BAB III METODE PENELITIAN
3.5 Definisi dan Batasan Operasional
3.5.2 Batasan Operasional
1) Daerah penelitian adalah Desa Rumah Lengo Kecamatan STM Hulu Kabupaten Deli Serdang.
2) Sampel penelitian adalah petani salak pondoh.
3) Penelitian dilakukan pada tahun 2017
BAB IV
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN
4.1 Deskripsi Desa Rumah Lengo Kecamatan STM Hulu 4.1.1 Kondisi Geografis
Kecamatan STM Hulu daerah topografinya yaitu 30% datar, 45% berbukit, dan 25% pegunungan. Ketinggian di permukaan laut ±350-650 meter, Kecamatan STM Hulu beriklim sedang.
Desa Rumah Lengo Kecamatan STM Hulu Kabupaten Deli Serdang merupakan salah satu desa dengan luas Wilayah ± 573 Ha. Dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah Utara berbatasan dengan : Desa Hutajurung Sebelah Selatan berbatasan dengan : Desa Ranggitgit Sebelah Timur berbatasan dengan : Desa Tanah Gara Hulu Sebelah Barat berbatasan dengan : Desa Ranggitgit
4.1.2 Kondisi Demografis
Desa Rumah Lengo Kecamatan STM Hulu Kabupaten Deli Serdang berjumlah penduduk 771 jiwa yang terdiri dari laki-laki 365 jiwa dan perempuan 406 jiwa dengan jumlah kepala keluaraga 197 KK. Rincian lengkap terlihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Komposisi Penduduk Desa Rumah Lengo Menurut Jenis Kelamin Tahun 2017
No Jenis Kelamin Jumlah (orang) Presentase (%)
1 Laki-laki 365 47,34
2 Perempuan 406 52,66
Total 771 100,00
Sumber: Kantor Kepala Desa Rumah Lengo, 2017
Masyarakat Desa Rumah Lengo sangat erat dengan kebiasaan bergotong royong seperti dalam perbaikan jalan dan perbaikan sarana rumah ibadah yamg dibentuk salam serikat tolong menolong (STM). Sesama warga mengumpulkan dana dalam bentuk Rupiah, barang, termasuk juga dalam acara kemalangan. Kebersamaan warga sangat erat dan kuat.
Pada umum nya sebagian besar penduduk Desa Rumah Lengo Kecamatan STM Hulu bermata pencaharian petani, sebagian bekerja sebagai buruh tani dan wiraswasta.
Sarana transportasi yang paling banyak digunakan warga masyarakat adalah Sepeda Motor. Di Desa ini ada transportasi umum seperti angkutan umum (angkot). Jaringan listrik PLN sudah tersedia di desa ini , sehingga hampir semua Rumah tangga menggunakan tenaga listrik untuk memenuhi kebutuhan penarangan dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Beberapa rumah tangga semakin banyak menggunakan pompa listrik untuk mengambil air sumur.
Orientasi Jumlah Tempat Ibadah yaitu 1 buah dan 1 buah gereja yang terletak di Desa Rumah Lengo.
Sebagian besar lahan yang ada di Desa Rumah Lengo dimanfaatkan oleh penduduk untuk kegiatan pertanian salak pondoh dan pemukiman secara rinci pemanfaatan lahan di Desa Rumah Lengo dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Luas Lahan Menurut Peruntukan di Desa Rumah Lengo Tahun 2017
No Peruntukan Lahan Luas (Ha) Persentase
1 Persawahan 3 1,2%
2 Perkebunan PT HPEA 15 5,7%
3 Perkebunan Masyarakat 234 86,83%
4 Perumahan/Pemukiman 12 4,45%
5 Perkantoran/Sarana Sosial
Sumber: Kantor Kepala Desa Rumah Lengo, 2017
Tanah Desa Rumah Lengo merupakan tanah yang subur dan cocok untuk ditanami salak pondoh maka dari itu tanaman salak pondoh dikembangkan di desa ini.
Banyak masyarakat di desa ini yang beralih tanaman ke tanaman salak pondoh.
Karena tanaman salak pondoh dapat menghasilkan produksi yang tinggi dan juga berbuah setiap bulannya.
