• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model-model Gereja menurut Pandangan Avery Dulles

BAB III: MODEL-MODEL GEREJA TIMOR LESTE DAN GEREJA

A. Model-model Gereja

1. Model-model Gereja menurut Pandangan Avery Dulles

a. Gereja sebagai Institusi

Menurut Dulles (1987: 35), Gereja di dalam eklesiologi yang berpusat pada institusi ini, kekuasaan dan tugas Gereja dibagi dalam tiga unsur: mengajar, menguduskan, dan memimpin. Pembagian kekuasaan ini mengarah kepada perbedaan lebih tajam antara Gereja yang mengajar dengan Gereja yang diajar, antara Gereja yang menguduskan dengan Gereja yang dikuduskan, antara

Gereja yang memimpin dengan Gereja yang dipimpin. Dalam segala hal, Gereja sebagai institusi adalah pemberi jasa.

Dulles menambahkan, bahwa dalam tiap-tiap fungsinya itu, Gereja mempunyai analogi dengan dunia sekular, biarpun sedikit berbeda. Dilihat dari segi fungsinya sebagai pengajar, Gereja menyerupai sebuah sekolah di mana guru-guru sebagai pengajar suci menyampaikan ajaran Kristus. Karena uskup-uskup dianggap memiliki suatu ‘kharisma kebenaran’ yang khusus (istilah dari St. Ireneus, tetapi artinya sudah berubah sejak masanya), maka ditegaskan bahwa orang-orang beriman sesungguhnya diwajibkan untuk mempercayai apa yang diajarkan oleh para uskup.

Sedangkan Butler sebagaimana dikutip oleh Afra Siauwarjaya (1987a: 16) mengatakan bahwa Gereja secara hakiki merupakan suatu masyarakat konkret yang mempunyai suatu konstitusi, seperangkat peraturan, lembaga kepemimpinan dan sejumlah anggota yang menerima peraturan-peraturan itu sebagai pengikat bagi mereka.

Eklesiologi Gereja ini memandang Gereja sebagai “masyarakat sempurna” yang terbedakan dan mengatasi masyarakat lain. Pemahaman mengenai Gereja sebagai masyarakat mengandung kecenderungan untuk menekankan struktur kepemimpinan sebagai unsur yang menentukan dalam masyarakat

itu. “Sempurna” di sini dalam arti bahwa struktur kepemimpinan Gereja yang kelihatan khususnya yang berhubungan dengan hak, wewenang, dan kekuasaan para pejabatnya tidak bisa dilebihi. Arus faham Gereja demikian disebut dengan institusionalisme. Institusionalisme berarti suatu sistem di mana unsur-unsur institusional mendapat tekanan yang berlebihan, dan dipandang sebagai sesuatu yang primer. Unsur-unsur institusional meliputi pejabat-pejabat yang bertanggung-jawab, prosedur yang disetujui pemimpin, rumus-rumus iman yang diterima secara resmi, bentuk ibadat publik yang resmi.

Ciri lain dari eklesiologi yang institusionalistis adalah sangat menekankan keyakinan akan tindakan Kristus yang mengadakan jabatan-jabatan dan sakramen-sakramen. Demikian pun halnya dogma Gereja dikatakan merupakan bagian dari perbendaharaan iman yang asli, yang sudah lengkap pada zaman rasul. Padahal sulit bagi teolog untuk membuktikannya. Tugas teologi yang paling luhur adalah menunjukkan bagaimana suatu ajaran yang ditetapkan oleh Gereja tergantung pada sumber-sumber pewahyuan.

Adapun kekuatan dari model Gereja secara institusional ini adalah memberi perasaan yang kuat kepada orang Katolik akan identitas kolektif mereka, sehingga mereka mempunyai loyalitas institusional yang tinggi. Gereja mempunyai sasaran yang jelas

untuk kegiatan misioner dan tidak banyak mengenal perselisihan dalam dirinya sendiri.

