S
aat ini Indonesia sedang menghadapi penyebaran Virus SARS-CoV-2 sebagai penyebab pandemi Covid-19 yang telah menyebabkan perubahan di berbagai aspek baik itu di bidang kesehatan, sosial maupun ekonomi yang menuntut untuk melakukan perubahan, baik dalam hal cara berperilaku, cara berpikir dan cara bekerja. Universitas Andalas (Unand) mempunyai peran yang sangat besar dalam menanggulangi pandemi Covid-19 di daerah Sumatera Barat, dengan beragamnya tantangan dalam suasana pandemi ini telah banyak hasil riset dan inovasi yang dihasilkan dengan tujuan untuk dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan membantu mengurangi dampak akibat pandemi tersebut.Tim Majalah INFESTERA pada kali ini berkesempatan untuk mewawancarai Prof, Dr.
Mansyurdin, MS (Wakil Rektor I), Dr. Hefrizal
Handra, M. Soc, Sc (Wakil Rektor IV), Dr.-Ing.
Ir. Uyung Gatot Syafrawi Dinata, M.T (Ketua Lembaga Penelitian & Pengabdian kepada Masyarakat), Dr. Yurniwati SE., M.Si, Ak. CA (Ketua SPI), untuk mengetahui bagaimana langkah-langkah Unand mengatasi penyebaran dan penularan Covid-19.
Bagaimana kesiapan Unand dalam menghadapi Pandemi Covid-19?
Prof, Dr. Mansyurdin, MS:
Terkait penanganan pandemi Covid-19, Universitas Andalas termasuk siap karena kami mempunyai beberapa fakultas kesehatan seperti Fakultas Kedokteran, Fakultas Farmasi, Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Keperawatan. Kami juga mempunyai rumah sakit yang menjadi perhatian baik itu pusat maupun daerah, laboratorium Unand yang
berada di fakultas kedokteran menjadi rujukan dalam penelitian. Itulah beberapa hal yang kami lakukan dalam penanganan Covid-19 di Unand dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Peran lainnya di akhir tahun anggaran 2020 ada yang namanya Nagari Tageh, karena lingkungan dirasa kurang mendukung untuk kurikulum, pengabdian masyarakat didanai oleh LPPM, jadi beberapa daerah yang ditunjuk dengan Polda untuk memberikan Nagari Development Center, tim dari NDC, LPPM, memberikan cara-cara penanganan di lapangan. Harapan Rektor Unand ke depan sebaiknya melakukan penelitian untuk penanganan Covid-19.
Dr. Hefrizal Handra, M. Soc, Sc:
Selain itu Unand sudah mulai melakukan langkah-langkah antisipasi termasuk dari sisi perencanaan dan anggaran. Sejak awal april pandemi Covid-19 sebelum ada perintah dari pusat, Unand sudah mulai melakukan refocusing anggaran internal. Kami melakukan kebijakan mengalokasikan PNBP untuk menangani dampak masalah sosial ekonomi akibat pandemi Covid-19 termasuk juga alokasi kegiatan internal dengan dilakukan memotong belanja perjalanan dinas tiap unit sebesar 10%. Awal kebijakan realokasi tersebut dari Pak Rektor; Pertama, untuk mendukung operasional rumah sakit dengan alokasi sekitar Rp.500 Juta; kedua untuk laboratorium Covid-19 di Fakultas Kedokteran dialokasikan sebesar Rp.300 Juta; ketiga untuk menangani dampak sosial dan ekonomi bagi mahasiswa yang masih ada di sekitar Unand kami sediakan bantuan pangan yang semua dananya berasal dari PNBP.
Kemudian datang surat dari Kementerian meminta untuk merealokasi PNBP yang sisanya hanya Rp.46 Miliar, kemudian direalokasi sekitar Rp.6,1 Miliar untuk Covid-19 dan anggarannya
kami tempatkan di rumah sakit. Selain itu kami juga melakukan pengumpulan dana, yaitu dengan membuka rekening resmi universitas ke Direktorat Jenderal Perbendaharaan untuk membuka rekening resmi untuk donasi.
Kemudian kita lakukan upaya himbauan dan sudah terkumpul sekitar Rp.200 Juta. Donasi tersebut kami gunakan untuk mendukung renovasi tadi. Untuk realokasi anggaran riset berada di LPPM yang kita alokasikan anggaran BOPTN itu sekitar Rp.30 Miliar, kemudian ada tambahan di bulan Agustus yang awalnya hanya sekitar Rp.19 Miliar, kemudian ketika pendapatan kita bertambah, menjadi Rp.39 Miliar. Karena alokasi anggaran diawal kita baru mendapat sekitar Rp.226 Miliar, padahal kita mempunyai pendapatan jauh lebih tinggi.
