5.3 Sumber Daya Cumi-Cumi/Sotong
5.4.2 Basis Bengkulu
Sumber daya ikan demersal di perairan Bengkulu diusahakan oleh para nelayan Bengkulu dari perairan Muko-muko di bagian Utara Bengkulu hingga perairan Bintuhan di Selatan Bengkulu. Penangkapan ikan-ikan demersal termasuk ikan-ikan karang di perairan Muko-muko dan sekitarnya banyak menggunakan jaring “Arad” (Mini trawl) dan bubu yang terbuat
dari kawat anti karat. Jenis bubu ini berasal dari Thailand menyebar ke Bengkulu melalui Malaysia. Bubu tersebut berukuran relatif sama yaitu P x L x T = 150 x 100 x 50 cm. rancang bangun alat tangkap bubu yaitu terdiri dari badan, ijeb dan mulut/pintu. Ukuran mata kawat 5.0 cm diameter ijeb bagian luar 45,0 cm, panjang ijeb 54,0 cm. Pemasangan bubu dilakukan secara berseri, sebanyak 4 buah bubu dirangkaikan dalam satu rangkaian ± 4 depa (7–8 m) dengan jarak antar rangkaian dalam pemasangan ± 25 depa (38 – 40 m). Pemberat bubu dibuat dari batu bata, pemasangannya menggunakan alat bantu GPS dan fish finder pada kedalaman 30–70 m.
Lama pemasangan 5–7 hari. Pengangkatan bubu menggunakan winch dan alat ganco, biasanya dalam satu trip bubu dipasang sebanyak 500 – 600 buah.
Jaring arad yang dioperasikan di perairan Bengkulu Utara termasuk jenis trawl berukuran mini. Alat ini dioperasikan dengan menggunakan kapal berukuran 15 GT, sedang ukuran head rope 10,6 m, penarikan jaring dilakukan di daerah muara-muara sungai dan perairan di tepi pantai pada kedalaman 8–11 m dengan jarak ± 5 mil dari tepi pantai. Pada umumnya daerah tersebut mempunyai dasar perairan terdiri dari lumpur bercampur pasir warna cokelat.
b) Musim Penangkapan
Untuk gambaran musim penangkapan di perairan sekitar Bengkulu didasarkan atas banyaknya produksi yang didaratkan. Sebagaimana diketahui pada umumnya, melimpahnya hasil tangkapan yang didaratkan biasanya diakibatkan oleh banyaknya ikan yang tertangkap. Hal ini dilakukan karena di perairan lain dapat terjadi suatu keadaan dimana hasil tangkapan yang diperoleh per satuan alat tangkapan mencapai puncaknya, sedangkan produksi total yang didaratkan di tempat tersebut bukan merupakan hasil yang tertinggi. Hal ini perlu dikemukakan mengingat adanya beberapa aspek sosial ekonomi yang akan mempengaruhi daya serap dari produksi yang didaratkan. Bagaimanapun besarnya hasil tangkapan yang didaratkan, diharapkan dapat berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan para pelaku utama perikanan di daerah tersebut.
Umumnya penangkapan bubu dapat dilakukan sepanjang tahun, dengan puncak musim penangkapan yang terjadi pada saat musim Barat berlangsung (November–April). Sedang musim paceklik terjadi pada bulan Mei–September. Penangkapan menggunakan alat mini trawl pada saat musim Barat sebenarnya cukup sulit dilakukan karena perairan Bengkulu terletak di bagian Barat Sumatra yang langsung mendapat pengaruh dari angin musim Barat. Karena hasil tangkapan yang diperoleh
yang tinggi tampaknya tidak terlalu mengganggu operasi penangkapan.
Rendahnya hasil tangkapan yang didaratkan pada periode musim timur, diduga berkaitan erat dengan cuaca, dimana angin tenggara yang selalu berhembus konstan pada kecepatan yang tinggi sangat menyulitkan operasi penangkapan ikan demersal, yang sangat berbeda dengan sumber daya ikan pelagis.
