5.1 Sumber Daya Ikan Pelagis Besar
5.1.1 Perikanan Tuna Basis Benoa
-10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00
1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 T
o n
Tenggiri Cakalang Tongkol Cucut
Gambar 13 Trend produksi tahunan empat kelompok ikan pelagis besar di perairan Bali-Nusa Tenggara
Secara umum dapat disimpulkan bahwa kelompok ikan cakalang dan tongkol di ketiga wilayah perairan menunjukkan pola trend produksi yang berbeda dan fluktuatif, sedangkan kelompok tenggiri dan cucut menunjukkan pola trend yang mirip dan cenderung relatif mendatar (Gambar 13).
5.1.1 Perikanan Tuna Basis Benoa a) Produksi
Sangatlah sulit untuk mendapatkan produksi total ikan tuna dari seluruh armada yang berbasis di Benoa secara akurat, sehingga sampai sekarang berapa produksi total dari kapal-kapal yang berbasis di Benoa tidak diketahui dengan pasti. Data dari Dinas Perikanan Provinsi Bali menunjukkan bahwa produksi kapal-kapal yang berbasis di Benoa terus naik sampai tahun 2002. Produksi total dari kapal-kapal rawai tuna PT PSB juga menunjukkan trend naik, seperti yang disajikan dalam Tabel 9.
Tabel 9 Perkembangan produksi total dan jumlah hari operasi kapal-kapal PT PSB
Tahun Hasil tangkapan
Total (kg) Jumlah hari operasi Laju tangkap (kg/hari operasi)
1992 714 569 1 760 406
1993 736 974 2 148 343
1994 820 366 2 781 295
1995 934 240 3 314 282
1996 1 013 499 3 475 292
1997 921 217 3 267 282
1998 1 069 388 4 022 266
1999 749 948 3 982 188
2000 640 754 3 615 177
2001 692 146 3 251 210
2002 776 900 3 314 234
Rata-rata 824 546 31 916 270.5
Naik/turun (%) + 0.8 + 6.5 - 5.4
Sumber: PT PSB, Benoa, Bali.
Produksi mengalami kenaikan sejak tahun 1992 sampai dengan 1998 kemudian menurun sampai 2002. Secara keseluruhan produksi total mengalami kenaikan rata-rata 0.8% per tahun. Ini disebabkan karena jumlah hari operasi naik sejak tahun 1992 sampai dengan tahun 2002 dengan kenaikan rata-rata 6.5% per tahun, hampir delapan kalilaju kenaikan total produksinya per tahun. Sebagai konsekuensinya, hasil tangkapan per hari operasi terus menurun rata-rata 5.4% per tahun.
Untuk tiga tahun terakhir (2000, 2001 dan 2002), produksi tuna sirip biru selatan PT PSB disajikan dalam Tabel 10.
Tabel 10 Produksi tuna sirip biru selatan PT PSB, 2000-2002 (ton)
Jenis Tuna
Tahun
2000 2001 2002
Ekor kg E/kg Ekor kg E/kg Ekor kg E/kg
SBT 106 10077 95,07 99 652 87,39 73 659 91,22 Tuna
total 26903 738556 27,45 29553 727715 24,62 32407 819427 25,29
% SBT 0.39 1.36 0.33 1.18 0.22 0.81
Sumber: PT PSB, Benoa, Bali (2003)
Hasil tangkapan SBT (Southern Bluefin Tuna – tuna sirip biru selatan) dari kapal-kapal PT PSB relatif sangat kecil, yaitu kurang dari 1%
berdasarkan ekor dan hanya disekitar 1% berdasarkan berat produksi.
Dari data tersebut juga tampak bahwa persentase SBT yang tertangkap selama periode 2000, 2001 dan 2002 juga cenderung bertambah kecil.
Perkembangan produksi tuna dan ikan paruh panjang (billfish) di Cilacap disajikan dalam Tabel 11. Hasil tangkapan rawai tuna di Cilacap tidak dipisahkan menurun jenis-jenis ikan yang tertangkap.
