• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

4.7 Pemeriksaan Ketebalan Dentinal Bridge

Setelah minggu keempat dilakukan perlakuan, pada kelompok pasta ZOE-Karbonat apatit, Ca(OH)2, dan kontrol negatif, dievaluasi ketebalan dentinal bridge yang masing-masing diberikan skor 1,2,3,4. Dimana skor satu merupakan hasil yang paling diharapkan dan skor empat hasil yang tidak diharapkan. Ketebalan dentinal bridge ini diukur dengan menggukan ukuran perbesaran 200µm.

Penilaian histologis berdasarkan kriteria yang digunakan : Skor 1 : >0,25mm

Skor 2 : 0,1-0,25mm Skor 3 : <0,1 mm

Skor 4 : Tidak terbentuk dentinal bridge

Berdasarkan tabel 8, pada periode waktu minggu keempat setelah aplikasi bahan direct pulp capping, terdapat 14 sampel yang ketebalan dentinal bridgenya lebih dari 0,25mm, 7 sampel diantaranya adalah yang menggunakan bahan direct pulp capping pasta ZOE-Karbonat apatit, 5 sampel menggunakan Ca(OH)2 dan 2 sampel lainnya adalah kontrol negatif. Ada 9 sampel yang memiliki ketebalan dentinal bridge 0,1-0,25mm yang mana 3 sampel diantaranya adalah kontrol negatif, 3 sampel menggunakan Ca(OH)2 dan 3 sampel menggunakan pasta ZOE-Karbonat apatit dan ada 7 sampel kontrol negatif memiliki ketebalan dentinal bridge kurang dari 0,1mm.

Perbedaan ketebalan dentinal bridge pada kelompok pasta ZOE-Karbonat apatit, Ca(OH)2, dan kontrol negatif dianalisis dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis Test dengan derajat kemaknaan (α=0,05). Hasil uji statistik berdasarkan Tabel 8 didapatkan

nilai P = 0,021 (<0,05) yang menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang signifikan ketebalan dentinal bridge antara seluruh bahan pulp capping.

Tabel 8. Pengamatan ketebalan dentinal bridge setiap kelompok percobaan pada setiap periode waktu 4 minggu

Setelah itu dilakukan uji lanjutan (post hoc) dengan menggunakan Mann-Whitney test untuk menentukan kelompok mana yang memiliki perbedaan secara statistik antara ketiga kelompok bahan dan didapatkan adanya perbedaan ketebalan dentinal bridge secara signifikan antara pasta ZOE-Karbonat apatit dengan kontrol negatif (p=0,011), sedangkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara ketebalan dentinal bridge antara kelompok pasta ZOE-Karbonat apatit dengan pasta Ca(OH)2

(p=0,535) dan antara kelompok pasta Ca(OH)2 dengan kontrol nrgatif (p=0,143).

Berdasarkan data perbandingan skor ketebalan dentinal bridge, pasta ZOE-Karbonat apatit lebih cepat menginduksi pembentukan dentinal bridge dibandingkan dengan kelompok Ca(OH)2, tetapi tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik dikarenakan jumlah sampel yang terbatas.

Berikut merupakan gambaran histologis gigi molar tikus Wistar menggunakan bahan pasta ZOE-Karbonat apatit setelah pengamatan selama 4 minggu (Gambar 41).

Gambar 41. Gambaran histologis gigi molar tikus Wistar setelah pengamatan 4 minggu dengan menggunakan bahan pasta ZOE-Karbonat apatit. Gambar A menunjukkan penilaian kontinuitas dentinal bridge dengan skor 1. Gambar B menunjukkan penilaian kontinuitas dentinal bridge dengan skor 2. Gambar C menunjukkan penilaian ketebalan dentinal bridge hasil pengukurannya adalah 885,70µm dengan skala bar 200µm dengan skor 1 . Gambar D menunjukkan penilaian ketebalan dentinal bridge hasil pengukurannya adalah 358,60µm dengan skala bar 200µm dengan skor 2. Gambar E menunjukkan tidak terdapat sel inflamasi dengan skor 1. Gambar F menunjukkan gambaran terdapat sel inflamasi ringan dengan adanya sel makrofag. Gambar I menunjukkan sel odontoblas. (D=Dentin, P=Pulpa, tanda panah merah=makrofag, tanda panah hitam =odontoblas, tanda panah biru=odontoblas like cells).

