BAB I PENDAHULUAN
G. Batasan Istilah
Batasan istilah ini dimaksudkan agar pembahasan tidak keluar dari pokok permasalahan. Penulis memfokuskan penelitian ini pada daya tarik interpersonal siswi maskulin terhadap sesama jenis salah satu SMK Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Konsep sangat diperlukan untuk mempermudah dan memfokuskan penelitian agar tidak terlalu melebar dan lari dari saran utama, untuk menjelaskan maksud dan konsep–konsep yang terdapat dalam skripsi penelitian.
Daya tarik adalah suatu kekuatan yang membuat orang lain mempunyai perhatian khusus terhadap sesuatu yang memiliki daya tarik, daya tarik sering
14
disebut juga dengan daya pikat. Individu sebagai makhluk pribadi membutuhkan otonomi dan kebebasan untuk berinteraksi dengan orang lain, sehingga manusia akan selalu membutuhkan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Setiap manusia melakukan komunikasi, agar kebutuhannya dapat dipenuhi oleh orang lain. Dari perjumpaan awal, perhatian seseorang sering terfokus pada bagaimana memelihara dan mengarahkan hubungan yang lebih akrab, sehingga dapat memunculkan daya tarik awal.
Dari sini, daya tarik awal dapat berlanjut menjadi hubungan yang lebih akrab berdasarkan cinta yang menimbulkan daya tarik interpersonal (Dayakisni &
Hudaniah 2009: 123).
Maskulin adalah bentuk sifat atau karakter yang dimiliki oleh laki–laki yang terdapat pada seorang perempuan. Maskulin adalah seorang perempuan yang memiliki sifat atau perilaku yang dianggap oleh masyarakat sebagai peran gender laki–laki, mengenakan pakaian seperti laki–laki atau bermain permainan yang dianggap sebagai permainan laki–laki. Menurut Ritch C Savin-Williams (2016), perempuan maskulin adalah perempuan yang berpakaian dan berperilaku seperti laki–laki (Purba, 2016).
LGBT merupakan akronim dari Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Yudiyanto (2016) menafsirkan LGBT sebagai istilah baru yang digunakan sejak tahun 1990-an untuk menggantikan frasa “komunitas gay”.
Rohmawati (2016) dalam tulisannya yang berjudul “Perkawinan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender/Transeksual (LGBT). Perilaku LGBT tidak dipengaruhi oleh hormon melainkan terjadi karena adanya perubahan struktur
15
otak yang disebabkan oleh pengalaman dan lingkungan yang disebut dengan plastisitas dimana perilaku seseorang mampu mengubah bentuk otak manusia itu sendiri. Hasil kajian kepustakaan di atas menunjukkan bahwa LGBT adalah keabnormalan orientasi seksual yang dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan seseorang.
Lesbian merupakan istilah yang diambil dari sebuah pulau Lesbos, yang mana perempuan di pulau tersebut menyukai sesama jenis. Lesbian adalah perempuan yang memilih untuk mengikatkan dirinya secara personal (secara psikis, fisik, dan emosional) dengan sesama perempuan. Penyebab terjadinya konseli tersebut terjerumus ke dalam LGBT adalah faktor dari lingkungan, karena salah pergaulan.
16 BAB II KAJIAN PUSTAKA
Pada bab ini dipaparkan beberapa teori mengenai penelitian. Bab II ini menyajikan konsep dasar mengenai daya tarik interpersonal, teori–teori orientasi seksual, teori–teori lesbian, teori–teori cemburu. Teori–teori daya tarik intepersonal yang dibahas meliputi pengertian daya tarik interpersonal, faktor–
faktor yang menentukan daya tarik interpersonal, prinsip daya tarik interpersonal.
Teori–teori orientasi seksual yang dibahas meliputi pengertian orientasi seksual dan bentuk–bentuk orientasi seksual. Teori–teori lesbian yang dibahas meliputi pengertian lesbian, penyebab lesbian, macam–macam lesbian. Teori–teori cemburu yang dibahas meliputi pengertian cemburu, ciri–ciri cemburu, faktor–
faktor yang mempengaruhi cemburu.
