BAB V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan
BAKTI MASYARAKAT SEBAGAI ALAT PENDIDIKAN
I. PENDAHULUAN
1. Bakti Masyarakat mengandung arti mengerjakan sesuatu secara sukarela untuk kepentingan masyarakat. 2. Salah satu janji pramuka (Trisatya) berbunyi "menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri/ikut serta membangun masyarakat", sehingga kegiatan bakti masyarakat adalah kegiatan kepramukaan yang menjadi media penanaman dan pengamalan Kode Kehormatan Pramuka. 3. Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Bapak Pramuka Indonesia, pada World Scout Conference ke-23
di Tokio tahun 1970, dalam prasarannya beliau mengatakan:
"...ikut sertanya Pramuka-pramuka dalam kegiatan pembangunan bangsa adalah syarat mutlak demi kelanjutan hidup kepramukaan sebagai organisasi dunia. Kita dapat tetap taat kepada dasar prinsip-prinsip moral kepramukaan, tetapi kita harus memperbaharui acara-acara kegiatan kepramukaan yang sesuai dengan aspirasi generasi muda kita, dan dengan kebutuhan masyarakat kita..."
4. Dengan kegiatan bakti masyarakat diharapkan akan tercapai dua sasaran, yaitu: a. menamkan jiwa kesukarelaan untuk berbakti kepada masyarakat, lingkungan, bangsa dan negara, serta memberikan kebanggaan kepada para pelakunya atas karya bakti yang pernah dilakukan. b. Gerakan Pramuka mendapat simpati dan dukungan dari masyarakat.
II. MATERI POKOK
1. Dari sudut peserta didik, setelah mengikuti kegiatan bakti masyarakat mereka: a. menemukan manfaat perlunya hidup bergotong-royong;
b. meningkat kepeduliannya terhadap masyarakat dan lingkungannya;
c. memiliki keterampilan praktis, sebagai modal dalam pengabdiannya pada masyarakat; d. meningkat kemampuannya dibidang kepemimpinan dan manajerial khususnya dalam hal kegiatan
bakti masyarakat;
e. meningkat rasa percaya diri dan tanggungjawabnya;
f. adanya peningkatan atas kemantapan spiritual/metal dan moral keagamaannya, fisik, intelektual, emosional serta kemantapan sosialnya;
g. tumbuh dan berkembang jiwa dan sikap kewirausahannya.
2. Sumbangan Gerkan Pramuka terhadap pembangunan masyarakat/bakti masyarakat, diantaranya: a. Pramuka akan menggladi dirinya sendiri, untuk dapat melaksanakan tugas yang akan dilakukan
dalam bakti masyarakat;
b. mereka dapat mempelajari tentang kehidupan di masyarakat, mereka dapat belajar untuk memahami perlunya ikut bertanggung jawab atas adanya pembangunan masyarakat; c. secara pribadi maupun bersama, mereka dapat berpartisipasi untuk membangun masyarakat. Mereka dapat menemukan kebutuhan masyarakat dan kegiatan apa, untuk dapat membantu memecahkan masalah yang terdapat di masyarakat tersebut.
3. Menentukan program bakti masyarakat
Terdapat dua kemungkinan timbulnya program bakti masyarakat, ialah: a. program partisipatif : artinya program disusun oleh lembaga/badan/
organisasi lain sedang para pramuka hanyalah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut pada pelaksanaan bakti masyarakat sesuai dengan kemampuannya;
b. program yang disusun sendiri oleh gudep:
1) dalam proses penyusunannya para pramuka yang diwakili oleh Dewan Satuan mereka dilibatkan langsung untuk ikut serta menyusunnya;
2) hal-hal yang perlu diperhatikan ketika akan menyusun program bakti masyarakat, diantaranya ialah:
a) mencari tahu kebutuhan masyarakat yang akan ketempatan acara bakti; b) menghimpun beberapa alternatif kegiatan bakti yang kemungkinan dapat dilaksanakan
oleh para pramuka;
c) menghitung kemungkinan jumlah dana yang harus disiapkan; d) merancang cara pelaksanaan bakti masyarakat;
e) mempertimbangkan kemungkinan faktor-faktor pendukung yang diperlukan maupun penghambatnya.
