DAFTAR PUSTAKA
1.1 Latar belakang
Usaha budidaya udang di Indonesia diawali dengan budidaya udang windu
(Penaeus monodon) dan udang putih (Penaeus merguiensis). Introduksi udang vannamei dilakukan pertama kali pada tahun 2001. Introduksi udang vannamei
dilakukan dengan maksud membangkitkan kembali usaha pertambakan udang
karena budidaya udang windu masih banyak menemui kendala. Udang vannamei
dipilih sebagai komoditi budidaya salah satunya adalah karena sifat Spesific Patogen Free (SPF). Hasil produksi budidaya udang vannamei menurut data statistik perikanan tahun 2009 dalam Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
(2009) mencapai 170.969 ton dan merupakan jenis udang dengan tingkat
produksi tertinggi dibandingkan dengan jenis udang lainnya.
Usaha budidaya tambak tersebar hampir diseluruh daerah pesisir dengan
tingkat pemanfaatan yang berbeda. Menurut Departemen Kelautan dan
Perikanan (2005), tingkat pemanfaatan lahan di Jawa Barat untuk budidaya air
payau mencapai taraf 91,11%. Menurut Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
(2009) hingga tahun 2009 tingkat pemanfaatan lahan untuk tambak di Indonesia
mencapai 606.680 ha atau 57,91% dari seluruh lahan budidaya.
Budidaya tambak memiliki komponen keruangan serta perbedaan
karakteristik biofisik dan sosial ekonomi dari setiap lokasi. Banyak usaha
budidaya tambak intensif belum memanfaatkan kelebihan sistem informasi
geografis dalam melakukan pemilihan lokasi dan pengelolaan budidaya, dimana
hal tersebut penting dilakukan untuk menghindari kegagalan usaha. Kebutuhan
informasi spasial bagi pengambil keputusan untuk mengevaluasi karakteristik biofisik dan sosial ekonomi sebagai bagian dari perencanaan pengelolaan
Travaglia 1995). Kelebihan SIG sebagai sistem informasi berbasis keruangan
pun dapat digunakan sebagai dasar dalam membangun sistem informasi pengelolaan budidaya. Sistem informasi pengelolaan budidaya tambak udang
dapat memudahkan proses manajemen dan evaluasi budidaya untuk
pengambilan keputusan.
1.2 Perumusan masalah
Keberadaan usaha budidaya tambak PT. Indonusa Yudha Perwita (PT.IYP)
di pesisir kecamatan Patrol, menimbulkan pertanyaan mengenai kesesuaian
lahan dan proses pengelolaan data kegiatan budidaya dalam usaha tambak yang
masih berproduksi. Hal tersebut didasarkan pada kondisi tambak di Pantai Utara
Jawa yang sebagian besar telah mengalami kegagalan dan menyebabkan
kerusakan lingkungan, khususnya di pesisir Indramayu yang terkena abrasi
(Bapeda Indramayu 2007). Evaluasi kesesuaian lahan terhadap tambak yang
masih berproduksi berkaitan dengan pernyataan Pillay dan Kutty (2005) yakni
untuk keberhasilan usaha budidaya, maka pemilihan lokasi menjadi suatu
kepentingan yang mendasar. Evaluasi dilakukan untuk mengkaji pengaruh
kesesuaian lokasi terhadap keberhasilan produksi yang telah dicapai. Proses
evaluasi dilakukan dengan memanfaatkan kelebihan Sistem Informasi Geografis
(SIG). Sistem Informasi Geografis telah banyak digunakan dalam proses
pemilihan lokasi budidaya tambak (Salam dan Ross 2000; Nath et al. 2000; Salam et al. 2003). Fungsi SIG adalah sebagai uji dasar dalam mempelajari lingkungan dan memungkinkan manajer menguji konsekuensi dari berbagai
langkah sebelum terjadi kesalahan pengambilan keputusan (Kapetsky dan
Travaglia 1995). Pengetahuan yang kurang memadai tentang area potensial sering menjadi hambatan pembangunan akuakultur yang rasional dan berjangka
Manajemen budidaya mencakup semua aspek teknis, seperti penggunaan air
dan kualitasnya, komoditi budidaya, proses produksi, hingga identifikasi dan pemecahan masalah produksi. Penanganan data budidaya secara konvensional
menyebabkan proses evaluasi data membutuhkan waktu lama. Hal tersebut
tentunya cukup menghambat, mengingat evaluasi bukanlah hal utama yang
sangat diperlukan, namun merupakan suatu langkah sehat yang sangat
membantu dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas (Meade 1989).
