• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

BATU AMPAR ESTATE Kab Kota Baru, Prop Kalimantan Selatan

perkebunan Perkebunan BAME merupakan areal rawa pasang surut. Areal ini sebagian juga merupakan areal NKT 1.3. Jenis tutupan lahan yang ada di areal rawa ini berupa hutan sekunder dan semak belukar. Kegiatan pengelolaan di areal rawa pasang surut adalah untuk menjaga areal dari kegiatan yang dapat merusak kawasan hutan di areal NKT 4.3. Kegiatan tersebut antara lain pemasangan tanda batas dan papan amaran. Tanda batas areal NKT dibuat dengat bentuk persegi dengan tinggi 1 meter dan dicat warna kuning dan merah dengan tulisan identitas tipe NKT. Sedangkan papan amaran dipasang dengan tujuan untuk memberikan informasi bahwa perusahaan telah berkomitmen untuk melindungi areal NKT. Papan amaran dipasang di depan areal NKT. Kegiatan pemeliharaan yang rutin dilaksanakan berupa pengecatan dan pembersihan gulma sekiat pal batas dan papan amaran.

Pihak perusahaan juga telah melakukan sosialisiasi secara langsung baik secara formal maupun informal. Berdasarkan management plan yang telah disusun oleh pihak perusahaan, kegiatan sosialisasi formal dijadwalkan setiap 6 bulan sekali, sedangkan sosialisasi informal dilakukan secara insidential. Sosialisasi kepada karyawan pada saat lingkaran pagi (pertemuan pra-kerja harian) dengan materi terkait jenis dan lokasi NKT serta pentingnya melestarikan NKT di sekitar perkebunan. Sosialisasi yang telah dilakukan tercatat pada 4 Oktober 2011, dan 10 April 2013. Tabel 26 menyajikan ringkasan hasil evaluasi perlindungan kawasan yang mempunyai nilai NKT perkebunan BAME.

Tabel 26 Hasil evaluasi perlindungan kawasan yang mempunyai NKT Perkebunan BAME

Indikator ISPO Kondisi Perkebunan BAME Kriteria 3.5

1. Tersedia hasil identifikasi kawasan yang mempunyai nilai konservasi tinggi

Perkebunan BAME memiliki laporan identifikasi dan rencana pengelolaan kawasan nilai konservasi tinggi (NKT) Tahun 2011.

2. Tersedia peta kebun yang menunjukkan lokasi kawasan yang mempunyai nilai konservasi tinggi

Memiliki peta sebaran areal nilai konservasi tinggi (NKT) dengan skala 1:50.000.

3. Rekaman identifikasi dan sosialisasi kawasan yang mempunyai nilai konservasi tinggi disimpan

 Rekaman identifikasi berupa dokumen program dan realisasi pengelolaan dan realisasi pemantauan HCV Tahun 2011- 2012 dan dokumen pemeliharaan patok batas HCV tahun 2010- 2013.

 Rekaman sosialisasi berupa daftar hadir, notulensi dan dokumentasi konsultasi publik HCV di gedung BATZ pada 4 Oktober 2011, sosialisasi HCV pada karyawan di kantor divisi 1 dan 2 pada tanggal 10 April 2013 dan sosialisasi HCV Sumber: Diolah dari PTTN Perkebunan BAME (2013)

Mitigasi Emisi Gas Rumah Kaca (GRK)

