• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. Tinjauan Pustaka

2.2. Etika Protestanisme dan Tindakan Sosial

Salah satu teoritikus yang banyak menitikberatkan penelitiannya pada etos kerja adalah Max Weber. Damsar (2002) menjelaskan bahwa Weber dalam bukunya The Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism menyatakan bahwa ketelitian yang khusus, perhitungan dan kerja keras dari bisnis barat yang didorong oleh perkembangan etika protestan yang muncul pada abad keenambelas dan digerakkan oleh dokrin Calvinisme yaitu doktrin tentang takdir.

Senada dengan Damsar, Mintarti (2001) juga menjelaskan bahwa pandangan Weber diatas berawal dari keganjilan, penyimpangan yang jelas terlihat dan identifikasinya serta penjelasnya merupakan orisinalitas sebenarnya dari The Protestan Ethic. Biasanya, mereka yang hidupnya terpaut dengan kegiatan ekonomi dan dengan pengejaran keuntungan, bersikap acuh terhadap agama, bahkan suka bermusuhan terhadap agama karena kegiatan mereka tertuju

11 kepada dunia materil. Akan tetapi agama Protestan bukannya mengendurkan pengawasan gereja atas kegiatan sehari-hari, malahan menuntut penganutnya disiplin yang lebih keras daripada penganut agama Katolik.

Tulisan Weber tersebut menurut Sobary (2007) menyebutkan peran yang dimainkan oleh agama, terutama etika yang menjiwai beberapa sekte Protestan tertentu terutama dalam perkembangan kapitalisme modern. Menurutnya, kontribusi penting Weber adalah memahami sepenuhnya asal usul kapitalisme modern. Weber mencoba menjelaskan hakikat dan kemunculan suatu mentalitas baru, yang disebutnya semangat kapitalisme yang menggantikan tradisionalisme dalam kehidupan ekonomi. Selain itu, semangat kapitalisme dalam pandangan weber merupakan aspek sentral dari kapitalisme modern.

Weber membedakan empat aliran utama agama Protestan ascetic:

Calvinisme, Metodisme, Peitisme, dan sekte Baptis. Akan tetapi analisisnya tentang etika Protestan terpusat pada salah satu dari keempat aliran tersebut, yaitu Calvinisme. Di dalam Calvinisme terdapat tiga kepercayaan pokok yaitu (1) semesta diciptakan untuk menunjukkan keagungan Tuhan yang Mahabesar dan bahwa semua itu harus ditafsirkan sesuai dengan maksud dan kehendak Tuhan, (2) maksud dan kehendak Tuhan tidak selalu bisa dipahami oleh manusia, dan (3) kepercayaan kepada takdir, yakni hanya sejumlah kecil manusia akan terpilih untuk diangkat ke surga (Giddens, 1986).

Tesis utama Weber seperti yang disebutkan oleh Morrison (1995) terletak pada dua hal yaitu bahwa banyak pusat-pusat komersial di Eropa ketika itu telah menunjukkan aktivitas komersial yang sangat intens bersamaan dengan berkembangnya ajaran Protestanisme. Tesis kedua dari Weber adalah bahwa kapitalisme barat di motivasi atas dua hal yang menurutnya sangat kontradiksi.

Disatu sisi bahwa perilaku menimbun kekayaan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan individu, akan tetapi disisi lain justru masyarakat eropa menghindari penggunaan kekayaan mereka untuk tujuan berfoya-foya dan bersenang-senang.

Weber kemudian menyimpulkan bahwa yang mendasari perilaku tersebut adalah etika agama yang dalam hal ini etika protestan.

Johnson (1986) juga menjelaskan bahwa akar motivasi individu jauh lebih dalam daripada keputusan rasional yang disengaja mengenai alat dan tujuan atau

12 konformitas terhadap tuntutan dari mereka yang berotoritas. Analisa Weber mengenai etika Protestan serta pengaruhnya dalam meningkatkan pertumbuhan kapitalisme menurutnya menunjukkan pengertiannya mengenai pentingnya kepercayaan agama serta nilai dalam membentuk pola motivasional individu serta tindakan ekonominya. Pengaruh agama terhadap pola perilaku individu serta bentuk-bentuk organisasi sosial juga dapat dilihat dalam analisa perbandingannya mengenai agama-agama dunia yang besar.

