• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembagian Harta

Dalam dokumen Muqaranah mazahib fi al-mua’amalah (Halaman 39-50)

Bab II Konsep Harta (Al-Mal) dalam Islam

E. Pembagian Harta

Ulama fiqh membagi harta menjadi beberapa bagian yang setiap bagiannya berdampak terhadap konsekuensi hukumnya. Berikut ini akan dijelaskan pembagian harta menurut para ulama, antara lain:

1. Harta berdasarkan pemanfaatannya, yaitu mal al-mutaqawwim wa mal ghairu al-al-mutaqawwim.11

a. Malal-mutaqawwim adalah harta yang halal dimanfaat kan, yakni segala sesuatu yang dapat dimiliki dan dibolehkan syara’ untuk memanfaatkannya, seperti segala macam benda yang halal, baik zat, sifat maupun cara mendapatkannya serta membawa kemashlahatan bagi umat Islam.

b. Mal ghairu al-mutaqawwim adalah harta yang tidak halal dimanfaatkan, yakni segala sesuatu yang tidak dapat dimiliki dan larangan syara’

untuk memanfaatkannya, seperti segala macam benda yang haram baik zat, sifat maupun cara

10Hendi Suhendi, Fiqih Mu’amalah(Bandung:Jati Press, 1997), h. 28-30.

11Masadi, Fiqih .., h. 20.

mendapatkannya serta membawa kemudharatan bagi umat Islam, seperti khamr, babi, darah dan bangkai.

Selanjutnya klasifikasi harta jenis ini mengakibatkan beberapa konsekuensi hukum yaitu:

1) Pada prinsipnya, umat Islam tidak diperkenankan menjadikan harta ghairu al-mutaqawwim sebagai obyek transaksi.12 Prinsip ini tentunya tidak berlaku secara mutlak. Artinya benda gairu al-mutaqqawwim bisa dijadikan sebagai obyek transaksi sepanjang terdapat indikasi yang kuat bahwa tujuan transaksi (maudu’ al-aqdi)tidak untuk hal-hal yang dilarang syara’. Misalnya transaksi jual beli anjing herder dibolehkan untuk tujuan menjaga keamanan.

Sedangkan transaksi anjing potong untuk tujuan konsumsi jelas bertentangan dengan syari’at Islam. Jadi transaksi jual beli anjing herder untuk keamanan tidak bertentangan dengan syari’at, sekalipun dilakukan terhadap hartagairu al-mutaqawwim.

2) Kerusakan atas harta ghairu al-mutaqawwim13tidak mengakibatkan menuntut ganti rugi. Dalam hal ini ulama mazhab Hanafiyah berpendapat bahwa syariat Islam melindungi hak atas pemilikan harta gairu al-mutaqqawwim bagi ahlu dzimmah, yaitu bagi seorang non muslim yang hidup dalam perintahan Islam. Bahkan barang-barang tersebut termasuk katagori mal al-mutaqawwim bagi mereka. Oleh karena itu, apabila seorang muslim merusak harta yang dimiliki seorang ahlu dzimmah, maka ia

12Hasan, Berbagai.., h. 61-63.

13Rachmat Syafei, Fiqih Mu’amalah (Bandung: Pustaka Setia 2001), h. 32-33.

berhak menuntut ganti rugi dengan barang yang serupa.14 Hal senada juga diungkapkan Imam Malik, bahwa siapa saja yang merusak harta al-mutaqawwim milik seorang ahlu dzimmah, maka ia wajib menggantinya baik yang merusaknya adalah seorang muslim atau dzimmi).15

2. Mal al-‘uqar dan Mal ghair al-uqar

Dari segi kemungkinan dapat dipindahkan, maka har-ta dibedakan menjadi dua:

a. mal-‘uqar (harta tidak bergerak atau harta tetap), yaitu harta benda yang tidak dapat dipindahkan dari tempat asalnya ke tempat lain seperti tanah dan rumah.

b. mal ghair al-’uqar (harta bergerak dan atau harta tidak tetap), yaitu harta benda yang dapat dipindahkan ke tempat semula ke tempat lain, seperti hewan dan perhiasan.

