regresi linier sederhana. Analisis regresi linier sederhana adalah persamaan regresi yang menggambarkan hubungan antara satu peubah bebas (X, independent variable) dan satu peubah tak bebas (Y, dependent variable), dimana hubungan keduanya dapat digambarkan sebagai suatu garis lurus (Mattjik dan Sumertajaya, 2002). Peubah tak bebas dalam percobaan ini adalah DB berdasarkan kriteria kecambah normal B, C, dan D, sedangkan peubah bebasnya adalah beberapa tolok ukur vigor bibit.

Analisis regresi, hubungan antara DB yang ditentukan menggunakan kriteria kecambah normal B, C, D dengan beberapa tolok ukur vigor bibit disajikan pada Tabel Lampiran 14 - 23. Rekapitulasi nilai koefisien determinasi (R2) berdasarkan analisis regresinya dapat dilihat pada Tabel 6, 7, dan 8. Nilai koefisien determinasi akan menggambarkan seberapa besar peubah tak bebas dapat diterangkan oleh model yang digunakan, sedangkan besarnya koefisien regresi akan menunjukkan jumlah perubahan DB berdasarkan kriteria kecambah normal B, C, dan D (Y) untuk setiap perubahan satu satuan tolok ukur vigor bibit (X).

Tolok ukur diameter batang saat bibit berumur 6 MST merupakan tolok ukur yang terbesar memberikan pengaruh pada jumlah perubahan DB berdasarkan

kriteria kecambah normal B, C, dan D. Hal ini karena masing-masing memiliki koefisien regresi yang lebih tinggi dibandingkan tolok ukur vigor yang lain, yaitu 74.87 (Tabel 6), 55.06 (Tabel 7), dan 45.53 (Tabel 8).

Tabel 6. Nilai Koefisien Determinasi (R2) Berdasarkan Analisis Regresi antara DB Kriteria Kecambah Normal B dengan Beberapa Tolok Ukur Vigor Bibit

Ket :

Y : DB Berdasarkan Kriteria Kecambah Normal B

JD 1-4 : Jumlah Daun pada 6, 8, 10, dan 12 MST BKB : Bobot Kering Batang

JT 1-4 : Jumlah Tunas pada 6, 8, 10, dan 12 MST BBA : Bobot Basah Akar

TT 1-4 : Tinggi Tanaman pada 6, 8, 10, dan 12 MST BKA : Bobot Kering Akar

D 1-4 : Diameter Batang pada 6, 8, 10, dan 12 MST RT : Rasio Tunas/Akar

BBB : Bobot Basah Batang

tn

berpengaruh tidak nyata

** berpengaruh sangat nyata pada taraf 1% * berpengaruh nyata pada taraf 5%

Besarnya koefisien regresi pada model belum tentu berpengaruh nyata pada jumlah perubahan DB berdasarkan kriteria kecambah normal B, C, ataupun D, hal ini dapat dilihat dari nilai Prob > |T|. Pada Tabel 6, dapat dilihat bahwa DB berdasarkan kriteria kecambah normal B memiliki nilai R2 yang memberikan

DB Berdasarkan Kriteria Kecambah Normal B Tolok

Ukur Model Regresi Prob > |T| R2 JD1 Y=48.26+6.56 JD1 0.0542 19.08 tn JD2 Y=28.10+7.67 JD2 0.0141 29.09 * JD3 Y=28.31+3.94 JD3 0.0621 18.02 tn JD4 Y=55.84+1.67 JD4 0.1699 10.20 tn JT1 Y=49.00+33.33 JT1 0.2323 7.82 tn JT2 Y=70.75+11.27 JT2 0.2546 7.15 tn JT3 Y=77.41+4.98 JT3 0.2952 6.07 tn JT4 Y=80.73+2.22 JT4 0.4562 3.12 tn TT1 Y=12.92+2.71 TT1 0.0723 16.84 tn TT2 Y=16.10+2.23 TT2 0.0082 32.86 ** TT3 Y=42.73+0.84 TT3 0.1500 11.16 tn TT4 Y=42.76+0.72 TT4 0.1326 12.12 tn D1 Y=16.73+74.87 D1 0.0569 18.70 tn D2 Y=28.77+52.23 D2 0.1322 12.14 tn D3 Y=67.02+11.33 D3 0.7530 0.56 tn D4 Y=117.56-19.90D4 0.5401 2.12 tn BBB Y=72.37+0.09 BBB 0.4096 3.81 tn BKB Y=91.75-0.48 BKB 0.6131 0.91 tn BBA Y=88.19-0.04 BBA 0.6898 1.45 tn BKA Y=85.46-0.12 BKA 0.7751 0.47 tn RT Y=81.42+0.30RT 0.7558 0.55 tn