-175 350 525 700
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des T
o n
Gambar 59 Hasil tangkapan bulanan ikan demersal yang didaratkan di PPI Bengkulu (1996-2003)
c) Hasil Tangkapan
Produksi ikan yang didaratkan di PPI Pulau Baai, Bengkulu, pada lima tahun terakhir didominasi oleh kelompok ikan pelagis kecil seperti layang dan selar dimana persentasenya dapat mencapai sekitar 60% dari total sumber daya ikan yang didaratkan. Kelompok ikan demersal yang tercatat cukup banyak jenisnya, hanya persentase dari tiap jenis terhadap total ikan yang didaratkan tersebut relatif kecil.
Gambaran produksi ikan demersal periode 1996-2003 menunjukkan dengan jelas bahwa pada lima tahun terakhir, sejak tahun 1999, menunjukkan trend yang mendatar pada skala produksi yang rendah dibandingkan dengan tingkat produksi pada satu tahun sebelumnya, yaitu tahun 1998. Dari gambar tersebut terlihat bahwa selama periode 1996-2003, produksi ikan demersal yang tercacat di Bengkulu mencapai puncaknya pada tahun 1998. Setelah periode tersebut produksinya menurun dengan trend yang mendatar pada skala produksi yang relatif rendah (Gambar 60).
-300 600 900 1,200
1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003
T o n
Gambar 60 Trend produksi total ikan demersal yang didadartkan di Bengkulu (P. Baai periode 1996 - 2003)
Hasil tangkapan ikan demersal di Bengkulu terdiri dari sejumlah jenis dengan tingkat produksi yang cukup tinggi antara lain adalah kapas-kapas (Gerres sp.), gerot-gerot (Pomadasys sp.), kuniran (Upeneus sp.), kurau (Polynemus), pari (Dasyatis sp.), manyung (Arius sp.), gulamah (Scianidae), bawal putih (Pampus sp.), cucut (Carcharinus sp.), kerapu (Serranidae), kuwe (Caranx sp.), bambangan (Lutjanus sp.), lencam (Lethrinus sp.) dan tigawaja (Johnius sp.).
Dari para nelayan diperoleh informasi bahwa sebagian ikan demersal tertangkap dengan bubu. Ikan-ikan hasil tangkapan bubu termasuk juga jenis-jenis ikan dasar (demersal dan ikan karang) di tahun 1992 merupakan waktu puncak komersialisasi operasional bubu di Bengkulu.
Hasil tangkapan saat itu mencapai 1,8–4,0 ton/trip. Sedangkan, pada saat ini hasil tangkapan diperkirakan hanya sekitar 1–1,5 ton/trip, terdiri dari ikan-ikan kerapu (Epinephelus sp.), kakap merah (Lutjanus spp.), ikan tarusan (Argyrosomus sp.), jenaha (Lutjanus sp.), dan ekor kuning (Caesio sp.). Hasil tangkapan bubu merupakan komoditas ekspor yang banyak dikirim ke Singapura, Malaysia, dan Hongkong.
0 2 4 6
1966 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003
% total
Kerapu Kuw e
Gambar 61 Produksi tahunan jenis-jenis ikan demersal (Kerapu, Kuwe, Bambangan) yang didaratkan di Bengkulu (P. Baai) Tahun 1996-2003
0 5 10 15 20 25
1966 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003
% Total
Kurau Layur Manyung
Gambar 62 Produksi tahunan jenis-jenis ikan demersal (Kurau, Layur, Manyung) yang didaratkan di Bengkulu (P. Baai) Tahun 1996-2003
Dari gambar tersebut tampak bahwa trend produksi jenis-jenis ikan demersal lebih bersifat fluktuatif dari tahun ke tahun. Keadaan tersebut tentunya akan menyulitkan para pengusaha (investor) untuk menanamkan modalnya di bidang perikanan. Sebagaimana diketahui untuk kepentingan industri perikanan, paling tidak ada tiga hal yang perlu mendapatkan perhatian, 1) adalah jenis-jenis ikan (ekonomis), 2) hasil tangkapan yang
Bambangan
tinggi, dan 3) produksi stabil dalam jangka panjang. Dari gambaran trend produksi tersebut (Gambar 61 dan Gambar 62), tampak hanya memenuhi dua kriteria yang pertama, sedangkan kriteria yang ketiga tampaknya tidak terlalu menjanjikan.