4.2 Karakteristik Petani Sampel
4.2.1 Karakteristik Petani Sampel Salak Pondoh
Karakteristik petani sampel salak pondoh di Desa Rumah Lengo Kecamatan STM Hulu Kabupaten Deli Serdang meliputi :
1) Umur Petani
Umur petani merupakan salah satu faktor yang berkaitan erat dengan kemampuan kerja dalam melaksanakan kegiatan usaha taninya. Semakin tua umur petani, kecenderungan kemampuan kerja semakin menurun yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap produksi dan pendapatan yang diperoleh. Hal ini karena
pekerjaan sebagai petani lebih banyak mengandalkan tenaga fisik.
Klasifikasi petani salak pondoh menurut kelompok umur di Desa Rumah Lengo terlihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Umur Petani di Desa Rumah Lengo
No Umur (Tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
Sumber : Lampiran 1, 2017.
2) Pendidikan
Pendidikan formal merupakan salah satu faktor penting dalam mengelola usahatani. Respon petani dalam hal menerima teknologi untuk mengoptimalkan usahataninya sangat erat dengan pendidikan formal.
Tingkat pendidikan petani padi ladang di Desa Rumah Lengo dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Tingkat Pendidikan Petani Sampel di Desa Rumah Lengo
No Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
1. SD 8 10
2. SMP 7 23,3
3. SMA 18 60
4. D2 2 6,6
Jumlah 35 100
Sumber : Lampiran 1, 2017.
3) Pengalaman Bertani
Faktor yang cukup berpengaruh terhadap kemampuan pengelolaan usaha tani adalah pengalaman bertani. Semakin tinggi tingkat pengalaman bertani maka besar kemungkinan semakin baik pula pengelolaan usaha taninya.
Pengalaman petani dalam mengolala usahataninya dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Pengalaman Bertani Petani Sampel di Desa Rumah Lengo
No Pengalaman Bertani (Tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
1. 1-6 3 10
2. 7-13 18 53,3
3. 14-20 9 23,3
4. 21-27 2 3,3
5. 28-34 2 6,6
6. 35-41 1 3,3
7. >41 0 0
Jumlah 35 100
Sumber : Lampiran 1, 2017.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Pendapatan dan Kelayakan Usahatani Salak Pondoh 5.1.1 Pendapatan Usahatani Salak Pondoh
Pendapatan usahatani salak pondoh didapat dari total penerimaan dikurangi dengan total biaya. Pendapatan dibagi menjadi dua yaitu pendapatan per petani/tahun dan pendapatan per hektar/tahun . Adapun rincian dapat dilihat pada tabel 10:
Tabel 10. Analisis Biaya dan Pendapatan Usahatani Salak Pondoh Per Tahun
4. Penerimaan 162.582.000 295.603.636
5. Pendapatan Bersih 227.427,- dan PBB sebesar Rp 51.542,-. Total biaya variabel per petani adalah sebesar Rp 18.532.600,- yang terdiri dari biaya bibit sebesar Rp 4.670.000,-, biaya
pupuk sebesar Rp 3.055.714,- , biaya pestisida sebesar Rp 161.029,- dan biaya tenaga kerja sebesar Rp 10.645.857,-, sehingga total biayanya adalah sebesar Rp 18.822.570,-. Dan untuk total biaya tetap yang dikeluarkan per per Ha adalah sebesar Rp 475.944,- yang terdiri atas biaya penyusutan alat sebesar Rp 382.230,- dan PBB sebesar Rp 93.714,-. Total biaya variabel per Ha adalah sebesar Rp 48.704.726,- yang terdiri dari biaya bibit sebesar Rp 23.350.000,-, biaya pupuk sebesar Rp 5.555.844,- , biaya pestisida sebesar Rp 292.779,- dan biaya tenaga kerja sebesar Rp 19.356.103-, sehingga total biayanya adalah sebesar Rp 49.180.670-. Dan untuk penerimaan per petani adalah sebesar Rp 165.582.000,- dan untuk penerimaan per Ha adalah sebesar Rp 295.603.636,-. Untuk pendapatan per petani adalah sebesar Rp 143.759.430 dan untuk pendapatan per Ha adalah sebesar Rp 246.422.966,-.
