Pemanfaatan Modal Nafkah Rumahtangga Petani di Dusun Kedung Palungpung
Pemanfaatan lima modal oleh rumahtangga petani di Dusun Kedung Palungpung memiliki berbagai variasi. Rumahtangga petani di Dusun Kedung Palungpung dibagi kedalam tiga lapisan yaitu lapisan atas, lapisan menengah, dan lapisan bawah. Pembagian lapisan tersebut berdasarkan jumlah pendapatan dari masing-masing rumahtangga petani. Pembagian kelas sosial petani dimaksudkan agar terlihat kecenderungan pemanfaatan modal nafkah sesuai dengan lapisan sosial rumatangga petani. Pemanfaatan modal nafkah berdasarkan lapisan ekonomi di Dusun Kedung Palungpung dapat dilihat dari gambar dibawah ini.
Gambar 10 Pemanfaatan modal nafkah rumahtangga petani berdasarkan lapisan ekonomi Dusun Kedung Palungpung Desa Tunggilis tahun 2015- 2016
Dari Gambar 10 dapat diketahui bahwa pada terdapat perbedaan modal nafkah yang dominan dimanfaatkan oleh rumahtangga petani di Dusun Kedung Palungpung. Rumahtangga petani lapisan atas lebih memanfaatkan modal finansial kemudian disusul oleh modal fisik dan sosial. Hal ini tentu saja berhubungan dengan tingkat pendapatan rumahtangga petani lapisan atas yang tinggi dan memiliki daya beli yang tinggi terhadap barang-barang yang bisa dijadikan sebagai modal fisik.
Pada rumahtangga petani lapisan menengah modal fisik menjadi modal yang dominan dimanfaatkan. Sementara itu tingkat pemanfaatan modal manusia dan modal alam berada pada posisi yang sama. Sementara itu modal sosial menjadi modal yang paling sedikit dimanfaatkan oleh rumahtangga petani lapisan menengah.
Pemanfaatan modal nafkah oleh rumahtangga petani lapisan bawah didominasi oleh modal fisik yang artinya mereka akan menjual benda-benda fisik ketika krisis terjadi. Modal fisik menjadi modal nafkah yang sering dimanfaatkan
Alam Manusi a Fisik Fiansial Sosial Lapisan Atas Alam Manusi a Fisik Fiansial Sosial Lapisan Atas Alam Manusi a Fisik Fiansial Sosial Lapisan Atas
mengingat rumahtangga petani lapisan bawah tidak memiliki pendapatan serta tabungan yang tinggi sehingga pemanfaatan modal finansial tidak optimal.
Modal Alam
Modal alam yang dimiliki dan dimanfaatkan oleh rumahtangga petani Dusun Kedung Palungpung adalah lahan sawah dan lahan kebun. Area persawahan terbentang luas disamping jalan raya yang sekaligus langsung berbatasan dengan Sungai Citanduy. Lahan sawah yang dimiliki oleh rumahtangga petani di Dusun Kedung Palungpung tidak bisa dimanfaatkan secara optimal karena selalu terendam banjir baik musim hujan maupun musim kemarau. Pada musim hujan debit air Sungai Citanduy naik dan air meluap ke lahan persawahan melalui bendungan yang oleh warga sekitar disebut “apur” kemudian air akan merendam lahan persawahan selama berbulan-bulan. Musim kemarau datang tidak menjadi angin segar bagi rumahtangga petani di Dusun Kedung Palungpung, air laut seringkali rob dan meluap ke Sungai Citanduy dan hal yang sama terjadi yaitu luapan Sungai Citanduy akan masuk melalui apur dan kemudian menggenang sawah milik rumahtangga petani. Banjir ketika rob air laut biasanya hanya sebentar menggenangi lahan persawahan, waktunya berkisar antara lima hari sampai dengan satu minggu.