Tabel 24 Hasil pengamatan beberapa aspek biologi ikan karang/demersal di perairan Bengkulu (2004)
No Jmlh Sampel
Jenis Ikan Kisaran TL Kisaran Berat
(gram) TKG
(ekor) (cm)
1 10 Gerot-gerot (Pomadasys sp.) 15,3 - 20,5 70 - 112 II – III
2 33 Kuniran (Upeneus sp.) 13,0 - 16,8 40 – 64 II
3 3 Jenihin (Lutjanus rivulatus) 35,3 - 40,0 700 - 1400 -4 4 Jarang gigi (Otolithes argentus) 28,3 - 32,5 300 - 550
-5 4 Thryssa setirostris 14,2 - 17,4 42 - 92 I – II
6 15 Kapas-kapas (Gerres spp) 16,0 - 24,0 50 - 160 -7 40 Udang putih (P. merguiensis) 32,0 - 58,0 8 - 18 ♂: ♂= 1 :
2,6
8 68 Tigawaja (Johnius sp) 6,5 - 16,0 -
-9 63 Senangin (Polynemus sp.) 6,5 - 12,0 -
-Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa contoh-contoh ikan demersal yang tertangkap adalah ikan-ikan yang relatif masih juvenile dengan TKG antara II – III, demikian juga contoh udang yang diamati dimana diperoleh data ♂: ♀= 1 : 2,6.
5.4.3 Basis Tanjung Luar a) Hasil Tangkapan
Ikan karang/demersal yang didaratkan di TPI anjung Luar, NTB dikelompokkan menjadi 9 yaitu Kerapu (Epinephelus spp, Plectropomus spp., Cephalopolis sp., Variola sp., Chhromileptes sp.), Kakap (Lutjanus spp, Pristipomoides sp., Aprion sp.), Kuwe (Caranx sp), Beronang (Siganus sp.), Lencam (Lethrinus sp.), ekor kuning (Caesio sp.), Kurisi (Nemipterus sp.), Sebelah (Psettodes sp.). dan Bayeman (Scarus sp.). Data produksi tahunan selama periode tahun 1992–2004 menunjukkan bahwa hasil tangkapan tertinggi terjadi pada tahun 1992 yaitu mencapai 308,9 ton, kemudian dari tahun ke tahun semakin menurun dan mencapai angka terendah pada tahun 2002 yaitu hanya 3,5 ton.
-70 140 210 280 350
1992 1993 1994 1995 1996 1997 2000 2001 2002 03/04
Ton
Gambar 63 Produksi tahunan ikan demersal yang didaratkan di TPI Tanjung luar, Nusa Tenggara Barat
Hasil tangkapan pada tahun 1992–1997 masih relatif banyak yaitu berkisar antara 55,2–308,9 ton yang didominasi oleh ikan kuwe dan berturut-turut diikuti oleh kerapu, kakap, kurisi dan ekor kuning. Mulai tahun 2000 hasil tangkapan menurun drastis yaitu hanya berkisar antara 3,5–15,7 ton/tahun dan didominasi oleh kelompok kerapu dan kakap yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.
