P
PRINSI GU
IP TAN UGAT
F
NGGU TAN PE
L
FAKULT
UNG JA ERWA
LINGK
I
BAG TAS HU
AWAB AKILAN
KUNGA
KETUT
IAN HU KUM U
2
MUTL N DAL AN KE
OLEH T TJUKU
UKUM A UNIVER 2015
LAK (S LAM P
EPERD
H UP, SH.
ACARA RSITAS U
STRIC PENEG DATAA
MH
A
UDAYA
CT LIA GAKAN
AN
ANA
ABILIT N HUK
TY) PA KUM
ADA
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) Makalah P r in s ip Ta n g g u n g Ja w a b Mu tla k (S t ri c t L i a b i li ty ) ,P a d a Gu g at a n P e r w a k i l a n D a l a m P e n e g ak an H u k u m L i n g k u n g a n K e p e r d a t a a n dapat saya selesaikan tepat pada waktunya. Namun isi, metode dan pembahasan masih dangkal atau jauh dari sempurna. saran dan masukannya sangat saya harapkan demi sempurnanya.
Denpasar, Januari 2015 Penulis
Dr. I Ketut Tjukup, SH.,MH 19521231 198003 1 020
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
I. Latar Belakang Masalah... 1
II. Rumusan Masalah ... 10
III. Tujuan Penelitian ... 11
IV. Manfaat Penelitian ... 11
1. Manfaat Teoritis ... 11
2. Manfaat Praktis ... 11
V. Metode Penelitian ... 11
1. Jenis Penelitian ... 11
2. Pendekatan Masalah ... 13
3. Sumber Bahan Hukum ... 16
4. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum ... 17
5. Analisis Bahan Hukum ... 17
VI. Kerangka Teoritik ... 17
1. Grand Theory: Teori Negara Hukum ... 17
2. Middle Range Theory yaitu dari Gustav Radbruch ... 22
3. Applied Theory : dipakai Teori Hukum Pembangunan dari Bapak Mochtar 4. Kusumaatmadja ... 25
VII. Peranan Filsafat Ilmu Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Keperdataan ... 26
1. Prinsip Tanggung Jawab mutlak (strict liability) dalam penegakan hukum lingkungan keperdataan... 27
2. Penemuan Hukum oleh Hakim dalam Penerapan Prinsip Tanggung Jawab Mutlak (Strict Liability) dalam Penegakan Hukum Lingkungan Keperdataan ... 32
3. Kriteria Menentukan Wakil Kelas (Class Representatif) dan Kelas Besar pada Gugatan Perwakilan ... 35 4. Hubungan dan tanggung jawab hukum antara wakil kelas (class representatif)
dengan kelas besar (class members) ... 38 VIII. PENUTUP ... 41
PRINSIP TANGGUNG JAWAB MUTLAK (STRICT LIABILITY) PADA GUGATAN PERWAKILAN DALAM PENEGAKAN HUKUM
LINGKUNGAN KEPERDATAAN
I. Latar Belakang Masalah
Pembangunan dibidang perekonomian yang mengarah perkembangan produksi, barang dan jasa cendrung membawa dampak perusakan dan pencemaran lingkungan hidup dan berakibat juga menimbulkan kerugian ribuan bahkan jutaan orang. Fakta yang kita ketahui bersama kasus semburan lumpur panas PT. Lapindo Brantas Sidoardjo Jawa Timur. Perusakan lingkungan lumpur panas yang terus keluar dari rongga batuan dibawah tanah, akan menghasilkan rangkaian dampak buruk yang merusak lingkungan alam sekitarnya maupun lingkungan sosial, karena lokasi berdekatan dengan pemukiman dan ekosistem sungai kaliporong. Bencana yang dimulai sejak 29 Mei 2006 hingga saat ini dan baru dapat diatasi 4 bulan sejak pengeluaran lumpur pertama, maka volume lumpur yang diproduksi mencapai 4 x 30 x 25.000 meter kubik lumpur yang setara dengan 600.000 truk besar. Disamping itu adanya gas seperti H2S, SOX dan kemungkinan adanya methyl merkapton suatu senyawa hidrokarbon lain seperti minyak, phenol maupun senyawa bahan berbahaya dan beracun (B3) lainnya ada kemungkinan terdapat dalam limbah tersebut.1
Wilayah pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berhasil membawa perbaikan standar hidup masyarakatnya, pertumbuhan ekonomi tersebut dicapai dengan cara-cara yang dalam jangka panjang merusak lingkungan.2
Kasus pencemaran perairan Teluk Buyat, Sulawesi Selatan yang merupakan kasus tertinggi dalam kasus pencemaran lingkungan hidup di dunia tahun 2004. kasus pencemaran lingkungan yang nyaris mampu menyamakan rekor Minamata Diakses di Teluk Minamata Jepang dimasa itu. Bumi Sulawesi
1 http://kardomantomangger.blogspot.com/2008/12/berbagai masalah lingkungan hidup html, diakses tanggai 10-12-2012.
2 Marhaeni Ria Siombo, Hukum Lingkungan Pelaksanaan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia, Penerbit PT. Gramedia. Pustaka utama, Jakarta, 2007, hal. 60.
Utara yang menjadi lokasi terciptanya kasus menghebohkan dunia internasional sehingga terciptalah keijasama Internasional untuk mengadakan suatu international conference tentang sistem Tayling Displacement (STD) di Kota Manado.
Kegiatan pertambangan dalam sekala besar oleh PT. New Mont Minahasa Raya (N.M.R). ekosistem perairan laut di Teluk Buyat rusak parah akibat buangan 2000 ton tailing setiap hari.3
Kasus Agent Orange (1987) kasus yang diajukan oleh ribuan veteran perang Vietnam terhadap penghasil pabrik kimia beracun yang mempergunakan bahan tersebut sebagai defolian dalam perang Vietnam. Kasus ini dinamakan dengan kasus Agent Orange yaitu salah satu jenis dioksin yaitu sebagai penyebab timbulnya kerugian dan penderitaan fisik maupun emosional.4
Kasus Strom King di New York Amerika, perusahaan swasta yang bergerak di bidang penyediaan tenaga listrik, yaitu : consolidate edison di New York telah mencoba sejak tahun 1962 untuk membangun industri pusat listrik tenaga air di Strom King di Houdson Higlands. Rencana tersebut telah mengundang reaksi dari berbagai pihak mula-mula dengan alasan merusak keindahan alam, tapi kemudian ditambah dengan alasan bahwa instalasi tersebut secara potensial dapat mencemarkan air disekitamya dan ikan dapat musnah.5 Komar Kontaatmadja, mengemukakan bahwa kandasnya kapal tangki Tarrey Canyon tahun 1967 di Selat Inggris yang menimbulkan tumpahan minyak dalam jumlah besar telah mengakibatkan pencemaran dan kerusakan pantai Inggris secara parah kegiatan yang tergolong kegiatan dengan resiko tinggi dan berbahaya.6 Dari kasus-kasus tersebut, seiring dengan pembangunan yang berkelanjutan di Indonesia yang berwawasan lingkungan tidak menutup kemungkinan timbul kasus-kasus perusakan dan pencemaran lingkungan yang
3 http://VCTonikaKumururblogspot.com/2006/08/diakses tanggal 10-12-2012.
4 Mas Ahmad Santosa, Konsep dan Penerapan Gugatan Perwakilan (Class Action), ICEL, 1997, hal. 84.
5 Kusnadi Hardjasoemantri, Hukum Tata Lingkungan, Edisi VIII, Cet. XIX, Gajah Mada University Press, 2006, hal. 404.
Komar Kantaatmadja, Dalam Kusnadi Hardjasoemantri, Hukum Tata Lingkungan,
mengandung limbah berbahaya dan beracun yang membawa dampak kerugian ribuan atau jutaan orang.
Di Indonesia kegiatan dalam rangka meningkatkan pertumbuhan pembangunan7 dan perekonomian dengan memanfaatkan sumber daya alam terlebih lagi dengan otonomi daerah8, globalisasi dan perdagangan bebas membuka daya tarik investor dalam negeri maupun luar negeri menanamkan modalnya di Indonesia maupun daya tarik tertentu, sehingga sering kali bertolak belakang dengan ekses9, yang dihasilkannya atau dengan kata lain sering kali mengorbankan aspek lingkungan yang sesungguhnya memiliki peranan yang sangat penting guna keberlanjutan pembangunan yang di idam-idamkan. Salah satu contoh berkenaan dengan kelestarian lingkungan yang semakin hari mengalami penurunan kwalitas maupun kwantitas dikarenakan orientasi pembangunan yang dilaksanakan kurang memperhatikan perlindungan terhadap lingkungan serta kurang memperhatikan keserasian, keselarasan dan keseimbangan berbagai unsur pembangunan. Terdapat keterkaitan erat antara hak atas pembangunan {right to development) dengan hak atas lingkungan hidup yang sehat sebagaimana tertuang dalam Pasal 28 H ayat (1) dan Pasal 33 ayat (3) dan (4) UUD 1945. Pasal 28 H ayat (1) mengatakan bahwa “setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan bathin bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.”
Perumusan Pasal 28 ayat (1) ini menunjukkan bahwa UUD’45 sangat menghormati adanya hak asasi manusia yaitu hak untuk memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat, karena itulah UUD 1945 sangat pro lingkungan hidup sehingga dapat disebut sebagai konstitusi hijau (green constitution), dengan ketentuan Pasal 28 ayat (1) UUD 1945 tersebut berarti norma lingkungan hidup sudah mengalami konstitusionalisasi menjadi materi muatan konstitusi sebagai
7 Pembangunan sebagai Suatu Akses untuk Mentransformasikan Suatu Kondisi ke Kondisi yang lain dalam Pengertian yang lebih baik.
8 Dampak Otonomi terhadap Lingkungan Hidup seringkah menjadi Dalam Rangka Mendapatkan PAD dan Peningkatan Pelayanan (Seperti Pembuatan Jalan Tol Nusa Dua di Bali) yang mengorbankan Hutan Mangrove Sering Kali PEMDA Mengabaikan Keberlangsungan Lingkungan Hidup.
9 Ekses dimaksud adalah sesuatu yang hilang tapi yang baru belum diketemukan.
hukum tertinggi. Dengan demikian segala kebijakan dan tindakan pemerintahan dan pembangunan haruslah tunduk pada ketentuan mengenai hak asasi manusia atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.10 Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 menentukan bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Perumusan Pasal 33 ayat (3) ini dilakukan oleh BPUPKI dan disahkan oleh PPKI pada saat 18 Agustus 1945.
Sebagaimana kaum environmentalism terhadap konstitusi Amerika Serikat perancangan dan perumusan konstitusi UUD 1945 juga belum membayangkannya yang kemudian menjadi arus utama dalam abad ke-21 tentang lingkungan hidup dan pembangunan yaitu adanya pengertian mengenai satu kesatuan ekosistem. Konsepsi mengenai ruang lingkup ekosistem tentu saja kemudian mempunyai korelasi yang sangat erat dengan Pasal 33 ayat (4) UUD 1945 disebutkan bahwa “perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efesiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian serta menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
Berdasarkan rumusan Pasal 33 ayat (3) sebagaimana ditafsirkan secara ekstensif dan kuratif oleh berbagai UU lingkungan hidup haruslah dikelola untuk kepentingan pembangunan berdasarkan prinsip- prinsip berkelanjutan (stainable) dan berwawasan (pro-environment) sebagaimana ditentukan dalam Pasal 33 ayat (4) UUD 1945 setelah amandement I-IV ini bernuansa hijau atau pro lingkungan (green constitusiori). Kerusakan tata ekologi separah yang teijadi saat ini, sayangnya tidak akan teijadi apabila paradigma pembangunan tidak dilihat sebagai sesuatu yang bertolak belakang dengan persoalan lingkungan, melainkan sebagai sesuatu tujuan bersama dalam menuntaskan masalah kemiskinan, keterbelakangan dan masalah ekonomi lainnya. Fakta-fakta yang telah saya uraikan terdahulu dan pentingnya hak asasi
10 Koesnadi Hardjasoemantri (dalam Mohammad Taufik Makarao), Aspek-aspek Hukum Lingkungan, Penerbit PT. Indeks, Cet. 2, Jakarta, 2011, hal. 1. mengemukakan bahwa hukum lingkungan di Indonesia dapat dipenuhi aspek-aspek, aspek hukum tata lingkungan, hukum kesehatan lingkungan, hukum pencemaran lingkungan, hukum lingkungan transnasional atau mtemasional, hukum perselisihan lingkungan dan sebagainya sehingga dapat dimungkinkan terdapat aspek-aspek lainnya sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan pengolahan lingkungan hidup dimasa yang akan datang.
manusia atas lingkungan hidup yang baik dan sehat menggambarkan demikian sulitnya membebani pertanggungjawaban kepada siapa mengingat pencemaran dan perusakan lingkungan yang mengandung limbah berbahaya dan beracun dapat
menimbulkan kerugian ribuan bahkan jutaan orang yang terkena dampaknya, dan matinya makhluk hidup lainnya.
Pembuktian dengan penerapan ajaran kesalahan menurut Pasal 1365 KUH Perdata terhadap kasus-kasus dari pabik-pabrik yang menghasilkan / mengelola limbah berbahaya dan beracun (B3) dan menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan hidup akan dirasakan sangat tidak adil bagi penggugat dibebani pembuktian dengan kesalahan, bentuk hukum strict liability sesuai dengan Pasal 88 UU No. 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup akan membebankan tanggung jawab mutlak {strict liability) kepada pelaku usaha. Prinsip strict liability atau asas tanggung jawab mutlak ini merupakan asas atau prinsip pertanggungjawaban hukum (liability) yang telah berkembang sejak lama, yakni berawal dari sebuah kasus di Inggris (Ryland V Fleetcher) tahun 1868. Asas ini telah diadopsi dalam berbagai Perundang-undangan Nasional dan konvensi-konvensi internasional.10 Strict liability adalah doktrin pertanggungjawaban perdata dibidang lingkungan hidup, dimana tanggung jawab muncul seketika yang tidak harus berdasarkan atas kesalahan (liability without fault)12. Doktrin ini dikembangkan dalam hukum lingkungan UU No. 23 tahun 1997 jo UU No. 32 tahun 2009). Apabila dilihat dari aspek keadilan, dan penggugat mengeluarkan biaya yagn mahal, strict liability relevan untuk diterapkan pada tergugat dan sangat membantu masyarakat lemah dan biaya tinggi, artinya strict liability sesuai dengan perasaan keadilan masyarakat banyak yang mengalami kerugian.
10 Syahrul Machmud, Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, Penegakan Hukum Administrasi, Hukum Perdata dan Hukum Pidana Menurut UU No. 32 Tahun 2009, Edisi Kedua, Cet I, Graha Ilmu, Yogyakarta 2012, hal. 209.
12 I.M. Koopmans, De Strafbarstelling Van Millien Veon Treening, Course in Environmental Law and Administration for Indonesian Jurist, Reiden Ministry of Housing Spasial and Environment, 1998, hal. 391-199 (dalam Syahrul Machmud), Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, Penegakan Hukum Administrasi, Hukum Perdata, dan Hukum Pidana Menurut Undang-undang No. 32 Tahun 2009, Edisi Kedua, Cet. I, Graha Ilmu, Yogyakarta, hal. 209.
Dari dimensi aksiologi bentuk hukum tanggung jawab mutlak (strict liability) dan class action dengan pembuktian terbalik yang dibebankan pada tergugat sebagai pelaku pencemaran yang menghasilkan limbah berbahaya dan beracun adalah sangat adil apabila yang terkena dampaknya masyarakat yang berkedudukan lemah (lemah pengetahuan, lemah biaya) atau bagi masyarakat tidak mampu. Dalam konvensi-konvensi international telah mengatur tentang asas atau prinsip strict liability (tanggung jawab mutlak).
1. Konvensi tentang pertanggung jawaban pihak ketiga dibidang Energi Nuklir (Convention on Third Party Liability in the Field of Nuclear Energi, 29 Juli 1960 Paris).
2. Konvensi tentang pertanggung jawaban sipil atas kerugian yang diakibatkan oleh nuklir (Convention on Civil Liability for Nuclear Damage, 21 Mei 1963 Vietnam).
3. Konvensi Internasional tentang pertanggung jawaban sipil atas kerugian pencemaran minyak (Liability for Oil Polution Damage, 29 November 1969 Brussel).
4. Konvensi tentang pertanggung jawaban Internasional atas kerugian yang disebabkan obyek ruang angkasa (Convention on International Liability for Damage Caused by Space Objects, 29 March 1972 Geneva).
5. Konvensi pergerakan lintas batas limbah bahan berbahaya dan beracun (Convention on the Control trans boundary Movements of hazasdaus Water an Their Disposal, 22 March 1989).
6. Konvensi tentang pertanggung jawaban sipil terhadap kerugian yang diakibatkan oleh aktifitas yang membahayakan lingkungan (Convention on civil Liability for Damage Resulting from Activities Dangerous to the Environment, Leegano, 21 Juni 1993) dan
7. Rancangan Protokol Keamanan Hayati (Biosafely) sebagai pelaksanaan dari konvensi keaneka ragaman hayati (Convention on Biodiversity).13
Mas Achmad Santosa, et.al.Tanggung jawab mutlak (strict liability dibidang 1 jtgkimgan Hidup, ICEL 1997, ICEL, Cet.1,1997., hal. 139-140.
Menurut Mas Ahmad Santoso, pertanggungjawaban hukum konvensional selama ini menganut asas pertanggungjawaban berdasarkan kesalahan {liability based on fault), artinya tidak seorangpun dapat dikenai tanggung jawab jika pada dirinya tidak terdapat unsur-unsur kesalahan. Dalam kasus lingkungan doktrin tersebut akan melahirkan kendala bagi penegakan hukum di pengadilan karena doktrin ini tidak mampu mengantisipasi secara efektif dampak dari kegiatan industri modem yang mengandung resiko-resiko potensial.14 Pengertian pertanggungjawaban secara mutlak atau strict liability yakni unsur kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh pihak penggugat sebagai dasar pembayaran ganti kerugian. Ketentuan ini merupakan lex specialis dalam gugatan tentang perbuatan melangar hukum pada umumnya. Besarnya nilai ganti rugi yang dapat dibebankan pada pencemar atau perusak lingkungan hidup dapat ditetapkan sampai batas tertentu jika menurut penetapan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku ditentukan keharusan asuransi bagi usaha dan atau kegiatan yang sebenarnya telah tersedia dana lingkungan hidup.15
Konvensi-konvensi internasional yang telah diuraikan di atas, di Indonesia dalam Peraturan Perundang-undangan telah diratifikasi kedalam :
- Undang-undang No 4 tahun 1982 tentang lingkungan hidup - Undang-undang No 10 tahun 1997 tentang ketenaga nukliran
- Undang-undang No 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
- Undang-undang No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengolahan Lingkungan Hidup.
Semua ketentuan perundang-undangan tersebut yang mengatur tentang strict liability dalam proses beracara perdata masih menunjuk hukum acara perdata yang berlaku dan UU tersebut belum dilengkapi dengan hukum acara. Untuk gugatan perwakilan (class action) adalah konsep yang sudah sejak lama dianut
14 http://www.icel.or.id/penerapan asas tanggung jawab mutlak-strict liability di bidang lingkungan hidup, tanggal 25-12-2012.
15 http://gilangkumi.blogsDot.com/2010/12/pelaksanaan prinsip-prinsip tanggung- iawab.html. tanggal 25-12-2012.
oleh Negara-negara yang menganut tradisi system hukum Anglo Saxon. Hukum Acara Perdata di Negara-negara yang menganut tradisi sistem hukum Anglo Saxon telah secara tegas memberikan dasar penerapan gugatan perwakilan (class action). Untuk Indonesia yang pola sistem hukumnya mengikuti sistem civil law, tidak mengenal bentuk hukum class action. Untuk pertama kalinya dalam sistem hukum Indonesia class action diatur dalam hukum lingkungan (UU NO 23 tahun 1997 UUPLH), hukum perlindungan konsumen (UU NO 8 tahun 1999 UU Perlindungan Konsumen dan (UU NO 41 tahun 1999) UU tentang kehutanan. Sebelum diaturnya class action dalam perundang-undangan di Indonesia yang saya sebutkan terdahulu, namun pengacara R.O Tambunan melalui kasus gugatan Bentoel Remaja, dan Muktar Pakpahan melalui kasus Demam Berdarah telah mengedepankan konsep prosendural ini. Beberapa tahun setelah itu, LBH Jakarta Institut Sosial Jakarta sebagai kuasa hukum buruh patalsenayan juga mengajukan gugatan secara perwakilan (class action) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.16
Dalam sistem peradilan di Indonesia sambil menunggu peraturan perundang-undangan dan dengan memperhatikan wewenang Mahkamah Agung dalam mengatur acara peradilan yang belum cukup diatur oleh peraturan perundang-undangan, maka demi kepastian, ketertiban dan kelancaran dalam memeriksa, mengadili dan memutus gugatan perwakilan kelompok dipandang perlu menetapkan suatu peratuan Mahkamah Agung (PERMA). Akhirnya Mahkamah Agung menetapkan tata cara gugatan perwakilan kelompok yaitu PERMA No. 1 Tahun 2002, tentang acara gugatan perwakilan kelompok, Mahkamah Agung menetapkan PERMA No. 1 Tahun 2002 dengan alasan recht vacuum (kekosongan hukum) dengan meningkatnya kerugian yang merugikan banyak orang ribuan bahkan jutaan dan munculnya kepermukaan gugatan- gugatan class action yang selalu ditolak oleh pengadilan dengan alasan Indonesia tidak mengenal class action yang diatur dalam sistem hukum anglo-saxon.
Tetapi persoalan kekosongan tersebut dalam hukum acara perdata yang diatur dalam HIR dan RBg, PERMA No. 1 Tahun 2002 dapat dipakai dasar
Mas achmad Santosa, Gugatan Perwakilan (class action), cet. I., 1997, Lembaga Pengembangan Hukum Lingkungan Indonesia, ICEL, hal. 76
hukum prosedur beracara perdata melalui gugatan perwakilan. Menurut : DR. Susanti Adi Nugroho, dengan ditetapkannya PERMA No. 1 Tahun 2002 dengan mulai banyaknya gugatan perwakilan kelompok yang diajukan terutama yang berkaitan dengan digunakannya putusan dalam perkara anti monopoli dan persaingan usaha tidak sehat sebagai dasar gugatan perwakilan kelompok, sehingga tampaknya PERMA No.l Tahun 2002 perlu diperbaiki karena tidak lagi dapat menampung permasalahan baru yang timbull.17 PERMA No.l Tahun 2002 terdiri dari 11 pasal, Bab I Ketentuan Umum, Bab II Tata Cara dan Persyaratan Gugatan Perwakilan Kelompok (Pasal 2, 3, 4, 5, 6), Bab III Pemberitahuan (pasal 7) Pernyataan Keluar (Pasal 8) Bab IV, Bab V Putusan (pasal 9) dan Bab VI Ketentuan Penutup (Pasal 10 dan pasal 11). Mencermati dan meneliti pasal-pasal tersebut tampaknya belum mengatur secara koprehensif prosedur/mekanisme pengajuan gugatan perwakilan kelompok ke Pengadilan. Belum jelas diatur tentang kelompok mengingat kita mengenal banyak kelompok dalam masyarakat misalnya kelompok petani, kelompok nelayan, kelompok penambak ikan dan lain-lainnya. Kelompok-kelompok ini dalam masyarakat apabila dikaitkan dengan kopetensi pengadilan kita mengenal kopetensi relatif sehingga kelompok-kelompok tersebut kemana harus mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri mana, kriteria apa yang dipakai untuk menentukan wakil kelompok, sub kelompok.
Dalam PERMA No. 1 Tahun 2002 belum jelas dirumuskan tentang hubungan hukum antara wakil kelompok dengan kelompok. Lebih-lebih wakil kelompok tidak perlu membuat surat kuasa khusus. Demikian juga tanggung jawab hukum antara wakil kelompok dengan kelompok apabila teijadi ketidak jujuran dan ketidaksungguhan. Tidak ada ketentuan yang jelas mengenai apabila hakim memutuskan bahwa penggunaan tata cara gugatan perwakilan kelompok tidak sah, maka pemeriksaan gugatan dihentikan dengan suatu putusan hakim. Ini berarti kesempatan untuk mengajukan kembali, apakah bisa disebut Nebis in
17 Susanti Adi Nugroho, Class Action dan Perbandingan dengan Negara lain, Kencana Prenada Media Group, Edisi I, Cet. I, Jakarta 2012, hal. 5.
Idem, atau apakah ada upaya hukum untuk mengajukan ulang gugatan kelompok ke Pengadilan.
Oleh karena tuntutan perasaan keadilan dari masyarakat dan kerugian yang diderita oleh masyarakat luas, tidak efesien lagi atas pertimbangan keadilan dan merealisasi asas Trilogi Peradilan (sederhana, cepat dan biaya murah), gugatan- gugatan yang melibatkan masyarakat luas harus diajukan satu persatu dan masing- masing membuat surat kuasa. Demikian juga kerugian-kerugian disebabkan oleh pelaku usaha yang menghasilkan limbah berbahaya dan beracun dengan pembuktian kesalahan dan tidak teijangkau oleh korban apabila menerapkan ajaran kesalahan menurut pasal 1365 KUHPerdata. Dengan alasan-alasan tersebut bentuk hukum strict liability dan class action relevan dapat diterapkan dalam penegakan hukum lingkungan keperdataan di Indonesia. Dari pemaparan terdahulu dalam makalh ini saya ingin mengkaji : strict liability dan class action dengan judul:
“PRINSIP TANGGUNG JAWAB MUTLAK (STRICT LIABILITY) PADA GUGATAN PERWAKILAN DALAM PENEGAKAN HUKUM LINGKUNGAN KEPERDATAAN”.
Dari judul tersebut dapat saya rumuskan masalah-masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini.
II. Rumusan Masalah
1. Apakah pada gugatan perwakilan dimungkinkan hakim melakukan penemuan hukum dalam hukum acara untuk menerapkan prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability) dalam rangka penegakan hukum lingkungan keperdataan?
2. Bagaimana menentukan kelas besar (class members) dan wakil kelas (class representatif) dalam gugatan perwakilan?
3. Bagaimana hubungan dan tanggung jawab hukum antara wakil kelas (class representatif) dengan kelas besar (class members)?
III. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dari penulisan makalah dengan judul
“Prinsip Tanggung Jawab Mutlak (Strict Liability) Pada Gugatan Perwakilan Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Keperdataan” ialah :
1. Ingin mengkaji dan menganalisa apakah hakim dapat melakukan penemuan hukum (rechtsvinding) dalam hukum acara untuk menerapkan prinsip tanggung jawab mutlak dalam penegakan hukum lingkungan keperdataan.
2. Ingin membahas dan menganalisa bagaimana menentukan kelas besar (class members) dan wakil kelas (class representatif) dalam gugatan perwakilan 3. Ingin menganalisa dan dapat mengetahui tanggung jawab hukum antara wakil
kelas (class representatif) dengan kelas besar (class members) dalam gugatan perwakilan.
IV. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini nantinya agar dapat memberikan manfaat dalam dunia akademis, yaitu dalam rangka penemuan hukum oleh hakim dalam hukum acara guna penerapan prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability) pada gugatan perwakilan dalam penegakan hukum lingkungan keperdataan.
2. Manfaat Praktis
Manfaat praktis dari hasil penelitian ini nantinya dapat disumbangkan sebagai pedoman bagi hakim dalam menerapkan prinsip tanggung jawab mutlak dalam penegakan hukum lingkungan keperdataan, dan dapat disumbangkan dalam pembentukan Hukum Acara Perdata mendatang.
V. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini ialah penelitian hukum normatif, yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan
13.
cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder belaka18 Penelitian hukum normatif mengkaji hukum yang dikonsepkan sebagai norma atau kaedah yang berlaku di masyarakat dan mengkaji acuan perilaku setiap orang. Penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum doktriner, juga disebut sebagai penelitian kepustakaan atau studi dokumen.19 Menurut Sunaryati Hartono, kegunaan dari penelitian hukum normatif ialah :
a. Untuk mengetahui atau mengenal apakah dan bagaimanakah hukum positifnya mengenai suatu masalah yang tertentu dan ini merupakan tugas semua Saijana Hukum.
b. Untuk dapat menyusun dokumen-dokumen hukum (seperti : gugatan, tuduhan, pembelaan, putusan pengadilan, akta notaris, sertifikat, kontrak dan sebagainya), yang diperlukan oleh masyarakat. Hal ini menyangkut pekeijaan notaris, pengacara, jaksa, hakim, dan pejabat (goverment lawyers)
c. Untuk menulis makalah / ceramah atau buku hukum
d. Untuk dapat menjelaskan atau menerangkan kepada orang lain apakah dan bagaimanakah hukumnya mengenai peristiwa atau masalah yang tertentu.
Menjelaskan dan menerangkan ini merupakan tugas utama para dosen dan para penyuluh. Seorang dosen perlu menguasai aspek-aspek teoritis tetapi juga harus memahami aspek historis dan filsafati dari masalah hukum yang diterangkan, sedangkan seorang penyuluh hukum perlu lebih memperhatikan aspek-aspek praktis dan penerapan kaedah- kaedah hukum itu terhadap suatu peristiwa atau masalah hukum di dalam suatu lingkungan masyarakat tertentu.
e. Untuk melakukan penelitian dasar (basic research) dibidang hukum, khususnya apabila kita mencari asas hukum, teori hukum dan sistem hukum terutama dalam hal penemuan dan pembentukan asas-asas hukum
18 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkatan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007, hal. 13.
19 Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktek, Sinar Grafindo, Jakarta, 2008,
baru, pendekatan hukum yang baru dan sistem hukum nasional (yang baru) f. Untuk menyusun rancangan Undang-undang atau peraturan Perundang-
undangan termasuk keputusan-keputusan yang baru (legislative drafting) g. Untuk menyusun rencana-rencana pembangunan hukum, baik rencana
jangka pendek dan jangka menengah tetapi terlebih-lebih untuk menyusun rencana jangka panjang.20
2. Pendekatan Masalah
Ada beberapa pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini, sudah tentu akan sesuai dengan pokok-pokok masalah yang dikaji dalam penelitian ini.
a. Pendekatan Historis atau sejarah b. Pendekatan Perbandingan
c. Pendekatan Perundang-undangan d. Pendekatan Konseptual
e. Pendekatan Filsafat f. Pendekatan Kasus Penjelasan:
a. Pendekatan sejarah (historical approach)
Setiap peraturan Perundang-undangan memiliki latar belakang sejarah yang berbeda. Dengan mengetahui latar belakang sejarah, kemudian dibuat aturan Perundang-undangan tersebut, maka catur wangsa peradilan akan memiliki interpretasi yang sama terhadap permasalahan hukum yang telah diatur dalam aturan Perundang-undangan dimaksud.21 Penelusuran class action yang dikenal dalam sistem hukum anglo saxon, Inggris, Amerika seperti Pasal 23 U.S. Federal of Civil Procedur dipakai acuan dalam UU No.
23/1997 untuk menyusun gugatan perwakilan dan dipakai
20 Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad ke-20, Penerbit Alumni, Edisi I, Bandung, 1994, hal. 140-141.
21 Johnny Ibrahim, Teori dan Metode Penelitian Hukum Normatif, Bayu Media Publishing, Cet.
Keenam, Malang, 2012, hal. 318.
acuan dalam menyusun PERMA No. 1 tahun 2002 tentang Hukum Acara Gugatan Perwakilan Kelompok, dan seterusnya nanti dipakai dasar dalam menyusun Perundang-undangan dalam Hukum Acara Perdata Lingkungan.
b. Pendekatan perbandingan (comparative approach)
Menurut Sunaryati Hartono, penelitian perbandingan hukum dalam hal ini ialah penelitian perbandingan hukum struktural. Penelitian perbandingan hukum struktural atau sistematik terutama berusaha untuk menyusun suatu sistem tertentu yang digunakan sebagai referensi dalam mengadakan perbandingan-perbandingan. Sistem termasuk dapat saja berupa sistem yang kongkrit, abstrak, konseptual, terbuka ataupun tertutup.22 Penggunaan pendekatan perbandingan ini ialah membandingkan dari negara-negara yang telah mengenal strict liability dan class action yng mungkin nanti dapat dipakai sumber dalam perumusan strict liability dan class action di Indonesia, khusus Hukum Acara Perdata Lingkungan.
c. Pendekatan Perundang-undangan (statuta approach)
Dalam penelitian ni dengan statuta approach ialah dengan menggunakan Peraturan Perundang-undangan yang merupakan produk pemerintah dengan legislatif, mulai dari perundang-undangan yang memiliki kedudukan tertinggi, menengah sampai kebawah. Dalam pendekatan ini peneliti haruslah melihat hukum sebagai suatu sistem tertutup yang mempunyai sifat-sifat:
a. Comprehensive, artinya norma-norma hukum yang ada didalamnya terkait antara satu dengan yang lainnya secara logis.
b. All-inclusive, kumpulan norma hukum tersebut cukup mampu menampung permasalahan hukum yang ada, sehingga tidak akan ada kekurangan hukum
22 Sunaryati Hartono, Op.Cit, hal. 173-174.
c. Systematic, bahwa disamping bertautan antara satu dengan yang lain, norma-norma hukum tersebut juga tersusun secara hierarchies.23
d. Pendekatan Konseptual (conceptual approach)
Ialah ingin mengetahui konsep-konsep hukum tentang strict liability dan class action dalam sistem hukum Anglo Saxon untuk dapat dipakai pedoman dengan konsep-konsep hukum di negara-negara yang menganut sistem hukum Eropa Continental (civil law system), yang mana dalam hal ini Indonesia polanya mengikuti konsep-konsep hukum Eropa Continental.
e. Pendekatan Filsafat (Filosophical Approach) dengan sifat filsafat yang melakukan kajian, menyeluruh, radikal, spekulatif, sistematis, koherent dan lain-lainnya dalam penelitian ini, tentunya bidang-bidang objek kajian filsafat, dengan melihat dari dimensi ontologis, epistemologi dan aksiologi.
- Dimensi ontologi yaitu mengkaji hakekat strict liability dan Class Action dalam hukum perdata dibidang lingkungan, dan mengkaji lingkungan pada umumnya.
- Dimensi Epistemologi : yaitu cara untuk mendapatkan pengetahuan yang baru tentang ilmu hukum dalam hal ini mempunyai kebenaran ilmiah dalam prosedur beracara baik strict liability dan class action. Dengan menggunakan metode ilmiah dalam kerangka penelitian hukum normatif, dengan penalaran, argumentasi-argumentasi, sarana bahasa dan logika.
- Dimensi aksiologi, dengan mempelajari isi, nilai kebenaran, keadilan, kepastian, kemamfaatan, nilai perlindungan. Menurut Jujun S.
Suriasumantri, aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan
23 Johny Ibrahim, Gagasan Pengaturan Money Laundering di Indonesia (dalam Johny Ibrahim), Metode Penelitian Hukum Normatif, Bayu Media Publishing, Cet. Keenam, 2012, Malang, hal. 303.
dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.24 Strict liability dan class action sangat bermanfaat dan adil tanpa pembuktian kesalahan, tapi tanggung gugat mutlak terhadap pencemaran dari perusahaan yang menghasilkan limbah berbahaya dan beracun yang dapat mengakibatkan kerugian banyak orang,
f. Pendekatan Kasus (case approach)
Dalam pendekatan ini ialah bertujuan untuk mempelajari penerapan norma-norma atau kaedah-kaedah hukum yang dilakukan dalam praktek hukum. Kasus-kasus yang telah diputus sebagaimana dilihat dalam yurisprudensi terhadap perkara-perkara yang menjadi fokus penelitian. Jelas kasus-kasus yang telah teijadi bermakna emfiris, namun dalam penelitian normatif, kasus-kasus tersebut dipelajari untuk memperoleh gambaran dampak dimensi penormaan dalam suatu aturan hukum dalam praktek hukum serta menggunakan hasil analisisnya untuk bahan masukan (input) dalam eksplanasi hukum.25 Melihat Ratio Decidendi putusan hakim. Menurut Atmadja, mengenai pertimbangan hukum, disinilah kelihatan titik berdiri dari hakim. Tentu dalam pertimbangan hukum terurai argumentasi hukum untuk menjastifikasi putusan itu.26 Dalam penelitian ini dengan pendekatan kasus ingin mengkaji putusan-putusan tentang class action (gugatan perwakilan).
3. Sumber Bahan Hukum
Dalam penelitian ini sumber bahan hukumnya ialah : Bahan Hukum Primer ialah bahan-bahan yang mempunyai kekuatan hukum dan mengikat seperti UUD, UU, Peraturan Perundang-undangan, Yurisprudensi, Traktat- traktat, konvensi-konvensi dan lain-lainnya. Disamping bahan hukum primer, ialah bahan hukum sekunder yang sumbernya dari hasil-hasil penelitian,
24 Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1999, hal. 234.
25 Johny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayu Media Publishing, Cet.
Ke-6, Malang, 2012, hal. 321.
261 Dewa Gede Atmadja, Pengantar Penalaran Hukum dan Argumentasi Hukum (Legal Reasoning and Legal Argumentation Introduction). Cet. I, Bali Age, 2009, hal. 65.
karya-karya ilmiah, pendapat (karya tulis) para saijana, jurnal-jurnal, doktrin- doktrin dan lain-lainnya. Untuk bahan hukum tersier ialah bahan yang dapat dipakai petunjuk untuk memahami bahan hukum primer dan sekunder.
4. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Bahan-bahan hukum yang telah dikumpulkan setelah dilakukan studi dokumen, maka pengumpulan bahan hukum primer dan sekunder dicatat melalui kartu-kartu kecil yang telah disiapkan (card system).
5. Analisis Bahan Hukum
Bahan-bahan hukum primer, sekunder dan tersier yang telah diperoleh dan relevan dengan pokok permasalahan dalam penelitian, dilakukan inventarisasi, identifikasi, klasifikasi dan diinterpretasikan, dengan analisis kwalitatif yang dijabarkan secara deskriptif dalam bentuk paper.
VI. Krangka Teoritik
Teori yang saya pakai untuk membahas dan menganalisa masalah yang saya angkat dari makalah yang beijudul “Prinsip Tanggung Jawab Mutlak (Strict Liability) Pada Gugatan Perwakilan Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Keperdataan” ialah:
1. Grand Theory : teori dasar yang dipakai ialah Teori Negara Hukum 2. Middle Range Theory yaitu Teori Filsafat Hukum Gustav Rabruch
3. Applied Theory yaitu Teori Hukum Pembangunan dari Bapak Prof. Dr.
Mochtar Kusumaatmadja, SH.LLM.
1. Grand Theory : Teori Negara Hukum
Istilah negara hukum secara konseptual di Indonesia dipadankan dengan dua istilah dalam bahasa asing yaitu:
a. Bahasa Belanda istilahnya Rechtstraat digunakan untuk menunjuk tipe negara hukum yang diterapkan di negara-negara yang menganut sistem hukum Eropa Continental atau Civil Law System.
b. Bahasa Inggris menggunakan istilah rule of law untuk menunjuk tipe negara hukum dari Negara Anglo Saxon atau di negara-negara yang
menganut common law system (Inggris, Amerika dan Negara-negara bekas jajahan Inggris), sedangkan tipe negara hukum yang diterapkan di negara-negara sosialis komunis, menggunakan istilah socialist ligality (antara lain : Rusia, RRC dan Vietnam).27
Sebelum atau pra perubahan ketiga UUD 1945, prinsip negara hukum Indonesia ditegaskan dalam penjelasan UUD 1945, yang menentukan bahwa negara Indonesia berdasarkan atas hukum (Rechtstext) tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtstaat). Apa yang ditunjukkan dalam penjelasan UUD 1945, istilah negara hukum berasal dari istilah : bahasa Belanda rechtstaat lawan kata dari maachtstaat.28 Rechtstaat atau negara hukum diartikan negara yang penyelenggaraan pemerintahannya berdasarkan prinsip-prinsip hukum untuk membatasi kekuasaan pemerintahan dibalik itu machtstaat diartikan negara yang penyelenggaraan pemerintahannya dijalankan berdasar pada kekuasaan belaka sesudah Pasca Amandement ke-3 UUD 1945. Pasal 1 ayat (3) UUD 1945, berbunyi : “Negara Indonesia Negara Hukum” dengan demikian Negara Hukum Indonesia menjadi bukan hanya satu prinsip, tapi benar-benar menjadi normatif.29 Dalam kaitannya Negara Indonesia yang pola sistem hukumnya menganut Eropa Continental (Civil Law System) dengan Rechtstaat atau Rule Of Law. Menurut pendapat Frederich Julius Sthal, unsur- unsur rechtstaat terdiri atas 4 unsur :
a. Pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia
b. Negara didasarkan atas Trias Politik (pemisahan kekuasaan negara atas kekuasaan legislatif, eksekutif dan kekuasaan yudisial)
c. Pemerintahan didasarkan atas UU (wetmatigeheid van bestuur), dan
271 Dewa Gede Atmadja, Hukum Konstitusi, Problematik Konstitusi Indonesia Sesudah Perubahan UUD 1945, Edisi Revisi, Setara Press Malang, 2010, hal. 157.
28 Atmadja, Ibid, hal. 158.
29 Fredrich Julius Stahl, (dalam I Dewa Gede Atmadja), Hukum Konstitusi, Edisi Revisi, Stara Press Malang, 2010, hal. 158.
d. Ada peradilan administrasi negara yang berwenang menangani kasus perbuatan melanggar hukum oleh pemerintah (onrechtmatige
overheidsdaad).30
Unsur Rule of Law, menurut AV Dicey terdiri dari 3 unsur yaitu:
a. Supremasi hukum (supremacy of law)
b. Persamaan dimuka hukum (equality before the law) c. Hak asasi individu (individual rights)
Tidak memerlukan peradilan administrasi, karena peradilan umum dianggap berlaku untuk semua orang baik bagi warga negara maupun pejabat pemerintah.31
Jadi menurut Atmadja, dilihat dari unsur-unsur perbedaan tipe negara hukum, perbedaan pokoknya rechtstaat penekanannya adanya peradilan administrasi negara, sedangkan rule of law penekanannya pada equality before the law.32
Pengertian dari Negara Hukum dengan istilah Rechtstaat atau government by law yang artinya yang suatu sistem kenegaraan yang diatur berdasarkan sistem hukum yang berlaku yang berkeadilan yang tersusun dalam konstitusi, dimana semua orang dalam negara tersebut baik yang diperintah maupun yang memerintah, harus tunduk pada hukum yang sama, sehingga setiap orang yang sama diperlakukan sama dan setiap orang berbeda diperlakukan berbeda dengan dasar pembedaan yang rational, tanpa memandang perbedaan warna kulit, ras, gender, agama, daerah dan kepercayaan dan kewenangan pemerintah dibatasi berdasarkan suatu prinsip distribusi kekuasaan, sehingga pemerintah tidak bertindak sewenang-wenang
30 Padmo Wahyono, (dalam I Dewa Gede Atmadja), Hukum Konstitusi, Edisi Revisi, Stara Press Malang, 2010, hal. 159.
31 H. Muh. Tahir Azhary, (dalam I Dewa Gede Atmadja), Hukum Konstitusi, Edisi Revisi, Stara Press Malang, 2010, hal. 159.
32 Atmadja, (dalam I Dewa Gede Atmadja), Hukum Konstitusi, Edisi Revisi, Stara Press Malang, 2010, hal. 159.
dan tidak melanggar hak-hak rakyat diberikan peran sesuai kemampuan peranannya secara demokratis.33
Lebih jauh suatu negara baru dapat disebut sebagai negara hukum haruslah memenuhi syarat-syarat antara lain:
1. Perlindungan hak-hak rakyat oleh Pemerintah 2. Kekuasaan lembaga negara tidak absolut 3. Berlakunya prinsip trias politika
4. Pemberlakuan check and balance
5. Mekanisme kelembagaan negara yang demokratis 6. Kekuasaan kehakiman yang bebas
7. Sistem pemerintahan yang transparan 8. Adanya kebebasan pers
9. Adanya keadilan dan kepastian hukum
10. Akuntabilitas dan pelaksanaan prinsip good governance.34
Konsep negara hukum Indonesia disebutkan menerima prinsip kepastian hukum dalam rechtstaat sekaligus prinsip keadilan di dalam the rule of law serta nilai spiritual dari hukum agama. Hukum tertulis dan segala ketentuan proseduralnya (rechtstaat) diterima di dalam negara hukum Indonesia, tetapi semua itu harus diletakkan dalam rangka menegakkan keadilan (the rule of law), ketentuan-ketentuan tertulis yang menghalangi keadilan dapat ditinggalkan.
Penguatan dari konsepsi ini adalah penyebutan di dalam fungsi kekuasaan kehakiman untuk menegakkan hukum dan keadilan seperti tertulis pada Pasal 24 ayat (1) serta penegasan dalam Pasal 28D ayat (1) tentang hak memperoleh kepastian hukum yang adil dan Pasal 28 H bahwa hukum harus dibangun berdasarkan keadilan dan kemanfaatan.35
Adapun yang dapat dipakai alasan bahwa Teori Negara hukum sebagai Grand Theory dalam penulisan makalah ini ialah :
33 http://negarahukumIndonesia.blogspot.com/. tanggal 25-12-2012.
34 http://negarahukumIndonesia.blogspot.com/. diakses tanggal 25-12-2012.
35 Moh. Mahfud MD, Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen Konstitusi, Rajawali Press, Cet. 2, Mei 2011, Jakarta, hal. 52.
1. Diakuinya Hak Lingkungan Generasi Ketiga Hak Asasi Manusia.
Persaudaraan atau hak-hak generasi ketiga diwakili tuntutan atas ”hak solidaritas” atau hak bersama. Hak-hak ini muncul dari tuntutan gigih negara-negara berkembang atau Dunia Ketiga atas tuntutan internasional yang adil. Melalui tuntutan atas hak solidaritas itu, negara-negara berkembang menginginkan terciptanya suatu tuntutan ekonomi dan hak internasional yang kondusif bagi teijaminnya hak-hak berikut:
a. Hak atas pembangunan, b. Hak atas perdamaian, c. Hak atas sumber daya alam,
d. Hak atas lingkungan hidup yang baik dan e. Hak atas warisan budaya sendiri.36
2. Alasan yang kedua, dalam Pasal 28 H UUD 1945 setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan bathin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.
3. Alasan yang ketiga menurut UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dalam Pasal 65 ayat:
(1) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari hak asasi manusia.
(2) Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup, akses informasi, akses partisipasi, dan akses keadilan dalam memenuhi hak atau lingkungan hidup yang baik dan sehat
(3) Setiap orang berhak mengajukan usul dan / atau keberatan terhadap rencana usaha dan / atau kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan
(4) Setiap orang berhak untuk berperan dalam perlindungan dan dalam pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang- undangan.
36 Kata Pengantar, Philip Alston, Fams Magnis Suseno, Hukum Hak Asasi Manusia, Cet. I, Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Isian Indonesia, Yogyakarta, 2008, hal. 16.
37
(5) Setiap orang berhak melakukan pengaduan akibat dengan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.
4. Alasan yang keempat memakai Teori Negara Hukum sebagai Grand Theory, diaturnya hak-hak atasi lingkungan hidup dalam UUD 1945 dan pentingnya upaya perlindungan hukum akibat perusahaan dan pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah berbahaya dan beracun yang merugikan ribuan/bahkan jutaan orang yagn terkena dampaknya dan berakibat kematian terhadap semua makhluk hidup. Dan diperlukan prosedur beracara perdata untuk menerapkan prinsip strict liability dan class action dalam memperjuangkan hak-hak perdatanya akibat perusakan dan pencemaran lingkungan hidup.
2. Middle Range Theory yaitu dari Gustav Radbruch :
From the concept of the law, a cultural concept, that is the concept related to value, we pressed on to the value of the law. Law is what, according to its meaning , is intended to serve the idea of the law. The idea of law we found injustice and we determined the essence of justice, of distributive justice as equality, equal treatment of equal, and correspondingly unequal treatment of different, men and relationships. We were able to orient the concept of the law toward justice, yet we were unable thereby to obtain the guiding thought from which exhaustively to derive the contain of law.
(Dari konsep hukum, konsep budaya, yaitu suatu konsep yang berkaitan dengan nilai, kita ditekankan pada nilai hukum, gagasan hukum: Apakah hukum itu? menurut maknanya, dimaksudkan untuk mengupayakan gagasan dari hukum.
Gagasan hukum kita temukan dalam bentuk Keadilan dan kita menentukan hakekat dari keadilan, keadilan distributif, sebagai kesetaraan: perlakuan yang sama, manusia dan hubungannya. Kita memang mampu untuk mengarahkan konsep hukum terhadap keadilan, namun kita tidak demikian untuk memperoleh pemikiran yang mendalam untuk mendapatkan isi hukum).
For while justice directs us to treats equal equally, unequal unequally, it does not tell us anything about the viewpoint from they are to be deemed
equals or unequal, more over it determines solely the relation and not the kind. Both
questions may be answered only by referring to the purpose of the law. Thus to justice there was added. The second element of the idea of the law is Expediency or suitability of the purpose. However the question of purpose and expediency could not be answer unequivocally but only relativistic, by the systematic development of the different of law and the state, the views of the different parties. Yet that relativism cannot remain the last word of legal philosophy.
(Untuk sementara keadilan mengarahkan kita untuk memperlakukan sama rata, tidak setara merata, ia tidak memberitahu kita apa-apa tentang sudut pandang dari mana mereka harus dianggap sama atau tidak sama, apalagi hal itu semata-mata untuk menentukan hubungan, dan bukan jenis. Kedua pertanyaan dijawab mungkin hanya dengan mengacu pada tujuan hukum. Dengan demikian keadilan lebih ditonjolkan.
Sebagai elemen kedua dari gagasan hukum yaitu kemanfaatan hukum atau kesesuaian untuk suatu tujuan. Namun, persoalan mengenai tujuan kemanfaatan tidak dapat dijawab tegas tetapi hanya bersifat relatif, dalam perkembangan sistematis pandangan hukum dan negara, pandangan dari berbagai pihak. Namun relativisme yang tidak dapat tetap menjadi kata terakhir dari filsafat hukum).
The law as order of living together cannot be handed over to disagreements between the views of individuals, it must be one order over all of them. So we are confronted with a third postulate concerning law, ranking with other two, a third element of the idea of the law, legal certainty. The certainty of the law requires law to be positive. If what is just cannot be settled, then what ought to be right must be laid down and this must be done by the agencies able to carry trough what it lays down. So, most oddly the positive of the law itself becomes a prerequisite of its lightness; to be positive is implicit in the concept of right law just much as lightness of content is a task of positive law.
(Hukum sebagai urutan hidup bersama tidak dapat diserahkan kepada perbedaan pendapat antara pandangan individu, melainkan harus menjadi satu
urutan atas semua dari mereka. Elemen ketiga dari gagasan hukum yaitu Kepastian Hukum, Kepastian hukum memerlukan hukum untuk menjadi positif, jika apa yang tidak dapat diselesaikan, maka apa yang seharusnya benar harus ditetapkan, dan ini harus dilakukan oleh lembaga sehingga mampu mewakili kepentingan dari fungsi hukum melalui kepastian hukum. Jadi, yang paling kuat yang positif dari hukum itu sendiri menjadi prasyarat dari kebenaran: untuk menjadi positif secara implisit dalam konsep hukum yang tepat. Seperti halnya kebenaran adalah bagian dari hukum positif).
Of the three elements of the idea of law it is the second, expediency to which relativistic resignation applies. But the other two, justice and legal certainty, are above the conflict between views of law and the state, above the struggle of parties. It is more important that the strife of legal views be ended than that it be determined justly and expediently. The existence of a legal order is more important than its justice and expediency. Which constitute the second grate task of the law, while the first, equally approved by all, is legal certainty that is order or peace. So, to all equally submit to the postulate of justice.
(Dari ketiga unsur gagasan hukum, itu adalah kemanfaatan, keadilan dan kepastian hukum, berada di atas konflik antara pandangan hukum dan negara, atas usaha para pihak. Hal ini lebih penting bahwa perselisihan pandangan hukum akan berakhir. Dari itu akan ditentukan secara adil dan bijaksana.
Keberadaan tatanan hukum lebih penting daripada keadilan dan kemanfaatan, yang merupakan tugas besar kedua dari tujuan hukum, kepastian hukum, yaitu, ketertiban, atau perdamaian. Demikian juga, semua sama-sama tunduk pada postulat keadilan).
Adapun yang menjadi alasan, saya memilih Middle Range Teori dan teorinya Gustav Radbruch yaitu: teori filsafat hukum.
1. Aspek keadilan yaitu perusakan dan pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh suatu perusahaan yang menghasilkan limbah berbahaya dan beracun yang mengakibatkan musnahnya makhluk hidup, apabila masih tetap mempertahankan Sistem Hukum Acara perdata HIR dan RBg
dan Pasal 1365 KUH Perdata tidak mengatur strict liability dan class action
adalah tidak adil, karena korban (masyarakat yang terkena dampaknya) sangat miskin biaya, akan dianggap adil pelaku usaha (pencemar) yang harus membuktikan dengan strict liability serta pembuktian terbalik, tanpa pembuktian dengan kesalahan dan korban terkena dampaknya ribuan bahkan jutaan dapat mewujudkan trilogi peradilan : peradilan sederhana, cepat, dan biaya murah apabila menggabungkan diri untuk menggugat melalui prosedur beraca dengan class action.
2. Aspek Kepastian:
Alasan dalam penegakan hukum khusus dalam prosedur beracara perdata di Pengadilan, adanya kepastian hukum (hukum positif, hukum formal) untuk mempertahankan dan menyerahkan dalam kasus-kasus lingkungan keperdataan. Dan Hakim ada kepstian hukum dalam memeriksa perkara di pengadilan.
3. Aspek Kefaedahan
Setelah diaturnya bentuk-bentuk hukum seperti strct liability, class action dalam hukum positif Indonesia, sehingga sesuai dengan tujuan hukum yaitu berfedah bagi orang sebanyak-banyaknya yang ingin mempeij uangkan hak-haknya.
3. Applied Theory : dipakai Teori Hukum Pembangunan dari Bapak Mochtar Kusumaatmadja, ada 2 hal yang menjadi inti dari teori beliau:
1. Ketertiban dan keteraturan dalam usaha pembaharuan dan pembangunan itu merupakan sesuatu yang diinginkan atau dipandang mutlak adanya.
2. Hukum dalam arti kaedah atau peraturan hukum memang dapat berfungsi sebagai alat pengatur atau sarana pembangunan dalam arti penyalur arah kegiatan masyarakat yang dikehendaki karena pembaharuan.
Konsep hukum yang ditawarkan oleh Mochtar Kusumaatmadj a dapat disimak dari definisi atau fungsi hukum yang dikembangkan. Hukum dalam pengertian yang luas tidak saja merupakan keseluruhan asas-asas dan kaedah-kaedah
yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat, melainkan meliputi pula lembaga-lembaga (institution) dan proses-proses (processes) yang mewujudkan berlakunya kaedah-kaedah itu dalam kenyataan37 Mochtar juga mengemukakan, hukum yang memadai harus tidak hanya memandang hukum itu sebagai perangkat kaedah-kaedah dan asas-asas yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat, tetapi harus pula mencakup lembaga (institution) dan proses (processes) yang diperlukan untuk mewujudkan hukum itu dalam kenyataan.38
Berkaitan dengan upaya penjabaran fungsi hukum sebagai sarana pembaharuan masyarakat (GBHN 1978-1998) mengenai pembangunan hukum nasional yang dilakukan melalui 3 aspek yakni:
a. Memperbaiki hukum-hukum yang sedang berlaku untuk disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan dan perkembangan masyarakat yang teqadi.
b. Memperbaharui atau merubah hukum-hukum yang pernah ada yang dianggap masih dapat dipergunakan.
c. Mempertahankan hukum yang pernah ada yang dianggap masih memadai.
Menentukan Grand Theory, Teori Negara Hukum, Middle Range Theory dari Teori Filsafat Hukum Gustav Rabruch dan Applied Theory dari Mochtar Kusumaatmadja juga dilengkapi dengan teori-teori hukum lain dalam pembahasan permasalahan yang diangkat dalam penulisan ini.
VII. Peranan Filsafat Ilmu Dalam Penegakan Hukum Lingkungan Keperdataan 1. Prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability) dalam penegakan hukum
lingkungan keperdataan.
37 Mochtar Kusumaatmadja, Pembinaan Hukum Dalam Rangka Pembangunan Nasional, Binacipta, Bandung, 1986, hal. 11.
38 Mochtar Kusumaatmadja, Hukum Masyarakat dan Pembinaan Hukum Nasional, Binacipta, Bandung, 1995, hal. 15.
2. Penemuan hukum oleh hakim dalam penerapan prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability) dalam penegakan hukum lingkungan keperdataan.
3. Kriteria menentukan wakil kelas (class representatif) dan kelas besar (class members) pada gugatan perwakilan.
4. Hubungan dan tanggung jawab hukum antara wakil kelas (class representatif) dengan kelas besar (class members)
1. Prinsip Tanggung Jawab mutlak (strict liability) dalam penegakan hukum lingkungan keperdataan
Pasal 88 UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup ditegaskan : setiap orang yang tindakannya, usahanya dan/atau kegiatannya menggunakan B3 menghasilakn dan/atau mengelola limbah B3 dan/atau yang menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan hidup bertanggung jawab mutlak atas kerugian yang teijadi tanpa perlu pembuktian unsur kesalahan.
Dalam sistim Hukum Acara Perdata Indonesia yang masih berpedoman pada HIR dan RBg tidak mengenal prosedur beracara perdata lingkungan dengan tanggung jawab mutlak (strict liability). Prinsip strict liability atau atas tanggung jawab mutlak merupakan asas atau prinsip pertanggung jawaban hukum (liability) yang telah berkembang sejak lama, yakni berawal dari sebuah kasus di Inggris (Ryland V. Flectcher) tahun 1968. Asas ini telah diadopsi dalam berbagai Perundang-undangan dan konvensi-konvensi internasional.39 Strict Liability adalah doktrin pertanggungjawaban perdata dibidang lingkungan hidup, dimana
39 Syahrul Mahmud, Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, Penegakan Hukum Administrasi, Hukum Perdata dan Hukum Pidana Menurut UU No. 32 tahun 2009, Edisi Kedua, Cet. 1,2012, hal. 209.
tanggung jawab muncul seketika yang tidak harus berdasarkan atas kesalahan (liability without fault).40
Dalam Pasal 1365 KUH Perdata mengandung konsep tanggung jawab berdasarkan atas kesalahan, yang dapat dipersamakan dengan liability based on fault, seperti halnya doktrin pertanggungjawaban tradisional negligence dalam sistem hukum Anglo Saxon.41 Disamping itu juga doktrin pertanggungjawaban tradisional tidak mampu mengantisipasi kegiatan-kegiatan yang mengandung resiko besar (significant risk).42 Di Indonesia pihak yang merasa dirugikan yaitu penggugat dalam kasus- kasus lingkungan biasanya memiliki latar belakang ekonomi lemah maupun pendidikan rendah, sehingga sangatlah tidak adil apabila mereka dibebani pembuktian tentang pencemaran dan keterkaitannya dengan kerugian yang mereka alami. Oleh karenanya mempertahankan doktrin pertanggung jawaban tradisional untuk kasus-kasus yang memiliki resiko tinggi tidak akan mendorong masyarakat untuk berperan serta dalam penegakan hukum lingkungan.43
Dilihat dari dimensi ontologi, epistemologi dan aksiologi bentuk hukum tanggung jawab mutlak (strict liability) yang dikembangkan di negara-negara yang menganut sistem hukum Anglo-Saxon termasuk juga Class Action (gugatan perwakilan) sangat relevan untuk diterapkan di Indonesia, mengingat prosedur beracara dengan Class Action dan pembuktian tanpa kesalahan dapat mewujudkan peradilan sederhana, cepat dan biaya murah. Dari dimensi ontologi adalah studi sungguh- sungguh ontologi juga diartikan sebagai metafisika umum yaitu cabang
401.M. Koopmans, De StrafBarstelling Van Milliu Veon Treening Course in Environmental Law and Administration for Indonesian Yurist, Reiden Ministry of Housing Spasial and Environment, (dalam Syahrul Mahmud, Penegakan Hukum Linghmgan Indonesia, Penegakan Hukum Administrasi, Hukum Perdata dan Hukum Pidana Menurut UU No. 32 tahun 2009), 1998, hal. 391-199 (dalam Syahrul Machmud).
41 Mas Achmad Santosa, et.al., Penerapan Asas Tanggung Jawab Mutlak (Strict Liability) di Bidang Lingkungan Hidup, ICEL, 1997, hal. 123.
42 Mas Achmad Santosa, Ibid, hal. 124.
43 Mas Achmad Santosa, Ibid.
filsafat yang mempelajari sifat dasar dan kenyataan yang terdalam, ontologi membahas asas-asas rational dari kenyataan (Kattsaff, 1986).44 Dengan terintegrasinya strict liability dan class action dalam hukum lingkungan, menurut Plato, hukum merupakan tatanan terbaik untuk menangani fenomena dunia yang penuh situasi ketidakadilan.45
Demikian juga menurut Socrates, sesuai dengan hakekat manusia maka hukum merupakan tatanan kebajikan. Tatanan yang mengutamakan kebajikan dan keadilan bagi umum.46 Hukum untuk mencapai kebajikan dan keadilan umum.47 Menurut Yuyun S. Suriasumantri, ontologi membahas apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu atau dengan perkataan lain sesuatu pengkajian mengenai teori tentang ada.48 Menganalisis pemikir-pemikir filosuf tadi, kelihatannya strict liability dan class action sangat bermanfaat dalam hukum lingkungan.
Dilihat dari dimensi epistemologi sering disebut teori pengetahuan (theory of know ledge). Istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani, Episteme, artinya pengetahuan dan logos artinya teori. Jadi epistemologi dapat didifinisikan sebagai dimensi filsafat yang mempelajari asal mula, sumber, manfaat, dan sahihnya pengetahuan. Secara sederhana disebutkan saja bagaimana cara mempelajari, mengembangkan dan memanfaatkan ilmu bagi kemaslatan manusia.49 Epistemologi dapat memberikan suatu acuan dalam mengembangkan kerangka ilmu pengetahuan, pengembangan pengetahuan melalui perencanaan metodelogi ilmiah. Lebih jauh menurut Fuad Ihsan, untuk menyebut sebagai kesatuan
44 Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu, Rineka Cipta, Cet. I, Jakarta, 2010, hal. 223.
45 Plato, (dalam Bernard L. Tanya, dkk), Teori Hukum, Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi, Genta Publising, Cet. IH, 2010, Yogyakarta, hal. 41.