Di samping itu ada juga kelemahannya, di antaranya: pertama, model Gereja sebagai institusi sangat lemah dasarnya dalam Kitab Suci dan tradisi Gereja Awal. Kitab Suci tidak melukiskan Gereja sebagai suatu masyarakat yang sangat erat bersatu. Kedua, model Gereja ini sangat menekankan beberapa keutamaan seperti ketaatan, sehingga keutamaan-keutamaan yang lain diabaikan. Klerikalisme cenderung menyebabkan kaum awam menjadi pasif dan menjadikan kerasulan mereka seakan-akan tempelan pada kerasulan hirarki. Yuridisme cenderung melebih-lebihkan peranan kewibawaan manusiawi. Banyak orang Katolik secara berlebih-lebihan memenuhi kewajiban-kewajiban Gereja tanpa memperhatikan pelaksanaan hukum cinta kasih. Mereka berusaha tetap taat kepada paus dan uskup namun kurang memperhatikan Allah, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Ketiga, model Gereja ini menimbulkan hambatan bagi suatu teologi yang kreatif. Model ini secara eksklusif mengikat teologi untuk membela posisi ajaran yang resmi. Dengan demikian mengurangi cara berpikir yang kritis dari para teolog. Keempat, institusionalisme yang berlebihan menimbulkan banyak masalah teologi yang serius. Misalnya, para teolog diminta untuk menemukan dalam Kitab Suci dan tradisi para rasul tentang

berbagai hal yang hampir tidak dapat ditemukan, seperti bentuk episkopat kepemimpinan Gereja, ketujuh sakramen, dogma-dogma modern seperti Maria dikandung tak bernoda, dan Maria diangkat ke surga. Kelima, model Gereja ini berpandangan bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan, tidak memberi peluang bagi orang yang bukan Katolik. Hal ini menyebabkan adanya kemandulan dalam bidang ekumene, karena tidak mampu menjelaskan vitalitas rohani Gereja-gereja bukan rohani. Ini menandakan bahwa Gereja Katolik kurang menghargai unsur-unsur karismatik. Keenam, model Gereja semacam ini (institusional) dipandang ketinggalan zaman untuk masa dialog, ekumenis, dan perhatian terhadap agama lain (Afra Siauwarjaya, 1987a: 18-19).

b. Gereja sebagai Persekutuan Mistik

Menurut Afra Siauwarjaya (1987a: 20), kata “Persekutuan Mistik” merupakan terjemahan dari kata Mystical Communion. Kata communion pada umumnya dipergunakan untuk menunjukkan suatu persekutuan hidup yang mendalam. Dalam bahasa Kitab Suci istilah persekutuan dipergunakan untuk menerjemahkan kata koinonia. Dasar dari persekutuan itu adalah Allah yang memanggil manusia masuk ke dalam persekutuan dengan-Nya melalui Yesus Kristus dalam Roh-Nya. Persekutuan itu dilaksanakan dalam persaudaraan dengan saling mengasihi dan

saling melayani dengan sehati, sejiwa (Yoh 13:34-35; Kis 2:42; Kis 4:32-35). Sedangkan kata mistik menunjukkan sifat ilahi yang penuh misteri. Sifat tersebut menjadi ciri dari persekutuan itu yang membedakan persekutuan tersebut dengan persekutuan lainnya (Afra Siauwarjaya, 1987a: 20).

Gereja sebagai persekutuan terbedakan dari persekutuan sosiologis. Persekutuan dalam arti sosiologis melulu bersifat horisontal, hubungan erat antarmanusia. Kekhususan Gereja sebagai persekutuan adalah dimensi vertikal yakni berhubungan dengan hidup ilahi yang diwahyukan dalam Kristus dan disalurkan kepada manusia oleh Roh-Nya. Faham Gereja sebagai persekutuan ini selaras dengan lambang alkitabiah, di antaranya dua yang menonjol yakni Tubuh Kristus dan Umat Allah.

Gereja sebagai Tubuh Kristus lebih diartikan sebagai organis daripada sosiologis. Gereja dipandang secara analogis sebagai tubuh manusia yang dilengkapi dengan pelbagai organ, dijiwai dengan prinsip kehidupan, sehingga dapat berkembang membaharui diri dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan yang berubah-ubah. Tubuh Kristus mempunyai prinsip kehidupan ilahi yakni Roh Kristus (Rm 12:4-5, 1Kor 12:12). Gambaran Gereja sebagai Tubuh Kristus tidak hanya dijumpai dalam pandangan Paulus, tetapi juga dalam teologi Agustinus.

