Bab V Akad Jual Beli: Murabahah,
B. Bai’ Al-Murabahah
1. Pengertian Bai’ al-Murabahah
Kata murabahah berasal dari kata ribhun yang artinya meng untung kan.1 Murabahah adalah jual beli barang den-gan tambahan harga atau cost plus atas dasar harga pem-belian yang pertama secara jujur.2 Sayyid Sabiq, mengarti-kan murabahah sebagai penjualan dengan harga pembelian barang berikut keuntungan yang diketahui.3 Sementara Hasbi As-Shiddiqi menganggap bai’ al-murabahah adalah menjual barang dengan keuntungan (laba) tertentu.4
Sedangkan ada pendapat lain mengatakan, bahwa mu-rabahah sebagai jual beli dimana harga dan keuntungan
0Ahmad Warson Munawir, Al Munawir Kamus Arab-Indonesia (Surabaya:
Pustaka Progesif, 1997), h. 463)
2Abdul Mujib, et. al, Kamus Istilah Fiqh (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994), h. 225.
3Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah 11, Terj, Kamaludin A Marzuki (Bandung: Pu -taka, 1988), h. 83.
0Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddiqy, Hukum-hukum Fiqh Islam (tin-jauan antar madzhab) (Semarang: Pustaka Rizki Putra,1997), h.353
di sepakati antara penjual dan pembeli.5 Dalam konteks murabahah penjual menyebut kan harga pembelian barang kepada pem beli kemudian ia mensyaratkan atas laba da-lam jumlah tertentu.6
Sedangkan menurut Al-Jundiy, jual beli murabahah adalah pembelian oleh satu pihak untuk kemudian dijual kepada pihak lain yang telah mengajukan permohonan pembelian terhadap suatu barang dengan keuntungan atau tambahan harga yang transparan.7Murabah adalah satu jenis jual beli yang dibenarkan oleh syariah dan meru-pakan implementasi muamalattijariyah (interaksi bisnis).8
Lebih lanjut, Abdul Hamid Mahmud al-Ba’ali me-nyebutkan beberapa ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi dalam transaksi murabahah meliputi hal-hal beri-kut:
a. Jual beli murabahah harus dilakukan atas barang yang telah dimiliki atau hak kepemilikan telah berada di tangan penjual. Artinya bahwa keuntungan dan resiko barang tersebut ada pada penjual sebagai konsekuensi dari kepemilikan yang timbul dari akad yang sah. Ketentuan ini sesuai dengan kaidah bahwa keuntungan itu terkait dengan resiko, “al ghunmu bi al ghurmi”, pihak yang menanggung resiko dapat mengambil keuntungan.
0Zainul Arifin, Memahami Bank Syari’ah: Lingkup, Peluang, Tantangan dan Prospek (Jakarta: Alvabet, 2001), h.21,.
0Heri Sudarsono. Bank dan Lembaga Keuangan Syari’ah (Yogyakarta: Ekon-sia, 2003), h. 58.
0Muhammad al Sahk al Jundiy, al ‘Aqdu al Murabahah baina al Fiqh al Islami wa al Ta’amuli al Mashrafi (Arab: Dar an Nadhr al ‘Arabiyyah, 1986), h. 145-146.
0Abd al-Hamid Mahmud al-Ba’li, al-Istitsmar wa al-Riqabah al-Syar’iyyah (al-Qahirah: Maktabah Wahbah, 1991), h. 102-109.
b. Adanya kejelasan informasi mengenai besarnya modal dan biaya-biaya lain yang lazim dikeluarkan dalam jual beli (capital outlay) pada suatu komoditi, semuanya harus diketahui oleh pembeli saat transaksi; dan ini merupakan salah satu syarat sah murabahah.
c. Adanya informasi yang jelas tentang keuntungan baik nominal maupun persentase sehingga diketahui oleh pembeli sebagai salah satu syarat sah murabahah.
d. Dalam sistem murabahah, penjual boleh menetapkan syarat kepada pembeli untuk menjamin kerusakan yang tidak tampak pada barang, tetapi lebih baik syarat seperti itu tidak ditetapkan, karena pengawasan barang merupakan kewajiban penjual di samping untuk menjaga kepercayaan yang sebaik-baiknya.