0 40 80 120 160
92 93 94 95 96 97 2000 2001 2002 03/04
T o n
Kerapu Kurisi Kuw e
Gambar 64 Produksi tahunan tiga kelompok ikan demersal (Kerapu, Kurisi, Kuwe) yang didaratkan di TPI Tanjung luar, Nusa Tenggara Barat
0 10 20 30 40
92 93 94 95 96 97 2000 2001 2002 03/04
T o n
Ekor kuning Bambangan Lencam
Gambar 65 Produksi tahunan tiga kelompok ikan demersal (Ekor Kuning, Bambangan, Lencam yang didaratkan di TPI Tanjung luar, Nusa Tenggara Barat
Dari trend tahunan produksi ikan demersal tampak bahwa antara periode 1992-2003/2004 secara keseluruhan cenderung turun. Produksi tahun 1992 yang cukup tinggi pada tahun-tahun berikutnya (1993/1994) turun drastis. Pada tahun 1995 kelompok ikan kuwe (bobara, Carangoides) menunjukkan sedkit kenaikan, kemudian terus menurun lagi sampai tahun 2003/2004. Hal yang sama terjadi juga terhadap kelompok ekor kuning dan bambangan. Kelompok ikan bambangan antara periode 1995-2003 sempat naik cukup signifikan yaitu pada tahun 1995, yang kemudian turun secara signifikan pula pada tahun-tahun berikutnya (Gambar 64 dan Gambar 65).
b) Ikan Kerapu dan Kakap Merah
Hasil tangkapan ikan kerapu periode Juli 2003 – Juli 2004 tercatat ada 11 jenis. Tiga jenis ikan kerapu tutul yang teridentifikasi sebagai Epinephelus coioides, E. malabaricus, E. aerolatus merupakan jenis yang dominan yang mencapai 53% dai total ikan kerapu yang tertangkap. Kerapu sunu halus (Plectropomus leopardus) yang mempunyai nilai ekonomis tinggi hanya diperoleh sekitar 2,3%. Kerapu lumpur (E. tauvina, Ephinephelus sp-1) yang biasanya tertangkap dalam jumlah (individu) yang relatif sedikit, dalam jumlah berat cukup signifikan. Berat individu ikan kerapu yang didaratkan di PPI Tanjung Luar tersebut dapat mencapai sekitar 20-25 kg/ekor. Presentase hasil tangkapan jenis-jenis ikan kerapu disajikan pada Tabel 25.
Tabel 25 Komposisi jenis hasil tangkapan ikan kerapu pada periode Juli 2003 – Juli 2004
Nama lokal Species %
Krapu tutul E. malabaricus, E. coioides, E. Aerolatus 53.0
Krapu kecil Epinephelus spp. 15.8
Sunu kasar Plectropomus oligocanthus 8.5
Krapu karet Cephalopolis soneroti dan lainnya 6.1
Krapu lumpur Epinephelus sp-1. 3.4
Sunu halus Plectropomus leopardus 2.3
Sunu ekor gunting Variola spp. 1.7
Krapu bendera E. diacanthus <1
Krapu tiger E. fuscoguttatus <1
Krapu tiger kembang E. microdon <1
Krapu tikus Chromileptes altivelis <1
Tabel 26 Komposisi jenis hasil tangkapan kelompok ikan kakap merah pada periode Juli 2003 – Juli 2004
Nama lokal Species %
Anggoli Pristipomoides multidens 35.0
Red snapper Lutjanus malabaricus 17.2
Guntur Aprion virescens 11.0
Bagong Pristipomoides typus 8.1
Markisa Lutjanus sebae 7.5
Kampo Lutjanus rivulatus 6.7
Nunuk Pinjalo pinjalo 1.5
Kantoan Lutjanus lemniscatus 1.1
Jenis-jenis ikan bambangan (kakap merah) hasil tangkapan periode Juli 2003–Juli 2004 paling tidak teridentifikasi sekitar delapan jenis. Anggoli atau kurisi bali (Pristipomoides multidens) merupakan jenis yang dominan dengan persentase sekitar 35%. Jenis kedua terbanyak adalah Lutjanus malabaricus, yang secara lokal di Sumbawa Besar disebut sebagai kakap asli yang mencapai 17,2%. Kelompok lainnya adalah guntur (Aprion virescens) yang mencapai 11% dan 5 jenis ikan kakap lainnya masing-masing dibawah 10% (Tabel 26).
c) Kebiasaan Makanan Ikan Kakap Merah
Kajian tentang kebiasaan makanan yang merupakan salah satu aspek
‘life history’ yang penting yang mendukung kajian dinamika populasi/
komunitas. Jenis-jenis makanan ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) yang dianalisis melalui metode frekuensi kejadian (Frequency of Occurrence) dan Gravimetry disajikan pada Tabel 27 berikut.