Perubahan iklim telah diidentifikasi sebagai salah satu tantangan besar dihadapi negara, pemerintah, kalangan bisnis dan masyarakat selama beberapa dekade. Perubahan iklim menimbulkan pola curah hujan dan kejadian iklim ekstrim, peningkatan suhu udara dan peningkatan muka air laut yang dapat mempengaruhi produksi pertanian dan kondisi sosial ekonomi. Dampak perubahan iklim yang paling nyata pada sektor pertanian adalah kerusakan (degradasi) dan penurunan kualitas sumberdaya lahan dan air, infrastruktur pertanian, penurunan produksi dan produktivitas tanaman pangan, yang akan menghasilkan ancaman kerentanan dan kerawanan terhadap ketahanan pangan. Perubahan iklim memiliki implikasi luas baik bagi manusia dan lingkungan yang dapat menyebabkan perubahan signifikan dalam penggunaan suumber daya. Sebagai tanggapannya, inisiatif internasional, regional, nasional dan lokal sedang dikembangkan dan dilaksanakan untuk membatasi konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer untuk mencegah efek pemanasan global. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan kebijakan strategis menurunkan emisi karbon sebesar 26 persen pada tahun 2020 dengan kekuatan sendiri atau 41 persen jika memperoleh dukungan internasional. Pada skema persetujuan Protokol Kyoto dan Putaran Tahunan Konforensi Internasional Perubahan Iklim, negara maju memiliki kewajiban menurunkan emisi karbon, salah satunya dengan cara memberikan kompensasi kepada negara berkembang yang berhasil melakukan pengurangan deforestasi dan kerusakan hutan atau dikenal dengan skema REDD+ (Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation in Developing Countries Plus) dan mekanisme pembangunan bersih (Clean Development Mechanism).

Menurut Prihanta (2011), pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca terdiri atas dua cara. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbonnya di tempat lain, cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca. Gas rumah kaca terbesar adalah karbondioksida, dimana karbondioksida dihasilkan sebagai hasil proses alamiah dalam proses respirasi dan juga dari berbagai aktifitas non respirasi manusia. Karbondioksida memiliki peranan menyerap panas sehingga pemumpukan dalam jumlah besar akan berakibat meningkatnya suhu bumi.

Setiap perusahaan memiliki strategi yang ditempuh untuk menerapkan mitigasi emisi gas rumah kaca. Strategi yang ditempuh guna merumuskan aksi nyata tersebut adalah dengan melakukan identifikasi dan karakterisasi sumber emisi gas rumah kaca, menghitung kuantitas emisi gas rumah kaca dan merumuskan strategi reduksi emisi gas rumah kaca (Yuwono 2011). PT Tapian Nadenggan berkontribusi dalam peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, terutama pada kegiatan pengangkutan TBS menuju PKS yang menggunakan bahan bakar solar. Emisi gas rumah kaca di perkebunan Perkebunan BAME disajikan pada Tabel 27.

Tabel 27 Emisi gas rumah kaca Perkebunan BAME Tahun 2013 Sumber Emisi CO2

Jumlah Emisi CO2 KgCO2 KgCO2/Ton TBS* Ton CO2/ton TBS* Penggunaan agrokimia 3 757 878.92 38.45 0.03845 Penggunaan energi

 Solar untuk genset, traktor, dan kendaraan operasional

982 717.95 10.05 0.01005

 Avtur dari pesawat 56 363.00 0.57 0.00057

Pengangkutan TBS menuju PKS

196 367.44 2.00 0.00200 Total Emisi CO2 4 993 327.31

*Total Produksi TBS sebesar 97 723 ton

Sumber: Diolah dari PTTN Perkebunan BAME (2014)

Emisi CO2 yang dihasilkan perkebunan Perkebunan BAME pada tahun 2013 adalah sebesar 4 993 327.31 KgCO2 atau 4 993.3 ton CO2. Penghasil emisi CO2 terbesar diidentifikasi dari penggunaan agrokimia yaitu sebesar 3 757 878.92 Kg CO2.

Perkebunan BAME berkomitmen dalam aksi mitigasi gas rumah kaca antara lain:

1. Pembukaan lahan tanpa bakar

Optimalisasi lahan perkebunan tanpa pembakaran menjadi salah satu kegiatan utama untuk meimplementasikan mitigasi gas rumah kaca di sektor perkebunan. Proses pembakaran akan menghasilkan gas-gas rumah kaca seperti CO2, CO, N2O dan NOX yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Kegiatan pembukaan lahan dengan cara membakar dapat di atasi dengan mensosialisasikan kegiatan pembukaan lahan tanpa bakar kepada para pekerja, kontraktor, dan pemangku kepentingan lainnya. Pembukaan lahan untuk perkebunan Perkebunan BAME dilakukan berdasarkan petunjuk teknik persiapan lahan yang dimiliki oleh perusahaan dengan metode tebang habis secara manual, yaitu menggunakan bantuan alat gergaji mesin (Chain saw) dan parang. Sehubungan dengan Surat Menteri Pertanian RI No. 184/LB/130/M/8/2007 tanggal 14 Agustus 2007 tentang Larangan Membuka Hutan Lahan dengan cara membakar, perusahaan juga mengeluarkan Surat Edaran No: 071/SMD OPS/IX/2007 tanggal 4 September 2007 perihal Larangan membuka lahan dengan cara membakar.