model regresi yang nyata pada taraf 5% yaitu pada tolok ukur jumlah daun dan tinggi tanaman saat bibit berumur 8 MST. Koefisien regresi terbesar yang nyata ditunjukkan oleh jumlah daun saat bibit berumur 8 MST, yaitu 7.67, dengan nilai R2 sebesar 29.09%. Nilai ini menunjukkan bahwa keragaman pada DB berdasarkan kriteria B dapat diterangkan 29.09% oleh tolok ukur jumlah daun pada saat bibit berumur 8 MST.

Daya berkecambah berdasarkan kriteria B juga memiliki koefisien determinasi yang memberikan model persamaan regresi yang nyata pada taraf 1% yaitu pada tolok ukur tinggi tanaman saat bibit berumur 8 MST, yaitu 32.86%. Hal ini menunjukkan bahwa keragaman pada DB berdasarkan kriteria B dapat diterangkan 32.86% oleh tolok ukur tersebut.

Tabel 7 menunjukkan bahwa DB berdasarkan kriteria kecambah normal C memiliki nilai R2 yang memberikan model regresi yang nyata pada taraf 5% yaitu pada tolok ukur jumlah daun saat bibit berumur 8 MST dan tinggi tanaman saat bibit berumur 6 MST, dan nilai R2 yang memberikan model regresi yang nyata pada taraf 1% yaitu pada tolok ukur tinggi tanaman saat bibit berumur 8 MST.

Berdasarkan model regresi yang nyata pada Tabel 7, dapat dilihat koefisien regresi yang terbesar ditunjukkan oleh tolok ukur jumlah daun saat bibit berumur 8 MST (7.33). Besarnya nilai koefisien determinasi pada tolok ukur ini menunjukkan bahwa keragaman DB berdasarkan kriteria C dapat diterangkan 25.24% oleh tolok ukur jumlah daun saat berumur 8 MST.

Pada Tabel 7 juga dapat dilihat bahwa nilai koefisien regresi yang kecil (2.29) pada tolok ukur tinggi tanaman saat berumur 8 MST dapat menerangkan keragaman DB berdasarkan kriteria kecambah normal C sebesar 33.10%. Tolok ukur tinggi tanaman saat bibit berumur 6 MST yang memiliki koefisien regresi 3.32 dapat menerangkan keragaman DB berdasarkan kriteria C sebesar 23.85%.

Tabel 8 menunjukkan bahwa kriteria kecambah normal D memiliki nilai R2 yang memberikan model persamaan regresi yang nyata pada taraf 5% yaitu pada tolok ukur jumlah daun saat bibit berumur 8 MST, jumlah tunas saat bibit berumur 8 dan 10 MST, dan tinggi tanaman saat bibit berumur 6 dan 8 MST. Nilai koefisien regresi tertinggi ditunjukkan oleh tolok ukur jumlah tunas saat bibit berumur 8 MST, yaitu 20.25, dengan kemampuan menjelaskan keragaman DB

berdasarkan kriteria kecambah normal D sebesar 21.87%. Tolok ukur jumlah tunas saat bibit berumur 10 MST memiliki nilai koefisien regresi sebesar 9.57 dan koefisien determinasi sebesar 21.19%. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah daun saat bibit berumur 10 MST dapat menjelaskan 21.19% keragaman pada DB berdasarkan kriteria kecambah normal D. Jumlah daun saat bibit berumur 8 MST memiliki nilai koefisien determinasi yang cukup tinggi, yaitu 23.40%. Hal ini menunjukkan bahwa keragaman DB berdasarkan kriteria kecambah normal D dapat dijelaskan 23.40% oleh tolok ukur jumlah daun tersebut.