Modal alam lainnya yang dimiliki oleh rumahtangga petani dan bisa dimanfaatkan ialah lahan kebun. Lahan kebun yang dimiliki oleh rumahtangga petani di Dusun Kedung Palungpung berada di daerah dataran tinggi dari Desa Tunggilis dengan akses jalan yang tidak begitu nyaman dan aman. Lahan kebun cenderung jarang dimanfaatkan oleh rumahtangga petani karena akses dan adanya gangguan babi hutan. Sehingga ketika sawah tergenang banjir, rumahtangga petani tidak bisa menanam padi di kebun atau yang biasa disebut padi huma atau menanam tanaman pokok lainnya pengganti beras karena akan dihancurkan dan dimakan oleh babi hutan. Sehingga rumahtangga petani di Dusun Kedung Palungpung memanfaatkan lahan kebun untuk ditanami oleh pohon-pohon besar yang memiliki masa panen musiman seperti sawo, albasiah, durian, dan jengkol karena dianggap aman dari gangguan babi hutan dan tidak memerlukan perawatan lebih yang mengharuskan rumahtangga petani mengunjungi kebunnya setiap hari.
Dari data pada Gambar 10 terlihat bahwa rumahtangga petani lapisan atas dan lapisan menengah sama-sama memanfaatkan modal alam secara sedang dimana rumahtangga petani lapisan atas dan menengah sama-sama memanfaatkan modal alam akan tetapi tidak bisa secara optimal. Pada rumahtangga petani lapisan bawah terlihat bahwa pemanfaatan modal alam secara rendah dikarenakan tingkat kepemilikan modal alam yang juga rendah serta akses yang tidak terlalu mudah karena adanya gangguan.
61
Modal Manusia
Modal manusia diukur berdasarkan tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga usia produktif, dan jumlah anggota rumahtangga yang bekerja. Berdasarkan data pada Gambar 10 didapatkan fakta bahwa peanfaatan modal manusia oleh rumahtangga petani lapisan atas dan lapisan bawah sama-sama rendah. Hal ini dikarenakan tingkat pendidikan kepala rumahtangga yang hanya sampai sekolah dasar (SD) dan bahkan ada yang tidak lulus sekolah. Pada kedua lapisan diketahui alasan mengapa kepala rumahtangga memiliki tingkat pendidikan rendah yaitu orang tua pada zaman dahulu hanya bersekolah sampai tamat SD saja.
Selain itu alasan lain diketahui dari data bahwa pada rumahtangga petani
lapisan atas yang bekerja hanya kepala rumahtangga saja, hal ini dikarenakan bahwa penghasilan dari kepala rumahtangga dirasa sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan rumahtangganya. Pada rumahtangga petani lapisan menengah pemanfaatan modal manusia berada pada posisi sedang dimana terdapat kepala rumahtangga yang menyelesaikan pendidikan sampai tingkat diploma. Selain itu karena pada rumahtangga lapisan menengah banyak yang memiliki anggota rumahtangga pada usia produktif dan mampu bekerja sehingga mengurangi beban tanggungan rumahtangga.
Modal Fisik
Pemanfaatan modal fisik diukur dari kepemilikan modal fisik yang berpotensi dijual ketika terjadi krisis. Modal fisik dianggap bisa membantu rumahtangga petani ketika terjadi krisis dengan cara dijual atau di gadaikan. Pemanfaatan modal fisik oleh rumahtangga petani lapisan menengah dan bawah berada pada posisi tinggi dimana kepemilikan modal fisik merupakan kepemilikan terbesar pada masing-maasing lapisan rumahtangga.
Sementara itu pada rumahtangga lapisan atas, pemanfaatan modal fisik berada pada posisi sedang karena pada rumahtangga petani lapisan atas, modal fisik bukanlah modal nafkah yang tingkat kepemilikannya paling besar sehingga dianggap modal fisik hanya sebagai modal pendukung ketika modal nafkah yang paling besar telah habis untuk memenuhi kebutuhan rumahtangganya.