5.1.2 Kelayakan Usahatani Salak Pondoh
Untuk mejelaskan tingkat kelayakan usahatani salak pondoh di Desa Rumah Lengo digunakan tiga kriteria yaitu:
1. Net Present Value (NPV)
Kelayakan yang diukur berdasarkan kriteria investasi NPV memberikan gambaran besarnya manfaat bersih tambahan yang diterima proyek/usaha pada akhir periode jangka hidup proyek tersebut. Suatu bisnis dikatakan layak berdasarkan kriteria NPV apabila nilai NPVnya lebih besar daripada nol. NPV dibawah nol menunjukkan usaha tidak layak untuk diusahakan karena akan menimbulkan kerugian. NPV berhubungan dengan tingkat resiko suatu usaha. Semakin besar NPV suatu usaha menunjukkan semakin layak usaha tersebut dilaksanakan, dan semakin tinggi resiko yang dihadapi.
2. Net Benefit Per Cost (Net B/C)
Suatu usaha/proyek dinyatakan layak berdasarkan kriteria Net B/C, apabila nilai Net B/C yang diperoleh lebih besar dari satu. Net B/C lebih dari satu menunjukkan bahwa manfaat yang diperoleh dari suatu usaha dapat menutupi seluruh biaya yang dikeluarkan. Net B/C kurang dari satu menunjukkan bahwa manfaat yang diperoleh tidak dapat menutupi semua biaya yang dikeluarkan, sehingga usaha tersebut tidak menguntungkan untuk diusahakan.
3. Internal Rate of Return (IRR)
Kriteria IRR merupakan kriteria yang digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan modal. Perbandingan menggunakan diskon faktor digunakan untuk mengukur kelayakan berdasarkan kriteria investasi IRR Usahatani layak dilaksanakan bila nilai IRRnya lebih besar dari diskon faktor yang disyaratkan.
Apabila nilai IRR lebih kecil dari tingkat diskon faktor yang disyaratkan maka usaha tidak layak dan uang yang ada lebih baik ditabungkan. Pada uji kelayakan ini, tingkat diskon faktor yang digunakan sebesar 4,25 persen berdasarkan rata-rata tingkat suku bunga deposito berjangka satu tahun berdasarkan data dari Bank Indonesia.
Untuk mengetahui kelayakan usahatani salak pondoh di Desa Rumah Lengo Kecamatan STM Hulu Kabupaten Deli Serdang, adapun rincian dapat dilihat pada tabel 11:
Tabel 11. Analisis Kelayakan Usahatani Salak Pondoh
1.089.085.259 115.922.138 973.163.120 761.221.931 717.812.690
NPV 761.221.931 717.812.690
Net B/C 9,39
IRR 5,48
Nilai NPV usahatani Salak Pondoh dengan jangka waktu usahatani sepuluh tahun pada diskon faktor/bulan 4,25 persen sebesar Rp. 761.221.931. Artinya dengan diskon faktor sebesar 4,25 persen/bulan maka usahatani salak pondoh pada akhir periode jangka sepuluh tahun mendapatkan keuntungan sebesar Rp 761.221.931.
Dan untuk faktor sebesar 5 % maka akan mendapatkan keuntungan ditahun berikutnya adalah sebesar Rp 717.812.690.
Berdasarkan kriteria net B/C usahatani Salak Pondoh layak diusahakan, karena nilai net B/C yang diperoleh sebesar 9,39. Nilai net B/C sebesar 9,39 memiliki arti setiap Rp. 1,00 biaya yang dikeluarkan akan mendapatkan tambahan manfaat sebesar Rp. 9,39%.
Usahatani Salak Pondoh mempunyai IRR sebesar 5,48 persen. Artinya IRR yang diperoleh lebih besar daripada diskon faktor yang ditentukan sebesar 5,48%
sehingga usahatani salak pondoh layak untuk diusahakan dan nilai IRR yang diperoleh menunjukkan bahwa usahatani Salak Pondoh layak untuk diusahakan dan memberikan keuntungan.
Dengan demikian hipotesis 1 yang menyatakan usahatani salak pondoh menguntungkan dan layak secara finansial diusahakan di Desa Rumah Lengo Kabupaten Deli serdang dapat diterima kebenarannya.
5.2 Faktor yang Mempengaruhi Produksi Salak Pondoh
Produksi salak pondoh di Desa Rumah Lengo Kecamatan STM Hulu Kabupaten Deli Serdang adalah sebesar 23.266 kg per Petani dan 42.229 kg per Ha.
