Bab V Akad Jual Beli: Murabahah,
D. Bai’ Al-Istishna’
atau ditimbang secara jelas dan spesifik. Dengan demiki-an juga penetapdemiki-an harga beli sdemiki-angat bergdemiki-antung kepada keputusan si tengkulak yang sering kali secara dominan menekan posisi petani yang posisinya lebih lemah.
Oleh karena itu untuk dapat melihat perbedaan secara jelas, maka perlu dikemukakan bahwa transaksi ba’i salam mengharuskan adanya dua hal sebagai berikut:
1) Pengukuran dan spesifikasi yang jelas. Hal ini tercermin dalam hadis Rasululllah Saw.
yang diriwayatkan Ibnu Abbas, ” Barang siapa melakukan transaksi salaf (salam), hendaklah ia melakukan dengan takaran yang jelas, timbangan yang jelas, untuk jangka waktu yang jelas pula.”
2) Adanya keridhaan yang utuh antara kedua belah pihak. Hal ini terutama dalam menyepakati harga.27
barang menerima pesanan dari pembeli. Pembuat barang lalu berusaha melalui orang lain untuk membuat atau membeli barang menurut spesifikasi yang telah disepakati dan menjualnya kepada pembeli akhir. Kedua belah pihak bersepakat atas harga serta sistem pembayaran: apakah pembayaran dilakukan dimuka, melalui cicilan atau di-tangguhkan sampai suatu waktu pada masa yang akan datang.28
Menurut jumhur fuqaha, bai’ al-istisna’ merupakan suatu jenis khusus dari akad bai’ al-salam. Biasanya, jenis ini dipergunakan di bidang manufaktur. Dengan demikian, ketentuan bai’ al-istishna’ mengikuti ketentuan dan aturan akad bai’ al-salam. Dalam literatur fiqh klasik, masalah istishna’ mulai mencuat setelah menjadi bahan bahasan mazhab Hanafi seperti yang dikemukakan dalam majal-lat al-ahkam al-adiya. Akademi fiqh Islami pun menjadikan masalah ini sebagai salah satu bahasan khusus. Karena itu, kajian akad bai’ al-istishna’ ini didasarkan pada ketentuan yang dikembangkan oleh fuqaha Hanafi, dan perkemban-gan fiqh selanjutnya dilakukan fuqaha kontemporer.29
Dalam fiqh mu’amalah bentuk jual beli pesanan terba-gi dua, yaitu bai’ al-salam dan bai’ al-istishna’.Bai’ al-salam adalah jual beli pesanan dengan dengan syarat harga ba-rang dibayar terlebih dahulu (bayar dimuka) sedangkan barangnya diserahkan dikemudian. Sedangkan bai’ al-istih-sna’ adalah jual beli pesanan khusus, dengan persyaratan yang lebih spesifik dari salam dan persyaratan tidak umum (jarang dikenal). Selain itu, bai’ al-istishna’ disebut juga berproduksi, yaitu apabila ada seseorang memproduksi
28bu Bakar Ibn Mas’ud al-Kasani , al-Bada’i was-Sana’i fi Tartib al-Shara’i (Beirut: Darul kitab al-Arabi), h. 113.
29Ibid., hal. 114.
suatu barang, seperti mobil, pesawat atau apa saja yang termasuk dalam kategori produksi.
2. Dasar Hukum Bai’ al-Istishna’
Hukum transaksi bai’ istishna’ terdapat dalam al-Qur’an dan al-Hadits.
a. Al-Qur’an
ابِّرلا َمَّرَحَو َعْيَبْلا َُّللا َّلَحَأَو
‘Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.’(Qs. Al Baqarah: 275)
Berdasarkan ayat ini dan lainnya para ulama’ menya-takan bahwa hukum asal setiap perniagaan adalah halal, kecuali yang nyata-nyata diharamkan dalam dalil yang kuat dan shahih.