Yang menjadi tekanan pandangan Agustinus tentang Gereja sebagai Tubuh Kristus terletak pada persekutuan Mistik yang tidak kelihatan yang menghimpun mereka semua yang dihidupkan melalui rahmat Kristus. Yang termasuk Gereja adalah baik mereka yang berada di dunia maupun mereka yang di surga. Kristus sebagai kepala bersatu dengan semua anggota-Nya. Tubuh itu pada dasarnya tidak kelihatan karena mencakup para malaikat di surga dan jiwa-jiwa di api penyucian. Tubuh itu tidak berciri kemasyarakatan karena merangkum semua orang yang dijiwai oleh Roh Allah.

Thomas Aquinas sebagaimana dikutip oleh Afra Siauwarjaya (1987a: 22) berpendapat bahwa pada hakikatnya Gereja adalah persekutuan dengan Allah yang mengilahikan manusia melalui diri Yesus Kristus sebagai kepalanya. Persekutuan secara tidak sempurna dalam hidup di dunia dan secara sempurna di surga. Gereja dipandang secara teologi yang berarti mengutamakan relasi manusia dengan Allah lebih daripada secara institusional. Pandangan Agustinus tentang Gereja dieruskan oleh Thomas Aquinas, tetapi Thomas mulai memberi perhatian aspek kemasyarakatan, aspek kelihatan dari Gereja. Kemanusiaan Kristus dan sakramen-sakramen dipandang sebagai sarana untuk menyalurkan rahmat Allah. Semua upaya lahiriah rahmat (sakramen, Kitab Suci, hukum, dsb.) bersifat sekunder, sebagai

sarana yang menyiapkan manusia untuk bersatu secara batiniah dengan Allah oleh rahmat.

c. Gereja sebagai Sakramen Keselamatan

Dalam dua model yang diuraikan terdahulu tampak bahwa ada ketegangan antara Gereja sebagai institusi dan Gereja sebagai persekutuan mistik. Model institusional nampaknya menyangkal adanya keselamatan bagi mereka yang tidak termasuk anggota dalam suatu organisasi, sedangkan model persekutuan tetap menganggapnya sebagai persoalan, apakah memang perlu orang sungguh diundang untuk masuk ke dalam suatu organisasi. Untuk memadukan kedua aspek dari kedua model Gereja tersebut yakni aspek lahiriah (institusional) dengan aspek rohaniah (Gereja mistik) menjadi satu sintesis yang agak masuk akal, banyak teolog Katolik mempergunakan faham Gereja sebagai Sakramen. Para teolog itu antara lain Henri De Lubac, Karl Rahner, M. Scheeben, Otto Sammelroth.

Henri de Lubac memberi argumentasi bahwa yang ilahi dan manusiawi dari Gereja tidak dapat dipisahkan. Pandangan mengenai hidup rahmat yang terlalu spiritual dan individual akan mengarahkan pemahaman tentang Gereja institusional melulu dari segi sekular dan sosiologis. Ia juga mengatakan bahwa Kristus adalah sakramen Allah, maka Gereja merupakan sakramen Kristus

bagi kita. Gereja bagi kita adalah sakramen Kristus karena gereja menghadirkan Kristus di dalamnya. Semua sakramen di dalam Gereja terutama sakramen Ekaristi secara hakiki adalah sakramen Gereja. Gereja bukan melanjutkan karya-Nya tetapi merupakan kelanjutan-Nya sendiri. Sakramen-sakramen tersebut secara intrinsik bersifat sosial dan efektif karena bersumber dan berakar pada Gereja.

Tema mengenai Gereja sebagai sakramen dasar terlihat pada beberapa pasal penting dari dokumen Konsili Vatikan II.

Lumen Gentium art. 1 mengatakan bahwa : “Gereja itu dalam Kristus bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia.” Ini menandakan bahwa Gereja merupakan tanda dan sarana pewahyuan dan kesatuan tersebut. Sedangkan dalam Konstitusi Liturgi Sacrosanctum Concilium (SC 10-41) memandang liturgi sebagai puncak dari semua kegiatan Gereja dan sekaligus menjadi sumber yang memancarkan seluruh kekuatan Gereja.

