LVI dan Metode Perhitungan
Livelihood Vulnerability Index (LVI) adalah tingkat kerentanan nafkah suatu kelompok, masyarakat, serta komunitas. LVI digunakan untuk melihat kelentingan suatu masyarakat dari sudut pandang kerentanan. LVI memiliki hubungan erat dengan modal nafkah yang dimiliki. Untuk mengatasi kerugian akibat dari kerentanan, petani kecil mengembangkan kelentingan nafkah dengan menggunakan sosial, ekonomi, dan mekanisme adaptasi ekologi berdasarkan
tempat tinggal mereka (Dharmawan et al. 2016). Pada penelitian ini, LVI
digunakan untuk melihat perbandingan kelentingan dari rumahtangga petani di dua dusun yang memiliki kondisi berbeda. Dusun pertama adalah Dusun Kedung Palungpung adalah dusun yang selalu terkena banjir, dan dusun kedua adalah Dusun Sirung Watang yang merupakan dusun bebas banjir.
Konsep kerentanan digunakan sebagai cara lain untuk mengukur kelentingan atau yang biasa disebut sebagai konsep resiliensi. Kerentanan adalah kebalikan dari kelentingan. Semakin tinggi nilai kerentanan suatu kelompok maka semakin rendah nilai kelentingannya. Artinya kelompok tersebut memiliki resiliensi yang buruk. Dalam penelitian ini, kerentanan dilihat dari tiga aspek yaitu tingkat keterpaparan, tingkat kesensitifan, dan tingkat adaptasi. Rentang nilai yang akan didapatkan adalah negatif satu (-1) sampai dengan positif satu (1) dan akan menghasilkan tiga penggolongan kerentanan yaitu tinggi, sedang, dan rendah.
Analisis Livelihood Vulnerability Index Rumahtangga Petani Dusun Kedung Palungpung
Kerentanan yang terjadi di Dusun Kedung Palungpung dipengaruhi oleh kepemilikan modal nafkah. Modal nafkah dimanfaatkan oleh rumahtangga petani Dusun Kedung Palungpung untuk bisa mendapatkan pendapatan bagi rumahtangganya. Dalam penelitian ini LVI diukur berdasarkan persentase kepemilikan modal nafkah oleh rumahtangga petani kemudian akan didapatkan rentang angka dari negatif satu (-1) sampai dengan positif satu (1). Dimana negatif satu (-1) menunjukkan tidak rentan dan nilai positif satu (1) menunjukkan sangat rentan.
Tabel 18 Livelihood Vulnerability Index rumahtangga petani Dusun Kedung Palungpung Desa Tunggilis tahun 2015-2016
Variabel Sub Komponen Nilai Sub
Komponen
Nilai Komponen
Utama
Sensitivity kepemilikan lahan sawah rendah 0.23 0.38 kepemilikan lahan kebun rendah 0.30
pendapatan on-farm rendah 0.30 pendapatan off-farm rendah 0.60 pendapatan non-farm rendah 0.47 jumlah art non produktif 0.40
Exposure frekuensi terkena banjir 0.27 0.57
persentase sawah yang terkena banjir 0.87
Adaptive Capacity
banyaknya pilihan sumber nafkah 0.07 0.11 kepemilikan tabungan cash 0.10
kepemilikan tabungan ternak 0.10 kepemilikan tabungan emas 0.23 tingkat keberfungsian lembaga 0.03
Nilai LVI 0.18
Berdasarkan Tabel 18 diketahui bahwa tingkat kerentanan rumahtangga petani di Dusun Kedung Palungpung adalah 0.18 dimana nilai tersebut mengartikan bahwa rumahtangga petani di Dusun Kedung Palungpung termasuk kedalam kategori rentan akibat dari banjir yang melanda setiap tahun. Rumahtangga petani rentan akibat banjir yang melanda karena secara otomatis rumahtangga kehilangan
mata pencaharian dan pendapatan dari sektor on-farm dimana di Dusun Kedung
Palungpung lahan sawah lebih optimal dimanfaatkan daripada lahan kebun. Nilai kerentanan tersebut dapat dibandingkan dengan tingkat pendapatan
rumahtangga petani dari sektor on-farm dimana pendapatan on-farm sangatlah
sedikit dibandingkan dengan sektor non-farm. Sebagian besar rumahtangga petani
di Dusun Kedung Palungpung lebih mengandalkan pendapatan dari non-farm
karena banjir yang melanda sudah sejak lama terjadi dan mereka tidak bisa
mengandalkan pendapatan dari sektor on-farm. Dapat dilihat juga bahwa nilai
keterpaparan rumahtangga petani adalah 0.57 yang menunjukkan nilai sangat terpapar. Dimana komponen dari keterpaparan adalah jumlah terkna banjir dalam satu tahun serta persentase lahan sawah yang terkena banjir.
