BAB II .................................................TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian yang diajukan dalam penelitian ini ialah:
1. Usahatani salak pondoh adalah usahatani yang menguntungkan dan layak secara finansial untuk diusahakan didaerah penelitian.
2. Faktor yang berpengaruh terhadap produksi usahatani salak pondoh adalah Pupuk, Pestisida, dan Tenaga Kerja.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Metode Penentuan Daerah Penelitian
Penentuan daerah penelitian dilakukan secara metode purposive, artinya penentuan daerah dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan tertentu.
Kecamatan STM Hulu dipilih atas dasar pertimbangan karena Kecamatan STM Hulu adalah daerah yang memiliki produksi dan luas lahan tanaman salak tertinggi yang ada di Kabupaten Deli Serdang.
Tabel 3. Produksi Tanaman Salak Menurut Kecamatan di Kabupaten Deli Serdang, 2016
Kecamatan Produksi (Ton)
Gunung Meriah 14
Sinembah Tanjung Muda (STM) Hulu 14.208
Sibolangit 1.712
Sumber: Dinas Pertanian Kabupaten Deli Serdang, 2016
Tabel 4. Luas Lahan Tanaman Salak Menurut Kecamatan di Kabupaten Deli Serdang, 2016
Kecamatan Ha
Gunung Meriah 11
Sinembah Tanjung Muda (STM) Hulu 123
Sibolangit 12
Dari 20 desa yang ada di Kecamatan STM Hulu maka Desa Rumah Lengo dipilih atas dasar pertimbangan karena berdasarkan survey yang dilakukan oleh peneliti diperoleh informasi PPL Desa Rumah Lengo bahwa Desa Rumah Lengo merupakan salah satu desa yang memiliki jumlah petani salak pondoh terbanyak di Kecamatan STM Hulu.
3.2. Metode Pengambilan Sampel
Berdasarkan informasi dari PPL Desa Rumah Lengo bahwa jumlah petani salak pondoh (populasi) di Desa Rumah Lengo adalah 35 petani. Dengan menggunakan metode pengambilan sampel yaitu sensus, dimana semua jumlah populasi digunakan sebagai sampel maka jumlah sampel salak pondoh di Desa Rumah Lengo yang akan diteliti adalah 35 sampel.
3.3. Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder. Data primer yang dikumpulkan dengan melakukan pengamatan dan wawancara langsung dengan petani responden dengan mengajukan pertanyaan yang dibuat dalam bentuk kuisioner yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Data sekunder yang dikumpulkan diperoleh dari berbagai instansi terkait, seperti Badan Pusat Statistik dan Pemerintah Daerah di lokasi penelitian. Selain itu, data-data pendukung lainnya juga diperoleh melalui internet, literatur dan jurnal yang relevan dengan penelitian ini.
3.4. Metode Analisis Data
Untuk menguji hipotesis 1 yaitu menganalisis pendapatan dan kelayakan
1a. Pendapatan usahatani salak pondoh diperoleh dari menghitung selisih penerimaan usahatani salak pondoh dengan seluruh biaya yang digunakan.
Rumus pendapatan sebagai berikut :
Pd = TR – TC Keterangan :
Pd = Pendapatan (Rp) TR = Total Penerimaan (Rp) TC = Total Biaya (Rp) (Soekartawi, 1995).
Biaya produksi usahatani salak pondoh dihitung dengan rumus berikut ini : TC = FC + VC
Keterangan :
TC = Total Biaya (Rp) FC = Biaya Tetap (Rp) VC = Biaya Variabel (Rp)
Penerimaan usahatani salak pondoh yaitu jumlah produksi salak pondoh dikali dengan harga jual salak pondoh, dengan rumus sebagai berikut ini :
TR = Y . P Keterangan :
TR = Total Penerimaan (Rp) Y = Total Produksi (Kg)
P = Harga Jual salak pondoh (Rp/kg) (Suratiyah, 2009).
1b. Untuk menganalisis kelayakan usahatani salak pondoh secara finansial di daerah penelitian digunakan metode yaitu, NPV, Net B/C dan IRR. Rumus yang digunakan :
1) Net Present Value (NPV)
NPV dalah nilai sekarang arus kas tahunan setelah pajak dikurangi dengan pengeluaran investasi awal. Proyek dinyatakan layak apabila nilai NPV > 0 (Keown, 1999).