Tabel 11 Produksi tuna dan layaran di Cilacap, 1995-2001 (ton)
Tahun Tuna Albakor Layaran Total
1995 589.1 0 558.2 1 147.3
1996 483.8 0 484.5 968.3
1997 1 778.0 43.9 490.2 2 312.1
1998 988.6 76.5 424.2 1 489.3
1999 1 237.8 230.9 380.6 1 849.4
2000 1 692.6 150.0 318.1 2 160.6
2001 2 135.0 152.3 242.2 2 529.5
Rata-2 1 272.1 130.7 414.0 1 779.5
Naik/turun (%) + 23.9 + 28.3 - 13. 0 + 14.1
Sumber: Laporan PPSC (2000 dan 2001)
Dalam Tabel 11 terlihat bahwa produksi tuna (madidihang, mata besar dan tuna sirip biru selatan) dan albakora mengalami kenaikan cukup tinggi setiap tahunnya, yaitu rata-rata 23.9% dan 28.3% per tahun. Tetapi ikan layaran (ikan paruh panjang) mengalami penurunan rata-rata 13.0% per tahun.
b) Perkembangan Armada
Jumlah armada rawai tuna yang berbasis di Benoa terus naik, dimana pada tahun 2001 berjumlah 618 buah dan pada tahun 2002 menjadi 705, seperti yang disajikan dalam Tabel 12 Kapal yang paling banyak naik adalah kapal yang berada dalam kelas ukuran 101-200 GT dan kelas 61-100 GT. Yang turun adalah kapal-kapal dalam kelas 31-61 GT.
Bertambahnya kapal-kapal yang besar-besar mungkin agar mereka dapat beroperasi ke daerah penangkapan yang lebih jauh dan dengan trip yang lebih lama.
Tabel 12 Struktur armada rawai tuna yang berbasis di Benoa, Bali (2001 dan 2002)
Kelas Ukuran
(GT) Jumlah
2001 *) 2002 **)
< 30 112 (18.1 %) 138 (19.6 %) 31 – 60 167 (27.0 %) 160 (22.7 %) 61 – 100 177 (28.6 %) 209 (29.7 %)
101 – 200 150 (24.3 %) 195 (27.7 %)
> 200 12 (1.9 %) 3 (0.4 %)
Total 618 705
Sumber: *) 2001(WASKI, Benoa, Bali); **) (Simorangkir, 2002)
c) Laju Pancing dan Ukuran Ikan
Laju pancing (hook rate) adalah salah satu indeks kelimpahan stok sumber daya ikan yang ada di alam. Tinggi-rendahnya laju pancing dapat merupakan indikasi dari tinggi rendahnya kelimpahan stok (stock abundance) sumber daya ikan di suatu perairan. Adanya fluktuasi dari laju pancing juga merupakan respons sumber daya terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya, dimana faktor yang dominan adalah berupa tekanan penangkapan. Sejalan dengan perkembangan perikanan tuna di WPP Samudra Hindia, berdasarkan data sampel dari BUMN - PT Perikanan Samudra Besar (PSB) Benoa Bali diperoleh informasi bahwa baik laju tangkap (laju pancing, yang dinyatakan dalam: jumlah ekor/100 mata pancing), ataupun berat rata-rata individu ikan tuna yang tertangkap selama sepuluh tahun terakhir menunjukkan kecenderungan untuk terus menurun. Kecenderungan dari laju pancing untuk menurun terus dalam jangka panjang, menunjukkan bahwa sumber daya ikan tuna memerlukan perhatian dalam pengelolaannya dalam rangka memperoleh hasil yang optimal dalam jangka panjang.
Laju pancing (hook rate, Hr) pada tahun 1992 adalah sebesar HR = 1.00, pada tahun 2003 telah turun hanya sekitar 0,76 ekor. Demikian juga dengan berat rata-rata ikan yang tertangkap, dimana pada tahun 1992 adalah sekitar 34,5 kg/ekor pada tahun 2003 hanya sekitar 25 kg/ekor (Gambar 14). Tampak bahwa perkembangan rata-rata ukuran ikan tuna yang tertangkap semakin kecil. Hal ini menyiratkan bahwa tekanan penangkapan dari tahun ke tahun semakin tinggi.
-10 20 30 40
1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 HR*0.05 W (kg/ekor)
Gambar 14 Hook rate dalam ekor dan bobot (W) kapal-kapal PT Perikanan Samudra Besar
Estimasi berdasarkan data sampel dari PT PSB yang dilakukan hanya didasarkan atas jumlah kapal sekitar 20 unit rawai tuna. Sebagaimana diketahi bahwa jumlah armada kapal seluruhnya yang tercatat di Benoa/
Bali adalah sekitar 501 unit. Dengan demikian data tersebut didasarkan atas sampel sebesar (20/561 kapal) atau sekitar 3,6 % (4 % ).
Tuna mata besar (BET = Big eye tuna) tampaknya selalu tertangkap dalam jumlah yang dominan (> 65%). Jenis tuna yang cukup banyak setelah BET adalah madidihang (YFT) dan albakora (ALB) sedangkan tuna sirip biru selatan (SBT) tertangkap dalam jumlah yang relatif sedikit .