Pembedaan jenis harta seperti ini mengakibatkan be-berapa konsekuensi hukum, antara lain:

a) Hubungan ketetanggan terhadap mal al-‘uqar menimbulkan hak syu’fah, yakni hak ini proritas seorang tetangga dekat untuk pemilik berkehendak menjualnya kepada orang lain. Hak prioritas seperti ini tidak terdapat pada mal ghair al-’uqar.

b) Mal al-‘uqar dapat dijadikan sebagai obyek wakaf tanpa perselisihan dikalangan fuqaha. Sedangkan pada wakaf mal ghair al-‘uqar,makaulama Hanafiyah mensyaratkan bahwa sifatnya tidak

14Wahbah al-Zuhailiy,al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (Beirut: Dar al-Fikr, ), h. 45.

15Masadi, Fiqih.., h. 20.

dapat dipisahkan dari harta tidak bergerak.

Sementara menurut Jumhur semua jenis benda baik bergerak maupun benda tidak bergerak dapat dijadikan obyek wakaf.16

c) Orang yang diberi wasiat untuk memelihara harta anak kecil tidak dibenarkan menjual mal ghair al-‘uqarmilik anak kecil tersebut. Namun, ada pengecualian dalam keadaan yang amat mendesak, seperti membayar hutang anak kecil itu dengan ketentuan harus ada izin dari hakim. Sebaliknya untuk harta bergerak (mal al-‘uqar), maka dapat menjual harta tersebut untuk keperluan dan kepentingan anak itu sehari-hari, dan ini tidak memerlukan izin dari hakim.

d) Dalam transaksi jual belimal ghair al-‘uqar.

Menurut Abu Hanifah dan Abu Yusuf, pembeli harta tidak bergerak berhak menfaatkannya meskipun belum ada kekuasaan atasnya disebabkan belum dilakukan penyerahan atasnya.

Sedangkan menurut Imam Syafi’i pembeli tidak dibenarkan memanfaatkannya sebelum dilakukan penyerahan.Sedangkan jual-beli mal al-‘uqar, maka fuqaha sepakat pihak pembeli tidak berhak menfaatkan sebelum dilakukan penyerahan. Hal ini dikarenakan benda bergerak mudah mengalami kerusakan atau cacat yang dapat mempengaruhi keabsahan transaksi jual-beli tersebut.

e) Dalam kasus taflis atau pailit terhadap seorang muflis (orang yang secara hukum ditetapkan dalam kondisi pailit), maka dilakukan terlebih dahulu penjualan secara lelang terhadap mal al-uqar untuk

16al-Zuhaily,al-Fiqh..,juz 4, h. 48.

melunasi hutang-hutangnya, jika tidak mencukupi barukemudian menjual mal ghair al-‘uqar.

f) Haq irtifaq 17 hanya berlaku pada harta tidak bergerak.

3. Mal al-mitsliy dan Mal al-qimiy18

Dari aspek persamaan dan padanan harta sejenis di pasaran, maka harta diklasifikasikan menjadi mal al-mit-sliy, dan malal-qimiy.

a. Mal al-mitsliy adalah harta yang mempunyai persamaan atau padanan dengan tidak mempertimbangkan adanya perbedaan antara satu dengan lainnya ke dalam satuan jenisnya.

Biasanya mal-mitsliy berupa harta-benda yang dapat ditimbang, ditakar, diukur atau dihitung kuantitasnya. Kebanyakan komoditas barang jenis ini seperti buah-buahan,sayur-mayur, pakaian dan sebagainya.

b. Mal al-qimiy adalah harta yang tidak mempunyai persamaan dan padanannya, atau harta yang memiliki persamaan, namun terdapat perbedaan kualitasyang sangat diperhitungkan, seperti perhiasan, binatang piaran, naskah kuno, barang antik, dan lain sebagainya.19

Pembedaan ini menimbulkan beberapa konsekuensi hukum, antara lain:

a) Sistem jual beli barter atas mal al-qimiy tidak menimbulkan terjadinya riba fadhl,karena jenis

17Haq Irtifaq adalah untuk menfaatkan benda tidak bergerak milik orang lain untuk kepentingan harta tidak bergerak lainnya karena ada hubungan.