Proses evaluasi terhadap kegiatan budidaya akan dipermudah dengan adanya
suatu sistem informasi. Sistem informasi berperan sebagai pengaman data dari
setiap kolam tambak, dan sebagai alat pemroses data budidaya menjadi suatu
informasi yang mendukung proses pengambilan keputusan.
Penggunaan SIG untuk mengevaluasi kembali suatu lokasi budidaya tambak,
sekaligus sebagai acuan dalam pengelolaan data budidaya belum banyak
dilakukan, sehingga perlu dicoba untuk diterapkan pada tambak yang masih
berproduksi. Selama menjalankan proses produksi, PT. IYP belum memiliki
informasi mengenai kesesuaian lahan untuk lokasi tambaknya, selain itu, metode
pengelolaan data budidaya pun masih dilakukan secara manual. Perumusan
masalah dituangkan dalam diagram alir pada Gambar 1.
1.3 Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
- Mengevaluasi kesesuaian lokasi budidaya tambak udang PT. IYP
- Mengembangkan sistem pengelolaan data budidaya tambak PT. IYP
- Menggunakan sistem informasi dalam pengkajian kesesuaian lahan dan keberhasilan operasional budidaya tambak PT. IYP
1.4 Manfaat penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh adalah :
- Informasi kesesuaian lokasi budidaya tambak PT. Indonusa Yudha Perwita
- Sistem informasi pengelolaan budidaya tambak yang dihasilkan dapat digunakan sebagai tool dalam manajemen, evaluasi, serta early warning system usaha budidaya tambak.
Gambar 1. Diagram alir perumusan masalah Hubungan kesesuaian
lokasi terhadap hasil produksi sebagai ukuran keberhasilan operasional Tambak PT. IYP Hasil evaluasi kesesuaian lahan? Manajemen data budidaya dilakukan secara konvensional Sesuai Tidak sesuai
Output dapat digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan operasional
tambak
Kendala dalam proses evaluasi kegiatan
budidaya
Pengelolaan data budidaya dalam bentuk sistem informasi
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Budidaya tambak
Budidaya tambak merupakan kegiatan pemeliharaan untuk memperbanyak
(reproduksi), menumbuhkan serta meningkatkan mutu biota akuatik di dalam suatu kolam, dan agar dapat diperoleh suatu hasil yang optimal maka perlu
disiapkan suatu kondisi tertentu yang sesuai bagi komoditas yang akan
dipelihara (Effendi 2009). Dahuri et al. (1997) menyatakan bahwa agar budidaya perairan dapat berkelanjutan dan optimal, maka pemilihan lokasi harus dilakukan
secara benar dan menurut pada kaidah- kaidah ekologis dan ekonomi.
2.2 Sistem budidaya tambak udang intensif
Sistem budidaya udang yang diterapkan di Indonesia ada beberapa tingkatan
yaitu tradisional, semi intensif dan sistem intensif. Perbedaan yang menonjol dari
ketiga tingkatan tersebut adalah pada segi pengaturan lingkungan hidup, jenis
pakan, padat tebar, modal dan luas lahan, serta pengendalian hasil.