Sebelum akad murabahah dilakukan, umumnya nasa-bah calon pembeli mengajukan permohonan pembelian dan berjanji (wa’d) kepada penjual (bank) akan membeli barang yang akan disediakan oleh bank. Pihak bank, atas dasar permohonan tersebut, membeli barang yang diper-lukan nasabah. Setelah barang dimiliki bank, maka akad murabahah dilangsungkan.
Pembayaran harga dalam murabahah (harga pokok barang dan margin keuntungan) boleh dilakukan secara tangguh (muajjal/لجؤم) atau angsuran (taqsith).9 Terh-adap cara pembayaran yang berbeda ini akan menimbul-kan konsekuensi harga yang berbeda pula karena lamanya waktu pembayaran berkaitan dengan berbagai kemungki-nan adanya resiko, dan dari sudut ekonomi Islam berlaku prinsip economic value of time, artinya waktu memiliki nilai ekonomis, semakin pendek waktu pembayaran semakin
9Rafiq Yunus al Mishri, Bai’ al Taqsith (Beirut : Dar al Syamiyah, 1990), h. 11.
cepat bagi penjual untuk mendapatkan keuntungan dan mendistribusikan kembali dananya bagi investasi lain.
Pengertian ini berbeda dengan biaya modal atau bunga modal pada bank konvensional yang didasarkan pada prin-sip time value of money.
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, maka da-pat dirumuskan bahwa murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati yang oleh penjual dan pembeli.
Akad ini merupakan salah satu bentuk natural certainty con-tract, yakni memberikan kepastian pembiayaan baik dari segi jumlah maupun waktu, cash flownya bisa diprediksi dengan relatif pasti, karena sudah disepakati oleh kedua belah pihak yang bertransaksi di awal akad.
Bai’ al-murabahah dikategorikan sebagai natural cer-tainty contract, karena dalam murabahah ditentukan bera-pa requaired rate of profitnya (besarnya keuntungan yang disepakati).10
2. Rukun dan Syarat Bai’ al-Murabahah
Rukun adalah sesuatu yang wajib ada dalam suatu transaksi (necessary condition), misalnya ada penjual dan pembeli. Tanpa adanya penjual dan pembeli, maka jual beli tidak akan ada. Para ekonom-ekonom Islam dan ahli-ahli fiqh, menganggap murabahah sebagai bagian dalam jual beli, makasecara umum kaidah yang digunakan ada-lah rukun jual beli. Adapun rukun jual beli ada tiga, yaitu akad (ijab qabul), ‘al-‘aqidain (orang-orang yang berakad:
penjual dan pembeli) dan ma’qud ‘alaih (obyek akad).11
10Adi Warman Azram Karim, Bank Islam, analisis fiqh dan keuangan (J -karta: IIIT Indonesia, 2003), h. 161.
11Hendi Suhendi, Fiqh Muamalha (Jakarta: Raja Grafindo, 2002), h. 70.
Sedangkan syarat adalah sesuatu yang keberadaannya untuk melengkapi rukun (sufficient condition). Contohnya, pelaku transaksi haruslah orang yang cakap hukum (mu-kallaf).Menurut mazhab Hanafi, bila rukun sudah ter-penuhi tapi syarat tidak terter-penuhi, maka rukun menjadi tidak lengkap sehingga transaksi tersebut menjadi fasid (rusak).12
Adapun beberapa syarat jual beli antara lain:
a. Penjual dan Pembeli b. Berakal.
c. Dengan kehendak sendiri
d. Keadaan tidak Mubadzir (pemboros).
e. Baliq
f. Uang dan Benda yang dibeli (obyek yang diperjual belikan).
g. Suci.
h. Ada manfaat.
i. Keadaan barang tersebut dapat diserahkan.
