• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan di atas dapat diketahui bahwa kedua subjek memiliki kemampuan berpikir kritis yang sesuai dengan indikator kemampuan berpikir ktiris yang dikemukakan oleh Ennis, yaitu mampu memberikan penjelasan sederhana (elementary clarification), membangun keterampilan dasar (basic support), membuat inferensi (inferring), membuat penjelasan lebih lanjut (advanced clarification), dan mengatur strategi (strategies and tactics).26

Kemampuan berpikir kritis yang terdapat pada kedua subjek dapat dikategorikan sebagai individu yang berpikir kritis, Hal ini sesuai dengan pendapat Costa yang mengatakan bahwa individu yang berpikir kritis memiliki ciri-ciri diantaranya adalah pandai mendeteksi permasalahan, mampu mendeteksi perbedaan-perbedaan informasi, suka mengumpulkan data untuk pembuktian faktual, mampu mengidentifikasi atribut-atribut benda (seperti : sifat, bentuk wujud, dan lain-lain). selain itu mampu mendaftar alternatif pemecahan masalah, mampu mendaftar alternatif ide, mampu mendaftar alternatif situasi, mampu membuat hubungan yang berurutan antara satu masalah dengan masalah yang

25 Lexi J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), hlm.330

26 Dina Mayadiana Suwarma, Suatu Pembelajaran Kemampuan Berpikir Kritis Matematika, hlm. 13

lainnya, mampu menarik kesimpulan dan generalisasi dari data yang ada dan data yang berasal dari lapangan.27

Kemampuan berpikir kiritis yang dimiliki kedua subjek cukup kompleks, hal ini merupakan suatu kompetensi yang harus dilatihkan pada peserta didik, karena kemampuan ini sangat diperlukan dalam kehidupan sekarang. Hal yang tak dapat dipungkiri juga, bahwa kelas merupakan lingkungan yang diciptakan berdasarkan kesadaran kolektif dari suatu komunitas peserta didik yang relatif memiliki tujuan yang sama. Pengelolaan kelas mengarah kepada peran guru untuk menata pembelajaran secara kolektif atau klasikal dengan cara mengelola perbedaan-perbedaan kekuatan individu menjadi suatu aktivitas belajar bersama.

Pengelolaan kelas menurut Suharsimin Arikunto, sebagaimana dikutip oleh Pupuh fathurrahman dan Sobry sutikno, pengelolaan kelas merupakan suatu usaha yang dilakukan guru untuk membentuk , menciptakan kondisi belajar yang optimal28. Sedangkan menurut Syaiful bahri Djumarah pengelolaan kelas adalah suatu upaya memberdayagunakan potensi kelas yang ada seoptimal mungkin untuk mendukung proses interaksi edukatif mencapai tujuan pembelajaran29.

Keberhasilan mengajar seorang guru tidak hanya berkaitan langsung dengan proses belajar mengajar, misalnya tujuan yang jelas, menguasai materi, pemilihan metode yang tepat. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah mencegah timbulnya perilaku subjek didik yang mengganggu jalannya proses belajar mengajar sehingga mempengaruhi proses berpikir peserta didik yang lain.

Penelitian yang dilakukan selama kurang lebih sebulan ini mengambil dua subjek dan kelas yang memiliki tingkat pengelolaan yang optimal dan berpikir kritis yang baik, dari pengamatan selama penelitian dilakukan, peneliti dapat melihat bahwa peran seorang guru dalam mengelola kelas sangat dibutuhkan, sehingga mampu menciptakan suasana belajar yang optimal dan peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir kritis.

27 Ibid, hlm.11

28 Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui Konsep

Umum dan Konsep Islami, hlm.103

29 Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif (Jakarta:Rineka Cipta,2005), hlm.173.

PENUTUP

Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab IV maka diperoleh kesimpulan bahwa fungsi pengelolaan kelas sangat berpengaruh penting dalam pembelajaran, sehingga peserta didik dapat berpikir kritis dengan baik. Hal ini terbukti dengan adanya S1 dan S2 yang mampu menyelesaikan soal pokok bahasan suku banyak secara baik, sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis menurut Robert Ennis.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. Kurikulum 2004, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika SMP & MTs. Jakarta: Depdiknas, 2004.

Dirjen Pendidkan Islam. Undang-Undang dan Peraturan pemerintah RI Tentang Pendidikan. Jakarta: DEPAG RI, 2006.

Djamarah, Syaiful Bahri. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta:Rineka Cipta, 2005.

---, danAswan Zain. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:PT.Rineka Cipta, 2006.

Fisher, Alec. Berpikir Kritis (Sebuah Pengantar). Jakarta: Erlangga, 2008.

Fathurrohman, Pupuh dan Sobry Sutikno. Strategi Belaja Mengajar Melalui Konsep Umum dan Konsep Islami. Bandung: PT.Refika Aditama, 2007.

http://supraptojielwongsolo.wordpress.com/menggunakan-ketrampilan-berpikir-untuk-meningkatkan-mutu-pembelajaran/2011/03/28

Muhaimin dkk. Pengembangan Model Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP)pada sekolah dan madrasah. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2009.

Sudjana, Nana. Metode Statistik. Bandung : Taristo. 1995.

---, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1998

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung : Alfabeta. 2010

Suwarma, Dina Mayadiana. Suatu Pembelajaran Kemampuan berpikir kritis Matematika. Jakarta: Cakrawala Mahakarya, 2009.

Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:Balai Pustaka,1991.

Usman, Moh. Uzer. Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT.Remaja Rosda Karya, 2002.

Wardhani, IGAK dan Kuswaya Wihardit, Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta :Universitas Terbuka, 2008.

Wirodikromo, Sartono. Matematika untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga. 2006. Drapper N, Smith H. 1992. Analisis Regresi Terapan. Jakarta:PT. Gramedia

Pustaka Umum.

Fotheringham AS., Brunsdon C., Charlton M. 2000. Quantitative Geography: perspectives on spatial data analysis. England: John Willey & Sons Ltd. LeSage JP. 1999. The Theory and Pratice of Spatial Econometrics. Toledo:

Department of Economics University of Toledo.

Lesage JP. 2004. Maximum likelihood estimation of spatial regression models. Department of Economics University of Toledo March.

Nainggolan OI. 2009. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesempatan Kerja pada Kabupaten/Kota di Propinsi Sumatera Utara [tesis]. Medan: Program Pascasarjana, Universitas Sumatera Utara.

Pace RK, Barry R. 1997. Spare Spatial Autoregressions. Statist. & Probab. Letters 33: 291-297.

Rohimah SR. 2011. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Jumlah Penderita Gizi Buruk dengan Menggunakan model SAR Poisson [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Todaro MP. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Trans. Haris Munandar. Erlangga: Jakarta.

Suyanto. 2009. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengangguran Terbuka di Indonesia Periode 1980-2007. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.

ANALISIS KOMPONEN UTAMA

Dokumen terkait