2. Aplikasi pupuk dari TKS dan land application (LA)

TKS dan land application (LA) merupakan limbah perkebunan dan PKS yang dimanfaatkan perusahaan sebagai pupuk organik. Limbah ini memiliki nilai tambah karena tidak terbuang ke perairan bebas. Menurut Bappenas (2011), pengurangan limbah padat dan cair pertanian termasuk salah satu aksi mitigasi Indonesia yang layak secara nasional untuk mencapai target pengurangan emisi CO2 sebesar 26 persen pada tahun 2020. Hal ini disampaikan pada Sekretariat UNFCCC pada tanggal 30 Januari 2010. Mitigasi emisi CO2 dengan aplikasi TKS dan LA dapat dilihat pada Tabel 28.

Tabel 28 Mitigasi emisi CO2 pada tahun 2013

Sumber Emisi

Jumlah Emisi CO2

Pengurangan Emisi CO2 Tanpa Aplikasi Lahan TKS & LA Dengan Aplikasi Lahan TKS & LA

(ton) (ton) (ton)

Pupuk N 774.42 708.53 65.89 Pupuk P2O5 214.64 34.81 179.83 Pupuk MgO 152.28 152.80 -0.51 Pupuk K2O 630.42 588.57 41.85 Pupuk CaO 5.29 5.94 -0.64 Pupuk Borite 10.97 10.97 0

CO2 dari herbisida, pestisida dan rodentisida

28.59 28.59 0

N2O dari penggunaan pupuk N 1 941.22 1 732.32 28.59

Total Emisi CO2 3 757.87 3 233.97 523.91

Aplikasi TKS dan LA sebagai pupuk organik mampu menggurangi emisi CO2 yang dihasilkan sebesar 523.91 ton CO2 pada tahun 2013 atau 13.9 persen. Disamping mendapat keuntungan dari penghematan penggunaan pupuk kimia, penggunaan pupuk organik dari aplikasi TKS dan LA juga memiliki keuntungan dari segi lingkungan. Kandungan unsur hara pada pupuk organik lebih baik dibandingkan pupuk kimia sehingga dapat menghasilkan buah dengan kualitas lebih unggul. Pemanfaatan kedua jenis limbah tersebut menandakan bahwa perusahaan mendukung program pelestarian lingkungan yang mengarah pada zero emission. Tabel 29 menyajikan ringkasan hasil evaluasi mitigasi GRK perkebunan BAME.

Tabel 29 Hasil evaluasi mitigasi emisi GRK Perkebunan BAME

Indikator ISPO Perkebunan BAME

Kriteria 3.6

1. Tersedia SOP/Petunjuk Teknis Mitigasi Emisi GRK

Memiliki SOP Mitigasi Gas Rumah Kaca dan SOP Perhitungan Emisi Gas Rumah Kaca dengan nomor dokumen PT SMART Tbk- BAMM/SOP/02 yang disahkan tanggal 2 Januari 2013

2. Tersedia Inventarisasi Sumber Emisi GRK

Perkebunan BAME telah melakukan identifikasi aspek lingkungan termasuk GRK. Data mengenai sumber emisi terdapat dalam form perhitungan emisi GRK tahun 2013

Tabel 29 Hasil evaluasi mitigasi emisi GRK Perkebunan BAME (Lanjutan)

Indikator ISPO Perkebunan BAME

3. Tersedia rekaman tahapan alih fungsi Lahan (Land Use Trajectory)

Rekaman berupa dokumentasi perubahan fungsi lahan dan luas area perubahan lahan.

4. Tersedia rekaman usaha pengurangan Emisi GRK

Telah melakukan usaha pengurangan emisi GRK dengan cara mengaplikasikan TKS dan LA sebagai pupuk organik.

