5.1. Basis Teologi Ekologi Dalam Islam
Teologi dalam Islam selama ini dipahami terlalu sempit hanya pada urusan ketuhanan atau hanya berkutat pada relasi manusia dengan Tuhannya. Namun demikian, sesungguhnya, konstruksi teologis tidaklah hanya berkutat pada wilayah tersebut. Teologi dapat diperluas hingga mencakup wilayah lain seperti isu lingkungan yang akan dibahas selanjutnya pada bab ini dan pada bab berikutnya.
Islam merupakan agama yang didalamnya mencakup berbagai macam hal, Bennett (2005) menyatakan bahwa Islam secara inheren didalamnya memiliki seluruh pengetahuan. Jadi, dalam segi apapun baik yang dibicarakan itu masalah etika atau masalah proteksi dan perlindungan lingkungan, ataupun ilmu pengetahuan, jawabannya akan ditemukan dalam Islam.
Seperti banyak dipahami bahwa sesungguhnya Islam merupakan salah satu agama yang sangat komprehensif yang didalamnya mengatur kehidupan seluruh makhluk dimuka bumi ini dan kehadiran Islam melalui Nabi Muhammad SAW merupakan rahmat bagi semesta alam seperti disebutkan dalam Al-Quran:
Sungguh, (apa yang disebutkan) di dalam (Al-Qur‟an) ini, benar-benar menjadi petunjuk (yang lengkap) bagi orang-orang yang menyembah (Allah) ۞ dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam ۞ (Q.S. Al Anbiya: 106-107).
Ayat diatas menjelaskan bahwa, manusia yang direpresentasikan oleh Muhammad SAW serta para pengikutnya memiliki kewajiban yang sebenarnya sangat agung, yaitu kewajiban untuk menjaga alam karena kedudukannya yang merupakan rahmat bagi seluruh makhluk. Kewajiban ini memiliki relevasi dengan kedudukan manusia sebagai khalifah atau sebagai pemimpin di muka bumi yang pada kondisi tertentu sering disalahartikan sebagai penguasa diatas muka bumi atau bahkan menjadi pemiliknya. Padahal, meskipun manusia memiliki kewenangan untuk mengeksploitasi sumberdaya, sebenarnya disisi lain terdapat kewajiban untuk menjaganya.
Secara umum, berbagai problematika lingkungan yang muncul harusnya dilihat dan dikaji akar persoalannya. Hal ini seperti yang diutarakan oleh Lynn
50 White yang menjelaskan bahwa akar problematika ekologi berakar pada agama – yang dalam kajiannya adalah agama Kristen. White menjelaskan bahwa karakter agama Kristen yang menjadi fokus kajiannya adalah merupakan agama yang antroposentrik (White, 1974). Dalam Islam, kajian White ini sejalan dengan ungkapan Kaveh L Afrasiabi (2003) sebagai berikut:
“…the criticism begins from the argument that Islam, much like other monotheistic religions, is anthropocentric, and concludes that the pursuit of an ecologically minded theology must necessarily transcend these religion in search of alternative traditions and belief systems…”
Islam dalam konteks ini dikritisi karena mendorong nilai-nilai humanitas serta pentingnya nilai tersebut sebagai titik awal. Manusia diberikan otoritas untuk menguasai alam serta makhluk lain karena kedudukannya sebagai khalifah.
Padahal, seharusnya kedudukan sebagai seorang khalifah tersebut menuntut manusia untuk menjadi pemimpin dan bertanggungjawab atas makhluk hidup lainnya baik dari sisi kontinuitas maupun pemanfaatannya. Dalam Al-Quran, kedudukan manusia disebutkan sebagai berikut:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata:
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"
Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (Q.S. Al Baqarah: 30)
Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan (Q.S. Al Isra : 70)
Posisi manusia tersebut kemudian secara kosmis mengharuskannya mendapatkan tugas untuk menjalankan kepercayaan (amanat) sekaligus juga tanggungjawab. Amanat untuk mengelola alam dengan segenap potensi dan ketersediaan bahan yang diperlukan bagi kehidupan serta tanggungjawab terhadap kehidupan nabati dan hewan. Selain itu alam adalah titipan tuhan yang harus dijaga serta penciptaannya juga tidak sia-sia dan memiliki tujuan (Muhammad, 2007).
