• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemenristek/BRIN terus berupaya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Kemenristek/BRIN terus berupaya"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

SALAM REDAKSI 01 PENANGGUNG JAWAB

Inspektur Utama

02 DEWAN REDAKSI

1. Hendra Suryanto 2. Herwin Heriyanti 3. Adam Fuadi 4. Sastra Manjani 4. Bambang Sudarmaji

03 EDITOR

1. Suranto

2. Dianita Aryantini 3. I Dewa Made M 4. Intan K. Putri 5. Sakti Nasution 6. Rosmadiar Dini

04 DESAIN GRAFIS

1. Syafira Dwi Herliana 2. Kharis Habib Hidayat

05 SEKRETARIAT

1. Nicki Rianti 2. Azmy Maulida K 3. Nina Shabrina

4. Putri Raudhatul Jannah

06 FOTOGRAFER

1. M. Firmansah 2. Medisita Istiqmalia

K

emenristek/BRIN terus berupaya untuk terwujudnya integrasi dan sinergi pelaksanaan LITBANGJIRAP (Penelitan Pengembangan Pengkajian dan Penerapan) dari berbagai pemangku kepentingan.

Penciptaan ekosistem yang baik untuk sinergitas triple helix dalam rangka hilirisasi riset menjadi bagian penting dari program Kemenristek/BRIN.

Dunia riset harus memahami dan menangkap kebutuhan dunia industri dan masyarakat serta mampu menyelaraskan risetnya dengan kebutuhan tersebut.

Kemenristek/BRIN mendorong agar riset dan inovasi semakin memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat, bangsa dan negara Indonesia.

Hasil riset dan inovasi harus mampu memberikan nilai tambah (added value) dalam beragam aspek.

Oleh sebab itu diperlukan peningkatan kuantitas dan kualitas riset dan inovasi dalam berbagai bidang. Hal yang penting diperhatikan juga adalah mencegah duplikasi riset.

Kemenristek/BRIN terus mendukung setiap tahapan riset, riset dasar, riset terapan, riset pengembangan dan hilirisasi. Pelaksanaan riset khususnya yang menggunakan anggaran pemerintah tentunya senantiasa termonitor dan terkendali pemanfaatannya untuk riset agar dapat mencapai tujuan-tujuan yang harus dicapai, meskipun dengan beragam tantangan dalam suasana pandemi covid-19.

Hal ini dalam rangka mendukung Penyelenggaraan Litbangjirap menuju Inovasi Unggul dan Indonesia Maju. Dalam edisi ke-IX Majalah Infestera kali ini mengangkat tema “Peningkatan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) di Era Pandemi Covid-19 (Tim Infestera).

(3)

DAFTAR ISI

LAPORAN UTAMA 4

SOLIDITAS ORGANISASI DALAM UPAYA MENINGKATKAN KINERJA RAKORNAS RISET DAN INOVASI 2021 10

KEMENRISTEK/BRIN

ARTIKEL PENGAWASAN

1. Dampak Covid-19 terhadap Manajemen 14

Pengendalian Internal 2. Implementasi Remote Audit di Masa Covid-19 20

3. CoP Untuk Penguatan Pengawasan 25

4. Pengendalian Intern Spesifik dan Tantangan atas 30

Belanja Penanganan Covid-19 5. Meneropong, Covid-19 dengan Lensa Auditor 34

Internal 6. Makna Superhero Avengers dalam Pengawasan 41

PROFIL 62

BEGAWAN RISET BIOLOGI MOLEKULER DAN VAKSIN MERAH PUTIH DI LEMBAGA EIJKMAN

INFOGRAFIS 13

ITTAMA 66

MENJAWAB GALERI FOTO 70

REPORTASE 1. Kontribusi UGM dalam Melawan Pandemi Covid-19 di Indonesia 44

2. Strategi Peningkatan Kinerja SPIP UI pada Pandemi Covid-19 49

3. Tantangan BPPT dalam Peningkatan Penerapan SPIP di Era Pandemi Covid-19 53

4. Peran Riset dan Inovasi Universitas Andalas dalam menghadapi Tantangan pada Masa 56

Pandemi Covid-19 5. SPIP Litbangjirab di Institut Pertanian Bogor (IPB) 60

(4)

I

nspektorat Utama Kemenristek/BRIN melaksanakan kegiatan Rapat Kerja Pengawasan (Rakerwas) Tahun 2021 yang dilaksanakan selama 3 (tiga) hari sejak tanggal 23 s.d 25 Februari 2021 di Hotel Royal Tulip Gunung Geulis, Bogor. Rakerwas tahun ini mengusung Tema “Soliditas Organisasi Dalam Upaya Meningkatkan Kinerja Pengawasan Tahun 2021”. Penerapan protokol kesehatan sangat diutamakan selama kegiatan berlangsung, untuk mendukung hal tersebut diterapkan 5 M (Menjaga jarak, Mencuci Tangan/Menggunakan

Hand Sanitizer, Menggunakan Masker, Menghindari Kerumunan, dan Melakukan Test Covid 19). Dalam kaitan melakukan Test Covid 19 dilakukan dengan menggunakan Test Genose yang dipersiapkan oleh panitia pelaksana.

Penggunaan teknologi tes Genose ini sebagai salah satu wujud apresiasi atas prestasi inovasi yang dihasilkan oleh putera/puteri terbaik dari Universitas Gajah Mada (UGM).

Dalam rangkaian acara Rakerwas ini diawali dengan sambutan dan laporan penyelenggaraan

SOLIDITAS ORGANISASI DALAM

UPAYA MENINGKATKAN KINERJA

(5)

Rakerwas oleh Plt. Inspektur Utama, Yusrial Bachtiar. Sedangkan Pembukaan Rakerwas dilakukan oleh Menteri Riset dan Teknologi/

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, pada arahannya beliau berharap kegiatan ini dapat menjadi ajang terciptanya harmonisasi pengawasan antara Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP) terkait Litbangjirap dan dapat meningkatkan kapabilitas unit pengawasan.

Turut hadir dalam kegiatan Rakerwas ini antara lain Sekertaris Kemenristek/ Sekretaris Utama BRIN, Mego Pinandito; Staf Ahli Bidang Kelembagaan dan Sumber Daya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kemenristek, Erry Ricardo Nurzal; Staf Ahli Bidang Pembangunan Berkelanjutan Kemenristek/ Plt. Deputi Bidang Riset dan Pengembangan, Ismunandar.

Plt. Inspektur Utama Kemenristek/BRIN, Yusrial Bachtiar menyatakan Rapat Kerja Pengawasan Tahun 2021 ini dilaksanakan dalam rangka mewujudkan koordinasi, kolaborasi dan sinergi yang efektif dan efisien dalam pelaksanaan pengawasan tahun 2021 antara Inspektorat Utama Kemenristek/BRIN dengan para mitra kerja dan LPNK dibawah koordinasi Kemenristek/BRIN. Menurut beliau terdapat Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kinerja tahun 2021 antara lain:

1. Menyempurnakan dan mengembangkan program-program pengawasan sesuai dengan kebutuhan pemangku kepentingan;

2. Meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) melalui pelatihan teknis dan non teknis;

3. Mengembangkan program pengawasan berbasis elektronik seperti e-audit, e-reviu, dan e-monitoring sehingga mampu melaksanakan program-program pengawasan dengan lebih ekonomis, efektif, dan efisien;

4. Perlunya melakukan perbaikan ataupun penyempurnaan program pengawasan, sarana dan prasarana agar Inspektorat Utama dapat melaksanakan perannya sebagai quality assurance.

Dengan kondisi organisasi saat ini kita perlu menata kembali sistem pengendalian internal di Inspektorat Utama Kemenristek/BRIN.

Inspektorat Utama juga telah diminta untuk mengawal Kemenristek/BRIN terkait anti- fraud (anti penyimpangan/korupsi). Oleh sebab itu baik para pegawai yang berada di Inspektorat Utama maupun di Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) harus sadar akan pentingnya kerjasama untuk saling membangun manajemen risiko. Saat ini Kemenristek/

BRIN telah mencanangkan adanya perubahaan pola penganggaran yang hanya membagi 2 program dengan menetapkan fokus pelaksanaan Litbangjirap pada tiga hal meliputi pelaksanaan Prioritas Riset Nasional, pelaksanaan Riset dan Inovasi Konsorsium, dan pelaksanaan Bakti Inovasi. Selain itu Insepktorat Utama juga harus berupaya melakukan integrasi maupun kerjasama dengan LPNK yang terkait dengan pelaksanaan Libangjirap dan Kemendikbud. Hal ini baik dalam pelaksanaan Litbangjjirap, kegiatan Konsorsium maupun kegiatan Bakti Inovasi yang akan terlibat pada lintas Kementerian dan lintas Lembaga.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional menyampaikan bahwa Rakerwas merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kinerja pengawasan tahun 2021 dan juga menjadi sarana untuk mengeratkan silaturahmi dalam pelaksanaan Litbangjirap. Serta dapat dijadikan wahana berkomunikasi dan berkoordinasi diantara APIP agar meningkatkan pengawasan intern dalam

(6)

mengawal akuntabilitas pengelolaan kegiatan dan keuangan di lingkungan Kemenristek/

BRIN. Sesuai dengan harapan Menristek/ Ka.

BRIN agar tercipta harmonisasi pengawasan antara APIP yang terkait dengan Litbangjirap, peningkatan kapabilitas pengawasan yang dapat mengawal peningkatan iptek, budaya riset dan penciptaan inovasi.