Tabel 7. Nilai Koefisien Determinasi (R2) Berdasarkan Analisis Regresi antara DB Kriteria Kecambah Normal C dengan Beberapa Tolok Ukur Vigor Bibit

Ket :

Y : DB Berdasarkan Kriteria Kecambah Normal C

JD 1-4 : Jumlah Daun pada 6, 8, 10, dan 12 MST BKB : Bobot Kering Batang

JT 1-4 : Jumlah Tunas pada 6, 8, 10, dan 12 MST BBA : Bobot Basah Akar

TT 1-4 : Tinggi Tanaman pada 6, 8, 10, dan 12 MST BKA : Bobot Kering Akar

D 1-4 : Diameter Batang pada 6, 8, 10, dan 12 MST RT : Rasio Tunas/Akar

BBB : Bobot Basah Batang

tn

berpengaruh tidak nyata

** berpengaruh sangat nyata pada taraf 1% * berpengaruh nyata pada taraf 5%

DB Berdasarkan Kriteria Kecambah Normal C Tolok

Ukur Model Regresi Prob > |T| R2 JD1 Y=58.36+ 5.58 JD1 0.1170 13.09 tn JD2 Y=35.31 + 7.33 JD2 0.0240 25.24 * JD3 Y= 33.88 + 3.89 JD3 0.0745 16.61 tn JD4 Y= 64.05 +1.47 JD4 0.2444 7.45 tn JT1 Y=59.00 + 28.33 JT1 0.3257 5.37 tn JT2 Y= 69.74 +16.18 JT2 0.1045 13.97 tn JT3 Y= 77.82 + 8.28 JT3 0.0819 15.87 tn JT4 Y=82.06 + 4.53 JT4 0.1278 12.40 tn TT1 Y=1.93 + 3.32 TT1 0.0289 23.85 * TT2 Y= 18.81 + 2.29 TT2 0.0080 33.10 ** TT3 Y= 34.07 + 1.11 TT3 0.0577 18.60 tn TT4 Y=39.57 + 0.86 TT4 0.0769 16.36 tn D1 Y= 39.28 + 55.06 D1 0.1837 9.6 tn D2 Y=40.35 + 45.77 D2 0.2028 8.85 tn D3 Y= 55.91 + 21.92 D3 0.5517 2 tn D4 Y=115.18 - 15.67 D4 0.6391 1.25 tn BBB Y= 74.01 + 0.11 BBB 0.3059 5.81 tn BKB Y= 93.99 - 0.06 BKB 0.6259 1.35 tn BBA Y= 87.75 + 0.06 BBA 0.9495 0.02 tn BKA Y= 86.17 + 0.23 BKA 0.6231 1.37 tn RT Y= 94.07 - 0.63 RT 0.5303 2.22 tn

Tolok ukur lain yang juga memiliki nilai R2 yang nyata yaitu pada tolok ukur tinggi tanaman. Keragaman DB berdasarkan kriteria D dapat dijelaskan 21.66% oleh tinggi tanaman saat bibit berumur 6 MST dan 30.31% saat bibit berumur 8 MST (Tabel 8). Koefisien regresi pada tolok ukur tinggi tanaman saat bibit berumur 8 MST memang kecil, namun persentase kemampuannya dalam menerangkan keragaman DB berdasarkan kriteria kecambah normal D cukup tinggi jika dibandingkan dengan tolok ukur vigor yang lain.

Tabel 8. Nilai Koefisien Determinasi (R2) Berdasarkan Analisis Regresi antara DB Kriteria Kecambah Normal D dengan Beberapa Tolok Ukur Vigor Bibit

Ket :