51 Oleh karena itu, hak yang diberikan kepada manusia untuk bertindak dan memanfaatkan alam diatur dalam kerangka etis. Kebebasan yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk mengelola alam dibatasi dan terikat dengan aturan-aturan moral dan etika kemanusiaan seperti keadilan, kemaslahatan, martabat manusia, kesejahteraan dan kerahmatan semesta. Ini yang kemudian mengharuskan manusia menjaga alam, dengan kata lain apabila manusia melakukan tindakan merusak alam, berarti juga merusak bahkan membunuh manusia karena alam tidak hanya untuk saat ini tetapi untuk manusia di masa mendatang (Muhammad, 2007).
Dalam kaitan dengan peranan manusia tersebut, Qardhawi (2002) menjelaskan tiga tujuan dari peran manusia terhadap lingkungan. Peran pertama adalah mengabdi kepada Allah SWT, peran kedua adalah menjadi wakil atau khalifah di atas bumi dan ketiga adalah membangun peradaban di muka bumi.
Ketiga tujuan ini erat kaitannya dengan peranan manusia dalam perspektif teologis atau ushuluddin.
Pemahamanan dan penjagaan lingkungan serta tanggungjawab dan amanah menjadi potret dan refleksi iman individual seseorang. Ketika perilaku seseorang adalah bertindak merusak, memanfaatkan alam secara berlebihan dan bertindak semena-mena, hal ini menunjukkan bahwa dalam konteks teologi dan keimanan yang dimiliki individu tersebut menjadi sangat rapuh. Selain itu, tindakan semacam itu menunjukkan bahwa sosok manusia tersebut menjadi tidak amanah dan berpotensi merusak kehidupan speciesnya dimasa yang akan datang.
Mahmudunnasir (1991) mendeskripsikan kewajiban manusia terhadap alam dengan menjelaskan bahwa Allah telah mengaruniai manusia dengan kekuasaan atas makhluk-makhluk-Nya yang tidak terhingga banyaknya. Dia telah diberi kekuasaan segala sesuatu. Dia telah diberi kekuatan untuk menundukkan mereka dan membuat mereka melayani tujuan-tujuannya. Manusia menikmati hak untuk menggunakan makhluk-makhluk itu sesuka mereka. Akan tetapi, Allah tidak memberikan hak itu tanpa batas. Dikatakan bahwa semua makhluk mempunyai hak tertentu atas manusia. Manusia tidak boleh memubazirkan mereka ataupun menyakiti atau membahayakan mereka tanpa guna. Apabila mereka menggunakan makhluk-makhluk itu harus sesedikit mungkin. Manusia harus menggunakan
52 cara-cara yang terbaik dan paling sedikit akibat buruknya dalam memanfaatkan mereka.
Selain pandangan tentang kedudukan dan tanggungjawab manusia secara kosmis diatas, konstruksi ekologi teologi Islam juga memperlihatkan bagaimana setiap ciptaan Tuhan memiliki nilai yang sejatinya merupakan bukti dari kekuasaan Tuhan. Oleh karena itu, seluruh ritual Islam berkaitan dengan fenomena alam dan secara umum umat Islam memandang alam dunia sebagai wahyu Tuhan yang pertama sebelum kitab suci diturunkan (Nasr, 2003).
Selain itu, kewajiban manusia untuk melakukan konservasi lingkungan erat kaitannya dengan pandangan mendudukkan Islam tidak hanya sebagai agama an sich, tetapi menjadi panduan hidup (way of life). Agama ini mewujud tidak hanya dalam bentuk kelembagaan, tetapi juga mewujud dalam bentuk nilai. Dien (2003) merangkum lima hal yang menjadi dasar kewajiban manusia yaitu, pertama, lingkungan juga merupakan ciptaan Tuhan sehingga memiliki kedudukan yang sama dengan manusia. Kedua, proses penciptaan bumi serta sumberdaya alam lainnya merupakan tanda dari kebesaran-Nya, sehingga menuntut kesadaran manusia dan pemahamannya tentang Pencipta. Ketiga, lingkungan karena posisinya sebagai ciptaan Tuhan, patut mendapatkan perlindungan (hurma).