Sekretaris Kedeputian Bidang Penguatan Riset Dan Pengembangan, Ir. Prakoso, M.M merupakan salah satu Narasumber menerangkan bahwa, melalui arahan dari Pak Menteri, kegiatan di Kemenristek/BRIN kedepannya akan kearah Prioritas Riset Nasional (PRN), Konsorsium Covid-19 dan Bhakti Inovasi. PRN merupakan kerjasama dari berbagai instansi dan industri oleh karenanya penelitian itu penting dilakukan bersama-sama dalam bentuk konsorsium.

Sedangkan Bakti Inovasi merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban Kemenristek/

BRIN kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan daya guna produk inovasi, untuk mengetahui respon terhadap produk inovasi, dan mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi.

Kemenristek/BRIN sesuai tusinya melakukan pengkoordinasian program kegiatan dan anggaran Litbangjirap agar dapat menghasilkan invensi dan inovasi. Untuk mewujud itu dibutuhkan skenario sesuai dengan Peraturan Presiden melalui Rencana Induk Riset Nasional (RIRN).

Ada dua cara dalam bidang riset yaitu, Reverse Engineering (Merekayasa Ulang Teknologi) dan Menginisiasi riset baru berdasarkan terapan dan pengembangan.

Bambang Brodjonegoro mengatakan perlunya penguatan Bakti Inovasi untuk mendifusikan, diseminasi, dan komersialisasi produk Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19.

Kedepan, konsorsium juga perlu bersifat

proaktif atau antisipatif, bukan sekedar reaktif, perlu adanya tim khusus yang memikirkan dan memfasilitasi komersialisasi produk inovasi.

Menristek/Ka.BRIN berharap ketika terjadi bencana alam (gempa, tanah longsor, banjir, gagal panen, kebakaran hutan dll) program Bakti Inovasi korban bencana alam sudah dapat ditangani secara baik, untuk penanganan Sumber Daya Manusia dan anggarannya. Kemenristek/

BRIN diharapkan memiliki tata kelola Bakti Inovasi untuk bencana gempa yang terjadi di Indonesia. Beberapa langkah strategis ke depan yang akan dilakukan terkait kebencanaan, yakni integrasi data hasil riset dan inovasi, sebagai basis dalam pengambilan keputusan; desain konsep difusi dan diseminasi agar tidak menimbulkan kontra produktif; peta status hasil Riset dan inovasi kebencanaan; audit kesiapan bangunan atau infrastruktur dalam menghadapi bencana;

kluster program riset dan inovasi terkait untuk potensi bencana yang sering terjadi di Indonesia.

Bakti Inovasi terkait penanganan COVID-19 juga menjadi fokus, salah satu fokus dalam hal ini adalah penyerahan Mobile Lab BSL-2 kepada Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto.

Selain Mobile Lab BSL-2, Pengembangan produk vaksin juga masih dalam proses untuk mewujudkan Bakti Inovasi terkait penanganan COVID-19, harapannya konsorsium dapat terlaksana lebih cepat dalam administrasi serta dukungan percepatan produksi vaksin merah putih yang bekerja sama dengan berbagai pihak, Perguruan Tinggi, Kementerian dan Industri yang menjadi bagian jejaring vaksinasi nasional. Serta menyusun strategi diversifikasi dan menyiapkan laboratorium Pusat Riset dan Produk Biologi Nasional.

Tugas dan tanggungjawab penting terkait inovasi adalah hilirisasi sehingga hasil riset dan inovasi

(7)

dapat di komersialisasikan. Salah satu strategi untuk mewujudkan hilirisasi adalah dengan mengenalkan produk riset ke masyarakat dan instansi lain. Salah satu upaya besar Kemenristek/BRIN untuk meningkatkan peran serta dunia usaha dalam melakukan litbangjirap adalah dengan kebijakan Super Tax Deduction, yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 153/PMK.010/2020 tentang Pemberian Pengurangan Penghasilan Bruto atas Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Tertentu di Indonesia. Bermandat pada kebijakan PMK ini, harus dapat dilaksanakan dengan sebaik mungkin, agar berdampak secara signifikan terhadap ekosistem inovasi yang sedang diciptakan.

Sekretaris Kedeputian Bidang Penguatan Inovasi, Dr. Ir. Lanjar, M.Si menjelaskan bahwa Bhakti Inovasi diharapkan bisa dikenal oleh masyarakat dengan menggunakan pendekatan ke desa-desa. Kemenristek/BRIN menggunakan istilah “Desa Berinovasi” yaitu membangun desa sesuai dengan potensi yang sudah ada (kearifan lokal). Pemerintah juga mengembangkan manajemen talenta inovasi. Dengan manajemen ini diharapkan pemerintah mempunyai data tentang inovator di Indonesia untuk mendorong masyarakat sebagai penggerak ekonomi dengan menggunakan inovasi-inovasi yang dilakukan secara masif/nasional.

Inspektorat Utama Kemenristek/BRIN sebagai bagian integral yang memiliki fungsi sangat penting dalam mengawal kebijakan Kemenristek/ BRIN. Dalam hal tersebut Inspektorat Utama agar melakukan perannya sebagai lini ketiga dalam manajemen risiko dengan baik, sehingga risiko-risiko kecurangan tidak terjadi atau dapat dikurangi baik frekuensi maupun dampaknya, serta memastikan bahwa

manajemen risiko dalam pengelolaan kegiatan Kemenristek/BRIN terlaksana dengan baik.

Perihal sejauh mana auditor terlibat dalam proses riset dan inovasi, Sekretaris Deputi Bidang Penguatan Inovasi menjelaskan bahwa sebaiknya auditor di libatkan dari awal proses perencanaan riset dan inovasi, sejak awal konsorsium dilakukan, Kedeputian Bidang Penguatan Inovasi telah melibatkan auditor.

Sekretaris Kedeputian Bidang Penguatan Riset Dan Pengembangan, Ir. Prakoso, M.M mengatakan Program Riset dan Inovasi di Kemenristek/BRIN secara garis besar terdapat dua fungsi yaitu fungsi pendidikan dan fungsi layanan umum. Dari dua fungsi tersebut, kegiatan sosial dan humaniora termasuk yang penting pada agenda Prioritas Riset Nasional dalam mempersiapkan masyarakat menyambut era digital.

Faktor-faktor seperti SDM, anggaran, peralatan dan mesin serta waktu harus diperhatikan dalam kegiatan pengawasan karena satu prototype bisa memiliki harga yang tinggi tidak hanya dilihat dari bahan dan peralatan yang digunakan tapi juga dari sumber daya Iptek yang dikeluarkan untuk mewujudkannya. Anggaran Deputi Risbang paling banyak didedikasikan untuk Prioritas Riset Nasional. Selain dari anggaran Deputi Risbang, dana untuk Prioritas Riset Nasional bisa berasal dari multi resources misalnya Perguruan Tinggi, Kementerian, LPNK dan dana abadi yang ada pada Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Keikutsertaan auditor pada saat perencanaan anggaran untuk dapat mengarahkan dan mengetahui sejak awal target dari riset yang akan dilakukan. Oleh karena itu para Auditor perlu dibekali ilmu yang cukup untuk menjalani tugas-tugas tersebut.

Cakupan pengawasan Inspektorat Utama

(8)

selaku pengawas internal Kemenristek/BRIN pada Deputi Bidang Pengiatan Inovasi dan Deputi Pengembangan Riset dan Inovasi juga melakukan koordinasi pelaksanaan Litbangjirap yang dilaksanakan LPNK yaitu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten).

Selain berkoordinasi dengan LPNK. Koordinasi pengawasan dengan Itjen Kemendikbud, dan Lembaga/Badan Pengawasan Independen dalam hal ini , Badan Pemeriksa Keuangan RI (BPK RI), Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Komisi Pemberantasan Korupsi RI (KPK RI).

Fitrah Pratama, Staf Direktorat Monitoring, Kedeputian Bidang Pencegahan dan Monitoring KPK RI menyampaikan beberapa poin penting dalam pembahasan terkait potensi kerugian negara di bidang kegiatan Litbangjirab yaitu:

1. Melakukan kajian Risiko Kerugian Negara dalam Kegiatan Litbangjirab faktor penyebabnya, regulasi yang mengatur secara nasional memayungi seluruh badan litbangK/L dan LPNK dan Perguruan Tinggi belum dilaksanakan dengan baik, peran Kemenristek/BRIN sebagai koordinator litbang nasional belum optimal, dan peran APIP belum optimal.

2. Kajian tata kelola dana penelitian KPK (2018) dilaksanakan selama tahun 2018, pemaparan hasil kajian kepada Kemenristek/

BRIN dan stakeholder dilakukan 21 Januari 2019, dan pertemuan antara pimpinan KPK Bersama Menteri Ristek/BRIN membahas tindak lanjut kajian dana riset dilakukan 16 Juni 2020.

3. Rekomendasi strategis KPK dari kajian tata kelola dana penelitian terbagi dalam 18 rekomendasi yang terdiri dari 3 terkomendasi terkait regulasi, 3 rekomendasi terkait kelembagaan, 2 rekomendasi terkait SDM, dan 10 rekomendasi terkait tata laksana.

(9)

4. Implementasi dan progres rekomendasi kajian KPK RI sudah mendorong untuk penerbitan berbagai produk hukum. Salah satunya mendorong penerbitan UU 11/2019 tentang SISNAS IPTEK.

Dalam kesempatan rakerwas ini juga dilakukan Deklarasi Pakta Integritas yaitu pernyataan atau janji kepada diri sendiri tentang komitmen melaksanakan seluruh tugas, fungsi, tanggung jawab, wewenang dan peran sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kesanggupan untuk tidak melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Dalam deklarasi tersebut dilakukan juga penandatanganan Pakta Integritas dan Perjanjian Kinerja antara Plt.

