• Tidak ada hasil yang ditemukan

Belajar Mandiri

Dalam dokumen Pedoman PK2 2017 Final (Halaman 107-111)

BAB 4 MODEL PEMBELAJARAN DAN STRATEGI BELAJAR DI PERGURUAN

4.4.1. Belajar Mandiri

Belajar mandiri bukan berarti belajar sendiri tetapi mahasiswa diharapkan mampu memanfaatkan buku untuk dibaca dan diselesaikan sendiri. Belajar mandiri lebih ditekankan kepada bagaimana mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan atas inisiatif sendiri. Dengan demikian, kata kunci belajar mandiri adalah “inisiatif

sendiri”. Belajar mandiri ini sesuai dengan konsep Student Center Lea rning (SCL), yaitu mahasiswa diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk membangun pengetahuannya sendiri, sesuai dengan paradigma pembelajaran konstruktivistik,

78 PEDOMAN PK2 DAN P2MABA|

sehingga dalam kondisi ini dosen lebih banyak berperan sebagai pengarah, motivator, dan fasilitator dalam proses belajar mahaiswa.

Ciri-ciri orang yang mampu belajar mandiri adalah adanya kemampuan seseorang dalam mengambil inisiatif sendiri (tanpa harus dipaksa) untuk memanfaatkan semua sumber belajar yang dapat diaksesnya; dan mampu menyusun rencana belajar mulai dari mingguan, bulanan, dan semesteran sampai selesai program. Agar seseorang mampu mengembangkan kemampuan belajar madiri, mahasiswa perlu: mengenal konsep diri, tahu tentang pengertian motivasi, self- efficacy, dan gaya belajar pribadi.

Salah satu hal penting yang mengharuskan mahasiswa baru belajar mandiri, karena di perguruan tinggi menggunakan sistem SKS, yang berbeda dengan saat di sekolah yang menggunakan sistem paket. Pada sistem kredit semester, setiap matakuliah memiliki bobot SKS yang berbeda. Namun demikian, yang perlu dipahami bahwa setiap SKS mengandung tiga hal, yaitu setiap 1 SKS mempunyai konsekuensi mahasiswa harus mengikuti perkuliahan (kegiatan tatap muka) selama 50 menit, mengerjakan tugas terstruktur selama 60 menit, dan tugas mandiri selama 60 menit, sehingga bisa dibayangkan berapa jam setiap minggu mahasiswa harus belajar, bila pada awal perkuliahan dipaket sebanyak 20 SKS. Oleh karenanya, tidaklah mudah belajar di perguruan tinggi, tetapi dibutuhkan kemandirian dan kesadaran belajar yang cukup tinggi.

a. Konsep Diri

Konsep diri bukan merupakan pembawaan sejak lahir, melainkan terbentuk melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan. Hasil dari penyesuaian diri seseorang dengan lingkungan disebut Konsep Diri. Konsep diri merupakan semua perasaan dan pemikiran seseorang mengenai dirinya sendiri. Konsep diri meliputi (1) kemampuan; (2) karakter diri; (3) sikap; (4) tujuan hidup; (5) kebutuhan; dan (6) penampilan diri. Konsep diri bisa bersifat negatif dan positif. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 4.1 berikut.

KONSEP DIRI

Tantangan

Halangan Kesempatan

Konsep diri negatif Konsep diri positif

Optimistik kegagalan

Pesimistik kegagalan

| MODEL PEMBELAJARAN DAN STRATEGI BELAJAR DI PERGURUAN TINGGI 79 Konsep diri negatif terjadi jika mahasiswa meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, dan tidak disukai. Konsep diri yang negatif ini dapat menyebabkan orang tersebut kehilangan semangat hidup. Sementara itu, konsep diri positif terjadi bila seseorang terkesan lebih pada kondisi opt imistis, penuh percaya diri, dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya.

b. Proses Pembentukan Konsep Diri

Lingkungan, pengalaman, dan pola asuh orang tua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk. Konsep diri ini mempunyai sifat yang dinamis, artinya tidak luput dari perubahan, sedangkan untuk mengubah konsep diri bisa dengan cara bersikap objektif dalam mengenali diri sendiri, menghargai diri sendiri dan orang lain, dan berpikir positif.

