• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN

2.2 Pembentukan Hormon Steroid pada Ovarium

Estrogen juga berperan sebagai pemberi efek umpan balik negatif kuat yang menekan sekresi gonadotropin (FSH dan LH), sehingga pertumbuhan folikel terhambat.

Pada wanita normal, estradiol diproduksi rata-rata 100-300 µg/hari. Produksi androstenedion sekitar 3 mg/hari, dan konversi perifer (sekitar 1%) dari androstenedion menjadi estron sekitar 20-30% dari produksi estron per hari (Guyton, 2000).

Karena estrogen mempunyai efek-efek yang penting pada berbagai jaringan tubuh, maka tidak mengherankan apabila kadar estrogen wanita rendah sekali, dapat timbul efek-efek negatif. Salah satunya yang paling terlihat adalah berakhirnya menstruasi.

Selain itu penurunan estrogen dapat menimbulkan gejala-gejala sebagai berikut:

1. Hot flushes dan keringat malam hari dengan gangguan tidur 2. Kekeringan vagina dan kehilangan elastisitas jaringan vagina

3. Meningkatnya infeksi saluran kencing dan masalah-masalah dengan inkontinensia urinaria

4. Kehilangan hasrat dan fungsi seksual 5. Perubahan mood atau depresi

6. Timbul masalah dalam ingatan dan meningkatnya resiko penyakit Alzheimer 7. Perubahan pada payudara, yaitu kehilangan kekencangannya

8. Perubahan pada kulit, yaitu kulit menjadi lebih tipis, kolagen dan kelembaban berkurang

9. Kehilangan densitas tulang, dapat mengakibatkan osteoporosis

10. Meningkatkan kadar kolesterol, dapat meningkatkan resiko penyakit jantung (Guyton, 2000).

2.4 Menopause

Pada umumnya orang lebih senang menggunakan istilah ’Menopause’, meskipun istilah tersebut kurang tepat, karena menopause hanya merupakan kejadian sesaat saja, yaitu perdarahan haid yang terakhir. Yang paling tepat digunakan adalah klimakterik, yaitu fase peralihan antara pramenopause dan pascamenopause. Disebut pascamenopause bila telah mengalami menopause 12 bulan sampai menuju senium.

Senium adalah pascamenopause lanjut, yaitu setelah usia 65 tahun. Bila ovarium tidak berfungsi lagi pada usia <40 tahun disebut klimakterium prekok (Baziad, 2003).

Fase klimakterik dibagi dalam beberapa fase:

Pramenopause

Fase pramenopause adalah fase antara usia 40 tahun dan dimulainya fase klimakterik. Fase ini ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur, dengan perdarahan haid yang memanjang dan jumlah darah haid yang relaitf banyak, dan kadang-kadang disertai nyeri haid (dismenorea). Pada wanita tertentu telah timbul keluhan vasomotorik dan keluhan sindrom prahaid atau sindrom pramenstrual. Perubahan endokrinologik yang terjadi adalah berupa fase folikuler yang memendek, kadar estrogen yang tinggi, kadar FSH juga biasanya tinggi, tetapi dapat juga ditemukan kadar FSH yang normal.

Fase luteal tetap stabil. Akibat kadar FSH yang tinggi ini dapat terjadi perangsangan

43

ovarium yang berlebihan (hiperstimulasi) sehingga kadang-kadang dijumpai kadar estrogen yang sangat tinggi.

Perimenopause

Perimenopause merupakan fase peralihan antara pramenopause dan pascamenopause. Fase ini ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur. Sebanyak 40%

wanita siklus haidnya anovulatorik. Meskipun terjadi ovulasi, kadar progesteron tetap rendah. Kadar FSH, LH, dan estrogen sangat bervariasi. Pada umumnya wanita telah mengalami berbagai jenis keluhan klimakterik.

Menopause

Jumlah folikel yang mengalami atresia makin meningkat, sampai suatu ketika tidak tersedia lagi folikel yang cukup. Produksi estrogen pun berkurang dan tidak terjadi haid lagi yang berakhir dengan terjadinya menopause. Oleh karena itu menopause diartikan sebagai haid alami terakhir, dan hal ini tidak terjadi bila wanita menggunakan kontrasepsi hormonal pada usia perimenopause. Kita tidak pernah tahu kapan wanita tersebut memasuki usia menopause. Untuk menentukan diagnosis menopause, pil kontrasepsi harus segera dihentikan dan satu bulan kemudian dilakukan pemeriksaan FSH dan estradiol (Baziad, 2000).