Inspektur Utama dengan Inspektur I, Inspektur I dengan para Auditor, dan antara para Pejabat Fungsional dengan para Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

Cakupan pengawasan yang luas dengan bidang lebih kompleks serta keterbatasan sumber daya, baik sumberdaya manusia, anggaran, sarana prasaran, penguasaan keahlian kompetensi auditor, sehingga dibutuhkan koordinasi dan sinergi dengan Inspektorat di lingkungan LPNK (BPPT, BATAN, LAPAN, dan LIPI). Hal tersebut guna membantu terselenggaranya pengawasan yang efektif dan efisien sehingga mampu mencegah terjadinya risiko penyimpangan sedini mungkin dalam pelaksanaan Program kegiatan.

Kemenristek /BRIN sedang berupaya meningkatkan peran serta masyarakat dan dunia usaha dalam pelaksanaan kegiatan Litbangjirap, dan berupaya menata ulang organisasi, penganggaran, SDM Iptek, serta sarana dan prasarana lainnya. Oleh karena itu dukungan dari semua pihak sangat diharapkan dan perlu dijajaki sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. (MI/NR/AM)

(10)

Rakornas Riset dan Inovasi 2021

Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional

R

apat Koordinasi Nasional (Rakornas) Riset dan Inovasi 2021 Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/

BRIN) dengan tema “Sinkronisasi Program dan Anggaran dalam Pencapaian Target Kinerja Tahun 2021” diselenggarakan dari tanggal 27-29 Januari 2021 di Graha Widia Bhakti, Kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong, Kota Tangerang Selatan.

Pada kesempatan ini Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang PS Brodjonegoro menyampaikan laporan Refleksi Program 2020 dan Outlook Program 2021 Kemenristek/

BRIN dalam melaksanakan tugas fungsinya mendukung dan mewadahi kegiatan riset inovasi di Indonesia. “Tema Rakor Inovasi Nasional tahun ini adalah Sinkronisasi Program dan Anggaran dalam Pencapaian Target Kinerja tahun 2021, dengan tujuan menyinergikan program riset dan inovasi nasional tahun 2021 yang diarahkan untuk dua program yakni Prioritas Riset Nasional (PRN) dan Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 serta Vaksin,” terang Menristek/Kepala BRIN.

Rakornas secara resmi dibuka oleh Menteri Kordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada hari kedua, Kamis (28/1/21).

Dalam kesempatan tersebut Menko Ailangga Hartarto menyampaikan beberapa masukan

(11)

yang dapat menjadi dasar pengembangan strategi meningkatkan sistem inovasi nasional, pertama membangun ekosistem riset dan inovasi yang kuat dengan sinergi triple helix, kedua melengkapi peraturan dan kebijakan sistem inovasi mendukung perbaikan IPTEK Inovasi Nasional serta dikembangkan regulasi yang kondusif beserta insentifnya, ketiga memperkuat digitalisasi ekonomi melalui perbaikan komersialisasi riset dan inovasi.

Refleksi Program Kemenristek/BRIN Tahun 2020

Menteri/ Kepala BRIN Bambang menegaskan di tengah pandemi Covid-19 yang melanda, para peneliti dan inovator sepanjang tahun 2020 selalu berusaha keras untuk berkontribusi demi bangsa terutama dalam menghasilkan teknologi tepat guna dan bahan/teknologi substitusi impor. Salah satunya seperti peneliti Indonesia tetap produktif dalam karya-karya ilmiah dengan total karya ilmiah yang lebih tinggi dari tahun 2019. Selain itu bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2020 menandai Kebangkitan Inovasi Indonesia, telah diluncurkan 60 produk inovasi terkait Covid-19 hasil Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19.

“Dari Mei hingga kini produk-produk tersebut terus disempurnakan dan dihilirkan. Selain itu, inovasi baru untuk skrining Covid-19, yaitu GeNose C19 dari UGM dan iNose dari ITS yang diproses dengan kecerdasan artifisial (AI).

Berbagai produk hasil riset inovasi Konsorsium Covid-19 terus dikembangkan dengan memungkinkan 4 T (Testing, Tracing, Tracking dan Treatment) dilakukan dengan sistemik,”

Outlook Program Tahun 2021 Kemenristek/BRIN

Menteri Bambang menyampaikan pada tahun 2021 ini Kemenristek/BRIN akan berfokus pada Prioritas Riset Inovasi Nasional dengan tetap akan berupaya maksimal berkontribusi pada penanganan Covid-19. Seperti pengujian molekular (surveillance) varian virus Covid-19 di Indonesia, melalui whole genome sequence;

pengembangan test yang mendekati PCR dengan sampel saliva; pengembangan cara mengukur antibodi Covid-19 yang mudah, murah, dan cepat yang dapat memberikan informasi tentang tingkat antibodi hasil vaksinasi dan juga tingkat kekebalan kelompok ( herd immunity);

serta pengembangan ventilator ICU karya anak bangsa.

“Kemudian kami memastikan riset inovasi untuk menghasilkan Vaksin Merah Putih berlangsung lancar. Maret ini semoga bibit vaksin dapat diserahkan ke Biofarma untuk kemudian dapat diproses selanjutnya hingga uji klinis. Harapan kita semua agar Vaksin Merah Putih dapat digunakan dalam vaksinasi pada tahun 2022”.

Menteri/ Kepala BRIN Bambang mengungkapkan riset dan inovasi yang menjadi prioritas nasional akan terus menjadi prioritas.

Keputusan Bapak Presiden menempatkan 3 Tema PRN (PUNA MALE, BBN dengan Katalis Merah Putih, dan Garam Industri) dalam Proyek Strategis Nasional sektor teknologi merupakan tantangan bagi Kemenristek/BRIN untuk mewujudkannya.

“Sebagaimana arahan Bapak Presiden kami akan terus meningkatkan ekosistem riset inovasi. Di sisi supply untuk menghasilkan hasil- hasil riset dan inovasi, kami akan memastikan dukungan Pendanaan Riset Inovasi yang

(12)

memadai dan Insentif pajak bagi Badan Usaha yang melaksanakan riset inovasi. Sementara di sisi demand atas hasil riset inovasi, kami akan terus mengoptimalkan e-Katalog Inovasi dan mendorong pengadaan pemerintah melalui peningkatan penggunaan produksi dalam negeri,”

papar Menristek/Kepala BRIN.

Penandatangan Enam MoU

Pada acara ini dilakukan pula penandatangan 6 Memorandum of Understanding (MoU) sebagai bentuk langkah nyata Kemenristek/

BRIN mendukung pengembangan riset inovasi dan menjawab berbagai permasalahan bangsa Indonesia, antara lain :

1. MoU antara Kemenparekraf/Barekraf dengan Kemeristek/BRIN tentang Riset dan Inovasi untuk Mendukung Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;

2. MoU antara Kemenristek/BRIN dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) tentang Penguatan Kerja Sama dan Kemitraan dalam Penguasaan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Mendukung Perwujudan Tujuan Pembangunan Nasional;

3. MoU antara Kemenristek/BRIN dengan Pemkot Tangerang Selatan tentang Pemanfaatan Hasil Riset dan Inovasi dalam Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Kota Tangerang Selatan;

4. Perjanjian Pinjam Pakai antara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan Pemerintah Kota Tangerang Selatan tentang Pinjam Pakai Mobil Laboratorium Mobile Bio Safety Level 2 Milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi;

5. Perjanjian Kerja Sama antara Dinas

Kesehatan Kota Tengerang Selatan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, dan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi tentang Pemeriksaan Spesimen Covid-19 Pada Laboratorium Mobile Bio Safety Level 2 Task Force Riset Inovasi Covid-19 di Kota Tangerang Selatan;

6. Berita Acara Serah Terima antara BPPT dengan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan tentang Serat Terima Sementara Mobile Laboratorium Bio Safety Level 2.

Turut hadir dalam acara ini secara langsung ataupun daring Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Mochamad Basoeki Hadimoeljono, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali, Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto, Asisten Teritorial Panglima TNI Mayor Jenderal Madsuni, Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi/Juru Bicara Presiden Mochammad Fadjroel Rachman, Jajaran Pejabat Eselon I dan II Kemenristek/BRIN, Jajaran Kepala LPNK di bawah koordinasi Kemenristek/BRIN, Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany beserta jajaran, Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Satryo Soemantri Brodjonegoro, Rektor IPB University Arif Satria, para Pimpinan Perguruan Tinggi, para Kepala LLDikti, para pimpinan industri, serta undangan lainnya. Rakornas dilaksanakan secara daring dan luring dengan menerapkan protokol kesehatan, yaitu selain menerapkan 3M, peserta dan panitia diwajibkan mengikuti rapid tes antigen dan tes Covid-19 dengan GeNose C19.

(13)

Vol. IX | INFESTERA | Page 13

GEJALA VARIAN BARU COVID-19

Varian baru Covid-19 (B117) pertama terdeteksi di Kent, September 2020 lalu menyebar ke berbagai negara di dunia.

Batuk, sakit tenggorokan, dan kelelahan lebih sering terjadi pada orang yang terinfeksi varian baru dari virus corona.

Kehilangan kemampuan indera perasa atau penciuman

jarang terjadi.

Pergeseran pada gejala mungkin didorong oleh varian yang lebih menular dan menyebar lebih cepat di tubuh dibandingkan varian lama

Tidak ada bukti

perbedaan gejala gastrointestinal, sesak napas atau sakit kepala

Dampak keseluruhan dari banyak mutasi varian Covid-19 Belum diketahui.