Tabel 27 Jenis-jenis makanan ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) – sampel dari Nusa Tenggara Barat
Total sampel 88 ekor Occ.freq. % occ. Mean W occ. % W
Ikan 46 52.27 13.16 34.31
Udang 23 26.14 2.67 6.96
U.ronggeng 4 4.55 3.16 8.24
Kepiting 19 21.59 6.98 18.20
Cumi-cumi 2 2.27 7.8 20.33
Lobster 1 1.14 3.87 10.09
Lainnya 24 27.27 0.72 1.88
Dari tabel tersebut tapak bahwa baik secara frekuensi kejadian ataupun gravimetry dapat disimpulkan bahwa sebagian besar jenis makanan ikan kakap merah tersebut adalah berbagai jenis ikan. Hal ini terlihat baik dari frekuensi ataupun persentase berat jenis makanan menunjukkan angka yang tertinggi, yaitu 46 (52,3%) dan 13,2 (34%). Jenis makanan lainnya adalah cumi-cumi, kepiting, lobster dan udang ronggeng (Squilla spp.).
Udang merupakan jenis makanan kedua sebagaimana tercermin dari frekuensi kejadian dimana dari 88 ekor ikan sampel, sekitar 23 ekor (26%) lebih suka makan udang. Demikian juga halnya dengan kepiting, dimana dari 88 ekor ikan sampel 19 ekor diantaranya lebih suka makan kepiting.
Dilihat dari bobot makanannya, tampak bahwa ikan kakap merah cenderung lebih suka makan ikan, cumi-cumi, kepiting dan lobster.
Mempelajari kebiasaan makanan merupakan langkah awal untuk mengetahui antarhubungan ekologis dan interaksi antarspesies/populasi.
Dari sampel isi lambung ikan kakap tersebut tersirat bahwa ikan kakap merah dalam mencari makanannya cenderung berada di perairan dengan dasar yang berlumpur dan sedikit berkarang. Sebagaimana diketahui bahwa udang ronggeng, kepiting dan lobster biasanya lebih banyak menghuni dasar perairan yang sedikit berkarang. Demikian juga dengan jenis ikan yang menjadi makanan ikan kakap merah tersebut diduga sebagian besar merupakan jenis-jenis ikan karang yang berukuran kecil.
Informasi tentang jenis makanan alami tersebut diperlukan untuk langkah pengelolaan dalam rangka memperoleh hasil tangkapan (ikan dan udang) yang optimal dan berkelanjutan. Ikan demersal dan udang
yang secara ekologis menghuni habitat yang sama akan berinteraksi satu sama lain. Dari hasil survei setelah beberapa tahun pemberlakuan Keppres 39/80 tentang pelarangan trawl, tahun 1985 diperoleh informasi bahwa kelimpahan sumber daya ikan demersal telah pulih. Ternyata kepadatan stok/populasi udang tidak bertambah besar sebagaimana diharapkan.
Dari hasil penelitian lain diperoleh informasi bahwa udang tersebut diduga telah menjadi mangsa dari beberapa jenis ikan demersal. Dari aspek ini, diduga telah terjadi interaksi dalam bentuk antar hubungan pemangsaan (predator-prey relationship), dimana udang tersebut selain menjadi sasaran penangkapan, juga telah menjadi mangsa dari ikan-ikan demersal berukuran besar.