46 Socrates, (dalam Bernard L. Tanya, dkk), Teori Hukum, Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi, Genta Publishing, Cet. III, 2010, Yogyakarta, hal. 31.
47 K. Barents, Sejarah Filsafat Yunani, (dalam Bernard L. Tanya, dkk.), Teori Hukum, Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi, Genta Publishing, Cet. III, Yogyakarta, 2010, h.31.
48 Yuyun S. Suriasumantri, Tentang Hakekat Ilmu dalam Perspektif, Jakarta, Gramedia, Cet. VI, 1985, hal. 5.
49 H.A. Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu, Rineka Cipta, Cet. 1,2010, Jakarta, hal. 225.
pengetahuan, dibutuhkan persyaratan tertentu, karena secara epistemologi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang memiliki persyaratan metodelogi tertentu yaitu disusun dengan cara-cara tertentu agar ilmu memiliki paradigma keilmuan yang telah diakui oleh masyarakat keilmuan tertentu pula.50 Pengetahuan yang berdasarkan atas ide (idealisme) mengandung implikasi pendekatan yang rationalitis. Rationalitis mengandung pendekatan rasional. Sifat idealisme lebih menekankan proses berfikir deduktif yang terimplikasi dalam premis- premis yaitu premis mayor, premis minor dan simpulan. Realisme mengandung pendekatan emfirik. Pengetahuan yang berdasarkan emfiris memandang pengetahuan itu adalah kenyataan dan menganut pendekatan induktif, sehingga untuk mencapai kebenaran pengetahuan didasarkan realitas kongkrit yang parsial.51 Dapat dikatakan alur berpikir untuk dapat mengatasi berbagai permasalahan yang timbul, haruslah melalui proses dengan menentukan landasan teori atau memilih teori-teori yang tepat dengan berbagai penalaran-penalaran dengan pengujian atau verifikasi dari bahan-bahan hukum primer, sekunder, tersier untuk dapat mengambil keputusan-keputusan.
Jadi pada dasarnya sebuah kegiatan memperoleh pengetahuan melibatkan kita sebagai subyek dan obyek yang kita pelajari, serta metodologi yang menghubungkan kita dan objek yang kita amati menjadi terhubung. Yang tadinya diandaikan terpisah ada jarak antara subjek dengan obyek, maka oleh metodologi subjek dihubungkan dengan objek subjek tidak saja terhubung tapi juga dekat dengan objek. Karena itu kita sering pula menyebut secara umum, metodologi sebagai pendekatan atau approach.52 Pilihan-pilihan terhadap metodologi, ialah metodologi yang
50 Fuad Ihsan, Ibid, hal. 226.
51 Fuad Ihsan, Ibid, hal. 226.
52 Antonius Cahyadi, E Fernando M. Manullang, Pengantar Ke Filsafat Hukum, Cet. IV, 2011, Jakarta, Frenanda Media Group, hal. 14.
kita pilih menentukan tempat kita dalam mengamati hal yang kita amati.53 Ia membuat kita mengambil sebuah perspektif tertentu (sudut pengamatan atau point of view) dalam kegiatan pengamatan.
Terlebih dahulu haruslah kita mengerti dan memahami objek yang menjadi kajian, ada langkah-langkah dalam mencapai pemahaman antara lain : pemahaman dalam filsafat dilakukan menurut langkah-langkah berikut antara lain:
a. Mengerti dan memahami problem yang terkandung dalam pertanyaan filosophis yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah memahami dan mengerti pertanyaan.
b. Setelah memahami problem yang muncul (pertanyaan-pertanyaan) kita harus melihat berbagai kemungkinan jawaban yang ada beserta argumen-argumen baik yang menguatkan atau melemahkan.
c. Yang terakhir coba kita melihat sekali lagi pernyataan yang memungkinkan jawaban yang kita ajukan sendiri dalam rangka afirmasi terhadap jawaban yang kita miliki.54
Dilihat dimensi Aksiologi
Secara etimologis aksiologi berasal dari kita aksios yang berarti nilai dan logos, berarti ilmu atau teori. Aksiologi sebagai teori tentang nilai membahas tentang hakekat nilai, sehingga disebut filsafat nilai.55 Jadi fungsi dari aksiologi ialah : ilmu pengetahuan sebagai strategi untuk mengantisipasi perkembangan kehidupan manusia yang negatif sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) tetap berjalan pada jalur kemanusiaan. Oleh karena itu jalur keija aksiologi (1) menjaga dan memberi arah agar proses keilmuan dapat menemukan kebenaran yang hakiki maka prilaku keilmuan perlu dilakukan dengan penuh kejujuran dan tidak berorientasi pada kepentingan langsung. (2) dalam pemilihan objek penelaan dapat
53 Ibid, hal. 15.
54 Ibid, hal. 20.
55 Fuad Ihsan, Op. Cit., hal. 231.
dilakukan secara etis yang tidak mengubah kodrat manusia, tidak merendahkan martabat manusia, tidak mencampuri masalah kehidupan dan netral dari nilai-nilai yang bersifat dogmatik, arogansi kekuasaan dan kepentingan politik. (3) pengembangan ilmu pengetahuan diarahkan untuk dapat meningkatkan tarap hidup yang memperhatikan kodrat dan martabat manusia serta keseimbangan, kelestarian alam lewat pemanfaatan ilmu dan temuan-temuan universal.56
Menurut The Liang Gie, beberapa pandangan ilmuan yang berprinsip, bahwa ilmu pengetahuan harus bebas nilai. Menurut Victor Reiskop berpendapat, The Primary aim of science is not in application.
It is in gaining in sights into the cause and laws governing natural processes. (Tujuan pokok ilmu bukan pada penerapan, tujuan ilmu adalah mencapai pemahaman-pemahaman terhadap sebab dan kaedah-kaedah tentang proses-proses ilmiah.57 Dalam dimensi aksiologi penerapan ilmu untuk dapat berguna dan bermanfaat bagi masyarakat.
2. Penemuan Hukum oleh Hakim dalam Penerapan Prinsip Tanggung Jawab Mutlak (Strict Liability) dalam Penegakan Hukum Lingkungan Keperdataan
Tugas Hakim dalam mengadili suatu perkara ialah : menerima, memeriksa dan mengadili dan akhirnya memutus perkara tersebut sampai mengambil putusan. Dalam tugasnya tersebut hakim tidak boleh menolak mengadili dan memeriksa perkara tersebut dengan alasan UU atau hukum tidak mengatur (rechtsvacuum) tetapi hakim wajib untuk mengadili. Hakim harus tahu hukumnya (ius curia novit). Apabila hakim tidak menemukan hukumnya baik dalam hukum tertulis atau tidak tertulis, maka hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum
56 Fuad Ihsan, Op. Cit., hal. 233
57 Fuad Ihsan, Op. Cit., hal. 240.
yang hidup dalam masyarakat. Menurut Pasal 20 AB, hakim harus mengadili menurut Undang-undang dalam tugasnya yang lebih luas tersebut (ius curia novit) dituntut keterampilan dan intelektualitas dari hakim.58
Dalam sistem penemuan hukum, pada dasarnya penemuan hukum tetap harus mendasarkan pada sistem hukum yang ada. Penemuan hukum yang pada dasarnya pada Undang-undang saja disebut sebagai system oriented, tetapi apabila sistem tidak memberikan solusi, maka sistem harus ditinggalkan dan menuju problem oriented. Latar belakang timbulnya problem oriented, yaitu ada kecendrungan masyarakat pada umumnya yang membuat Undang-undang lebih umum, sehingga dengan sifat umum itu hakim mendapat kebebasan lebih.59 Wiarda dalam bukunya Drie Typen van Rechtvinding membedakan penemuan hukum ada 3 yaitu, penemuan hukum otonom, penemuan hukum hiteronom dan penemuan hukum campuran.60 Sedangkan menurut Van Eikema Hommes membedakan, penemuan hukum menjadi typisch logicitisch dan materiel juridisch. Penemuan hukum heteronom hakekatnya sama dengan typisch logicitisch, sedangkan otonom sama dengan materiel juridisch.61 Menurut pandangan klasik dari:
Montesqueu dan Emmuel Kant terhadap penemuan hukum heteronom, hakim hanyalah penyambung lidah atau corong dari Undang-undang, sehingga ia tidak mengubah kekuatan hukum Undang-undang tidak dapat menambah dan mengiringi.62 Dalam penemuan hukum yang otonom, hakim tidak lagi dipandang sebagai corong Undang-undang, tetapi sebagai pembentuk
58 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Cet I, Liberty, Yogyakarta, 1993, haL 10.
59 Bambang Sutiyoso, Metode Penemuan Hukum, Cet. IV, UII Press, Yogyakarta, 2012, hal. 62.
60 Wiarda, (dalam Bambang Sutiyoso), Metode Penemuan Hukum, Cet. IV, UII Press, Yogyakarta, 2012, hal. 62.
61 Van Eikema Hommes, (dalam Bambang Sutiyoso), Metode Penemuan Hukum, Cet. IV, UII Press, Yogyakarta, 2012, hal. 62.
62 Montiquen dan Emanuel Kant, (dalam Bambang Sutiyoso), Metode Penemuan Hukum, Cet.
IV, UII Press, Yogyakarta, 2012, hal. 63.