Riset dilakukan oleh lembaga statistika inggris kepada orang- orang yang terinfeksi pada 15 November 2020 hingga 16 Januari 2020.

INFOGRAFIS INFOGRAFIS

(14)

DAMPAK COVID -19 TERHADAP MANAJEMEN PENGENDALIAN INTERNAL

V

alue of Money dan Sustainable Actions adalah dua hal yang harus selalu menjadi pertimbangan dan orientasi secara penuh bagi suatu entitas atau organisasi, baik lembaga publik maupun privat.

Terlebih pada masa badai pandemi Covid-19 seperti saat ini yang tidak ada kepastian kapan berakhirnya. Manajemen organisasi harus berupaya untuk menghadapi badai pandemi Covid-19 ini dengan melakukan pengendalian dan pengawasan penggunaan biaya operasional

dengan lebih cermat. Organisasi harus lebih fokus dan menjaga agar pengendalian internal tidak ikut terdampak dari risiko pandemi yang terjadi.

Organisasi publik maupun privat menghadapi tantangan pandemi yang menekan segala sisi operasional organisasi yang dapat berdampak serius terhadap capaian kinerja jika tidak dilakukan pengendalian yang memadai. Ironisnya, beberapa tindakan yang diambil oleh manajemen

Sumber: https://www.btcpa.com/low-cost-steps-to-strengthen-internal-controls/

Penulis: Sastra Manjani

(15)

Penulis: Sastra Manjani

untuk menghadapi pandemi ini, secara langsung maupun tidak langsung berpotensi melemahkan sistem pengendalian internal yang sudah dibangun sebelumnya. Karena itu, manajemen perlu berhati-hati dengan kebijakan yang diambil selama masa pandemi, harus dilakukan evaluasi dan penilaian secara menyeluruh terkait kemungkinan melemahnya sistem pengendalian internal organisasi.

Menurut Matt Kelly pada artikelnya yang berjudul “The impact of Covid-19 on internal controls management”, pandemi Covid-19 telah mengganggu sebagian besar area dan fungsi bisnis pada semua lini organisasi di berbagai belahan bumi, termasuk manajemen pengendalian internal. Kombinasi yang tepat dari penerapan manajemen risiko, penentuan ruang lingkup, pengujian, dan pemanfaatan teknologi dapat membantu tim audit internal mengurangi bahkan mencegah dampak serius dari gangguan ini (Matt Kelly, 2020).

Lebih lanjut, Matt Kelly (2020) pada artikel yang sama menyatakan bahwa pandemi Covid-19 telah mengubah sebagian besar kehidupan sehari-hari dan operasional organisasi menjadi terbalik, termasuk bagaimana suatu organisasi menilai dan menguji pengendalian internal.

Proses bisnis berubah sebagai reaksi terhadap pandemi Covid-19, operasional organisasi yang sebelumnya stabil kini mengalami volatilitas, dan penilaian risiko sekarang dituntut harus lebih ekspansif. Pada saat yang sama, auditor internal akan mengalami kesulitan untuk menyelesaikan penilaian dan pengujian, diantaranya disebabkan oleh metode kerja yang sebagian harus melaksanakan Work from Home, kurangnya sarana prasarana teknologi, dan pemotongan anggaran audit yang tidak direncanakan sebelumnya.

Sedangkan pada artikel berita dengan judul

“Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Perusahaan” mengabarkan jika dampak pandemi Covid-19 di Indonesia menurut hasil survei kajian Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan (Barenbang Naker) menyebutkan sebanyak 40,6 persen responden mengaku kondisi perusahaannya sangat merugi di masa pandemi Covid-19. Sementara 47,4 persen mengalami kerugian. Menaker Ida Fauziah menyatakan bahwa meski dampaknya sangat merugikan, namun masih ada beberapa perusahaan tidak berpengaruh sama sekali akibat pandemi Covid-19. Sementara, 0,8 persen responden mengatakan menguntungkan dan 0,1 persen menyatakan sangat menguntungkan (Merdeka.com, 2020).

Dan menurut artikel yang terbit di Majalah Info Singkat menyatakan jika sejumlah negara di dunia juga telah mengalami resesi ekonomi akibat pandemi Covid-19. Hal tersebut terjadi setelah pertumbuhan ekonomi pada Kuartal I dan II 2020 menjadi minus. Beberapa negara yang mengalami resesi ekonomi antara lain Singapura, Korea Selatan, Jerman, Jepang, Perancis, Hong Kong, dan Amerika Serikat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan II-2020 menjadi negatif (-5,32%). Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I-2020 tercatat mencapai 2,97% atau mulai menunjukkan adanya perlambatan (Wuryandini, 2020).

Artikel dari siaran pers resmi Kemenkeu (Kemenkeu, 2021) mengabarkan jika realisasi pendapatan negara tahun 2020 mencapai Rp1.633,6 triliun (96,1% dari target Perpres 72/2020). Jika dibandingkan dengan capaian tahun 2019, realisasi pendapatan negara tahun 2020 tersebut tumbuh negatif sebesar -16,7%.

Vol. IX | INFESTERA | Page 15

(16)

Penerimaan pajak yang paling terpukul dampak dari pandemi di sisi lain karena pemerintah juga memberikan insentif pajak kepada UMKM dan dunia usaha yang terimbas pandemi Covid-19.

Selanjutnya, realisasi belanja negara mencapai Rp2.589,9 triliun (94,6% dari pagu Perpres 72/2020), atau tumbuh 12,2% dari realisasinya di tahun 2019. Hal ini sejalan dengan strategi ekspansif yang diambil Pemerintah untuk menahan laju perlambatan ekonomi akibat pandemi dengan melakukan peningkatan belanja yang diarahkan untuk penanganan dampak Covid-19 di bidang kesehatan, melindungi masyarakat terdampak, serta pemulihan ekonomi.

Pandemi Covid-19 yang masih berlanjut tentunya berdampak pada kinerja SPIP pada suatu entitas atau organisasi. Padahal laporan keuangan yang berkualitas tinggi masih dibutuhkan sebagai bukti bahwa SPIP tetap berjalan dengan baik.

Untuk itu, sistem pengendalian internal yang komprehensif dan dinamis sangat diperlukan demi menjamin semua lini entitas atau organisasi dapat berjalan dengan optimal dan efektif.

Menurut artikel dari Deloitte (Deloitte, 2021), dalam kondisi pandemi Covid-19, auditor internal harus bertindak sebagai bagian dari ekosistem SPIP yang mencakup manajemen, pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola entitas atau organisasi.

Auditor internal perlu mengubah strategi dalam melakukan penilaian risiko atas fraud. Setiap proses yang rentan terhadap fraud (meski risiko rendah) harus diperiksa. Audit cenderung fokus pada proses perubahan sistem operasional dan pengendalian internal karena Covid-19, dan juga harus lebih teliti karena timbulnya risiko lebih besar karena pengendalian internal yang menjadi lebih lemah atau bahkan mungkin tidak ada.

Auditor internal juga harus mempertimbangkan

kemungkinan munculnya risiko baru, karena organisasi menggunakan metode operasional dan pengendalian yang juga baru seiring tuntutan masa pandemi Covid-19. Berdasarkan hasil audit dan risk assessment tersebut, auditor internal perlu mendorong peningkatan dan pembaharuan pengendalian untuk mengatasi risiko yang berubah. Auditor internal juga harus melakukan pengujian perencanaan dan pelaksanaan program anti-fraud dan sistem pengendalian internal yang diterapkan oleh organisasi untuk melihat seberapa efektif dapat mencegah timbulnya risiko fraud yang baru atau malah mungkin lebih besar selama masa pandemi Covid-19.

Menurut Nasional System of Public Land (NSPL, 2010), Pengendalian internal adalah suatu proses yang dilakukan oleh orang-orang dalam suatu organisasi, dirancang untuk memberikan jaminan yang wajar mengenai pencapaian tujuan dalam kategori berikut: efektivitas dan efisiensi operasi, keandalan pelaporan keuangan, dan kepatuhan terhadap hukum dan peraturan. Lebih jauh NSPL menyebutkan bahwa terdapat 6 (enam) program dalam pengendalian internal yang dapat dilakukan untuk memastikan pencapaian tujuan, yaitu: a) Verifikasi komponen pengendalian internal; b) verifikasi dan identifikasi risiko; c) dokumentasi proses kunci dan pengendalian; d) penilaian pengendalian internal; e) dokumentasi dan implementasi pengembangan; dan e) monitoring rencana aksi perbaikan.

Pada sektor pemerintahan, pengendalian internal dirumuskan berdasarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara pasal 58 ayat 1 antara lain menyatakan bahwa dalam rangka meningkatkan kinerja, transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan Negara, Presiden selaku kepala pemerintahan mengatur dan menyelenggarakan sistem pengendalian intern di lingkungan pemerintah secara

(17)

menyeluruh. Salah satu perwujudan dari UU Nomor 1 Tahun 2004 untuk mengoptimalkan penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern secara menyeluruh, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) yang berperan dalam tiga hal, yaitu sebagai landasan pembinaan penyelenggaraan pengendalian intern, landasan penyelenggaraan pengawasan intern, dan standar penyelenggaraan pengendalian intern.

Untuk memberikan keyakinan memadai tentang kemampuan penyelenggaraan SPIP dalam mencapai peningkatan kinerja, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara di lingkungan Pemerintah, maka dilakukan Pengukuran Tingkat Maturitas pada setiap entitas pemerintahan.