18Masadi, Fiqih.., h. 24-25.

19Masadi, Fiqih.., h. 24-25.

satuannya tidak sama. Tetapi jual beli barter terhadap mal al-mitsliy menjurus kepada praktek riba fadhl.

b) Dalam konteks percampuran harta(syirkah) mal al-mitsliy, maka seseorang dapat mengambil bagiannya ketika teman atau mitranya tidak ada ditempat (bi al-ghaib),Sebaliknya dalam syirkahmal al-qimiy, maka masing-masing pihak yang bersyarikat tidak boleh mengambil bagiannya selama pihak lain tidak berada ditempat.

c) Pengerusakan terhadap mal al-mitsliy, maka pemilik berhak menuntut ganti rugi dengan barang yang sejenisnya, sedang pengerusakan terhadap mal al-qimiy, maka pembayaran ganti rugi dilakukan dengan memperhitungkan harganya.

4. Mal al-isti’mali dan Mal al-istihlaqi

Dari segi pemanfaatannya, harta ini di bagi menjadi mal ist’imali dan mal istihlaqi.

a. Mal al-isti’mali adalah harta benda yang dapat diambil manfaatnya beberapa kali dengan tidak menimbulkan perubahan atau kerusakan zatnya dan tidak berkurang nilainya, seperti kebun, pakaian, perhiasan, dan sebagainya.

b. Mal al-istihlaqi adalah harta benda yang yang menurut kebiasaannya hanya dapat dipakai dengan menimbulkan kerusakan zatnya atau berkurang nilainya. Seperti makanan, minuman, kayu bakar dan sebagainya.20

Pada harta yang bersifat isti’mali dapat dijadikan obyek akad yang mendatangkan keuntungan material bagi

pemi-20Wahbah al-Zuhaily, juz. 4.hlm 50

liknya. Seperti akad ijarah, yakni akad yang menjual man-faat sesuatu harta dengan sejumlah imbalan tertentu.

5. Mal al-al‘ain wa Mal al-dayn

Mal al-‘ain adalah harta yang berbentuk benda, sep-erti rumah, pakaian, beras dan lainnya. Mal al-’ain terbagi menjadi dua, yaitu: mal ‘ain dzati qimah, dan mal

al-‘ain ghair dzati al-qimah.

Mal al-‘ain dzati al-qimah, adalah benda yang memiliki bentuk yang dipandang sebagai harta karena memiliki nilai, yang meliputi: (a) benda yang dianggap harta yang boleh diambil manfaatnya, (b) benda yang dianggap harta yang tidak boleh diambil manfaatnya,(c) benda yang di-anggap sebagai harta yang ada sebangsanya, (d) Benda yang dianggap harta yang tidak ada atau sulit dicari padan-annya, (e) benda yang dianggap harta yang berharga dan dapat dipindahkan, (f) benda yang dianggap harta yang berharga dan tidak dapat dipindahkan.Sedangkan

malal-‘ain ghair dzati al-qimah, adalah benda yang tidak dapat di-pandang sebagai harta karena tidak memiliki harga, mis-alnya sebiji beras.

Mal al-‘dain adalah suatu harta yang berada dalam tanggung jawab, seperti uang yang berada dalam tang-gung jawab seseorang.

Ulama Hanafiyah mengemukakan bahwa harta tidak dapat dibagi menjadi mal al-‘ain wa mal al-dain, karena menurut Hanafiyah, harta harus merupakan benda atau sesuatu yang berwujud, maka sesuatu yang tidak berwu-jud tidak dianggap sebagai harta, misalnya utang, karena masih dalam tanggungan orang (washf fi al-zhimmah).21 6. Mal al-‘ain wa Mal al-nafi’

21http://www.agustiantocentre.com/?p=810 diakses tanggal 31 Oktober 2015

Mal al-‘ain adalah benda yang memiliki nilai dan ber-bentuk (berwujud), seperti rumah, mobil, perhiasan dan sebagainya. Sedangkan mal al-nafi’ adalah suatu benda yang berangsur-angsur tumbuh dan mengandung man-faat menurut perkembangan masa, oleh karena itu mal al-naf ’i tidak berwujud dan tidak mungkin disimpan.

Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa harta

‘ain dan harta naf ’i tidak berbeda, dan aspek manfaat anggap sebagai harta al-mutaqawwim (harta yang dapat di-ambil manfaatnya), karena manfaat adalah sesuatu yang dimaksud dari pemilikan harta benda.

Hanafiyah berpendapat sebaliknya, bahwa manfaat dianggap bukan harta, karena manfaat tidak berwujud, tidak mungkin untuk disimpan, maka manfaat tidak ter-masuk harta, manfaat adalah sesuatu bentuk pemilikan.

7. Mal al-mamluk, Mal al-mahjur dan Mal al-mubah22

a. Malal-mamluk adalah harta yang statusnya berada dalam kepemilikan seseorang atau badan hukum, seperti pemerintah atau yayasan. Oleh karenanya, orang lain tidak berhak memiliki hartatersebut kecuali melalui akad tertentu yang dibenarkan oleh syara’.

b. Mal al-mahjur adalah harta yang menurut syara’

tidak dapat dimiliki dan tidak dapat diserahkan kepada orang lain, karena harta tersebut telah diwakafkan untuk kepentingan umum, seperti jalan, masjid, sekolah, tempat pemakaman dan segala macam harta yang diwakafkan.

c. Mal al-mubahadalah segala hartaharta tersebut.

Dengan demikian, setiap orang dapat menguasai

22Masadi,Fiqh.., h. 20-25.

dan memiliki jenis harta ini sesuai kesanggupannya.

Orang yang pertama menguasainya, maka dia menjadi pemiliknya. Upaya menguasai mal al-mubah dalam terminologi fiqh mu’amalah disebut irhaz al mubahat (penguasaaan atas harta yang bersifat bebas). Ikan di laut, rumput dan binatang buruan dihutan adalah sebagian kecil dari mal al-mubah.

8. Mal al-ashl dan Mal al-tsamarah23

Mal al-ashl adalah harta benda yang sifatnya awal atau dasar. Sedangkan mal al-tsamarah adalah harta yang sifat-nya dapat menghasilkan harta lain. Dengan kata lain, mal al-tsamarahadalah harta benda yang tumbuh dan meng-hasilkan harta lain dari mal al-ashl tanpa menimbulkan kerugian atau kerusakan atasnya. Contohnya, sebidang kebun menghasilkan buah-buahan. Maka kebun merupa-kan malal-ashl dan buah-buahan adalah mal al-tsamarah.24

Pembagian kedua bentuk harta tersebut memiliki konsekuensi hukum yang luas dalam ketentuan fiqh di antaranya;

a. Hukum asal harta wakaf tidak dapat dibagi kepada yang berhak menerima wakaf, tetapi buah dan hasilnya dapat dibagikan kepada mereka.

Seperti seseorang yang mewakafkan sawah atau ladangnya, maka sawah atau ladang tersebut tidak boleh dibagi-bagikan, sedangkan hasilnya boleh dibagi.25

b. Harta yang diperuntukan bagi kepentingan dan fasilitas umum, seperti jalan dan pasar pada

23Hasan, Berbagai,,.h. 66-67

24Mushtafa al-Zarqa’ juz. 3, hlm. 217-218

25Hasan, Berbagai.., h. 68-69.

prinsifnya tidak dapat dimiliki oleh perseorangan.

Sedangkan penghasilan dari harta untuk fasilitas umum ini dapat dimiliki. seperti di jalan atau halaman pasar tumbuh pohon buah-buahan, makabuah tersebut boleh dijual oleh siapapun, sedangan pohon tidak boleh dibagikan.

c. Seseorang membeli rumah lalu disewakan kepada orang lain. Setelah masa sewa habis, maka pembeli melihat ada kerusakan atau cacat di rumah tersebut, yang bukan disebabkan oleh perbuatan penyewa. Kemudian rumah itu ia kembalikan kepada pemiliknya (penjual rumah itu). Sewa rumah tetap menjadi pemilik pembeli rumah, sekalipun rumah itu setelah disewa orang dikembalikan kepada penjualnya, karena rumah itu disewakan ketika menjadi miliknya.