A. Teori–Teori Daya Tarik Interpersonal 1. Pengertian Daya Tarik Interpersonal
Menurut Person (dalam Sarlito dan Eko, 2009: 67) manusia adalah mahkluk sosial, yang artinya individu tidak dapat menjalin hubungan sendiri, selalu menjalin hubungan dengan orang lain, mencoba untuk mengenali dan memahami kebutuhan satu sama lain, membentuk interaksi, serta berusaha mempertahankan interaksi tersebut. Individu melakukan hubungan interpersonal ketika mencoba untuk berinteraksi dengan individu lain. Hubungan interpersonal adalah hubungan yang terdiri atas dua orang atau lebih, yang memiliki ketergantungan satu sama
17
lain dan menggunakan pola interaksi yang konsisten. Ketika akan menjalin hubungan interpersonal, akan terdapat suatu proses dan biasanya dimulai dengan daya tarik interpersonal. Daya tarik interpersonal adalah suatu proses psikologis berfokus pada bagaimana memelihara dan mengarahkan hubungan hal itu dipengaruhi oleh adanya kesukaan, yang dilihat dari fisik, penampilan, perilaku, kompetensi, ketulusan sehingga dapat memunculkan hubungan yang akan terjalin antara kedua belah pihak. Atkinson (2008: 381) menegaskan daya tarik interpersonal yaitu sikap kita terhadap orang lain.
Baron dan Byrne (Sarlito dan Eko, 2009: 67) menjelaskan bahwa daya tarik interpersonal adalah penilaian seseorang terhadap sikap orang lain, di mana penilaian ini dapat diekspresikan melalui suatu dimensi, dari strong liking sampai dengan strong dislike. Rakhmat (2007: 110)
mengungkapkan bahwa daya tarik interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif, dan daya tarik seseorang. Barlund (Rakhmat, 2007: 111) mengemukakan daya tarik interpersonal adalah ketertarikan seseorang terhadap orang lain.
Byrne (Rakhmat, 2007: 112) menjelaskan daya tarik interpersonal merupakan gabungan dari efek keseluruhan interaksi di antara individu.
Merujuk pada sikap seseorang terhadap orang lain. Ketertarikan diekspreksikan sepanjang suatu dimensi yang berkisar dari sangat suka hingga sangat tidak suka (Baron dan Byrne, 2003: 262). Suatu proses berkenalan dengan orang lain, kemudian memberikan penilaian terhadap
18
orang tersebut, apakah orang tersebut cukup sesuai untuk menjadi teman kita atau orang tersebut ternyata kurang sesuai, sehingga kita memilih untuk tidak melakukan interaksi sama sekali (Sarlito dan Eko, 2009: 67).
Brehm & Kassin (Dayakisni dan Hudaniyah, 2009: 124) mengartikan daya tarik interpersonal sebagai istilah yang digunakan untuk merujuk secara khusus keinginan seseorang untuk mendekati orang lain.
Pengertian yang hampir sama juga dikemukakan Brigham (Dayakisni dan Hudaniyah, 2009: 124) yaitu kecenderungan seseorang untuk menilai seseorang atau kelompok secara positif untuk mendekatinya dan berperilaku positif padanya.
Daya tarik interpersonal adalah penilaian seseorang terhadap sikap orang. Ketika berkenalan dengan orang lain, sebenarnya melakukan penilaian terhadap orang tersebut, apakah orang tersebut cukup sesuai untuk menjadi teman atau orang tersebut kurang sesuai sehingga lenih memilih untuk tidak melakukan interaksi sama sekali (Wisnuwardhani dan Mashoedi, 2012: 2 ). Daya Tarik interpersonal mengacu pada sesuatu yang menarik dua orang bersama–sama (Zanden, 1984: 250). (Dayakisni dan Hudaniyah, 2009: 124) mengartikan daya tarik interpersonal adalah suatu proses bagaimana orang dapat saling tertarik, saling mengenal, bagaimana ada gairah tarik menarik satu sama lain.
