• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

C. Karakteristik Kasus/Responden

Adapun karakteristik responden yang telah diketahui ketika dilakukan observasi awal adalah sebagai berikut:

Subjek/si kasus yang diteliti merupakan salah satu siswi maskulin yang baru memasuki bangku SMK. Si kasus ini bersekolah di salah satu SMK di Kabupaten Sleman Yogyakarta,. Si kasus telah berusia 17 tahun. Karakter si kasus cuek, dan maskulin, mempunyai kedekatan yang dianggap tidak wajar dengan seorang wanita usianya lebih tua dari si kasus, saat si kasus menduduki bangku SMP kelas 2 hingga sekarang.

51 D. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di luar jam sekolah, dan pemilihan tempat dilakukan diluar sekolah. Alasan pemilihan tempat dan waktu penelitian dilakukan karena untuk mudahkan peneliti untuk mendapatkan sumber informasi dan tidak mengganggu pembelajaran jarak jauh sekolah online.

Penelitian ini akan dilaksanakan dari Bulan November 2020 selesai siswi melakukan ujian negara.

Tabel 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Nama Waktu Tempat Keterangan

Nissa

Sabtu, 1 Februari 2020 14.00-15.00

E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data A. Teknik Pengumpulan Data

Peneliti menggunakan teknik wawancara dalam proses memperoleh pengumpulan data. Menurut (Sugiyono, 2015) wawancara adalah teknik pengumpulan data untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti dan juga apabila peneliti ingin mengetahui informasi dari responden yang lebih mendalam. Wawancara merupakan kegiatan

52

proses tanya jawab yang dilakukan oleh peneliti dengan responden untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan peneliti dengan topik daya tarik interpersonal siswi maskulin terhadap lawan jenis.

Langkah–langkah yang dilakukan peneliti adalah menetapkan kepada siapa wawancara ini dilakukan, menyiapkan pokok–pokok masalah yang akan dibicarakan, menuliskan hasil wawancara yang diperoleh di lapangan, dan mengindentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh. Hasil wawancara dituliskan dalam bentuk verbatim yang dituliskan kata per kata percakapan yang terdapat dalam wawancara.

B. Intrumen Penelitian

Penelitian ini menggunakan teknik wawancara dalam memperoleh data. Teknik wawancara yang digunakan peneliti adalah wawancara mendalam. Peneliti mengajukan pertanyaan secara mendalam yang berhubungan dengan fokus permasalahan, sehingga data–data yang dibutuhkan dalam penelitian ini berupa pedoman wawancara yang disusun oleh peneliti. Pedoman wawancara dapat dilihat pada tabel di

- Bagaimana keadaan dirimu sebelum menyukai sesama jenis?

- Apa yang membuat kamu menyadari suka dengan sesama jenis?

- Kapan kamu mulai menyadari bahwa kamu menyukai sesama jenis?

53 penyuka sesama

jenis?

- Kamu tadi mengatakan bahwa dirimu cemburu dengan Tutik, nah cemburu yang bagaimana kamu dengan Tutik?

- Hal apa yang membuat kamu merasa cemburu?

- Apakah kamu takut ditinggalkan oleh Tutik saat ini? Jika iya, mengapa demikian?

2 Bagaimana

- Sebelum kamu tertarik dengan sesama jenis, bagaimana keadaan dirimu ketika melihat perempuan yang sekarang ini kamu menyukainya?

- Apa yang membuatmu menjadi menyukai sesama jenis?

- Apakah kamu pernah mengalami trauma terhadap laki–laki?

- Apakah kamu mencari pelarian kepada orang lain untuk mendapat kasih sayang yang tidak kamu dapatkan di dalam keluarga?

4 Bagaiamana

- Bagaimana bentuk peran yang kamu jalani sebagai siswi maskulin terhadap orang yang kamu sukai?

- Bagaimana relasimu saat ini dengan orang tersebut?

- Bagaimana bentuk komitmen yang kalian jalani sampai saat ini?

- Seperti apa keterikatan kamu dengan pasangan secara emosional?

- Seperti apa keterikatan kamu dengan pasangan anda secara seksual?

- Selama ini jika bertemu dengan pasangan kamu apakah penuh gairah?

- Jika kebutuhan untuk memperoleh kepuasan kurang terpenuhi, tindakan apa yang akan kamu lakukan terhadap pasanganmu?