Gambar 1. Program Pengandalian Internal (NSPL, 2010)

Penilaian Maturitas penyelenggaraan SPIP merupakan wujud dari proses Pembinaan Penyelenggaraan SPIP dalam rangka pengukuran keberhasilan penyelenggaraan SPIP berdasarkan PP 60 Tahun 2008 pasal 47 ayat (2) huruf b serta pasal 59 ayat (1) dan (2). Pemerintah diwajibkan menyelenggarakan SPIP secara menyeluruh, mulai dari pengenalan konsep dan pedoman untuk penyelenggaraan SPIP, hingga pengukuran keberhasilan penyelenggaraan SPIP dengan metodologi yang dapat mengukur

peran SPIP dalam mendukung penyelenggaraan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara.

Tingkat maturitas penyelenggaraan SPIP adalah tingkat kematangan/kesempurnaan penyelenggaraan sistem pengendalian intern di lingkungan pemerintah dalam mencapai tujuan pengendalian intern sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (BPKP, 2016).

Klynveld Peat Marwick Goerdeler (KPMG, 2020) menyatakan bahwa terdapat 7 (tujuh) pertimbangan yang dapat diterapkan oleh entitas sebagai kerangka kerja pengendalian internal untuk menangani pandemi Covid-19, yaitu:

A. STRATEGI

• Perencanaan strategi terkait Internal Control over Financial Reporting (ICoFR), yaitu memfokuskan pada pengendalian internal atas laporan keuangan yang dapat memberikan nilai secara berkelanjutan.

• Perencanaan strategi untuk mempertahankan kualitas bisnis organisasi secara berkelanjutan.

B. ANALISIS RESIKO

• Memperbaharui register risiko menyesuaikan perkembangan pandemi Covid-19.

• Melakukan evaluasi dan menangani masalah dan risiko yang muncul terkait kesalahan dalam pelaksanaan penilaian analisis risiko.

C. PENGENDALIAN TINGKAT ENTITAS

• Melakukan perubahan dan update atas struktur dan susunan organisasi sesuai kondisi dan kebutuhan pengendalian pada masa pandemi.

• Melakukan perubahan dan update atas program kerja dan kegiatan pengendalian internal yang akan dan sedang dilakukan.

(18)

D. PENGENDALIAN STANDARISASI

• Melakukan pencatatan dan pendokumentasian perubahan mekanisme

dan metode pengendalian internal selama pandemi Covid-19.

• Melakukan penetapan dan pendokumentasian mekanisme dan metode pengendalian internal yang baru (terkait kerja jarak jauh, work from home, work from office, dsb).

E. PENGUJIAN PENGENDALIAN INTERN

• Pengujian pengendalian tingkat Entitas dilakukan dengan cara Evaluasi terhadap setiap faktor dari kelima unsur pengendalian intern yaitu: Lingkungan Pengendalian, Penilaian Risiko, Aktivitas Pengendalian, Komunikasi dan Informasi, dan Monitoring.

• Melakukan pengujian dan tinjauan terhadap perencanaan dan pelaksanaan pengendalian internal.

F. EVALUASI

• Melakukan identifikasi kunci pengendalian yang mengakibatkan program dan kegiatan tidak berjalan secara efektif sebagai akibat dari pandemi Covid-19.

• Melakukan pencatatan dan pendokumentasian penyebab utama tidak

berjalannya program pengendalian internal karena tidak tersedianya sumber daya.

G. TATA KELOLA

• Memastikan pelaksanaan program dan kegiatan telah memenuhi kepatuhan terhadap peraturan dan melakukan penilaian atas dampak terjadi.

• Memastikan bahwa perubahan dan pembaharuan periodik yang telah disampaikan kepada manajemen pusat dan pengawas internal.

Berdasarkan data dan fakta yang ada terkait dampak pandemi Covid-19 baik di sektor publik maupun privat pada sebagian besar negara di dunia, menunjukkan bahwa dampak yang ditimbulkan sangat besar. Setiap lini dan bisnis organisasi dipaksa merubah strategi dan proses bisnisnya yang harus dijalankan atau bahkan ada yang menghentikan sebagian operasionalnya karena mengalami kerugian yang tidak diprediksi sebelumnya.

Tidak dipungkiri, dampak pendemi Covid-19 juga berimbas pada sektor pemerintahan. Pada semester I Tahun 2020 daya serap dan realisasi fisik maupun anggaran hanya 33,8 persen atau turun 6 persen dari pencapaian tahun 2019. Hal ini terjadi karena hampir sebagian program dan kegiatan pemerintahan tidak dapat dilaksanakan, bahkan berbagai program yang tidak strategis anggarannya dipangkas untuk dialihkan untuk penanggulangan bencana pandemi Covid-19.

Tidak terkecuali anggaran pengendalian internal dan pemeriksaan juga tidak luput dari pemangkasan anggaran (Kemenkeu, 2020).

Pada tahun 2021, pandemi Covid-19 di Indonesia belum juga menunjukkan tanda-tanda adanya penurunan kasus positif yang ada. Kondisi ini memaksa pemerintah menghilangkan dan atau memangkas anggaran program dan kegiatan yang tidak strategis. Meski begitu, Pemerintah harus mendorong semua Kementerian/

Lembaga untuk tetap mempertahankan bahkan meningkatkan SPIP pada setiap satuan kerja yang ada. Ini dikarenakan bagaimanapun kondisinya, pengendalian intern pada suatu organisasi harus tetap berjalan dengan optimal untuk bisa memberikan keyakinan atas tercapaianya tujuan organisasi.

Meskipun anggaran untuk penerapan SPIP pada pemerintahan dipangkas, namun jika direncanakan, dilaksanakan dan dilakukan

(19)

monitoring secara berkelanjutan sesuai kaidah- kaidah yang baik dan melakukan kombinasi yang tepat dari penerapan manajemen risiko, penentuan ruang lingkup, pengujian, dan pemanfaatan teknologi dapat membantu organisasi pemerintahan mengurangi bahkan mencegah dampak serius dari pandemi Covid-19.

Lebih jauh, penerapan dan peningkatan SPIP yang optimal dan efektif akan membantu Kementerian/Lembaga untuk memastikan bahwa efektivitas dan efisiensi operasional, keandalan pelaporan keuangan, dan kepatuhan terhadap hukum dan peraturan terpenuhi.

Daftar Pustaka

Deloitt, 2021. Internal controls Considerations related to COVID-19. Deloitte Global.

Kelly, Matt, 2020. The impact of COVID-19 on internal controls management. Wegalvanize, Howe Street Vancouver, BC, Canada.

KPMG, 2020. COVID-19 vs Internal Controls : How to sustain your internal control framework under COVID-19.

KPMG International Cooperative.

Kementerian Keuangan, 2021. APBN 2020: Kebijakan Extraordinary APBN Untuk Membantu Masyarakat Serta

Dunia Usaha Pulih Dan Bangkit. Direktorat Jenderal Anggaran, Kementerian Keuangan.

Kementerian Keuangan, 2020. Laporan Pemerintah Tentang Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Semester I Tahun 2020.

NSPL, 2010. Internal Control Review Handbook. Internal Control Training, The Buerau of Land Management, USA.

Republik Indonesia, 2004. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.

Republik Indonesia, 2008. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP).

Republik Indonesia, 2016. Peraturan Kepala BPKP Nomor 4 Tahun 2016 tentang Pedoman Penilaian dan Strategi Peningkatan Maturitas Sistem Pegendalian Intern Pemerintah (SPIP).

Wuryandini, Dewi, 2020. Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2020 Dan Solusinya. Kajian Singkat Terhadap Isu Aktual Dan Strategis Puslit Bkd. Vol. XII, No. 15/I/Puslit/Agustus/2020.

https://www.merdeka.com/peristiwa/infografis-dampak- pandemi-covid-19-terhadap-perusahaan.html (diakses pada 13 Maret 2021)

Sumber: https://www.marketing91.com/internal-control/

(20)

IMPLEMENTASI REMOTE AUDIT DI MASA PANDEMI COVID-19

Penulis: Akmal Maulidina

C

orona Virus Disease 2019 (Covid-19) merupakan wabah yang menyerang seluruh negara yang ada di dunia, termasuk Indonesia. Covid-19 memiliki efek pada seluruh sektor kehidupan, termasuk sektor sosial ekonomi. Sebaran Covid-19 pada tanggal 11 Maret 2020 diresmikan oleh WHO (World Health Organization) sebagai pandemi dunia. Pernyataan pandemi tersebut didasarkan atas tingkat penyebaran wabah yang sulit dikendalikan. Pengumuman pandemi tidak hanya sebagai peringatan atas kesiapsiagaan kebutuhan medis, namun juga kesiapsiagaan atas berbagai aspek yang akan terpengaruh, salah satunya aspek kinerja. Dikarenakan tingkat penyebarannya yang sulit dikendalikan maka pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk melakukan segala aktivitas dari rumah yang di dalam dunia kerja dikenal dengan istilah WFH

(Work from Home) yang artinya melaksanakan pekerjaan dari rumah.

Sejalan dengan diterapkannya WFH, pembuktian bahwa Indonesia sedang dalam era Revolusi Industri 4.0 yang disebut juga era digitalisasi, dipaksa diuji pada masa pandemi Covid-19 ini. Demikian pula dalam hal pengawasan intern pemerintah, di mana beberapa pola kerja pengawasan mulai mengandalkan pada pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Termasuk di antaranya adalah mulai diterapkannya teknik audit jarak jauh (remote audit) dan teknik audit berbantuan komputer.