Keterangan :
Bt = Penerimaan yang diperoleh pada tahun ke-t (Rp) Ct = Biaya yang dikeluarkan pada tahun ke-t (Rp) i = Tingkat diskonto
n = Umur usahatani
2) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)
Net B/C menunjukkan besarnya tambahan manfaat bersih setiap tambahan satu rupiah biaya yang digunakan. Jika nilai B/C Ratio > 1, maka proyek layak (Gittinger, 1986).
Keterangan :
Bt = Penerimaan yang diperoleh pada tahun ke-t (Rp) Ct = Biaya yang dikeluarkan pada tahun ke-t (Rp) i = Tingkat diskonto
n = Umur usahatani
3) Internal Rate Of Return (IRR)
IRR adalah tingkat diskonto yang menyamakan nilai sekarang arus bersih masa depan proyek dengan pengeluaran awal proyek. Poyek dinyatakan layak apabila nilai IRR > tingkat diskonto yang disyaratkan (Keown, 1999).
Keterangan :
= Tingkat diskonto yang menghasilkan = Tingkat diskonto yang menghasilkan
= Nilai bersih sekarang yang mengahasilkan nilai negatif.
= Nilai bersih sekarang yang menghasilkan nilai positif.
Untuk menganalisis hipotesis 2 yaitu pengaruh input pupuk, pestisida, tenaga kerja, dan luas lahan terhadap produksi usahatani salak pondoh digunakan analisis fungsi produksi Cobb-Douglas yang dirumuskan sebagai berikut :
Y= bo X1b1 X2b2 X3b3 X4b4 X5b5 eu
Keterangan :
Y = Produksi salak pondoh (Ton) X1 = Pupuk Urea (Kg/Ha)
X2 = Pupuk KCL (Kg/Ha) X3 = Pupuk NPK (Kg/Ha) X4 = Pestisida (Liter/Ha) X5 = Tenaga kerja (HKP)
e = Bilangan Natural (E = 2,7182) u = Unsur Sisa (Galat)
b1, b2, b3, b4, b5 = Koefisien Regresi Masing-Masing Variabel
Persamaan regresi dianalisis untuk menjelaskan hubungan sebab akibat dari faktor-faktor produksi terhadap output yang dihasilkan. Nilai yang diperoleh dari analisis regresi yaitu besarnya nilai t-hitung, F-hitung dan koefisien determinan (R2). Pengujian tersebut adalah sebagai berikut:
1. Uji Signifikan Parsial (Uji t)
Uji t adalah uji secara parsial pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.
Digunakan untuk mengetahui apakah variable-variabel bebas secara parsial berpengaruh signifikan atau tidak terhadap variable terikat.
Dengan langkah pengujian:
a. H0 : b1 = 0, Artinya: suatu variabel bebas bukan merupakan variabel penjelas yang signifikan terhadap variabel terikat.
b. H1 : b1 ≠ 0, Artinya: suatu variabel bebas merupakan variabel penjelas yang signifikan terhadap variabel terikat.
Kriteria Pengujian:
Jika sig. t ≤ 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima Jika sig. t > 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak (Taufik, 2016)
.
2. Uji Signifikasi Simultan/Serempak (Uji F)
Uji statistik F digunakan untuk menunjukkan apakah secara keseluruhan variable independen (bebas) berpengaruh terhadap variable dependen (terikat).
Dengan langkah pengujian:
c. H0 : b1 = 0, Artinya: suatu variabel bebas bukan merupakan variabel penjelas yang signifikan terhadap variabel terikat.
d. H1 : b1 ≠ 0, Artinya: suatu variabel bebas merupakan variabel penjelas yang signifikan terhadap variabel terikat.
Kriteria pengujian :
Jika sig. F > 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak.
Jika sig. F ≤ 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima.
(Gujarati, 1995).
