BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Struktur Fisik
2.4.5 Bahasa Figuratif (Majas)
۲
/maqādīr...maqādīr..yā qalbiy l’nā maqādīr/
ꞌtakdir..takdir..Wahai hatiku yang sakitꞌ
ريداقم ۰۰ ريداقم انآ يبنذ شو
/maqādīr wisy żanbi anā maqādīrun/
ꞌtakdir..apa dosaku takdirꞌ
Dalam lagu
ريد اقم
/ maqādīr / pada baris pertama yang berbunyiانعلا يبلق ايريد اقم
/maqādīr yā qalbī al’anā/ 'takdir', wahai hatiku yang sakit', kata hati pada ungkapan tersebut bukanlah dimaksudkan hati sebagai organ dalam tubuh manusia, tetapi secara konotasi bermakna 'perasaan yang sangat kecewa'.
2.4.5 Bahasa Figuratif (Majas)
Secara leksikal bahasa figuratif dapat diartikan sebagai bahasa yang bersifat kiasan atau bahasa lambang. Bahasa figuratif adalah bahasa yang melambangkan cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk pikiran atau lisan (http://garuda.ristekbrin.go.id/author/view/336821).
Perrine dalam Siswanto (2008:120) mengatakan bahwa bahasa figuratif dipandang lebih efektif untuk menyatakan apa yang dimaksud penyair karena:
1. Bahasa figuratif mampu menghasilkan kesenangan imajinatif
14
2. Bahasa figuratif adalah cara untuk menghasilkan imaji tambahan dalam puisi sehingga yang abstrak jadi konkret dan menjadikan puisi lebih nikmat dibaca.
3. Bahasa figuratif adalah cara menambah intensitas perasaan penyair untuk puisinya dan menyampaikan sikap penyair
4. Bahasa figuratif adalah cara untuk mengonsentransikan makna yang hendak disampaikan.
Menurut Siswanto (2008:121), ada beberapa majas yang lain, yaitu simile, metafora, personifikasi, hiperbola, litotes, ironi, metonmia, sinekdoke, eufimisme, repitisi, anafora, pleonasme, anititesis, alusi, klimaks, dan antiklimaks. Siswanto tidak memberikan rincian-rincian bahagian-bahagian dari majas. Maka peneliti mengambil rincian-rincian majas yang diungkapkan oleh Waluyo (1995: 84), beliau mengatakan bahwa jenis majas meliputi:
2.4.5.1 Simile
Simile adalah bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal yang lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, bak, semisal, seumpama, laksana, dan kata-kata pembanding lainnya.
Adapun contoh bahasa figuratif (majas) dilihat dari web (Ponpes Makrifah.2012.Ilmu Bayan.https//ponpesmakrifah.wordpress.com/2012/10/25/ilm u-bayan/). (diakses tanggal 2 januari 2021) :
Contoh:
ةيادهلا يفرونلاك ملعلا
/al'ilmu kāalnūri fī alhidīyati/
'Ilmu itu bagaikan cahaya hidayahNya' Ungkapan tersebut menyamakan "ilmu" dengan "cahaya Allah". Ilmu adalah usaha-usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia dan yang dimaksud dengan cahaya Allah adalah petunjukNya kepada orang mukmin. Jadi jika cahaya Allah adalah petunjuk, maka sifat ilmu juga begitu.
2.4.5.2 Metafora
15
Metafora adalah bahasa kiasan seperti perbandingan, hanya tidak menggunakan kata-kata pembanding seperti bagai, laksana dan sebagainya.
Metafora melihat sesuatu dengan perantaraan benda yan lain. Metafora ini menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan yang lain yang sesungguhnya tidak sama.
Contoh:
بائذلا دئاوم نم لدعلا زبخ ذحشي
/yasyhażu khubza al 'adli min mawāidi aż żiābi/
'Dia mengemis roti-roti keadilan dari meja-meja makan para serigala' Bait di atas mengandung gaya bahasa kiasan berbentuk metafora. Maksud dari kata 'serigala' pada bait di atas adalah orang-orang yang licik. Penyair menggunakan kata roti-roti untuk mengumpamakan jatah keadilan kepada para penguasa dan penyair memakai kata serigala untuk menggantikan definisi orang-orang yang licik karena mempresentasikan hal yang sama yakni kelicikan atau kejahatan.
2.4.5.3 Personifikasi
Personifikasi adalah kiasan ini mempersamakan benda dengan manusia.
Benda-benda mati dibuat dapat berbuat, berpikir dan sebagainya. Seperti halnya manusia dan banyak dipergunakan penyair dulu sampai sekarang.