j. Keadaan barang tersebut kepunyaan penjual atau kepunyaan yang diwakilkan
k. Barang tersebut diketahui antarasi penjual dan pembeli dengan terang dzat, bentuk, kadar (ukuran) dan sifat-sifatnya sehingga tidak terjadi keadaan yang mengecewakan.
l. Ijab-qabul
12Karim, Bank Islam..,h. 47.
m. Jangan ada yang memisahkan, janganlah pembeli diam saja setelah penjual menyatakan ijabnya begitu pula sebaliknya.
n. Jangan diselingi dengan kata-kata lain antara ijabdan qabul.
o. Beragama Islam, syarat ini khusus utuk pembeli saja dalam benda-benda tertentu seperti seseorang dilarang menjual hambanya yang beragama Islam kepada pembeli yang beragama tidak Islam.13 3. Pandangan fuqaha Tentang Status Hukum Bai’
al-Murabahah
Paparan tentang bai’ al-murabahah di atas merupakan konsep dan praktik murabahah yang banyak dibahas dalam berbagai literatur khazanah kitab-kitab fiqh, dimana ko-moditas atau barang yang menjadi obyek murabahah terse-dia dan dimiliki penjual pada waktu negosiasi atau akad jual beli berlangsung. Kemudian ia menjual barang terse-but kepada pembeli dengan menjelaskan harga pembelian dan keuntungan yang akan diperoleh. Karena itu, dapat dikatakan praktik tersebut adalah transaksi jual beli biasa, kelebihannya terletak pada pengetahuan pembeli tentang harga pembelian awal sehingga menuntut kejujuran pen-jual dalam menjelaskan harga awal yang sebenarnya.
Dalam praktik di Lembaga Keuangan Syariah (LKS) termasuk bank syariah, bentuk murabahah dalam literatur fiqh klasik tersebut mengalami beberapa modifikasi. Mura-bahah yang dipraktikkan pada lembaga keuangan syari’ah (LKS) dikenal dengan murâbahah li al-âmir bi al-syirâ’, yaitu transaksi jual beli di mana seorang nasabah datang kepa-da pihak bank untuk dibelikan sebuah komoditas dengan
13Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam(Jakarta: Wijaya Jakarta,1954), h. 243.
kriteria tertentu, dan ia berjanji akan membeli komoditas atau barang tersebut secara murabahah, yakni sesuai harga pokok pembelian ditambah dengan tingkat keuntungan yang disepakati kedua pihak, dan nasabah akan melaku-kan pembayaran secara installment (cicilan berkala) sesuai dengan kemampuan finansial yang dimiliki.14
Mengenai kedudukan hukum praktik murâbahah li al-âmir bi al-syira’ ulama kontemporer berbeda pendapat. Ada yang memperbolehkan dan ada juga yang melarang atau mengharamkan. Di antara ulama yang mengakui keabsa-han atau kebolekeabsa-han murâbahah li al-âmir bi al-syirâ adalah Sâmì Hamûd, Yusuf Qardhawi, Ali Ahmad Salus, Shadiq Muhammad Amin, Ibrahim Fadhil, dan lainnya.15 Adapun argumentasi mereka adalah sebagai berikut:
Pertama, hukum asal dalam mu’amalah adalah diperboleh kan dan mubah kecuali terdapat nashsha-hih dan sharih yang melarang dan mengharamkannya.
Berbeda dengan ibadah mahdhah hukum asalnya ada-lah haram kecuali ada nash yang memerintahkan untuk melakukannya. Oleh karena itu dalam mu’amalah tidak perlu mempertanyakan dalil yang mengakui keabsahan dan kehalalan, yang perlu diperhatikan adalah dalil yang melarang dan mengharamkannya. Sepanjang tidak terda-pat dalil yang melarangnya, maka transaksi mu’amalahsah dan halal hukumnya.