Kemudian ketika pendapatan kita sudah melebihi, kita menggunakan 10% deskresi itu, kita tambah anggaran. Target kita untuk kinerja Universitas Andalas, tidak hanya berfokus pada Covid-19 saja tetapi juga penelitian lain.
Bagaimana kebijakan Litbangjirap dan Tri Dharma di Universitas Andalas?
Prof, Dr. Mansyurdin, MS:
Langkah Unand dalam melakukan kebijakan tersebut ditempuh dengan menjaga dan meningkatkan dari sisi kualitas outcome dari berbagai kegiatan Tri Dharma (pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat).
Pengabdian Tri Dharma di Unand sangat intens, contohnya Wakil Rektor IV, semua penelitian di fakultas ekonomi diarahkan untuk lebih fokus kepada Covid-19. Rata-rata penelitian di fakultas ekonomi melihat masalah ekonomi, masalah sosial ekonomi, masalah kinerja, yang berhubungan dengan Covid-19. Kami melihat masalah itu bertujuan agar hasil penelitian tersebut nantinya dapat dijadikan pengabdian,
misalnya pada UKM Center Unand guna untuk melanjutkan hasil penelitian-penelitian tadi.
Saya kira tidak jauh berbeda dengan fakultas lain, Unand merupakan salah satu universitas yang cepat tanggap dalam menangani pandemi Covid-19 ini. Peran laboratorium dan rumah sakit Unand juga dipakai untuk melakukan uji sampel, hasil Swab sampai ke Riau dan bekerjasama dengan Kementerian.
Selain itu pada awal masa pandemi, Unand mengambil kebijakan KKN terkait penangan Covid-19. Kebijakan KKN tersebut dialihkan terkait dengan penanganan dan pengendalian Covid-19 berdasarkan rapat pimpinan bersama dekan. Pada Fakultas Kedokteran, mahasiswa KKN berjumlah sebanyak 4600 mahasiswa dari Fakultas Kedokteran kami arahkan untuk fokus penanganan Covid-19 seperti berkunjung ke Puskesmas untuk memberikan bantuan APD, dan melakukan penyuluhan. Kemudian dari Fakultas Farmasi memproduksi hand sanitizer di laboratorium farmasi, karena pada masa awal pandemi sangat sulit untuk mendapatkan hand sanitizer. Untuk Fakultas Teknik menyediakan tempat cuci tangan portable dan didistribusikan ke rumah sakit,
Bagaimana dengan pelaksanaan LPPM melakukan penelitian terkait dengan Covid-19?
Dr.-Ing. Ir. Uyung Gatot Syafrawi Dinata, M.T:
Selain dipercayai menjadi pusat pengendalian pelayanan Covid-19, Unand juga dipercayai oleh Kemenristek/BRIN untuk menjalankan Program Riset, Inovasi dan Layanan dari produk-produk Covid sampai 5 tahun kedepan. Kemudian yang tahun ini kami telah melaksanakan sebanyak 12 (dua belas) penelitian Covid, sebelumnya telah terkumpul berupa proposal sebanyak 90 judul, karena keterbatasan dana oleh karena itu
hanya 30 penelitian yang dapat didanai. Kami memperoleh dana sebanyak 17 produk Covid-19, yang sedang dikembangkan seperti Vaksin, Rapid Test Kit, dan Produk Herbal penanganan dan pasca Covid-19. Kami menargetkan herbal tersebut akan masuk ke pasar agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Selain itu kami juga mengembangkan beberapa robot, pertama robot disinfektan; kedua robot pelayanan pasien; dan ketiga robot pelayanan jenazah. Khusus robot pelayanan jenazah, apabila ada pasien meninggal karena Covid-19, robot tersebut akan membawakan jenazah tersebut dari ruangan mayat ke ambulans.
Unand juga menyediakan 2 buah ventilator, penghancur sampah medis dan 1 buah stetoskop yang memungkinkan pihak medis tidak perlu mendekat ke pasien. Berikutnya kami juga mengembangkan detektor ruangan yang berpotensi Covid-19 dan termasuk salah satu produk unggulan selain Vaksin.
Unand juga bekerjasama dengan Kimia Farma untuk melaksanakan proses bisnis yang salah satunya rapid test kit (antigen antibodi), dan sudah ada Nota Kesepahaman untuk bekerjasama dengan pihak Kimia Farma sejak dua tahun lalu.