Gagasan dari Institute of Internal Auditors (IIA) Indonesia, dengan melakukan remote auditing, dimana auditi menyimpan data-datanya dalam bentuk digital yang terintegrasi dalam satu sistem atau yang sedang sering digaungkan dengan

(21)

istilah “Big Data”, sehingga akses dapat diberikan kepada auditor saat hendak melakukan remote audit. Pada awal Maret 2020, The Institute of internal Auditors (IIA) menerbitkan Knowledge Brief mengenai Remote Auditing. Menurut Roy Litzenberg dan Carrie F. Ramirez, elemen remote auditing meliputi: perencanaan, kajian dokumen, pemeriksaan fisik lapangan (misalnya melalui livestreaming), wawancara jarak jauh dan pertemuan penutupan/exit meeting.

Remote audit merupakan pengawasan berbasis IT. Dalam hal ini, auditor dituntut untuk memiliki kompetensi yang handal baik pengetahuan audit pada umumnya maupun pengetahuan IT secara khusus. Oleh karena itu, untuk dapat menerapkan pengawasan berbasis IT dengan baik, kompetensi auditornya harus diasah terlebih dahulu. Dapat melalui bimbingan teknis, diklat, workshop, ataupun mengikuti seminar yang sesuai dengan kebutuhan auditornya masing- masing, kebutuhan organisasi dan kebutuhan stakeholder atau auditi. Terkait dengan remote audit yang pelaksanaannya berbasiskan IT, maka disamping memiliki kompetensi tentang audit, auditor juga harus mampu menjalankan perangkat IT.

Pada pelaksanaannya, perlu disadari adanya tantangan tersendiri dalam audit jarak jauh berupa keterbatasan sampel uji, pemeriksaan fisik lapangan, dan wawancara konfirmasi.

Belum matangnya budaya digitalisasi dalam kerja harian auditi dapat menjadi faktor penghambat kecukupan sampel uji. Selain masalah penyajian dokumen, dokumen digital juga memiliki tantangan lain berupa keandalan bukti. Auditor perlu memiliki prosedur dalam memastikan dokumen asli dan tidak dimanipulasi.

Permasalahan selanjutnya setelah dokumen yang diperlukan telah sampai di tangan auditor dengan lengkap, pelaksanaan audit jarak jauh memiliki tantangan dalam proses pengecekan fisik.

Permasalahan fundamental yang dihadapi oleh auditor intern pemerintah dalam melaksanakan audit jarak jauh adalah belum adanya petunjuk teknis atau panduan dalam pelaksanaannya.

Standar Asosiasi Auditor Intern Pemerintah Indonesia (AAIPI) yang diterbitkan pada tahun 2013 tidak menyinggung adanya kemungkinan diberlakukannya hal ini. AAIPI sebagai asosiasi profesi bagi auditor internal pemerintah sampai saat ini belum mengeluarkan arahan terkait audit jarak jauh. Tentunya dikarenakan kondisi

Sumber: https://consult-help.kz/uslugi/audit/

(22)

pandemi yang merupakan hal tak terduga oleh banyak pihak.

Ketentuan yang paling mendekati pada pelaksanaan audit jarak jauh, walaupun tidak spesifik, ada pada Peraturan Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pedoman Pengawasan Intern Program Pemulihan Ekonomi Nasional. Pasal 7 peraturan tersebut menerangkan bahwa tahapan pengawasan intern harus memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku. Selanjutnya, tahap pelaksanaannya dapat dilakukan dengan metode antara lain:

1. Komunikasi menggunakan media teknologi informasi dan komunikasi seperti rapat daring dan surat digital;

2. Objek pengawasan intern dapat mengirimkan dokumen tersebut menggunakan jasa pengiriman dengan memperhatikan keamanan dokumen; dan

3. Observasi lapangan dapat dilakukan dengan bantuan teknologi informasi.

Seperti yang telah dilakukan BPK RI, pada Entry Meeting Pemeriksaan LK Kemenristek/

BRIN, BATAN & BAPETEN Tahun 2020 melalui Daring pada 26 Januari 2020, Bapak E.

Priyonggo Sumbodo selaku penanggungjawab dari tim pemeriksa BPK RI menyampaikan bahwa Pemeriksaan menggunakan pendekatan uji petik (sampling) sesuai panduan pemeriksaan BPK, termasuk pedoman pemeriksaan di masa pandemi. Sebisa mungkin kegiatan tatap muka akan diminimalisir, hanya pada saat dirasa mendesak saja, selebihnya dilakukan secara daring, termasuk dalam pemenuhan dokumen yang dibutuhkan, kami harap agar segera dikirimkan baik soft file maupun hard file.

Kelebihan dan Kekurangan

Dalam pelaksanaan pengawasan jarak jauh khususnya audit (remote audit) pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Beberapa hal dapat dikatagorikan sebagai kelebihan atau keunggulan dari remote audit, diantaranya adalah: terlaksananya kembali kegiatan pengawasan di masa pandemi Covid-19;

efisiensi biaya perjalanan yang signifikan; waktu yang selalu tersedia oleh kelompok auditor.

Keunggulan lainnya adalah proses audit jarak jauh dapat memperluas cakupan ketika terjadi kebutuhan prioritas volume dan waktu; serta pemanfaatan tenaga ahli atau narasumber yang diperluas, dimana tenaga ahli atau narasumber tidak terikat ruang dan waktu untuk wawancara tertentu atau dalam bagian tertentu pada proses pengawasan internal dapat lebih ditingkatkan.

Di sisi lain, peningkatan penggunaan teknologi ini sejalan dengan era industri 4.0 yang sedang terus digaungkan sebagai era digitalisasi, dapat memperkuat dokumentasi dan pelaporan;

beban pengawasan internal terhadap fasilitas operasional dapat dimitigasi; serta peningkatan organisasi dan konfirmasi atas dokumentasi yang diperlukan. Sebaliknya, remote audit juga terdapat kelemahan atau keterbatasan.

Beberapa keterbatasan dari proses audit jarak jauh, antara lain tidak dapat tergantikannya pengamatan secara langsung. Proses melihat secara langsung, baik dari bahasa tubuh, atau bahkan memperhatikan keadaan disekitar auditi yang tidak seharusnya.

Keterbatasan lainnya adalah bahwa hubungan dengan auditi akan lebih sulit terjalin harmonis berbeda dengan bertemu secara langsung, apalagi jika belum pernah bertemu atau kenal sama sekali. Hal ini berdampak pada kurangnya

(23)

kesempatan untuk melakukan klarifikasi atau pembelaan dalam rangka perbaikan. Karena hal tersebut yang biasa dilakukan oleh auditor sehingga berguna bagi audit. Selain itu, kurangnya interaksi personal langsung antara auditor dan auditi yang dapat membuka peluang terjadinya FRAUD. Peluang tersebut diantaranya dalam menyampaikan dokumen yang telah dimanipulasi serta penghilangan informasi yang relevan.

Dan dampak negatif lainnya dari implementasi pengawasan internal jarak jauh adalah pada kesejahteraan auditor. Auditor pemerintah kebanyakan menggantungkan penghasilan mereka pada uang harian perjalanan dinas saat melakukan tugasnya. Dengan penerapan audit jarak jauh seharusnya dibuatkan pula alur pendanaan baru untuk kesejahteraan auditor.

Demikian sekelumit uraian terkait dinamika pengawasan internal di masa pandemi Covid-19.

Yang perlu kita ingat bahwa pengawasan melalui

remote audit ini pada dasarnya hanya diberlakukan dalam kondisi darurat yang tidak memungkinkan dilakukannya audit secara langsung. Jika selama proses remote audit disadari akan ada beberapa hal yang tidak dapat terselesaikan, auditor perlu mencatat hal tersebut untuk dipastikan akan dilakukan secara mendalam pada pengawasan internal selanjutnya.

Sumber:

1. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah

2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional

3. Peraturan Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pedoman Pengawasan Intern Program Pemulihan Ekonomi Nasional

4. Darmawan, E. 2020. Tantangan Pelaksanaan Audit di Masa Pandemi. Solusi Majalah Pengawasan, 54, 35-41.

Inspektorat Jenderal Kementerian Perindustrian Republik Indonesia.

5. Maulidina, A. 2020. Implementasi Revolusi Industri 4.0 melalui Work From Home pada Masa Pandemi Covid-19 terhadap Kinerja Pegawai.

Sumber: https://powerwire.eu/top-ten-user-interface-design-tips-part-1

(24)

6 VAKSIN COVID-19

YANG DITETAPKAN DI INDONESIA

MODERNA MODERNA

Vaksin virus corona yang diproduksi moderna telah di klaim memiliki efektivitas sebesar 94,5%.

Moderna meyakini vaksin buatannya telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan BPOM AS (FDA) untuk penggunaan darurat

BIO FARMA BIO FARMA

PT Bio Farma (Persero) merupakan produsen vaksin virus corona dalam negeri

Ada dua jalur yang ditempuh pemerintah untuk pengadaan vaksin yang melibatkan perusahaan BUMN tersebut.

Pertama, pemerintah melalui Bio Farma menjalin kerja sama dengan perusahaan asal china, Sinovac Biotech

Kedua, mengadakan vaksin dalam negeri yang disebut vaksin merah putih. vaksin tersebut merupakan kerja sama antara Bio Farma dan Lembaga Eijkman.

ASTRAZENECA ASTRAZENECA

Uji coba yang dilakukan Astrazeneca dan Universitas Oxford yang menunjukan vaksin virus corona produksinya memiliki keefektifan rata-rata 70%

Dianggap mudah di distribusikan karena tidak perlu disimpan pada suhu yang sangat dingin

Vaksin dibuat dari versi lemah virus flu biasa dari simpanse yang telah dimodifikasi tidak tumbuh pada manusia.

