Dosen Pendidikan Matematika Fakultas Tarbiyah IAIN Ambon ABSTRAK
Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Maka mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dan sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama, agar lulusan sekolah menengah diharapkan dapat membangun, menerapkan informasi dan pengetahuan dan dapat menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif dan inovatif dalam pengambilan keputusan. Dalam proses pembelajaran di dalam kelas, guru tidak terlepas dari masalah-masalah yang dialami oleh peserta didik, selain metode atau pendekatan pembelajaran yang diterapkan, fungsi pengelolaan kelas sangat mendasar sekali guna meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dengan baik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas XI MAN 1 Ambon pada pokok bahasan suku banyak dengan mengoptimalkan pengelolaan kelas. Subjek penelitian dalam penelitian ini berjumlah dua peserta didik yang memiliki tingkat kemampuan berpikir kritis di atas rata-rata ( 60%). Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan tahap-tahap berdasarkan pendapat Milles dan huberman (reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan).
Berdasarkan Hasil yang diperoleh, ditemukan bahwa fungsi pengelolaan kelas sangat berpengaruh penting dalam pembelajaran, sehingga peserta didik dapat berpikir kritis dengan baik. Hal ini terbukti dengan adanya S1 dan S2 yang mampu menyelesaikan soal pokok bahasan suku banyak secara baik, sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis menurut Robert Ennis.
Kata kunci : Berpikir kritis, pengelolaan kelas PENDAHULUAN
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Dengan kata lain, kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadi proses
belajar mengajar. Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur anak didik dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran. Juga hubungan interpersonal yang baik antara guru dan anak didik dan anak didik dengan anak didik, merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas.16
Tidak lepas dari tujuan pendidikan, matematika yang merupakan salah satu mata pelajaran pada pendidikan menengah atas, mempunyai tujuan meningkatkan kecerdasan dalam berpikir logis, pengetahuan tentang matematika, keterampilan dalam berhitung dan syarat untuk mengikuti pendidikan lebih lanjut. Tujuan tersebut menjadikan perlunya pelajaran matematika pada jenjang-jenjang pendidikan sekolah. Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Sehingga, lulusan sekolah menengah diharapkan dapat membangun, menerapkan informasi dan pengetahuan dan dapat menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif dan inovatif dalam pengambilan keputusan.
Terkait dengan tujuan pendidikan menengah, maka berpikir kritis yang bertujuan membuat peserta didik dapat memutuskan apa yang diyakini atau di kerjakan, sangat berperan penting dalam proses belajar mengajar, karena berpikir kritis sebagai jantung pembelajaran di kelas guna memperoleh pengetahuan.17
Keberadaan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I Ambon, dengan prestasi akademis yang diraih seperti perolehan kejuaraan olympiade ilmu pengetahuan maupun dalam bidang karya ilmiah baik tingkat Propinsi maupun Kabupaten/Kota. Demikian pula berbagai prestasi dalam bidang kegiatan (Non Akademis) diantaranya kejuaraan PMR, Pramuka, Marching Band, MTQ untuk tingkat Propinsi, Kabupaten/Kodya memaksakan setiap guru untuk memberikan yang terbaik saat melakukan proses belajar mengajar kepada peserta didiknya.
16 Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta:PT.Rineka Cipta, 2006), hlm 173.
17 Dina Mayadiana Suwarma, Suatu Pembelajaran Kemempuan bepikir kritis Matematika, (Jakarta: Cakrawala Mahakarya, 2009).hlm. 13
Sekolah dengan jumlah peserta didik sekitar 500 orang dan tenaga pengajar sekitar 49 orang membuat MAN I Ambon menjadi salah satu sekolah menengah yang dituntut untuk menjadi sekolah menengah yang menghasilkan peserta didik yang cerdas, berpengetahuan, berkepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Berdasarkan pengalaman peneliti yang telah mengajar di MAN 1 Ambon semester I tahun ajaran 2011/2012 diketahui bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik yang mendapat pembelajaran konvensional antara lain:
1. Dalam setiap tes yang di lakukan, peserta didik memperoleh nilai matematika rata-rata adalah 4,5.
2. Pencapaian nilai tertinggi 7 3. Nilai terendah 1.
Pengalaman peneliti juga menemukan bahwa peserta didik kesulitan dalam memahami materi suku banyak yang disampaikan oleh guru, terutama dalam menentukan hasil bagi dan sisa pembagian. kemungkinan masalah-masalah yang timbul sehingga kemampuan berpikir kritis peserta didik minim atau kurang memuaskan, yaitu :
1. Penataan ruang kelas yang tidak sesuai, sehingga membuat suasana proses belajar mengajar sangat membosankan terutama bagi peserta didik.