Modal Finansial
Kepemilikan modal finansial pada rumahtangga petani lapisan menengah dan bawah berada pada posisi sedang. Modal finansial ditentukan oleh besarnya pendapatan suatu rumahtangga. Itu berarti rumahtangga petani lapisan menengah dan bawah tidak bisa memanfaatkan modal finansial pada saat terjadi krisis. Rumahtangga petani lapisan menengah dan bawah memanfaatkan modal nafkah yang paling tinggi yang dimilikinya.
Pemanfaatan modal fiansial pada rumahtangga petani lapisan atas menunjukkan pada posisi tinggi. Dimana rumahtangga petani lapisan atas bisa memanfaatkan modal finansial pada saat terjadi krisis dan itu berarti pula bahwa pendapatan rumahtangga petani lapisan atas lebih tinggi dibandingkan dengan lapisan menengah dan lapisan bawah. Seperti diketahui rumahtangga petani lapisan atas selain memiliki pendapatan dari sektor on-farm seperti kedua lapisan lainnya juga memiliki pendapatan dari sektor on-farm yang lumayan tinggi.
Modal Sosial
Kepemilikan modal sosial diukur berdasarkan jumlah jaringan, kepercayaan serta keikutsertaan anggota rumahtangga dalam organisasi yang ada di desa. Modal sosial bisa dimanfaatkan oleh rumahtangga petani untuk meminta bantuan pada saat terjadi krisis maupun pasca krisis sehingga rumahtangga petani bisa kembali kepada keadaan seperti semula setelah terjadinya banjir. Pada lapisan menengah dan bawah, pemanfaatan modal sosial berada pada posisi rendah. Alasannya adalah rumahtangga petani lapisan menengah dan bawah tidak memiliki jaringan yang luas terhadap tokoh-tokoh dalam pemerintahan, mereka hanya mengenal baik ustadz dan tokoh agama sebagai representatif tokoh masyarakat serta ketua RT saja.
Mengenai tingkat kepercayaan, rumahtangga lapisan menengah dan bawah cenderung kurang mempercayai tokoh dalam pemerintahan bahkan itu masih dalam tingkat desa. Tidak kenal secara pribadi dan dekat menjadi alasan mereka untuk tidak memberikan kepercayaan yang tinggi kepada tokoh-tokoh pemerintahan. Begitupun dengan organisasi, rumahtangga lapisan menengah dan bawah mengaku tidak mengetahui organisasi apa saja yang ada di desa dan tidak memiliki keinginan untuk mencari tahu. Ketika ditanya mengenai ketidakikutsertaannya dalam organisasi, rumahtangga lapisan menengah dan bawah mengungkapkan bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang ikut organisasi dan mendapatkan bantuan. Pemanfaatan modal sosial oleh rumahtangga petani lapisan atas berada pada posisi sedang dimana terdapatnya jumlah jaringan, memiliki tingkat kepercayaan serta keikutsertaannya dalam organisasi. Rumahtangga petani lapisan atas memiliki jaringan yang lebih luas dibandingkan dengan lapisan menengah dan bawah. Akan tetapi tidak semua ikut serta menjadi anggota organisasi karena menurut keterangan rumahtangga petani lapisan atas di Desa Tunggilis tidak ada organisasi.
Pemanfaatan Modal Nafkah Rumahtangga Petani di Dusun Sirung Watang
Rumahtangga petani di Dusun Sirung Watang memiliki karakteristik yang berbeda dengan rumahtangga petani di Dusun Kedung Palungpung. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi alam yang tidak terkena banjir sehingga membuat rumahtangga petani dapat memanfatkan lahan secara maksimal serta dapat melakukan berbagai macam jenis kegiatan nafkah. Rumahtangga petani di Dusun
63
Sirung Watang dibagi kedalam tiga lapisan berdasarkan jumlah pendapatan yang diterima oleh rumahtangga petani dalam satu tahun.