SINOPHARM SINOPHARM

Sinopharm mengklaim individu yang melakukan vaksin telah melakukan perjalanan ke lebih dari 150 negara dan saat ini belum ada kasus temuan infeksi.

Vaksin Sinopharm masuk kedalam jajaran 5 dari vaksin China yang melakukan uji klinis di luar negeri.

PFIZER & BIONTECH PFIZER & BIONTECH

Pfizer & BioNTech telah mengajukan penggunaan darurat vaksin virus corona yang diproduksinya ke BPOM AS dan Eropa.

Kandidat vaksin Pfizer &

BioNTech, dari hasil uji coba terakhir pada 18 November, diklaim 95% efektif pada virus corona dan tidak menimbulkan resiko

masalah keamanan.

SINOVAC SINOVAC

Sinovac memberikan nama kandidat vaksin virus corona buatannya CoronaVac.

Vaksin ini memakai versi non-infeksi dari virus corona untuk memicu respon imun.

Pada 17 November hasil uji coba awal Sinovac yang terbit di The Lancet disebutkan vaksin aman, tapi hanya menghasilkan respon imun yang moderat dengan tingkat antibodi tidak lebih tinggi dari antibodi yang dihasilkan pasien yang pulih dari covid-19.

Sumber: Kompas.com

(25)

COMMUNITIES OF PRACTICE (CoP) UNTUK PENGUATAN PENGAWASAN

Penulis: Taufiq

A

uditor internal dalam organisasi berperan sebagai salah satu dari tiga lini model pertahanan pada manajemen risiko. Tiga lini model pertahanan ini diadopsi dari bentuk pertandingan sepak bola atau sejenisnya, dimana auditor internal menjadi lini pertahanan ketiga untuk mendeteksi dan mengoreksi adanya kelemahan dalam pengendalian serta memberikan rekomendasi untuk tindakan perbaikan. Meskipun menjadi lini pertahanan ketiga, auditor internal seringkali dijadikan sebagai tumpuan utama untuk mendeteksi dan mengoreksi kelemahan dari pengendalian internal. Hal ini karena masih belum komprehensifnya penerapan manajemen risiko dalam manajemen. Sehingga, auditor internal harus memberikan peran ekstra untuk mewujudkan tata kelola organisasi yang baik dengan memberikan layanan jasa assurance dan konsultansi dengan lebih efektif lagi.

Salah satu faktor kesuksesan auditor internal dalam memberikan layanannya adalah dengan memberikan rekomendasi yang praktis dan tepat sehingga dapat langsung ditindaklanjuti oleh manajemen. Tindak lanjut dari manajemen tersebut sebagai indikator bahwa rekomendasi dari auditor internal bisa segera memperbaiki kelemahan yang ada di pengendalian internal manajemen. Akan tetapi, tidak jarang rekomendasi auditor internal menimbulkan cost yang lebih besar dibanding benefit yang diperoleh, sehingga menambah keengganan manajemen untuk menindaklanjuti sesuai rekomendasi.

Hal yang dibutuhkan saat ini bagi auditor internal yaitu kumpulan pengetahuan dari praktik-praktik terbaik untuk dirumuskan menjadi bahan rekomendasi. Pengetahuan- pengetahuan ini tentu tidak bisa diperoleh hanya dengan membaca saja, tapi diperlukan berbagai

ARTIKEL PENGAWASAN ARTIKEL PENGAWASAN

(26)

pengalaman kasus unik yang menambah wawasan auditor internal dalam merumuskan rekomendasi tersebut.Permasalahannya adalah, jika masing-masing auditor menunggu untuk mendapat satu permasalahan dan belajar mencari solusi dari permasalahan tersebut, hal ini tentu merupakan metode pembelajaran klasik yang memakan waktu. Padahal di sisi lain, telah ada auditor yang berada dalam kondisi tersebut dan telah belajar untuk menentukan rekomendasinya.

Alangkah baiknya jika auditor baru tersebut dapat memperoleh pelajaran dari auditor lainnya sehingga paham cara menganalisis permasalahan dan memberikan rekomendasi yang terbaik.

Auditor internal akan sering berhadapan dengan berbagai permasalahan pada manajemen. Dari proses tersebut, masing-masing auditor akan terbentuk pengetahuannya sesuai dengan pengalaman kerjanya dan sesuai dengan kasus- kasus permasalahan yang dihadapi. Pengetahuan masing-masing auditor tersebut seharusnya dapat dibagi dalam bentuk tulisan ataupun dalam bentuk verbal baik dalam bentuk seminar, workshop, forum dan lain sebagainya. Realitanya, semakin hari kita semakin kesulitan menemukan literasi-literasi praktis dari para auditor internal di perpustakaan-perpustakaan. Dan semakin sedikit auditor internal yang menjelang purnanya mewariskan pengetahuannya dalam bentuk buku, karya ilmiah, dan sejenisnya. Kegiatan

seminar, workshop, dan forum lainnya terbatas pada waktu dan anggaran yang tersedia. Oleh karena itu, perlu pendekatan yang informal dimana para praktisi auditor internal dapat sukarela saling berbagi pengetahuan dan saling berdiskusi terkait permasalahan atau topik dengan ketertarikan yang sama.

Communities of Practice (CoP)

CoP merupakan konsep dan gagasan yang telah lama dikenal, dari sumber Wikipedia, konsep ini pertama kali dikemukakan oleh Jean Lave dan Etienne Wenger di tahun 1991. Wenger kemudian memperlebar konsep tersebut dibukunya berjudul Communities of Practice pada tahun 1998. CoP merupakan sekelompok orang yang memiliki kepedulian atau minat terhadap sesuatu yang mereka kerjakan dan belajar bagaimana melakukannya dengan lebih baik melalui interaksi yang lakukan secara teratur.

Konsep ini rupanya telah banyak diterapkan di berbagai organisasi sektor bisnis maupun organisasi pemerintahan. Fontaine dan Milen tahun 2004 melakukan wawancara dengan 100 anggota komunitas di tujuh organisasi global.

Hasil wawancaranya menunjukkan beberapa manfaat yang diperoleh dari CoP di tingkat individu, komunitas dan organisasi sebagai berikut:

(27)

Dengan berbagai manfaat yang diperoleh bagi individu hingga organisasi, maka tak heran jika konsep dan praktik CoP ini semakin berkembang diterapkan di organisasi-organisasi. Terutama organisasi-organisasi yang memperhatikan pentingnya “Pengetahuan” menjadi aset tak berwujud bagi organisasi.

Bagaimana organisasi membentuk CoP?

Komunitas atau perkumpulan biasanya secara alami terbentuk dengan sendirinya. Orang- orang akan memiliki teman diskusi atau sharingnya masing-masing, baik dalam satu unit ataupun lintas unit. Tempat mereka berkumpul pun variatif, baik lewat tatap muka di ruangan, kafe, kantin, perpustakaan, dll. Akan tetapi, perkumpulan seperti ini biasanya hanya memberikan manfaat bagi masing-masing dari perkumpulan kecil mereka dan terbatas pada pengetahuan dan pengalaman mereka.

Pengetahuan tersebut belum bisa memberikan dampak bagi keseluruhan organisasi. Oleh karena itu, organisasi dapat menciptakan CoP atau memperkenalkan konsep CoP dan membiarkannya tumbuh berkembang secara alami.

CoP pada dasarnya dapat muncul dengan tiga elemen dasar, antara lain:

1. Domain: komunitas ini ditentukan berdasarkan kesamaan domain atau kesamaan identitas, bukan sekedar komunitas yang didasarkan pada pertemanan atau jaringan. Arti domain itu sendiri adalah minat, pengetahuan, atau aktivitas tertentu dimana seseorang memiliki kendali akan hal tersebut. Dalam hal ini, organisasi perlu menginternalisasikan nilai- nilai yang sama pada auditor internal, misalnya sebagai auditor internal yang integritas dan

profesional. Dengan domain tersebut, para auditor tidak memiliki pilihan lain selain harus saling meningkatkan pengetahuan dan kompetensinya sehingga kebutuhan akan komunitas ini semakin kuat.

2. Community: untuk memperoleh manfaat dari domain mereka, para anggota terlibat dalam diskusi, saling membantu dan berbagi informasi. Mereka membangun hubungan yang baik dengan peduli pada posisi satu sama lain. Dalam hal ini, organisasi harus memberikan wadah, baik waktu, tempat maupun fasilitas. Berbagai bentuk interaksi dapat dilakukan baik offline (library cafe, FGD, Pelatihan Kantor Sendiri, dll) ataupun lewat online (group whatsapp, forum berbasis website, dll).

3. Practice: anggota komunitas ini adalah para praktisi, bukan hanya kumpulan orang- orang yang memiliki ketertarikan atau hobi yang sama (misalnya, genre film, olahraga, dll). Dalam hal ini para praktisi berkumpul saling tukar pengalaman dan mereka dapat mendokumentasikan pengetahuan tersebut sehingga menjadi sumber pengetahuan yang baru. Organisasi dapat memfasilitasi dengan menghadirkan auditor-auditor senior yang sudah purna tugas atau praktisi bidang lain untuk berbagi pengalaman menangani kasus- kasus unik, mendorong auditor senior untuk menuliskan pengalamannya dalam bentuk tulisan, atau sekedar berbagi pengalaman dengan sesama rekan kerja.

Dalam kasus Inspektorat Utama Kemenristek/

BRIN, bukan hal yang tidak mungkin untuk dapat menerapkan konsep CoP ini. Terutama dengan rencana adanya Perjanjian Kerja Sama dengan unit-unit lain yang memiliki perhatian yang sama terhadap pengawasan Litbangjirap.

