• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Bahan Pulp Capping .1 Kalsium Hidroksida .1 Kalsium Hidroksida

Kalsium hidroksida adalah senyawa kimia dengan rumus kimia Ca(OH)2. Dalam bahasa Inggris, kalsium hidroksida juga dinamakan slaked lime, atau hydrated lime (kapur yang di-airkan). Suspensi partikel halus kalsium hidroksida dalam air disebut juga milk of lime (Bahasa Inggris: milk = susu, lime=kapur). Kalsium hidroksida dihasilkan melalui reaksi kalsium oksida (CaO) dengan air. Kalsium hidrokida berupa bubuk putih.26 Kalsium hidroksida dapat berupa kristal tidak berwarna atau bubuk putih.

Kalsium hidroksida dapat dihasilkan melalui reaksi kalsium oksida (CaO) dengan air.26 Kalsium hidroksida adalah suatu bahan yang bersifat basa kuat dengan pH 12-13. Bahan ini sering digunakan untuk direct pulp capping. Jika diletakkan kontak dengan jaringan pulpa, bahan ini dapat mempertahankan vitalitas pulpa tanpa menimbulkan reaksi radang, dan dapat menstimulasi terbentuknya batas jaringan termineralisasi atau jembatan terkalsifikasi pada atap pulpa.26

Sifat bahan kalsium hidroksida yang alkalis inilah yang banyak memberikan pengaruh pada jaringan. Bentuk terlarut dari bahan ini akan terpecah menjadi ion-ion kalsium dan hidroksil. Sifat basa kuat dari bahan kalsium hidroksida dan pelepasan ion kalsium akan membuat jaringan yang berkontak menjadi alkalis. Keadaan basa akan menyebabkan resorpsi atau aktivitas osteoklas akan terhenti karena asam yang

dihasilkan dari osteoklas akan dinetralkan oleh kalsium hidroksida dan kemudian terbentuklah kalsium fosfat kompleks. Selain itu, osteoblas menjadi aktif dan mendeposisi jaringan terkalsifikasi, maka batas dentin terbentuk diatap pulpa.26

Ion hidroksil diketahui dapat memberikan efek antimikroba, ion hidroksil akan memberikan efek antimikroba dengan cara merusak lipopolisakarida dinding sel bakteri dan menyebabkan bakteri menjadi lisis, baik dari bakteri maupun produknya.26

Mekanisme kerja kalsium hidroksida pada jaringan, mendorong pengendapan jaringan mineralisasi, merupakan aspek yang sangat penting untuk indikasi kalsium hidroksida, karena menunjukkan kompatibilitas biologis dari kalsium hidroksida.26 Penelitian-penelitian telah menunjukkan bahwa kalsium hidroksida sangat toksik terhadap sel-sel pada kultur jaringan. Kalsium hidroksida pada pH tinggi menurunkan ukuran pulpa yang berdekatan sampai 0,7 mm. Semakin tinggi pH kalsium hidroksida maka efek tunnel semakin meningkat. Kelemahannya yaitu perlu beberapa kali kunjungan dan membutuhkan kepatuhan pasien untuk datang berobat, dan rentan terjadinya fraktur pada servikal gigi selama perawatan.26,27

Selama beberapa dekade terakhir kalsium hidroksida telah menjadi bahan standar untuk perawatan pulpa vital. Baik secara klinis dan histologis memberikan hasil yang sangat memuaskan pada perawatan direct maupun indirect pulp capping, karena ia mampu mensitimulus pembentukan dentin tersier. Berkontaknya dengan jaringan pulpa berkontribusi untuk menghasilkan dentin reparatif, khususnya dentir tersier degan cara pembentukan jaringan keras baru pada lapisan yang terbuka. Hal ini telah didokumentasikan pada banyak penelitian dan studi kasus yang melaporkan tingkat keberhasilan perawatan sampai 80% untuk direct pulp capping. Saat ini kalsium hidroksida paling memungkinkan untuk perawatan direct pulp capping dan sebagai standar utama pengujian pada bahan baru.27

