KOMITMEN PEMERINTAH TERHADAP PERLINDUNGAN INDUSTRI DOMESTIK MELALUI SAFEGUARD DAN ANTI-DUMPING
B. Kepentingan yang Menjadi Landasan Kebijaksanaan Indonesia Terlibat Dalam Word Trade Organisatioiz (WTO)
3. Bantuan luar negeri, penalaman modal asing dan ekspor
Laju pertumbuhan yang berkelanjutan tersebut memerlukan arus modal dari luar &lam bentuk bantuan pinjaman dari luar negeri maupun arus modal asing karena tingkat tabungan dalam negeri tidak dapat membiayai kegiatan apabila yang ingin dituju adalah laju pertumbuhan yang tinggi. Karena itu sejak awal program pembangunan, komponen eksteren yang telah memegang peranan kunci. Pembiayaan komponen eksteren terbantu oleh adanya rnigas yang pada tahun 1970-an mengalami perbaikan harga sehingga pendapatan devisa dari minyak banyak membantu.
Untuk mencapai tujuan keberhasilan, ada asumsi yang hams dijaga, yaitu bahwa perekonornian dunia akan tetap terbuka dan dapat merumuskan strategi pembangunan melalui peningkatan ekspor dan impor yang dapat dijamin dengan adanya keterbdaan perekonomian dunia. l5
Dengan melihat tiga landasan yang menjadi pertimbangan pemerintah seperti yang telah dijelaskan di atas, maka jelas terlihat bahwa pemerintah dalam upaya meningkatkan tarap hidup kesejahteraan masyarakat menjadikan ekspor dan impor sebagai sebuah ssarana dan rencana penlbangunan perekonomian jangka panjang. Hal tersebut menarik, karena disatu sisi
14 Kartadjumena, GAiT dun WTO, Sistem Forum Dan Lembaga Internasional di Bidang Perdugangan, cetakan pertama, (Jakarta: UT Press, 1996), hlm. 234
l5 Ibid, hlm. 235
dengan adanya upaya liberalisasi ekonomi, pemerintah berupaya mengangkat perekonomian Indonesia di mata dunia dengan harapan dapat meningkatkan pendapatan ekonomi setinggi mungkin, akan tetapi disisi lain dengan adanya Kepres Nomor 84 Tahun 2002 dan aturan-aturan serupa lainya seakan menjadikan imej baru, bahwa pemerintah menganut sistem ekonomi yang protektif terhadap industri-industri luar yang ingin masuk dan bersaing di Indonesia melalui impor barang domestiknya.
Realisasi sistem ekonomi protektif tersebut dibuktikan dengan dibentuknya Tim Penanggulangan Perdagangan Bebas (TPPB). Tim tersebut dibentuk guna antisipasi dampak negatif bagi pengusaha lokal terhadap lonjakan barang impor yang dapat menimbdkan kerugian atau ancaman kerugian bagi industri domestik serta sebagai upaya pencegahan masuknya barang-barang gelap ke Indonesia
Tugas lain dari tim ini adalah penguatan ekspor dengan mengintroduksi produk-produk inovatif. Kemudian, melakukan pengarnanm pasar domestik berdasarkan hak yang dirniliki berdasarkan World Trade Organization (WTO). Ada banyak hak yang telah dijaminkan di dalam artikel atau pasal WTO yang belum dimanfaatkan Indonesia, di antaranya terkait Artikel III
?$TO yang mengatur mengenai pajak. Dalam artikel ini, tidak diperkenankan terjadinya diskriminasi pajak. Narnun pemerintah sendiri sering kali memberikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) irnpor saja sedangkan PPN dalam negerinya tidak.
Ada beberapa kendala yang mernicu hal tersebut. Seperti, daya saing masih rendah karena tingkat produktivitas dan penguasaan pendidikan latihan yang rendah. Ketiadaannya produk unggulan sehingga menyebabkan akses pemasaran menjadi sulit akibat pasar di Lndonesia mudah diintervensi oleh negara lain. l6
Regulasi Tindakan Pengamanan (Safeguard) di Indonesia
Menurut Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 37N-DaglPer/9/2008 bahwa yang dimaksud dengan Tindakan Pengamanan (safeguards) adalah tindakan yang diambil pemerintah untuk mernulihkan kerugian serius atau mencegah ancaman kerugian serius industri dalam negeri sebagai akibat dari lonjakan impor barang sejenis atau barang yang secara langsung merupakan saingan hasil industri dalam negeri dengan tujuan agar industri dalam negeri yang mengalami kerugian serius atau ancaman kerugian serius tersebut dapat melakukan penyesuaian stmdctural."
Berdasarkan ketentuan tersebut bahwa safeguards adalah tindakan pengamanan yang dilakukan oleh pemerintah Negara pengimpor untuk mernulihkan kerugian serius atau mencegah adanya ancaman kerugian serius terhadap industri dalam negeri akibat dari lonjakan impor berang sejenis atau barang yang secara langsung bersaing.
l6 http:/~hukumonline.com/berita/bac~o12256O/tim-penanggulangan-acR-dibentuk, akses 09 Desember 20 1 1
l7 Lihat Pasal 1 Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 37lM-Dag/Per/9/2008 Tentang Surat Keterangan Asal (Certificate Of Origin) Terhadap Barang h p o r Yang Dikenakan Tindakan Pengamanan (Salfeguarh).