5. Tersedia rekaman pelaksanaan mitigasi Rekaman pelaksanaan mitigasi berupa data perhitungan emisi gas rumah kaca

Sumber: Diolah dari PTTN Perkebunan BAME (2014)

Konservasi Kawasan dengan Potensi Erosi Tinggi

Erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkutnya bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh suatu media alami. Menurut penyebabnya atau media pengangkutannya dikenal dua jenis erosi, yaitu erosi angin dan erosi air. Pada dasarnya dapat disimpulkan bahwa erosi terjadi akibat interaksi kerja antara faktor-faktor iklim, topografi, vegetasi, dan manusia terhadap tanah (Arsyad 2000). Menurut Baver et al. (1972) terjadinya erosi tanah tergantung dari beberapa faktor yaitu karakteristik hujan, kemiringan lereng, penutup tanah dan kemampuan tanah untuk menyerap dan melepas air ke dalam lapisan tanah dangkal. Di antara faktor-faktor penyebab erosi, yang bisa diatur sepenuhnya oleh manusia adalah penutup lahan (land cover) dan konservasi tanah. Dalam kondisi alami, laju erosi tanah adalah sebanding dengan laju pelapukan dan pembentukan tanah. Namun apabila kondisi lingkungan terganggu, maka terjadi percepatan erosi (accelerated erosion) yang sangat merusak dan memerlukan usaha dan ongkos yang besar untuk mengendalikannya. Dampak dari erosi tanah dapat diklasifikasikan dalam dua kategori: 1) menurunnya produktifitas lahan seiring dengan kehilangan lapisan tanah bagian atas yang subur, dan 2) terjadi sedimentasi di sungai yang menyebabkan kerusakan saluran dan berkurangnya kapasitas tampungan.

Sempadan sungai memiliki fungsi sebagai ruang penyangga antara ekosistem sungai dan daratan agar fungsi sungai dan aktivitas manusia tidak saling mengganggu. sungai dilakukan melalui kegiatan perlindungan sungai dan pencegahan pencemaran air sungai sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2011 tentang Sungai. Sempadan sungai juga memiliki fungsi untuk mencegah terjadinya erosi dan banjir. Oleh karena itu diperlukan adanya upaya konservasi sungai. Konservasi sungai pada perusahaan diatur pada:

1. SOP Pengkuruan Erosi PT TN1-BAME/SOP/28; 2. SOP Pengelolaan Daerah Sempadan Sungai; dan 3. SOP Perlindungan Daerah Sempadan Sungai

Perusahaan telah mengidentifikasi kawasan dengan potensi erosi tinggi di areal perkebunan berupa sempadan sungai dan rawa pasang surut. Pada sub bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa areal sempadan sungai dan rawa pasang surut merupakan areal NKT dengan luasan seperti yang disajikan pada Tabel 30.

Tabel 30 Luas kawasan dengan potensi erosi tinggi Perkebunan BAME

Areal Luas

(ha)

Sempadan Sungai 177.95

Rawa Pasang Surut 151.42

Total 329.37

Sumber: Laporan Identifikasi dan Rencana Pengelolaan NKT Perkebunan BAME (2011)

Guna untuk menentukan nilai NKT 4.2 yaitu kawasan dengan potensi erosi tinggi, maka perkebunan BAME melakukan perhitungan besarnya tingkat bahaya erosi (TBE) pada kawasan perkebunan yang selengkapnya disajikan pada Tabel 31. Dari hasil perhitungan, perkebunan BAME tidak terdapat kawasan yang mempunyai Tingkat Bahaya Erosi (TBE) dalam kelas potensial berat atau sangat berat (yang mengalami tingkat erosi 180 ton/ha/thn atau lebih jika penutupan vegetasi ditebang). Oleh sebab itu, tidak terdapat kawasan yang berpotensi menjadi NKT 4.2 tetapi diperlukan adanya kegiatan pengelolaan untuk mencegah terjadinya erosi dan sedimentasi.