Budidaya sistem intensif umumnya dikembangkan pada daerah non-pasang
surut, tambak dapat diairi, dikeringkan dan dipersiapkan secara lengkap sebelum
masa penebaran benih, dan sistem tambak ini banyak dikembangkan pada lokasi
yang jauh dari laut, dimana daerahnya bersalinitas rendah. Sistem ini umum
dikembangkan pada daerah Asia dan di Eropa yang sedang mencoba untuk
meningkatkan produktivitas. Sistem intensif mempunyai petakan yang lebih kecil
antara 0,2 - 0,5 ha, menggunakan kincir, penggantian air dilakukan 3 - 4 hari
sekali, dan untuk memudahkan, pengelolaan air dan pengawasan ditangani
tenaga ahli dan didukung teknik yang canggih mulai awal penanaman, pemeliharaan sampai pasca panen. Padat tebar benur udang vannamei secara
intensif dapat lebih tinggi dari padat tebar udang windu, yakni >70 ekor/ m2
Usaha peningkatan produksi udang vannamei dapat dilakukan melalui
pemberian pakan yang tepat baik secara kualitas maupun secara kuantitas, yang merupakan syarat untuk mendukung pertumbuhan udang (Tahe 2008). Pakan
buatan berkualitas tinggi dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisional dari
spesies yang dibudidayakan, dimana pemberian pakan secara menyeluruh ada
dibawah pengawasan manusia. Budidaya udang intensif dilakukan dengan teknik
yang canggih dan memerlukan input biaya yang besar, sebagai imbangan dari
input tinggi, maka dapat dicapai volume produksi yang sangat tinggi pula (Chamberlain 1991; Effendi 1998; Midlen dan Redding 2000; Jory dan Cabrera
2003; Amri dan Kanna 2008).
2.3 Udang vannamei
Udang vannamei termasuk pada famili Penaidae yaitu udang laut. Udang
vannamei berasal dari Perairan Amerika Tengah. Negara di Amerika Tengah dan
Selatan seperti Ekuador, Venezuela, Panama, Brasil, dan Meksiko sudah lama
membudidayakan jenis udang yang juga dikenal dengan nama pacific white shrimp.
Vannamei banyak diminati, karena memiliki banyak keunggulan antara lain,
relatif tahan penyakit, pertumbuhan cepat (masa pemeliharaan 100 - 110 hari),
padat tebar tinggi, sintasan pemeliharaan tinggi dan Feed Convertion Ratio
rendah (Hendrajat et al. 2007). Tingkat kelulushidupan vannamei dapat mencapai 80 - 100% (Duraippah et al. 2000), dan menurut Boyd dan Clay (2002), tingkat kelulushidupannya mencapai 91%. Berat udang ini dapat bertambah lebih
dari 3 gram tiap minggu dalam kultur dengan densitas tinggi (100 udang/m2).
Ukuran tubuh maksimum mencapai 23 cm. Berat udang dewasa dapat mencapai
sekitar 1 gram/ minggu. Udang betina tumbuh lebih cepat daripada udang jantan
(Wyban et al. 1995).
Udang vannamei termasuk hewan omnivora yang mampu memanfaatkan pakan alami yang terdapat dalam tambak seperti plankton dan detritus yang ada
pada kolom air sehingga dapat mengurangi input pakan berupa pelet. Kandungan protein pada pakan untuk udang vannamei relatif lebih rendah
dibandingkan udang windu. Menurut Briggs et al. (2004), udang vannamei membutuhkan pakan dengan kadar protein 20-35%.
Budidaya udang vannamei sangat dipengaruhi oleh faktor internal atau
eksternal lingkungan tambak. Kualitas benih, persiapan tambak, manajemen
kualitas air, manajemen pakan, maupun cuaca sangat menentukan keberhasilan
budidaya udang. Manipulasi manajemen budidaya sangat diperlukan untuk
meningkatkan produksi udang putih, salah satunya adalah dengan manipulasi
kepadatan tebar (Wardiyanto 2008).
2.3.1 Klasifikasi Udang Vannamei
Klasifikasi udang vannamei (Gambar 2) menurut Boone (1931) adalah :
Kingdom: Animalia Phylum: Arthropoda Subphylum: Crustacea Class: Malacostraca Order: Decapoda Suborder: Dendrobranchiata Family: Penaeidae Genus: Litopenaeus Species: L. vannamei
Gambar 2. Udang vannamei (L.vannamei)
2.4 Pengembangan lokasi budidaya tambak di pesisir
Upaya pembukaan lahan budidaya tambak beserta pengembangannya
seharusnya memperhatikan peraturan seperti tertuang dalam UU no. 5/1990 Bab
I Pasal 5 yaitu :
a. perlindungan sistem penyangga kehidupan
b. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta
ekosistemnya
c. pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.
Pertimbangan bagi lahan pesisir untuk usaha pertambakan ditentukan oleh
kualitas dan karakteristik tanah kolam, kualitas dan kuantitas sumber air (asin
dan tawar), kemudahan pengisian dan pembuangan air khususnya dengan
memanfaatkan pasang surut, topografi, kondisi klimatologi daerah pesisir dan
hulu (Pillay dan Kutty 2005).