Istilah daya tarik interpersonal mengacu pada beragam pengalaman, mencakup rasa suka, persahabatan, kagum, birahi, dan cinta (Dayakisni dan Yuniardi, 2004: 220). Dari berbagai pengertian mengenai
19
daya tarik interpersonal, dapat disimpulkan bahwa daya tarik interpersonal adalah sikap kita terhadap orang lain dan suatu evaluasi perasaan yang dibuat seseorang yang merujuk secara khusus keinginan seseorang untuk mendekati orang lain berdasarkan kualitas positif yang dimiliki, dimana setiap individu memiliki derajat perasaan tersendiri yang mungkin berbeda dengan individu lain.
2. Faktor–faktor yang Menentukan Daya Tarik Interpersonal
Para ahli psikologi telah banyak mengkaji faktor–faktor yang mempengaruhi daya tarik seseorang terhadap orang lain. Hal ini disebabkan karena manusia akan berusaha untuk memprioritaskan hubungan antarpribadi sepanjang hidupnya. Kecenderungan untuk berafiliasi (keinginan untuk berada bersama dengan orang lain) memang cukup kuat bagi kebanyakan orang. Hal ini sebenarnya sudah terjadi semenjak masa bayi, dimana bayi mulai membangun rasa kasih sayang yang kuat pada satu orang dewasa atau lebih.
Pada dasarnya faktor–faktor yang mendukung daya tarik interpersonal secara garis besar dibedakan menjadi dua, yaitu faktor personal dan situasional. Pada umumnya beberapa faktor yang dianggap sangat penting dalam menentukan daya tarik interpersonal personal (Dayakisni & Hudaniah, 2009: 124) adalah:
a. Kesamaan (similarity)
Kita cenderung menyukai orang yang sama dengan kita dalam sikap, nilai, minat, latar belakang, dan kepribadian. Ada berbagai
20
alasan yang dikemukakan, kesamaan menjadi faktor penting sebagai penentu daya tarik interpersonal:
Pertama, menurut acuan Konsistensi Kognitif dari Heider (2010), jika kita menyukai orang, kita ingin mereka memilih sikap yang sama dengan kita. Hal ini, supaya seluruh unsur kognitif kita konsisten.
Anda resah kalau orang yang anda sukai menyukai apa yang anda benci.
Kedua, Don Byrne (2010) menunjukkan hubungan linear antara daya tarik dengan kesamaan, dengan menggunakan teori peneguhan dari Behaviorisme. Persepsi tentang adanya kesamaan mendatangkan ganjaran, dan perbedaan tidak mengenakkan. Kesamaan sikap orang lain dengan kita memperteguh kemampuan kita dalam menafsirkan realitas sosial. Orang yang mempunyai kesamaan dengan kita cenderung menyetujui gagasan kita dan mendukung keyakinan kita tentang kebenaran pandangan kita.
Ketiga, pengetahuan bahwa orang lain adalah sama dengan anda, menyebabkan anda mengantisipasi bahwa interaksi di masa datang akan positif dan memberi ganjaran.
Terakhir, kita cenderung berinteraksi lebih akrab dengan orang yang memiliki kesamaan dengan kita, merekapun juga menjadi lebih kenal dengan kita.
Perbedaan kepribadian dapat menjadi moderator bagi efek kesamaan ini. Leonard (2010) menemukan bahwa kesamaan sebenarnya akan
21
mengurangi ketertarikan ketika orang memiliki konsep diri yang negatif. Orang yang memiliki konsep diri rendah lebih tertarik dengan orang–orang yang tidak sama dengan mereka. Jamieson, Lydon, dan Zanna (2010) menemukan bahwa individu yang memiliki self-monitoring rendah lebih dipengaruhi oleh kesamaan sikap.
