• Tidak ada hasil yang ditemukan

Beberapa Pandangan mengenai Re-evangelisasi

BAB III: MODEL-MODEL GEREJA TIMOR LESTE DAN GEREJA

B. Beberapa Pandangan mengenai Re-evangelisasi

Apa jadinya kalau orang berjalan dan jatuh dalam rutinitas tanpa melihat sesuatu yang selalu baru dalam hidup ini? Barangkali orang akan menjadi bosan, jenuh, tertekan, dan lemas serta tidak berdaya. Kerapkali orang membutuhkan kebaruan untuk keluar dari kebuntuan dan kemandegan. Untuk menemukan kebaruan itu orang harus berani berkonfrontasi dengan kenyataan, situasi, dan kondisi yang aktual. Di situlah kebaruan muncul. Di situlah kegembiraan dan kebahagiaan ditemukan.

Dalam mewartakan Sabda Allah pun orang butuh kebaruan, khususnya dalam metode penyampaiannya. Mengapa? Karena perubahan masyarakat dan zaman begitu cepat seolah tidak terbendung lagi. Orang membutuhkan cara-cara baru untuk menyampaikan pesan Sabda Allah dalam dunia yang ditandai oleh berbagai kemajuan ilmu dan teknologi. Kebaruan dalam cara itu semakin dibutuhkan orang-orang zaman modern ini. Inilah kiranya arah re-evangelisasi.

Pada awal masa kepausannya, Yohanes Paulus II hadir dalam Konferensi Uskup Amerika Latin di Puebla (Januari 1979). Tema konferensi itu adalah “Evangelisasi Kini dan Masa Depan Di Amerika Latin”. Puebla menerima pandangan Paus Paulus VI dan menekankan bahwa melalui evangelisasi Gereja ingin “memberikan sumbangan dalam usaha membangun masyarakat yang baru yang lebih bersaudara dan adil.”

Dalam pembukaan konferensi itu, Paus Yohanes Paulus II banyak mengutip Evangelii Nuntiandi, beliau tidak menerima reduksi sosiologis. Dari lain pihak sangat menekankan, bahwa salah satu segi evangelisasi Gereja yang tidak dapat ditinggalkan menyangkut “usaha-usaha demi keadilan dan pengembangan kemanusiaan”. Pada bulan Maret 1979, Paus Yohanes Paulus II mengirimkan surat dukungan untuk kesimpulan-kesimpulan yang dihasilkan oleh konferensi Puebla. Sejak saat itu ia tampil sebagai Paus yang tidak mengenal lelah untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia (Suharyo, 1993: 14).

Pada tanggal 19 Maret 1983, untuk pertama kalinya Yohanes Paulus II berbicara mengenai evangelisasi baru (= re-evangelisasi) ketika ia berbicara di hadapan para Uskup Amerika Latin di Port-an-Prince, Haiti, tahun 1982 saat akan diadakan Konferensi Uskup Amerika Latin, bertepatan dengan 500 tahun evangelisasi benua Amerika: Peringatan hendaknya ditandai dengan komitmen Gereja dengan evangelisasi baru (re-evangelisasi) bagi belahan bumi ini, “baru dalam semangat, cara dan wujudnya.”

Tema evangelisasi baru dikembangkan secara lebih luas lagi dalam dua dokumen kepausan yang keluar pada tahun 1990. Dalam surat kepada biarawan-biarawati Latin Amerika, tertanggal 29 Juni, dikatakan bahwa evangelisasi baru harus memperdalam iman orang-orang Kristiani, mengembangkan kebudayaan baru yang terbuka bagi pesan Injil dan mendorong transformasi sosial di benua itu. Selanjutnya pada akhir tahun 1990 dikeluarkan ensiklik Redemptoris Missio. Dibedakan secara lebih jelas keadaan yang menuntut reksa pastoral dan yang menuntut evangelisasi (RM art. 33). Situasi yang menuntut evangelisasi juga dua. Yang pertama, daerah-daerah di mana Kristus dan Injil belum dikenal menuntut evangelisasi pertama. Selanjutnya daerah-daerah yang orang-orang Kristianinya sudah kehilangan rasa iman dan tidak menganggap diri lagi warga Gereja, dibutuhkan re-evangelisasi. Ada kesan, evangelisasi baru menurut ensiklik ini disamakan dengan re-evangelisasi wilayah-wilayah yang pernah disebut Kristen. Namun anggapan ini tampaknya tidak terlalu kaku. (Suharyo, 1993: 15-16).

