TINJAUAN PUSTAKA
2.2.5 Bakteri yang sering ditemukan pada Tangan Manusia
Bakteri banyak ditemukan disekitar manusia. Seperti tangan manusia yang banyak berinteraksi dengan dunia luar. Banyak sekali jenis-jenis bakteri yang terdapat ditangan manusia. Adapun beberapa jenis bakteri yang sering terdapat ditangan, diantaranya :
1) Escherichia coli
Escherichia coli adalah kuman oportunis yang banyak ditemukan di dalam usus besar manusia sebagai flora normal. Sifatnya unik karena dapat menyebabkan infeksi primer pada usus misalnya diare pada anak dan travelers diarrhea, seperti juga kemampuannya menimbulkan infeksi pada jaringan tubuh
lain di luar usus. Genus Escherichia terdiri dari 2 spesies yaitu: Escherichia coli
dan Escherichia hermanii (Karsinah dkk, 1994).
Morfologi E. coli adalah bakteri Gram negatif yang berbentuk pendek (kokobasil), berukuran 0,4-0,7 µm, bersifat anaerobic fakultatif dan mempunyai flagella peritrikal. Bentuk sel dari bentuk coocal hingga membentuk sepanjang ukuran filamentous. Tidak ditemukan spora. Selnya bisa terdapat tunggal, berpasangan, dan dalam rantai pendek, biasanya tidak berkapsul (Jawetz dkk, 2004).
E. coli dihubungkan dengan tipe penyakit usus (diare) pada manusia: Enteropathogenic E. coli menyebabkan diare, terutama pada bayi dan anak-anak di negara-negara sedang berkembang dengan mekanisme yang belum jelas diketahui. Frekuensi penyakit diare yang disebabkan oleh strain kuman ini sudah jauh berkurang dalam 20 tahun terakhir (Karsinah dkk, 1994).
Menurut Karsinah, Lucky H.M., Suharto dan Mardiastuti (1994), penyakit-penyakit lain yang disebabkan oleh E. coli adalah: infeksi saluran kemih (85% kasus), pneumonia (± 50% dari primary Nosocomial Pneumonia), meningitis pada bayi baru lahir dan infeksi luka terutama luka di dalam abdomen.
2) Salmonella sp
Organisme yang berasal dari genus Salmonella adalah agen penyebab bermacam-macam infeksi, mulai dari gastroenteritis yang ringan sampai dengan demam tifoid yang berat disertai bakteremia. Salmonella sp. adalah bakteri bentuk batang, pada pengecatan gram berwarna merah 5 muda (gram negatif). Salmonella
14
S. pullorum), dan tidak berspora. Habitat Salmonella sp. adalah di saluran pencernaan (usus halus) manusia dan hewan. Suhu optimum pertumbuhan
Salmonella sp. ialah 37oC dan pada pH 6-8.
Ewing mengklasifikasikan Salmonella ke dalam 3 spesies yaitu: 1.
Salmonella choleraesuis, 2. Salmonella typhi, 3. Salmonella enteritidis, dan kuman dengan tipe antigenic yang lain dimasukkan ke dalam serotip dari
Salmonella parathypi enteritidis bukan sebagai spesies baru lainnya (Karsinah dkk, 1994).
Dalam skema kauffman dan white tatanama Salmonella sp. dikelompokkan berdasarkan antigen atau DNA yaitu kelompok I enteric, II
salamae, IIIa arizonae, IIIb houtenae, IV diarizonae, V bongori, dan VI indica.
Komposisi dasar DNA Salmonella sp. adalah 50-52 mol% G+C mirip dengan
Escherichia, Shigella, dan Citrobacter (Todar, 2008). Namun klasifikasi atau penggunaan tatanama yang sering dipakai pada Salmonella sp. berdasarkan epidemiologi , jenis inang, dan jenis struktur antigen (misalnya S. typhi, S. thipirium). Jenis atau spesies Salmonella sp. yang utama adalah S. typhi (satu serotipe). Sedangkan spesies S. paratyphi A, S.paratyphi B, S. paratyphi C
termasuk dalam S. enteritidis (Jawetz dkk, 2004).
3) Shigella
Menurut Karsinah, Lucky H.M., Suharto dan Mardiastuti (1994), Shigella spesies adalah kuman patogen usus yang telah lama dikenal sebagai agen penyebab penyakit disentri basiler. Berada dalam tribe Escherichiae karena sifat genetic yang saling berhubungan, tetapi dimasukkan dalam genus tersendiri yaitu
genus Shigella karena gejala klinik yang disebabkannya bersifat khas. Sampai saat ini terdapat 4 spesies Shigella yaitu: Shigella dysenteriae, Shigella flexneri, Shigella boydii dan Shigella sonnei.
