• Tidak ada hasil yang ditemukan

Patma Sopamena

Dosen Pendidikan Matematika Fakultas Tarbiyah IAIN Ambon

ABSTRAK

Kreativitas dalam pendekatan matematika realistik menekankan agar peserta didik dapat mengkontruksikan ide yang dimiliki untuk memecahkan masalah secara kreatif dengan menggunakan konteks dunia nyatanya pada pembelajaran matematika. Penelitian ini bersifat dekriptif kualitatif.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kreativitas peserta didik dalam pendekatan matematika realistik pada pembelajaran matematika materi operasi hitung campuran peserta didik kelas II SD Muhamadiyah Ambon. Variabel penelitian ini adalah dengan menggunakan variabel tunggal yaitu kreativitas peserta didik dalam pendekatan matematika realistik pada pembelajaran matematika. Populasi pada penelitian ini adalah peserta didik kelas II yang berjumlah 63 orang dengan sampel penelitian sebanyak 3 orang. Teknik pengumpalan data yang digunakan yaitu dengan mengunakan Observasi, wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui subjek penelitian memiliki kreativitas yaitu dorongan ingin tahu karena mengajukan pertanyaan, mempunyai pendapat sendiri, dapat menggungkapkanya serta tidak terpengaruh pendapat temanya karena mempunyai jawaban sendiri dan dapat menyampaikanya. Orisinalitas karena memanfaatkan media kertas, batu dan lidi untuk menghitung, dapat bekerja sendiri karena kemandirian mengerjakan tugas dan senang mencoba hal-hal baru karena berpartisipasi pada awal pembelajaran dengan menggunakan media permen yang selama ini belum pernah dilakukan oleh subjek.

Kata kunci : Kreativitas, Pendekatan Matematika Realistik, Operasi Hitung Campuran

PENDAHULUAN

Penggunaan metode yang tepat terutama pada bidang matematika dapat mengaktifkan peserta didik dan meningkatkan kreativitas peserta didik dalam memahami materi yang disampaikan dimana pembelajaran matematika yang

selama ini selalu dipengaruhi pandangan bahwa matematika adalah alat yang dipakai, sehingga pandangan ini mendorong guru cenderung hanya memberi tahu konsep atau teorema dan cara menggunakanya. Guru cenderung mentransfer ilmu pengetahuan yang dimiliki ke pikiran peserta didik dan peserta didik menerima secara pasif dan tidak kritis. Adakalanya peserta didik mampu menjawab setiap soal yang diberikan oleh guru dengan benar namun peserta didik tidak mampu untuk mengungkapkan alasan atas jawabanya sendiri. keadaan tersebut terjadi karena dalam proses pembelajaran peserta didik kurang diberi kesempatan dalam mengungkapkan ide-ide dan alasan atas jawaban yang diberikan sehingga peserta didik menjadi kurang terbiasa untuk mengugkapkan ide-ide atau alasan dari jawabanya.

Pendekatan matematika realistik menekankan guru untuk membawa matematika pada pengajaran bermakna dengan mengaitkan matematika dengan kehidupan nyata sehari-hari peserta didik yang bersifat realisrik. Pendekatan matematika realistik dikembangkan berdasarkan pemikiran Hans Freudenthal yang berpendapat bahwa matematika merupakan aktivitas insani (human Activities) yang harus dikaitkan dengan realitas. Dalam pendekatan ini peserta didik disajikan masalah-masalah yang bersifat kontekstual yakni masalah-masalah yang berkaitan dengan situasi realistik. Realistik dalam hal ini merupakan suatu situasi yang dapat dibayangkan oleh peserta didik atau membayangkan situasi dalam dunia nyata peserta didik. Pendekatan ini menerapkan 5 langkah yaitu: memahami masalah kontekstual, menjelaskan masalah kontekstual, menyelesaikan masalah kontekstual, membandingkan dan mendiskusikan jawaban dan langkah terakhir yaitu menarik kesimpulan.