Namun demikian, kalsium hidroksida memiliki beberapa kelemahan seperti ikatan yang jelek terhadap dentin, bahan yang mudah resorpsi, serta ikatan mekanis yang tidak stabil. Akibatnya, kalsium hidroksida tidak dapat mencegah microleakage dalam jangka panjang. Porositas baru tersebut (tunnel defects) pada jaringan keras gigi dapat bertindak sebagai jalan masuk bagi mikroorganisme. Hal ini dapat menyebabkan

inflamasi sekunder sehingga mengkibatkan kegagalan perawatan gigi vital. Selain itu, pH tinggi (12,5) kalsium hidroksida dapat menyebabkan pencairan nekrosis pada permukaan jaringan pulpa.27

2.4.2 Pasta Zinc Oxide Eugenol (ZOE)

ZOE adalah bahan yang dibuat oleh kombinasi seng oksida dan eugenol yang terkandung dalam minyak cengkeh. Reaksi asam-basa terjadi dengan pembentukan khelat seng eugenolat. Reaksi ini dikatalis oleh air dan dipercepat oleh kehadiran garam logam. ZOE dapat digunakan sebagai bahan pengisi atau bahan semen di kedokteran gigi. Senyawa ini sering digunakan dalam kedokteran gigi saat kerusakan sangat dalam atau sangat dekat dengan saraf atau ruang pulpa. Jaringan di dalam gigi, yaitu pulpa, bereaksi buruk dengan stimulus mekanik pengeburan (panas dan getaran), sering menjadi sangat meradang dan endapan kondisi yang disebut dengan pulpitis akut atau kronis.28

Kondisi ini biasanya menyebabkan sensivitas gigi kronis yang parah atau sakit gigi yang sebenarnya dan kemudian hanya dapat diobati dengan penghilangan saraf (pulpa) yang disebut dengan terapi saluran akar. Pemakaian ZOE selama beberapa hari sebelum penempatan bahan pengisi saluran akar biasanya mencegah sensitivitas atau sakit gigi. ZOE diklasifikasikan sebagai material restoratif perantara dan memiliki sifat anastetik dan antibakteri.28

Jenis-jenis ZOE menurut ANSI/ADA Keterangan no. 30 (ISO 3107) tergantung pada penggunaan yang dimaksudkan dan formulasi individu yang diperlukan. Tipe I adalah ZOE luting semen sementara, tipe II adalah ZOE luting dalam waktu jangka panjang, Tipe III adalah ZOE untuk restorasi sementara.28 Komposisi powder Zinc Oxide adalah Zinc Oksida (ZnO) sebanyak 69%, resin putih 29,3%, Magnesium Oksida (MgO) dalam jumlah yang kecil dan Zinc Asetat (CH3COO)2 1%, sedangkan komposisi cairannya adalah eugenol terutama minyak cengkeh 85%, minyak olive 15% dan kadang diberi asam asetat/cuka sebagai akselerator.28

ZOE pernah juga digunakan dalam indirect pulp capping dan mempunyai kemampuan dalam pembentukan odontoblas. Eugenol, secara biologis merupakan

bagian yang paling aktif dari bahan ini dan mempunyai derivat fenol yang menunjukkan toksisitas serta memiliki sifat antibakteri. Manfaat eugenol dalam pengendalian nyeri disebabkan karena kemampuan memblokir transmisi impuls saraf. Selain itu, penelitian menunjukan terjadinya inflamasi kronis setelah aplikasi ZOE akan diikuti oleh pembentukan lapisan odontoblas yang baru dan terbentuklah dentin sekunder.29

Keuntungan dari ZOE ini adalah bersifat antiseptik, memiliki sifat analgesik ringan, dan memiliki perlekatan yang baik dengan dinding saluran akar, bersifat radiopaque, dan tidak menyebabkan diskolorisasi terhadap gigi yang dirawat. Kerugian ZOE adalah adanya resiko dapat melukai benih gigi permanen pengganti yang sedang berada dalam proses erupsi akibat kekerasan ZOE dan adanya perbedaan kecepatan resorpsi akar dengan bahan ZOE ini sehingga menyebabkan partikel pasta akan tertinggal dalam tulang alveolar saat akar sudah teresorpsi dan mengganggu erupsi gigi permanen. ZOE ini juga bisa mengiritasi jaringan periapikal dan dapat menyebabkan nekrosis pada tulang dan sementum serta dapat menimbulkan sitotoksik bila kontak dengan jaringan yang masih vital.30