Terdapat perbedaan jumlah pendapatan tiap lapisan antara Dusun Sirung Watang dan Dusun Kedung Palungpung sehingga standar deviasi yang berlaku berdasarkan standar deviasi lokal atau tergantung dusun masing-masing. Berikut adalah pemanfaatan lima modal nafkah rumahtangga petani di Dusun Sirung Watang yang merupakan daerah tidak terkena banjir.
Gambar 11 Pemanfaatan modal nafkah rumahtangga petani berdasarkan lapisan ekonomi Dusun Sirung Watang Desa Tunggilis tahun 2015-2016 Berdasarkan Gambar 11 dapat dilihat bahwa sama halnya dengan Dusun Kedung Palungpung, terdapat perbedaan dominasi pemanfaatan modal nafkah antar lapisan ekonomi rumahtangga petani di Dusun Sirung Watang. Rumahtangga petani lapisan atas dominan memanfaatkan modal finansial untuk membantu rumahtangganya pada saat terjadi krisis. Sementara itu terdapat persamaan pemanfaatan modal nafkah pada rumahtangga petani lapisan atas ini yaitu pemanfaatan modal sosial, modal alam, modal fisik, dan modal manusa berada pada posisi sedang.
Rumahtangga petani lapisan menengah dominan memanfaatkan modal alam dan modal finansial dalam kehidupan rumahtangganya sementara itu terdapat tiga persamaan pemanfaatan modal nafkah yaitu modal sosial, modal manusia, dan modal fisik berada pada posisi sedang. Pemanfaatan modal nafkah yang dominan dimanfaatkan oleh rumahtangga petani lapisan bawah adalah pemanfaatan modal alam dan modal fisik. Dimana rumahtangga petani lapisan bawah bisa memanfaatkan kedua modal ini ketika terjadi krisis. Sementara itu modal sosial dan modal finansial pada rumahtangga petani lapisan bawah berada pada posisi rendah.
Modal Alam
Modal alam yang dimanfaatkan oleh rumahtangga petani di Dusun Sirung Watang adalah lahan sawah, lahan kebun, dan lahan tambak. Akan tetapi yang paling dominan dimanfaatkan adalah lahan kebun. Lahan kebun lebih dominan dimanfaatkan karena memiliki penghasilan yang tinggi ketika ditanami pohon
Alam Manusi a Fisik Fiansial Sosial Lapisan Atas Alam Manusi a Fisik Fiansial Sosial Lapisan Atas Alam Manusi a Fisik Fiansial Sosial Lapisan Atas
kelapa dan di sadap untuk kemudian diolah menjadi gula merah. Harga per kilo gula merah adalah Rp10 ribu dimana dalam satu minggu paling tidak satu rumahtangga petani mampu menghasilkan 60 kilo gula yang siap dijual.
Pemanfaatan modal sawah tidak terlalu dominan karena jumlah rumahtangga yang memiliki sawah tidak banyak serta posisi sawah yang berada di bawah tebing bukit menyulitkan rumahtangga petani untuk menggarapnya. Alasan kecilnya pendapatan dari hasil panen sawah juga menjadi alasan rumahtangga petani lebih memilih menyadap pohon kelapa daripada menggarap sawah.
Pada rumahtangga petani di Dusun Sirung Watang, pemanfaatan dominan modal alam dilakukan oleh rumahtangga petani lapisan menengah dan lapisan bawah. Dominasi ini dilihat dari nilai tertinggi antar lapisan rumahtangga. Pemanfaatan ini dilakukan karena rumahtangga petani lapisan menengah dan
bawah cenderung tidak memiliki usaha di bidang non-farm seperti membuka
warung, menjual pulsa dan lain sebagainya sehingga pemanfaatan modal alam sangatlah tinggi. Rumahtangga petani lapisan menengah dan bawah secara optimal menggantungkan hidupnya kepada hasil dari modal alam.