Bila pada usia perimenopause ditemukan kadar FSH dan estradiol yang bervariasi (tinggi atau rendah), maka setelah memasuki usia menopause akan selalu ditemukan kadar FSH yang tinggi (>40 mIU/ml). Kadar estradiol pada awal menopause dijumpai rendah hanya pada sebagian wanita, sedangkan pada sebagian wanita lain, apalagi wanita gemuk, kadar estradiol dapat tinggi. Hal ini terjadi akibat proses

aromatisasi androgen menjadi estrogen di dalam jaringan lemak. Diagnosis menopause merupakan diagnosis retrospektif. Bila seorang wanita tidak haid selama 12 bulan, dan dijumpai kadar FSH darah >40 mIU/ml dan kadar Estradiol <30 pg/ml, telah dapat dikatakan wanita tersebut telah mengalami menopause.

Pascamenopause

Ovarium sudah tidak berfungsi sama sekali, kadar estradiol berada antara 20-30 pg/ml, dan kadar hormon gonadotropin biasanya meningkat. Peningkatan hormon gonadotropin ini disebabkan oleh terhentinya produksi inhibin akibat tidak tersedianya folikel dalam jumlah yang cukup. Pada usia reproduksi folikel memproduksi inhibin dalam jumlah yang cukup dan inhibin inilah yang menekan sekresi FSH, bukan sekresi LH. Akibat rendahnya kadar estradiol, endometrium menjadi atropik dan tidak mungkin muncul haid lagi. Namun pada wanita gemuk masih ditemukan kadar estron yang tinggi, dan estron ini akan diubah menjadi estradiol. Estradiol yang tinggi ini menimbulkan proliferasi pada endometrium dan mengakibatkan terjadinya perdarahan pada uterus (Baziad, 2003).

Pada wanita pascamenopause masih saja dapat dijumpai jenis steroid seks lain dengan kadar yang normal dalam darah. Ternyata ovarium wanita pascamenopause masih memiliki kemampuan untuk menyintesis steroid seks. Sel-sel hilus dan kortek ovarium masih dapat memproduksi androgen, estrogen, dan progesteron dalam jumlah tertentu. Selain itu, jaringan tubuh tertentu, seperti lemak, uterus, hati, otot, kulit, rambut, dan bahkan bagian dari sistem neural sumsum tulang memiliki kemampuan mengaromatisasi androgen menjadi estrogen. Kelenjar adrenal merupakan sumber androgen utama bagi wanita pascamenopause.

45

Faktor-faktor yang Memengaruhi Menopause.

Saat masuknya seseorang dalam fase menopause sangat berbeda-beda. Wanita di Eropa tidak sama usia menopausenya dengan wanita di Asia. Faktor genetik kemungkinan berperan terhadap usia menopause. Baik usia pertama haid (menars), melahirkan pada usia muda, maupun berat badan tidak terbukti mempercepat datangnya menopause. Memasuki usia menopause lebih awal dijumpai pada wanita nulipara, wanita dengan diabetes melitus, perokok berat, kurang gizi, wanita vegetarian, wanita dengan sosioekonomi rendah, dan pada wanita yang hidup pada ketinggian

>4000 m. Wanita multipara dan wanita yang banyak mengonsumsi daging, atau minum alkohol akan mengalami menopause lebih lambat (Baziad, 2003).

Gambaran Klinis Menopause.

Lebih kurang 70% wanita peri dan pascamenopause mengalami keluhan vasomotorik, depresif, dan keluhan psikis dan somatik lainnya (tabel 2.1). Berat atau ringannya keluhan berbeda-beda pada setiap wanita. Keluhan-keluhan tersebut mencapai puncaknya sebelum dan sesudah menopause, dan dengan meningkatnya usia, keluhan-keluhan tersebut makin jarang ditemukan.

Dengan makin meningkatnya usia, maka makin sering dijumpai gangguan seksual pada wanita. Akibat kekurangan hormon estrogen, aliran darah ke vagina berkurang, cairan vagina berkurang, dan sel-sel epitel vagina menjadi tipis dan mudah cedera. Beberapa penelitian membuktikan bahwa kadar estrogen yang cukup merupakan faktor terpenting untuk mempertahankan kesehatan dan mencegah vagina dari kekeringan sehingga tidak menimbulkan nyeri saat sanggama.