- Apakah kamu pernah memiliki fantasi intim terhadap pasangan kamu? Jika Iya siapa yang lebih mendominasi?

- Sejauh mana hubungan intim kamu dengan pasangan kamu?

6 Bagaimana dampak dari

- Apakah orangtuamu mengetahui kedekatanmu dengan orang tersebut?

54

- Bagaimana relasimu dengan keluargamu?

- Apa yang kamu rasakan ketika berinteraksi dengan orang lain (teman, tetangga, dll)?

7 Apa harapan masa depan yang ingin diraih?

- Apa ada keinginan untuk berubah menjadi wanita yang menyukai lawan jenis?

- Pasangan seperti apa yang Anda inginkan?

- Adakah harapan–harapan yang ingin kamu raih dan rubah?

- Harapan apa yang ingin kamu raih untuk masa depanmu?

F. Keabsahan Data

Trianggulasi digunakan dalam penjaminan validitas data dalam penelitian kualitatif. Trianggulasi merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan data atau sebagai pembanding terhadap data itu. Menurut (Sugiyono 2006), Validitas merupakan derajat ketetapan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti.

Menurut (Hamidi 2004) ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengetahui validitas data, yaitu:

1. Teknik trianggulasi sumber data, teknik pengumpulan data, dan pengumpulan data peneliti akan berupaya mendapatkan informasi dengan memperoleh data dari beberapa sumber.

2. Pengecekan kebenaran informasi yang diperoleh dari beberapa sumber yang telah ditulis peneliti dalam laporan penelitian (member check)

55

3. Perpanjang waktu penelitian. Cara ini akan ditempuh selain untuk memperoleh bukti yang lebih lengkap juga untuk memeriksa konsistensi informasi dari informan.

Peneliti ini menggunakan tiga macam trianggulasi, yaitu:

1. Trianggulasi sumber data yang berupa informasi yang diperoleh peneliti dari beberapa sumber.

2. Trianggulasi teknik atau metode pengumpulan data berasal dari wawancara dan observasi dan dokumen

3. Trianggulasi waktu pengumpulan data merupakan kapan dilaksanakannya pengambilan informasi data melalui observasi dan wawancara.

Keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan trianggulasi, (Sugiyono 2006) yang menjelaskan ada tiga macam trianggulasi. Ketiga trianggulasi tersebut yaitu trianggulasi sumber, pengumpulan data, dan waktu.

Ketiga trianggulasi tersebut dapat digambarkan dalam bentuk skema di bawah ini.

G. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit–

unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain (Sugiyono, 2015).

56

Teknik analisis data dapat dilakukan dengan tahap–tahap sebagai berikut:

1. Tahap membaca verbatim

Verbatim dibaca berulang–ulang untuk menemukan ide–ide pokok tentang penelitian.

2. Tahap membuat kode (koding)

Memberi kode pada tema atau tema yang muncul pada verbatim berdasarkan tujuan penelitian atau muncul dari data yang diperoleh.

3. Tahap kategorisasi

Setelah selesai membuat koding, selanjutnya kategorisasi atau penyajian data. Kategorisasi berarti memilah–milah tema–tema besar, sub–sub tema dari semua data sehingga dapat ditemukan pola dari verbatim.

4. Tahap menyaring data

Setelah menemmukan kalimat yang memperkuat tema, maka tahap selanjutnya menyaring data. Penyaringan data dilakukan dengan mencari gambaran besar dari hasil penelitian, memilah yang penting dan yang tidak penting, temuan yang utama atau yang hanya penunjang.

5. Tahap interprestasi

Setelah semua tahap dilakukan, selanjutnya melakukan interpretasi akhir. Tahap ini menjelaskan makna yang terpenting dari data yang diperoleh.

57

Tahap – tahap di atas dapat dilakukan secara bersamaan atau berurutan.