Kebiasaan makan dan makanan (food and feeding habit) merupakan salah satu aspek ‘life history’ yang menjadi dasar dalam kajian interaksi antarjenis, baik melalui kajian antarhubungan pemangsaan (predator prey relationship) ataupun persaingan makanan (food competition). Hasil kajian kebiasaan makanan dan interaksi antar jenis ikan dapat merupakan salah satu dasar bagi pengelolaan Sumber daya ikan sebagai salah satu unsur dalam komunitas ikan tropis yang bersifat multispecies. Ecopath sebagai salah satu model stock assessment yang dirancang untuk mendapatkan hasil tangkapan yang optimal dan berlanjut dalam jangka panjang didasarkan atas kajian interaksi antarjenis. Dalam rangka mengetahui pengaruh-pengaruh penangkapan, opsi-opsi langkah pengelolaanpun dapat di-uji-cobakan. Sebagaimana dikemukakan oleh Jones (1982) bahwa melalui kajian aspek kebiasaan makanan tersebut dapat diprediksi bahwa dalam perkembangan/pertumbuhan ikan pada umumnya, akan memerlukan makanan (berupa ikan lainnya) sekitar 25% dari berat tubuhnya (Jones 1982). Implikasi dari kajian tersebut antara lain adalah bahwa jika diketahui produksi ikan tertentu misalnya kakap merah yang didaratkan di suatu daerah tertentu umpamanya 1000 ton pertahun, maka ikan tersebut akan memerlukan makanan berupa ikan lainnya sebanyak 250 ton.
d) Musim Penangkapan
Dari data produksi bulanan selama periode tahun 1992 – 2004, dapat dilihat bahwa musim penangkapan kelompok ikan kakap dan kerapu polanya hampir sama. Musim penangkapan dimulai pada bulan Desember kemudian mencapai puncaknya pada bulan Januari. Hasil tangkapan mulai menurun pada bulan Februari dan mencapai titik terendah atau masa paceklik pada bulan Juli – Agustus (Gambar 66).
-0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nop Des T
o n
Kakap Merah Kerapu
Gambar 66 Pola musim penangkapan ikan kerapu dan kakap yang didaratkan di TPI Tanjun Luar, NTB
Puncak musim yang berlangsung mulai menjelang akhir tahun sampai awal tahun berikutnya diduga terkait dengan tingginya kegiatan penangkapan yang didukung oleh lingkungan yang kondusif. Sebagaimana diketahui bahwa pada sekitar akhir tahun biasanya merupakan musim barat dimana daerah penangkapan ikan tersebut relatif terlindung dari angin barat yang cukup kencang. Sebaliknya kondisi lingkungan pada bulan-bulan Juli/
Agustus yang merupakan puncak musim tenggara biasanya diiringi oleh hembusan angin tenggara yang berhembus tetap pada kecepatan yang tinggi, akan sangat mengganggu operasi penangkapan.
e) Sebaran Ukuran Sampel Ikan Kerapu
Dari hasil tangkapan ikan kerapu, jenis kerapu tutul (Epinephelus coioides) adalah merupakan jenis yang dominan. Ukuran berat yang tertangkap berkisar antara < 1 kg hingga > 34,5 kg. Di dalam perdagangan ikan kerapu, ukuran berat terbagi dalam 5 kelas yaitu baby (< 1 kg), 2 kg, 4 kg, 5 kg dan > 7 kg.
Ukuran dominan Epinephelus coioides yang tertangkap adalah ukuran dewasa/mature dengan berat > 7 kg. Pada perairan yang sudah fully-exploited biasanya ikan kerapu dewasa sudah jarang atau tidak dijumpai lagi. Kondisi ini dikarenakan ikan kerapu merupakan ikan carnivora yang mudah tertangkap dengan pancing dan mudah punah apabila dieksploitasi berlebihan.
f) Experimental Fishing (Uji Coba Alat Tangkap)
Kegiatan ujicoba penangkapan yang telah dilakukan meliputi operasi penangkapan dengan cantrang, jaring rampus dan rawai dasar. Kegiatan ini sebenarnya direncanakan ke perairan sekitar Bengkulu. Karena keadaan cuaca yang tidak baik, yaitu hujan deras disertai angin kencang dan gelombang yang tinggi telah menyebabkan kapal penelitian tidak mampu untuk meneruskan perjalanan. Dengan demikian akhirnya uji coba penangkapan tersebut dilakukan di Teluk Semangka, Lampung.