A B C

BAB 5 PEMBAHASAN

Penelitian tentang apakah pasta ZOE-Karbonat apatit dapat membentuk dentinal bridge pada gigi molar tikus Wistar setelah dilakukan direct pulp capping. Dalam penelitian ini, digunakan tikus Wistar sebagai hewan coba. Spesies ini telah berguna dalam penelitian kedokteran gigi untuk menjelaskan informasi biologi untuk membuktikan pengertian dari mekanisme dasar proses penyakit, untuk eksperimen secara klinik dan epidemologi yang dimaksudkan untuk memberikan informasi yang dapat diaplikasikan secara langsung pada manusia.48 Penelitian ini menerapkan prinsip etik 3R yaitu : Replacement adalah keperluan memanfaatkan hewan percobaan sudah di perhitungkan secara seksama, dari pengalaman terdahulu maupun literatur. Reduction adalah pemanfaatan hewan dalam penelitian sesedikit mungkin, tetapi tetap mendapatkan hasil yang optimal. Refinment adalah memperlakukan hewan coba secara manusiawi. 48

Penelitian ini dilakukan dengan melakukan perforasi pulpa gigi molar tikus karena secara histologis dan fisiologis jaringan gigi molar tikus sangat mirip dengan gigi molar manusia, juga bentuk, fungsi, dan perkembangan gigi-giginya.49Kesulitan menggunakan gigi tikus sebagai hewan coba adalah letak gigi molar tikus yang terlalu jauh kebelakang dan ukuran gigi yang kecil sehingga menyulitkan akses preparasi gigi dan pengaplikasian bahan coba. Disamping itu, tingkat stress pada tikus yang cukup besar sehingga rahang tikus tidak dapat dibuka terlalu lama, dan bila terlalu lama tikus dapat mati.

Daerah iritasi mengandung komponen-komponen: sel plasma, limfosit, makrofag dan lain-lain. Makrofag adalah mononuklear yang memegang peranan penting sebagai fagositir imunogen pada proses keradangan, sedangkan pada proses pemulihan jaringan fungsinya juga diperlukan untuk merangsang fibroblas.Sel makrofag muncul pada 48-96 jam setelah injuri dan mencapai puncak pada hari ke-3 setelah injuri.36

Sel-sel seperti leukosit PMN, makrofag, limfosit, sel-sel plasma, dan sel-sel mast dalam pulpa yang terinflamasi menunjukkan reaksi imunologis ikut berpartisipasi dalam mengatur patogenesis pulpa. Dalam perbaikan jaringan luka, fibroblas dan makrofag mulai me-remodelling daerah sekitar luka, menurunkan kadar protein yang membentuk matriks gumpalan darah dan menggantinya dengan sebuah matriks menyerupai seperti jaringan disekitarnya. Pada dentinogenesis tersier, matriks yang banyak mengandung fibronektin dapat menjadi reservoir dari faktor pertumbuhan, dimana telah diketahui sebagai molekul yang memberikan sinyal untuk terjadinya diferensiasi sel odontoblas yang baru.36,37