Dalam ensiklik Evangelii Nuntiandi Paus Paulus VI menulis:

“...Gereja mempunyai kesadaran untuk hidup mengenai kenyataan bahwa kata-kata Sang Penebus, “Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah” (Luk 4: 43), berlaku juga sebenarnya untuk Gereja... Mewartakan Injil sesungguhnya merupakan rahmat dan panggilan yang khas bagi Gereja, merupakan identitasnya yang terdalam. Gereja ada untuk mewartakan Injil...”

Lebih lanjut Paus juga mengatakan: “Bagi Gereja mewartakan (evangelisasi) berarti membawa Kabar Baik kepada segala tingkat

kemanusiaan, dan melalui pengaruh Injil mengubah umat manusia dari dalam dan membuatnya menjadi baru” (EN. art 18).

Dari apa yang ditulis oleh Paus di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa re-evangelisasi (=evangelisasi baru) bukan hanya sekedar mewartakan kembali Injil kepada orang-orang kristiani, tetapi terutama berarti usaha agar dalam menghadapi tantangan-tantangan zaman sekarang karya pewartaan dapat membantu dan membimbing umat untuk menjalankan hidup yang sungguh bersifat injili.

Menurut Adisusanto (1995: 69) kebaruan evangelisasi terletak terutama dalam usaha pewartaan untuk membantu umat agar mereka dapat merealisasikan nilai-nilai injil dalam kehidupan nyata sehari-hari dalam konteks tantangan-tantangan zaman sekarang.

Maksud dari pernyataan Adisusanto di atas berarti bahwa evangelisasi baru (=re-evangelisasi) merupakan upaya menjadi sekaligus pewarta dan saksi Kabar Baik Kerajaan Allah di tengah-tengah keluarga, komunitas, masyarakatnya dalam menghadapi situasi tantangan-tantangan zaman. Tindakan tersebut diharapkan menghasilkan pembaharuan hidup, bukan hanya hidup orang kristiani yang bersangkutan, tetapi juga hidup masyarakat di sekitarnya (lih. Why 21: 5; 2Kor 5:17; Gal 6:15; Ef 4: 23-24; Kol 3: 9-10).

Sedangkan Suharyo (1993: 19) mengatakan bahwa re-evangelisasi tidak membatasi diri pada penerusan ajaran atau mencari pemeluk agama Kristen sebanyak-banyaknya, melainkan menyampaikan kabar gembira (=

injil) keselamatan kepada semua manusia yang utuh, yang mempunyai sejarah hidup yang berbeda-beda.

Dengan demikian tujuan dari re-evangelisasi dapat dikatakan atau dirumuskan demikian: “membangun komunitas Kristiani, yang dijiwai oleh sabda Allah, dalam konteksnya yang beragam, sehingga komunitas itu hadir memberikan kesaksian yang hidup akan Kristus yang menyelamatkan”.

Menurut Darmawijaya (1993: 100) re-evangelisasi (evangelisasi baru) harus memperdalam iman orang kristen sendiri, menciptakan budaya baru yang terbuka bagi amanat Injil, dan memajukan pembaharuan sosial.