Keberhasilan pembelajaran tidak hanya dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran yang digunakan tetapi juga dipengaruhi oleh kreativitas yang dimiliki peserta didik. peserta didik yang kreatif dalam proses belajar mengajar dimungkinkan memiliki prestasi belajar yang tinggi karena, lebih mudah mengikuti pembelajaran. Pada kenyatanya tidak sedikit dijumpai peserta didik yang berprestasi tinggi namun memiliki kreativitas yang rendah, hal ini karena banyak peserta didik yang mencapai keberhasilan akademis tetapi hanya sedikit

yang menunjukan kreativitas pada proses belajar mengajar. Kurangnya prestasi belajar peserta didik juga disebabkan oleh kurangnya pemahaman akan materi yang diberikan yang salah satu faktornya yaitu kurangnya pengetahuan dasar akan ilmu matematika itu sendiri hal tersebut tercermin dari pengetahuan dasar dalam menghitung bilangan yang salah satu yaitu pada operasi hitung campuran, materi tersebut bagi seorang peserta didik marupakan dasar atau pondasi dalam memahami materi pada tingkatan selanjutnya.

Penyampaian materi yang begitu jauh dari pemahaman peserta didik dan hal ini juga berlaku pada SD Muhammadiyah Ambon, berdasarkan wawancara singkat dengan salah satu peserta didik pada sekolah tersebut dimana peserta didik yang bersangkutan tidak memahami materi yang diajarkan karena penyampaian materi yang tidak bisa dipahami.

Pendekatan Matematika Realistik

Pendekatan Matematika Realistik tidak dapat dipisahkan dari institude fraudenthal. Institute ini didirikan pada tahun 1971, berada dibawah Utrecht university belanda. Nama institut ini diambil dari nama pendirinya yaitu Hans Freudenthal yang berkebangsaan jerman-belanda. Pendekatan matematika realitik menggabungkan pandangan tentang apa itu matematika, bagaimana peserta didik belajar matematika dan bagaimana matematika harus diajarkan.

Pendekatan matematika realistik dikembangkan berdasarkan pemikiran Hans Freudenthal yang berpendapat bahwa matematika merupakan aktivitas insani (Human Activities) yang harus dikaitkan dengan realitas. Berdasarkan pemikiran tersebut Pendekatan Matemtika Realistik mempunyai ciri antara lain bahwa dalam proses pembelajaran siswa harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali (to reinvent) matematika melalui bimbingan guru, dan bahwa penemuan kembali (Reinvention) ide dan konsep matematika tersebut harus dimulai dari penjelajahan sebagai situasi dan persoalan “dunia rill”.

Pendekatan matematika realistik dilakukan dengan mengaitkan dan melibatkan lingkungan sekitar peserta didik, pengalaman nyata yang pernah dialami peserta didik dalam kehidupan sehari-hari dan menjadikan matematika

sebagai aktivitas peserta didik. Dengan pendekatan matematika realistik peserta didik tidak hanya dibawa kedunia nyata melainkan juga berhubungan langsung dengan masalah situasi nyata yang ada dalam pikiran peserta didik. Jadi peserta didik diajak berpikir bagaimana menyelesaikan masalah yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari.

Langkah-langkah pembelajaran dengam menggunakan Pendekatan Matematika Realistik adalah sebagai berikut

1. Mamahami masalah kontekstual 2. Menjelaskan masalah kontekstual 3. Memyelesaikan masalah kontekstual 4. Membandingkan mendiskusikan jawaban 5. Menarik kesimpulan

Menurut De Lange, pembelajaran matematika dengan pendekatan matematika realistik meliputi aspek-aspek berikut:

a. Memulai pelajaran dengan menggajukan masalah (soal) yang “rill” bagi peserta didik sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuanya sehingga peserta didik segera terlibat dalam pembelajaran secara bermakna.

b. Permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai

c. Peserta didik mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap persoalan atau masalah yang diajukan.

d. Pengajaran berlangsung secara interaktif: peserta didik menjelaskan dan memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikanya, memahami jawaban temanya (peserta didik lain), setuju terhadap jawaban temanya, menyatakan ketidaksetujuanya, mencari alternatif penyelesaian yang lain dan melakukan refleksi terhadap semua langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pelajaran30.