Nilai kapasitas adaptasinya adalah 0.11 dimana nilai tersebut mengartikan bahwa kapasitas adapatasi rumahtangga petani Dusun Kedung Palungpung sangat rendah. Kapasitas adaptasi yang dimaksud adalah kepemilikan aset finansial berupa tabungan, modal sosial, serta banyaknya pilihan sumber nafkah. Hal tersebut menunjukkan bahwa rumahtangga petani Dusun Kedung Palungpung tidak dapat menabungkan pendapatannya karena pengeluaran yang tinggi. Selanjutnya
85
disajikan hasil uji statistik antara pengaruh kepemilikan modal nafkah terhadap tingkat resiliensi di Dusun Kedung Palungpung.
Analisis Livelihood Vulnerability Index Rumahtangga Petani Dusun Sirung Watang
Sama halnya dengan Dusun Kedung Palungpung, kerentanan yang terjadi di Dusun Sirung Watang diengaruhi oleh kepemilikan modal nafkah. Metode perhitungan kerentanan juga sama yaitu dihitung persentase per individu. Berikut adalah rincian dari LVI Dusun Sirung Watang.
Tabel 19 Livelihood Vulnerability Index rumahtangga petani Dusun Sirung Watang Desa Tunggilis tahun 2015-2016
Variabel Sub Komponen Nilai Sub
Komponen
Nilai Komponen
Utama
Sensitivity kepemilikan lahan sawah rendah 0.63 0.28 kepemilikan lahan kebun rendah 0.37
pendapatan on-farm rendah 0.37 pendapatan off-farm rendah 0.00 pendapatan non-farm rendah 0.00 jumlah art non produktif 0.33
Exposure frekuensi terkena banjir 0.00 0.00
persentase sawah yang terkena banjir 0.00
Adaptive Capacity
banyaknya pilihan sumber nafkah 0.03 0.10 kepemilikan tabungan cash 0.13
kepemilikan tabungan ternak 0.07 kepemilikan tabungan emas 0.10 tingkat keberfungsian lembaga 0.17
Nilai LVI -0.03
Dari Tabel 19 diketahui bahwa nilai tingkat kerentanan rumahtangga petani Dusun Sirung Watang adalah -0.03 dimana angka ini menunjukkan tidak rentan akan tetapi cenderung sedang. Dusun Sirung Watang adalah dusun yang tidak terpengaruh oleh banjir. Nilai tersebut menunjukkan bahwa rumahtangga petani dusun Sirung Watang berada pada posisi lebih baik daripada posisi rumahtangga petani Dusun Kedung Palungpung. Jika dilihat dari nilai kesensitifan dan nilai keterpaparan rumahtangga petani yang rendah, terdapat kemungkinan bahwa rumahtangga petani di Dusun Sirung Watang dalam kondisi sangat lenting atau memiliki resiliensi yang tinggi.
Akan tetapi, hasil akhir menunjukkan bahwa kondisi rumahtangga petani di Dusun Sirung Watang lenting cenderung sedang. Hal ini dikarenakan rumahtangga petani Dusun Sirung Watang tidak memiliki kapasitas adaptasi yang tinggi. Angka
nilai kapasitas adaptasi rumahtangga petani Sirung Watang berada dibawah nilai kapasitas adaptasi rumahtangga petani Dusun Kedung Palungpung. Hal tersebut yang menyebabkan nilai tingkat kerentanan rumahtangga petani di Dusun Sirung Watang adalah -0,03.
Ikhtisar
Rumahtangga petani Dusun Kedung Palungpung yang merupakan daerah yang terkena banjir memiliki tingkat kerentanan yang tinggi akan bencana banjir yang selalu datang setiap tahun. Sementara itu rumahtangga petani Dusun Sirung Watang yang merupakan daerah tidak terkena banjir memiliki tingkat kelentingan yang sedang tanpa adanya bencana banjir. Nilai Livelihood vulnerbaility Index (LVI) Dusun Kedung Palungpung adalah sebesar 0.18 dimana angka tersebut menunjukkan rentan yang berarti rumahtangga petani di Dusun Kedung Palungpung memiliki tingkat kelentingan yang rendah. Sementara itu rumahtangga petani di Dusun Sirung Watang memiliki nilai LVI sebesar -0.03 dimana angka tersebut menunjukkan tidak rentan yang berarti rumahtangga petani di Dusun Sirung Watang memiliki tingkat kelentingan yang cukup.