Kedua, keumuman nash Al-Qur’an dan hadis yang menunjukan kehalalan segala bentuk jual beli, kecuali terdapat dalil khusus yang melarangnya. Yusuf Qardhawi mengatakan, dalam surat al-Baqarah: 275, Allah
men-14Sami Hasan Hamud, Tathwîr A’mâl Mashrafiyah Bimâ Yattafiq al-Syarî ’ah al-Islâmiyah (Aman: Mathba’ah al-Syarq,1992), h. 431.
15Ah. Azharuddin Lathif, Konsep Dan Aplikasi Akad Murabahah Pada Perbankan SyariahDi Indonesia, Jurnal dikases pada tanggal 31 Oktober 2015.
ghalalkan segala bentuk jual beli secara umum, baik jual beli muqâydhah (barter), sharf (jual beli mata uang/valas), jual beli salam ataupun jual beli mutlak serta bentuk jual beli lainnya. Semua jenis jual beli tersebut halal, karena ia masuk dalam kategori jual beli yang dihalalkan Allah, dan tidak ada jual beli yang haram, kecuali terdapat nash dari Allah dan Rasulnya yang mengharamkannya.
Ketiga, terdapat nash ulama fiqh yang mengakui ke-absahan akad ini, di antaranya pernyataan Imam Syafi’i dalam kitab al-Umm: “Ketika seseorang memperlihatkan sebuah barang tertentu kepada orang lain, dan berkata:
“Belikanlah aku barang ini, dan engkau akan aku beri mar-gin sekian”, kemudian orang tersebut mau untuk membe-likannya, maka jual beli tersebut diperbolehkan”. Namun demikian, orang yang meminta untuk dibelikan tersebut memiliki hak khiyar, jika barang tersebut sesuai dengan kriterianya, maka bisa dilanjutkan dengan akad jual beli dan akadnya sah, sebaliknya, jika tidak sesuai, maka ia ber-hak untuk membatalkannya”.
Berdasarkan pernyataan ini, dapat disimpulkan bah-wa Imam Syafi’i memperbolehkan transaksi murâbahah li al-âmir bi al-syirâ, dengan syarat pembeli atau nasa-bah memiliki hak khiyar, yakni hak untuk meneruskan atau membatalkan akad. Selain itu, penjual juga memi-liki hak khiyar, dengan demikian tidak terdapat janji yang mengikat kedua belah pihak.
Keempat, transaksi mu’amalah dibangun atas asas al-mashlahah. Hukum Islam tidak melarang bentuk tran-saksi kecuali terdapat unsur kezaliman di dalamnya, sep-erti riba, penimbunan (ihtikâr ), penipuan dan lainnya, atau diindikasikan transaksi tersebut dapat menimbulkan perselisihan atau permusuhan di antara manusia,
sep-erti adanya gharar atau bersifat spekulasi. Permasalahan pokok dalam mu’amalah adalah unsur kemaslahatan. Jika terdapat maslahah, maka sangat dimungkinkan transaksi tersebut diperbolehkan. Seperti halnya diperbolehkan-nya akad istishna’, padahal ia merupakan jual beli atau bai’ al-ma’dûm (obyek tidak ada saat akad), karena adanya kebutuhan dan mashlahah yang akan didapatkan, tidak menimbulkan perselisihan dan sudah menjadi kebiasaan masyarakat.
Kelima, pendapat yang memperbolehkan bentuk mu-rabahah ini dimaksudkan untuk memudahkan persoalan hidup manusia. Syariah Islam datang untuk mempermu-dah urusan manusia dan meringankan beban yang ditang-gungnya. Kehidupan manusia di zaman sekarang lebih kompleks, jadi mereka membutuhkan kemudahan-kemu-dahan. Akan tetapi maksud dari kemudahan di sini adalah menjaga kemaslahatan dan hajat hidup orang banyak se-bagaimana ingin diwujudkan oleh syara’.