Keempat, Islam sebagai jalan hidup atau panduan hidup. Dalam konteks ini, kewajiban manusia untuk melakukan konservasi lingkungan menunjukkan suatu konsepsi kebaikan. Kelima, seluruh relasi manusia dalam Islam harus berdasarkan pada konsepsi keadilan („adl) dan kebaikan (ihsan) serta tidaklah berdasarkan pada landasan materil dan ekonomi.
Oleh karena itu, relasi antara manusia dengan lingkungan merupakan bagian dari eksistensi sosial yang merupakan suatu wujud eksistensi bahwa apapun yang berada diatas muka bumi ini memiliki kewajiban untuk menyembah kepada Tuhan. Penyembahan ini tidak semata-mata hanya ritus yang bersifat simbolik, tetapi lebih pada manifestasi manusia dalam ketundukannya kepada Sang Pencipta.
Selain menyangkut tentang nilai dan kedudukan, baik manusia maupun alam. Konstruksi lain yang menarik adalah menyangkut tentang perdamaian
53 (peace). Nasr (1990) menjelaskan bahwa perdamaian pada umat manusia tidak akan pernah terwujud tanpa adanya perdamaian dengan alam.
“…Peace in human society and the preservation of human values are impossible without peace with the natural and spiritual orders and respect for the immutable supra-human realities which are the source of all that is called „human values‟…” (Nasr, 1990)
Perdamaian semacam ini juga menyangkut penghargaan terhadap perbedaan serta keragaman (pluralitas) baik terhadap manusia dengan manusia maupun manusia dengan makhluk lainnya. Penghargaan ini merupakan bentuk pemahaman bahwa sesungguhnya, terdapat nilai esoteris pada masing-masing makhluk dan perbedaan tersebut menjadi rahmat bagi semesta alam. Perbedaan ini kemudian tidak saling menegasikan dan meniadakan, tetapi saling mengisi dan memahami satu sama lain serta berupaya untuk selalu memperbanyak kebajikan.
Dan kami Telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu;
Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang Telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang Telah kamu perselisihkan itu. (Q.S. Al Maidah:48)
Selain konstruksi diatas, kritik yang dialamatkan kepada agama, yang dianggap menjadi salah satu sumber etis dan praksis manusia dalam mengeksploitasi sumber daya dan lingkungan juga mendapatkan batasan yang tegas dan jelas. Larangan pola hidup yang berlebihan dan cenderung melakukan kapitalisasi bagi kepentingan pribadi dan kelompok sehingga mengorbankan makhluk lain menjadi salah satu bukti teologi praksis yang menjadi dasar bagi umat Muslim. Oleh karena itu, sikap askestis yang mempraktikan kesederhanaan menjadi prinsip dasar dalam kehidupan umat Muslim. Ini dijelaskan dalam Al Quran
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) Masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.
54 Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
(Q.S. Al Araf: 31)
Pada ayat lain, Al Quran juga menjelaskan penolakan Islam pada sifat dan perilaku berlebih-lebihan di satu sisi, juga perilaku kikir di sisi yang lainnya. Ini berarti bahwa Islam sebenarnya memberikan penggambaran praktis bahwa manusia harus terus mencari titik keseimbangan dalam hidup serta bersikap proporsional dengan tidak berlebihan serta tidak pula bersikap kikir.
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (Q.S. Al Furqan: 67)
5.2. Makna Tindakan Ekologi di Pesantren: Refleksi Para Aktor
Secara umum, gerakan ekologi di kedua pesantren tersebut dalam sejarahnya belum berlangsung begitu lama. Di satu sisi, pesantren Al Amin menginisiasi dan menerapkan gerakan ekologi sejak lima tahun belakangan.
Sementara itu, gerakan ekologi di pesantren Daarul Ulum Lido telah berlangsung pada kurun periode yang tidak berbeda jauh.