Keluhan-keluhan yang dapat timbul antara lain dapat dilihat pada tabel berikut:

Gejolak panas (hot flushes) 70%

Jantung berdebar-debar 40%

Gangguan tidur 50%

Depresi 70%

Mudah tersinggung, merasa takut, gelisah, dan lekas marah 90%

Sakit kepala 70%

Cepat lelah, sulit berkonsentrasi, mudah lupa, kurang tenaga 65%

Berkunang-kunang 20%

Kesemutan 25%

Gangguan libido 30%

Obstipasi 40%

Berat badan bertambah 60%

Nyeri tulang dan otot 50%

Osteoporosis 35%

Tabel 2.1 Keluhan Klimakterik pada Wanita Usia antara 45 dan 54 tahun (Baziad, 2003)

Wanita dengan kadar estrogen <50 pg/ml lebih banyak mengeluh masalah seksual seperti vaginanya kering, perasaan terbakar, gatal, dan sering keputihan. Akibat cairan vagina berkurang, umumnya wanita mengeluh sakit saat sanggama.

47

Pada masa perimenopause sebanyak 15% wanita mengeluh vagina kering, meskipun haidnya masih teratur. Pada masa pascamenopause, wanita yang mengeluh vagina kering meningkat sampai 50%. Libido sangat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti perasaan, lingkungan, dan faktor hormonal. Apakah terdapat pengaruh langsung rendahnya kadar estrogen terhadap libido, hingga kini belum dapat dibuktikan.

Androgen kelihatannya memiliki peranan penting dalam hal peningkatan libido, karena pada wanita yang telah diangkat kedua ovariumnya, penurunan libido yang terjadi erat kaitannya dengan penurunan kadar androgen. Baik pada wanita dengan menopause alami, maupun pada wanita pasca-ooforektomi bilateral, pemberian androgen kombinasi dengan estrogen akan meningkatkan libido. Pemberian androgen telah terbukti dapat meningkatkan libido, tetapi efek samping yang muncul juga banyak (Baziad, 2003).

Kekurangan estrogen juga dapat menurunkan HDL (High Density Lipoprotein).

Padahal HDL sangat penting dalam mencegah penyakit jantung koroner. Selain itu kekurangan estrogen dapat menyebabkan terjadinya resistensi insulin sehingga mengganggu metabolisme lipoprotein yang kaya akan trigliserid. Akibatnya terjadi hiperinsulinemia, tekanan darah meningkat, HDL menurun, dan LDL (Low Density Lipoprotein) meningkat. Terjadi penumpukan lemak di perut yang disebut adipositas tipe android. Semua ini memicu terbentuknya aterosklerosis dan penyakit iskemik.

Kulit yang sehat sangat penting bagi seorang wanita. Kelainan kulit sedikit saja dapat memberikan dampak negatif bagi mereka. Kulit terdiri dari dua lapisan, yaitu bagian luar epidermis dengan keratinosit dan melanositnya, dan bagian dalam yaitu dermis, yang mengandung kolagen tinggi. Dermis memiliki banyak arteriolen, yang

membentuk tumpukan kapiler di dalam papil-papil dan sangat berperan pada timbulnya semburan panas. Sementara itu kolagen dan serat elastin berperan untuk mempertahankan stabilitas dan elastisitas kulit. Turgor kulit dapat dipertahankan oleh proteoglikan yang dapat menyimpan air dalam jumlah besar. Estrogen memengaruhi, terutama kadar kolagen, jumlah proteoglikan, dan kadar air dari kulit. Proses penuaan pada kulit merupakan proses yang kompleks (Baziad, 2003).

Estrogen memengaruhi aktifitas metabolik sel-sel epidermis dan fibroblas, serta aliran darah. Kekurangan estrogen dapat menurunkan mitosis kulit sampai atropi, menyebabkan berkurangnya sintesis kolagen, dan meningkatkan penghancuran kolagen.

Estrogen juga memiliki efek protektif langsung terhadap kulit melalui pencegahan radikal bebas terhadap kulit.