b. Al-Hadits
َبُتْكَي ْنَأ َداَرَأ َناَك ص َِّللا َّىِبَن َّنَأ هنع للا يضر ٍسَنَأ ْنَع .ٌمِتاَخ ِهْيَلَع اًباَتِك َّلاِإ َنوُلَبْقَي َلا َمَجَعْلا َّنِإ ُهَل َليِقَف ِمَجَعْلا ىَلِإ .ِهِدَي ىِف ِه ِضاَيَب ىَلِإ ُرُظْنَأ ىِّنَأَك:َلاَق.ٍة َّضِف ْنِم اًمَتاَخ َعَنَط ْصاَف ملسم هاور
Artinya: “Dari Anas RA bahwa Nabi Saw. hendak menu-liskan surat kepada raja non-Arab, lalu dikabarkan kepada beliau bahwa raja-raja non-Arab tidak sudi menerima su-rat yang tidak distempel. Maka beliau pun memesan agar ia dibuatkan cincin stempel dari bahan perak. Anas mengi-sahkan: Seakan-akan sekarang ini aku dapat menyaksikan kemilau putih di tangan beliau.” (HR. Muslim)
Berdasarkan hadits ini, maka tindakan Rasul yang memesan stempel cincin ini menjadi bukti nyata bahwa akad istishna’ adalah akad yang dibolehkan.
Mengingat bai’ al-Istishna’ merupakan lanjutan dari bai’ al-salam, maka secara umum dasar hukum yang ber-laku pada bai’al-salam juga berber-laku pada bai’ al-Istishna’.
Sungguhpun demikian para ulama membahas lebih lan-jut “keabsahan” bai’ al-istishna’ dengan penjelasan berikut ini.
Menurut mazhab Hanafi, bai’ al-istishna’ termasuk akad yang dilarang karena bertentangan dengan seman-gat jual beli secara qiyas. Mereka mendasarkan kepada argumentasi bahwa pokok kontrak penjual harus ada dan dimiliki oleh penjual, Sedangkan dalam istishna’, pokok kontrak itu belum ada atau tidak di miliki penjual.
Meskipun demikian, mazhab Hanafi menyetujui kontrak bai’ al-istishna’ atas dasar istihsan karena alasan-alasan ber-ikut ini:
1) Masyarakat telah mempraktekkan bai’ al-istishna’
secara luas dan terus menerus tanpa ada keberatan sama sekali. Hal demikian menjadikan bai’ al-istishna sebagai kasus ijma’ atau konsensus umum.
2) Dalam konsep hukum Islam dimungkinkan adanya
“penyimpangan” terhadap qiyas berdasarkan ijma’
ulama.
3) Keberadaan bai’ al-istishna’ didasarkan atas kebutuhan masyarakat. Banyak orang seringkali memerlukan barang yang tidak tersedia di pasar sehingga mereka cenderung untuk melakukan kontrak agar orang lain membuatkan barang untuk mereka.
4) Bai’ al-istishna’ sesuai dengan aturan umum mengenai kebolehan kontrak selama tidak bertentangan dengan nash atau aturan syariah.
5) Sebagian fuqaha kontemporer berpendapat bahwa bai’ al-istishna’ adalah sah atas dasar qiyas dan aturan umum syariah karena itu memang jual beli biasa dan si penjual akan mampu mengadakan barang tersebut pada saat penyerahan. Demikian juga terjadinya kemungkinan perselisihan atas jenis dan kualitas suatu barang dapat diminimalkan dengan pencantuman spesifikasi dan ukuran-ukuran serta bahan material pembuatan barang tersebut.30
2. Rukun dan Syarat Bai’ al-Istishna’
Pelaksanaan bai’ al-istishna’ harus memenuhi sejum-lah rukun berikut ini, yaitu:
a. Penjual/Pembuat b. Barang
c. Sighat
Di samping semua rukun tersebut harus terpenuhi, bai’ al-istishna’ juga mengharuskan tercukupinya segenap syarat pada masing-masing rukun. Di bawah ini akan di uraikan di antara dua rukun terpenting, yaitu modal dan barang.
Pertama, modal transaksi bai al-istishna’, dengan keten-tuan modal harus diketahui dan penerimaan pembayaran salam.
Kedua, barang (muslam fih), dengan beberapa keten-tuan antara lain, yaitu: (1) harus spesifik dan dapat diakui
30Zainuddin Ali, Hukum Perbankan Syariah (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), h. 32.
sebagai utang; (2) harus bisa diidentifikasi secara jelas penyerahan barang dilakukan di kemudian hari. Ulama mensyaratkan penyerahan barang harus ditunda pada suatu waktu kemudian, tetapi mazhab Syafi’i memboleh-kan penyerahannya segera, dan boleh menentumemboleh-kan waktu dan tempat untuk penyerahan barangdi masa yang akan datang.