Aktor yang dimaksud dalam gerakan ekologi di pesantren ini secara umum merujuk pada Dhofier (1985) dan Sukamto (1999). Keduanya merujuk aktor utama pesantren antara lain adalah Kyai dan Santri serta Khadam. Meskipun demikian, dalam konteks penelitian ini, tidak berarti aktor yang disebutkan diatas terlibat dalam kegiatan ekologi. Oleh karena itu, aktor-aktor yang terlibat dalam gerakan ekologi ini kemudian diperluas dan tidak hanya berhenti pada kyai dan santri, tetapi juga masyarakat yang terlibat dalam model gerakan yang diusung oleh pesantren maupun aktor lain selain kyai dan santri yang terdapat di dalam pesantren seperti Asatidz atau guru.
Meskipun demikian, lanskap teologi yang melatari munculnya gerakan ekologi di pesantren ini secara umum merujuk pada sumber utama mereka yaitu Al Quran. Al Quran menjadi sumber rujukan utama mereka yang selalu dikaji dan dicoba di kontekstualisasikan dengan fenomena yang terjadi di sekitar pesantren maupun masyarakat pada umumnya.
Basis teologi yang melandasi gerakan secara khusus merujuk pada kekhasan dan ciri utama dari pesantren yang bersangkutan terutama bagaimana sosok Kyai
55 merefleksikan fenomena sekitar dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan pesantren secara umum serta memadukannya dengan kekhasan yang dimiliki oleh pesantren. Meskipun rujukan utama antara kedua pesantren ini sama yaitu Al Quran, tetapi sudut pandang dan cara mengartikannya jauh berbeda. Kondisi ini jelas terefleksikan atau bahkan termanifestasikan dalam bentuk gerakan yang mereka lakukan.
Kedua pesantren ini merujuk pada ayat Al Quran yang mengatakan bahwa sesungguhnya, manusia dilarang melakukan perusakan setelah Allah SWT menciptakannya. Selain itu, jargon umum yang banyak diterapkan di pesantren seperti kebersihan itu menjadi bagian dari Iman juga berlaku di dua pesantren ini.
Pesantren Al Amin, seperti terefleksikan dari Kyai Basith yang menjelaskan bahwa sesungguhnya kerangka dasar teologi yang terbangun di pesantren Al Amin adalah upaya untuk menjalankan tiga hubungan transenden. Hubungan yang pertama adalah hubungan dengan pencipta, hablu mina Allah. Hubungan yang kedua adalah hubungan dengan manusia, hablu mina an naas. Dan hubungan yang ketiga adalah hubungan dengan alam, hablu mina al alam. Hubungan ketiga inilah yang menjadi kunci dari implementasi gerakan ekologi yang dilakukan oleh pesantren. Ketiga hubungan ini merupakan terobosan pandangan kyai dari pandangan konvensional selama ini yang hanya mendudukkan relasi manusia hanya pada dua hal yaitu hubungan dengan Allah serta hubungan dengan sesama manusia. Pandangan seperti ini tergambar dalam pernyataan Kyai sebagai berikut:
“…Kadang-kadang kita ini suka lupa, didalam hubungan yang disebut Hablu mina Allah, Hablu mina An-nas. Orang berhubungan dengan Allah, itu sering. Mungkin dalam satu hari itu lima kali, dengan ditambah malamnya mungkin, sering sekali. Kedua, Hablu mina An-Nas, manusia hubungan dengan manusia, dengan kemasyarakatan, cara jual beli, itu hablu mina an-nas. Cuma agak dilalaikan selama ini itu Hablu mina al-alam. Padahal kita ini sepertinya dari alam ini tidak ada apa-apanya, justru kita ini hidup dari alam…”
Ajengan juga menyadari bahwa sesungguhnya problem lingkungan yang muncul belakangan merupakan akibat dari sifat dan tangan manusia yang tidak bisa menjaga amanat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, dorongan untuk merubah diri dengan tindakan konkrit dengan cara menanam
56 menjadi pilihan yang tidak terhindarkan. Pandangan ini terlihat dari pernyataan Kyai berikut:
“…Didalam Al-Quran diterangkan, dzoharo al fasaad fi al barri wa al bahri bima kasabat aidi an naas. Kerusakan lautan dan daratan itu sebetulnya dengan ulah-ulah manusia. Halaman atau gunung yang gundul, itulah manusia. Mungkin yang akan menjadi kerusakan-kerusakan yang ada di lautan. Cuma, kalau di darat sudah rusak, lalu (laut) ikut-ikutan.