Adapun ulama kontemporer yang melarang dan meng-haramkan praktik murabahah li al-âmir bi al-syirâ’ antara lain: Muhammad Sulaiman al-Asyqar, Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Rafîq al-Mishrî dan lainnya.16 Berikut ini argu-men yang memperkuat pendapat mereka:
Pertama, transaksi murabahah di LKS atau bank syari-ah sebenarnya bukan dimaksudkan untuk melakukan jual beli tapi hanya sekedar hîlah atau trik untuk menghalal-kan riba. Mereka mengatamenghalal-kan bahwa maksud dan tujuan sebenarnya transaksi murabahah adalah untuk mendapat-kan uang tunai, sebab kedatangan nasabah ke LKS atau bank syariah sebenarnya adalah untuk mendapatkan uang tunai. Sementara itu, pihak LKS atau bank syariah tidak
16Lathif, Konsep..
membeli barang melainkan hendak menjualnya kepada nasabah dengan cara cicilan, sehingga dapat dimaknai bahwa LKS atau bank Syariah sebenarnya tidak sungguh-sungguh membeli barang tersebut.
Kedua, tidak ada satu orang pun dari ulama terdahulu yang membolehkan murabahah, bahkan ada yang menya-takan keharaman bai’murabahah.
Ketiga, transaksi murabahah termasuk jual beli ‘înah yang diharamkan. Jual beli ‘înah adalah pinja-man ribawi yang direkayasa dengan praktik jual beli.
Keempat , Transaksi murabahah termasuk bay‘atâni fi bay‘ah. Rasulullah SAW telah melarang bentuk jual beli bay‘ atâni fi bay‘ ah dalam sebuah hadits yang di-riwayatkan oleh Imam Ahmad, Nasa’i dan Tirmidzi.
Untuk mengetahui apakah transaksi murabahah ter-masuk bay‘atâni fi bay‘ah, maka perlu mengetahui maksud dari model akad tersebut . Menurut Imam Syafi’i bay‘atâni fi bay‘ah maksudnya adalah: Seorang penjual berkata: Saya menjual barang ini kepada kamu Rp. 100.000,- secara tem-po dan Rp.50.000,- secara kontan, terserah mau pilih yang mana, dan kontrak jual beli berlangsung tanpa adanya satu pilihan pasti dan jual beli mengikat salah satu pihak.
Kelima, bank syariah dalam melakukan transaksi mura-bahah, menjual barang yang tidak atau belum dimilikinya (bai’ al-ma’dûm ) , dimana pihak bank syari’ah dan nasa-bah berjanji untuk melakukan transaksi muranasa-bahah. Un-tuk mewujudkan kesepakatan tersebut,mereka membuat transaksi janji; pihak bank berjanji untuk menjual barang, dan pihak nasabah berjanji untuk membeli barang. Kehar-usan nasabah untuk membeli karena perjanjian berubah menjadi transaksi yang sebenarnya, padahal barang-nya belum ada. Bentuk ini bertentangan dengan kaidah
umum syariat yang melarang jual beli pada barang yang tidak dimiliki.
Keenam, bank syari’ah dalam melakukan transak-si mura bahah, telah mewajibkan transaktransak-si dengan sekedar janji. Apabila janji tersebut tidak sampai menjadi suatu keharusan, maka tidak ada masalah dalam transaksi mura-bahah. Tapi apabila janji untuk membeli itu menjadi suatu keharusan, maka para ulama banyak yang menolaknya, karena dasar keharusan membeli tersebut tidak ada dalam kaidah umum syariat dan tidak boleh mewajibkan tran-saksi hanya dengan sekedar janji.