3. Uji Determinan (R2)
Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa dekat sebuah nilai Y dengan nilai aktualnya pada sebuah sampel. Nilai koefisien determinasi adalah antara 0 dan 1 (0 ≤ R2 ≤ 1). Koefisien determinasi (R2) sebesar 1 berarti suatu kecocokan sempurna sedangkan R2 yang bernilai nol berarti tidak ada hubungan antara variable tak bebas dengan variable yang menjelaskan (Gujarati, 1995).
4. Uji Asumsi Klasik a. Multikolinieritas
Uji asumsi multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah ditemukan adanya korelasi atau hubungan antar variabel bebas dalam model regresi. Korelasi di antara variabel bebas seharusnya tidak terjadi dalam model regresi yang baik.
Cara mendeteksi terjadinya multikoleniaritas dalam model regresi adalah sebagai berikut:
a. Jika nilai koefisien determinasi (R2) tinggi; dalam uji secara serempak (F-test), variabel-variabel bebas secara serempak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat; tetapi dalam uji secara parsial (t-test), variabel-variabel bebas secara parsial banyak yang tidsk berpengaruh nyata terhadap variabel terikat, maka hal ini mengindikasikan terjadinya multikolinieritas.
b. Menganalisis matrik korelasi antar variabel-variabel bebas. Jika antar variabel bebas terdapat korelasi yang cukup tinggi,umumnya di atas 0,90, maka hal ini mengindikasikan terjadinya multikolinieritas.
c. Melihat nilai standard error. Nilai standard error yang besar mengindikasikan terjadinya multikolinieritas.
d. Melihat nilai toleransi (tolarance) dan VIF. Dengan kriteria uji sebagai berikut:
Jika toleransi ≤ 0,10 dan VIF ≥ 10 : terjadi multikolinieritas.
Jika toleransi > 0,10 dan VIF <10 : tidak terjadi multikolinieritas.
(Gujarati, 1995).
b. Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik, heteroskedastisitas yaitu adanya ketidaksamaan
varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi. Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya gejala heteroskedastisitas (Gujarati, 1995).
c. Normalitas
Uji asumsi normalitas ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui, bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil.
Pedoman pengambilan keputusan :
Nilai signifikan atau probabilitas < 0,05. Distribusi adalah tidak normal.
Nilai signifikan atau probabilitas > 0,05. Distribusi adalah normal.
(Gujarati, 1995).
3.5 Definisi dan Batasan Operasional 3.5.1 Definisi
1) Salak pondoh adalah salah satu tanaman holtikultura yang banyak berpotensi di Kabupaten Deli Serdang.
2) Produksi salak pondoh adalah hasil dari salak pondoh yang bernilai ekonomis yang dinyatakan dalam satuan kilogram (kg).
3) TC (total cost) atau total biaya adalah seluruh biaya yang dikeluarkan selama proses produksi dalam usahatani salak pondoh atau jumlah biaya tetap dan biaya tidak tetap usahatani salak pondoh dinyatakan dalam rupiah (Rp).
4) FC (Fixed Cost) atau biaya tetap adalah biaya usahatani salak pondoh yang besar kecilnya tidak dipengaruhi oleh produksi yang dihasilkan dinyatakan dalam rupiah (Rp).
5) VC (variabel cost) atau biaya variabel adalah biaya usahatani salak pondoh yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang dihasilkan dinyatakan dalam rupiah (Rp).
6) Penerimaan usahatani salak pondoh adalah jumlah produksi salak pondoh dikali dengan harga jual salak pondoh yang dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp).
7) Pendapatan usahatani salak pondoh adalah selisih dari total penerimaan usahatani salak pondoh yang diperoleh dengan seluruh biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk usahatani salak pondoh yang dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp).
8) NPV dalah nilai sekarang arus kas tahunan setelah pajak dikurangi dengan pengeluaran investasi awal.
9) Net B/C menunjukkan besarnya tambahan manfaat bersih setiap tambahan satu rupiah biaya yang digunakan.
10) IRR adalah tingkat diskonto yang menyamakan nilai sekarang arus bersih masa depan proyek dengan pengeluaran awal proyek.
3.5.2 Batasan Operasional
1) Daerah penelitian adalah Desa Rumah Lengo Kecamatan STM Hulu Kabupaten Deli Serdang.