12.000 kg. Maka produksi salak pondoh di Desa Rumah Lengo lebih besar dibandingan dengan teori yang sudah ada. Produksi yang dihasilkan dalam sebuah usahatani dipengaruhi oleh faktor produksi. Dalam penelitian ini faktor produksi yang diduga mempengaruhi produksi adalah Pupuk urea (X menganalisis besarnya pengaruh variabel setiap produksi salak pondoh dilakukan model Cobb-douglas.
Dengan menggunakan regresi linear berganda ini, maka diperoleh besarnya nilai koefisien determinan (R2), nilai F-hitung dan nilai T-hitung. Alat bantu yang digunakan untuk melakukan analisis adalah dengan menggunakan perangkat lunak SPSS 18.
Namun sebelum dilakukan analisis regresi terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik untuk melihat apakah data telah memenuhi uji asumsi klasik dalam bentuk uji BLUE (The Best Linear Unbiased Estimated). Uji asumsi klasik yang diperlukan dalam penelitian ini adalah uji normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas.
Dari variabel-variabel bebas tersebut akan dilihat seberapa besar pengaruhnya terhadap produksi (variabel terikat), hasil regresi yang diperoleh sebagai berikut:
Uji Asumsi Klasik
1. Uji Multikolinearitas
Uji asumsi multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah ditemukan adanya korelasi atau hubungan antar variabel bebas dalam model regresi. Korelasi di antara variabel bebas seharusnya tidak terjadi dalam model regresi yang baik.
Dengan asumsi sebagai berikut:
Jika toleransi ≤ 0,10 dan VIF ≥ 10 : terjadi multikolinieritas.
Jika toleransi > 0,10 dan VIF <10 : tidak terjadi multikolinieritas.
Tabel 12 memperlihatkan nilai tolerance dan nilai VIF (Variance Inlavtion Factor) dari hasil uji multikolinieritas.
Tabel 12. Coefficients Produksi Salak Pondoh
Coefficientsa
Model Collinearity Statistics
Tolerance VIF
1
(Constant)
Pupuk Urea ,681 1,467 Tidak Terjadi Multikolinearitas Pupuk KCL ,521 1,919 Tidak Terjadi Multikolinearitas Pupuk NPK ,948 1,055 Tidak Terjadi Multikolinearitas Pestisida ,680 1,470 Tidak Terjadi Multikolinearitas Tenaga kerja ,815 1,228 Tidak Terjadi Multikolinearitas
Dari tabel 12 dapat dilihat bahwa tidak terjadi multikoleniaritas antara variabel yang digunakan didalam model analisis.
2. Uji Normalitas
Uji asumsi normalitas ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui,
bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil.
Dengan asumsi sebagai berikut :
Nilai signifikan atau probabilitas < 0,05. Distribusi adalah tidak normal.
Nilai signifikan atau probabilitas > 0,05. Distribusi adalah normal.
Tabel 13 memperlihatkan nilai signifikansi dari Uji Kolmogorov Smirnov yang telah dilakukan.
Tabel 13. One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Produksi Salak Pondoh One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 30
Normal Parametersa,b Mean 0E-7
Std. Deviation 4,32015046
Asymp. Sig. (2-tailed) ,969
Hasil uji Kolmogorov Smirnov, hasil estimasi menunjukkan bahwa tingkat singnifikansi KS adalah sebesar 0,969 ( >α 0,05) maka H0 diterima. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan antara distribusi residual dengan distribusi normal, data residual model berdistribusi normal.
3. Uji Heteroskedatisitas
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik, heteroskedastisitas yaitu adanya ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi. Prasyarat yang
harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya gejala heteroskedastisitas. Dengan menggunakan metode grafik maka asumsi yang digunakan yaitu apabila bahwa grafik tersebut tidak membentuk pola yang teratur seperti: pola bergelombang sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas.
Tabel 14. Produksi Salak Pondoh
Berdasarkan hasil uji Heteroskedastisitas, dengan menggunakan metode grafik dapat dilihat pada grafik diatas bahwa grafik tersebut tidak membentuk pola yang teratur seperti: pola bergelombang sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas.