Gereja disebut “sakramen, yaitu tanda dan sarana persatuan mesra umat manusia dengan Allah, dan kesatuan seluruh umat manusia” (LG 1). Gereja diperkenalkan sebagai sakramen keselamatan, tetapi hendaknya dipahami secara fundamental atau mendasar bahwa keselamatan adalah universal, artinya merembes ke seluruh sejarah hidup manusia. Gereja menjadi universal apabila

merayakan keselamatan tersebut bagi semua manusia, ditandai oleh cinta kasih Bapa melalui Putera-Nya dengan kekuatan Roh Kudus. Dengan demikian kenyataan yang dinamai duniawi dan sekular menjadi jalan untuk rahmat keselamatan.

Perspektif tersebut merupakan sifat teologis dari kewajiban kaum kristiani yang berjuang untuk membangun suatu dunia yang lebih adil dan penuh dengan persaudaraan. Gereja tidak perlu mendekati pemerintah, tetapi perlu mendekati kelompok-kelompok yang membuka jalan bagi ilmu pengetahuan, teknik, kuasa politik di lingkungan sipil. Dengan partisipasi ini Gereja membuka diri bagi dunia. Gereja sendiri telah memperbaharui struktur-strukturnya, menyesuaikan diri dengan mentalitas modern, banyak lembaga yang dimiliki disekularisasikan, liturgi disederhanakan, dan menyesuaikan diri dengan zaman (Jacobs, 1987: 16). Tetapi selama Gereja masih tertutup bagi kehidupan manusia yang konkret, maka semua perubahan itu tidak ada maknanya.

Gereja menjadi sakramen sejauh Gereja menandakan secara kelihatan rahmat penyelamatan Kristus bagi seluruh umat manusia, segala usia, segala suku dan segala kondisi. Gereja mampu menunjukkan diri sebagai tanda bilamana anggota-anggotanya dipersatukan satu sama lain dan bersatu dengan Allah dalam cinta kasih serta dalam kebersamaan itu mereka mengakui iman mereka

dan merayakan apa yang telah dikerjakan Allah bagi mereka dalam Kristus.

d. Gereja sebagai Pewarta

Gereja sebagai sakramen keselamatan seperti yang telah dibahas di atas menggunakan istilah teknis sakramen sebagai simbolisasi rahmat yang dapat dilihat dan dirasakan. Model eklesiologi ini lebih menekankan realitas kehadiran rahmat Kristus di dunia ini, dan Gereja dilihat sebagai model sakramen dari realitas tersebut (Dulles, 1987: 73).

Sedangkan model Gereja sebagai pewarta berbeda dengan model Gereja sebagai sakramen keselamatan. Model Gereja sebagai pewarta lebih mengutamakan Sabda, sedangkan sakramen dinomorduakan. Menurut model Gereja ini Gereja dikumpulkan dan dibentuk oleh Sabda Allah, maka misi Gereja adalah mewartakan apa yang sudah didengarnya, diimaninya, dan yang sudah diserahkan kepadanya untuk diwartakan. Model eklesiologi ini memiliki banyak kesamaan dengan pengertian komunitarian tentang Gereja sebagai umat Allah, seperti yang telah dibahas dalam model Gereja sebagai persekutuan mistik. Namun ada perbedaan karena model Gereja ini lebih mengutamakan iman dan pewartaan daripada hubungan-hubungan interpersonal dan persekutuan mistik.

Model Gereja sebagai pewarta ini memiliki sifat kerigmatis sebab ia melihat Gereja sebagai pewarta yang telah menerima satu kabar Suci dan memiliki tugas untuk mewartakannya. Gereja diibaratkan sebagai utusan seorang raja yang datang ke tempat umum untuk memaklumkan sebuah dekrit raja.