Teori-Teori Belajar Yang Terkait Dengan Pendekatan Matematika Realistik a. Teori Belajar Piaget

Teori ini menekankan pada fungsi adaptasi yaitu penyesuaian diri dengan lingkungan peserta didik, memungkinkan bahwa dalam perkembangan intelektual peserta didik menurut Piaget merupakan suatu proses dimana peserta didik secara aktif berinisiatif membangun pemahamanya dari pengelamanya sendiri dengan berinteraksi dengan lingkungan. Dalam pembelajaran dengan mengunakan pendekatan matematika realistik yaitu ketika mamahami masalah kontekstual dengan guru memberikan masalah kontekstual dalam kehidupan sehari-hari dan meminta peserta didik untuk memahami masalah tersebut. peserta didik secara aktif membangun pengetahuan secara terus menerus melakukan akomodasi dan asimilasi terhadap informasi-informasi yang baru yang diterimanya. peserta didik secara aktif membangun pengetahuan secara terus menerus melakukan akomodasi dan asimilasi terhadap informasi-informasi yang baru yang diterimanya.

b. Teori Vygotsky

Teori Vyotsky ini menekankan pada hakikat sosio kultural dari pembelajaran yaitu peserta didik dalam belajar menangani tugas-tugas yang dipelajari melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya dan peserta didik belajar paling baik apabila berada pada zona perkembangan terdekat mereka. Teori ini ketika dihubungkan dengan pendekatan matematika realistik yaitu ketika memyelesaikan masalah kontekstual dimana peserta didik secara individu menyelesaiakn masalah kontekstual dengan cara mereka sendiri.

c. Teori Belajar Ausubel

Teori ini menekankan pada belajar bermakna, yaitu peserta didik memperoleh pengetahuan atau informasi baru bagi dirinya berdasarkan informasi yang telah diperoleh sebelumnya dalam struktur kognitif peserta didik yang dalam pendekatan matematika realistik dengan menjelaskan masalah kontekstual yaitu Jika dalam memahami masalah peserta didik mengalami kesulitan, maka guru menjelaskan situasi dan kondisi dari soal dengan memberikan petunjuk-petunjuk atau berupa saran seperlunya, terbatas pada bagian-bagian tertentu dari permasalahan yang belum dipahami.

Kreativitas

Kreativitas merupakan kemampuan untuk mencipta dan berkreasi, kreativitas mengacu pada kemampuan individu yang mengandalkan keunikan dan kemahiranya untuk menghasilkan gagasan baru dan wawasan segar yang bernilai bagi individu tersebut.31 Berdasarkan pendapat tersebut, maka kreativitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru baik berupa perbuatan ataupun tingkah laku.

Dalam kreativitas proses kreativitas merupakan arah termujudya kreativitas yang dimiliki individu. Proses kreativitas ini diawali dari impuls, hasrat yang tumbuh dari dalam hati. Dorongan hati merupakan energi hebat yang berpotensi menguasai belahan otak kanan yang kaya dengan imajinasi dan pengembaraan.32

Menurut Klausmeier, langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam membentuk ketrampilan memecahkan masalah berlaku pula untuk pembentukan kreativitas. Sekolah dapat mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah-masalah dan sekaligus mengembangkan kreativitas melalui langkah-langkah sebagai berikut:

1. Menolong peserta didik mengenali masalah-masalah untuk dipecahkan 2. Menolong peserta didik menemukan informasi, pengertian-pengertian,

asas-asas, dan metode-metode yang perlu untuk memecahkan masalah.

3. Menolong peserta didik untuk merumuskan dan membatasi masalah-masalah. 4. Menolong peserta didik mengolah dan kemudian menerapkan informasi pada

masalah tersebut untuk memperoleh kemungkinan-kemungkinan (hipotesis). 5. Menolong peserta didik merumuskan dan menguji hipotesis-hipotesis itu

untuk memperoleh pemecahan masalah.

6. Mendorong peserta didik mengadakan penemuan dan penilaian mandiri secara bebas.33

31

Deni Koswara. Bagaimana Menjadi Guru Kreatif?,(Bandung: PT.Bumi Mekar,2008). Hal 40-41

32Du Faizah. Keindahan Belajar Dalam Perspektif Pedagogi. (Jakarta: Cindi Grafika, 2008). hal 102

33Slameto.Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya.(Jakarta:Rineka Cipta,2003). Hal 152.

Dalam penelitian ini indikator-indikator kreativitas yang digunakan dalam penelitian yaitu:

1. Dorongan ingin tahu besar

2. Mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkanya, tidak mudah terpengaruh oleh orang lain

3. Keaslian (orisinalitas) tampak dalam ungkapan gagasan, karangan dan sebagainya; dalam memecahkan masalah menggunakan cara-cara orisinalyang jarang diperlihatkan anak-anak lain.