Uji Kesesuaian Model (Test Goodness of Fit) 1. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa dekat sebuah nilai Y dengan nilai aktualnya pada sebuah sampel. Nilai koefisien determinasi adalah antara 0 dan 1 (0 ≤ R2 ≤ 1). Koefisien determinasi (R2) sebesar 1 berarti suatu
kecocokan sempurna sedangkan R2 yang bernilai nol berarti tidak ada hubungan antara variable tak bebas dengan variable yang menjelaskan.
Pada tabel 15 ditampilkan nilai R, R2, Adjusted R2 dan Standart Error.
Tabel 15. Model Summary Produksi Salak Pondoh Model Summaryb Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 ,959a ,920 ,903 4,74889
Hasil estimasi menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi R2 (R Square) yang diperoleh adalah 0,920. Hal ini menunjukkan bahwa sebesar 92,0% variasi variabel terikat produksi salak pondoh telah dapat dijelaskan oleh variabel bebas pupuk, pestisida, tenaga kerja. Sedangkan sisanya 8,0% dipengaruhi oleh variabel bebas atau faktor lain yang belum dimasukkan ke dalam model.
2. Uji Serempak (Uji F - Statistik)
Uji F adalah uji secara serempak (simultan) signifikansi pengaruh perubahan variabel independen terhadap variabel dependen. Artinya parameter X1, X2, X3, X4, X5 secara bersamaan diuji apakah memiliki signifikansi atau tidak.
Tabel 16. Anova Produksi Salak Pondoh ANOVAb ANOVAa
Model Sum of
Squares
Df Mean
Square
F Sig.
1
Regression 6205,869 6 1241,174 55,036 ,000b
Residual 541,247 23 22,552
Total 6747,116 29
Hasil estimasi menunjukkan bahwa tingkat signifikansi F sebesar 0,000 (<α 0,05).
Hal ini menunjukkan bahwa H0 ditolak atau H1 diterima yang berarti variabel bebas pupuk, pestisida, dan tenaga kerja secara serempak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat produksi Salak pondoh.
3. Uji Parsial (Uji t - Statistik)
Uji t adalah uji secara parsial pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen digunakan untuk mengetahui apakah variabel bebas secara parsial berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel terikat. Taraf signifikansi (α) yang digunakan dalam ilmu sosial adalah 5%.
Tabel 17. Coeffiicients Produksi Salak Pondoh
Coefficientsa
Hasil estimasi pada kolom Undstandardized Coefficients dimasukkan dalam persamaan fungsi Cobb-Douglas, sebagai berikut.
LnY = 5,389 + 0,007LnX
Dalam bentuk non-linier digambarkan seperti persamaan berikut.
Y = 5,389 X 0,007X -0,003.X -0,004 X 0,447 X 0,101
Dimana :
Y = Produksi salak pondoh (ton) X1 = Pupuk Urea (Kg)
X2 = Pupuk KCL (Kg) X3 = Pupuk NPK (Kg) X4 = Pestisida (Liter) X5 = Tenaga Kerja (HKP)
a. Proses Pengujian Y (Produksi) dengan X1 (Pupuk Urea)
Angka 0,007 pada Unstandardized Coeficients (B) menunjukkan koefisien regresi (parameter). Hasil estimasi menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi (parameter) variabel bebas pupuk urea bertanda positif sebesar 0,007. Hal ini menunjukkan bahwa setiap adanya kenaikkan jumlah pupuk urea sebesar 1 Kg, maka akan terjadi kenaikan produksi sebesar 0,007. Nilai signifikansi pupuk urea adalah sebesar 0,837> 0,05 hal ini menunjukkan bahwa pupuk urea secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap produksi salak pondoh. Hal ini dikarenakan pemberian pupuk urea di daerah penelitian tidak sesuai dengan yang ditanjurkan oleh dinas pertanian. Dinas pertanian menganjurkan bahwa pemberian pupuk urea pada tanaman salak pondoh adalah sebesar 20 g/pohon dan diberikan setiap enam bulan sekali tetapi di Desa Rumah Lengo para petani memberikan dosis pupuk sebesar 200 g/pohon dan diberikan setiap empat bulan sekali.