Adapun ketentuan hukum Jual Beli al-istihna’dalamFATWA DSN MUI No. 06/DSN-MUI/
IV/2000 Tentang Jual Beli Istishna’ adalah sebagai beri-kut.31
Ketentuan tentang Pembayaran:
a. Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang, atau manfaat.
b. Pembayaran dilakukan sesuai dengan kesepakatan.
c. Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang.
Ketentuan tentang Barang:
1. Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang.
2. Harus dapat dijelaskan spesifikasinya.
3. Penyerahannya dilakukan kemudian.
4. Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan.
5. Pembeli (mustashni’) tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya.
31Majelis Ulama Indonesia, Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI (Jakarta: DSN-MUI, 2010), h. 35.
6. Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan.
7. Dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepakatan, pemesan memiliki hak khiyar (hak memilih) untuk melanjutkan atau membatalkan akad.
Sedangkan ketentuan lain sebagai berikut:
1. Dalam hal pesanan sudah dikerjakan sesuai dengan kesepakatan, hukumnya mengikat.
2. Semua ketentuan dalam jual beli salam yang tidak disebutkan di atas berlaku pula pada jual beli istishna’.
3. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya yang dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
3. Model Istishna’ Paralel
Dalam sebuah kontrak bai’ al-istishna’ bisa saja pem-beli menginzinkan pembuat menggunakan subkontraktor untuk melaksanakan kontrak tersebut. Dengan demikian, pembuat dapat membuat kontrak istishna’ kedua untuk memenuhi kewajibannya pada kontrak pertama. Kontrak baru ini dikenal sebagai istishna’paralel.
Ada beberapa konsekuensi saat bank Islam menggu-nakan kontrak istishna’ paralel sebagai berikut.32
a. Bank Islam sebagai pembuat pada kontrak pertama tetap merupakan satu-satunya pihak yang bertanggung
32Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik (Jakarta:
Gema Insani, 2001), hal 115
jawab terhadap pelaksanaan kewajibannya. Istishna’
paralel atau subkontraktor untuk sementara harus dianggap tidak ada. Dengan demikian, sebagai shani’
pada kontrak pertama, bank tetap bertanggung jawab atas setiap kesalahan, kelalaian atau pelanggaran kontrak yang berasal dari kontrak paralel.
b. Penerima subkontrak pembuatan pada istishna’
paralel bertanggung jawab terhadap bank Islam sebagai pemesan. Dia tidak mempunyai hubungan hukum secara langsung dengan nasabah pada kontrak pertama akad. Bai’ al-istishna’ kedua merupakan kontrak paralel, tetapi bukan merupakan bagian atau syarat untuk kontrak pertama. Dengan demikian, kedua kontrak tersebut tidak mempunyai kaitan hukum sama sekali.
c. Bank sebagai shani’ atau pihak yang siap untuk membuat atau mengadakan barang, bertanggung jawab kepada nasabah atas kesalahan pelaksanaan subkontraktor dan jaminan yang timbul darinya.
Kewajiban inilah yang membenarkan keabsahan istishna’ paralel, juga menjadi dasar bahwa bank boleh memungut keuntungan kalau ada.
Skema Bai’ al-Istihna dalam Lembaga Keuangan Syari’ah
BANK PENJUAL
PRODUSEN PEMBUAT NASABAH
KONSUMEN (PEMBELI)
Keterangan:
a. Nasabah memesan barang yang diinginkan ke bank
b. Bank dan produsen menegosiasi harga barang tersebut
c. Bank menyerahkan barangnya nasabah sesuai prosedur.
4. Perbandingan Antara Bai’ al-Salam dan Bai’ al-Is-tishna33
SUBJEK SALAM ISTISHNA ATURAN & KETERAN-GAN Pokok
kontrak Muslam
fiih Mashnu’ Barang ditangguhkan dengan spesifikasi
Harga Dibayar saat kon-trak
Bisa saat kontrak, bisa diang-sur, bisa kemudian hari
Cara penyelesaian pembayaran merupakan perbedaan utama antara salam dan istishna
Sifat Kontrak
Mengikut secara iku-tan (taba’i)
Salam mengikat semua pihak sejak semula, sedangkan istishna’
menjadi pengikat untuk melindungi produsen sehingga tidak diting-galkan begitu saja oleh konsumen secara tidak bertanggung jawab Kontrak
parallel Salam
paralel Istishna Paralel
Baik salam paralel mau-pun istishna’ paralel sah asalkan kedua kontrak secara hukum adalah terpisah
33Ibid.