Dalam Economy and Society, Weber menetapkan garis pemisah antara ekonomi dan sosiologi ekonomi dengan mengajukan tiga unsur yaitu (1) bahwa tindakan ekonomi adalah tindakan sosial; (2) tindakan ekonomi selalu melibatkan makna; (3) tindakan ekonomi selalu memperhatikan kekuasaan (Damsar, 2002).

Weber juga menjelaskan bahwa kenyataan sosial secara mendasar terdiri dari inidivud-individu dan tindakan-tindakan sosialnya yang berarti. Weber melihat bahwa kenyataan sosial sebagai sesuatu yang didasarkan pada motivasi individu dan tindakan-tindakan sosial. Tindakan sosial menurut Weber harus didasari oleh raisonalitas sehingga rasionalitas ini menjadi kunci bagi suatu analisa obyektif mengenai arti-arti subyektif dan juga merupakan dasar perbandingan mengenai jenis-jenis tindakan sosial yang berbeda (Johnson, 1986).

Rasionalitas dan peraturan yang biasa mengenai logika merupakan suatu kerangka acuan bersama secara luas dimana aspek-aspek subyektif perilaku dapat dinilai secara obyektif. Rasionalitas merupakan konsep dasar yang digunakan Weber dalam klasifikasinya mengenai tipe-tipe tindakan sosial. Perbedaan pokok yang diberikan adalah antara tindakan rasional berhubungan dengan pertimbangan yang sadar dan pilihan bahwa tindakan itu dinyatakan sedangkan tindakan irasional adalah sebaliknya (Johnson, 1986).

Dalam Johnson (1986) dijelaskan bahwa Weber membagi tindakan menjadi empat tipe. Tipe pertama adalah tindakan rasional instrumental. Tipe ini merupakan tingkat rasionalitas yang paling tinggi yang meliputi pertimbangan dan pilihan yang sadar yang berhubungan dengan tujuan tindakan itu dan alat yang dipergunakan untuk mencapainya. Individu dilihat sebagai memiliki macam-macam tujuan yang mungkin diinginkannya, dan atas dasar suatu kriterium menentukan satu pilihan di antara tujuan-tujuan yang saling bersaingan ini.

13 Individu itu lalu menilai alat yang mungkin dapat dipergunakan untuk mencapai tujuan yang dipilih tadi. Tindakan ekonomi dalam sistem pasar yang bersifat impersonal mungkin merupakan bentuk dasar rasionalitas instrumental ini. Tipe tindakan ini juga tercermin dalam organisasi birokratis. Weber melihat sistem pasar yang impersonal dan organisasi birokratis sedang berkembang dalam dunia Barat modern.

Tipe kedua adalah rasionalitas yang berorientasi nilai. Sifat rasionalitas yang berorientasi nilai yang penting adalah bahwa alat-alat hanya merupakan obyek pertimbangan dan perhitungan yang sadar. Tujuannya sudah ada dalam hubungannya dengan nilai individu yang bersifat absolute atau merupakan nilai akhir baginya. Tindakan religius merupakan bentuk dasar dari rasionalitas yang berorientasi nilai ini.

Tipe ketiga adalah tindakan tradisional. Tindakan ini merupakan tipe tindakan sosial yang bersifat non-rasional. Tindakan ini lebih dikarenakan kebiasaan kemudian diabsahkan atau didukung oleh kebiasaan atau tradisi yang sudah lama mapan sebagai kerangka acuannya, yang diterima begitu saja tanpa persoalan. Weber melihat bahwa tipe tindakan ini telah hilang lenyap karena meningkatnya rasionalitas instrumental.

Tipe keempat adalah tindakan afektif. Tipe tindakan ini ditandai oleh dominasi perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau perencanaan yang sadar. Tindakan seperti ini benar-benar tidak rasional karena kurangnya pertimbangan logis, ideologis, atau kriteria rasionalitas lainnya.