Y : DB Berdasarkan Kriteria Kecambah Normal D

JD 1-4 : Jumlah Daun pada 6, 8, 10, dan 12 MST BKB : Bobot Kering Batang

JT 1-4 : Jumlah Tunas pada 6, 8, 10, dan 12 MST BBA : Bobot Basah Akar

TT 1-4 : Tinggi Tanaman pada 6, 8, 10, dan 12 MST BKA : Bobot Kering Akar

D 1-4 : Diameter Batang pada 6, 8, 10, dan 12 MST RT : Rasio Tunas/Akar

BBB : Bobot Basah Batang

tn

berpengaruh tidak nyata

** berpengaruh sangat nyata pada taraf 1% * berpengaruh nyata pada taraf 5%

DB Berdasarkan Kriteria Kecambah Normal D Tolok

Ukur Model Regresi Prob > |T| R2 JD1 Y= 61.52 + 5.14 JD1 0.1514 11.09 tn JD2 Y=38.03 + 7.06 JD2 0.0307 23.40 * JD3 Y= 38.48 + 3.61 JD3 0.0995 14.35 tn JD4 Y=68.75 + 1.23 JD4 0.3309 5.26 tn JT1 Y = 44.00 + 43.33 JT1 0.1255 12.55 tn JT2 Y =65.71 + 20.25 JT2 0.0376 21.87 * JT3 Y =76.86 + 9.57 JT3 0.0411 21.19 * JT4 Y = 81.63 + 5.34 JT4 0.0692 17.18 tn TT1 Y= 6.74 + 3.16 TT1 0.0387 21.66 * TT2 Y = 22.55 + 2.19 TT2 0.0119 30.31 * TT3 Y =37.81 + 1.05 TT3 0.0745 16.60 tn TT4 Y = 44.33 + 0.79 TT4 0.1070 13.79 tn D1 Y =48.59 + 45.53 D1 0.2757 6.56 tn D2 Y =50.17 + 37.19 D2 0.3047 5.84 tn D3 Y = 68.2 + 14.22 D3 0.7003 0.84 tn D4 Y = 123.29 - 20.03 D4 0.5481 2.04 tn BBB Y = 76.17 + 0.10 BBB 0.3561 4.75 tn BKB Y =96.09 - 0.08 BKB 0.5396 2.13 tn BBA Y =92.40 - 0.18 BBA 0.8541 0.19 tn BKA Y = 87.67 + 0.16 BKA 0.7285 0.69 tn RT Y = 94.28 - 0.56 RT 0.5734 1.79 tn

Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwa kriteria kecambah normal D memiliki hubungan dan nilai R2 yang memberikan model persamaan regresi yang nyata terbanyak dibandingkan kriteria yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa kriteria kecambah normal D lebih dapat diaplikasikan untuk membedakan perkecambahan pada berbagai lot benih.

Menurut Schmidt (2000) dalam perkecambahan epigeal, hipokotil memanjang dan kemudian mendorong kotiledon ke atas permukaan tanah, kadang-kadang bersamaan dengan kulit benih dan sisa endosperma. Hal yang sama terjadi pada kecambah jarak pagar, dimana endospermanya masih menutupi atau sudah hampir terlepas dari kotiledon. Pada kriteria kecambah normal D, endosperma belum/sudah terlepas, plumula belum/mulai muncul, panjang hipokotil lebih dari empat kali panjang benih, akar adventif minimal ada 4, dan akar primer berkembang baik dengan bulu akar sedikit/banyak. Berdasarkan percobaan kedua, kriteria D adalah kriteria terpilih yang dapat digunakan untuk menentukan DB.

Pada perkecambahan benih jarak pagar, endosperma tidak menjadi faktor pembatas. Kriteria ini juga digunakan oleh Bramasto et al. (2006) pada benih merbau (Instia bijuga) untuk menentukan kriteria kecambah normal, namun tidak demikian halnya pada benih suren (Toona sp). Tanaman suren memiliki kriteria kecambah normal yaitu kotiledon telah berkembang dan muncul sepasang daun dengan panjang < 0.5 cm atau kotiledon masih ada dan sepasang daun dengan panjang > 1 cm (Bramasto et al.,2006).

Semua kriteria kecambah normal memiliki hubungan yang nyata dengan tolok ukur jumlah daun saat bibit berumur 8 MST. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah daun dapat dijadikan tolok ukur pada awal pengamatan. Seperti pada Lakitan (2004) dimana kemampuan daun untuk berfotosintesis meningkat pada awal perkembangan daun, tetapi kemudian mulai turun, kadang sebelum daun tersebut berkembang penuh (fully developed).