Sebaliknya high self-monitors tertarik kepada orang lain yang memiliki kesamaan pada aktivitas yang mereka sukai dari pada kesamaan dalam sikap dan nilai.
b. Kedekatan (proximity)
Orang cenderung menyukai mereka yang tempat tinggalnya berdekatan. Persahabatan lebih mudah timbul (tumbuh) diantara tetangga yang berdekatan atau diantara siswa–siswi yang berdekatan.
Hal-hal yang membuat orang berdekatan.
Pertama, kedekatan biasanya meningkatkan keakraban. Kita lebih sering berjumpa dengan tetangga sebelah kita dari pada orang yang ada di jalan. Eksposur yang berulang ini dapat meningkatkan rasa suka.
Kedua, kedekatan sering berkaitan dengan kesamaan.
Ketiga, orang yang dekat secara fisik lebih mudah di dapat dari pada orang yang jauh. Kemudahan ini mempengaruhi keseimbangan ganjaran dan kerugian interaksi. Hal ini sesuai dengan persepsi teori pertukaran sosial. Di perlukan sedikit usaha untuk mengobrol dengan
22
tetangga sebelah. Sebaiknya, hubungan jarak jauh membutuhkan waktu, perencanaan dan biaya yang relatif tinggi.
Keempat, berdasar teori Konsistensi Kognitif kita berusaha mempertahankan keseimbangan antara hubungan perasaan dan hubungan kesatuan. Secara lebih spesifik, kita di motifasi untuk menyukai orang yang ada kaitannya dengan kita dan untuk mencari kedekatan dengan orang yang kita sukai. Tinggal atau bekerja berdampingan dengan orang yang tidak kita sukai akan menimbulkan tekanan psikologik, sehingga kita mengalami tekanan kognitif untuk menyukai orang yang ada hubungannya dengan kita.
Kelima, orang memiliki harapan untuk berinteraksi lebih sering dengan mereka yang tinggal paling dekat dengannya. Hal ini, menyebabkan ia cenderung untuk menekankan aspek–aspek positif dan meminimalkan aspek negatif dari hubungan itu sehingga hubungan di masa datang akan lebih menyenangkan.
c. Keakraban (Familiarity)
Keakraban berhadapan dengan seseorang akan meningkatkan rasa suka kita terhadap orang itu. Robert Zajonc (2010) perintis dari riset tentang: efek terpaan”(mere exposure effect), dalam penelitiannya menunjukkan bahwa orang mengembangkan perasaan positif pada obyek dan individu yang sering mereka lihat.
d. Daya Tarik Fisik
23
Dalam masyarakaat kita biasanya muncul setereotip daya tarik fisik, yang mengasumsikan bahwa “apa yang cantik adalah baik”.
Berdasar hanya pengamatan sepintas, orang akan membuat suatu kesimpulan tentang sejumlah asumsi kepribadian dan kompetensi, berdasar hanya semata–mata hanya pada penampilan.
Penelitian Dion, Berscheid, dan Walster (dalam Dayakisni dan Hudaniyah, 2009: 126) tentang penilaian orang pada wajah cantik, membuktikan bahwa mereka cenderung dinilai akan lebih berhasil dalam hidupnya, dan dianggap memiliki sifat–sifat baik. Beberapa penelitian lain mengungkapkan bahwa karangan orang yang di pandang cantik di nilai lebih baik dari pada karangan serupa yang dibuat oleh orang yang di pandang jelek. Orang cantik atau tampan juga lebih efektif dalam mempengaruhi pendapat orang lain, dan biasanya diperlakukan lebih sopan.
Daya tarik fisik menjadi salah satu faktor penting, salah satu alasannya karena sebagaimana ras dan jenis kelamin, penampilan fisik adalah sumber informasi yang tampak dan dengan cepat mudah didapat. Jika informasi karakteristik personal lain seperti inteligensi atau kebaikan hati tidak cepat tersedia dan kurang menonjol.