Tabel 31 Nilai tingkat bahaya erosi (TBE) berdasarkan kedalaman tanah dan estimasi erosi di Perkebunan BAME

SPT Tekstur TBE

(ton/ha/tahun)

Solum

(cm) Kelas TBE

SPT 7 Clay loam 3.22 > 100 Sangat rendah

SPT 15 Silty clay loam 1.06 > 100 Sangat rendah

SPT 4 Loam 0.04 > 100 Sangat rendah

SPT 34 Sandy clay loam 0.31 > 90 Sangat rendah SPT 19 Clay loam 7.14 > 100 Sangat rendah SPT 29 Sandy clay loam 2.38 > 100 Sangat rendah SPT 161 Silty clay 0.91 > 100 Sangat rendah Sumber: PTTN Perkebunan BAME (2013)

Dalam rencana pengelolaan NKT dan sesuai dengan SOP yang terdapat di perusahaan bahwa areal sempadan sungai akan dilindungi sejauh 50 meter (kiri dan kanan sungai) dengan cara merehabilitasi pada saat kegiatan replanting. Akan tetapi untuk mengantisipasi gangguan kualitas air sungai dengan kondisi kebun sawit yang masih diproduksi, perusahaan telah mengambil langkah-langkah pencegahan, antara lain:

1. Penerapan Best Management Practice (BMP)

Penerapan prinsip BMP dalam kegiatan pengelolaan NKT khususnya areal sempadan sungai yang telah ditanami kelapa sawit dilakukan dengan tidak mengaplikasikan bahan kimia (agrochemical) dalam mengendalikan gulma di areal sempadan sungai. Dimana kegiatan perawatan yanaman kelapa sawit di areal sempadan sungai dilakukan secara manual (pembabatan gulma dan garuk piringan). Secara ekonomis kegiatan ini dinilai kurang efektif dan efisien karena memakan biaya dan tenaga. Akan tetapi, secara ekologis hal ini

diharapkan dapat membantu dalam menjaga kualitas air sungai. Selain itu, perusahaan juga menerapkan system pemupukan secara manual di areal tersebut. Pemupukan dilakukan secara manual agar pupuk tidak masuk ke dalam sungai.

2. Penanaman Tanaman Penahan Erosi

Untuk saat ini kegijakan perusahaan terhadap pengelolaan sempadan sungai adalah penanaman tanaman penahan erosi dan juga mulai menanam tanaman kayu. Hal ini sesuai dengan rencana pengelolaan areal NKT yang telah direkomendasikan karena sempadan sungai berfungsi untuk menhindari terjadinya sedimentasi yang tinggi dari aliran permukaan di sekitar tebing sungai dan akhirnya dapata menyebabkan banjir. Teknik yang digunakan perusahaan dalam melakukan penanaman vegetasi penahan erosi ini yaitu dengan cara menanam pada areal-areal pinggiran badan sungai yang tidak memiliki penutup tanah. Sedangkan areal yang memiliki penutup tanah, seperti anakan pohon dan pakis-pakisan dibiarkan tumbuh alami. Jenis-jenis vegetasi penahan erosi tersebuat antara lain adalah vertifer grass (akar wangi),

guatemala grass (gelagah), bamboo dan tanaman buah yang disesuaikan dengan tempat tumbuh. Adapun kegiatan pemeliharaan yang dilakukan adalah pembersihan gulma sekiat vegetasi yang ditanam dan melakukan penyisipan terhadap tanaman mati.

3. Pemasanan Tanda Batas dan Papan Amaran

Tanda batas NKT dipasang pada batas 50m di kanan dan kiri sempadan sungai. Tanda batas dibuat dengan bentuk persegi dengan tinggi 1 meter yang dicat merah dan kuning dengan tulisan identitas tipe NKT. Selain itu, dilakukan juga pemasangan tanda batas aplikasi agrochemical berupa papan amaran bertuliskan “BATAS SEMPROT” di setiap jalan yang terlihan sungai serta tanda silang (x) yang dicatkan pada setiap pokok kelima terluar dari sempadan sungai. Papan amaran NKT juga telah dipasang di lokasi-lokasi sempadan sungai yang strategis.