Modal Manusia
Pemanfaatan modal manusia oleh seluruh lapisan rumahtangga petani di Dusun Sirung Watang sama yaitu berada pada posisi sedang hal itu terjadi karena tingkat pendidikan rumahtangga petani di Dusun Kedung Palungpung hampir sama yaitu lulus SD dan SMP. Selain itu faktor jumlah anggota rumahtangga yang bekerja juga mempengaruhi pemanfaatan modal manusia dan pada rumahtangga petani Dusun Sirung Watang seluruh isteri bekerja melebihi setengah dari total responden.
Akan tetapi modal manusia tidak dapat sepenuhnya dimanfaatkan oleh rumahtangga petani ketika terjadi krisis karena terdapat modal nafkah lain yang paling dominan pemanfaatannya pada masing-masing kelas ekonomi rumahtangga petani. Sehingga modal manusia hanya sebagai modal pendorong aja.
Modal Fisik
Sama halnya dengan kriteria modal fisik dengan Dusun Kedung Palungpung, modal fisik dihitung berdasarkan jumlah kepemilikan benda fisik yang mendukung rumahtangga petani ketika terjadi krisis. Mendukung dalam artian bahwa ketika rumahtangga mengalami krisis maka benda fisik tersebut dapat dijual atau digadaikan.
Pemanfaatan benda fisik dipengaruhi oleh kepemilikan modal fisik. Pemanfaatan modal fisik oleh rumahtangga petani secara dominan dilakukan oleh rumahtangga petani lapisan bawah dimana pada rumahtangga petani lapisan bawah modal fisik dimanfaatkan secara optimal pada saat terjadi krisis.
65
Modal Finansial
Pemanfatan modal finansial dipengaruhi oleh tingkat pendapatan serta besar tabungan yang dimiliki baik tabungan tunai maupun tabungan dalam bentuk emas dan ternak. Pada rumahtangga petani di Dusun Sirung Watang, pemanfaatan modal finansial secara dominan dilakukan oleh rumahtangga lapisan atas dan menengah dimana kedua lapisan tersebut yang memiliki pendapatan lebih besar dibandingkan dengan rumahtangga petani lapisan bawah.
Jumlah modal finansial antara rumahtangga petani lapisan atas dan menengah tidaklah sama. Dimana rumahtangga petani lapisan atas memiliki modal finansial yang sangat tinggi. Bagi kedua lapisan rumahtangga petani tersebut, modal finansial dapat dimanfaatkan ketika terjadi krisis melanda dan mampu menolong rumahtangga petani untuk kembali kepada keadaan semula sebelum terjadinya krisis.
Modal Sosial
Pemanfaatan modal sosial diukur berdasarkan jumlah jaringan, tingkat kepercayaan, serta keikutsertan dalam organisasi yang ada. Rumahtangga lapisan atas dan menengah adalah lapisan rumahtangga yang memanfaatkan modal sosial secara dominan. Dimana rumahtangga petani lapisan atas dan menengah memiliki banyak jaringan dari mulai tokoh lokal sampai dengan tokoh pemerintahan. Kemudian rumahtangga petani lapisan atas dan menengah juga memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap masyarakat sekitar, tokoh masyarakat sampai tokoh pemerintahan, hanya saja ketiadaan organisasi menyebabkan kedua lapisan rumahtangga tersebut tidak tergabung dalam organisasi.
Rumahtangga petani memanfaatkan modal sosial dengan tidak optimal hal ini terbukti dengan pemanfaatan modal sosial oleh rumahtangga petani lapisan bawah berada pada posisi rendah. Rumahtangga petani lapisan bawah hanya memiliki sedikit jaringan, oleh karena itu tingkat kepercayaan yang dimilikipun rendah karena alasan tidak kenal.