Berdasarkan penelitian Ardo Sabir dkk yang meneliti respon inflamasi pada jaringan pulpa setelah dilakukan pulp capping dengan bahan EPP (Ekstrak Etanol Propolis) mengatakan bahwa pada hari ke-14 setelah perlakuan, jumlah infiltrasi sel inflamasi semakin sedikit dibanding hari-hari sebelumnya dan memberikan gambaran jaringan pulpa yang normal. Hal ini mengindikasikan bahwa sel imun berhasil menghilangkan iritan dan debris seluler sehingga inflamasi tidak berlanjut. Selain itu, kompleks dentin pulpa memiliki mekanisme perlindungan diri dalam membatasi penetrasi bahan-bahan yang membahayakan pulpa. Ion kalsium, fosfat dan cairan yang terdapat dalam tubulus dentin.52 Hal ini sesuai dengan hasil penelitian pada tabel 1,2,3 yang menunjukkan bahwa pada masing-masing kelompok perlakuan setelah 4 minggu sudah sedikit memiliki sel-sel inflamasi, bahkan sampai tidak terlihat lagi sel inflamasi, dari 30 sampel yang diamati terdapat 19 sampel atau sebesar 63,3% tidak ada sel inflamasi lagi, dan paling banyak sampel yang tidak terdapat sel inflamasi lagi adalah kelompok dengan menggunakan pasta ZOE-Karbonat apatit dan yang paling banyak terdapat sel inflamasi adalah kelompok kontrol negatif. Perbedaan sel inflamasi yang terbentuk dapat terjadi karena perbedaan bahan direct pulp capping yang diberikan selama penelitian.

Berdasarkan penelitian Glass dkk, dikatakan bahwa ZOE dalam perawatan direct pulp capping dapat menghasilkan kronis, inflamasi, kurangnya penghalang kalsifikasi dan hasil akhirnya dapat mengalami nekrosis.28 Hal ini sesuai dengan hasil penelitian dimana masih ada 70% dari sampel penelitian yang menggunakan pasta ZOE

(kontrol negatif) sebagai bahan direct pulp capping masih memiliki sel-sel inflamasi dimana pada bahan yang lainnya sudah sangat sedikit yang memiliki sel-sel inflamasi.

Sampel kontrol negatif 50% masih memiliki inflamasi kronis, dan 20% juga masih memiliki inflamasi kronis dan akut yang seharusnya pada pengamatan 4 minggu sudah tidak ditemukan lagi adanya sel inflamasi akut.

Berdasarkan penelitian Muslimatul dan Sari yang menggunakan karbonat apatit dalam pembentukan tulang, penelitian tersebut pada minggu kedua telah terjadi proses infiltrasi sel netrofil dan limfosit sebesar 80-90% serta pembentukan jaringan tulang imatur sebesar 10%. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Park et al yang menyatakan bahwa pada minggu kedua terjadi infiltrasi sel-sel neutrophil dan limfosit dan terbentuk jaringan ikat longgar dan juga selaras dengan penelitian Jae et al yang menggunakan perlakuan hidroksiapatit dan chitosan fibroin dan melaporkan bahwa pembentukan tulang imatur (woven bone) pada minggu kedua.53 Hal ini menunjukkan bahwa karbonat apatit dapat mengurangi sel-sel inflamasi dalam pembentukan tulang dan dapat juga dapat mengurangi sel-sel inflamasi dalam pembentukan dentinal bridge.

Sesuai dengan tabel 1,2,3 yang menunjukkan bahwa 90% sampel yang menggunakan pasta ZOE-Karbonat apatit sudah tidak memiliki sel inflamasi lagi dan juga tidak ada perluasan sel inflamasi ke pulpa, hal tersebut sama dengan penelitian Muslimatul bahwa karbonat apatit memiliki kemampuan untuk mengurangi sel-sel yang terinflamasi karena karbonat apatit bersifat basa.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nair dkk (2008) menunjukkan perawatan pulp capping menggunakan MTA tidak ada inflamasi pada minggu pertama dan pembentukan jaringan keras secara sempurna pada satu bulan. Pada perawatan pulp capping menggunakan Kalsium Hidroksida menunjukkan kurangnya konsisten pembentukan jaringan keras, tidak terbentuknya jembatan kalsifikasi secara sempurna dan adanya inflamasi pulpa akut meski telah dilakukan selama tiga bulan.54 Pada penelitian ini, hasil yang sama didapatkan juga pada tabel 6 dimana pada bahan yang menggunakan pasta Ca(OH)2pada minggu keempat setelah pengamatan terdapat 70%

yang sudah terbentuk dentinal bridge yang sempurna yang telah menutup daerah

terekposur, sedangkan 30% lainnya sudah terbentuk dentinal bridge lebih dari setengah menutup daerah terekposur.