Sempadan sungai termasuk ke dalam areal NKT 1.1, NKT, 1.3, dan NKT 4.1. Oleh sosialisasi keberadaan dan pentingnya NKT ini telah diinformasikan kepada karyawan dan masyarakat sekitar. Adapun upaya lain yaitu dengan memasang alat pemantauan erosi tanggal 15 Maret 2012 pada areal dengan kemiringan > 15% sebanyak 3 buah di atas lereng, tengah lereng dan bawah lereng dan pada areal dengan kemiringan < 15% sebanyak 1 buah di tengah lereng. Pemasangan alat pemantauan erosi dilakukan untuk pemenuhan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 7 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengukuran Kriteria Baku Kerusakan Tanah Untuk Produksi Biomassa. Tabel 32 menyajikan ringkasan hasil evaluasi konservasi kawasan dengan potensi erosi tinggi perkebunan BAME.

Tabel 32 Hasil evaluasi konservasi kawasan dengan potensi erosi tinggi Perkebunan BAME

Indikator ISPO Kondisi Perkebunan BAME Kriteria 3.7

1. Tersedia prosedur/petunjuk teknis konservasi kawasan dengan potensi erosi tinggi termasuk sempadan sungai

 SOP Pengkuruan Erosi PT TN1-BAME/SOP/28, berisi tentang metode pengukuran,

Tabel 32 Hasil evaluasi konservasi kawasan dengan potensi erosi tinggi Perkebunan BAME (Lanjutan)

Indikator ISPO Kondisi Perkebunan BAME

cara pengukuran

(menggunakan patok erosi berskala), dan lainnya.

 SOP Pengelolaan Daerah Sempadan Sungai

 SOP Perlindungan Daerah Sempadan Sungai

2. Tersedia peta kebun dan topografi serta lokasi penyebaran sungai

Memiliki peta areal perkebunan berserta lokasi sungai dan anak sungai dan peta topografi areal perkebunan berskala 1:50.000 3. Rekaman pelaksanaan konservasi

kawasan dengan potensi erosi tinggi

Rekaman berupa berita acara pemasangan alat pemantauan erosi pada areal dengan kemiringan < 15% dan kemiringan > 15% dan dokuemntasi pemasangan papan amaran lokasi vertiver grass dan larangan menyemprot.

Sumber: PTTN Perkebunan BAME (2013)

Hasil Evaluasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan dalam Penerapan ISPO ISPO mewajibkan perusahaan perkebunan kelapa sawit untuk memenuhi semua indikator pada setiap prinsip dan kriteria. Hal ini dikarenakan ISPO bersifat mandatory dan wajib diterapkan oleh semua perusahaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Perkebunan BAME telah menerapkan beberapa indicator dalam prinsip dan kriteria ISPO. Rincian hasil evaluasi kinerja Perkebunan BAME dalam penerapan ISPO disajikan pada Tabel 33.

Tabel 33 Rincian hasil evaluasi kinerja Perkebunan BAME dalam penerapan ISPO

Prinsip & Kriteria Jumlah Indikator

Jumlah Indikator Terpenuhi Prinsip 1

Perizinan dan Sertifikat

1.1 Perizinan dan sertifikat 3 3

1.2 Pembangunan kebun untuk masyarakat sekitar

1 0

1.3 Lokasi perkebunan 5 5

1.4 Tumpang tindih dengan usaha pertambangan

2 2

1.5 Sengketa lahan dan kompensasinya 4 4

Tabel 33 Rincian hasil evaluasi kinerja Perkebunan BAME dalam penerapan ISPO (Lanjutan)

Prinsip & Kriteria Jumlah Indikator

Jumlah Indikator Terpenuhi

1.7 Manajemen perkebunan 3 3

1.8 Rencana dan realisasi pembangunan perkebunan dan pabrik

1 1

Prinsip 2

Penerapan Pedoman Teknis Budidaya dan Pengolahan Kelapa Sawit

2.1 Penerapan pedoman teknis pengolahan hasil perkebunan

23 23

Prinsip 3

Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan 3.2 Kewajiban terkait analisis dampak

lingkungan AMDAL, UKL dan UPL

3 3

3.3 Pencegahan dan penanggulangan kebakaran

5 4

3.4 Pelestarian biodiversitas 3 3

3.5 Identifikasi dan perlindungan kawasan yang mempunyai nilai konservasi tinggi

3 3

3.6 Mitigasi emisi gas rumah kaca (GRK) 5 5 3.7 Konservasi kawasan dengan potensi

erosi tinggi

3 3

Jumlah 65 63

Sumber: Diolah dari Data Primer (2014)

Penerapan ISPO merupakan bukti kepatuhan pelaku usaha perkebunan dalam memenuhi peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia serta menerapkan prinsip pengelolaan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan.

Perkebunan BAME memenuhi 63 indikator dari 65 indikator pada prinsip dan kriteria ISPO terkait lingkungan. Indikator-indikator yang belum terpenuhi antara lain indikator 1.2 tentang pembangunan kebun untuk masyarakat sekitar dan indikator 3.3 tentang pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Oleh karena itu, perkebunan BAME memerlukan suatu langkah perbaikan untuk mengoptimalkan kinerja dalam pengelolaan lingkungan.

Strategi Optimalisasi Pengelolaan Lingkungan Analisis Faktor Internal

Lingkungan merupakan faktor utama yang mempengaruhi jalan dan bertahannya suatau perusahaan. Persaingan yang semakin pesat yang disebabkan oleh majunya teknologi dan globalisasi akan membuat perusahaan berpikir keras untuk membuat terobosan baru agar eksistensi perusahaan tidak mengalami penurunan. Lingkungan internal merupakan proses pengidentifikasian terhadap faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan suatu perusahaan.

Kekuatan Perkebunan BAME

1. Pengalaman dan komitmen dalam pengelolaan kelapa sawit yang lestari

Perkebunan BAME PT Tapian Nadenggan didirikan tahun 1988 dengan nama perusahaan PT Inti Gerak Maju. Perkebunan BAME PT Tapian Nadenggan merupakan anak perusahan dari PT SMART (Sinar Mas Agra Resouces and Technology) Tbk yang 100% sahamnya dimiliki oleh PT SMART Tbk. PT SMART Tbk telah berdiri sejak tahun 1962 dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejak 1992. Selama berjalannya tahun, Perkebunan BAME terus meningkatkan kualitas minyak sawit dengan memperhatikan keadaan lingkungan dan kelestarian keanekaragaman hayati. Saat ini, permintaan akan produk minyak sawit tetap kuat baik di pasar pangan maupun bukan pangan termasuk sektor energi. Pemulihan tren harga minyak sawit (CPO) kembali menunjukkan ketahanan minyak sawit dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Perkebunan BAME memanfaatkan peluang ini untuk mengembangkan keberadaan operasi hulu dan hilir yang lebih terintegrasi. Selain itu, praktek kelestarian yang tertanam dalam operasi sehari-hari perusahaan, telah membantu perusahaan mencapai kemajuan dalam hal sertifikasi kelestarian.

2. Citra positif sebagai perusahaan internasional

Perkebunan BAME mendistribusikan, memasarkan dan mengekspor produk konsumen berbasis kelapa sawit. Selain minyak curah dan minyak industri, produk turunan perkebunan BAME juga dipasarkan dengan berbagai merek, seperti Filma dan Kunci Mas. Saat ini, merek-merek tersebut diakui kualitasnya dan memiliki pangsa pasar yang signifikan di segmennya masing- masing di Indonesia dan dunia. Protentase penjualan minyak kelapa sawit dan produk olahannya pada tahun 2013 adalah 71% penjualan ekspor dari Indonesia, 10% penjualan lokal di Indonesia, dan 19% penjualan lokal di Tiongkok.

3. Kawasan nilai konservasi tinggi yang terjaga dengan baik

Beberapa kawasan perkebunan BAME diidentifikasi mempunyai nilai konservasi tinggi dan mempunyai fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup sehingga lahan tersebut tidak ditanami tanaman kelapa sawit dan keberadaannya membutuhkan perhatian khusus. Kawasan NKT perkebunan BAME seluas 393.47 ha berupa sempadan sungai, areal berhutan yang merupakan habitat hewan terancam punah dan rawa pasang surut. Perusahaan menyadari bahwa upaya konservasi tidak akan berjalan maksimal