b. Proses Pengujian Y (Produksi) dengan X2 (Pupuk KCL)
Angka 0,003 pada Unstandardized Coeficients (B) menunjukkan koefisien regresi (parameter). Hasil estimasi menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi (parameter) variabel bebas pupuk KCL bertanda negatif sebesar 0,003. Hal ini
menunjukkan bahwa setiap adanya kenaikkan jumlah pupuk KCL sebesar 1 Kg, maka akan terjadi penurunan produksi sebesar 0,003. Nilai signifikansi pupuk KCL adalah sebesar 0,893> 0,05 hal ini menunjukkan bahwa pupuk KCL secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap produksi salak pondoh. Hal ini dikarenakan pemberian pupuk KCL di daerah penelitian tidak sesuai dengan yang ditanjurkan oleh dinas pertanian. Dinas pertanian menganjurkan bahwa pemberian pupuk KCL pada tanaman salak pondoh adalah sebesar 20 g/pohon dan diberikan setiap enam bulan sekali tetapi di Desa Rumah Lengo para petani memberikan dosis pupuk sebesar 200 g/pohon dan diberikan setiap empat bulan sekali.
c. Proses Pengujian Y (Produksi) dengan X3 (Pupuk NPK)
Angka 0,006 pada Unstandardized Coeficients (B) menunjukkan koefisien regresi (parameter). Hasil estimasi menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi (parameter) variabel bebas pupuk NPK bertanda negatif sebesar 0,004. Hal ini menunjukkan bahwa setiap adanya kenaikkan jumlah pupuk NPK sebesar 1 Kg, maka akan terjadi penurunan produksi sebesar 0,004. Nilai signifikansi pupuk NPK adalah sebesar 0,322 > 0,05 hal ini menunjukkan bahwa pupuk NPK secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap produksi salak pondoh. Hal ini dikarenakan pemberian pupuk urea di daerah penelitian tidak sesuai dengan yang ditanjurkan oleh dinas pertanian. Dinas pertanian menganjurkan bahwa pemberian pupuk urea pada tanaman salak pondoh adalah sebesar 20 g/pohon dan diberikan setiap enam bulan sekali tetapi di Desa Rumah Lengo para petani memberikan dosis pupuk NPK sebesar 200 g/pohon dan diberikan setiap empat bulan sekali.
d. Proses Pengujian Y (Produksi) dengan X4 (Pestisida)
Angka 0,447 pada Unstandardized Coeficients (B) menunjukkan koefisien regresi (parameter). Hasil estimasi menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi (parameter) variabel bebas pestisida bertanda negatif sebesar 0,447. Hal ini menunjukkan bahwa setiap adanya kenaikkan jumlah pestisida sebesar 1 Kg, maka akan terjadi penurunan produksi sebesar 0,447. Nilai signifikasi pestisida sebesar 0,587 > 0,05 hal ini menunjukkan bahwa pestisida secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap produksi salak pondoh. Hal ini dikarenakan para petani di Desa Rumah Lengo tidak semua memakai pestisida karena tanaman salak pondoh yang mereka tanam jarang terkena hama dan penyakit sehingga pestisida tidak terlalu signifikan digunakan.
e. Proses Pengujian Y (Produksi) dengan X5 (Tenaga Kerja)
Angka 0,101 pada Unstandardized Coeficients (B) menunjukkan koefisien regresi (parameter). Hasil estimasi menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi (parameter) variabel bebas tenaga kerja bertanda positif sebesar 0,101. Hal ini menunjukkan bahwa setiap adanya kenaikkan jumlah tenaga kerja sebesar 1 HKP, maka akan terjadi kenaikan produksi sebesar 0,101. Nilai signifikasi tenaga kerja sebesar 0,000 < 0,05 hal ini menunjukkan bahwa tenaga kerja secara parsial berpengaruh nyata terhadap produksi salak pondoh.
Dengan demikian, hipotesis 2 yang menyatakan terdapat pengaruh yang nyata pupuk, pestisida, tenaga kerja terhadap produksi salak pondoh tidak dapat diterima.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
1. Usahatani salak pondoh adalah usahatani yang menguntungkan. Hasil analisis finansial yaitu NPV, Net B/C dan IRR, menjelaskan bahwa usahatani secara finansial layak untuk dikembangkan.
2. Faktor produksi pupuk, pestisida, dan tenaga kerja secara serempak berpengaruh nyata terhadap produksi salak pondoh., namun secara parsial variabel tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi salak pondoh.