Demikian juga, kecantikan bagi pasangan dapat meningkatkaan harga diri “radiating beauty effect”. Meskipun penampilan fisik mungkin juga akan berakibat negatif, artinya seseorang yang dikelilingi orang cantik nampak menjadi kurang menarik karena adanya proses
24
perbandingan. Hal ini disebabkan adanya “contrast effect”. Daya tarik fisik sendiri dapat mempengaruhi kepribadian si pemiliknya.
Dayakisni dan Hudaniyah (2009:127) menyatakan bahwa kita dapat mengidentifikasikan tiga faktor sosial yang berkaitan dengan daya tarik fisik, antara lain yaitu :
1) Orang–orang memiliki haraapan yang berbeda tentang individu yang menarik penampilan fisiknya dengan yang tidak.
2) Orang–orang yang secara fisik menarik menerima perlakuan yang berbeda dan lebih mendapaatkan keberuntungan dalam pertukaran sosial.
3) Perlakuan yang berbeda akan mengarahkan pada perbedaan kepribadian dan ketrampilan sosial (social skill), barangkali ini di sebabkan oleh keinginan memenuhi buat diri sendiri (selffulfilling prophecy).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak–anak yang memiliki daya tarik fisik cenderung memiliki harga diri tinggi dari pada anak yang kurang menarik fisiknya dan cenderung kurang agresif dibandingkan anak–anak yang kurang menarik. Selain itu, mereka cenderung memiliki hubungan yang lebih baik, lebih arsetif dan percaya diri.
e. Kemampuan (ability)
Menurut teori Pertukaran Sosial dan Reinforcement, ketika orang lain memberi ganjaran atau konsekuensi positif pada kita, maka
25
kita cenderung ingin bersamanya dan menyukainya. Orang yang mampu, kompeten dan pintar dapat memberi beberapa ganjaran (keuntungan) kepada kita. Mereka dapat membantu kita dalam menyelesaikan masalah, memberikan nasihat, membantu kita menafsirka kejadian–kejadian yang ada, dan sebagainya. Hal ini menyebabkan orang yang tidak kompeten atau tidak pintar.
Suatu perkecualian yang menarik adalah hasil telah Aronson, Willerman & Floyd (dalam Dayakisni dan Hudaniyah, 2009: 128) yang menemukan orang yang paling disenangi justru orang yang memiliki kemampuan yang tinggi tetapi menunjukkan beberapa kelemahan. Ia menciptakan empat kondisi eksperimental:
1) Orang yang memiliki kemampuan tinggi dan berbuat salah;
2) Berkemampuan tinggi tapi tidak berbuat salah;
3) Orang yang memiliki kemampuan rata–rata dan berbuat salah;
4) Orang yang berkemampuan rata–rata dan tidak berbuat salah.
Orang pertama dinilai paling menarik, dan orang ketiga yang dinilai paling tidak menarik.orang yang sempurna tanpa kesalahan adalah yang kedua dalam hal daya tarik, dan orang biasa yang tidak berbuat salah menduduki urutan yang ketiga.
Tetapi beberapa penelitian berikutnya, kebanyakan menunjukkan bahwa suatu kesalahan mengurangi daya tarik bahkan hal itu terjadi pada orang yang memiliki kompetensi tinggi (Brigham, dalam Dayakisni dan Hudaniyah, 2009: 128).
26 f. Tekanan Emosional (Stress)
Bila orang berada dalam situasi yang mencemaskan atau menakutkan, ia cenderung menginginkan kehadiran orang lain.
