BAB III: MODEL-MODEL GEREJA TIMOR LESTE DAN GEREJA
F. Re-evangelisasi sebagai Usaha Menanggapi Tantangan yang Dihadapi
1. Kaum Muda
Fenomen kaum muda merupakan sebuah titik khas dalam perjalanan hidup manusia. Terjadinya sebuah tahap memekarnya berbagai macam dimensi kehidupan. Kaum muda adalah suatu fase di mana firdaus kanak-kanak mulai mundur sambil menjemput alam kedewasaan di gerbang kemudian. Dalam arti ini maka manusia muda sungguh-sungguh tersentak oleh kesadaran diri untuk menemukan jatidirinya.
Pada prinsipnya, bagaimanapun juga kaum muda harus dilihat sebagai “pribadi yang sedang berada pada taraf tertentu dalam perkembangan hidup seorang manusia, dengan kualitas dan ciri tertentu yang khas, dengan hak dan peranan serta kewajiban tertentu dengan potensi dan kebutuhan tertentu pula” (Tanglidintin, 1984: 6).
Tetapi bagaimana kita memandang mereka dalam kenyataannya? Sebagai bahan acuan untuk memahami jatidiri dari kaum muda, maka berikut kita akan melihat cetusan hati muda-mudi Jakarta sebagaimana dikutip oleh Tanglidintin (1984: 6), yang berbunyi:
Memang kami sebagai kaum muda penuh dengan emosi dan semangat meluap yang mudah disulut oleh siapapun. Oleh karena itu perlulah kami diberikan bimbingan penuh pengertian dari generasi sekarang. Yang kami harapkan dari orang tua, sekolah, dan Gereja, agar tercapai kedewasaan pribadi kami ialah: hendaknya kami diberikan kepercayaan yang sesungguhnya dalam berbuat di antara masyarakat banyak; hendaknya pula kami diberi kesempatan untuk bekerjasama setaraf dengan generasi pendahulu kami, dan perlakukan kami sebagai sahabat sederajat dalam ide dan gagasan. Dengan rendah hati paturlah kami sampaikan di sini bahwa kami kurang diberi kebebasan untuk bergerak leluasa; mengapa segalanya hanya ditentukan oleh orang tua dan Gereja saja?, apakah kami tidak dapat merencanakan dan menentukan masa depan kami?
Gambaran di atas bukan saja dialami oleh kaum muda di Jakarta, tetapi dialami juga oleh kaum muda di Timor Leste pada umumnya. Pada kenyataannya, kaum muda Timor Leste dibina dan dididik dalam keterikatan pada aturan-aturan adat dan norma yang dikehendaki dan dipandang oleh orang tua dan Gereja sebagai acuan dalam perkembangan hidup kaum muda. Kaum muda dididik dan dibentuk oleh orang tua, Gereja dan sekolah dalam situasi “tertekan” artinya kaum muda tidak diberi
kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri. Bahkan dalam pandangan para orang tua bahwa anak yang berbakti adalah anak yang mendengarkan dan melaksanakan apa yang diinginkan dan dikehendaki oleh orang tua. Jika tidak mendengarkan dan melaksanakannya, maka anak dikatakan durhaka atau tidak berbakti.
Karena itu, suatu ketika mereka berada dalam lingkungan yang lepas dari pantauan orang tua (tempat perantauan), mereka akan mengambil sikap dan berperilaku yang bertolak belakang dengan aturan-aturan adat dan norma yang telah diperolehnya. Mengapa ini terjadi? Pada dasarnya, kebebasan merupakan kondisi utama bagi manusia untuk menghayati apa yang telah diperolehnya dalam pengajaran dan pendidikan. Kebebasan membawa manusia mem”batin”kan, meng”akar”kan, membuat hidup apa yang diperolehnya di dalam perilaku hidup sehari-hari. Namun sebaliknya, pengajaran, pendidikan, dan segala sesuatu yang diperoleh dengan secara “paksa”, dalam situasi tertekan, maka akibatnya nilai-nilai, aturan-aturan adat dan norma-norma yang diperoleh tidak membatin dan berakar sampai pada transformasi diri yang lebih baik.