Berdasarkan perbedaan ulama tersebut, Muhammad Taqi Usmani mengakui bahwa pada mulanya muraba-hah bukan merupakan bentuk pembiayaan melainkan hanya alat untuk menghindari “bunga bank” dan juga bu-kan merupabu-kan instrumen ideal untuk mengembangbu-kan tujuan riil ekonomi Islam. Instrumen murabahah hanya digunakan sebagai langkah transisi yang diambil dalam proses islamisasi ekonomi. Sedangkan untuk menghin-dari praktik murabahah yang akan terjebak pada prak-tik hilah ribawi, bai’ ‘înah, bay‘atâni fi bay‘ah, dan bai’ al-ma’dûm, maka para ulama kontemporer mensyaratkan dalam praktik jual beli murabahah di lembaga keuangan syari’ah sebagai berikut:
a. Jual beli murabahah bukan pinjaman yang diberikan dengan bunga, tetapi merupakan jual beli komoditas dengan harga tangguh termasuk margin keuntungan di atas biaya perolehan yang disetujui bersama. Dalam kaitan ini, bila harga tangguh lebih tinggi dari harga tunai, maka sebelum para pihak berpisah, pilihan harga tersebut harus telah disepakati agar terhindar dari bay‘atâni fi bay‘ah;
b. Pemberi pembiayaan dalam hal ini bank atau lembaga keuangan syariah lainnya, harus telah membeli komoditas atau barang dan menyimpan dalam kekuasaannya, atau membeli melalui orang ketiga sebagai agennya sebelum dijual kepada nasabahnya.
Bila tidak demikian, maka akan terjadi bai’ al-ma’dûm (menjual belikan sesuatu yang belum ada atau dimiliki). Namun demikian, bila pembelian langsung ke pihak supplier tidak praktis, diperbolehkan bagi pemberi pembiayaan untuk memanfaatkan nasabah sebagai agen atau wakil dengan menggunakan akad wakalah untuk membeli komoditas yang diperlukan atas nama pemberi pembiayaan.
Dalam kasus seperti ini, selama barang tersebut belum dibelikan oleh nasabah sebagai agen, maka tidak boleh dilakukan akad jual beli komoditas atau barang antara nasabah dan pihak pemberi pembiayaan. Bahkan bila nasabah sudah membelikan komoditasnya pun, resiko atas rusak atau hilangnya barang masih ada pada pihak pemberi pembiayaan hingga dilakukan akad jual beli antara kedua belah pihak;
c. Pembelian komoditas tidak boleh dari nasabah sendiri (komoditas milik nasabah) dengan perjanjian buy back (pembelian kembali), karena model perjanjian seperti ini masuk kategori bai ‘ inah yang diharamkan oleh sebagian besar ulama.
Sejalan dengan syarat-syarat di atas, maka praktik murâbahah li al-âmir bi al-syirâ’ di lembaga keuangan syari’ah (LKS) ditempuh dengan prosedur sebagai berikut:
1) Nasabah dan LKS menandatangani perjanjian umum ketika LKS berjanji untuk menjual dan nasabah berjanji untuk membeli komoditas atau barang tertentu pada tingkat margin tertentu yang ditambahkan dari biaya perolehan barang;
2) LKS selanjutnya bisa menunjuk nasabah sebagai agennya untuk membeli komoditas yang diperlukan nasabah atas nama LKS, dan perjanjian keagenan dengan akad wakalah ditandatangani oleh kedua belah pihak;
3) Nasabah membelikan komoditas atas nama LKS dan mengambil alih penguasaan barang sebagai agen LKS, pada tahap ini resiko komoditas masih ada pada LKS;
4) Nasabah menginformasikan kepada LKS bahwa ia telah membeli komoditas atau barang atas nama LKS, dan pada saat yang sama menyampaikan penawaran untuk membeli barang tersebut dari LKS
5) LKS menerima penawaran tersebut dan proses jual beli berlangsung dengan pembayaran secara cicilan atau tangguh sesuai kesepakatan. Jika proses jual beli telah berlangsung, maka kepemilikan dan resiko komoditas atau barang telah beralih ke tangan nasabah.
Langkah-langkah di atas diperlukan apabila LKS men-jadikan nasabah sebagai agennya, tetapi jika LKS mem-beli komoditas atau barang langsung ke supplier, maka perjanjian keagenan seperti di atas tidak diperlukan. Da-lam hal ini, setelah LKS membelikan barang langsung ke
pihak supplier, maka proses jual beli antara LKS dan nasa-bah bisa dilaksanakan.17
Skema Aplikasi akad Bai’ al-Murabahah di lembaga Keuangan Syari’ah: