• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. Metode Penelitian

5. Analisis Bahan Hukum

Bahan-bahan hukum primer, sekunder dan tersier yang telah diperoleh dan relevan dengan pokok permasalahan dalam penelitian, dilakukan inventarisasi, identifikasi, klasifikasi dan diinterpretasikan, dengan analisis kwalitatif yang dijabarkan secara deskriptif dalam bentuk paper.

VI. Krangka Teoritik

Teori yang saya pakai untuk membahas dan menganalisa masalah yang saya angkat dari makalah yang beijudul “Prinsip Tanggung Jawab Mutlak (Strict Liability) Pada Gugatan Perwakilan Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Keperdataan” ialah:

1. Grand Theory : teori dasar yang dipakai ialah Teori Negara Hukum 2. Middle Range Theory yaitu Teori Filsafat Hukum Gustav Rabruch

3. Applied Theory yaitu Teori Hukum Pembangunan dari Bapak Prof. Dr.

Mochtar Kusumaatmadja, SH.LLM.

1. Grand Theory : Teori Negara Hukum

Istilah negara hukum secara konseptual di Indonesia dipadankan dengan dua istilah dalam bahasa asing yaitu:

a. Bahasa Belanda istilahnya Rechtstraat digunakan untuk menunjuk tipe negara hukum yang diterapkan di negara-negara yang menganut sistem hukum Eropa Continental atau Civil Law System.

b. Bahasa Inggris menggunakan istilah rule of law untuk menunjuk tipe negara hukum dari Negara Anglo Saxon atau di negara-negara yang

menganut common law system (Inggris, Amerika dan Negara-negara bekas jajahan Inggris), sedangkan tipe negara hukum yang diterapkan di negara-negara sosialis komunis, menggunakan istilah socialist ligality (antara lain : Rusia, RRC dan Vietnam).27

Sebelum atau pra perubahan ketiga UUD 1945, prinsip negara hukum Indonesia ditegaskan dalam penjelasan UUD 1945, yang menentukan bahwa negara Indonesia berdasarkan atas hukum (Rechtstext) tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtstaat). Apa yang ditunjukkan dalam penjelasan UUD 1945, istilah negara hukum berasal dari istilah : bahasa Belanda rechtstaat lawan kata dari maachtstaat.28 Rechtstaat atau negara hukum diartikan negara yang penyelenggaraan pemerintahannya berdasarkan prinsip-prinsip hukum untuk membatasi kekuasaan pemerintahan dibalik itu machtstaat diartikan negara yang penyelenggaraan pemerintahannya dijalankan berdasar pada kekuasaan belaka sesudah Pasca Amandement ke-3 UUD 1945. Pasal 1 ayat (3) UUD 1945, berbunyi : “Negara Indonesia Negara Hukum” dengan demikian Negara Hukum Indonesia menjadi bukan hanya satu prinsip, tapi benar-benar menjadi normatif.29 Dalam kaitannya Negara Indonesia yang pola sistem hukumnya menganut Eropa Continental (Civil Law System) dengan Rechtstaat atau Rule Of Law. Menurut pendapat Frederich Julius Sthal, unsur- unsur rechtstaat terdiri atas 4 unsur :

a. Pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia

b. Negara didasarkan atas Trias Politik (pemisahan kekuasaan negara atas kekuasaan legislatif, eksekutif dan kekuasaan yudisial)

c. Pemerintahan didasarkan atas UU (wetmatigeheid van bestuur), dan

271 Dewa Gede Atmadja, Hukum Konstitusi, Problematik Konstitusi Indonesia Sesudah Perubahan UUD 1945, Edisi Revisi, Setara Press Malang, 2010, hal. 157.

28 Atmadja, Ibid, hal. 158.

29 Fredrich Julius Stahl, (dalam I Dewa Gede Atmadja), Hukum Konstitusi, Edisi Revisi, Stara Press Malang, 2010, hal. 158.

d. Ada peradilan administrasi negara yang berwenang menangani kasus perbuatan melanggar hukum oleh pemerintah (onrechtmatige

overheidsdaad).30

Unsur Rule of Law, menurut AV Dicey terdiri dari 3 unsur yaitu:

a. Supremasi hukum (supremacy of law)

b. Persamaan dimuka hukum (equality before the law) c. Hak asasi individu (individual rights)

Tidak memerlukan peradilan administrasi, karena peradilan umum dianggap berlaku untuk semua orang baik bagi warga negara maupun pejabat pemerintah.31

Jadi menurut Atmadja, dilihat dari unsur-unsur perbedaan tipe negara hukum, perbedaan pokoknya rechtstaat penekanannya adanya peradilan administrasi negara, sedangkan rule of law penekanannya pada equality before the law.32

Pengertian dari Negara Hukum dengan istilah Rechtstaat atau government by law yang artinya yang suatu sistem kenegaraan yang diatur berdasarkan sistem hukum yang berlaku yang berkeadilan yang tersusun dalam konstitusi, dimana semua orang dalam negara tersebut baik yang diperintah maupun yang memerintah, harus tunduk pada hukum yang sama, sehingga setiap orang yang sama diperlakukan sama dan setiap orang berbeda diperlakukan berbeda dengan dasar pembedaan yang rational, tanpa memandang perbedaan warna kulit, ras, gender, agama, daerah dan kepercayaan dan kewenangan pemerintah dibatasi berdasarkan suatu prinsip distribusi kekuasaan, sehingga pemerintah tidak bertindak sewenang-wenang

30 Padmo Wahyono, (dalam I Dewa Gede Atmadja), Hukum Konstitusi, Edisi Revisi, Stara Press Malang, 2010, hal. 159.

31 H. Muh. Tahir Azhary, (dalam I Dewa Gede Atmadja), Hukum Konstitusi, Edisi Revisi, Stara Press Malang, 2010, hal. 159.

32 Atmadja, (dalam I Dewa Gede Atmadja), Hukum Konstitusi, Edisi Revisi, Stara Press Malang, 2010, hal. 159.

dan tidak melanggar hak-hak rakyat diberikan peran sesuai kemampuan peranannya secara demokratis.33

Lebih jauh suatu negara baru dapat disebut sebagai negara hukum haruslah memenuhi syarat-syarat antara lain:

1. Perlindungan hak-hak rakyat oleh Pemerintah 2. Kekuasaan lembaga negara tidak absolut 3. Berlakunya prinsip trias politika

4. Pemberlakuan check and balance

5. Mekanisme kelembagaan negara yang demokratis 6. Kekuasaan kehakiman yang bebas

7. Sistem pemerintahan yang transparan 8. Adanya kebebasan pers

9. Adanya keadilan dan kepastian hukum

10. Akuntabilitas dan pelaksanaan prinsip good governance.34

Konsep negara hukum Indonesia disebutkan menerima prinsip kepastian hukum dalam rechtstaat sekaligus prinsip keadilan di dalam the rule of law serta nilai spiritual dari hukum agama. Hukum tertulis dan segala ketentuan proseduralnya (rechtstaat) diterima di dalam negara hukum Indonesia, tetapi semua itu harus diletakkan dalam rangka menegakkan keadilan (the rule of law), ketentuan-ketentuan tertulis yang menghalangi keadilan dapat ditinggalkan.

Penguatan dari konsepsi ini adalah penyebutan di dalam fungsi kekuasaan kehakiman untuk menegakkan hukum dan keadilan seperti tertulis pada Pasal 24 ayat (1) serta penegasan dalam Pasal 28D ayat (1) tentang hak memperoleh kepastian hukum yang adil dan Pasal 28 H bahwa hukum harus dibangun berdasarkan keadilan dan kemanfaatan.35

Adapun yang dapat dipakai alasan bahwa Teori Negara hukum sebagai Grand Theory dalam penulisan makalah ini ialah :

33 http://negarahukumIndonesia.blogspot.com/. tanggal 25-12-2012.

34 http://negarahukumIndonesia.blogspot.com/. diakses tanggal 25-12-2012.

35 Moh. Mahfud MD, Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen Konstitusi, Rajawali Press, Cet. 2, Mei 2011, Jakarta, hal. 52.

1. Diakuinya Hak Lingkungan Generasi Ketiga Hak Asasi Manusia.

Persaudaraan atau hak-hak generasi ketiga diwakili tuntutan atas ”hak solidaritas” atau hak bersama. Hak-hak ini muncul dari tuntutan gigih negara-negara berkembang atau Dunia Ketiga atas tuntutan internasional yang adil. Melalui tuntutan atas hak solidaritas itu, negara-negara berkembang menginginkan terciptanya suatu tuntutan ekonomi dan hak internasional yang kondusif bagi teijaminnya hak-hak berikut:

a. Hak atas pembangunan, b. Hak atas perdamaian, c. Hak atas sumber daya alam,

d. Hak atas lingkungan hidup yang baik dan e. Hak atas warisan budaya sendiri.36

2. Alasan yang kedua, dalam Pasal 28 H UUD 1945 setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan bathin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.

3. Alasan yang ketiga menurut UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dalam Pasal 65 ayat:

(1) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari hak asasi manusia.

(2) Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup, akses informasi, akses partisipasi, dan akses keadilan dalam memenuhi hak atau lingkungan hidup yang baik dan sehat

(3) Setiap orang berhak mengajukan usul dan / atau keberatan terhadap rencana usaha dan / atau kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan

(4) Setiap orang berhak untuk berperan dalam perlindungan dan dalam pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang- undangan.

36 Kata Pengantar, Philip Alston, Fams Magnis Suseno, Hukum Hak Asasi Manusia, Cet. I, Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Isian Indonesia, Yogyakarta, 2008, hal. 16.

37

(5) Setiap orang berhak melakukan pengaduan akibat dengan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.

4. Alasan yang keempat memakai Teori Negara Hukum sebagai Grand Theory, diaturnya hak-hak atasi lingkungan hidup dalam UUD 1945 dan pentingnya upaya perlindungan hukum akibat perusahaan dan pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah berbahaya dan beracun yang merugikan ribuan/bahkan jutaan orang yagn terkena dampaknya dan berakibat kematian terhadap semua makhluk hidup. Dan diperlukan prosedur beracara perdata untuk menerapkan prinsip strict liability dan class action dalam memperjuangkan hak-hak perdatanya akibat perusakan dan pencemaran lingkungan hidup.

2. Middle Range Theory yaitu dari Gustav Radbruch :

From the concept of the law, a cultural concept, that is the concept related to value, we pressed on to the value of the law. Law is what, according to its meaning , is intended to serve the idea of the law. The idea of law we found injustice and we determined the essence of justice, of distributive justice as equality, equal treatment of equal, and correspondingly unequal treatment of different, men and relationships. We were able to orient the concept of the law toward justice, yet we were unable thereby to obtain the guiding thought from which exhaustively to derive the contain of law.

(Dari konsep hukum, konsep budaya, yaitu suatu konsep yang berkaitan dengan nilai, kita ditekankan pada nilai hukum, gagasan hukum: Apakah hukum itu? menurut maknanya, dimaksudkan untuk mengupayakan gagasan dari hukum.

Gagasan hukum kita temukan dalam bentuk Keadilan dan kita menentukan hakekat dari keadilan, keadilan distributif, sebagai kesetaraan: perlakuan yang sama, manusia dan hubungannya. Kita memang mampu untuk mengarahkan konsep hukum terhadap keadilan, namun kita tidak demikian untuk memperoleh pemikiran yang mendalam untuk mendapatkan isi hukum).

For while justice directs us to treats equal equally, unequal unequally, it does not tell us anything about the viewpoint from they are to be deemed

equals or unequal, more over it determines solely the relation and not the kind. Both

questions may be answered only by referring to the purpose of the law. Thus to justice there was added. The second element of the idea of the law is Expediency or suitability of the purpose. However the question of purpose and expediency could not be answer unequivocally but only relativistic, by the systematic development of the different of law and the state, the views of the different parties. Yet that relativism cannot remain the last word of legal philosophy.

(Untuk sementara keadilan mengarahkan kita untuk memperlakukan sama rata, tidak setara merata, ia tidak memberitahu kita apa-apa tentang sudut pandang dari mana mereka harus dianggap sama atau tidak sama, apalagi hal itu semata-mata untuk menentukan hubungan, dan bukan jenis. Kedua pertanyaan dijawab mungkin hanya dengan mengacu pada tujuan hukum. Dengan demikian keadilan lebih ditonjolkan.

Sebagai elemen kedua dari gagasan hukum yaitu kemanfaatan hukum atau kesesuaian untuk suatu tujuan. Namun, persoalan mengenai tujuan kemanfaatan tidak dapat dijawab tegas tetapi hanya bersifat relatif, dalam perkembangan sistematis pandangan hukum dan negara, pandangan dari berbagai pihak. Namun relativisme yang tidak dapat tetap menjadi kata terakhir dari filsafat hukum).

The law as order of living together cannot be handed over to disagreements between the views of individuals, it must be one order over all of them. So we are confronted with a third postulate concerning law, ranking with other two, a third element of the idea of the law, legal certainty. The certainty of the law requires law to be positive. If what is just cannot be settled, then what ought to be right must be laid down and this must be done by the agencies able to carry trough what it lays down. So, most oddly the positive of the law itself becomes a prerequisite of its lightness; to be positive is implicit in the concept of right law just much as lightness of content is a task of positive law.

(Hukum sebagai urutan hidup bersama tidak dapat diserahkan kepada perbedaan pendapat antara pandangan individu, melainkan harus menjadi satu

urutan atas semua dari mereka. Elemen ketiga dari gagasan hukum yaitu Kepastian Hukum, Kepastian hukum memerlukan hukum untuk menjadi positif, jika apa yang tidak dapat diselesaikan, maka apa yang seharusnya benar harus ditetapkan, dan ini harus dilakukan oleh lembaga sehingga mampu mewakili kepentingan dari fungsi hukum melalui kepastian hukum. Jadi, yang paling kuat yang positif dari hukum itu sendiri menjadi prasyarat dari kebenaran: untuk menjadi positif secara implisit dalam konsep hukum yang tepat. Seperti halnya kebenaran adalah bagian dari hukum positif).

Of the three elements of the idea of law it is the second, expediency to which relativistic resignation applies. But the other two, justice and legal certainty, are above the conflict between views of law and the state, above the struggle of parties. It is more important that the strife of legal views be ended than that it be determined justly and expediently. The existence of a legal order is more important than its justice and expediency. Which constitute the second grate task of the law, while the first, equally approved by all, is legal certainty that is order or peace. So, to all equally submit to the postulate of justice.

(Dari ketiga unsur gagasan hukum, itu adalah kemanfaatan, keadilan dan kepastian hukum, berada di atas konflik antara pandangan hukum dan negara, atas usaha para pihak. Hal ini lebih penting bahwa perselisihan pandangan hukum akan berakhir. Dari itu akan ditentukan secara adil dan bijaksana.

Keberadaan tatanan hukum lebih penting daripada keadilan dan kemanfaatan, yang merupakan tugas besar kedua dari tujuan hukum, kepastian hukum, yaitu, ketertiban, atau perdamaian. Demikian juga, semua sama-sama tunduk pada postulat keadilan).

Adapun yang menjadi alasan, saya memilih Middle Range Teori dan teorinya Gustav Radbruch yaitu: teori filsafat hukum.

1. Aspek keadilan yaitu perusakan dan pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh suatu perusahaan yang menghasilkan limbah berbahaya dan beracun yang mengakibatkan musnahnya makhluk hidup, apabila masih tetap mempertahankan Sistem Hukum Acara perdata HIR dan RBg

dan Pasal 1365 KUH Perdata tidak mengatur strict liability dan class action

adalah tidak adil, karena korban (masyarakat yang terkena dampaknya) sangat miskin biaya, akan dianggap adil pelaku usaha (pencemar) yang harus membuktikan dengan strict liability serta pembuktian terbalik, tanpa pembuktian dengan kesalahan dan korban terkena dampaknya ribuan bahkan jutaan dapat mewujudkan trilogi peradilan : peradilan sederhana, cepat, dan biaya murah apabila menggabungkan diri untuk menggugat melalui prosedur beraca dengan class action.

2. Aspek Kepastian:

Alasan dalam penegakan hukum khusus dalam prosedur beracara perdata di Pengadilan, adanya kepastian hukum (hukum positif, hukum formal) untuk mempertahankan dan menyerahkan dalam kasus-kasus lingkungan keperdataan. Dan Hakim ada kepstian hukum dalam memeriksa perkara di pengadilan.

3. Aspek Kefaedahan

Setelah diaturnya bentuk-bentuk hukum seperti strct liability, class action dalam hukum positif Indonesia, sehingga sesuai dengan tujuan hukum yaitu berfedah bagi orang sebanyak-banyaknya yang ingin mempeij uangkan hak-haknya.

3. Applied Theory : dipakai Teori Hukum Pembangunan dari Bapak Mochtar Kusumaatmadja, ada 2 hal yang menjadi inti dari teori beliau:

1. Ketertiban dan keteraturan dalam usaha pembaharuan dan pembangunan itu merupakan sesuatu yang diinginkan atau dipandang mutlak adanya.

2. Hukum dalam arti kaedah atau peraturan hukum memang dapat berfungsi sebagai alat pengatur atau sarana pembangunan dalam arti penyalur arah kegiatan masyarakat yang dikehendaki karena pembaharuan.

Konsep hukum yang ditawarkan oleh Mochtar Kusumaatmadj a dapat disimak dari definisi atau fungsi hukum yang dikembangkan. Hukum dalam pengertian yang luas tidak saja merupakan keseluruhan asas-asas dan kaedah-kaedah

yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat, melainkan meliputi pula lembaga-lembaga (institution) dan proses-proses (processes) yang mewujudkan berlakunya kaedah-kaedah itu dalam kenyataan37 Mochtar juga mengemukakan, hukum yang memadai harus tidak hanya memandang hukum itu sebagai perangkat kaedah-kaedah dan asas-asas yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat, tetapi harus pula mencakup lembaga (institution) dan proses (processes) yang diperlukan untuk mewujudkan hukum itu dalam kenyataan.38

Berkaitan dengan upaya penjabaran fungsi hukum sebagai sarana pembaharuan masyarakat (GBHN 1978-1998) mengenai pembangunan hukum nasional yang dilakukan melalui 3 aspek yakni:

a. Memperbaiki hukum-hukum yang sedang berlaku untuk disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan dan perkembangan masyarakat yang teqadi.

b. Memperbaharui atau merubah hukum-hukum yang pernah ada yang dianggap masih dapat dipergunakan.

c. Mempertahankan hukum yang pernah ada yang dianggap masih memadai.

Menentukan Grand Theory, Teori Negara Hukum, Middle Range Theory dari Teori Filsafat Hukum Gustav Rabruch dan Applied Theory dari Mochtar Kusumaatmadja juga dilengkapi dengan teori-teori hukum lain dalam pembahasan permasalahan yang diangkat dalam penulisan ini.

VII. Peranan Filsafat Ilmu Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Keperdataan 1. Prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability) dalam penegakan hukum

lingkungan keperdataan.

37 Mochtar Kusumaatmadja, Pembinaan Hukum Dalam Rangka Pembangunan Nasional, Binacipta, Bandung, 1986, hal. 11.

38 Mochtar Kusumaatmadja, Hukum Masyarakat dan Pembinaan Hukum Nasional, Binacipta, Bandung, 1995, hal. 15.

2. Penemuan hukum oleh hakim dalam penerapan prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability) dalam penegakan hukum lingkungan keperdataan.

3. Kriteria menentukan wakil kelas (class representatif) dan kelas besar (class members) pada gugatan perwakilan.

4. Hubungan dan tanggung jawab hukum antara wakil kelas (class representatif) dengan kelas besar (class members)

1. Prinsip Tanggung Jawab mutlak (strict liability) dalam penegakan hukum lingkungan keperdataan

Pasal 88 UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup ditegaskan : setiap orang yang tindakannya, usahanya dan/atau kegiatannya menggunakan B3 menghasilakn dan/atau mengelola limbah B3 dan/atau yang menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan hidup bertanggung jawab mutlak atas kerugian yang teijadi tanpa perlu pembuktian unsur kesalahan.

Dalam sistim Hukum Acara Perdata Indonesia yang masih berpedoman pada HIR dan RBg tidak mengenal prosedur beracara perdata lingkungan dengan tanggung jawab mutlak (strict liability). Prinsip strict liability atau atas tanggung jawab mutlak merupakan asas atau prinsip pertanggung jawaban hukum (liability) yang telah berkembang sejak lama, yakni berawal dari sebuah kasus di Inggris (Ryland V. Flectcher) tahun 1968. Asas ini telah diadopsi dalam berbagai Perundang-undangan dan konvensi-konvensi internasional.39 Strict Liability adalah doktrin pertanggungjawaban perdata dibidang lingkungan hidup, dimana

39 Syahrul Mahmud, Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, Penegakan Hukum Administrasi, Hukum Perdata dan Hukum Pidana Menurut UU No. 32 tahun 2009, Edisi Kedua, Cet. 1,2012, hal. 209.

tanggung jawab muncul seketika yang tidak harus berdasarkan atas kesalahan (liability without fault).40

Dalam Pasal 1365 KUH Perdata mengandung konsep tanggung jawab berdasarkan atas kesalahan, yang dapat dipersamakan dengan liability based on fault, seperti halnya doktrin pertanggungjawaban tradisional negligence dalam sistem hukum Anglo Saxon.41 Disamping itu juga doktrin pertanggungjawaban tradisional tidak mampu mengantisipasi kegiatan-kegiatan yang mengandung resiko besar (significant risk).42 Di Indonesia pihak yang merasa dirugikan yaitu penggugat dalam kasus- kasus lingkungan biasanya memiliki latar belakang ekonomi lemah maupun pendidikan rendah, sehingga sangatlah tidak adil apabila mereka dibebani pembuktian tentang pencemaran dan keterkaitannya dengan kerugian yang mereka alami. Oleh karenanya mempertahankan doktrin pertanggung jawaban tradisional untuk kasus-kasus yang memiliki resiko tinggi tidak akan mendorong masyarakat untuk berperan serta dalam penegakan hukum lingkungan.43

Dilihat dari dimensi ontologi, epistemologi dan aksiologi bentuk hukum tanggung jawab mutlak (strict liability) yang dikembangkan di negara-negara yang menganut sistem hukum Anglo-Saxon termasuk juga Class Action (gugatan perwakilan) sangat relevan untuk diterapkan di Indonesia, mengingat prosedur beracara dengan Class Action dan pembuktian tanpa kesalahan dapat mewujudkan peradilan sederhana, cepat dan biaya murah. Dari dimensi ontologi adalah studi sungguh- sungguh ontologi juga diartikan sebagai metafisika umum yaitu cabang

401.M. Koopmans, De StrafBarstelling Van Milliu Veon Treening Course in Environmental Law and Administration for Indonesian Yurist, Reiden Ministry of Housing Spasial and Environment, (dalam Syahrul Mahmud, Penegakan Hukum Linghmgan Indonesia, Penegakan Hukum Administrasi, Hukum Perdata dan Hukum Pidana Menurut UU No. 32 tahun 2009), 1998, hal. 391-199 (dalam Syahrul Machmud).

41 Mas Achmad Santosa, et.al., Penerapan Asas Tanggung Jawab Mutlak (Strict Liability) di Bidang Lingkungan Hidup, ICEL, 1997, hal. 123.

42 Mas Achmad Santosa, Ibid, hal. 124.

43 Mas Achmad Santosa, Ibid.

filsafat yang mempelajari sifat dasar dan kenyataan yang terdalam, ontologi membahas asas-asas rational dari kenyataan (Kattsaff, 1986).44 Dengan terintegrasinya strict liability dan class action dalam hukum lingkungan, menurut Plato, hukum merupakan tatanan terbaik untuk menangani fenomena dunia yang penuh situasi ketidakadilan.45

Demikian juga menurut Socrates, sesuai dengan hakekat manusia maka hukum merupakan tatanan kebajikan. Tatanan yang mengutamakan kebajikan dan keadilan bagi umum.46 Hukum untuk mencapai kebajikan dan keadilan umum.47 Menurut Yuyun S. Suriasumantri, ontologi membahas apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu atau dengan perkataan lain sesuatu pengkajian mengenai teori tentang ada.48 Menganalisis pemikir-pemikir filosuf tadi, kelihatannya strict liability dan class action sangat bermanfaat dalam hukum lingkungan.

Dilihat dari dimensi epistemologi sering disebut teori pengetahuan (theory of know ledge). Istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani, Episteme, artinya pengetahuan dan logos artinya teori. Jadi epistemologi dapat didifinisikan sebagai dimensi filsafat yang mempelajari asal mula, sumber, manfaat, dan sahihnya pengetahuan. Secara sederhana disebutkan

Dilihat dari dimensi epistemologi sering disebut teori pengetahuan (theory of know ledge). Istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani, Episteme, artinya pengetahuan dan logos artinya teori. Jadi epistemologi dapat didifinisikan sebagai dimensi filsafat yang mempelajari asal mula, sumber, manfaat, dan sahihnya pengetahuan. Secara sederhana disebutkan

Dokumen terkait