2. Suasana di dalam kelas terasa sangat panas saat berlangsungnya pelajaran matematika yang di sampaikan pada jam ke-7 dan 8 atau pada pukul 12.00 - 01.30 WIT.
3. Pada saat yang bersamaan peserta didik kurang, bahkan tidak pernah mengajukan pertanyaan saat pembelajaran berlangsung sampai selesai. 4. Peserta didik terlihat tidak siap dalam menerima pelajaran.
Berpikir Kritis
Menurut John Dewey berpikir kritis adalah pertimbangan yang aktif, persistent (terus-menerus), dan teliti mengenai sebuah keyakinan atau bentuk pengetahuan yang diterima begitu saja dipandang dari sudut alasan-alasan yang mendukungnya dan kesimpulan-kesimpulan lanjutan yang menjadi
kecenderungannya. Karena begitu pentingnya, berpikir kritis pada umumnya dianggap sebagai tujuan utama dari pembelajaran. Menurut Edward Glaser, berpikir kritis adalah kemampuan-kemampuan untuk memahami masalah, menyeleksi informasi yang penting untuk menyelesaikan masalah, memahami asumsi-asumsi, merumuskan dan menyeleksi hipotesis yang relevan, serta menarik kesimpulan yang valid dan menentukan kevalidan dari kesimpulan-kesimpulan. Sedangkan menurut Robert Ennis – definisinya yang sudah beredar luas dalam bidang berpikir kritis – berpikir kritis adalah pemikiran yang masuk akal dan reflektif yang berfokus untuk memutuskan apa yang mesti dipercaya atau dilakukan.18
Dari beberapa pendapat di atas, yang dimaksud dengan berpikir kritis dalam penelitian ini adalah kemampuan untuk memahami masalah yang masuk akal dan refleksi yang berfokus untuk memutuskan apa yang mesti dipercaya atau dilakukan serta menarik kesimpulan yang valid.
Dalam kurikulum berpikir kritis, menurut Ennis terdapat dua belas indikator berpikir kritis yang dikolompokkan dalam lima kemampuann berpikir, yaitu (1) Memberikan penjelasan sederhana (elementary clarification), (2) Membangun keterampilan dasar (basic support), (3) Membuat inferensi (inferring), (4) Membuat penjelasan lebih lanjut (advanced clarification), (5) Mengatur strategi (strategies and tactics). Kelima kolompok indikator keterampilan berpikir kritis tersebut diuraikan lebih lanjut pada tabel berikut :19
Tabel. 2.1. Indikator berpikir kritis Keterampilan
berpikir kritis
Sub keterampilan
berpikir kritis Penjelasan
1. Memberikan penjelasan sederhana (elementary clarification) 1. Memfokuskan pertanyaan a. Mengidentifikasi atau merumuskan pertanyaan
b. Mengidentifikasi kriteria- kriteria untuk mempertimbangkan jawaban yang mungkin. c. Menjaga kondisi pikiran. 2. Menganalisa
argumen.
a. Mengidentifikasi kesimpulan. b. Mengidentifikasi alasan (sebab)
18
Alec Fisher, Berpikir Kritis (Sebuah Pengantar), hlm. 2.
19 Dina Mayadiana Suwarma, Suatu Pembelajaran Kemampuan berfikir kritis Matematika, hlm. 13
yang dinyatakan (eksplisit). c. Mengidentifikasi alasan (sebab)
yang tidak dinyatakan (implisit). d. Mengidentifikasi
ketidakrelevelan dan kerelevelan.
e. Mencari persamaan dan perbedaan.
f. Mencari struktur suatu argumen. g. merangkum 3. bertanya dan menjawab pertanyaan klarifikasi dan pertanyaan yang menantang. a. Mengapa.
b. Apa intinya, apa artinya.
c. Apa contohnya, apa yang bukan contohnya.
d. Bagaimana menerapkannya dalam kasus tersebut. e. Perbedaan apa yang
menyebabkan.
f. Akankah anda menyatakan lebih dari itu 2. Membangun keterampilan dasar (basic support), 1. Mempertimbangka n keredibilitas (kriteria) suatu sumber a. Ahli.
b. Tidak adanya konflik internal c. Kesepakatan antara sumber. d. Reputasi
e. Menggunakan prosedur yang ada
f. Mengetahui resiko.
g. Kemampuan memberi alasan. h. Kebiasaan hati-hati.