2) Sampel penelitian adalah petani salak pondoh.
3) Penelitian dilakukan pada tahun 2017
BAB IV
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN
4.1 Deskripsi Desa Rumah Lengo Kecamatan STM Hulu 4.1.1 Kondisi Geografis
Kecamatan STM Hulu daerah topografinya yaitu 30% datar, 45% berbukit, dan 25% pegunungan. Ketinggian di permukaan laut ±350-650 meter, Kecamatan STM Hulu beriklim sedang.
Desa Rumah Lengo Kecamatan STM Hulu Kabupaten Deli Serdang merupakan salah satu desa dengan luas Wilayah ± 573 Ha. Dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah Utara berbatasan dengan : Desa Hutajurung Sebelah Selatan berbatasan dengan : Desa Ranggitgit Sebelah Timur berbatasan dengan : Desa Tanah Gara Hulu Sebelah Barat berbatasan dengan : Desa Ranggitgit
4.1.2 Kondisi Demografis
Desa Rumah Lengo Kecamatan STM Hulu Kabupaten Deli Serdang berjumlah penduduk 771 jiwa yang terdiri dari laki-laki 365 jiwa dan perempuan 406 jiwa dengan jumlah kepala keluaraga 197 KK. Rincian lengkap terlihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Komposisi Penduduk Desa Rumah Lengo Menurut Jenis Kelamin Tahun 2017
No Jenis Kelamin Jumlah (orang) Presentase (%)
1 Laki-laki 365 47,34
2 Perempuan 406 52,66
Total 771 100,00
Sumber: Kantor Kepala Desa Rumah Lengo, 2017
Masyarakat Desa Rumah Lengo sangat erat dengan kebiasaan bergotong royong seperti dalam perbaikan jalan dan perbaikan sarana rumah ibadah yamg dibentuk salam serikat tolong menolong (STM). Sesama warga mengumpulkan dana dalam bentuk Rupiah, barang, termasuk juga dalam acara kemalangan. Kebersamaan warga sangat erat dan kuat.
Pada umum nya sebagian besar penduduk Desa Rumah Lengo Kecamatan STM Hulu bermata pencaharian petani, sebagian bekerja sebagai buruh tani dan wiraswasta.
Sarana transportasi yang paling banyak digunakan warga masyarakat adalah Sepeda Motor. Di Desa ini ada transportasi umum seperti angkutan umum (angkot). Jaringan listrik PLN sudah tersedia di desa ini , sehingga hampir semua Rumah tangga menggunakan tenaga listrik untuk memenuhi kebutuhan penarangan dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Beberapa rumah tangga semakin banyak menggunakan pompa listrik untuk mengambil air sumur.
Orientasi Jumlah Tempat Ibadah yaitu 1 buah dan 1 buah gereja yang terletak di Desa Rumah Lengo.
Sebagian besar lahan yang ada di Desa Rumah Lengo dimanfaatkan oleh penduduk untuk kegiatan pertanian salak pondoh dan pemukiman secara rinci pemanfaatan lahan di Desa Rumah Lengo dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Luas Lahan Menurut Peruntukan di Desa Rumah Lengo Tahun 2017
No Peruntukan Lahan Luas (Ha) Persentase
1 Persawahan 3 1,2%
2 Perkebunan PT HPEA 15 5,7%
3 Perkebunan Masyarakat 234 86,83%
4 Perumahan/Pemukiman 12 4,45%
5 Perkantoran/Sarana Sosial
Sumber: Kantor Kepala Desa Rumah Lengo, 2017
Tanah Desa Rumah Lengo merupakan tanah yang subur dan cocok untuk ditanami salak pondoh maka dari itu tanaman salak pondoh dikembangkan di desa ini.
Banyak masyarakat di desa ini yang beralih tanaman ke tanaman salak pondoh.
Karena tanaman salak pondoh dapat menghasilkan produksi yang tinggi dan juga berbuah setiap bulannya.