Mencanangkan evangelisasi baru (=re-evangelisasi) berarti mencanangkan suatu gerakan. Gerakan itu diawali dengan penyadaran bahwa manusia memiliki bekal untuk menghadapi situasi dan kondisi kehidupan masa kini. Bekal itu adalah perjuangan leluhur kita dalam iman. Namun demikian situasi dan kondisi masyarakat zaman ini memang lain. Maka menjadi penting sekali usaha mencari jembatan bagaimana bekal yang diwariskan oleh leluhur dalam iman ini bisa menjadi kekuatan baru bagi kehidupan di zaman yang baru? Usaha seperti itu merupakan perutusan bagi setiap orang yang mau hidup serius dengan imannya.

Apa artinya hidup serius dengan imannya? Menurut Darmawijaya (1993: 102-103) hidup serius dengan imannya berarti; pertama, orang itu mau menjadi saksi rencana kasih Allah bagi manusia termasuk dirinya. Kedua, orang itu mau mewartakan rencana dan kasih Allah tersebut dalam situasi dan kondisi yang berubah-ubah. Ketiga, orang itu mau menghadapi kenyataan

hidup sekarang bukan hanya sebagai ancaman bagi rencana dan kasih, melainkan juga sebagai jalan memetik buah-buah kasih tersebut.

Dengan demikian pewartaan iman tidak perlu dipisahkan dari pembangunan seluruh kehidupan manusia yang nyata ini. Kemerdekaan manusia memungkinkan dia untuk memilih jalan mengembangkan hidup secara bertanggung-jawab. Dalam hubungan ini evangelisasi lalu harus dilaksanakan bersama pembangunan manusia secara utuh. Re-evangelisasi lalu baru bisa dilihat sebagai rencana pastoral seluruh Gereja untuk melibatkan diri dalam kepentingan umat manusia di manapun. Dalam era globalisasi ini kepentingan manusia di manapun juga mendapat perhatian dalam penginjilan tersebut.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa re-evangelisasi diperlukan untuk daerah-daerah yang memiliki akar-akar Kristen lama, kadang Gereja lebih muda juga, tetapi kehilangan makna iman dalam kehidupan; atau mereka tidak lagi memandang diri mereka sebagai anggota Gereja. Dalam situasi seperti ini diperlukan “evangelisasi yang baru”, atau suatu “proses penginjilan kembali” (re-evangelisasi).

Bila dikatakan bahwa re-evangelisasi berarti usaha pewartaan agar umat menghayati hidup injili dalam konteks masyarakatnya yang menghadapi tantangan-tantangan zaman, maka kiranya baik kalau kita membicarakan re-evangelisasi dalam konteks masyarakat di Asia, di mana Timor Leste menjadi salah satu bagiannya, yang sedang menghadapi tantangan-tantangan yang

tidak sedikit (bahaya sekularisme dan konsumerisme, masalah pendidikan, masalah kaum muda serta masalah politik).

Umat kristiani di Asia khususnya Timor Leste mewartakan Injil sebagai ungkapan rasa terimakasih kepada Allah Bapa yang telah memberkati mereka dalam Kristus dan mengirimkan Roh Kudus ke dalam hati mereka, sehingga mereka boleh menikmati kehidupan Allah sendiri. Pewartaan Injil juga dijalankan karena umat kristiani percaya bahwa Yesus Kristus, yang telah mengutus mereka ke seluruh dunia untuk menjadikan semua bangsa murid-murid-Nya. Di samping itu, umat kristiani mewartakan Injil karena melalui permandian mereka telah dipersatukan dengan Gereja, yang bersifat misioner. Akhirnya, umat kristiani mewartakan Injil, karena Injil merupakan ragi untuk pembebasan dan perubahan dalam masyarakat (Adisusanto, 1995: 70).

Seruan Sri Paus Yohanes Paulus II tentang Evangelisasi Baru yang dicetuskan bertepatan dengan 500 tahun Gereja Amerika Latin, yakni dalam amanat pada pertemuan uskup-uskup Amerika Latin di Haiti, pada bulan Maret 1983, rupanya menjadi inspirasi bagi penulis untuk mencoba menawarkan re-evangelisasi sebagai salah satu jalan yang dapat digunakan oleh Gereja Timor Leste dalam menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan karya pewartaannya di era pascareferendum.