Wilayah Pantai Utara Jawa adalah contoh pesisir yang telah mengalami
tingkat pemanfaatan lahan untuk budidaya air payau sebesar lebih dari 90%,
namun kerusakan ekosistem mangrove yang parah telah menyebabkan
kegagalan dalam pengembangannya. Kegagalan budidaya udang cukup tinggi karena kegiatan tersebut tidak mempertimbangkan daya dukung tambak dan
yang berorientasi pada optimalisasi produksi menjadi salah satu penyebab
tingginya tingkat kegagalan akibat terjangkit virus dan penyakit atau kualitas udangnya terus menurun (Nurdjana 2005).
2.5 Kesesuaian lokasi usaha tambak
Kesesuaian lahan (land suitability) merupakan kecocokan (adaptability) suatu lahan untuk tujuan penggunaan tertentu, melalui penentuan nilai (kelas) lahan
serta pola tata guna tanah yang dihubungkan dengan potensi wilayahnya,
sehingga dapat diusahakan penggunaan lahan yang lebih terarah berikut usaha
pemeliharaan kelestariannya (Hardjowigeno 2001). Kapetsky dan Travaglia
(1995) menekankan bahwa investor yang tertarik dalam bidang pengembangan
budidaya juga membutuhkan informasi spasial khususnya pada saat pemilihan
lokasi dari beberapa alternatif pilihan lokasi yang memiliki perbedaan
karakteristik biofisik dan sosial ekonomi. Penilaian kesesuaian lahan merupakan
suatu penilaian secara sistematik dari lahan dan menggolongkannya ke dalam
kategori berdasarkan persamaan sifat atau kualitas lahan yang mempengaruhi
kesesuaian lahan bagi suatu usaha tertentu (Bakosurtanal 1996).
Menurut Rossiter (1996), evaluasi kesesuaian lahan sangat penting dilakukan
karena lahan memiliki sifat fisik, sosial, ekonomi dan geografi yang bervariasi
atau dengan kata lain lahan diciptakan tidak sama. Adanya variasi sifat tersebut
dapat mempengaruhi penggunaan lahan yang sesuai, diantaranya untuk
budidaya tambak.
Lokasi budidaya tambak di pesisir harus memperhatikan keberadaan dan
kelestarian mangrove, karena kawasan mangrove memiliki peranan yang sangat
penting, maka diperlukan pengelolaan yang pada dasarnya memberikan legitimasi agar dapat tetap lestari. Penetapan jalur hijau mangrove sebagai
Pertanian dan Menteri Kehutanan Nomor KB.550/264/Kpts/4/1984 dan Nomor
082/Kpts-II/1984, yang menyebutkan bahwa lebar sabuk hijau mangrove adalah 200 m. Surat Keputusan tersebut kemudian dijabarkan melalui Surat Edaran
Nomor 507/IV-BPHH/1990 tentang penentuan lebar sabuk hijau hutan mangrove,
yaitu sebesar 200 meter di sepanjang pantai dan 50 m disepanjang tepi sungai.
Keputusan tersebut diperkuat dengan Keputusan Presiden No.32 tahun 1990
tentang pengelolaan kawasan lindung, yakni lebar jalur hijau (m) adalah 130 x
rata- rata tunggang air pasang purnama (tidal range).
Beberapa komponen penting yang harus diperhatikan guna mewujudkan
keberhasilan usaha tambak yaitu pasokan air, topografi, tipe tanah, vegetasi,
elevasi, serta pengaruh aliran sungai dan banjir (Rabanal et al. 1976, diacu dalamAbdurrahman 2004). Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan
kesesuaian lokasi tambak, antara lain:
2.5.1 Sumber air dan kualitasnya
Salah satu faktor yang menunjang kelangsungan usaha tambak udang adalah sumber air laut. Laut adalah sumber utama pemasok air bagi
pertambakan air payau. Pasokan air tawar untuk tambak dapat diperoleh dari
aliran sungai, saluran irigasi untuk sawah, dan sumur air tanah (Poernomo 1992).