9. Mal al-qismah dan Mal ghair al-qismah

Mal al-qismah adalah harta benda yang dapat dibagi menjadi beberapa bagian dengan tidak menimbulkan kerusakan atau berkurangnya manfaat masing-masing bagian dibandingkan sebelum dilakukan pembagian, sep-erti, emas batangan, daging, kayu dan sebagainya. Sedan-gkan Mal ghair al-qismahadalahharta benda yang tidak da-pat dilakukan pembagian sebagaimana pada mal al-qismah, seperti gelas, kursi, dan perhiasannya.

Perbedaan jenis harta seperti ini mengakibatkan be-berapa konsekuensi hukum sebagai berikut:26

a. Perselisihan terhadap mal al-qismah yang menjadi milik bersama diselesaikan oleh keputusan hakim, yakni dengan membagi benda menjadi

bagian-26Masadi, Fiqih.., h. 28

bagian yang terpisah. Jika perselisihan seperti itu terjadi pada mal ghair al-qismah, makadiselesaikan melalui pembagian atasdasar kerelaan masing-masing pihak.

b. Persekutuan terhadap mal ghair al-qismah yang belum ditentukan bagiannya masing-masing, maka pemilik bagian tersebut sah melimpahkan pemilikan tersebut kepada orang lain. Sedangkan terhadap mal al-qismah, maka pemberian seperti tersebut tidak sah sebelum dilakukan pembagian lebih dahulu.

c. Biaya perawatan terhadap mal al-qismah terhadap harta yang tidak bergerak yang dimiliki secara bersamadapat dikeluarkan oleh seseorang pemilik tanpapengetahuan atau seizin pemilik lainnya. Hal ini berlaku sebagai pembiayaan sukarela yang tidak dapat dimintakan ganti kepada pemilik lainnya.

Hal ini juga berlaku terhadap pembiayaan atas mal ghair al- qismah.

10. Mal al-khas dan Mal al-‘amm27

Mal al-khas adalah harta pribadi yang tidak bercampur dengan harta orang lain, oleh karenanya, seseorang tidak boleh mengambil manfaatnya tanpa izin atau persetujuan pemiliknya. Sedangkan Mal al-‘amm adalah harta bersa-ma sebagai milik umum yang boleh diambil bersa-manfaatnya.

Artinya, harta benda yang menjadi milik masyarakat yang sejak semula dimaksudkan untuk kemashlahatan dan ke-pentingan umum.

Dengan demikian, atas nama kepentingan masyarakat, negara dapat menetapkan sumber-sumber alam yang

me-27Masadi, Fiqih..,h. 29-30

nyangkut kepentingan masyarakat luas dikuasai oleh neg-ara. Laut hutan, tanah, segala sumber tambang dan lain sebagainya yang secara tegas telah dinyatakan sebagai ke-kayaan milik negara tidak dapat dikuasai untuk dijadikan sebagai milik pribadi, melainkan harus ditujukan untuk kepentingan umum dan kesejahteraan bersama.

Pembedaan jenis harta ini menimbulkan konsekuensi hukum sebagai berikut:

a. Mal al-khas dapat dipergunakan oleh pemiliknya secara bebas melalui transaksi akad yang dibenarkan oleh syara’ sedangkan mal al-‘amm tidak dapat dipergunakan secara bebas.

b. Apabila seseorang mempergunakan mal al-‘amm untuk kepentingan pribadi, misalnya untuk tanggungan utang, tanpa kesepakatan pihak-pihak yang berwenang, maka ia dapat dituntut untuk membayar ganti rugi.

c. Mal al-‘amm tidak dapat digunakan oleh seseorang meskipun oleh seorang penguasa sekalipun, kecuali demi dan atas nama kepentingan umum yang lebih besar.28

Dalam dokumen Muqaranah mazahib fi al-mua’amalah (Halaman 39-50)