Adanya kerja sama ini dapat menjadi wadah

(28)

untuk saling bertukar pikiran, saling berbagi pengalaman, saling berbagi sumber daya untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih baik lagi. Dengan demikian, APIP sebagai lini pertahanan ketiga akan memberikan jaminan keyakinan yang memadai bagi para pimpinan bahwa pengendalian internal dalam manajemen telah dilaksanakan dengan efektif dan efisien.

Kesimpulan

Di era yang kompetitif dan sangat cepat akan perubahan, pengetahuan merupakan aset tak berwujud yang sudah semestinya dikelola dengan baik, terutama pada organisasi yang memberikan pelayanan, salah satunya organisasi auditor internal. Telah banyak biaya yang dikeluarkan untuk memberikan pelatihan, pengetahuan dan pengalaman bagi para auditor internal. Akan

tetapi saat mencapai purnanya atau berpindah tempat kerja, auditor tersebut akan berangkat dengan pengetahuan yang telah dimiliki tanpa menyisakan pengetahuan bagi organisasi.

Sehingga biaya akan terus dikeluarkan untuk investasi pengetahuan bagi auditor-auditor penerus. Oleh karena itu, perlu adanya inovasi dalam mengelola pengetahuan auditor internal agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik lagi dan dapat dimulai dengan membentuk CoP.

Sumber referensi:

1. Fontaine, M.A., Millen, D.R. 2004. Understanding the Benefits and Impact of Communities of Practice. Idea Group Inc., hal. 1-13.

2. https://en.wikipedia.org/wiki/Community_of_practice 3. https://wenger-trayner.com/introduction-to-

communities-of-practice/

(29)

JENIS MUTASI JENIS MUTASI VIRUS CORONA VIRUS CORONA DI DUNIA

DI DUNIA

Virus corona terdeteksi mengalami mutasi di beberapa negara dunia. Namun ahli mengingatkan, mutasi virus adalah hal normal karena virus-virus akan tetap ada.

1

Diduga muncul tak berapa lama setelah wabah wuhan. Virus ini diklaim 10 kali lebih menular dari Covid-19

D614G

2

Pertama kali terdeteksi di Inggris, dan sudah menyebar ke beberapa negara di dunia termasuk Indonesia.

B117

3

Diduga muncul tak berapa lama setelah wabah wuhan. Virus ini diklaim 10 kali lebih menular dari Covid-19

501.V2

4

Virus ini merupakan mutasi dari B117, menular lebih cepat.

Vaksin saat ini diduga tidak cukup ampuh.

E484K (EEK)

5

Mutasi virus awalnya diduga terdeteksi di Rusia. Sampai saat ini, Virus sudah menyebar ke Inggris, Swiss, dan Thailand.

B.1.1.317

Sumber: Republika.co.id INFOGRAFIS

INFOGRAFIS

(30)

PENGENDALIAN INTERN SPESIFIK DAN TANTANGAN ATAS BELANJA PENANGANAN

COVID-19

Penulis: Hadre Setia Hardeka, Inspektorat I

S

etahun sudah bangsa ini bergelut dengan SARS-CoV-2, yang belakangan telah bermutasi menjadi varian yang lebih

“tangguh”. Sejak pandemi Covid-19 ditetapkan sebagai Bencana Nasional Non- alam melalui Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020 pada Maret tahun lalu, berbagai langkah strategis telah diambil oleh Pemerintah hingga kini, misalnya pemberian stimulus fiskal.

Presiden pun telah menginstruksikan kepada Kementerian/Lembaga (K/L) dan Pemerintah Daerah untuk melakukan refocusing kegiatan, realokasi anggaran, serta pengadaan barang dan jasa dalam rangka percepatan penanganan Covid-19. Sederhananya, Presiden meminta

instansi pemerintah untuk turut mencurahkan tenaga dalam menangani pandemi dengan segala sumber daya yang dimiliki, khususnya anggaran. Tak ayal, rencana kerja dan anggaran pada tingkat pengguna anggaran pun mengalami beberapa kali revisi.

Putar otak juga dilakukan oleh negara lain dalam mengalokasikan dananya untuk menangani pandemi dan pemulihan ekonomi, meski dengan strategi yang berbeda-beda. Amerika Serikat menjadi negara teratas dalam hal nilai anggaran yang dialokasikan, yaitu sebesar 2,3 triliun dollar AS pada tahun 2020. Namun apabila dibandingkan dengan Produk Domestik

Sumber: https://productmanagementfestival.com/how-to-ensure-you-sell-your-product-online-guest-post/

(31)

Brutonya (PDB), Perancis lah yang paling banyak mengalokasikan anggarannya yaitu sebesar 21%

dari PDB. Tahun lalu Indonesia sendiri telah mengalokasikan sebesar Rp695,2 triliun untuk pelaksanaan program Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN).

Sampai dengan akhir Desember 2020, realisasi program PC-PEN mencapai Rp579,78 triliun atau 83,4% dari pagu.

Pandemi Covid-19 memang sangat luar biasa berdampak pada perekonomian dan tentu saja manajemen keuangan negara. Saking istimewanya, Kementerian Keuangan bahkan telah membuatkan akun khusus untuk belanja penanganan Covid-19. Pada tahun 2020, realisasi belanja negara adalah sebesar Rp2.589,9 triliun (naik 12,2% dibanding tahun sebelumnya), dengan porsi paling besar ada pada belanja Pemerintah Pusat yakni sebesar Rp1.827,4 triliun. Meski realisasi belanja negara mengalami peningkatan, ternyata belanja birokrasi pada K/L (seperti belanja perjalanan dinas, belanja bahan, honorarium) mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh refocusing kegiatan dan realokasi anggaran untuk penanganan pandemi yang merupakan instruksi Presiden.

Terlepas dari efektif atau tidaknya kebijakan yang diambil, masyarakat akan melihat “keseriusan”

Pemerintah dalam menangani pandemi dengan mengaitkannya dengan uang negara yang dibelanjakan. Direktur Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan secara khusus telah mewanti-wanti seluruh Entitas Akuntansi dan Entitas Pelaporan agar menyajikan secara wajar realisasi anggaran, hasil operasi, perubahan ekuitas, dan posisi keuangan disertai pengungkapan yang memadai dalam Catatan atas Laporan Keuangan sehubungan dengan pelaksanaan program PC-PEN serta dampak pandemi pada laporan keuangan. Hal ini menjadi

sesuatu yang baru di dalam penyusunan laporan keuangan tahun 2020, bisa jadi berlanjut untuk tahun ini atau hingga pandemi usai.

Pengendalian Intern pada Pelaporan Keuangan

Penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) untuk mewujudkan keandalan pelaporan keuangan dalam rangka pencapaian tujuan organisasi perlu dilakukan. Laporan keuangan yang andal akan meningkatkan akuntabilitas K/L maupun Pemerintah Pusat secara umum, hingga pada akhirnya akan mendongkrak kepercayaan publik atas pengelolaan keuangan negara.

Pengendalian Intern atas Pelaporan Keuangan (PIPK) merupakan pengendalian yang secara spesifik dirancang untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan yang dihasilkan andal dan disusun sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Selain amanat Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008, PIPK juga menjadi salah satu tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK RI atas LKPP Tahun 2015 yang merekomendasikan Pemerintah untuk menerapkan Control Self Assessment karena mayoritas K/L dirasa belum memahami SPIP, terlebih terkait pengendalian intern atas pelaporan keuangan.

PIPK harus diterapkan oleh seluruh Entitas Akuntansi dan Entitas Pelaporan, yang akrab disebut sebagai manajemen. Nantinya hasil penerapan PIPK oleh manajemen akan dinilai oleh tim penilai yang ditunjuk. Tak sampai di situ, hasil penilaian PIPK harus direviu oleh Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP). Dalam three lines of defense, manajemen bertindak sebagai lini pertama, tim penilai sebagai lini kedua, dan APIP sebagai lini terakhir, mirip dengan screening berlapis di bandara.

Gambar

Gambar 1. Program Pengandalian Internal (NSPL, 2010)

Referensi

Dokumen terkait

Audit investigatif dalam mendeteksi fraud di lingkungan pemerintahan diterapkan dengan cara auditor harus berfikir seperti pelaku fraud itu sendiri, dengan mendasarkan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cara seorang auditor melakukan pengujian pengendalian internal untuk menilai kewajaran aset suatu perusahaan adalah pertama

Risiko pengendalian baru dapat ditentukan apabila auditor melakukan pemahaman dan pengujian terhadap pengendalian intern.Dengan memahami pengendalian intern,

Langkah yang dilakukan dalam Fraud Risk Assesssment dengan menganalisa fraud triangle dan pengendalian internal yang dapat menyebabkan fraud, lalu melakukan analisa

Pelaksanaan audit internal yang baik pada umumnya akan menunjang pengendalian intern, Auditor selalu melakukan pemantauan terhadap laporan keuangan terutama mengenai

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cara seorang auditor melakukan pengujian pengendalian internal untuk menilai kewajaran aset suatu perusahaan adalah pertama

Oleh karena itu penulis mengambil judul penelitian “Pengoptimalan Peran Auditor dalam Sistem Pengendalian Internal Pengelolaan Aset untuk Meminimalisir terjadinya

Pengendalian internal sebagai strategi anti fraud Otoritas Jasa Keuangan yang merupakan salah satu pilar dalam penerapannya, dilakukan dengan memonitor tindak lanjut atas tindakan fraud