Buktinya, kekurangan oksigen saja, kutub bisa mencair. Makanya, hablu mina al alam ini harus di tonjolkan. Insya Allah kalau kita sudah melakukan dengan cara menyuruh nanam, kita harus menanam dahulu.
Insya Allah masyarakat akan ikut.
Kami menghimbau kepada pemuda, ikut dengan hablu mina al alam tersebut dengan cara menanam. Yuk, kita sama-sama bershadaqah oksigen untuk siapa? Untuk kita. Kita ini kalau hanya ingin rajin saja, menanam.
Allah SWT didalam Al-Qur‟an mengatakan, wama min daabbatin fi al ard illa „ala Allahi rizquha. Sebetulnya, Allah itu sudah menanggungjawab terhadap rizqi semua hambanya. Apa yang disebut rizqi itu? Sesuatu yang masuk ke dalam perut. Itu rizqi namanya. Yang dicari ini bukan rizqi sebetulnya, lebihnya, yang disebut apa? Milik. Kita jangan merasa diri kekuatan kita diri. Kita banyak uang, kita punya tenaga yang baik, itu tetap kita harus berhadapan dengan Allah SWT yang diharuskan orang itu harus memohon kepada Allah SWT setiap malam (tahajjud – HK), sesuai Al-Quran mengatakan “ud‟uuni astadjib lakum”. Berdoalah kamu, Aku yang akan mengabulkan. Diantaranya rohaniahnya, rohaninya kita meminta kepada Allah SWT, jadi kita harus bekerja keras, mau tidak mau. Didalam Al-Quran disebutkan “inna ma‟a al usri yusro”. Orang tidak akan senang kalau sebelum apa dulu? Repot dulu, bekerja dulu. Orang tidak akan langsung memakan apa, nasi kalau tidak menanam dahulu. Tetap semua juga harus ada proses…”
Konstruksi teologis yang terbangun di pesantren Al Amin ini memperlihatkan pergeseran dalam mendudukkan alam seperti tergambar dalam tafsir Kyai atas hubungan diatas. Dalam perspektif Islam, etika atas lingkungan seperti yang digambarkan oleh Abedi-Sarvestani dan Shahvali (2008) sebenarnya mencoba merekonstruksi dua hubungan antara manusia dengan alam yaitu mode pemeliharaan (nurturing mode) dan mode intervensi (interventionist mode). Abedi dan Shahvali kemudian menjelaskan bahwa Islam dalam hal relasi antara Tuhan,
57 manusia dan alam memahami bahwa sesungguhnya hubungan tersebut meliputi kepada tuhan sehingga seluruhnya menjadi terintegrasi.
Gambar 5.1. Gerak Perubahan Konstruksi Teologi Ekologi
Basis teologi yang diperlihatkan oleh kyai diatas memperlihatkan pergeseran pemaknaan kyai atas alam dari yang sebelumnya hanya dilihat sebagai makhluk sekunder, dan hanya mengedepankan hubungan manusia dengan manusia serta manusia dengan Tuhan, kemudian bergeser dan menjadikan alam sebagai entitas yang sama dengan manusia dan memiliki implikasi teologis dengan penafsiran hubungan triangulatif antara Tuhan, manusia dan alam.
Landasan teologi lain yang mengemuka adalah konsepsi tentang kutubul awliaa yang menjadi kerangka dasar untuk menjaga keseimbangan alam. Ketika kondisi kutub tidak seimbang, maka dipercaya akan muncul berbagai bencana.