Karbonat apatit merupakan biomaterial yang termasuk kelompok biokeramik yang sering digunakan dalam bidang kedokteran, khususnya bidang ortopedi karena memiliki kemampuan untuk berikatan dengan struktur tulang dan dapat menstimulasi pembentukan jaringan keras. Kandungan karbonat apatit yaitu kalsium dan fosfat.50

Berdasarkan penelitian Yuliana dkk yang meneliti tentang ekstrak Stolephorus Sp yang mengandung ion kalsium terbukti dapat menurunkan permeabilitas kapiler yang akan mengurangi produksi cairan intraseluler dan meningkatkan konsentrasi pada area yang sedang mengalami mineralisasi seperti pada saat pembentukan dentin reparatif.

Fosfat merupakan unsur yang penting dalam membantu proses metabolisme sel suatu organisme. Mekanisme kerja kalsium fosfat yaitu menstimulasi diferensiasi stem cell.

Stem cell yang terdiferensiasi akan menjadi odontoblas ataupun odontoblas-like cells yang berfungsi meningkatkan regenerasi dentin sehingga menghasilkan dentin reparatif.

Jika injuri terjadi menyebabkan kematian sel odontoblas like cells akan membentuk dentin reparatif pada daerah yang dekat dengan injuri untuk melindungi jaringan pulpa.

Hasil kerja kalsium fosfat adalah dengan menstimulasi pembentukan dentin reparatif tanpa adanya jaringan nekrotik bila diaplikasikan pada pulpa terbuka. Hasil dari aktivitas odontoblas adalah terbentuknya predentin. Predentin terletak berdekatan dengan jaringan pulpa dan lebarnya sekitar 2-6µm. Lebar ini tergantung pada odontoblas. Predentin merupakan pembentukan awal dari dentin dan predentin tidak teremineralisasi.51Hal tersebut sama dengan penelitian ini, pada tabel 8 bahwa sampel yang menggunakan pasta ZOE-Karbonat apatit 70% sudah terbentuk dentinal bridge dengan ketebalan >0,25mm, dan 30% lainnya sudah terbentuk dentinal bridge dengan ketebalan antara 0,1-0,25mm. Hal ini dapat terjadi karena kandungan dari karbonat apatit yang juga mengandung kalsium dan fosfat yang dapat merangsang pembentukan dentinal bridge. Perbedaan ketebalan dentinal bridge antar sampel dapat terjadi karena konsistensi dan jumlah pasta yang diberikan tiap perlakuan tidak sama.

Berdasarkan penelitian Fina dan Ema yang meneliti tentang keberhasilan pasta kalsium hidroksida dalam pembentukan dentinal bridge yang menunjukkan dari 38

pasien yang dirawat, 34 pasien menunjukkan hasil yang baik, dan mengatakan kalsium hidroksida merangsang terbentuknya dentin tersier oleh pulpa dan secara klinis dibuktikan bahwa kesuksesan kalsium hidroksida dalam perawatan pulp capping sebesar 80%. 55 Hal tersebut juga sama dengan penelitian ini pada tabel 5 diperlihatkan bahwa pasta kalsium hidroksida memang dapat merangsang pembentukan dentinal bridge mencapai 70%.

Berdasarkan penelitian Yoichiro dkk yang meneliti tentang keberhasilan kalsium hidroksida yang mampu membentuk jaringan keras dentin pada pulpa molar tikus mengatakan bahwa terbentuknya dentinal bridge pada pulpa yang terbuka itu dan mulai terbentuknya inisiasinya itu pada 2 minggu bahkan lebih. Penelitian ini menilai penggunaan kalsium hidroksida yang dicampur dengan eugenol sebagai bahan pulp capping dimana tidak terlihat pembentukan dentinal bridge diobservasi selama 2 minggu.56 Hal ini berbeda dengan penelitian ini dimana pada tabel 5, kalsium hidroksida sudah terbentuk dentinal bridge yang sempurna yang menutup daerah yang terekposur sebanyak 70%, dan sedangkan kelompok kontrol negatif hanyalah 30%. Hal ini sesuai dengan penelitian Yoichiro yang mengatakan bahwa eugenol sebagai bahan pulp capping tidak terlalu dapat membentuk dentinal bridge sama seperti yang dihasilkan oleh kalsium hidroksida murni. Terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara pembentukan dentinal bridge bahan kalsium hidroksida dengan kontrol negatif.