Pemberian androgen juga dapat meningkatkan massa tulang dengan beberapa cara, seperti memicu aktifitas osteoblas melalui reseptor androgen di tulang, dan terjadinya aromatisasi androgen menjadi estrogen di tulang itu sendiri. Pada pengobatan wanita-wanita pascamenopause yang sudah mengalami osteoporosis dengan Nandrolon Underkonat (intramuskuler 50 mg setiap 3 minggu) ditemukan penambahan densitas mineral tulang yang sangat mencolok. Efek samping negatif berupa gambaran androgenisasi, seperti perubahan suara dan gambaran hirsutisme, sedangkan efek positifnya berupa berkurangnya jumlah lemak dan peningkatan massa otot.

Menopause merupakan proses biologis dan alamiah sebagai salah satu siklus kehidupan wanita yang akan dilalui oleh setiap wanita bila memiliki umur panjang. Pada masa ini terjadi perubahan anatomi dan penurunan fungsi tubuh. Hal ini dihubungkan

49

dengan kekurangan hormon estrogen, masalah psikososial, dan penyakit usia lanjut (Baziad, 2003).

2.5 Sulih Testosteron

Oleh karena aging berkaitan dengan penurunan hormon, pengobatan yang tepat haruslah bertujuan meningkatkan atau mengembalikan kadar hormon-hormon tersebut, termasuk hormon testosteron. Penurunan hormon-hormon ini akan memperburuk kualitas hidup wanita pada masa menopause dan pria pada masa andropause.

Pengobatan dengan testosteron pada umumnya dilakukan dalam jangka panjang, dan memerlukan pemeriksaan yang teratur, termasuk pemeriksaan kadar hormon dan reaksi yang terjadi. Ada beberapa preparat testosteron untuk pengobatan pengganti, dengan cara pemberian yang berbeda, yaitu:

1. per oral (Testosterone undecanoate dan buccal Testosterone)

2. injeksi intramuskuler (Testosterone propionate, Testosterone enanthate, Testosterone undecanoate, dan injeksi subkutan Testosterone pellet)

3. transdermal (T gel dan T patch)

Preparat sulih testosteron dapat diberikan secara oral dalam bentuk tablet, suntikan, secara rektal, aplikasi nasal, implan, dan transdermal.

2.5.1 Pemberian Injeksi Testosteron pada Pria

Perubahan aktifitas dari poros hipotalamus-hipofise-gonadal pada pria terjadi

lebih lambat. Seiring dengan penuaan, kadar serum total dan free testosterone tampak menurun. Andropause terjadi karena penurunan jumlah dan kemampuan sekresi sel Leydig. Penurunan serum total testosteron ini dimulai setelah umur 40 tahun. Kadar free testosterone juga menurun sehubungan dengan peningkatan SHBG (Sex Hormone Binding Globulin).

Gejala-gejala pada defisiensi androgen pada pria:

Menurunnya aktivitas dan libido (sexual desire)

 Menurunnya ereksi spontan dan mengecilnya testis

Berkurangnya tinggi badan dan bone mineral density

Berkurangnya kekuatan otot, hot flushes dan berkeringat

 Berkurangnya energi, motivasi, dan inisiatif

 Depresi dan perasaan sedih

 Konsentrasi dan daya ingat menurun, serta gangguan tidur

 Anemia ringan (normokromik, normositer)

 Peningkatan lemak tubuh dan indeks massa tubuh

Terapi testosteron dianjurkan untuk pria yang mengalami sindroma defisiensi androgen, agar dapat memperbaiki fungsi seksual dan kepadatan tulang. Hasil terapeutik sebaiknya dapat meningkatkan kadar testosteron sampai kadar 400-800 mg/dl untuk pria dewasa muda. Untuk pria dewasa tua sebaiknya mencapai kadar yang lebih rendah yaitu 300-500 mg/dl (Bhasin, 2006).

2.5.2 Pemberian Injeksi Testosteron pada Wanita

51

Keputusan pemberian pengobatan hormon pada wanita menopause harus mempertimbangkan keuntungan dan risiko berdasarkan riwayat kesehatan yang bersangkutan. Akan tetapi, pengobatan hormon pada menopause tidak boleh diberikan bila wanita mempunyai riwayat kanker payudara atau rahim, stroke, serangan jantung, penggumpalan darah, dan mengalami gangguan fungsi hati. Dalam keadaan seperti ini, disarankan melakukan perbaikan hidup sebagai pengganti pengobatan hormon atau mencoba pengobatan lain (Pangkahila, 2007).