Tambak dibangun dipinggir pantai untuk kemudahan pengairan, yakni
pengisian dengan air laut atau air payau (Kordi dan Tancung 2007). Tambak
udang biasanya dikembangkan di kawasan intertidal, pada area terlindung dekat
sungai, muara sungai, dan area mangrove. Selain sebagai sumber pasokan air,
kedekatan tambak dengan pantai bertujuan untuk mencapai kesempurnaan
pengeluaran air limbah. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap proses pengeringan dasar tambak yang lebih baik, dengan catatan bahwa lokasi
Diluar kuantitas pasokan air yang cukup, kualitas air perlu diperhatikan dalam
usaha tambak. Persyaratan mutu air tambak untuk budidaya udang ditampilkan dalam Tabel 1.
Tabel 1. Kualitas air tambak udang
No Parameter Satuan Nilai Ditoleransi Optimum A. Fisika 1 Temperatur (****) °C 23 – 33 26 – 30 2 Salinitas (**) ‰ 10,0 – 35,0 15,0 – 20,0 B. Kimia
3 Oksigen terlarut (DO) (*) mg/l 3 4,0 – 8,0
4 pH (****) 6,0 – 9,0 7,5 – 8,5 5 BOD (**) mg/l < 45 < 10 6 NH3 (amonia) (***) Ppm 0,1 0 7 Nitrit (NO2) (**) Ppm < 0,5 0 8 Alkalinitas (***) mg/l 20 80 – 120 9 Organofosfat (***) Ppm < 0,10 0
Sumber: (*)Boyd (1991); (**)Wyban dan Sweeny (1991); (***)Effendi (2003); (****)Amri dan Kanna (2008)
2.5.2 Karakteristik tanah
Tanah yang baik untuk pertambakan adalah liat berpasir atau liat berlumpur.
Tanah tambak umumnya terbentuk dari hasil endapan (alluvial), sehingga kesuburannya sangat ditentukan oleh jenis dan kualitas material yang
diendapkannya (Afrianto dan Liviawaty 1991). Kualitas tanah tambak berperan
penting dalam usaha budidaya tambak, bukan hanya karena pengaruhnya
terhadap produktivitas maupun kualitas air yang berada diatasnya, namun juga
karena faktor kesesuaiannya untuk konstruksi pematang dan selokan disekitar
tambak (Pillay dan Kutty 2005).
Kemampuan tambak dalam menahan volume air didalamnya dipengaruhi
oleh karakteristik tanah. Tekstur dan porositas adalah dua properti fisik yang
paling penting, dimana tekstur bergantung pada proporsi konstituen tanah
berlumpur (silty clay), lempung berliat (clay loam), lempung liat berlumpur (silty clay loam) dan liat berpasir (sandy clay) lebih sesuai untuk konstruksi tambak. Hal ini dikarenakan tekstur tersebut memiliki luas permukaan yang lebih besar
dan dengan demikian dapat menyerap lebih banyak nutrien dan menahan
kemudian melepaskan kembali untuk pembentukan bahan organik dalam tambak
(Pillay dan Kutty, 2005). Karakteristik tekstur tanah ditunjukkan dalam Tabel 2.
Pada tambak udang intensif diperlukan dasar tambak yang kompak dan keras
agar kualitas dasar tambak dapat dipertahankan selama periode pemeliharaan.
Tabel 2. Hubungan antara tekstur tanah dengan kelayakannya sebagai lahan tambak
Tekstur tanah Permeabilitas Kepadatan Kelayakan
Liat (Clay) Kedap air Cukup Sangat baik
Liat berpasir (Sandy
clay) Kedap air Baik Baik
Lempung (Loam) Semi kedap air Sedang Sedang
Silty Semi kedap air Jelek - baik Jelek
Peaty Kedap air Jelek Buruk
Sumber: Afrianto dan Liviawaty (1991)
2.5.3 Topografi
Usaha budidaya tambak sebaiknya memilih lokasi yang datar dan tidak lebih tinggi dari pasang tertinggi atau lebih rendah dari surut terendah. Hal tersebut
berkaitan dengan kemudahan dalam penggalian dan perataan tanah, pergantian
air tambak dan pengeringan serta menghindari kesulitan dalam pengelolaan air
(Poernomo 1992). Pada tanah bergelombang dimungkinkan terjadinya
penggalian tanah yang banyak dan menyebabkan lapisan tanah yang subur terbuang. Tanah yang datar umumnya memiliki tingkat kelerengan sekitar 0 – 3% (Jamulya dan Sunarto 1996).