Landasan teologi semacam ini merupakan refleksi dari corak pesantren tradisional semacam Al-Amin. Pendekatan tasawuf menjadi pewarna dari tafsir yang dilakukan oleh pesantren atas fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar pesantren, terutama fenomena kerusakan lingkungan. Ini terlihat dari pernyataan kyai berikut:
“…Dua tahun belakang, Tahun 2008 atau tahun 2007, saya lihat TV bahwa kutub sudah mencair, wah kata saya ini bahaya, kalau dalam bahasa kan kutub itu, kan kutub es itu, padahal itu kutubul aulia, bahasa na kutub teh naon? pancer, itu kata ahli tata bahasa kalau ulama meninggal dunia paku dunianya hilang, apalagi kutub, apalagi kutub itu bukan paku lagi.
Kutubul aulia di atas ulama aulia itu, makanya kalau kutubul aulia sudah tidak ada nah sekarang masih ada Nabi Hidir. Kalau pancernya sudah tidak ada, otomatis kegoyangan dunia ini akan terjadi seperti kalau kutub itu, ALLAH menciptakan kutub ini untuk mengikat dunia ini kalau mencair yah begitulah sudah banjir dimana-mana sekarang udah ketahuan. Pada saat itu saya mendengar apa sih akibatnya dikarenaka kekurangan oksigen padahal Indonesia, brazil itu paru-paru dunia. Adanya oksigen itu dari mana yaitu pohon. Saya harus menanam pohon. Saya lihat di beberapa kitab, apa sih manfaatnya pohon itu…”
Allah
Alam Manusia
Allah
Alam Manusia
58 Konsepsi lain adalah konsepsi sedekah yang menjadi ciri utama pesantren ini. Konsepsi sedekah yang digulirkan adalah seperti sedekah oksigen maupun sedekah kepada makhluk lainnya dengan kepercayaan bahwa seluruh pepohonan yang ditanam selalu bertasbih kepada Allah SWT. Konsepsi sedekah seperti yang dijelaskan pada bab sebelumnya, terutama seperti yang menyangkut khomtsah atsnaf tampaknya menjadi basis dari upaya reflektif yang dilakukan oleh kyai.
Oleh karena itu, konsepsi yang muncul, yang menjadi basis gerakan ekologi adalah sedekah (shodaqoh) yang mencakup sedekah kepada hewan melalui daun yang ditanam sehingga menjadi salah satu sumber pangan mereka, juga menjadi sumber hidup. Selain itu, kyai juga memaknai bahwa tanaman bukanlah benda mati yang tidak memiliki tugas dan fungsi apapun di bumi ini. Salah satu tugas, yang juga merupakan tugas dan kewajiban manusia adalah selalu mengingat dan berzikir kepada Allah SWT. Oleh karena itu, kyai memaknai bahwa salah satu manfaat utama dari menanam adalah memperbanyak kesempatan untuk berzikir dan bertasbih dengan adanya tanaman tersebut. Hal ini terlihat dalam pernyataan kyai berikut ini:
“…Malah kadang-kadang saya menjelaskan di luar dari pada orang di dalam Al-Quran itu ada hablumminallah ada hablumminannas, saya tambahkan habluminal alam (sambil tertawa) kan ga ada yah kurang. Itu manfaatnya banyak. Itu shodaqoh yang tidak sengaja, apa diantaranya:Pertama, daunnya saja kita sedang bershodaqoh kepada hewan ternak, kambing domba. Kedua, kita lihat lagi kita itu sedang bershodaqoh terhadap burung, satu tempat untuk burung yang kedua adalah untuk makanan burung karena pada pepohonan itu hidup ulat, biji.
Ketiga, menahan arus banjir, banjir bandang. Keempat, Kita bershodaqoh air karena di bawah pepohonan itu kan ada air karena dalam pepohonan bertasbih maka kita menyuruh pohon untuk bertasbih dengan menanam pohon tersebut. Yang paling celaka itu bertasbih malas nanamnya juga engga nah itu celaka. Keenam, yaitu oksigen kita ini bershodaqoh oksigen.
Kata ilmu peneliti kalau ada pohon 80 cm itu akan menyimpan oksigen kalau di rumah sakit 2 tabung, berapa tuh harganya sebab kita kan ada
Kata ilmu peneliti kalau ada pohon 80 cm itu akan menyimpan oksigen kalau di rumah sakit 2 tabung, berapa tuh harganya sebab kita kan ada