• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Harta

Dalam dokumen Muqaranah mazahib fi al-mua’amalah (Halaman 33-37)

Bab II Konsep Harta (Al-Mal) dalam Islam

B. Pengertian Harta

Secara etimologi, harta dalam bahasa Arab disebut al-mal, berasal dari akar kata لايم لييم لام yang mempunyai arti condong, cenderung atau miring. Karena manusia cend--erung ingin memiliki dan menguasai harta,maka al-mal juga diartikan segala sesuatu yang menyenangkan manu-sia, sehingga mereka selalu menyimpan dan memeliha-ranya, baik dalam bentuk materi maupun dalam bentuk manfaat.

Dalam kamus Lisan al-’Arab, karya Ibnu Manzur dit-erangkan bahwa kata al-mal didefinisikan sebagai “segala sesuatu yang dimiliki”.1Ibn al-Atsir menjelaskan bahwa hukum asal sebuah harta adalah apa-apa yang dapat dimi-liki dari emas dan perak. Kemudian, penyebutkan harta dimutlakan pada setiap apa-apa yang diperoleh dan dimi-liki dari benda-benda. Hanya saja orang arab lebih banyak menyebut unta sebagai harta karena dahulu unta adalah harta mereka yang paling banyak dimiliki.2Sementara

ka-1Ibn Mandzur, Lisan al-Arab(Beirut: Dar al-Fikr,t.th.), Jilid 3, h. 550.

2Mandzur, Lisan..,h. 550.

mus al-mu’jam al-wasith menyebutkan bahwa, al-mal ada-lah setiap yang dimiliki oleh individu atau kelompok manusia, baik dari bentuk perhiasan, barang-barang, per-abotan rumah, emas perak atau juga hewan.3

Berdasarkan hal ini, maka segala sesuatu yang tidak dapat dimiliki manusia tidak dapat disebut sebagai harta secara bahasa, seperti: pepohonan yang berada di hutan belantara, ikan yang berada di sungai, ataupun burung yang ada di angkasa.

Sedangkan secara terminologi, para ulama berbeda pendapat mengenai pengertian harta dan terbagi men-jadi dua kelompok, yaitu ulama mazhab Hanafiyah dan Jumhur ulama selain Hanfiyah.

1. Ulama Hanafiyah.

Secara umum, mazhab Hanafi mengkategorikan har-ta dengan suatu benda yang bisa disimpan dan digunakan pada saat dibutuhkan. Dalam kitab Hasyiah Ibn Abidin4, disebutkan bahwa harta adalah sesuatu yang manusia cenderung kepadanya dan mungkin disimpan untuk digu-nakan pada waktu yang dibutuhkan”.

Sementara Ibnu Nujaim al-Hanafi mendefinisikan harta sebagai berikut:

“Sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Muhammad bahwa harta adalah setiap yang dimiliki seseorang dari emas perak, mata benda, hewan dan lain-lain. Hanya saja menurut pandangan adat kebiasaan kami yang dinamakan harta adalah uang dan barang-barang”.5

3Ibrahim Musthafa, al-Mu’jam al-Wasith(Turki: al-Maktabah al-Islamiyah, t.th.), h. 892.

4Muhammad ibn Ali al-Hiskafi, Radd al-Mukhtar ‘Ali al-Dar al-Mukhtar;

Hasyiah ibn Abidin(Beirut: Dar al-Ma’rifah, 2000), Jilid 7, h. 8.

5Zainuddin ibn Nujaim al-Hanafi, al-Bahr al-Ra’iq Syarh Kanz al-Daqa’iq (Mesir: Matba’ah al-Ilmiyyah, 1310), Cet. Ke-1, Jilid 2, h. 242.

Berdasarkan pengertian ini, maka dapat dirumuskan bahwa harta menurut mazhab Hanafi adalah sesuatu yang disenangi menurut tabiat manusia, yang dapat disimpan dan dapat dimanfaatkan ketika dibutuhkan. Dengan de-mikian, harta memiliki dua unsur, yaitu:

a. Harta dapat dikuasai dan dipelihara secara nyata.

Sesuatu yang tidak bisa disimpan atau dipelihara secara nyata, seperti ilmu, kesehatan, kemuliaan, kecerdasan, udara, panas matahari, cahaya bulan, tidak dapat dikatakan harta.

b. Harta dapat dimanfaatkan menurut kebiasaan.