Contoh:
سعسع اذا ليلاو
/wa allaili izā 'as'asu/
'Dan malam apabila hampir meninggalkan gelapnya' Pada ayat tersebut kata 'malam' dikatakan meninggalkan gelap, padahal bumi berputar pada porosnya sehingga sebagian permukaan bumi terhalangi untuk memperoleh cahaya matahari. Sesungguhnya malam bukan benda hidup yang dapat meninggalkan segala sesuatu.
2.4.5.4 Hiperbola
16
Hiperbola adalah kiasan yang berlebih-lebihan. Penyair merasa perlu melebih-lebihkan hal yang dibandingkan itu agar mendapat perhatian yang lebih seksama dari pembaca.
Contoh:
كيل كلم انأ كيل
līka anā milki līka / /
'Hanya padamu, diri ini hanya untukku'
كيل وجاتحم ينمض برق ىلاعت
/ta'alā qarraba ḍumminī maḥtājahu līka/
'Datanglah mendekat, air mataku mengalir, mengharapkanmu' Artinya air mata akan terus mengalir jika tidak ada sang kekasih di sisi seseorang tersebut. Padahal yang dapat mengontrol keluar atau tidaknya air mata adalah masing-masing individu. Maka kalimat yang tersebut di atas termasuk majas hiperbola.
كيف يحورو كيل
/līka wurūḥī fīka/
'hanya padamu dan jiwaku padamu'
كيل وشيعم ولك يرمع انأ يرمع بح اي
/yā ḥubba 'umrī anā 'umri kulluhu ma'īsyuhu līka/
'wahai kasihku, usiaku, seluruh hidupku untukmu' Artinya ungkapan syair tersebut mengungkapkan bahwa seseorang menyerahkan seluruh jiwa, usia dan hidupnya pada sang kekasih. Namun pada hakikatnya setiap individu adalah orang yang bertanggung jawab atas jiwa yang melekat pada dirinya, pun kehidupan harus dijalani oleh masing-masing individu dengan tidak menyerahkan kehidupan sepenuhnya dengan orang lain. Maka ungkapan tersebut merupakan majas hiperbola, karena jiwa seseorang tidak bisa digantungkan kepada orang lain.
2.4.5.5 Sinekdoke
Sinekdoke adalah bahasa kiasan yang menyebutkan sesuatu bagian yang penting suatu benda (hal) untuk benda atau hal itu sendiri.
17 Contoh:
ملاع اي
/yā 'ālam/
'wahai dunia'
ةقورحم ىضرأ
/arḍi maḥrūqatun/
'tanahku habis terbakar'
وقورسم ويرح ىضزأ
/arḍi ḥurriyyah masrūqah/
'tanahku dicuri kebebasannya'
Ungkapan lirik lagu di atas adalah kalimat kiasan untuk mengatakan kepada orang-orang di dunia, bahwa negara mereka sedang dijajah, sehingga tidak ada kebebasan dan kenyamanan beraktifitas bagi mereka.
2.4.5.6 Alegori
Alegori adalah cerita kiasan ataupun lukisan kiasan. Cerita kiasan atau lukisan kiasan ini mengkiaskan hal lain atau kejadian lain.
Contoh:
ارندقوتسا ىذلا لثمك مهلثم لا تملظ يف مهكرتو مىرونب للها بىذ ولوحام تءآاضا آملف
جارنورصبي
/maśaluhum kamaśali allażīstauqadanārā falammā aḍā'at māḥawlahu żahaba allahu binūrihim watarakahum fī ẓulumātin lāyubsirūna/
Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
Ungkapan di atas menggambarkan bagaimana kiasan dan gambaran orang-orang munafik.
2.4.5.7 Litotes
Litotes adalah ungkapan berupa mengecilkan fakta dengan tujuan merendahkan diri.
Contoh:
Gaji saya sebagai dosen hanya untuk makan saja.
18
Ungkapan di atas bermaksud merendahkan diri penuturnya, dengan mengecilkan fakta bahwa gaji dosen sekarang ini cukup besar sehingga tidak mungkin hanya untuk makan saja.
2.4.5.8 Metonimia
Metonimia adalah bentuk pengungkapan berupa penggunaan nama bentuk benda lain yang menjadi merk, ciri khas atau yang menjadi atribut.
Contoh:
Ayah dan Ibu naik Lion Air ke Mekkah
Lion Air merupakan nama dari salah sati maskapai penerbangan. Dengan menyebut merk ini, bisa dipahami bahwa yang dimaksudkan adalah pesawat.
2.4.5.9 Eufimisme
Eufemisme adalah kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.
Contoh:
Ratusan mahasiswa diamankan ke kantor polisi tanpa alasan yang jelas.
Kata 'diamankan' yang dimaksud dalam kalimat di atas adalah 'ditangkap'. Kata tersebut digunakan sebagai ungkapan pelembut untuk menghindari kata-kata kasar.
2.4.5.10 Pleonasme
Pleonasme adalah menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Contoh:
Para pendemo itu mundur ke belakang untuk menghindari gas air mata.
Pada kalimat tersebut kata 'ke belakang' tidak perlu disebutkan lagi, karena kata
"mundur" sudah berarti ke belakang.
2.4.5.11 Repitisi
19
Repitisi adalah perulangan kata, frase, dan klausa yang sama dengan suatu kalimat atau wacana.
Contoh:
Dikala senang ataupun susah, sebaiknya kita sebagai seorang hamba harus senantiasa bersyukur dan bersyukur kepada Tuhan, karena semua ini hanya bersifat sementara.
Pada kalimat tersebut, majas repitisi ditunjukkan dalam penggalan kalimat 'senantiasa bersyukur dan senantiasa bersyukur'. Pengulangan kata ini mempunyai fungsi sebagai penegasan makna. Selain itu, pengulangan kata pada kalimat juga menambahkan suatu kesan estetika di dalamnya.
2.4.5.12 Klimaks
Klimaks adalah pemaparan pikiran atau hal berturut-turut dari yang sederhana dan kurang penting meningkat kepada hal atau gagasan yang penting atau kompleks.
Contoh:
Sidang skripsi tertutup hanya dihadiri oleh peserta sidang, penguji, dan ketua sidang.
Kalimat di atas runtun memuncak pada jabatan orang-orang yang menghadiri sidang skripsi, mulai yang terendah hingga tertinggi, ditunjukkan pada penggalan kalimat "peserta sidang, penguji, dan ketua sidang."
2.4.5.13 Antiklimaks
Antiklimaks adalah pemaparan hal atau gagasan yang penting atau kompleks menurun kepada pikiran atau hal sederhana dan kurang penting.
Contoh:
Dari pemerintah hingga rakyat jelata harus saling bahu membahu dalam melestarikan lingkungan.
20
Kalimat di atas runtun menurun pada tingkat eselon masyarakat tertinggi hingga yang terendah, ditunjukkan pada kalimat " pemerintah hingga rakyat jelata".
2.4.5.14 Ironi
Ironi adalah sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengtakan kebalikan dari fakta tersebut.
Contoh:
Kota Jakarta adalah kota yang sangat aman. Setiap hari selalu ada kasus
Maksud kalimat tersebut ialah "Kota Jakarta tidak aman, karena selalu ada pencurian". Kalimat tersebut menyindir kota Jakarta sebagai kota yang aman.
Padahal, faktanya banyak pencurian terjadi sehingga menjadi tidak aman.
2.4.5.15 Anafora
Anafora adalah majas yang berisi pengulangan kata atau frasa dalam satu kalimat, dimana kata yang diulang tersebut adalah kata di awal kalimat yang diulang atau ditulis kembali di tengah kalimat dan di akhir kalimat.
Contoh:
Sedekahlah karena akan membuatmu kaya, sedekahlah karena merupakan obat hati, sedekahlah karen penolong sesama.
Kalimat tersebut memuat majas anafora yang ditunjukkan pada penggalan kalimat 'sedekahlah'. Pengulangan tersebut dimaksudkan untuk menegaskan maksud dan tujuan dari kalimat.
2.4.5.16 Antitesis
Anititesis merupakan jenis bahasa kiasan yang mengadakan komparasi, perbandingan antar lawan kata atau antonim.
Contoh:
Aku merasa kesepian di tengah-tengah keramaian ini.
21
Kalimat tersebut menunjukkan pertentangan dengan fakta. Karena sesungguhnya 'sepi' adalah keadaan tidak ada orang di sekitar, sedangkan kalimat tersebut menyatakan bahwa seseorang berada dalam keramaian.
2.4.5.17 Alusio
Majas alusio adalah gaya bahasa yang menggunakan sesuatu untuk menyatakan sesuatu yang lain melelui kesamaan antar manusia, peristiwa, atau tempat yang sudah diketahui orang banyak, biasanya dalam lagenda, pribahasa, atau sampiran yang sudah lazim diketahui dan digunakan masyarakat.
Contoh:
Semangat sekolah Laskar Pelangi aku temui pada anak-anak perbatasan.
Kalimat tersebut termasuk majas alusio. Bahwa penutur kalimat tersebut memiliki anggapan lawan bicara memahami 'Laskar Pelangi'. Maksud penutur ialah ingin mengungkapkan rasa kagumnyaa terhadap semangat belajar anak-anak perbatasan. Tindakan tersebut hampir sama dengan film dan novel 'Laskar Pelangi'.