Androgen memegang peranan penting dalam fungsi seksual wanita, yang mengalami penurunan kadar androgen pada akhir masa reproduksi. Meskipun tidak ada preparat androgen yang secara spesifik disetujui oleh FDA untuk pengobatan disfungsi seksual atau insufisiensi androgen pada wanita, pemberian androgen ini telah digunakan tanpa label untuk memperbaiki disfungsi seksual dan menurunnya libido pada wanita berusia di atas 40 tahun.

Telah banyak dilakukan clinical trial pada wanita postmenopause yang kehilangan libido, memperlihatkan secara signifikan bahwa dengan pemberian testosteron dapat memperbaiki fungsi seksual yaitu dorongan, bangkitan, frekuensi, dan kepuasan seksual. Selama penelitian yang dilakukan selama 2 tahun, pada kontrol tidak ditemukan efek samping yang berarti. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian testosteron dosis rendah cukup efektif untuk memperbaiki disfungsi seksual pada wanita postmenopause (Bolour dan Braunstein, 2005).

Adakalanya injeksi mixed testosterone esters (50-100 mg) digunakan setiap 4-6 minggu secara intramuskular pada wanita dengan simtom defisiensi androgen, meskipun tidak ada data-data mengenai hal ini. Secara klinis, terapi ini memberikan efek

yang cepat, yaitu meningkatnya libido dalam waktu 2-3 hari setelah pemberian injeksi.

Farmakokinetik dari mixed testosterone esters injeksi pada wanita belum dipelajari, tetapi para wanita tersebut melaporkan timbulnya acne dan cliteromegaly setelah mendapatkan injeksi (Buckler, 1998).

2.5.3 Efek Samping Injeksi Testosterone Enantate Dosis Tinggi

Efek samping dalam penggunaan injeksi testosteron dosis tinggi berbeda pada setiap individu. Gejala-gejala hiperandrogen (Gooren, 1990) adalah:

1. Efek pada gonadotropin, spermatogenesis, dan fungsi seksual 2. Efek pada metabolisme dan beberapa sistem organ:

- Efek anabolik (efek pada keseimbangan nitrogen, perkembangan otot, dan sebagainya)

- Efek pada hematopoesis dan formasi trombus - Retensi air dan garam

- Efek metabolik lainnya (termasuk efek pada ginjal, pernapasan, dan metabolisme tulang)

3. Efek virilisasi

4. Memengaruhi sistem saraf pusat

5. Efek terhadap hepar dan hipersensitifitas 6. Efek teratogenik

Kontraindikasi relatif untuk terapi testosteron adalah akne tingkat sedang-berat, hirsutisme, alopesia androgenik, dan keadaan-keadaan di mana peningkatan libido tidak

53

dikehendaki. Kontraindikasi absolutnya antara lain hamil, menyusui, dan suspected androgen-dependent neoplasia. Efek samping dari pemberian testosteron dosis tinggi adalah virilisasi, retensi cairan, dan potentially adverse lipoprotein-lipid effects (David, 1999). Menurut Goodman (2001), efek samping testosteron dosis tinggi antara lain hirsutisme, acne, dan alopecia, dan yang berkaitan dengan sistem reproduksi wanita yaitu amenore dan infertilitas. Hiperandrogenisme juga dapat menyebabkan penyakit kardiovaskuler yang serius (seperti hipertensi, penyakit mikrovaskuler, dan dislipidemi), dan penyakit metabolik lainnya (seperti Diabetes Melitus tipe 2). Kondisi yang umumnya terjadi pada hiperandrogenisme pada usia reproduksi adalah penyakit-penyakit ovulatori dan Polycystic Ovary Syndrome (PCOS).

Pemberian testosteron sebaiknya tidak diberikan pada wanita postmenopause yang tidak mendapatkan terapi sulih estrogen. Awalnya, pemberian estrogen saja dapat memperbaiki gejala-gejala postmenopause, seperti mengurangi kekeringan vagina, dan kemudian untuk meningkatkan fungsi seksualnya dibutuhkan terapi androgen.

Selanjutnya, pemberian testosteron saja akan menekan SHBG yang dapat meningkatkan timbulnya efek samping.

2.6 Hewan Coba Tikus

2.6.1 Penggunaan Tikus (Rattus Norvegicus) di Laboratorium

Penggunaan tikus atau rat (Rattus Norvegicus) telah diketahui sifat-sifatnya dengan sempurna, mudah dipelihara, merupakan hewan yang relatif sehat dan cocok untuk berbagai macam penelitian. Terdapat beberapa galur atau varietas tikus yang

memiliki kekhususan tertentu antara lain galur Sprague-dawley yang berwarna albino putih berkepala kecil dan ekornya lebih panjang daripada badannya, dan galur Wistar yang ditandai dengan kepala besar dan ekor lebih pendek (Malole dan Pramono, 1989).

Tikus (Rattus Norvegicus) galur Wistar lebih besar dari famili tikus umumnya, di mana tikus ini dapat mencapai 40 cm diukur dari hidung sampai ujung ekor dan berat 140-500 gram. Tikus betina biasanya memiliki ukuran lebih kecil dari tikus jantan dan

Frekuensi denyut jantung (permenit) : 330-480

Frekuensi respirasi (permenit) : 66-114

Tidal volume (ml) : 0,6-1,25

Jumlah anak perkelahiran : 6-12

55

Umur sapih (hari) : 21

Tabel 2.2 Data Biologis Tikus (Malole dan Pramono, 1989; Kusumawati, 2004)

2.6.2 Pemberian Makanan dan Air Minum Tikus di Laboratorium

Bahan dasar makanan tikus dapat bervariasi misalnya: protein 20-25% (tetapi hanya 12%, kalau protein itu lengkap berisi semua asam amino esensial dengan konsentrasi benar), lemak (5%), pati (45-50%), serat kasar (kira-kira 5%), abu (4-5%), vitamin A (4.000 IU/Kg), vitamin D (1.000 IU/Kg), alfa tokoferol (30 mg/Kg), asam linoleat (3 mg/Kg), tiamin (4 mg/Kg), riboflavin (3 mg/Kg), pantotenat (8 mg/Kg), vitamin B12 (50 ug/Kg), biotin (10 ug/Kg), piridoksin (40-300 ug/Kg), dan kolin (1000 mg/Kg). Untuk memenuhi kebutuhan makanan tikus, di Indonesia dipakai makanan ayam petelur (kandungan protein 17%) yang mudah diperoleh di toko makanan ayam (Malole dan Pramono, 1989) dan pemberian air minum tikus ad libitum.

Keperluan mineral tikus tercantum dalam tabel berikut ini:

Mineral Kebutuhan Kalsium 0,5%

Fosfor 0,4%

Magnesium 400 mg/Kg Kalium 0,36%

Natrium 0,05%

Tembaga 5,0%

Yodium 0,15 mg/Kg Besi 35,0 mg/Kg

Mangan 50,0 mg/Kg Seng 12,0 mg/Kg

Tabel 2.3 Mineral dalam makanan tikus (Malole dan Pramono, 1989).

2.6.3 Pemantauan Keselamatan Tikus di Laboratorium

Pemantauan keselamatan tikus di laboratorium (Ngatidjan, 2006) antara lain:

1. Kandang tikus harus cukup kuat, tidak mudah rusak, mudah dibersihkan (satu kali seminggu), mudah dipasang lagi, hewan tidak mudah lepas, harus tahan gigitan dan hewan tampak jelas dari luar. Alas tempat tidur harus mudah menyerap air, pada umumnya dipakai serbuk gergaji atau sekam padi.

2. Menciptakan suasana lingkungan yang stabil dan sesuai dengan keperluan fisiologi tikus (suhu, kelembaban, dan kecepatan pertukaran udara yang ekstrim harus dihindari).

3. Untuk tikus dengan berat badan 200-300 gram, luas lantai tiap ekor tikus adalah 600 cm², tinggi 20,0 cm.

4. Tikus harus diperlakukan dengan kasih sayang.

Aspek kesejahteraan tikus laboratorium meliputi:

 Bebas dari rasa sakit

 Bebas dari rasa haus dan lapar

 Bebas dari penyakit

57

Pengendalian penyakit pada tikus antar lain:

 Sering mengganti alas tidur dan membersihkan kandang

 Merawat tikus dengan cara yang higienis, yaitu tangan perawat harus selalu bersih

 Perhatikan secara seksama gejala-gejala sakit, misalnya berat badan turun atau gejala lain seperti sukar bernapas dan mencret

 Setelah pengambilan darah dilakukan, tikus sebaiknya diberikan vitamin seperti asam folat dan B12

 Untuk mengurangi rasa sakit pada saat pengambilan darah dapat diberikan alkohol pada area yang akan diinjeksi.

2.6.4 Perilaku Seksual Tikus Betina

Berbeda dengan manusia, mamalia yang bukan primata tidak mengalami menstruasi. Siklus seksualnya disebut siklus estrus. Keinginan hewan betina untuk melakukan hubungan seksual muncul pada siklus ini. Pada spesies yang ovulasinya spontan seperti tikus, peristiwa endokrin yang mendasarinya sama seperti siklus menstruasi. Ovulasi pada spesies lainnya dapat ditimbulkan oleh kopulasi (reflek ovulasi) (Ganong, 1990).

Siklus estrus dibagi menjadi 4 fase berdasarkan gejala klinik, perubahan pada organ, dan saluran reproduksi, yaitu (1) proestrus, (2) estrus, (3) metestrus, dan (4) diestrus (Partodiharjo, 1992).

Proestrus yang dihasilkan hormon estrogen merupakan periode persiapan yang ditandai dengan pertumbuhan folikel oleh FSH dan dihasilkan hormon estrogen. Fase ini

pada tikus berlangsung kira-kira 12 jam. Estrus yang ditandai dengan penerimaan pejantan oleh betina untuk kopulasi merupakan masa keinginan kawin (Partodiharjo, 1992). Estrogen pada fase ini mencapai konsentrasi tertinggi pada waktu terbentuknya folikel de Graaf yang berisi ovum sehingga merangsang hipofise anterior utntuk menyekresikan LH (luteinizing hormone) yang diperlukan untuk ovulasi.

Metestrus merupakan lanjutan periode estrus. Sel-sel granulosa dan sel-sel teka yang berasal dari folikel yang telah pecah pada periode ini akan membentuk korpus luteum dan mulai menghasilkan progesteron (Partodihjarjo, 1992; Hardjopranjoto, 1995). Fase ini pada tikus berlangsung kira-kira 21 jam. Diestrus merupakan periode akhir siklus estrus. Korpus luteum berkembang sempurna pada periode ini. Hormon LH pada fase ini sangat berperan memelihara korpus luteum untuk memproduksi progesteron. Selanjutnya hipofise anterior mulai menyekresikan hormon gonadotropin (FSH dan LH) untuk merangsang pertumbuhan folikel baru (Partodiharjo, 1992;

Hardjopranjoto, 1995). Fase ini berlangsung kira-kira 57 jam.

Berikut perubahan-perubahan yang terdapat pada ulas vagina dan perilaku seksual tikus betina:

Tahap Estrus (waktu) Ulas Vagina Perilaku Seksual Proestrus (12 jam) Sel epitel Pre kopulasi Estrus (12 jam) Sel kornifikasi Lordosis

Metestrus (21 jam) Sel kornifikasi, leukosit Menolak jantan Diestrus (57 jam) Leukosit, sel epitel Menolak jantan

Tabel 2.4 Perubahan-perubahan yang terdapat pada ulas vagina dan perilaku seksual

59

tikus betina

Estrogen berperan dalam menjaga libido dan perilaku seksual tikus (Kenyon, 2000). Peranan estrogen pada saat perilaku prekopulasi adalah meningkatkan keinginan betina untuk mendekati jantan, menyebabkan atraktifitas betina dengan merangsang terbentuknya stimulus seperti bau, feromon, dan suara (Carlson,2001; Kenyon, 2000).

Hormon estrogen dibentuk saat proses maturasi dari folikel ovarium dan proses aromatisasi oleh enzim aromatase sehingga terjadi konversi dari androgen dalam hal ini androstenedion dan testosteron menjadi estrogen (Shiverick dan Salafia, 1999).

Dorongan atau motivasi seksual dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain hormon testosteron. Testosteron pada tikus betina dihasilkan oleh kelenjar adrenal.

Testosteron mempunyai peranan penting pada perilaku seksual tikus betina (Kenyon,

Testosteron mempunyai peranan penting pada perilaku seksual tikus betina (Kenyon,