Tolok ukur tinggi tanaman juga memiliki hubungan yang nyata dengan DB berdasarkan kriteria B, C, dan D. Hal ini menunjukkan bahwa tolok ukur tinggi tanaman dapat digunakan sebagai indikator pertumbuhan. Seperti halnya

Sitompul dan Guritno (1995) yang menyatakan bahwa tinggi tanaman merupakan ukuran yang sering diamati sebagai indikator pertumbuhan.

Evaluasi Lot Benih yang Digunakan

Evaluasi lot benih ini bertujuan untuk mengetahui variasi antar lot benih yang digunakan. Lot benih yang digunakan pada penelitian ini sebagian ada yang berasal dari hasil Improved Population-1 yaitu IP-1A (dari Asembagus), IP-1M (dari Muktiharjo), dan IP-1P (dari Pakuwon). Sebagian lot benih yang lain merupakan benih yang berasal dari aksesi yaitu aksesi Karanganyar dan Probolinggo.

Benih yang berasal dari Improved Polulation-1 merupakan hasil penelitian dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, dimana benihnya lebih vigor dibandingkan benih dari aksesi. Pemilihan benih Improved Polulation-1 ini dilakukan dengan eksplorasi di 10 propinsi dan menanam hasil eksplorasi tersebut di tiga kebun induk, yaitu Kebun Percobaan (K.P.) Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, untuk mewakili wilayah iklim sangat kering; K.P. Muktiharjo, Pati, Jawa Tengah, mewakili wilayah iklim sedang; dan K.P. Pakuwon, Sukabumi, Jawa Barat, mewakili wilayah iklim basah. Para ahli benih Puslitbang Perkebunan melakukan seleksi massa untuk memilih individu terbaik yang akan menghasilkan benih populasi berikutnya. Komposit tanaman yang terpilih dijadikan sebagai benih sumber (Anonimous, 2006). Benih aksesi diperoleh dari berbagai daerah dan belum dilakukan seleksi ataupun penyeragaman. Benih hasil perbaikan populasi (Improved Polulation-1) secara garis besar memiliki vigor yang lebih baik karena telah diseleksi, sedangkan benih aksesi belum diseleksi. Hasil evaluasi ini diharapkan dapat mengetahui variasi dari lot benih yang digunakan.

Evaluasi ini menggunakan beberapa tolok ukur vigor bibit yaitu jumlah daun, jumlah tunas, tinggi tanaman, diameter batang pada saat tanaman berumur 6 - 12 MST, bobot basah tajuk dan akar, bobot kering tajuk dan akar, rasio tunas dan akar. Rekapitulasi nilai F pengaruh lot benih terhadap beberapa tolok ukur vigor bibit yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 9. Sidik ragam untuk masing-masing tolok ukur yang berpengaruh nyata ditampilkan pada Tabel Lampiran 5 - 13.

Berdasarkan hasil uji F, diperoleh hasil bahwa ada beberapa tolok ukur yang dipengaruhi secara nyata oleh lot benih yang digunakan. Tolok ukur tersebut adalah jumlah daun pada saat bibit berumur 6, 8, dan 10 MST, jumlah tunas pada saat tanaman berumur 6, 8, 10, dan 12 MST, tinggi tanaman pada 8 MST, dan diameter batang pada 8 MST.

Tabel 9. Rekapitulasi Nilai F Pengaruh Lot Benih terhadap Beberapa Tolok Ukur Vigor Bibit yang Digunakan

Tolok Ukur F hit KK (%)

JD1 6.48 ** 8.82 JD2 6.57 ** 6.93 JD3 3.90 * 6.36 JD4 1.53 tn 11.39 JT1 4.9 ** 8.82 JT2 40.06 ** 6.27 JT3 38.12 ** 13.34 JT4 20.34 ** 25.41 TT1 2.53 tn 5.32 TT2 4.54 * 6.77 TT3 2.36 tn 7.55 TT4 1.39 tn 8.59 D1 2.87 tn 5.76 D2 6.35 ** 4.58 D3 1.27 tn 4.55

Dokumen terkait