Dari gambar tersebut juga tampak adanya interaksi antara tuna albakora dengan tuna sirip kuning (yellowfin tuna), sebagaimana ditunjukkan oleh tingginya hasil tangkapan yellowfin pada saat sama albakor tertangkap dalam jumlah yang relatif sedikit dan sebaliknya. Terjadinya interaksi yang cukup jelas tersebut antara lain diduga oleh adanya persaingan makanan (food competetion).
Laju pancing (Hook Rate = HR) rawai tuna yang berbasis di Benoa terus mengalami penurunan. Kapal-kapal PT Samaru Bali mencapai laju pancing berturut-turut 0.62 dan 0.67 pada tahun 2001 dan 2002 (Simorangkir 2003), sedangkan kapal-kapal PT PSB pada tahun-tahun yang sama mencapai laju pancing yang lebih tinggi, yairu masing-masing 0.72 dan 0.74 masing-masing pada tahun 2001 dan 2002. Data yang diperoleh dari PT PSB menunjukkan bahwa, sampai dengan bulan Juli 2003, laju pancing kapal-kapal PT PSB baru mencapai 0.57, sedangkan sampai dengan bulan September 2003 laju pancing tersebut telah mencapai 0.59.
Tabel 13 Laju pancing pada tahun 2000 kapal-kapal PT PSB menurut GT
GT 80 60 40 15
HR 0,88 0,70 0,77 0,69
Catatan: GT = Gross Tonnage; HR = Hook Rate
Hasil pengumpulan data primer oleh observer pada bulan Maret-April 2003 sebanyak dua trip (13 setting) diperoleh laju pancing hanya sebesar 0.55. Jumlah ikan yang tertangkap adalah 4.6 ekor per setting.
Berdasarkan data dari Simorangkir (2000), ukuran rata-rata ikan tuna yang tertangkap oleh kapal-kapal PT PSB terus mengalami penurunan.
Dalam periode 1973 –1979 berat rata-rata ikan tuna yang tertangkap adalah 35.4 kg (32.6–37.0 kg). Pada periode tahun 1980-1989 berat rata-ratanya menurun menjadi 33.9 kg (32.1–39.0 kg). Dalam periode 10 tahun berikutnya (1990-1999) berat rata-ratanya terus menurun menjadi 30.0 kg (26.0–34.2 kg). Pada tahun 2000, 2001 dan 2002, berat rata-ratanya semakin kecil, yaitu masing-masing 27, 24 dan 25 kg per ekor (Batubara 2003). Berat rata-rata ikan tuna yang tertangkap oleh kapal-kapal PT Samaru Bali pada tahun 2001 dan 2002 sedikit lebih besar, yaitu masing-masing 27.0 kg/ekor (Simorangkir 2003). Sampai dengan bulan September 2003 rata-rata berat ikan tuna yang tertangkap kapal-kapal PT. PSB adalah 29 kg per ekor, dan hasil tangkapan per setting adalah 217 kg.
Hasil pengukuran panjang ikan mata besar, albakora dan madidihang di Benoa pada bulan April, Mei dan Juni diperoleh panjang rata-rata masing-masing 96.5 cm FL, 98.3 cm FL dan 113.7 cm FL, serta berat rata-ratanya masing-masing 22.1 kg, 19.3 kg dan 26.8 kg.
d) Daerah Penangkapan
Sejak awal perkembangan perikanan rawai tuna di Samudra Hindia, yang dimulai oleh PT PSB, daerah penangkapannya adalah perairan ZEEI.
Kemudian, tidak diketahui sejak kapan dimulai, banyak kapal-kapal rawai tuna yang beroperasi di luar perairan ZEEI. Menurut Wudianto dkk.
(2003), saat ini kira-kira 70% kapal rawai tuna beroperasi di perairan di luar ZEEI. Pada bulan April-Mei 2002 hasil pengamatan observer di atas kapal penangkap menunjukkan bahwa dari 14 setting yang dilakukan, 2 setting (14.3 %) dilakukan di perairan ZEEI dan 12 setting (85.7 %) dilakukan di luar perairan ZEEI. Malahan pada trip berikutnya
(Mei-Juni 2002) dilakukan 12 setting, semuanya di perairan diluar ZEEI. Hasil pengamatan observer pada bulan Maret-April 2003, diperoleh data bahwa dari 13 setting yang dilakukan, semuanya (100 %) dilakukan di perairan ZEEI.