4. Dapat bekerja sendiri

5. Senang mencoba hal-hal baru

METODE PENELITIAN

Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yaitu untuk mengetahui kreativitas peserta didik dengan menggunakan pendekatan matematika realistik pada pembelajaran matematika.

Subjek penelitian dalam proses penelitian ini adalah peserta didik kelas II SD Muhammadiyah Air Kuning Ambon. Subjek yang dipilih berdasarkan kriteria hasil tes tertinggi yang diambil 3orang dari jumlah total 63 orang siswa yang terdiri dai 2 kelas yaitu kelas 2A dan 2B dan penelitian dilaksanakan pada siswa kelas 2A. Dimana subjek yang dipilih adalah yang memperoleh hasil tes tertinggi.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen non tes, yaitu dengan menggunakan check-list, dan pedoman wawancara. check-list digunakan untuk mengisi lembar observasi.34

Dalam penelitian ini, proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik, yaitu sebagai berikut:

1. Observasi 2. Wawancara 3. Dokumentasi

Dalam penelitian ini, berdasarkan langkah-langkah sebagai berikut :

34Suharismi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. (Jakarta: Rineka Cipta. 2006), hal 149-150

a. Langkah Persiapan

1) Melihat rencana pembelajaran dari guru mata pelajaran matematika untuk dilihat indikator pencapaian berdasarkan materi yang akan diajarkan 2) Membuat pedoman observasi proses pembelajaran peserta didik. 3) Menyusun pedoman wawancawa

4) Menyusun soal tes yang akan di kerjakan oleh peserta didik berdasarkan indkator dengan panduan kurikulum KTSP

5) Soal tes yang disusun kemudian dikonsultasikan dengan guru bidang studi dan dosen pembimbing

6) Melakukan penelitian berdasarkan jadwal yang telah ditentukan. b. Langkah-Langkah Pelaksanaan

1) Proses pengerjaan soal tes oleh peserta didik

2) Setelah pelaksanaan pengisian tes telah usai maka hasil dari para peserta didik dikumpulkan dan diperiksa untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam menyelesaiakn soal yang telah diberikan

3) Menentukan subjek yang akan dijadikan sebagai sampel penelitian.

4) Proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan matematika realistik untuk mengetahui kreativitas peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.

5) Pengamatan terhadap peserta didik mengenai kreativitas peserta didik dalam proses pembelajara.

6) Mengisi lembar observasi

7) Setelah proses pembelajaran usai maka melukakan wawancara pada peserta didik yang dijadikan sebagai subjek penelitian.

c. Pengujian

1) Menganalisis hasil pengamatan dan wawancara

2) Mengkaji hasil pengamatan, wawancara, dan hasil observasi. 3) Dari kajian tersebut akan dijadikan sebagai data hasil penelitian

Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data kualitatif, mengikuti konsep yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman, yaitu sebagai berikut:

1. Reduksi Data (Data Reduction)

Pada tahap ini peneliti membaca, mempelajari dan menelaah data yang telah diperoleh dari hasil observasi terhadap aktivitas peserta didik dan wawancara yang kemudian akan di reduksi. Reduksi data merupakan suatu proses merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang pentingdan penyederhanaan data yang diperoleh dari catatan-catatandi lapangan.

2. Penyajian Data (Data Display)

Penyajian data merupakan suatu proses lanjutan dari reduksi data. Setelah data direduksi, data tersebut disajikan dalam bentuk uraian singkatdan terstruktur, sehingga memungkinkan peneliti untuk menarik suatu kesimpulan.

3. Penarikan Kesimpulan (Conclusion Drawing)

Penarikan kesimpulan merupakan sutu proses yang didasarkan pada data yang diperoleh dari reduksi data dan penyajian data. Kesimpulan didukung dengan data-data yang valid, sehingga kesimpulan yang dikemukakan dapat bersifat akurat

HASIL DAN PEMBAHASAN

Indikator kreativitas dari masing-masing subjek dalam pendekatan matematika realistik yang dijadikan sebagai bahan penentuan kreativitas yaitu: 1. Dorongan ingin tahu besar

Diketahui dengan mengajukan pertanyaan kepada guru

2. Mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkanya, tidak mudah terpengaruh oleh orang lain

Diketahui bila mempunyai jawaban sendiri, dapat menjelaskan jawaban, tidak meminta jawaban teman.