Segala sesuatu yang tidak bermanfaat seperti daging bangkai, makanan yang basi, tidak dapat disebut harta; atau bermanfaat, tetapi menurut kebiasaan tidak diperhitungkan manusia, seperti satu biji gandum, setetes air, segenggam tanah, dan lain-lain. Semua itu tidak disebut harta sebab terlalu sedikit sehingga zatnya tidak dapat dimanfaatkan, kecuali kalau disatukan dengan sesuatu yang lain.6

2. Jumhur Fuqaha

Adapun konsep harta yang berkembang di kalangan jumhur fuqaha mazhab Malikiyah. Syafi’iyah dan Hanabi-lah adaHanabi-lah seperti ungkapan berikut:

“Harta adalah Sesuatu yang naluri manusia cenderung ke-padanya dan dapat diserahterimakan dan orang lain terha-lang mempergunakannya”.

Imam Syafi’i menjelaskan pengertian harta (al-mal) dalam kitab al-Umm, sebagai berikut:

6Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqh mu’amalah (Pustaka Pelajar: Yogy -karta, 2008), h. 19.

“Tidak dinamakan dengan harta kecuali jika memiliki nilai yang bisa diperjualbelikan dan jika seseorang merusaknya maka ia mengganti nilai harta tersebut sekalipun sedikit, dan setiap yang tidak ditinggalkan oleh orang dari harta mereka seperti uang dan yang semisalnya. Kedua, setiap yang bermanfaat dimiliki dan halal harganya seperti ru-mah sewa dan yang semakna dengannya yang dihalalkan upahnya.7

Pengertian senada juga dikemukakan oleh Mushtafa Ahmad Al-Zarqa, sebagaimana dikutip Hasby al-Shid-diqi.8

“Setiap materi (ai’n) yang mempunyai nilai beredar di ka-langan manusia.”

Berdasarkan pengertian ini, maka dapat dirumuskan bahwa salah satu perbedaan dari definisi yang dikemu-kakan oleh ulama Hanafiyah dan Jumhur ulama adalah tentang eksistensi manfaat suatu benda. Ulama Hanafi-yah memandang bahwa manfaat adalah sesuatu yang da-pat dimiliki, tetapi ia bukan termasuk harta. Sedangkan menurutJumhur, manfaat termasuk harta, sebab yang penting adalah manfaatnya dan bukan zatnya.Pendapat ini lebih umum digunakan oleh kebanyakan manusia.

Manfaat yang dimaksud pada pembahasan ini adalah faedah atau kegunaan yang dihasilkan dari suatu benda yang tampak,seperti mendiami rumah atau mengendarai kendaraan. Ulama Hanafiyahberpendapat bahwa hak mi-lik dari manfaat tidak dapat dikaitkan dengan harta, sebab tidak mungkin menyimpan dan memelihara zatnya. Se-lain itu walaupun hak milik dan manfaat bisa didapatkan,

7Muhammad ibn Idris alSyafii, alUmm, Tahqiq; Rif ’at Fauzi Abdul Mut -alib (Beirut: Dar al-Wafa, , 2001, Ct. Ke-1, Jilid 6, h. 150-151.

8Muhammad Hasby al-Shiddiqy, Pengantar Fiqh Mu’amalah(Semarang:

Pustaka Rizki Putra, 2013), Cet. Ke-4, h. 140.

hal itu tidak akan lama sebab bersifat abstrak dan akan hilang sedikit demi sedikit.

Sedangkan selain ulama Hanafiyah berpendapat bah-wa hak milik dan manfaat dapat dipandang sebagai harta sebab dapat dikuasai dengan caramenguasai pokoknya.

selain itu, kemanfaatan adalah maksud dari harta terse-but. Jika tidak memiliki manfaat, manusia tidak mungkin mencari dan mencintai harta.

Perbedaan pendapat diatas berdampak pada perbedaan dalam menetapkan beberapa ketetapan yang berkaitan dengan hukum, terutama dalam hal gashab, persewaan dan waris.

Dari penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan un-sur harta yaitu ;

1. Bersifat materi (‘aniyah), atau mempunyai wujud nyata.

2. Dapat disimpan untuk dimiliki (qabilan lit-tamlik) 3. Dapat manfaatkan (qabilan li-intifa’)

4. Urf (adat atau kebiasaan) masyarakat memandangnya sebagai harta.9

C. Landasan, Kedudukan dan fungsi Harta dalam

Dalam dokumen Muqaranah mazahib fi al-mua’amalah (Halaman 33-37)