Sehingga timbul rasa suka pada orang tersebut. Bila kita dalam situasi yang baru atau luar biasa dan tidak mempunyai kepastian tentang bagaimana kita bereaksi, kita meminta bantuan orang lain sebagai sumber informasi. Dalam hal ini, penting bagi kita untuk berafiliasi hanya dengan orang yang menghadapi situasi yang sama.
g. Munculnya perasaan/mood yang positif atau positive emotional arousal
Kita cenderung tertarik atau suka kepada orang lain dimana kehadirannya berbarengan dengan munculnya perasaan positif, bahkan meski perasaan positif yang muncul tidak berkaitan dengan perilaku orang tersebut. Beberapa telah menunjukkan bahwa kita cenderung tertarik pada orang–orang yang kita jumpai saat sekeliling kita menyenangkan. Misalnya, orang lebih menilai positif orang lain ketiak mereka duduk bersama dalam ruang dengan suhu yang nyaman dari pada dalam ruang yang panas Griffit (dalam Dayakisni dan Hudaniyah, 2009:129). Sebaliknya, keterkaitan kepada orang lain berkurang ketika sekeliling kita padat, bising atau tercemar.
h. Harga diri yang rendah
Hasil penelitian Elaine Walster (1966) menarik kesimpulan, bila harga diri direndahkan, hasrat afiliasi (bergabung orang lain)
27
bertambah, dan ia makin responsif untuk menerima kasih sayang orang lain.
i. Kesukaan secara timbal balik (Reciprocal liking)
Ketika kita mengetahui orang lain menyukai kita, maka kita dapat mengharapkan ganjaran (reward) dari mereka. Karena itu, mengetahui kita disukai merupakan ganjaran yang menguatkan. Kita dapat mengharapkan orang lain akan membantu kita di masa yang akan datang, dan kita juga akan mengalami perasaan baik atau positif menghadapi suatu kenyataan bahwa orang lain cukup memikirkan tentang kita menjadi seorang teman (meningkatkan harga diri).
Karena itu kesukaan menghasilkan kesukaan. Persahabatan biasanya memberikan arti bahwa persahabatan itu akan kembali lagi.
Hubungan timbal balik merupakan sesuatu yang komplek.
Beberapa studi mengemukakan bahwa perceived reciprocity (seberapa banyak berfikir seseorang menyukai kita) adalah lebih penting dari pada actual reciprocity (seberapa banyak seseorang sebenarnya menyukai kita). Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa orang pada umumnya menyukai seseorang yang menyukai dirinya, bahkan ketika rasa suka itu tidak secara langsung timbal balik. Sebagai ilustrasi, hasil penelitian Curtis & Miller (dalam Dayakisni, 2009:130) menemukan bahwa orang yang secara salah dibimbing pada suatu keyakinan bahwa subyek lain menyukai mereka, maka ia akan lebih setuju dengan subyek lain itu, lebih
28
mengungkapkan diri, dan lebih memiliki nada suara dan sikap yang pada umumnya positif pada subyek itu, dari pada mereka yang tidak di bimbing pada suatu keyakinan bahwa mereka disukai. Orang pertama, ternyata perilakunya yang demikian itu membimbing pada perilaku positif yang timbal balik oleh subyek lain itu dan meningkatkan kesukaan diantara merka. Dengan demikian terjadi fenomena selffulfilling prophecy, yaitu keyakinan kita merasa disukai orang lain mungkin menyebabkan kita berperilaku dalam cara–cara yang menyenangkan orang lain tersebut sehingga menyebabkan orang lain pun akhirnya juga menyukai kita.
j. Ketika yang berlawanan saling tertarik: Saling melengkapi (complementary)
Kita telah melihat bahwa kesamaan sikap dan nilai mendorong meningkatnya daya tarik. Tetapi dengan sadistis dan masokisme keduannya tampak tak benar–benar sama, yang satu menyukai untuk melukai orang lain tetapi lainnya justru senang di perlakukan kasar oleh orang lain, disini nampaknya ada daya tarik yang berlawanan.
Individu yang memiliki kepribadian dominan tidak akan berhubungan lebih lama dengan orang lain yang dominan juga. Individu yang dominan membutuhkan partner atau pasangan yang submisif yang akan membantu memenuhi kebutuhan–kebutuhan di antara mereka.