3. Keaslian (orisinalitas) tampak dalam ungkapan gagasan, karangan dan sebagainya, dalam memecahkan masalah menggunakan cara-cara orisinal yang jarang diperlihatkan peserta didik yang lain..

Diketahui bila menggunakan media yang berbeda ketika menyelesaikan masalah

4. Dapat bekerja sendiri

Diketahui bila mandiri dalam mengerjakan tugas 5. Senang mencoba hal-hal baru

Diketahu bila berpartisipasi mengerjakan hal yang belum dikerjakan

Berdasarkan hasil penelitian dari 3 orang subjek pada SD Muhammadiyah Ambon, diperoleh kecenderungan bahwa semua subjek memiliki kreativitas yang baik dan cenderung mencerminkan semua indikator kreativitas yang ada yaitu dorongan ingin tahu yag besar dengan mengajukan pertanyaan kepada guru, mempunyai pendapat sendiri dengan menjelaskan kembali hasil temuan kepada guru dan temanya yang lain serta tidak mudah terpengaruh oleh pendapat teman lainya. Orisinal yang dilihat dari penggunaan media yang untuk menghitung yaitu dengan kertas, batu dan lidi dapat bekerja sendiri dilihat dari kemandirian dalam mengerjakan semua arahan yang diberikan oleh guru dan senang mncoba hal baru yang diketahui dari keikut sertaan setiap subjek untuk berpartisipasi pada proses pembelajaran yang selama ini belum pernah dialaminya.

a. Dorongan ingin tahu besar

Hasil penelitian menunjukan bahwa subjek TAW, KAP dan IRA cenderung kreatif ketika proses pembelajaran berlangsung sering mengajukan pertanyaan kepada guru hal ini membuktikan bahwa subjek memiliki dorongan ingin tahu yang cukup besar.

Dorongan ingin tahu yang besar membuktikan bahwa ke 3 subjek memiliki kreativitas dalam pembelajaran hal ini juga terlihat dari perhatian subjek dalam menyimak materi yang disampaikan oleh guru dengan menggunakan media pembelajaran yang setiap saat dijumpai oleh subjek. Hal ini sejalan dengan konsep pembelajaran matematika yang pendekatan matematika realistik yaitu adanya prinsip realitas. dorongan ingin tahu ditandai dengan keinginan peserta didik untuk mengajukan pertanyaan kepada guru yang mendorong kreativitas peserta didik, hal ini sejalan dengan pendapat philips gamagge yang menyatakan bahwa pendidikan yang berfokus pada menjawab pertanyaan dan tidak

merangsang peserta didik untuk bertanya adalah pendidikan yang tidak mendorong peserta didik untuk kreatif.35

b. Mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkanya,tidak mudah terpengaruh orang lain

Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam proses pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan matematika realistik diketahui bahwa untuk subjek TAW, KAP dan IRA memilki kreativitas karena mempunyai pendapat sendiri dan tidak mudah terpengaruh oleh orang lain serta dapat menyampaikan pendapatnya sendiri.

Semua subjek dalam penelitian cenderung mempunyai pendapat sendiri ketika dihadapakan pada pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan matematika realistik hal ini dapat dilihat dari penyampaian pendapat subjek ketika telah menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan media yang berada disekitarnya. Ketika proses pembelajaran berlangsung dilihat bahwa subjek IRA cenderung masih belum terbiasa dalam menggunakan media pembelajaran yang ada disekitarnya namun pada akhirnya subjek dapat menyelesaikan permasalahan yang ada walaupun pada awalnya belum mengkontruksikan ide kedalam dunia nyatanya.

c. Keaslian (orisinalitas) tampak dalam ungkapan gagasan, karangan dan sebagainya, dalam memecahkan masalah menggunakan cara-cara orisinal, yang jarang di perlihatkan anak-anak lain

Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam proses pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan matematika realistik diketahui bahwa dalam menyelesaikan permasalahan yang ada subjek TAW, KAP ddan IRA dapat mengungkapkan ide yang dimiliki ketika proses pembelajaran berlangsung hal ini dapat dilihat dari pemilihan media untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan menggunakan media disekitarnya dan dapat mengungkapkan ide yang dimiliki ketika dituntut untuk menyelesaikan masalah.