Dosis penggunaan pupuk dilokasi penelitian berada jauh diatas standar yang dianjurkan.
6.2 Saran
1. Bagi pemerintah, agar usahatani salak pondoh dapat dikembangkan dengan memfasilitasi bantuan sarana produksi pupuk dan pestisida serta penyuluhan tentang penggunaannya agar sesuai anjuran.
2. Bagi petani, untuk meningkatkan produksi salak pondoh maka petani menerapkan teknik budidaya salak pondoh secara efektif dan efesien khususnya dalam penggunaan pupuk yang sesuai dengan dosis anjuran.
Menambah pendapatan, petani juga perlu meningkatkan pengetahuan dan memanfaat peluang dalam proses pengolahan salak pondoh agar memiliki harga jual yang lebih tinggi seperti mengolah salak menjadi keripik, sirup ataupun dodol sehingga dapat meningkatkan pendapatan para petani salak pondoh.
3. Bagi peneliti lain yang tertarik untuk melakukan penelitian lanjut, dapat meneliti mengenai optimasi penggunaan faktor produksi dalam usahatani salak pondoh serta upaya meningkatka nilai tambah salak pondoh.
DAFTAR PUSTAKA
Anarsis, W. 1999. Agribisnis Komoditas Salak. Bumi Aksara. Jakarta
Anonimous, 2016. http://bogor.tribunnews.com/2017/06/12/olahan-salak-kering-variasi-lain-nikmati-buah-bersisik-inovasi-mahasiswa-ipb. Diakses pada 8 Juni 2016.
Assauri S. 2014. Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi Revisi. Jakarta:
Universitas Indonesia Pr.
Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara, 2015. Produksi Buah-Buahan Menurut Jenis Tanaman Tahun 2016. Sumatera Utara.
Bahar, YH. 2012. Pengembangan Komoditas Pertanian pada Tahun 2008.
http://www.hortikultura.deptan.go.id. Diakses pada tanggal 8 Juni 2017.
Djamin, Z. 1993. Perencanaan dan Analisa Proyek. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta. 216 hal
Gilarso, T. 2003. Pengantar Ilmu Ekonomi - Bagian Makro.Yogyakarta: Kanisius.
Gittinger, J. P. 1986. Analisis Ekonomi Proyek-proyek Pertanian (Terjemahan).
Edisi kedua. UI-Press. Jakarta.
Gujrati, D. 1995. Ekonometrika Dasar. Jakarta: Erlangga
Keown, A. J. 1999. Dasar-dasar Manajemen Keuangan (Terjemahan). Edisi ketujuh. Salemba Empat. Jakarta.
Kusumo. 1995. Teknologi Produksi Salak. Pusat Pengembangan Hortikultura:
Jakarta.
Mochtar, R, 2010. Sinopsis Obstetri Fisiologi Patologi, Jilid 1. EGC. Jakarta Putong, I . 2002. Pengantar Ekonomi Makro dan Mikro. Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Santoso, H.B. 1990. Salak Pondoh. Yogyakarta: Penerbit Kansius
Soekartawi. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani Kecil. UI-Press, Jakarta.
Soekartawi. 1990. Teori Ekonomi Produksi, Dengan Pokok Bahasan Analisis Fungsi Cobb-Douglass. Rajawali Press, Jakarta.
Soekartawi. 1991. Agribisnis Teori dan Aplikasinya. Rajawali Press, Jakarta.
Soekartawi. 1995. Analisis Usahatani. Jakarta, UI Press.
Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Manajemen Pemasaran Hasil-Hasil Pertanian Teori dan Aplikasinya. Jakarta, PT Raja Grafindo Perkasa.
Soekartawi. 2011. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. UI Press: Jakarta.
Sudarsosno. 1995. Pengantar Ekonomi Mikro. Edisi Revisi. Jakarta: LP3ES.
Sulastri. 2015. Analisis Usahatani Kedelai yang Berkelanjutan. Fakultas Pertanian. Universitas Brawijaya Malang: Malang.
Suratiyah, Ken. 2008. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya: Jakarta.
Tim Karya Mandiri. 2010. Pedoman Budidaya Buah Salak. CV Nuansa Aulia.
Bandung.
Lampiran 1. Karekteristik Petani Salak Pondoh