58 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi deskripsi data dan pembahasan berupa informasi–informasi yang sudah diperoleh sebagai hasil penelitian. Untuk menjaga privasi dari responden, maka peneliti mensamarkan nama dan beberapa informasi lainnya A. Deskripsi Data

Penelitian ini menggunakan metode wawancara. Penelitian dimulai dengan melakukan pendekatan dengan si kasus dan mencari informasi dengan melakukan wawancara dengan si kasus yang sudah ditentukan oleh peneliti. Selanjutnya, peneliti menjelaskan topik penelitiannya yaitu tentang daya tarik interpersonal siswi maskulin terhadap sesama jenis. Kemudian peneliti menanyakan kesedian reponden untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Setelah si kasus mengatakan bersedia untuk menjadi responden dalam penelitian ini, langkah selanjutnya menetukan waktu dan tempat yang tepat untuk bertemu dan melakukan wawancara dengan si kasus. Waktu dan tempat pelaksaan wawancara disesuaikan dengan waktu luang dari si kasus.

Deskripsi Umum Responden

Berikut ini adalah gambaran mengenai identitas dari responden:

Nama samaran : Nissa Jenis kelamin : Perempuan

Usia : 17 tahun

Anak ke : 2

59

Saudara : 4

Ciri – ciri : Tinggi, warna kulit kuning langsat, rambut panjang

Karakter kepribadian : Cuek, pendiam, baik, ramah

Penampilan : Suka berpakaian laki–laki (kaos dan celana panjang jeans, rambut diurai, suka menggunakan sepatu sneakers

B. Pelaksanaan Penelitian

Pelaksanaan wawancara dengan responden dilakukan di ruang BK sekolah ketika peneliti melakukan magang di sekolah subjek bersekolah dan di luar sekolah pada saat jam pulang sekolah. Setelah subjek lulus SMP, wawancara tetap dilakukan di luar sekolah dan waktu diluar subjek PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Proses wawancara dengan subjek dilakukan pada saat peneliti magang di tempat sekolahnya hingga selesai magang dan subjek lulus SMP lalu menempuh pendidikan di SMK. Pertemuan pelaksanaan wawancara dilakukan atas ketersediaanya waktu dari responden dan peneliti menyesuaikan jadwal dari responden.

C. Hasil Penelitian

Dari wawancara yang dilakukan peneliti terhadap responden, diperoleh hasil yang berkaitan dengan Daya Tarik Interpersonal Siswi Maskulin Terhadap Sesama Jenis.

1. Proses Perkembangan Terbentuknya Daya Tarik Interpersonal Penyuka Sesama Jenis

60

Daya tarik interpersonal berkaitan dengan hubungan antar pribadi yang mencakup bagaimana terjadinya suatu hubungan interpersonal.

Mulai dari daya tarik interpersonal, faktor–faktor yang mempengaruhi, aspek yang menentukan bagaimana hubungan akhirnya terjalin pada saat awal SMP di salah satu SMP Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Proses perkembangan mulainya menyukai seseorang biasanya dimulai dari perjumpaan awal kemudian adanya perhatian yang sering terfokus pada bagaimana memelihara dan mengarahkan hubungan yang tercipta dari daya tarik awal menjadi hubungan yang lebih akrab. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut:

“Dulu waktu kecil aku bermain teman–temanku baik sesama jenis maupun lawan jenis, tetapi seringnya bermain dengan teman laki–laki dan aku perempuan sendiri. Aku pernah bermain sepakbola dengan tetanggaku. Aku menyadari diriku memiliki karakter kelaki–lakian itu semenjak SD kelas 3. Aku lebih memilih pakai celana panjang jeans dan kaos dibandingkan baju perempuan. Aku juga mengetahui bahwa dahulu waktu aku di dalam kandungan, orangtua menginginkan anak laki–laki, namun yang lahir adalah anak perempuan yaitu aku. Ketika aku sudah masuk SMP setelah sudah mengalami pubertas, aku mulai tertarik dengan teman sekelasku. Lalu kami berdua dekat dan berpacaran, namun kami tidak bertahan lama dalam hubungan pacaran kemudian putus awal kelas VIII. Lalu aku bertemu dengan kakak ini, kemudian ia memberikan perhatian dan kasih sayang lebih kepadaku.

Hal ini yang dulunya pernah hilang, aku mendapatkan kembali melalui kakak ini. Ketika aku kelas 6 SD bapak ibuku cerai dan aku tinggal bersama dengan nenek dari ibuku dan aku sudah tidak mendapatkan kasih sayang lagi. (N/ PP-1, 009-011; 012-013; 016-018; 020-023; 027-033; 043-047).