4.2 Karakteristik Petani Sampel
4.2.1 Karakteristik Petani Sampel Salak Pondoh
Karakteristik petani sampel salak pondoh di Desa Rumah Lengo Kecamatan STM Hulu Kabupaten Deli Serdang meliputi :
1) Umur Petani
Umur petani merupakan salah satu faktor yang berkaitan erat dengan kemampuan kerja dalam melaksanakan kegiatan usaha taninya. Semakin tua umur petani, kecenderungan kemampuan kerja semakin menurun yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap produksi dan pendapatan yang diperoleh. Hal ini karena
pekerjaan sebagai petani lebih banyak mengandalkan tenaga fisik.
Klasifikasi petani salak pondoh menurut kelompok umur di Desa Rumah Lengo terlihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Umur Petani di Desa Rumah Lengo
No Umur (Tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
Sumber : Lampiran 1, 2017.
2) Pendidikan
Pendidikan formal merupakan salah satu faktor penting dalam mengelola usahatani. Respon petani dalam hal menerima teknologi untuk mengoptimalkan usahataninya sangat erat dengan pendidikan formal.
Tingkat pendidikan petani padi ladang di Desa Rumah Lengo dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Tingkat Pendidikan Petani Sampel di Desa Rumah Lengo
No Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
1. SD 8 10
2. SMP 7 23,3
3. SMA 18 60
4. D2 2 6,6
Jumlah 35 100
Sumber : Lampiran 1, 2017.
3) Pengalaman Bertani
Faktor yang cukup berpengaruh terhadap kemampuan pengelolaan usaha tani adalah pengalaman bertani. Semakin tinggi tingkat pengalaman bertani maka besar kemungkinan semakin baik pula pengelolaan usaha taninya.
Pengalaman petani dalam mengolala usahataninya dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Pengalaman Bertani Petani Sampel di Desa Rumah Lengo
No Pengalaman Bertani (Tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
1. 1-6 3 10
2. 7-13 18 53,3
3. 14-20 9 23,3
4. 21-27 2 3,3
5. 28-34 2 6,6
6. 35-41 1 3,3
7. >41 0 0
Jumlah 35 100
Sumber : Lampiran 1, 2017.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Pendapatan dan Kelayakan Usahatani Salak Pondoh 5.1.1 Pendapatan Usahatani Salak Pondoh
Pendapatan usahatani salak pondoh didapat dari total penerimaan dikurangi dengan total biaya. Pendapatan dibagi menjadi dua yaitu pendapatan per petani/tahun dan pendapatan per hektar/tahun . Adapun rincian dapat dilihat pada tabel 10:
Tabel 10. Analisis Biaya dan Pendapatan Usahatani Salak Pondoh Per Tahun
4. Penerimaan 162.582.000 295.603.636
5. Pendapatan Bersih 227.427,- dan PBB sebesar Rp 51.542,-. Total biaya variabel per petani adalah sebesar Rp 18.532.600,- yang terdiri dari biaya bibit sebesar Rp 4.670.000,-, biaya
pupuk sebesar Rp 3.055.714,- , biaya pestisida sebesar Rp 161.029,- dan biaya tenaga kerja sebesar Rp 10.645.857,-, sehingga total biayanya adalah sebesar Rp 18.822.570,-. Dan untuk total biaya tetap yang dikeluarkan per per Ha adalah sebesar Rp 475.944,- yang terdiri atas biaya penyusutan alat sebesar Rp 382.230,- dan PBB sebesar Rp 93.714,-. Total biaya variabel per Ha adalah sebesar Rp 48.704.726,- yang terdiri dari biaya bibit sebesar Rp 23.350.000,-, biaya pupuk sebesar Rp 5.555.844,- , biaya pestisida sebesar Rp 292.779,- dan biaya tenaga kerja sebesar Rp 19.356.103-, sehingga total biayanya adalah sebesar Rp 49.180.670-. Dan untuk penerimaan per petani adalah sebesar Rp 165.582.000,- dan untuk penerimaan per Ha adalah sebesar Rp 295.603.636,-. Untuk pendapatan per petani adalah sebesar Rp 143.759.430 dan untuk pendapatan per Ha adalah sebesar Rp 246.422.966,-.