Demikian juga dalam hal keagamaan. Kaum muda yang di dalam keluarganya ditanamkan nilai-nilai keagamaan (cinta kasih, kebenaran, keadilan, dll.) secara paksa dan hanya sampai pada ritual, sebagai tradisi yang harus dilakukan dalam ketidak-bebasan, maka nilai-nilai keagamaan itu akan luntur, pudar dan bahkan hilang. Padahal yang diharapkan adalah
nilai-nilai keagamaan itu mengakar dan menjadi pilihan serta kebutuhan hidup manusia menuju kebahagiaan sejati yakni hidup bersama Allah.
Melihat kenyataan seperti ini, jalan apa yang ditempuh oleh Gereja Timor Leste guna menghidupkan kembali nilai-nilai keagamaan kaum muda yang mulai pudar, dan mengajak kaum muda untuk menemukan jatidirinya yang telah hilang? Sekaranglah saatnya Gereja Timor Leste mulai memikirkan dan mengambil langkah pembinaan yang serius bagi kaum muda dengan memperhatikan kedua unsur ini: pertama, Gereja hendaknya benar-benar mengenali dan memahami potensi yang ada di dalam diri kaum muda, identitas sesungguhnya dari kaum muda, mencari tahu dan berusaha untuk memahami situasi dan kebutuhan dari kaum muda, sehingga pembinaan yang akan dilaksanakan tepat sasaran. Kedua: bekerjasama dengan kaum awam (pembina yang berjiwa muda) yang memiliki potensi dan keprihatinan akan perkembangan jati diri kaum muda yang dibina.
a). Mengenali dan Memahami Potensi dan Identitas Kaum Muda
Tanglidintin (1984: 6-11) dalam bukunya Pembinaan Generasi Muda, Visi dan Latihan, merumuskan mengenai potensi dan identitas kaum muda sebagai berikut:
1). Potensi Kaum Muda
• Kaum muda dapat memikirkan kemungkinan-kemungkinan secara abstrak dan hipotesis. Ini berbeda dengan pola berpikir anak. Kaum muda dapat memandang dirinya dan permasalahan
atau persoalan dari berbagai segi. Berbeda dengan kaum tua yang pada umumnya senang mengenang masa silam ( past-oriented), kaum muda memiliki pandangan jauh ke depan dan sarat dengan cita-cita masa depan (future orientation).
• Kemampuan-kemampuan tersebut di atas membuat kaum muda memiliki sikap yang terbuka terhadap perkembangan terlebih kepada pembaharuan, yang dianggap mereka dapat dengan cepat merealisasikan masa depan yang didambakan mereka walaupun masa depan yang didambakan itu tepat atau tidak. Oleh sebab itu, kaum muda disebut sebagai “generasi pembaharu” sebab sering bentrok dengan kaum tua karena cenderung mapan dan biasanya tetap mempertahankan nilai-nilai dan tradisi-tradisi yang lama.
• Karena kaum muda tidak terikat pada nilai-nilai dan tradisi-tradisi beku masa lalu, dan belum mapan dalam suatu kepentingan, maka kaum muda merupakan hati nurani rakyat banyak.
• Kaum muda memiliki ciri dinamik, penuh semangat yang meluap dan penuh dengan emosi sesuai dengan yang dirumuskan mereka sendiri. Jiwa kaum muda adalah jiwa yang penuh dengan gelora dan gairah hidup. Jiwa kaum muda adalah jiwa dalam taufan dan nafsu. Oleh karena itu mereka senang bertualang dan
bereksperimen dalam usaha mencari dan menemukan nilai-nilai baru, mereka tidak mau didikte dalam hal ini.
Keempat ciri potensial ini dan ciri potensial yang lainnya, dapat menjadikan kaum muda menjadi penggerak proses jalannya perkembangan/sejarah, apabila mereka sendiri menyadari hal itu. Tetapi sebaliknya, bisa menjadikan mereka mainan (toy), ibarat bensin yang mudah disulut oleh siapapun apabila semua potensi itu tidak disadari oleh mereka. Dalam hal yang terakhir ini, yang terjadi dengan kaum muda bukannya pembinaan melainkan pembinasaan.