Morfologi dan identifikasi Shigella adalah bakteri Gram negatif berbentuk batang, berukuran 0,5-0,7 µm x 2-3 µm dan tidak berflagel, tidak membentuk spora, bila ditanam pada media agar tampak koloni yang konveks, bulat, transparan dengan pinggir-pinggir utuh. Shigella merupakan bakteri dengan habitat alamiah usus besar manusia. Disentri basiler atau Shigellosis adalah infeksi usus akut yang disebabkan oleh Shigella (Karsinah dkk, 1994).
Menurut Karsinah, Lucky H.M., Suharto dan Mardiastuti (1994), Shigellosis dapat menyebabkan 3 bentuk diare yaitu: 1. Disentri klasik dengan tinja yang konsisten lembek disertai darah, mulus dan pus, 2. Waterydiarrhea dan 3. Kombinasi keduanya. Masa inkubasinya adalah 2 – 4 hari, atau bisa lebih lama sampai 1 minggu. Oleh orang yang sehat dierlukan 200 kuman untuk menyebabkan sakit. Kuman masuk dan berada di usus halus, menuju terminal ileum dan kolon, melekat pada permukaan mukosa dan menembus lapisan epitel kemudian berkembang biak di dalam lapisan mukosa. Berikutnya terjadi reaksi peradangan yang menimbulkan tukak pada mukosa usus.
4) Giardia Lamblia
Giardia Lamblia ditemukan kosmopolit dan penyebarannya tergantung dari golongan umur yang diperiksa dan sanitasi lingkungan. Giardia Lamblia
mempunyai 2 bentuk, yaitu tropozoit dan kista. Bentuk tropozoit bilateral simetris seperti buah jambu monyet dengan bagian anterior membulat dan posterior
16
meruncing. Parasit ini berukuran 10-20 mikron panjang dengan diameter 7-10 mikron. Di bagian anterior terdapat sepasang inti berbentuk oval. Di bagian ventral anterior terdapat isap berbentuk seperti cakram cekung yang berfungsi untuk perlekatan di permukaan sel epitel. Terdapat dua batang yang agak melengkung melintang di posterior batil isap, yang disebut benda parabasal. Tropozoit mempunyai delapan flagel, sehingga bersifat motil. G. Lamblia tidak mempunyai mitokondria, peroxisome, hydrogenisomes, atau organel subselular lain untuk metabolisme energi.
Bentuk kista oval dan berukuran 8-12 mikron dan mempunyai dinding yang tipis dan kuat dengan sitoplasma berbutirhalus. Kista yang baru terbentuk mempunyai dua inti, sedangkan kista matang mempunyai empat inti yang terletak di satu kutub.
Melekatnya Giardia Lamblia pada sel epitel usus halus tidak selalu menimbulkan gejala. Bila ada, hanya berupa iritasi ringan. Perubahan histopatologi pada mukosa dapat minimal berat hingga menyebabkan atrofi vilus, kerusakan eritrosit, dan hyperplasia kriptus, seperti tampak pada sindrom malabsorbsi. Terdapat korelasi antara derajat kerusakan vilus dengan malabsorbsi. Tekanan hisapan dari perlekatan tropozoit menggunakan batil isap dapat merusak mikrovili dan mengganggu proses absorbs makanan. Selain itu multiplikasi tropozoit dengan belah pasang longitudinal akan menghasilkan sawar antara sel epitel usus dengan lumen usus yang mengganggu proses absorbs makanan dan nutrient. Tropozoit tidak selalu penetrasi ke epitel tetapi dalam kondisi tertentu tropozoit dapat menginvasi jaringan seperti kandung empedu dan saluran kemih.
Setengah dari orang yang terinfeksi G. Lamblia asimtomatik dan sebagian besar dari mereka menjadi pembawa (carrier). Gejala yang sering terjadi adalah diare berkepanjangan, dapat ringan dengan produksi tinja semisolid atau dapat intensif dengan produksi tinja cair. Jika tidak diobati diare akan berlangsung hingga berbulan-bulan. Infeksi kronik dicirikan dengan steatore karena gangguan absorbs lemak serta terdapat gangguan absobsi karoten, folat, dan vitamin B12. Penyerapan bilirubin oleh G.Lamblia menghambat aktivitas lipase pankreatik. Kelainan fungsi usus halus ini disebut sindrom malabsorbsi klasik dengan gejala penurunan berat badan, kelelahan, kembung, feses berbau busuk. Selain itu, sebagian orang dapat mengeluhkan ketidaknyamanan epigastrik, anoreksia, dan nyeri.