35Dewi Utami Faizah. Keindahan Belajar Dalam Perpektif Pedagogi. (Jakarta: Cindi Grafika, 2008) hal.100

Pengungkapan ideatau gagasan dari semua subjek berdasarkan pengalaman nyata yang dialami subjek dengan memberikan contoh yang beranekaragam serta dapat mengetahui jawaban dari contoh yang disampaikan membuktikan bahwa subjek memiliki kreativtas yang baik

d. Dapat bekerja sendiri

Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam proses pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan matematika realistik diketahui bahwa untuk subjek TAW, KAP dan IRA memilki kreativitas ketika proses pembelajaran berlangsung dapat menyelesaikan permasalahan dengan mengunakan kemampuanya sendiri.

Kemandirian subjek TAW, KAP dan IRA dalam menyelesaikan permasalahan dapat dilihat dari kemandirian subjek ketika menyelesaiakn contoh soal yang diberikan dan kepercayaan diri subjek untuk tidak mengharapkan jawaban dari temanya serta ketidakinginan subjek untuk memberikan jawaban kepada temanya yang lain. Dengan kemandirian subjek tersebut dapat diketahui bahwa subjek TAW, KAP dan IRA memiliki kreativitas yang baik dengan mampu menyelesaikan permasalahan dengan mandiri.

e. Senang mencoba hal-hal baru

Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam proses pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan matematika realistik diketahui bahwa untuk subjek TAW, KAP dan IRA memilki kreativitas karena ketika proses pembelajaran berlangsung semua subjek dapat berpartisipasi untuk memberikan pemahaman kepada teman-temanya yang lain dengan memberanikan diri untuk memperagakan proses pembelajaran berlangsung dengan keinginan sendiri serta mampu menceritakan hasil temuanya. Dorongan ingin tahu dilihat dari pertanyaan yang dilontarkan kepada guru. Dapat bekerja sendiri dilihat dari kemandirian subjek dalam menyelesaikan permasalahan dan keaktifan subjek ketika berpartisipasi membantu guru menjelaskan materi yang diajarkan ketika awal proses pembelajaran untuk memberikan pemahaman awal kepada siswa hal tersebut menunjukan subjek senang mencoba hal-hal baru.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa kreativitas peserta didik dalam pendekatan matematika realistik pada pembelajaran matematika materi operasi hitung campuran dari 3 orang subjek SD Muhammadiyan Ambon, diperoleh kecenderungan subjek mempunyai kreativitas dalam proses pembelajaran metematika dilihat dari dorongan ingin tahu dengan memberikan pertanyaan kepada guru, mempunyai pendapat sendiri dan dapat menyampaikan dengan menjelaskan kembali hasil temuanya, orisinal dengan menggunakan media disekitarnya untuk melakukan perhitungan yaitu dengan kertas, batu dan lidi. Dapat bekerja sendiri dengan menyelesaikan permasalahan secara mandiri dan senang mencoba hal-hal baru dengan berpartisispasi memberikan penjelasan ketika awal proses pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA

Bartle, R.G, and Sherbert, 2000. Introduction to Real Analysis, 3rd ed.,Newyork: John Wiley and Sons, Inc.

Fauzi, KMS, 2002. Pembelajaran Matematika Realistik Pada Pokok Bahasan Pembagian di SD. Tesis. PPs Universitas Negeri Surabaya.

Ijudin, Romal. 2005. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk Pokok Bahasan Persamaan Linear dengan Dua Peubah di Kelas II SLTP. Tesis. PPs Unesa Surabaya.

Junaidi, Dedi, 2002. Kamus Matematika, Bandung: Pustaka Setia. Negoro, B. Harahap,2003. Ensiklopedia Matematika.Jakarta: Erlangga. Pandoyo, 2003. Strategi Belajar Mengajar. Semarang: IKIP Semarang Press. Ruseffendi, E. T, 1979. Materi Pokok Pendidikan Matematika 3. Jakarta:

Depdikbud Proyek Peningkatan Mutu Guru SD Setara D. II dan Pendidikan Kependudukan.

Soedjadi, 1992. Miskonsepsi Matematika dalam Pembelajaran Matematika. Makalah disajikan pada Seminar Pendidikan Sains dan Matematika. IKIP Surabaya.

Soedjadi, R. 2000. Kiat Pendidikan Matematika Indonesia (Konstatasi Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan). Jakarta. Dirjend Dikti Depdiknas.

Suwarsono, St , 2001. Beberapa Permasalahan yang Terkait dengan Upaya Implementasi Pendekatan Matematika Realistik di Indonesia. Makalah

Dokumen terkait