2). Identitas Kaum Muda
“...tentu saja kami ingin bebas, lepas. Kami tidak ingin menjadi produk orang tua untuk terus menerus menuruti yang dikehendakinya...”. Inilah sepenggal cetusan hati dan tanggapan seorang pemuda dalam diskusi panel di Gelanggang Remaja Bulungan sebagaimana dikutip oleh Tanglidintin (1984: 7-8).
Tidak ingin menjadi produk orang tua mencerminkan ciri utama perkembangan kaum muda yakni sedang menemukan identitasnya. Mereka mulai menyadari dan karena itu menolak segala upaya orang lain (orang tua) untuk membentuk mereka. Mereka mau mencari dan menemukan identitasnya sendiri, tetapi bukan berarti mereka tidak mau menerima campur tangan dari
pihak luar. Ini nampak dari pernyataan dan pengakuan mereka bahwa mereka memerlukan suatu bimbingan yang penuh pengertian dari generasi yang lebih tua, tetapi bimbingan yang memperlakukan mereka sebagai sahabat yang sederajat dalam ide dan gagasan. Kaum muda ingin dihargai sebagai seorang pribadi yang sedang mempribadi dalam proses mencari identitas dirinya.
Dalam proses pencarian jatidirinya, mereka mencari dan menemukan tokoh-tokoh atau figur-figur, ide-ide, cita-cita yang dapat menjadi tokoh atau figur identifikasi. Maka proses ini akan diawali dengan proses meniru tokoh identifikasi itu yang lambat laun akan membentuk sikap, perspektif dan perilakunya sendiri (di sini keteladanan pembina dan tokoh Yesus). Mereka tidak sekedar mengikuti dan menyelaraskan diri dengan adat dan aturan-aturan atau norma, tetapi mereka mulai mampu melihat segala sesuatu dengan skala nilai yang berbeda. Bahkan mereka memiliki kecenderungan menjadi conformist dengan cara memberontak dan melawan situasi yang mapan untuk mengubah masyarakatnya, baik dalam tata hidup sosial dan tata hidup moral dan keagamaan umumnya.
Kemudian, apa yag dimaksudkan dengan ‘bebas, lepas’ oleh kaum muda? Tentu yang mereka maksudkan tidak lain daripada ketidakterikatan norma-norma dan adat atau tradisi yang dianggap telah mapan, mereka mendambakan kebebasan untuk
menentukan sikap dan tindakannya (terlepas dari soal apakah mereka sudah mampu untuk itu!) dan masa depannya. Singkatnya, mereka ingin mendapat peng-aku-an (dorongan ego menjadi dorongan yang lebih kuat dari kaum muda). Dan karena itu mereka membutuhkan kesempatan untuk menyatakan diri, membuktikan diri bisa berbuat sesuatu (realisasi diri). Mereka tidak ingin semuanya ditentukan begitu saja oleh orang tua (orang dewasa umumnya) dan gereja saja!
Pertanyaannya sekarang adalah: pembinaan macam apa dan pembina seperti apakah yang hendak membina kaum muda untuk menemukan kembali identitas atau jatidiri mereka yang otentik?
b). Pembinaan dan Pembina yang Diinginkan Kaum Muda
Pembinaan yang dimaksudkan di sini adalah yang memiliki ciri utama sebagai bimbingan pastoral (Tanglidintin, 1984: 12-13). Ini berarti bahwa pembinaan merupakan perwujudan nyata dari keprihatinan Gereja akan kaum muda untuk memekarkan kembali dan menghidupkan kembali jatidiri dan potensi mereka, guna menjadi pribadi atau manusia kristiani. Pemekaran atau re-vitalisasi jatidiri kaum muda ini mencakup dua dimensi yakni dimensi vertikal dan dimensi horisontal. Dimensi vertikal menyangkut hubungan Yang Ilahi, Tuhan dan dimensi horisontal menyangkut hubungan dengan sesama dan alam pada umumnya. Meskipun ini merupakan bagian integral dari pendidikan manusia yang
menyeluruh, pembinaan yang dimasud di sini bukan pendidikan formal, dan karena itu ia harus dibedakan dari pendidikan formal.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka perlu diperhatikan dua bahaya besar yang harus dihindari dalam pembinaan, yakni: pertama, penggiringan kaum muda. Hal ini terjadi bila kaum muda, kepada mereka disediakan berbagai fasilitas siap pakai, janji status sosial tertentu misalnya jabatan dalam masyarakat/negara, dan lain-lain. Ini berarti mereka berdiam diri dan mengikuti keinginan dari pembina yakni pemberi fasilitas. Dengan demikian tidak ada tantangan dan pergumulan dengan kesulitan hidup mereka sendiri. Maka yang terjadi adalah penggiringan kaum muda ke salah satu kubu kekuatan sosial-politik. Kedua, peremehan kaum muda. Ini terjadi bila kaum muda selalu dianggap sebagai “anak kemarin”, “anak ingusan” yang belum tahu apa-apa dan karena itu mereka perlu ‘diajari’, sebagai tabung kosong yang harus diisi. Mereka tidak diberi kepercayaan, peranan dan tanggungjawab, untuk mencari tahu dan mengalami, untuk belajar dari kesalahan. Atau bisa dikatakan bahwa mereka diberi peranan tetapi peranan sebagai pembantu dan pelaksana semata-mata, bukan pelaku sekaligus pelaksana.