61

Pada saat masa kecil ia lebih sering bermain dengan laki–laki serta adanya kondisi perceraian keluarga yang menyebabkan ia kehilangan perhatian dan kasih sayang. Responden mencari perhatian dan kasih sayang kepada orang lain yang bisa membuatnya lebih nyaman.

Kemudian respoden mulai menyadari bahwa ia menyukai sesama jenis.

Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut:

“Bulan Desember aku sedang marahan dengan Tutik. Jadi aku sama dia tidak ada komunikasi sama sekali karena ada sesuatu yang kenyamanan dengan laki–laki yang mendekatiku. Kemudian aku kembali dekat dengan Tutik, dan merasakan kenyamanan dari sinilah aku menganggap diriku menyukai Tutik. Aku mendapatkan kasih sayang, perhatian dan memenuhi kebutuhan di saat orangtuaku tidak bisa memberikan keinginan yang aku butuhkan”. (N/ PP-2, 081-083; 083-085).

Adanya suatu konflik membuat dia tidak ada komunikasi dengan Tutik. Mencoba dekat dengan lawan jenis tetapi tidak merasakan kenyamanan. Namun akhrirnya Tutik menghubungi dia lagi. Sejak itulah dia merasakan kenyamanan yang lebih dan menganggap dia sudah menyukai sesama jenis. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut:

“Aku mulai menyadari jika menyukai sesama jenis ketika bulan Februari 2021. Aku dekat dengan kakak ini sudah lama, waktu kelas VIII.

62

Keluarga aku juga kenal dia dan tahu kalau kami dekat. Kakak yang mengurusi aku dan kebutuhan aku. Bahkan aku selalu curhat tentang masalah aku ke Tutik. Terus Tutik juga memperlakukan aku baik dari aku SMP sampai sekarang”. (N/ PP-3, 096-097).

Responden menyadari bahwa si kasus mulai menyukai sesama jenis sejak duduk dibangku SMP. Hal ini dikarenakan semua kebutuhan si kasus selalu dipenuhi oleh Tutik serta diperlakukan dengan baik oleh Tutik. Responden juga menunjukan sikap cemburunya dengan Tutik. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut:

“Ya cemburu takut Tutik kenal dengan orang yang baru dikenal terus ninggalin aku dan lupa sama aku. Waktu aku tidak ada komunikasi dengan kakak sebenarnya aku tuh marah dengan pasangannya dia. Jadi waktu aku main ke rumah kakak, aku membuka dan membaca pesan dari pasanganya ada salah satu pesan yang isinya mengenai, kalau dia tidak suka kalau Tutik memperbolehkan orang lain untuk masuk ke kamarnya.

Mulai dari sini aku marah dengan pasangan Tutik”. (N/ PP-4, 115-139).

Rasa cemburu yang dirasakan responden terhadap Tutik dikarenakan takut jika berkenalan dengan orang baru Tutik akan meninggalkan serta melupakan dia. Ada hal yang membuat responden cemburu terhadap Tutik. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut:

“Banyak hal, misalnya adanya orang yang baru kenal terus mendekati Tutik aku cemburu. Kami berdua juga sudah sepakat tidak boleh dekat dengan orang lain yang baru dikenal selain orang yang sudah dikenal. Komunikasi dengan orang lain/baru melalui media sosial.” (N/ PP-5, 142-146;149-150).

Responden mengungkapkan merasa takut ditinggalkan oleh Tutik karena responden merasa takut keburukkan dan rahasia yang pernah

63

dilakukan akan terbongkar. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut:

“Iya aku takut ditinggalkan oleh Tutik, karena jika aku sudah tidak bersama lagi dengan Tutik maka keburukkanku, dan rahasiaku yang diketahuinya akan terbongkar. Oleh sebab itu, aku merasa takut jika sudah tidak bersama lagi.” (N/PP-6, 154;154-159).

Dari hasil wawancara tersebut, dapat diketahui bahwa proses perkembangan terbentuknya keinginan/kecenderungan pereferensial seksual menyukai sesama jenis responden berawal dari perhatian Tutik kepada responden, kondisi perceraian kedua orangtuanya yang dialami pada saat responden masih SD, adanya rasa cemburuan yang dialaminya dan merasa takut kehilangan pasangannya.