Secara radikal model eklesiologi ini dipusatkan pada Kristus dan Kitab Suci sebagai saksi utama tentang Yesus Kristus. Karena itu tugas pokok Gereja adalah mewartakan Kristus. Pandangan mengenai eklesiologi ini dengan baik sekali dirumuskan oleh McBrien sebagaimana dikutip oleh Dulles (1987: 73) adalah sebagai berikut:

Misi Gereja adalah mewartakan Sabda Allah ke seluruh dunia. Gereja tidak perlu menganggap diri bila orang tidak menerimanya sebagai Sabda Allah, namun Gereja harus mewartakan Sabda itu dengan jujur dan tekun. Semua yang lain bersifat sekunder belaka. Menurut hakikatnya Gereja merupakan satu komunitas kerigmatis yang melalui Sabda yang diwartakannya tetap mengenangkan perbuatan-perbuatan Allah yang mengagumkan dalam sejarah masa lalu, teristimewa perbuatan-perbuatan-Nya yang berkuasa dalam diri Yesus Kristus. Komunitas itu terbentuk di mana saja daya kekuatan Roh Kudus berhembus, di mana saja Sabda Allah diwartakan dan diterima dalam keteguhan iman. Maka Gereja itu merupakan peristiwa, suatu tempat pertemuan dengan Allah.

Maksud dari pernyataan tersebut di atas adalah bahwa Sabda Allah bukanlah suatu kenyataan yang statis di dalam Gereja melainkan suatu peristiwa yang berlangsung. Peristiwa yang setiap kali Allah menyapa umat-Nya dan sapaan itu ditanggapi dengan iman. Dengan demikian jelaskah bahwa Gereja itu dibentuk secara

aktual oleh sabda yang didengar dan diwartakan dengan setia. Gereja adalah himpunan umat yang dikumpulkan oleh Sabda dan Sabda itu tiada henti-hentinya mengajak umat untuk bertobat dan memperbaharui diri.

Menurut Afra Siauwarjaya, model Gereja sebagai pewarta ini memiliki suatu ciri khas yang berbeda dengan ketiga model Gereja sebelumnya. Ciri khas itu adalah adanya perbedaan, distingsi tajam antara bentuk duniawi Gereja dan Kerajaan Allah yang dipandang sebagai realitas eskatologis, yang dirindukan Gereja. Hans Kung sebagaimana dikutip oleh Afra Siauwarjaya menandaskan bahwa Gereja bukanlah Kerajaan Allah, Gereja tidak membentuk atau meluaskan Kerajaan Allah di dunia atau bekerja untuk merealisasikan Kerajaan Allah. Hans Kung juga menandaskan bahwa Gereja mengharapkan Kerajaan Allah, Gereja memberikan kesaksian tentang Kerajaan Allah dan mewartakannya. Oleh karena itu Gereja bukanlah pembawa atau pengemban Kerajaan Allah yang akan datang dan hadir, melainkan suara-Nya, pewarta-Nya, bentara-Nya. Hanya Allah sendiri membawa kerajaan-Nya. Gereja ditunjuk untuk melayani Kerajaan itu (Afra Siauwarjaya, 1987a: 36).

e. Gereja sebagai Pelayan

Dari model-model Gereja yang telah disebutkan di atas di antaranya Gereja sebagai institusi, Gereja mengajar, menyucikan dan memimpin dengan kuasa Kristus. Dalam model Gereja sebagai persekutuan mistik, Gereja dipandang sebagai Umat Allah atau Tubuh Kristus yang tumbuh menuju kesempurnaan Kerajaan Allah. Dalam model Gereja sebagai sakramen keselamatan, Gereja dipahami sebagai manifestasi kelihatan dari rahmat Kristus dalam masyarakat manusia.

Dalam model-model tersebut Gereja dilihat sebagai subyek yang aktif dalam dunia, di mana dunia sebagai medan karya dan pengaruh Gereja. Gereja sebagai hasil karya langsung Allah dan berdiri sebagai penengah antara manusia dan Allah. Allah datang ke dunia melalui Gereja dan (dunia) manusia datang ke Allah seolah-olah melalui Gereja.