Oleh karena itu, untuk menghindari dan mencegah kedua bahaya tersebut, pembinaan macam apa yang hendak dilakukan oleh Gereja? Dan paham serta sikap dasar apakah yang harus dibentuk mengenai pembinaan tersebut? Yang hendak dilakukan adalah pembinaan yang memiliki sikap dan paham dasar sebagai berikut:
1). Pembinaan sebagai Pelayanan
Membina kaum muda pertama-tama harus dilihat dan dihayati sebagi pelayanan, yang berarti suatu keprihatinan aktif yang menyata dalam tindakan yang menyadarkan dan membebaskan, memekarkan potensi dan iman kristiani, menjawab/menanggapi kebutuhan mereka, memampukan mereka bertanggungjawab serta berperan sosial-aktif.
Dengan demikian pembinaan kaum muda seharusnya bertolak dan berpusat pada diri mereka sendiri, bukan atas kepentingan institusi-institusi tertentu termasuk Gereja. Gereja melayani kaum muda melalui pembinaan dengan maksud agar pada gilirannya kaum muda pun bisa melayani perkembangan Gereja tetapi bukan berarti dengan pretensi do ut des, yang berarti memberi agar diberi.
2). Pembinaan sebagai Pendampingan
Memahami pembinaan sebagai pendampingan, mencegah kita untuk menggiring dan menjinakkan kaum muda, yang berakibat memandulkan potensi mereka. Maka pembinaan memungkinkan kaum muda sebagai subyek dan pusat pembinaan. Artinya, mereka dapat memutuskan dan menentukan sendiri, tidak cenderung untuk didikte dan dibentuk. Pembina adalah seorang pendamping, dia tidak menentukan sesuatu yang harus diikuti kaum muda. Dia mendampingi
kaum muda dalam menelusuri kehidupan dan tantangan yang dihadapi, sambil memberi kesaksian tentang kehadiran dan kedekatannya dengan Allah sebagai Pendamping Utama.
Dengan belajar dari kisah Emaus (Luk 24: 13-35), seorang pendamping berjalan seiring dengan kaum muda menggumuli masalah mereka dengan: bertanya dan mendengarkan pernuh perhatian dan kesabaran, menjelaskan membuka pikiran mereka pada saat yang tepat, dan akhirnya mempertemukan mereka dengan Pribadi Kristus sendiri.
Pendamping tidak berpretensi tahu masalah dan kebutuhan kaum muda, melainkan menolong mereka menyadari dan merumuskan masalah mereka sendiri. Pendamping tidak menyuarakan kepentingan mereka, melainkan memberi kesempatan dan memampukan mereka menyuarakan diri sendiri. Pendamping juga tidak mengajari resep-resep tingkah laku yang distandarkan, melainkan menumbuhkan sikap kritis-selektif untuk akhirnya mengambil sikap dan tindakan sendiri. Secara singkat dapat dikatakan bahwa, pembina adalah seorang sahabat bagi kaum muda yang didampinginya. Pendamping yang memiliki spiritualitas atau semangat: mengalami kehadiran, kedekatan, perhatian, sapaan, dan pendampingan Kristus sendiri lewat masa-masa sulit hidup kaum muda.