64

Gambar X.X. Visualisasi Proses Perkembangan Terbentuknya Daya Tarik Interpersonal Penyuka Sesama Jenis

2. Pandangan Daya Tarik Interpersonal Siswi Maskulin terhadap Sesama Jenis

Perempuan yang memiliki penampilan yang tidak terlalu feminim dan cenderung sedikit mengarah kepada maskulin. Sering digambarkan memiliki kesan yang lebih feminim dalam cara berpakaian dan potongan rambutnya. Secara emosional dan fisik tidak mengesankan bahwa Perjumpaan awal

65

mereka adalah pribadi yang kuat atau tangguh. Hal ini dapat dilihat dari penjelasan responden dalam wawancara sebagai berikut:

“Sebelum aku tertarik dengan Tutik, dahulu aku melihat dia biasa saja. Karena aku masih menyukai laki–laki. Namun seiringnya berjalannya waktu aku mulai dekat dengan Tutik dan merasakan hal yang dahulu pernah hilang kembali lagi setelah mengenal Tutik. Aku mendapatkan kasih sayang, perhatian yang tulus, dan selalu ada jika aku membutuhkan untuk menemani”. (N/ PD-1, 155-157; 158-168; 171-177).

Dari hasil wawancara tersebut, dapat diketahui bahwa daya tarik interpersonal siswi maskulin terhadap sesama jenis menurut responden perempuan yang mengarah kepada maskulin secara emosional dan fisik tidak mengesankan pribadi yang kuat atau tangguh, dan seiring berjalannya waktu responden mulai dekat dan merasakan hal yang dahulu pernah hilang kembali lagi setelah mengenal Tutik.

Gambar X.X. Visualisasi Pandangan Daya Tarik Interpersonal Siswi

Maskulin terhadap Sesama Jenis

Pandangan interpersonal siswi maskulin terhadap sesama jenis

Perempuan yang mengarah kepada maskulin secara emosional dan fisik tidak mengesankan pribadi yang kuat atau tangguh

Seiring berjalannya waktu responden mulai dekat dengan Tutik dan merasakan hal yang dahulu perna hilang kembali

lagi setelah mengenal Tutik

66

3. Faktor yang Mempengaruhi Daya Tarik Interpersonal Siswi Maskulin Menjadi Penyuka Sesama Jenis.

Pangkahila (2000) mengemukakan faktor–faktor penyebab daya tarik interpersonal penyuka sesama jenis antara lain: Faktor biologis, yaitu adanya kelainan di otak atau genetik.

a. Faktor psikodinamik, yaitu adanya gangguan dalam perkembangan psikoseksial pada masa kanak–kanak.

b. Faktor sosiokultural, yaitu faktor adat istiadat yang memberlakukan hubungan homoseksual dengan alasan tertentu yang tidak benar.

c. Faktor lingkungan, yaitu keadan lingkungan yang memungkinkan dan mendorong pasangan sesama jenis menjadi erat. Contohnya, seorang perempuan mengalami kegagalan pacaran berkali–kali dengan lawan jenis

Dari penjelasan diatas bahwa faktor–faktor penyebab daya tarik interpersonal penyuka sesama jenis adalah faktor bilogis, psikodimanik, sosialkultural dan lingkungan. Hal ini juga sesuai dengan yang diungkapkan oleh responden sebagai berikut:

“Aku mendapatkan kasih sayang, perhatian yang tulus, selalu ada jika aku membutuhkan orang lain untuk menemani aku, dan juga memenuhi kebutuhan yang kuinginkan menjadi terpenuhi. Semua aku dapatkan dari kakak ini bukan dari keluarga” (N/ FM-1, 171-177).

Kasih sayang, perhatian yang tulus dan selalu ada jika responden membutuhkan menyebabkan reponden lebih merasa nyaman terhadap pasanganya yang sesama jenis dibandingkan dengan lawan jenis. Hal ini

67

dapat dilihat dari penjelasan responden dalam wawancara sebagai berikut:

“Tidak mengalami trauma dengan laki–laki sebenarnya, tetapi aku tidak mendapatkan kenyamanan, kasih sayang dan perhatian dari laki–laki”. (N/ FM-2, 180-183).

Responden tidak mengalami trauma dengan laki–laki melainkan tidak merasakan kenyamanan terhadap laki–laki. Hal ini dapat dilihat dari penjelasan responden dalam wawancara sebagai berikut:

“Bisa dibilang begitu. Tapi memang kebetulan aku mendapatkan kebutuhan yang tidak ada dalam keluarga dan kebutuhan tersebut dipenuhi oleh Tutik”. (N/ FM-3, 188-191).

