EIJKMAN
rekayasa biomolekuler. Lembaga ini bertujuan menyatukan sejumlah besar ilmuwan kritis dengan berbagai keahlian yang penting untuk keberhasilan dalam penelitian biomedis dan bioteknologi modern. Lembaga Eijkman telah menghasilkan kolaborasi ilmiah internasional dengan berbagai universitas atau lembaga dari negara-negara lain seperti Australia dan Belanda.
Lembaga Eijkman telah memberikan kontribusi terhadap berbagai macam kejadian di Indonesia antara lain: Identifikasi pelaku bom bunuh diri pada kasus terorisme Diagnosis penyakit menular yang bar muncul seperti flu burung Membuka posko informasi virus corona (COVID-19).
Di sela sela kesibukan Prof. Amin Soebandrio kami Tim Majalah Infesetra mengundang beliau untuk melakukan wawancara terkait peningkatan penerapan SPIP di era penanganan covid-19, berikut hasil wawancara dengan beliau;
Apa yang menyebabkan perbedaan Vaksin Covid-19 yang sudah beredar saat ini?
Saat ini sudah mulai beredar berbagai jenis Vaksin Covid-19, perbedaan antara jenis vaksin tersebut dengan yang lain dapat dilihat dari sisi platform yang digunakan. Vaksin Covid-19 dapat dibuat dengan teknologi yang tradisional sampai dengan teknologi sangat baru yang cukup mahal. Dengan teknologi yang sangat lama/ tradisional yaitu dengan menggunakan virus atau bakteri utuh secara keseluruhan yang sudah dimatikan atau dilemahkan (inactivated vaccine). Virus tersebut diambil, diisolasi dan di perbanyak, setelah jumlahnya cukup kemudian dimatikan yang dapat dilakukan secara fisik, kimia, secara radiasi, setelah itu dimurnikan dan dapat digunakan menjadi vaksin.
Platform yang kedua dilakukan pendekatan dengan menggunakan bagian-bagian tertentu dari virus tadi. Masih menggunakan teknologi
tradisional dimana virus atau bakteri tersebut diisolasi, kemudian setelah dimatikan secara keseluruhan, kita hanya mengambil beberapa bagian dari virus sesuai yang dibutuhkan. Selain itu, ada juga platform yang menggunakan virus lain untuk memasukkan materi genetik ke dalam tubuh manusia, yang bisa disebut virus vektor, menggunakan Adenovirus (Adenoviridae) yang didalamnya ada gen dari virus Corona. Pendekatan lainnya menggunakan materi genetik, vaksin DNA atau RNA itu menggunakan teknologi yang paling baru, karena barunya belum pernah dipakai, Jadi sebetulnya belum ada vaksin lain yang menggunakan DNA atau RNA, tetapi untuk platform lainnya sudah beredar luas. Pada inti dari banyaknya platform yang sampai saat ini kita kembangkan, semuanya bertujuan untuk memasukkan protein virus tersebut ke dalam tubuh manusia yang akan menjadi antigen dan akan merangsang sel imun.
Bagaimana sinergi dan dukungan dari lembaga Riset kepada Lembaga Eijkman terutama dari Lembaga non-pemerintah?
Dalam pengembangan vaksin saat ini kami mendapat cukup banyak bantuan dari berbagai instansi baik itu pemerintahan maupun non-pemerintahan. Sebagian besar kami mendapatkan bantuan dari Ristek/BRIN karena sejak awal Menteri Ristek/BRIN Prof.
Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro sangat mendukung Lembaga Eijkman sehingga kami mendapatkan berbagai kemudahan dalam melakukan penelitian dan pembuatan Vaksin Merah Putih. Bantuan juga datang dari Kedutaan yaitu dengan diberikannya Reagensia.
Selain itu ada juga bantuan dari Badan Intelijen Negara (BIN) dalam bentuk peralatan yang kami butuhkan, kemudian juga kami mendapatkan dukungan untuk diagnostik melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Bagaimana Lembaga Eijkman menghadapi berbagai kendala yang muncul akibat munculnya Covid-19?
Apabila dilihat dari kendala teknis saya rasa hampir tidak ada karena secara praktis kami sudah menguasai teknologinya, tetapi saat ini kendala yang kami alami Pertama; terkait dalam pengadaan barang. Beberapa peralatan dan Reagensia yang kami butuhkan dengan situasi pandemi seperti ini prosesnya menjadi cukup lama. Dalam kondisi normal, biasanya untuk impor hanya memakan waktu dua minggu tetapi saat pandemi seperti sekarang ini barang tersebut baru datang sekitar enam sampai delapan minggu. Hal inilah yang mengakibatkan kami cukup kesulitan karena di satu sisi kami juga diminta cepat oleh banyak pihak. Kedua;
kendala yang kami alami yaitu terkait Sumber Daya Manusia. Semenjak pandemi, para pegawai yang bekerja di laboratorium harus dikurangi untuk mencegah penyebaran virus Covid-19, tetapi di satu sisi kita membutuhkan lebih banyak SDM karena diminta cepat.