Berdasarkan penelitian Toyushuki dkk, yang membandingkan keberhasilan posphoryn dan kalsium hidroksida sebagai bahan direct pulp capping. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa dentinal bridge mulai terbentuk pada masing-masing bahan coba sekitar 2-3 minggu. 57 Hal ini sesuai dengan hasil penelitian ini, yang menunjukkan bahwa pada masing-masing sudah terbentuknya dentinal bridge pada pengamatan 4 minggu yang hampir sempurna dan telah terdapat 63,3% pembentukan dentinal bridge yang sempurna yang telah menutup seluruh daerah terekposur dengan sempurna.

Berdasarkan hasil penelitian didaptkan bahwa dengan kontrol negatif didapatkan mampu menginduksi terbentuknya dentinal bridge dengan kontinuitas yang sudah terbentuknya inisiasi dentinal bridge di daerah yang tereksposur sebanyak 30%, hal ini dapat saja terjadi karena setelah terdapat jejas mekanis pada atap pulpa, respon

pertahanan tubuh juga akan menginduksi adanya pembentukan dentinal bridge yang dimulai adanya reaksi sel inflamasi yang dapat mengiritasi pulpa dan kemudian akan terbentuk barrier yang lama kelamaan menjadi dentinal bridge tetapi memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan medikamen direct pulp capping lainnya.45 Berdasarkan penelitian Decup, et al. dan Andelin, et al menemukan bahwa dentinal bridge terbentuk pada hari ke-30 setelah dilakukannya direct pulp capping pada molar satu maksila.56 Dalam penelitian Frozoni et al menganalisis kemungkinan terjadinya reparatif dentinogenesis pada tikus transgenik setelah dilakukannya direct pulp capping dengan menggunakan bahan MTA dan juga dengan bahan tumpat light cured menunjukkan bahwa dentinal bridge terbentuk setelah dalam 4 minggu pengamatan. Beberapa peneliti lain mengatakan bahwa kecepatan pembentukan dentinal bridge adalah 3,5mm/hari untuk tiga minggu pertama setelah terjadinya inisiasi pembentukan dentinal bridge akan berhenti pada hari ke 132 hari post-operatif.57 Pada tabel 6,7,8 dikatakan bahwa dentinal bridge sudah terbentuk sempurna pada 63,3% dari total keseluruhan sampel tetapi belum ada sampel yang memiliki morfologi dentinal bridge yang baik yang telah disertai dengan pembentukan tubulus-tubulus dentin. Dan pada tabel 8 untuk ketebalan dentinal bridge ada 46,7% sampel yang memiliki ketebalan dentinal bridge >0,25mm, tetapi tidak diketahui kecepatan pembentukan dentinal bridge karena dalam penelitian ini tidak diamati kecepatannya per minggu.

Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa hipotesis adanya perbedaan yang signifikan antara pasta ZOE-Karbonat apatit dengan kontrol negatif dengan penilaian kontinuitas, morfologi, ketebalan dentinal bridge, tipe, intensitas, dan perluasan inflamasi, tetapi tidak ada perbedaan yang bermakna secara statistik pasta ZOE-Karbonat apatit dengan kontrol positif. Hal tersebut dapat saja terjadi karena kandungan yang berbeda pada masing-masing bahan direct pulp capping yang digunakan dan jumlah sampel yang digunakan selama penelitian. Hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pasta ZOE-Karbonat apatit dapat menginduksi pembentukan dentinal bridge.

BAB 6