2.5.4 Curah hujan
Daerah yang ideal untuk dijadikan lahan tambak adalah daerah dengan curah hujan 2000 mm/ tahun dengan bulan kering 2 -3 bulan. Apabila curah hujan
melebihi 2000 mm/ tahun dan tidak terdapat bulan kering atau hujan sepanjang
tahun, maka akan menimbulkan masalah besar. Kondisi seperti ini sangat
penting untuk diperhatikan, agar tambak dapat berproduksi lebih baik dan stabil,
untuk memperbaiki sifat fisik tanah, meningkatkan mineralisasi bahan organik,
dan menghilangkan bahan toksik seperti H2S, serta untuk menumbuhkan pakan
alami dalam tambak, maka perlu dilakukan pengeringan dasar tambak secara
rutin menjelang penebaran benur, yang mana semua hal tersebut memerlukan
bulan kering (Soeseno 1988)
2.5.5 Pasang surut
Dua hal yang berkenaan dengan pasang surut adalah proses pemasukkan
dan pembuangan air dalam proses produksi tambak. Pola pasang surut air akan
mempengaruhi tipe dan manajemen tambak serta biaya operasinya. Agar
kelancaran pengelolaan terjamin baik perlu diperhatikan agar tambak terletak
pada lokasi dimana pasang- surutnya menguntungkan (Poernomo 1992).
Kisaran fluktuasi pasang surut air laut yang dianggap memenuhi persyaratan
untuk tambak adalah 1,7 – 2 meter. Jika suatu daerah memiliki fluktuasi pasang surut lebih dari dua meter, maka daerah tersebut membutuhkan pematang ekstra
kuat untuk menahan air pasang. Daerah dengan tunggang pasut lebih rendah
dari 1,7 meter menyebabkan kurangnya suplai air untuk memenuhi kebutuhan
tambak, namun masih dapat dijadikan sebagai tambak, dengan memanfaatkan
pompa untuk membantu mengalirkan air dari dan ke dalam tambak (Martosudarmo dan Ranoemihardjo 1992). Gedrey et al. (1984), diacu dalam Pillay dan Kutty (2005) mengestimasi bahwa konstruksi dan pengoperasian
usaha tambak dengan sistem pompa akan lebih ekonomis daripada tambak yang
bergantung pada pasang surut.
2.6 Data
Data merupakan sekumpulan fakta mentah yang mewakili kejadian yang berlangsung dalam organisasi atau lingkungan fisik sebelum ditata dan diatur ke
dalam bentuk yang dapat dipahami dan digunakan orang (Laudon dan Laudon
1998). Data dapat diolah lebih lanjut untuk menjadi sesuatu yang lebih
bermakna, dan selanjutnya disimpan dalam database.
2.7 Informasi
Informasi memiliki pengertian berbeda dengan data. Informasi merupakan hasil olahan data sehingga lebih bermakna. Hoffer et al. (2005) menyatakan bahwa informasi adalah data yang telah diproses sedemikian rupa sehingga
meningkatkan pengetahuan seseorang yang menggunakannya. Informasi dapat
sangat berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam pengambilan keputusan
saat ini atau di masa mendatang (Davis 1999). Pemrosesan data menjadi
sebuah informasi (Gambar 3) dapat melalui beberapa tahap seperti peringkasan,
pererataan, penyajian dalam bentuk grafik, atau pemrosesan lainnya, dengan
tujuan memudahkan interpretasi bagi pengguna (Kadir 2009).
Gambar 3. Data, proses, dan informasi
Data Informasi PROSES - Peringkasan - Penyajian grafik - Pengolahan - Transformasi
2.8 Database
Database adalah kumpulan terorganisir dari data yang secara nalar saling berkaitan (Hoffer et al. 2005). Menurut Prahasta (2009) database atau basis data adalah kumpulan data non-redundant yang saling terkait satu sama lainnya, dalam usaha membentuk bangunan informasi yang penting (enterprise) dan dapat digunakan bersama oleh sistem aplikasi yang berbeda. Penerapan
database dalam suatu sistem informasi dinamakan database sistem, yaitu sebuah sistem informasi yang mengintegrasikan kumpulan data yang saling
berhubungan, dan membuatnya tersedia untuk beberapa aplikasi (Kadir 2008).