Analisis Modal Nafkah di Dua Dusun
Pemanfaatan modal nafkah oleh rumahtangga petani di kedua dusun sangat menentukan keberlangsungan hidup rumahtangga petani tersebut. Pemanfaatan modal nafkah ini akan membantu rumahtangga petani di kedua dusun pada saat mengalami masa sulit. Secara umum, masa sulit yang dihadapi oleh rumahtangga petani adalah krisis karena akibat adanya gangguan dari luar. Rumahtangga petani di kedua dusun memiliki perbedaan dalam memanfaatkan modal nafkah tersebut. Uraian perbedaan penggunaan modal nafkah oleh rumahtangga petani adalah sebagai berikut.
Gambar 12 Pemanfaatan modal nafkah rumahtangga petani di dua dusun studi Desa Tunggilis tahun 2015-2106
Berdasarkan Gambar 12 diketahui bahwa di masing-masing dusun terdapat dua modal nafkah yang dominan dimanfaatkan oleh rumahtangga petani. Di Dusun Kedung Palungpung dua modal yang dominan dimanfaatkan oleh rumahtangga petani adalah modal finansial dan fisik. Modal finansial adalah jumlah pendapatan yang dimiliki oleh rumahtangga petani dijumlahkan dengan tabungan baik tabungan tunai, tabungan dalam bentuk emas serta tabungan ternak. Sementara itu modal fisik yang juga dimanfaatkan secara dominan oleh rumahtangga petani di Dusun Kedung Palungpung merupakan kepemilikan atas benda fisik yang jika rumahtangga petani dalam keadaan krisis maka benda fisik tersebut dapat dimanfaatkan dengan cara dijual maupun di gadaikan.
Pemanfaatan modal nafkah yang dominan di Dusun Sirung Watang adalah pemanfaatan modal alam dan modal finansial. Modal alam dimanfaatkan oleh rumahtangga petani Dusun Sirung Watang dengan cara ditanami pohon kelapa dan kemudian disadap untuk diolah menjadi gula merah. Sejauh ini rumahtangga petani Dusun Sirung Watang menggantungkan hidupnya dari menyadap pohon kelapa. Selain modal alam, modal finansial juga dimanfaatkan secara optimal oleh rumahtangga petani di Dusun Sirung Watang. Hal ini karena tingkat pendapatan rumahtangga petani Dusun Sirung Watang memiliki rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan Dusun Kedung Palungpung. Selain pendapatan, kepemilikan tabungan juga mempengaruhi pemanfaatan modal finansial bagi rumahtangga petani Dusun Sirung Watang. Ada persamaan pemanfaatan modal dominan di kedua dusun yaitu sama-sama memanfaatkan modal finansial secara dominan. Berikut saya sajikan tabel yang menggambarkan indikator pemanfaatan modal nafkah di kedua dusun.
Alam
Manusia
Fisik Fiansial
Sosial
Pemanfaatan Modal Nafkah Rumahtangga Petani Dusun Kedung
Palungpung Alam Manusia Fisik Fiansial Sosial
Pemanfaatan Modal Nafkah Rumahtangga Petani Dusun Sirung
67
Tabel 13 Jumlah dan persentase rumahtangga petani di kedua dusun studi Desa Tunggilis berdasarkan keikutsertaan dalam kelompok tahun 2015-2016 Banyaknya kelompok Dusun Kedung Palungpung Dusun Sirung Watang Total n % n % n % 0 14 46.7 5 16.7 19 31.7 1 9 30.0 5 16.7 14 23.3 2 4 13.3 19 63.3 23 38.3 3 2 6.7 1 3.3 3 5.0 ≥4 1 3.3 0 0.0 1 1.7 Total 30 100.0 30 100.0 60 100.0
Berdasarkan Tabel 13 diketahui bahwa jumlah terbanyak rumahtangga petani di Dusun Kedung tidak mengikuti kelompok apa-apa. Alasannya adalah bahwa di Desa Tunggilis tidak ada kelompok atau organisasi yang disosialisasikan kepada masyarakat sehingga mereka tidak tergabung kedalamnya. Rumahtangga petani yang tidak tergabung kedalam kelompok adalah sebagian besar adalah rumahtangga petani lapisan bawah dimana jaringan yang dimilikinya tidaklah banyak sehingga menyebabkan ketidak tahuan terhadap kelompok yang ada pada tingkat dusun maupun tingkat desa. Selain itu, rumahtangga petani selalu menganggap bahwa kelompok atau organisasi yang ada hanya diperuntukkan untuk lapisan menengah ke atas. Dari hal tersebut diketahui bahwa rumahtangga petani tidak memiliki rasa cukup percaya diri untuk tergabung kedalam kelompok.