Kami berharap dengan banyaknya perkembangan di bidang riset baik sumbangan maupun layanan di Unand dapat menjadi Pusat Riset dan Inovasi Produk Layanan Covid-19 di Sumatera Barat atau bahkan di Indonesia, karena pengaruhnya sangat luas baik di bidang kesehatan maupun ekonomi di seluruh dunia.
Untuk Konsorsium Vaksin Merah Putih, sejauh mana Universitas Andalas berperan?
Dr.-Ing. Ir. Uyung Gatot Syafrawi Dinata, M.T:
Kami ikut bergabung dalam Konsorsium Covid-19
Kemenristek/BRIN dari Pak Ali Ghufron, salah satunya adalah Rapid Test Antigen.
Prof, Dr. Mansyurdin, MS:
Ada tambahan sedikit terkait pemeriksaan Covid-19, kami meminta ke Wakil Rektor I di Biologi Molekular di Universitas Andalas ini, mahasiswa-mahasiswa yang telah menguasai Teknik PCR untuk diperbantukan tenaga-tenaga mereka. Nah mendukung ke arah itu dan kita menempatkan mahasiswa untuk itu sekitar 2 bulan sesuai dengan ukuran waktu KKN.
Bagaimana upaya Andalas untuk memaksimalkan pemanfaatan hasil riset terutama hasil riset di bidang Covid-19? Apakah di Universitas ada Techno Park? Bagaimana prosesnya sejauh ini?
Dr.-Ing. Ir. Uyung Gatot Syafrawi Dinata, M.T:
Iya kita punya Techno Park di Universitas Andalas. Kegiatan hulu riset dipegang oleh LPPM, namun ketua membawahi STP (Science Techno Park), kemudian ada inkubator bisnis dan lain-lain termasuk pusat pengembangan, totalnya ada 7 unit yang mendukung hilirisasi, mungkin termasuk sudah lengkap dan kita tinggal hilirisasi saja ke industri maupun ke masyarakat.
Kemudian kita melakukan kegiatan hilirisasi ini setelah ada risetnya atau ada produknya, kita meneliti lebih dari 200 penelitian, ada yang sudah berbentuk produk, sudah ada yang dalam bentuk kemasan dan mempunyai merek, sudah berizin dan masuk pasar juga sudah ada.
Namun untuk terkait profit, belum kesana, kita masih kerjasama dengan Kimia Farma saja, masih berupa riset. Kita mengadakan business gathering dengan para pelaku usaha dan kita mendaftarkan produk-produk kami, kita mempunyai paten sekitar 600, 150-nya sudah granted jadi Alhamdulillah kita sudah lengkap,
tinggal mengarahkan tapi bagaimanapun kami perlu dukungan dari para pelaku usaha.
Bagaimana kebijakan SPI yang berhubungan dengan perencanaan peningkatan SPIP?
Dr. Yurniwati SE.,M.Si, Ak. CA:
Dilihat dari lingkungan pengendalian dan segi penegakan integritas di Universitas Andalas siap dengan semua tim, termasuk dengan dibentuknya tim Covid-19. Kami me-manage kemungkinan-kemungkinan risiko yang berhubungan dengan anggaran yang ada, SPI berperan untuk mengawal dan memonitoring kebijakan-kebijakan yang sifatnya baik itu anggaran, maupun terkait sumber daya manusia.
Dengan didapatkannya anggaran dari Dinas Kesehatan dan kami harus memantau belanja yang berhubungan dengan Covid-19. Kami juga telah melakukan Reviu Covid-19 yang akan terjun sebesar Rp.9,2 Miliar untuk menilai hasil swab bagi pasien yang mempunyai gejala Covid-19.
Apakah ada kendala dalam pengawasan oleh SPI selama ini?
Dr. Yurniwati SE.,M.Si, Ak. CA:
Kami lebih banyak pengawasan dalam bidang perencanaan dan anggaran karena tantangan terbesar pada masa Covid-19 ini kan anggaran.
Alhamdulillah pada saat perencanaan kami mengajukan Rp.5 Miliar namun dapatnya ternyata Rp.6,1 Miliar itu kan biasanya kami reviu apa saja aktivitas yang berkaitan dengan Covid-19. Kalau kendala sepertinya bukan karena memang itu pekerjaan yang selalu kita lakukan dan bersifat rutin, mungkin lebih ke saat pihak Kementerian yang mendadak ada instruksi, jadi kendalanya kami dikejar waktu tapi Insya Allah masih bisa diatasi. (AM/MI)