Komponen- komponen utama dalam sebuah sistem database adalah perangkat keras (hardware), sistem operasi, database, sistem pengelola database (DBMS), pemakai (user), dan aplikasi (perangkat lunak) lainnya (optional) (Fathansyah
2002).
Database dikelola dengan perangkat lunak yang memungkinkan pengguna memakai, memelihara dan mengakses sumberdaya data secara efisien yakni
DBMS atau Database Management System. Kelebihan penggunaan DBMS adalah mengurangi duplikasi data dan untuk keamanan data (Mulyanto 2009).
Kecenderungan peningkatan penggunaan DBMS adalah dalam pengelolaan data
SIG dan data non-spasial. Hampir semua Sistem Informasi Geografis yang
bersifat komersil turut menyertakan beberapa bentuk dari DBMS (Aronoff 1991).
2.8.1 Database Relasional
Database relasional adalah jenis database yang menggunakan model data relasional, dan merupakan jenis database yang sering digunakan saat ini. Model
database relasional terdiri dari data yang direpresentasikan dalam bentuk tabel yang terdiri dari sejumlah baris dan kolom, yang ternormalisasi dengan field kunci sebagai penguhubung relasional antar tabelnya. Model data relasional memiliki
beberapa kelebihan, antara lain cenderung mudah diakses, fleksibel, mudah
dikembangkan strukturnya, serta operasi penambahan atau pengurangan yang diberlakukan tidak menyebabkan anomali atau perubahan hubungan antar tabel
(Prahasta 2009).
Kadir (2009) mengungkapkan bahwa setiap tabel dalam database model relasional dapat berhubungan yang dibentuk melalui mekanisme kunci primer
(primary key) dan kunci asing (foreign key). Kunci primer berperan sebagai identitas yang unik dari setiap record, sedangkan kunci asing adalah kolom yang berperan sebagai penghubung dengan kunci primer di tabel lain (Mulyanto 2009).
Ilustrasi hubungan antar tabel dalam model database relasional ditunjukkan dalam Gambar 4.
Gambar 4. Kunci primer dan kunci asing dalam hubungan antar relasi
2.9 Sistem Informasi
Sistem informasi didefinisikan sebagai sistem yang mengumpulkan,
memproses, menyimpan, menganalisis, dan menyebarkan informasi untuk tujuan
yang spesifik (Turban et al. 1999). Komponen dalam sistem informasi adalah Nomer_Mahasiswa Nama Tanggal_Lahir Kelamin
55 Ridwan 20/03/1991 Pria 56 Sari 3/1/1992 Wanita 57 Ida 22/7/1991 Wanita 58 Slamet 19/9/1991 Pria
Nomer_Mahasiswa Kode_MK Nilai 53 DB001 A 54 P1001 B 55 DB001 B 55 DB001 A Kode_MK Nama_MK SKS DB001 Pengenalan Database 3 DB002 Pemrograman Database 3 P1001 Dasar Multimedia 2 P1002 Pemrograman Multimedia 3 Kunci primer Kunci primer Kunci primer Kunci tamu Kunci tamu
manusia, perangkat keras, perangkat lunak, data, dan jaringan. Sistem Informasi
memiliki beberapa aktivitas yaitu input, proses, output, penyimpanan, dan pengendalian. Input merupakan proses memasukkan data. Pemrosesan dalam sistem informasi adalah melakukan pengolahan data dengan operasi
matematika. Aktivitas output memberikan hasil dalam bentuk laporan, gambar, grafik, berkas, audio maupun video. Mekanisme penyimpanan dalam sistem
informasi adalah aktivitas menyimpan data dan informasi secara teratur untuk digunakan kemudian (O’Brien 2005). Komponen sistem informasi dalam aktivitas sistem informasi dituangkan dalam Gambar 5.
Sumber: O’Brien (2005)
Gambar 5. Komponen sistem informasi dalam aktivitas sistem informasi
Tujuan sistem informasi menurut Budihar (1995) adalah menyediakan dan
mensistematisasikan informasi yang merefleksikan seluruh kegiatan yang