2. Mengobservasi dan mempertimbang kan hasil observasi
a. Ikut terlibat dalam menyimpulkan.
b. Dilaporkan oleh pengamat sendiri.
c. Mencatat hal-hal yang diinginkan.
d. Penguatan (collaboration) dan kemungkinan penguatan. e. Kondisi akses yang baik. f. Penggunaan teknologi yang
kompeten.
g. Kepuasan observer atas kredibilitas criteria. 3. Membuat
kesimpulan
1. Membuat deduksi dan
a. Kelompok yang logis. b. Kondisi yang logis.
(inferring), mempertimbangka n hasil deduksi. c. Interpretasi pernyataan. 2. Membuat induksi dan mempertimbangka n induksi a. Membuat generalisasi b. Membuat kesimpulan dan
hipotesis. 3. Membuat dan
mempertimbangka n nilai keputusan
a. Latar belakang fakta. b. Konsekuensi. c. Penerapan prinsip-prinsip d. Memikirkan alternative. e. Menyeimbangkan memutuskan. 4. Membuat penjelsan lebih lanjut (advanced clarification) 1. Mendefinisikan istilah, mempertimbangkan definisi
a. Bentuk: sinonim, klasifikasi, rentang, ekspresi yang sama, operasional, contoh dan noncontoh.
b. Strategi definisi (tindakan mengidentifikasi persamaan) c. Konten (isi)
2. Mengidentifikasi asumsi
a. Penalaran secara implicit. b. asumsi yang diperlukan,
rekontruksi, argument. 5. Mengatur strategi (strategies and tactics). Memutuskan suatu tindakan a. Mendefinisikan masalah b. Menyeleksi criteria untuk
membuat solusi
c. Merumuskan alternative yang memungkinkan
d. Memutuskan hal-hal yang akan dilakukan secara tentative. e. Mereview
f. Memonitor implementasi
Pengelolahan Kelas
Pengelolaan kelas menurut Suharsimi Arikonto, sebagaimana yang dikutip oleh Pupuh Fathurrahman dan Sobry Sutikno, “pengelolaan kelas merupakan suatu usaha yang dilakukan guru untuk membentuk, menciptakan kondisi belajar yang optimal”.20
20 Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui Konsep
Sedangkan menurut Syaiful Bahri Djamarah,21 pengelolaan kelas adalah suatu upaya memberdayagunakan potensi kelas yang ada seoptimal mungkin untuk mendukung proses interaksi edukatif mencapai tujuan pembelajaran.
Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung pada tujuan pendidikan dan secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam.macam kegiatan belajar peserta didik sehingga subjek didik terhindar dari permasalah mengganggu seperti peserta didik mengantuk, enggan mengerjakan tugas, terlambat masuk kelas, mengajukan pertanyaan aneh dan lain sebagainya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah menyediakan, menciptakan dan memelihara kondisi yang optimal di dalam kelas sehingga peserta didik dapat belajar dan bekerja dengan baik. Selain itu juga guru dapat mengembangkan dan menggunakan alat bantu belajar yang digunakan dalam proses belajar mengajar sehingga dapat membantu peserta didik dalam mencapai hasil belajar yang diinginkan.
Menurut Ahmad Rohani, ada tiga pendekatan dalam pengelolaan kelas, yaitu pendekatan modifikasi perilaku, pendekatan sosio-emosional, dan pendekatan proses kelompok.22
1. Pendekatan modifikasi perilaku (Behavior-Modification Approach)
Pendekatan ini didasari oleh psikologi behavioral yang menganggap perilaku manusia yang baik maupun yang tidak baik merupakan hasil belajar. Oleh sebab itu perlu membentuk, mempertahankan perilaku yang dikehendaki dan mengurangi atau menghilangkan perilaku yang tidak dikehendaki.
2. Pendekatan Iklim Sosio-Emosional (Socio-Emotional Climate Approach) Pendekatan sosio-emosional bertolak dari psikologi klinis dan konseling. Pandangannya adalah bahwa proses belajar-mengajar yang berhasil mempersyaratkan hubungan sosio-emosional yang baik antara guru dengan subyek didik.
3. Pendekatan Proses Kelompok (Group-Process Approach)
21
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif (Jakarta:Rineka Cipta,2005), hlm.173.
Pendekatan proses kelompok berangkat dari psikologi sosial dan dinamika kelompok, dengan anggapan bahwa proses belajar-mengajar yang efektif dan efisien berlangsung dalam konteks kelompok. Untuk itu guru harus mengusahakan agar kelas menjadi suatu ikatan kelompok yang kuat.23
Dapat penulis simpulkan bahwa pengalaman belajar peserta didik didapat dari kegiatan kelompok di mana dalam kelompok terdapat norma-norma yang harus diikuti oleh anggotanya, terdapat tujuan yang ingin dicapai, adanya hubungan timbal balik antar anggota kelompok untuk mencapai tujuan, serta memelihara kelompok yang produktif.