c. Motivasi

Motivasi merupakan salah satu prasyarat yang paling penting dalam belajar (Slavin, 1991). Bila tidak ada motivasi, tidak akan terjadi proses belajar. Seseorang melakukan sesuatu biasanya memiliki alasan tertentu. Misalnya, mengapa Anda mengikuti pendidikan di UNEJ? Ada relevansi antara apa yang dipelajari dengan kebutuhan atau minat seseorang. Oleh karenanya, beberapa faktor yang dapat mempengaruhi motivasi yaitu minat, kesesuaian/relevansi, harapan, dan kepuasan. Sementata itu, strategi yang dapat dipakai untuk menumbuhkan motivasi yaitu: (1) mencari manfaat dari semua kegiatan belajar mandiri Anda; (2) menciptakan minat; (3) memberikan pujian terhadap keberhasilan; dan (4) memanfaatkan waktu Anda saat ini dengan baik.

d. Self Efficacy

Self-effica cy mengacu pada penilaian seseorang terhadap kemampuan dirinya dalam mengorganisasi dan melaksanakan suatu kegiatan atau tugas. Misalnya, apakah saya mampu untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan" berkaitan dengan self-effica cy? Pentingnya self effica cy bagi seseorang karena dapat mempengaruhi pola pikir, tingkat motivasi seseorang, dan mempengaruhi banyaknya stres serta depresi.

Beberapa cara untuk mengetahui self effica cy, seperti dari kinerja/performa nce, memperhatikan model teman sebaya, dari komentar orang lain, dan dari gejala fisik (body symptoms), sedangkan kiat untuk meningkatkan self efficacy dapat dilakukan dengan cara: merumuskan kemampuan yang ingin dicapai dengan jelas; mencari bantuan orang lain; mempelajari strategi yang tepat untuk mengerjakan tugas/pekerjaan; memilih pekerjaan yang sederhana dan mudah untuk

80 PEDOMAN PK2 DAN P2MABA|

berhasil; banyak berlatih, memulai dengan keberhasilan yang sedikit; memastikan untuk mempunyai sikap positif, maka segalanya akan berubah.

e. Gaya Belajar

Gaya belajar adalah cara yang dipilih seseorang dalam memproses informasi yang diperoleh. Berdasarkan pengaruh indrawi, gaya belajar dapat dikategorikan menjadi: gaya belajar auditori, visual, dan kinestetik/ta ctile. Gaya belajar a uditory adalah gaya belajar yang lebih mengandalkan kegiatan yang dilakukan melalui pendengaran. Misalnya, mahasiswa baru akan dapat belajar dengan baik bila mendengarkan penjelasan dari dosen, melalui diskusi, mendengarkan ta pe, dan membaca dengan suara keras.

Gaya belajar kinestetik terjadi me lalui proses sentuhan atau melakukan praktek secara fisik; memegang suatu objek secara langsung, dan memindahkan komponen atau benda-benda. Gaya belajar visual misalnya untuk memahami suatu pelajaran akan lebih baik bila dilakukan melalui informasi yang disampaikan dalam bentuk bahasa visual, sedangkan gaya belajar multi inderawi merupakan gaya belajar yang menggunakan gabungan dari semua indera kita.

Selain gaya belajar di atas, di bawah ini disajikan dalam bentuk gambar tentang model belajar mulai dari yang paling efektif hingga yang paling kurang efektif. Ternyata gaya belajar yang hanya mengandalkan pada proses membaca (verba l receiving) hanya memberikan kontribusi antara 10% hingga 30% , sehingga model ini lebih bersifat pasif. Model belajar verba l receiving memberikan kontribusi antara 50%. Model partisipasi memberikan kontribusi sekitar 70% dan model belajar yang diikuti dengan melakukan kegiatan memberikan kontribusi yang paling besar yaitu sekitar 90%. Hal itu dapat dilihat pada Gambar 4.2 berikut ini.

Reading Hearing words Looking at picture Looking at an exhibition Participating in a discussion Watching video Watching a demonstration Seeing it done on location

Giving a talk Doing a Dramatic Presentation Simullating the Real Experience Doing the Real Thing 90% 70% 50% 30% 20% 10% P A S S IV E A CT IV E TINGKAT MEMORISASI Verbal reciving Visual receiving Partici- pating Doing TINGKAT KETERLIBATAN MODEL PEMBELAJARAN

| MODEL PEMBELAJARAN DAN STRATEGI BELAJAR DI PERGURUAN TINGGI 81

Dalam dokumen Pedoman PK2 2017 Final (Halaman 107-111)

Dokumen terkait