Dari uji coba alat tangkap tersebut juga diperoleh tiga jenis ikan laut dalam yang selama ini tidak pernah tertangkap di perairan Paparan Sunda (Laut Jawa). Ketiga jenis ikan tersebut berdasarkan referensi yang ada adalah Gepyroberix sp., Macrourus sp., dan Peristedion sp.
Tabel 28 Sebagian hasil tangkapan rawai dasar di Selat Sunda-Teluk Semangka dengan Km Sardinella (2003)
Jenis Hasil tangkapan (ekor) Hook rate %
Kerapu lumpur (Serranidae) 3 0.11
Kerapu macan (Serranidae) 5 0.19
Layur (Trichiuridae) 8 0.30
Kurisi bali (Lutjanidae) 2 0.07
Pari (Rayidae 4 0.15
Triglidae 4 0.15
Mata besar ( 4 0.15
Sidat (Anguilligae) 6 0.22
Remang (Congridae) 14 0.52
Cucut (Elasmobrachii) 18 0.67
Ikan hantu 3 0.11
Gerot-gerot (Pomadasyidae) 1 0.04
Unidentified 1 0.04
Jumlah 2.70
Dari ketiga jenis ikan tersebut tampak bahwa dua jenis yang disebutkan pertama merupakan jenis ikan laut dalam yang dapat dikategorikan sebagai ikan konsumsi (food fish), sedangkan yang terakhir merupakan ikan dengan duri-duri sirip yang sangat beracun. Jenis Peristedion sp.
dengan kulit luar yang keras berwarna merah cerah sampai saat ini belum dikenal sebagi ikan konsumsi. Dari hasil ekspedisi kapal riset Umitaka
Maru dari Tokyo University of Fisheries yang berkeja sama dengan pihak Indonesia (Fakultas Perikanan - Institut Pertanian Bogor) diperoleh informasi bahwa ikan Peristedion sp. tersebut di Jepang merupakan ikan konsumsi. Dari tabel tersebut tampak bahwa hasil tangapan rawai dasar didominasi oleh kelompok cucut dan ikan remang.
g) Ikan Demersal Laut Dalam
Data dan infomasi tentang ikan demersal laut dalam di perairan Samudra Hindia, diperoleh dari hasil “The Japan-Indonesia Deep Sea Fisheries Resources Joint Exploration Marine Research 2004’, dimana salah satu tujuannya adalah ‘mempelajari CPUA (catch per uit area) dari sumber daya ikan demersal laut dalam di perairan Selatan Jawa dan Barat Sumatra (Suman et al. 2005). Dari keseluruhan stasiun trawl di perairan Samudra Hindia diperoleh estimasi CPUA sebagai salah satu indeks kelimpahan stok di perairan Selatan Jawa tampak lebih tinggi dibandingkan dengan CPUA di perairan Barat Sumatra.
Tabel 29 Estimasi hasil tangkapan per satuan area (CPUA) ikan demersal laut dalam di perairan Samudra Hindia
Perairan Kedalaman (m) CPUA (kg/km2)
Selatan Jawa 125 - 960 794 - 39.863
Barat Sumatra 170 - 1041 223 – 7.395
CPUA yang tertinggi terjadi pada kedalaman antara 800-1000 m, dan jumlah jenis ikan (spesies) yang terbanyak terdapat pada kedalaman antara 600-700 m.
Komposisi jenis ikan berbeda sesuai dengan kedalaman dimana perubahan komposisi tersebut terjadi pada sekitar kedalaman 500 – 750 m. Hasil tangkapan di perairan Selatan Jawa terdiri dari 169 jenis ikan, 31 jenis krustasea dan 20 chepalopod. Jenis ikan yang dominan di perairan Selatan Jawa adalah Ophidiidae dan layur (Trichiurus lepturus) dengan bobot masing-masing sekitar 45% dan 22% dari rata-rata CPUA. Hasil tangkapan di perairan Barat Sumatra terdiri dari 201 jenis ikan, 36 jenis krustasea, 8 jenis kepiting (crabs) dan beberapa jenis cumi-cumi. Sebagaimana halnya dengan di perairan Selatan Jawa Jenis ikan yang dominan di perairan Barat Sumatra adalah Ophidiidae dan Haplosthethus sp.) dengan bobot masing-masing sekitar 20% dan 17% dari rata-rata CPUA.