5.1.2 Kelayakan Usahatani Salak Pondoh
Untuk mejelaskan tingkat kelayakan usahatani salak pondoh di Desa Rumah Lengo digunakan tiga kriteria yaitu:
1. Net Present Value (NPV)
Kelayakan yang diukur berdasarkan kriteria investasi NPV memberikan gambaran besarnya manfaat bersih tambahan yang diterima proyek/usaha pada akhir periode jangka hidup proyek tersebut. Suatu bisnis dikatakan layak berdasarkan kriteria NPV apabila nilai NPVnya lebih besar daripada nol. NPV dibawah nol menunjukkan usaha tidak layak untuk diusahakan karena akan menimbulkan kerugian. NPV berhubungan dengan tingkat resiko suatu usaha. Semakin besar NPV suatu usaha menunjukkan semakin layak usaha tersebut dilaksanakan, dan semakin tinggi resiko yang dihadapi.
2. Net Benefit Per Cost (Net B/C)
Suatu usaha/proyek dinyatakan layak berdasarkan kriteria Net B/C, apabila nilai Net B/C yang diperoleh lebih besar dari satu. Net B/C lebih dari satu menunjukkan bahwa manfaat yang diperoleh dari suatu usaha dapat menutupi seluruh biaya yang dikeluarkan. Net B/C kurang dari satu menunjukkan bahwa manfaat yang diperoleh tidak dapat menutupi semua biaya yang dikeluarkan, sehingga usaha tersebut tidak menguntungkan untuk diusahakan.
3. Internal Rate of Return (IRR)
Kriteria IRR merupakan kriteria yang digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan modal. Perbandingan menggunakan diskon faktor digunakan untuk mengukur kelayakan berdasarkan kriteria investasi IRR Usahatani layak dilaksanakan bila nilai IRRnya lebih besar dari diskon faktor yang disyaratkan.
Apabila nilai IRR lebih kecil dari tingkat diskon faktor yang disyaratkan maka usaha tidak layak dan uang yang ada lebih baik ditabungkan. Pada uji kelayakan ini, tingkat diskon faktor yang digunakan sebesar 4,25 persen berdasarkan rata-rata tingkat suku bunga deposito berjangka satu tahun berdasarkan data dari Bank Indonesia.
Untuk mengetahui kelayakan usahatani salak pondoh di Desa Rumah Lengo Kecamatan STM Hulu Kabupaten Deli Serdang, adapun rincian dapat dilihat pada tabel 11:
Tabel 11. Analisis Kelayakan Usahatani Salak Pondoh
1.089.085.259 115.922.138 973.163.120 761.221.931 717.812.690
NPV 761.221.931 717.812.690
Net B/C 9,39
IRR 5,48
Nilai NPV usahatani Salak Pondoh dengan jangka waktu usahatani sepuluh tahun pada diskon faktor/bulan 4,25 persen sebesar Rp. 761.221.931. Artinya dengan diskon faktor sebesar 4,25 persen/bulan maka usahatani salak pondoh pada akhir periode jangka sepuluh tahun mendapatkan keuntungan sebesar Rp 761.221.931.
Dan untuk faktor sebesar 5 % maka akan mendapatkan keuntungan ditahun berikutnya adalah sebesar Rp 717.812.690.
Berdasarkan kriteria net B/C usahatani Salak Pondoh layak diusahakan, karena nilai net B/C yang diperoleh sebesar 9,39. Nilai net B/C sebesar 9,39 memiliki arti setiap Rp. 1,00 biaya yang dikeluarkan akan mendapatkan tambahan manfaat sebesar Rp. 9,39%.
Usahatani Salak Pondoh mempunyai IRR sebesar 5,48 persen. Artinya IRR yang diperoleh lebih besar daripada diskon faktor yang ditentukan sebesar 5,48%
sehingga usahatani salak pondoh layak untuk diusahakan dan nilai IRR yang diperoleh menunjukkan bahwa usahatani Salak Pondoh layak untuk diusahakan dan memberikan keuntungan.
Dengan demikian hipotesis 1 yang menyatakan usahatani salak pondoh menguntungkan dan layak secara finansial diusahakan di Desa Rumah Lengo Kabupaten Deli serdang dapat diterima kebenarannya.