Tindakan tersebut digunakan oleh Negara-negara anggota WTO untuk melindungi industri dalam negeri yang bersifat non-diskriminat$ Dengan demikian, bahwa tindakan pengamanan (safeguard) adalah bertujuan untuk melakukan perlindungan atau untuk melakukan proteksi terhadap produk industri dalam negeri dari lonjakan impor yang merugikan atau yang mengancam kerugian produk industri dalam negeri yang memproduksi barang sejenis. l8
Beradasarkan pemaparan di atas, maka sebuah tindakan pengamanan (safeguard) memiliki beberapa ketenttmn khusus yang dapat menentukan bahwa suatu tindakan dapat dikatakan sebuah tin.dakan pengamanan ataukah tidak, Adapun heteria yang menjadi syarat sahnya tindakan pengarnanan tersebut, yaitu:
1. Tindakan tersebut dilakukan pemerintah.
Sesuatu yang dilakukan pemerintah untuk mengamankan industri lokalnya dari kerugian serius atau ancaman kerugian serius yang terjadi akibat berlimpahnya produk impor yang masuk ke Indonesia. Dalam ha1 ini yang mempunyai peran adalah pemerintah sebagai pembuat kebijakan untuk bertindak melakukan pengaman industri dalam negerinya, bukan pelaku usaha langsung yang terlibat dalam melakukan tindakan pengamanan tersebut.
l8 Mohammad Sood, Hukum Perdugongan Internasiona1,cetakan pertama, (Jakarta:
Rajawali Pers, 20 1 1 ), hlm. 2 14
2. Terdapat kerugian serius atau ancarnan kerugian serius.
Maksud dari kerugian serius disini adalah kerugian nyata yang diderita oleh industri dalam negeri. Sedangkan yang dimaksud dengan ancaman kerugian serius adalah ancaman terjadinya kerugian serius yang akan diderita dalam waktu dekat oleh industri dalam negeri yang diakibatkan melonjaknya impor dari luar. l9
3. Tindakan tersebut bertujuan untuk melindungi atau memulihkan industri dalam negeri.
4. Terdapat barang sejenis.
Barang sejenis adalah barang produksi dalam negeri yang identik atau sama dalam segala hal dengan barang terselidik atau barang yang memiliki karakteristik fisik, tehnik, atau kirniawi menyerupai barang terselidik diaksud.
5. Terdapat barang yang secara langsung bersaing
Barang yang secara langsung bersaing adalah barang produksi dalam negeri yang merupakan barang sejenis atau substitusi barang terselidik?'
Tindakan pengamanan (safeguard) dalam sistem hukum Indonesia diatur dalam Kepres Nornor 84 Tahun 2002 Tentang Tindakan Pengamanan Industri Dalam Negeri dari Akibat Lonjakan Impor serta Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2008 Tentang Surat
-
19 Lihat Pasal 1 Kepres Nomor 84 Tahun 2002, Tentang Tindakan Pengamanan Industri Dalam Negeri Dari Akibat Lonjakan Impor
'%rang terselidik adalah barang yang impomya mengalami lonjakan sehingga mengakibatkan kerugian serius atau ancaman kerugian serius industri dalam negeri.
Keterangan Asal (Certzjicate of Origin) Terhadap Barang Impor yang Dikenakan Tindakan Pengamanan (Safepards).
Dalam Kepres Nomor 84 Tahun 2002 mencakup beberapa ha1 yang terkait dengan tata cara tindakan pengamanan, diantaranya meliputi ruang lingkup, pembuktian, tindakan pengamatan sementara, penentuan kerugian serta penyelidikan sedangkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2008 meliputi bagian pelengkap dari Kepres IVomor 84 Tahun 2002, seperti surat keterangan asal (certificate of origin), ketentuan importir yang mengirnpor barang dari negara-negara yang dikecualikan dari pengenaan bea masuk tambahan safeguards danfatau kuota serta tindakan pengamanan (safeguards).
1. Kepres Nomor 84 Tahun 2002 Tentang Tindakan Pengarnanan Industri Dalam Nege~i dari Akibat Lonjakan Impor
Dalam Pasal 2 Kepres Nomor 84 Tahun 2002 dijelaskan bahwa ruang lingkup untuk tidak pengamanan (safeguar@) mencakup seluruh industri dalam negeri yang mengalami kerugian serius dan atau ancaman kerugian serius akibat lonjakan impor baik secara relatif atau absolut yang masuk ke wilayah Indonesia.
Adapun dalam hal penyelidikan terhadap adanya dugaan lonjakan dari barang irnpor yang sejenis dapat dielompokkan menjadi beberapa tahap, yaitu tahap permohonan pihak yang berkepentingan, jangka waktu permohonan, putusan komite
terhadap permohonan penetapan oleh komite sampai pada tahap
a. Permohonan
1) Pihak berkepentingan dapat mengajukan permohonan kepada Kornite untuk melakukan penyelidikan atas lonjakan impor yang mengakibatkan kerugian serius atau ancaman kerugian serius industri dalam negerL2l 2) Pihak yang mengajukan permohonan dapat menarik kembali permohonan penyelidikan yang diajukan kepada Kornite. Dalam hal hasil penyelidikan ternyata tidak ada bukti kuat yang menunjukkan industri dalam negeri mengalami kerugian serius dan atau ancaman kerugian serius sebagai akibat dari lonjakan impor, Komite menghentikan penyelidikan
3) Permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)