5.5 SUMBERDAYA UDANG
Sebagai bagian dari komunitas sumberdaya ikan demersal, penyebaran sumberdaya udang penaeid relatif lebih sempit. Daerah penangkapan udang di perairan Samudra Hindia adalah perairan paparan benua ( continental shelf ) dimana terdapat muara-muara sungai. Berdasarkan survey / eksplorasi yang pernah dilakukan di perairan pantai Selatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) daerah penangkapan udang merupakan perluasan kawasan muara Kali Opak, Kali Progo dan Kali Oyo yang diperkirakan hanya sampai kedalaman sekitar 100 m. Lebih dari kedalaman tersebut kelimpahan populasi udang penaeid belum diketahui.
5.5.1 Catch, effort dan CPUE
Trend produksi udang di ketiga sub area Samudra Hindia selama periode 1992-2000 relatif mendatar dengan kecenderungan untuk sedikit menurun.
Produksi yang relatif tinggi dihasilkan oleh sub area Barat Sumatera, kemudian diikuti oleh sub area Selatan Jawa dan Bali-Nusatenggara. Antara tahun 1992-1994, produksi udang di sub area Barat Sumatera dan Selatan Jawa mengalami kenaikan yang cukup tajam sedangkan pada periode untuk ketiga sub area Barat Sumatera, Selatan Jawa dan Bali-Nusatenggara menujukkan trend yang relatif mendatar (Gambar 67).
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 9000
1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003
Catch effort CPUE*0.005
Gambar 67 Trend produksi, upaya dan indeks kelimpahan stok (CPUE) sumberdaya udang di perairan Barat Sumatra
Trend total upaya untuk sub area Barat Sumatera antara 1994-2003 menunjukkan sedikit penurunan, sedangkan di sub area Bali-Nusatenggara menunjukkan kenaikan yang signifikan pada tahun 1996 yang kemudian menurun tajam pada tahun berikutnya, meskipun pada tiga tahun menjelang tahun 2000 trend upaya cenderung naik.
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000
1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003
Catch effort CPUE*0.001
Gambar 68 Trend produksi (catch, upaya (effort) dan indeks kelimpahan stok (CPUE) sumber daya udang di perairan Selatan Jawa Kenaikan yang cukup tajam dari total upaya di sub area Selatan Jawa antara 1992-1993, diikuti oleh penurunan CPUE secara tajam pula. Keadaan yang sebaliknya terjadi pada periode berikutnya (1993-1994) dimana terjadinya pengurangan total upaya secara drastis dari 6000 unit alat pada tahun 1993 menjadi hanya sekitar 1000 unit telah menyebabkan kenaikan CPUE yang cukup tajam (Gambar 68).
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000
1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003
Catch effort CPUE*0.0004
Gambar 69 Trend produksi (catch, upaya (effort) dan indeks kelimpahan stok (CPUE) sumber daya udang di perairan Selatan Bali-Nusatenggara.
Antara tahun 1995-2003 di sub area Selatan Jawa terjadi lagi suatu pola eksploitasi sumberdaya yang bersifat umum, di mana penurunan trend total
upaya diikuti oleh kenaikan CPUE pada periode yang sama. Di sub area Bali-Nusatenggara, meskipun trend produksi menunjukkan kenaikan sebagai akibat adanya peningkatan jumlah upaya, namun trend CPUE tampak relatif mendatar. Keadaan ini diduga sebagai akibat dari adanya kejenuhan upaya di
upaya diikuti oleh kenaikan CPUE pada periode yang sama. Di sub area Bali-Nusatenggara, meskipun trend produksi menunjukkan kenaikan sebagai akibat adanya peningkatan jumlah upaya, namun trend CPUE tampak relatif mendatar. Keadaan ini diduga sebagai akibat dari adanya kejenuhan upaya di