Perilaku yang saling melengkapi adalah mungkin untuk tingkah laku
29
dominan-submisif (Strong, dkk., dalam Dayakisni dan Hudaniyah, 2009:131).
Complementary need theory mengatakan ada beberapa tipe
hubungan dekat, misalnya perkawinan yang mungkin mensyaratkan sistem saling melengkapi semacam itu agar dapat berhasil. Tetapi dalam hubungan semacam itu, walaupun kebutuhannya berbeda (yang satu dominan, yang lain submisif), namun hal ini masih dapat dipandang sebagai kasus kesamaan yang spesifik, karena kedua pasangan memiliki kesamaan pandangan atau sama–sama setuju mengenai peran–peran yang akan dipenuhi masing–masing pihak.
Mereka setidaknya memiliki kesamaan sikap tentang bagaimana hubungan itu di kembangkan, mereka mungkin menjadi teman baik, karena mereka membutuhkan satu sama lain untuk memuaskan keingina mereka. Saling melengkapi mungkin penting dalam hubungan saling tukar menukar untuk jangka pendek dalam kondisi–
kondisi tertentu, seperti ketika orang tidak jelas memahami apa yang mereka duga untuk dilakukan. Untuk mendapatkan ide–ide baru, mereka mungkin lebih suka berinteraksi dengan orang yang tak sama yang melihat sesuatu secara berbeda dan yang mungkin dapat memberi mereka interprestasi baru tentang kejadian–kejadian yang masih teka–teki bagi mereka.
Menurut Rakhmat (2007: 111) faktor–faktor situasional yang mempengaruhi daya tarik interpersonal :
30
a. Daya tarik fisik menjadi penyebab utama daya tarik interpersonal, senang pada orang–orang yang tampan dan cantik. Beberapa penelitian telah mengungkapkan bahwa daya tarik fisik sering menjadi penyebab utama daya tarik interpersonal. Kita senang pada orang–orang yang tampan atau cantik. Mereka, pada gilirannya sangat mudah memperoleh perhatian orang.
b. Ganjaran itu berupa bantuan, dorongan morel, pujian, atau hal–hal yang meningkatkan harga diri. Kita akan menyukai orang yang menyukai kita; kita akan menyenangi orang yang memuji kita.
Menurut teori pertukaran sosial, interaksi sosial adalah semacam transaksi dagang. Kita akan melanjutkan interaksi bila laba lebih banyak dari biaya. Atraksi, dengan demikian, timbul pada interaksi yang banyak mendatangkan laba. Bila pergaulan saya dengan anda sangat menyenangkan, sangat menguntungkan dari segi psikologis atau ekonomis, kita akan saling menyenangi.
c. Familiarity, artinya sudah mengenali dengan baik. Prinsip familiarity dicermikan dalam pribahasa indonesia, “kalau tak kenal, maka tak sayang” (witing tresno jalaran soko kulino) jika kita sering berjumpa dengan seseorang asal tidak ada hal–hal lain kita akan menyukainya.
d. Kedekatan, menyenangi apabila saling berdekatan persahabatan lebih mudah tumbuh diantara tetangga yang berdekata, atau di antara mahasisiwa yang duduk berdampingan. Bahwa orang yang berdekatan tempat saling menyukai, sering dianggap hal hal yang
31
biasa. Dari segi psikologis, ini hal yang luar biasa bagaimana tempat yang keliatannya netral mampu mempengaruhi tatanan psikologis manusia.
e. Kemampuan, cenderung menyenangi orang–orang yang memiliki kemampuan lebih tinggi dari pada kita, atau lebih berhasil dalam kehidupanya. Arason (2007) menemukan dalam penelitian yang
e. Kemampuan, cenderung menyenangi orang–orang yang memiliki kemampuan lebih tinggi dari pada kita, atau lebih berhasil dalam kehidupanya. Arason (2007) menemukan dalam penelitian yang