Kami juga harus menjaga keseimbangan agar dapat produktif tetapi tetap menjaga protokol kesehatan dan keamanan di laboratorium. Selain itu dengan situasi sekarang ini beberapa pegawai melakukan work from home, bahkan ada yang mengajukan pengunduran diri, padahal saat ini kami sangat membutuhkan SDM yang cukup banyak, hal inilah cukup menghambat kinerja kami.
Bagaimana penerapan Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) di Lembaga Eijkman sendiri?
Saat ini kami dibantu oleh satu kantor dibawah KPH yang beranggotakan tim manajemen APBN, dari pihak peneliti sendiri diwakili oleh
Sestama dan selalu berkoordinasi dengan teman-teman di Kementerian Riset dan Teknologi.
Karena kami tidak mempunyai anggaran berlebih untuk menambah bantuan seperti ahli manajemen mutu secara khusus terkait hal itu dilakukan secara mandiri oleh para peneliti.
Bagaimana dengan peran Inspektorat Utama dalam pengendalian kegiatan di Lembaga Eijkman?
Kami didampingi oleh Inspektorat Utama terkait donasi yang telah kami terima untuk mempertanggungjawabkannya sesuai dengan prosedur. Salah satunya setiap kami mendapatkan donasi, akan kami sampaikan kepada publik bahwa donasi telah diterima baik berupa cash maupun peralatan. Selain itu kami juga dibantu pendampingan oleh pihak dari Manajemen APBN, BPKP, dan BPK sehingga apapun yang kami lakukan senantiasa sesuai dengan peraturan yang berlaku. Lembaga EIjkman Tahun ini sedang membuat vaksin Covid-19 merah putih, yang sedang dalam proses pembuatannya.
Pihaknya menargetkan izin penggunaan darurat Vaksin Merah Putih bisa diterbitkan pada Juni 2022. Adapun target tersebut merupakan percepatan yang tengah diupayakan pihaknya.
Namun, ia mengungkapkan bahwa dalam jadwal yang telah diusulkan Bio Farma, EUA tersebut baru bisa terbit November 2022.
Refrensi:
Bagaimana pelaksanaan Pengawasan dalam masa Covid 19 ?
T
ahun 2020 sampai dengan saat ini, pandemi covid masih berpengaruh besar terhadap aktivitas pelaksanaan program kegiatan instansi pemerintah.Banyak hal terhambat, banyak hal tertunda, bahkan banyak hal dibatal tanpa ada kepastian digulirkan kembali. Selama aktivitas pemerintah masih berjalan dengan berbagai kendala yang dihadapi, maka pengawasan, (audit,riviu,monitoring,evaluasi), juga harus tetap berjalan, bahkan lebih intens. Mengingat Instansi pemerintah (Satuan Kerja) mengalami hambatan dalam menjalankan programnya akibat pandemi, maka peran sebagai pemecah masalah dan pemberi saran lebih diperlukan.
Dalam pelaksanaannya pengawasan mengalami beberapa penyusuaian, antara lain:
• Teknik pengawasan disesuaikan dengan kondisi lapangan dan harus mengedepankan protokol kesehatan.
• Pembuktian eksistensi barang/jasa (cek fisik) dan wawancara dilakukan dengan mengoptimalkan teknologi Zoom, Whatsapp serta menghindari tatap muka yang berisiko kesehatan tinggi. Kondisi ini sudah difasilitasi (baca: diperbolehkan) dalam Standar Audit/
Standar Pengawasan di seluruh dunia.
• Analisa dan permintaan data dilakukan secara jarak jauh serta pola kerja WFH/WFO akan menjadi bagian pengawasan (audit dll) yang tidak dapat dihindarkan.
Secara penyelesaian tahap tahap pengawasan dan pengujian pengujian yang diperlukan, tetap harus dilaksanakan dan dipenuhi sesuai standar audit/standar pengawasan yang diperlukan.
Bagaimana menjaga kinerja auditor agar tetap optimal selama pandemi Covid 19?
Kinerja auditor semala masa pandemi covid, tetap harus dipertahankan sama saat kondisi normal tanpa pandemi. Bahkan harus ditingkatkan terutama dalam meningkatkan kapabilitas auditor,dengan melakukan kajian kajian serta pendidikan dan latihan yang bersifat non tatap muka. Target trget penugasan harus tetap digulirkan, eksekusi PKPT tetap dijalankan, bahkan kondisi WFH harus dioptimalkan dalam meningkatan kapabilitas dan penyelesaian tugas tugas pengawasan yang dibebankan kepada auditor. Perencanaan pengawasan dan pengenalan proses bisnis instansi yang sedang dilakukan pengawasan bisa dirancang dari rumah saat WFH. Penyeselesaian laporan hasil pengawasan tidak boleh kendor (baca:
terlambat), akibat pandemi covid 2019, tidak boleh terabaikan agar tetap tepat waktu demi menjaga manfaat pengawasan. Koordinasi tim antar ketua tim, anggota tim serta dalnis dan daltu bisa tetap laksanakan dengan berorientasi penyelesaian laporan penugasan diselesaikan secepat mungkin agar hasil pengawasan segera dieksekusi, dilaksanakan oleh auditee sebagai stakeholder yang dilayani.