Sedangkan model Gereja sebagai pelayan, menurut Afra Siauwarjaya (1987a: 41), menempatkan Gereja pada posisi melayani masyarakat. Model ini muncul pada masa dunia mengalami perkembangan yang amat pesat. Di mana dunia semakin jauh dan lebih aktif tanpa tergantung pada Gereja. Berbagai macam ilmu berkembang dan melepaskan diri dari kontrol Gereja. Begitu pun dalam bidang kehidupan lain. Bidang industri dan pemerintahan berjalan menurut mekanismenya sendiri

tanpa mengharapkan bantuan atau pertolongan dari Gereja. Namun demikian, Gereja tiada henti-hentinya terus berjuang dan tidak kehilangan semangatnya. Gereja tetap mengingatkan dan menunjukkan bahwa dunia telah jatuh ke dalam kesulitan yang serius dengan mencari perkembangan tanpa campur tangan Gereja ataupu aturan Gereja. Oleh karena itu, ensiklik-ensiklik para Paus sebelum Yohanes XXIII bernada menyesali, memperingatkan atau malah mengutuk perkembangan modern.

Paus Yohanes XXIII memberi sumbangan inspirasi yang amat besar dalam Konsili Vatikan II yang telah membawa perubahan dalam Gereja. Gaudium et Spes atau Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam Dunia Modern merupakan pandangan terbaru dalam Konsili Vatikan II. Dalam konstitusi tersebut ditampilkan suatu pemahaman tentang hubungan Gereja dan dunia dalam zaman sekarang. Otonomi dunia dari kebudayaan manusiawi, khususnya ilmu pengetahuan diakui secara penuh oleh Gereja (GS. art. 59). Konsili menegaskan bahwa Gereja harus memperhatikan pandangan dunia dan mau belajar dari dunia. Dan akhirnya, konsili juga menandaskan bahwa Gereja juga harus melibatkan diri sebagai bagian dari keseluruhan keluarga manusia, membagikan pandangannya bagi manusia. Sama seperti Kristus datang ke dunia untuk melayani bukan untuk dilayani, begitu juga Gereja dipanggil untuk melanjutkan tugas misionernya Yesus Kristus yakni mencari

dan melayani dunia dengan memelihara persaudaraan dengan semua orang (GS. art. 3).

Gereja sebagai pelayan dikembangkan menurut gambaran Kristus sebagai hamba. Kardinal Chusing dalam bukunya The Servant Church sebagaimana dikutip oleh Afra Siauwarjaya (1987a: 42), mengemukakan bahwa Yesus datang ke dunia tidak hanya memaklumkan kedatangan Kerajaan Allah, tetapi juga memberikan diri-Nya sebagai realisasi dari Kerajaan Allah, Ia datang untuk melayani, bukan untuk dilayani. Ia datang untuk menyembuhkan, untuk mendamaikan, untuk membalut luka-luka. Yesus dalam arti khusus disamakan dengan orang Samaria yang baik hati. Ialah yang menyertai kita dalam kebutuhan dan kesusahan kita. Ia mengulurkan tangan untuk kepentingan-kepentingan kita. Ia sungguh-sungguh mati supaya kita dapat hidup, dan ia melayani kita supaya kita disembuhkan. Gereja sebagai pelayan sebagai perwujudan dalam usaha melaksanakan apa yang sudah dilakukan oleh Yesus Kristus, harus menjadi tubuh Kristus, menjadi hamba yang menderita. Dengan demikian, Gereja tidak hanya memaklumkan datangnya Kerajaan Allah melalui pewartaan dan pemakluman, melainkan terlebih-lebih melalui “kerja” dalam pelayanan perdamaian, dalam membalut luka-luka, dalam pelayanan penderitaan, dalam penyembuhan. Seperti Tuhan telah menjadi “manusia bagi yang lain”, demikian pula Gereja

haruslah semakin menjadi “persekutuan bagi yang lain”, demikian ditandaskan oleh Kardinal Chusing.

Berdasarkan pemahaman di atas, maka berikut akan diuraikan model-model Gereja dalam konteks Gereja Timor Leste. Dan model-model Gereja yang akan diuraikan berikut merupakan hasil analisa dan refleksi penulis berdasarkan sejarah perkembangan Gereja Timor Leste sebagaimana yang telah dikaji dalam bab II bagian A, sub bagian 1 dalam penulisan ini.