Dari hasil wawancara dengan salah seorang pemilik perusahaan diketahui bahwa sejak tahun 2002 banyak kapal-kapal yang berbasis di Benoa dan Muara Baru beroperasi jauh ke barat sampai di perairan sebelah selatan Sri Langka. Karena beroperasi di perairan yang baru ini biayanya besar, meskipun hasilnya cukup baik, maka mulai ada beberapa kapal yang berbasis di Benoa yang beroperasi ke selatan sampai 30o LS.
104° 106° 108° 110° 112° 114° 116° 118° 120° 122° 124° 126°
Bujur Timur
Gambar 15 Daerah Penangkapan Kapal-kapal PT Perikanan Samodra Besar dari Pelabuhan Benoa Bali
Daerah penangkapan kapal-kapal yang berpangkalan di Benoa meliputi perairan selatan Jawa, Bali dan sebelah barat Sumatra dilakukan oleh kapal-kapal 30 – 200 GT GT, sedangkan kapal-kapal >200 GT kadang-kadang beroperasi sampai ke Selatan Nusa Tenggara, Laut Flores dan Laut Banda.
Kelompok ikan tuna yang tertangkap adalah Madidihang (yellowfin tuna, Thunnus albacares), Tuna matabesar (bigeye tuna, Th. obesus), Albakora (Th. alalunga) dan sedang jenis Tuna sirip biru selatan (Southern bluefin tuna, Th. maccoyii) jarang tertangkap bila beroperasi di daerah penangkapan yang relatif dekat dengan pelabuhan pendaratan dan di sebelah barat Sumatra, tetapi kapal yang beroperasi ke selatan di lingtang tinggi ((10 – 20 LS) atau di perairan selatan Bali dan Nusa Tenggara. Jenis ikan komersial lain yang tertangkap adalah marlin, ikan pedang, layaran, beberapa jenis cucut yang diambil hanya siripnya saja.
Posisi daerah penangkapan ini hanya diberikan pada area yang luas sehingga untuk itu perlu penerapan pemakaian “log book” pada kapal-kapal tersebut agar didapatkan koordinat posisi-posisi penangkapan.
e) Jenis-Jenis Ikan Tuna yang Tertangkap
Hasil tangkapan 23 kapal-kapal rawai tuna PT PSB Benoa, Bali 2003 terdiri dari tuna segar dan tuna reject, dengan komposisi hasil tangkapan menurut jenis ikan yang tertangkap seperti pada Tabel 14 berikut ini.
Tabel 14 Komposisi Tangkapan Rawai Tuna PT Perikanan Samodra Besar Tahun 2003
No. Jenis ikan Produksi
Catatan
Kg %
1 Matabesar (BET) 363,663 52,3 No 1 s/d 4 diekspor sebagai tuna segar
2 Madidihang YFT) 36,988 5,3
3 Sirip biru (SBT) 582 0,1
4 Ikan pedang ( SWF) 793 0,1
5 Tuna beku (Bet, Yft) 175,565 25,3 No 5 s/d 9 di ekspor beku dan dipasarkan lokal
6 Ikan pedang beku 12,887 1,9
7 Albakora (ALB) 62,457 9,0
8 Marlin 10,991 1.6
9 Lain-lain (others) 31,231 4,5
10 Total 695,157 100
Sumber: PT. Perikanan Samodra Besar Cabang Benoa Bali, tahun 2004.
Catatan:
YFT = Yellowfin Tuna - Madidihang; BET = Bigeye Tuna - Matabesar; ALB = Albacore – Albakora, SBT = Southern Bluefin Tuna. SWF = Sword fish.
Tampak bahwa hasil tangkapan didominsi oleh kelompok BET, kemudian kelompok yellowfin dan albakor. Kelompok SBT tertangkap dalam jumlah yang sangat kecil yaitu hanya sekitar 0,1 %. Dari informasi lain yaitu rata-rata hasil tangkapan selama periode 1992–2001 produksinya rata-rata-rata-rata 4.88 ton per tahun (3.0 – 7.2 ton) atau rata-rata 0.65% (0.3 – 0.9%). Di samping itu, tertangkap juga ikan-ikan paruh panjang dan ikan-ikan lainnya.
Hasil tangkapan PT PSB didominasi oleh mata besar, yang dalam -operasinya menggunakan rawai tuna lapisan dalam. BET (Big eye tuna-tuna mata besar) yang tertangkap memberikan kontribusi rata-rata 75.2% per tahun (56.8 – 84.8%) atau 523.4 kg (342.4 – 716.2 kg). YFT produksinya rata-rata 46.7 ton per tahun (16.5 – 91.6 ton) atau 6.46% (1.8 – 13.8%). ALB rata-rata 81.24 ton per tahun (31.3 – 153.1 ton) atau 10.47% (4.6 – 17.1 %).
5.1.2 Basis Bungus