Jumlah terbanyak kedua adalah rumahtangga petani yang mengkuti satu kelompok. Kelompok yang dimaksud adalah kelompok pengajian baik tingkat dusun maupun tingkat desa. Tercatat sembilan rumahtangga petani di Dusun Kedung Palungpung yang mengikuti kelompok pengajian yang diadakan di tingkat dusun maupun tingkat desa. Kelompok pengajian tersebut adalah kelompok yang ada di masyarakat yang ada dari mulai tingkat RT dan terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung kedalam kelompok pengajian baik untuk menjadi anggota pengajian maupun untuk menjadi pengurus.
Terdapat satu rumahtangga petani di Dusun Kedung Palungpung yang mengikuti lebih dari empat kelompok. Biasanya rumahtangga seperti ini adalah rumahtangga petani yang memiliki kepala rumahtangga yang aktif dan memiliki jaringan luas seperti kepala rumahtangga petani yang juga seorang perangkat desa. Selain itu rumahtangga seperti ini adalah rumahtangga yang memiliki anak usia remaja dan tergabung kedalam kelompok pemuda di Desa Tunggilis.
Keikutsertaan rumahtangga petani di Dusun Sirung Watang memiliki perbedaan dengan rumahtangga di Dusun Kedung Palungpung. Jumlah kelompok yang paling banyak diikuti oleh rumahtangga petani adalah sebanyak dua kelompok. Dimana biasanya kelompok tersebut adalah kelompok pengajian serta kelompok petani gula merah. Dusun Sirung Watang memiliki kelompok petani gula merah yang didirikan secara inisiatif oleh kepala dusun dan bersifat kekeluargaan.
Tujuan diadakannya kelompok ini adalah untuk memudahkan bagi petani gula merah untuk mengatasi masalah yang mereka hadapi khususnya masalah yang berkaitan dengan gula merah.
Tabel 14 Jumlah dan persentase rumahtangga petani di kedua dusun studi Desa Tunggilis berdasarkan kepemilikan modal sosial tahun 2015-2016 Kepemilikan Modal Sosial Dusun Kedung Palungpung Dusun Sirung Watang Total n % n % n % Rendah 0 0.0 0 0.0 0 0.0 Sedang 4 13.3 4 33.3 8 13.3 Tinggi 26 86.7 26 86.7 52 86.7 Total 30 100.0 30 100.0 60 100.0
Berdasarkan Tabel 14 diketahui bahwa tingkat modal sosial yang dimiliki oleh rumahtangga petani di kedua dusun sama yaitu sebanyak 26 rumahtangga petani di masing-masing dusun memiliki tingkat modal sosial yang tinggi. Sementara itu sebanyak empat rumahtangga petani di masing-masing dusun memiliki tingkat modal sosial sedang, serta tidak ada tumahtangga petani di kedua dusun yang memiliki tingkat modal sosial rendah.
Modal sosial ini sering dimanfaatkan oleh rumahtangga petani ketika terjadi krisis seperti untuk meminjam uang atau meminta bantuan yang lainnya. Meminta