5.2 Faktor yang Mempengaruhi Produksi Salak Pondoh
Produksi salak pondoh di Desa Rumah Lengo Kecamatan STM Hulu Kabupaten Deli Serdang adalah sebesar 23.266 kg per Petani dan 42.229 kg per Ha.
12.000 kg. Maka produksi salak pondoh di Desa Rumah Lengo lebih besar dibandingan dengan teori yang sudah ada. Produksi yang dihasilkan dalam sebuah usahatani dipengaruhi oleh faktor produksi. Dalam penelitian ini faktor produksi yang diduga mempengaruhi produksi adalah Pupuk urea (X menganalisis besarnya pengaruh variabel setiap produksi salak pondoh dilakukan model Cobb-douglas.
Dengan menggunakan regresi linear berganda ini, maka diperoleh besarnya nilai koefisien determinan (R2), nilai F-hitung dan nilai T-hitung. Alat bantu yang digunakan untuk melakukan analisis adalah dengan menggunakan perangkat lunak SPSS 18.
Namun sebelum dilakukan analisis regresi terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik untuk melihat apakah data telah memenuhi uji asumsi klasik dalam bentuk uji BLUE (The Best Linear Unbiased Estimated). Uji asumsi klasik yang diperlukan dalam penelitian ini adalah uji normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas.
Dari variabel-variabel bebas tersebut akan dilihat seberapa besar pengaruhnya terhadap produksi (variabel terikat), hasil regresi yang diperoleh sebagai berikut:
Uji Asumsi Klasik
1. Uji Multikolinearitas
Uji asumsi multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah ditemukan adanya korelasi atau hubungan antar variabel bebas dalam model regresi. Korelasi di antara variabel bebas seharusnya tidak terjadi dalam model regresi yang baik.
Dengan asumsi sebagai berikut:
Jika toleransi ≤ 0,10 dan VIF ≥ 10 : terjadi multikolinieritas.
Jika toleransi > 0,10 dan VIF <10 : tidak terjadi multikolinieritas.
Tabel 12 memperlihatkan nilai tolerance dan nilai VIF (Variance Inlavtion Factor) dari hasil uji multikolinieritas.
Tabel 12. Coefficients Produksi Salak Pondoh
Coefficientsa
Model Collinearity Statistics
Tolerance VIF
1
(Constant)
Pupuk Urea ,681 1,467 Tidak Terjadi Multikolinearitas Pupuk KCL ,521 1,919 Tidak Terjadi Multikolinearitas Pupuk NPK ,948 1,055 Tidak Terjadi Multikolinearitas Pestisida ,680 1,470 Tidak Terjadi Multikolinearitas Tenaga kerja ,815 1,228 Tidak Terjadi Multikolinearitas
Dari tabel 12 dapat dilihat bahwa tidak terjadi multikoleniaritas antara variabel yang digunakan didalam model analisis.
2. Uji Normalitas
Uji asumsi normalitas ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui,
bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil.
Dengan asumsi sebagai berikut :
Nilai signifikan atau probabilitas < 0,05. Distribusi adalah tidak normal.
Nilai signifikan atau probabilitas > 0,05. Distribusi adalah normal.
Tabel 13 memperlihatkan nilai signifikansi dari Uji Kolmogorov Smirnov yang telah dilakukan.
Tabel 13. One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Produksi Salak Pondoh One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 30
Normal Parametersa,b Mean 0E-7
Std. Deviation 4,32015046
Asymp. Sig. (2-tailed) ,969
Hasil uji Kolmogorov Smirnov, hasil estimasi menunjukkan bahwa tingkat singnifikansi KS adalah sebesar 0,969 ( >α 0,05) maka H0 diterima. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan antara distribusi residual dengan distribusi normal, data residual model berdistribusi normal.
3. Uji Heteroskedatisitas
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik, heteroskedastisitas yaitu adanya ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi. Prasyarat yang
harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya gejala heteroskedastisitas. Dengan menggunakan metode grafik maka asumsi yang digunakan yaitu apabila bahwa grafik tersebut tidak membentuk pola yang teratur seperti: pola bergelombang sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas.
Tabel 14. Produksi Salak Pondoh
Tabel 14. Produksi Salak Pondoh