Dari hasil wawancara tersebut, dapat diketahui bahwa faktor yang mempengaruhi interpersonal siswi maskulin menjadi menyukai sesama jenis yaitu penyebabnya responden mendapatkan kasih sayang, perhatian yang tulus, Tutik selalu ada jika responden membutuhkannya.

Hal seperti ini tidak didapatkan dari keluarga responden. Responden merasa tidak mengalami trauma pada saat menjalin hubungan dengan laki–laki karena responden hanya tidak merasakan kenyamanan, kasih sayang ketika dekat dengan laki–laki.

68

Gambar X.X. Visualisasi Faktor yang Mempengaruhi Daya Tarik

Interpersonal Siswi Maskulin menjadi Penyuka Sesama Jenis

4. Peran Daya Tarik Interpersonal Siswi Maskulin dalam Menjalin Relasi dengan Sesama Jenis

Peran interpersonal siswa maskulin dalam menjalin relasi dengan sesama jenis adalah menjalankan kesamaan pandangan atau sama–sama setuju mengenai peran yang akan dipenuhi masing–masing pihak. Ada yang berperan sebagai laki–laki dan ada yang berperan sebagai perempuan. Hal ini dapat dilihat dari penjelasan responden dalam wawancara sebagai beriku:

“Peran yang aku jalani bersikap seperti laki–laki. Bergaya dan berpakian laki–laki, namun rambutku tetap panjang”. (N/ PI-1, 195-198).

Faktor yang mempengaruhi interpersonal siswi maskulin menjadi menyukai sesama jenis

Tidak mengalami trauma pada saat menjalin hubungan dengan laki–laki Faktor penyebab responden

menyukai sesama jenis

Responden mendapatkan kasih sayang, perhatian yang tulus, Tutik

selalu ada jika responden membutuhkannya. Hal seperti ini

tidak didapatkan dari keluarga responden

Responden hanya tidak merasakan kenyamanan, kasih sayang ketika dekat

dengan laki–laki

69

Adanya peran yang dijalankan masing–masing pihak layaknya seperti orang–orang yang menyukai lawan jenis. Hal ini dapat dilihat dari penjelasan responden dalam wawancara sebagai beriku:

“Pada saat ini relasi kami semakin dekat lagi setelah bertengkar, tidak komunikasi selama kurang lebih dari dua bulan. Relasi kami berdua pada saat ini seperti memperbaiki hubungan yang telah rusak dan sekarang menjadi lebih baik dari sebelumnya”. Komitment yang kami buat yaitu tidak ada orang baru atau orang lain menjadi pihak ketiga kami, dan selalu berkata dan bersikap jujur” (N/ PI-2, 204-210;

N/PI-3, 213-216).

Pertengakaran yang sempat terjadi antara responden dengan pasanganya membuat hubungan mereka semakin membaik. Tidak ada orang baru atau pihak ketiga menjadi komitmen responden dengan pasangannya.

Dari hasil wawancara tersebut, dapat diketahui bahwa peran interpersonal siswi maskulin dalam menjalin relasi dengan sesama jenis yaitu responden berperan sebagai androgyn yang bersikap seperti laki–

laki, bergaya dan berpakaian seperti laki–laki. Untuk relasi hubungan semakin dekat, setelah responden dengan pasangannya bertengkar.

Mereka melakukan komitmen untuk tidak ada orang lain sebagai pihak ketiga. Komitmen yang dibuat membuat hubungan mereka semakin kuat.

70

Gambar X.X. Visualisasi Peran Daya Tarik Interpersonal Siswi Maskulin dalam Menjalin Relasi dengan Sesama Jenis

5. Bentuk Orientasi Daya Tarik Interpersonal Seksual Siswi Maskulin terhadap Sesama Jenis

Bentuk orientasi daya tarik interpersonal seksual siswi maskulin terhadap sesama jenis baik secara emosional. Hal ini terlihat dalam wawancara dengan responden sebagai berikut:

“Keterikatan dengan pasangan secara emosional, tidak mau pasangan aku dekat dengan orang lain atau kenal dengan orang yang

“Keterikatan dengan pasangan secara emosional, tidak mau pasangan aku dekat dengan orang lain atau kenal dengan orang yang

Dokumen terkait