3) Beberapa kemungkinan jenis dan macam kegiatan bakti masyarakat yang dapat dilakukan oleh para Pramuka, ialah:
a) bidang kesehatan masyarakat: - pemberantasan nyamuk - sanitasi lingkungan
- penyelenggaraan posyandu - penerangan Gizi
- penanaman tanaman apotik hidup dan manfaatnya bagi kesehatan b) bidang sosial budaya
- membelajarkan masyarakat agar melek huruf dan angka - mengadakan pentas seni
c) bidang ekonomi kerakyatan:
- merintis kemungkinan usaha rumah (home industry) sesuai dengan sumberdaya alam yang tersedia di daerah tersebut
- memberikan penerangan dan merintis adanya koperasi d) bidang pembangunan pisik fasilitas umum diantaranya:
- perbaikan jalan, jembatan, tempat-tempat ibadah dan saluran pembuangan air; - pembangunan saluran/pipanisasi air bersih;
- penghijauan, reboisasi, pelestarian alam; e) tanggap darurat:
- menolong akibat terjadinya bencana alam, dengan jalan: ikut serta dalam usaha rehabilitasi rumah, merawat lingkungan sehat di tempat-tempat penampungan, pelaksana dapur umum, trauma healing, dll.
c. Cara menyusun program bakti masyarakat
Dengan melibatkan para peserta didik, kwartir melakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1) mengadakan observasi lokasi yang akan dijadikan objek bakti masyarakat, untuk menemukan: a) mengadakan observasi lokasi yang akan dijadikan obyek bakti masyarakat, untuk
menemukan:
- kebutuhan masyarakat setempat - potensi daerah dan masyarakatnya - kondisi lingkungan
- faktor-faktor penunjang maupun penghambat - budaya masyarakat setempat
b) menyusun panitia pelaksana yang akan mengelola pelaksanaan bakti masyarakat c) menyusun kemungkinan alternatif kegiatan bakti
d) mengadakan pendekatan dengan kepala desa/kelurahan dan para tokoh masyarakat dengan menginformasikan program
e) menggali sumber dana yang mungkin dapat mendukung program bakti masyarakat yang akan diselenggarakan.
4. Pelaksanaan bakti masyarakat
Ditinjau dari bentuknya bakti masyarakat dapat dibedakan menjadi:
a. Bakti masyarakat yang dilaksanakan secara serentak oleh semua anggota Gerakan Pramuka, dilaksanakan tidak dalam perkemahan. Acara bakti masyarakat yang dilakukan secara masal semacam ini biasanya terdiri dari kegiatan: kebersihan lingkungan, kebersihan tempat-tempat ibadah, kebersihan sekolah, penghijauan, dsb. yang dapat dilakukan dalam waktu singkat
72
Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Lanjutan Golongan Penegakb. Kegiatan bakti masyarakat dengan berkemah, hal ini dilakukan karena obyek kegiatan cukup kompleks dan bervariasi.
Macam-macam Perkemahan Bakti, dibedakan atas peserta/pelakunya, serta obyek kegiatannya adalah sebagai berikut:
1) Perkemahan Bakti Penggalang, diikuti oleh para Pramuka Penggalang 2) Perkemahan Bakti Karya Pramuka (Pertisaka), perkemahan bakti yang dilakukan oleh para Pramuka Penegak dan Pandega yang mengikuti kegiatan Saka; sesuai dengan spesifikasi Saka, Pertisaka dapat dibedakan menjadi:
a) Perti Saka Bahari b) Perti Saka Bhayangkara c. Perti Saka Bakti Husada d. Perti Saka Dirgantara e. Perti Saka Kencana f. Perti Saka Tarunabumi g. Perti Saka Wanabakti h. Perti Saka Wirakartika
3) Perkemahan Wira Karya (PW), diikuti oleh para Pramuka Penegak dan Padega dengan acara kegiatan tidak hanya sebagai Bakti Masyarakat (Community Development) sehingga Perkemahan Wirakarya (PW) dikatakan juga sebagai Community Development Camp atau
Comdeca.
Semua kegiatan tersebut di atas sedapat mungkin melibatkan masyarakat setempat, bergotong royong bekerjasama dalam membangun desa, dengan harapan hal-hal yang telah dikerjakan pramuka pada kegiatan tersebut dapat mereka pelihara dan lestarikan. 4) Panitia Pelaksana kegiatan bakti masyarakat maupun pembangunan masyarakat pada Perkemahan Bakti Penggalang, Perkemahan Bakti Saka dan Perkemahan Wirakarya (PW) hendaknya dipercayakan kepada para Pramuka Penegak dan Pandega dengan bimbingan dan bantuan Pembina Pramuka sebagai konsultan mereka, agar kegiatan tersebut merupakan media pendidikan kepemimpinan dan manajemen sehingga mereka akan mendapat pengalaman yang praktis dalam mengelola kegiatan.
III. PENUTUP
Kegiatan Bakti Masyarakat dapat diikuti oleh Pramuka Siaga, Pramuka Penggalang, Pramuka Penegak, Pramuka Pandega, maupun para Pembina; yang membedakan dari kegiatan untuk Siaga, Penggalang, Penegak dan Pandega, adalah bobot kegiatannya yang disesuaikan dengan kemampuan maupun perkembangan jiwa mereka.