BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS
3.3 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka berpikir, maka hipotesis yang dapat diajukan adalah :
Pemberian injeksi Testosterone Enanthate dosis tinggi (Raitorio®) dapat menurunkan kadar estrogen pada tikus betina dewasa.
Faktor Eksogen:
65 BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian eksperimental, dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah randomized pre-post test control group design (Pocock, 2008).
Pada kelompok subyek penelitian dilakukan alokasi sampel secara random sehingga didapatkan 2 kelompok. Satu kelompok sebagai kelompok kontrol yang diberikan plasebo aqua pro-injeksi (sesuai dengan volume TE), kelompok yang lain sebagai kelompok perlakuan yang diberikan Testosterone Enanthate dosis tinggi (Raitorio®) sebanyak 180 mg intramuskular. Rancangan penelitian dapat digambarkan dengan skema sebagai berikut:
O1 P0 O2
P S RA
O3 P1 O4
Skema 4.1 Rancangan Penelitian
Keterangan:
P = Populasi tikus betina dewasa muda umur 90 hari, berat badan 200-250 gram
S = Sampel tikus
RA = Random Alokasi
O1, O3 = Kadar estrogen sebelum perlakuan
O2 = Kadar estrogen setelah 2 minggu diberikan suntikan plasebo (aquabides)
O4 = Kadar estrogen setelah 2 minggu diberikan suntikan Testostreron Enanthate dosis tinggi
P0 = Perlakuan dengan diberi suntikan plasebo (aquabides)
P1 = Perlakuan dengan diberi suntikan intramuskuler Testostreron Enanthate dosis tinggi
4.2 Tempat Dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Laboratory Animal Unit, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Subyek Penelitian
67
Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah tikus yang sesuai dengan sampel yang telah ditentukan dalam penelitian.
4.3.2 Kriteria Subyek
Sampel dalam penelitian ini adalah tikus betina dewasa muda, yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi sebagai berikut :
Kriteria Inklusi :
a. Tikus betina putih dewasa (Rattus norvegicus dari galur Wistar) b. Umur 90 hari
c. Berat badan 200-250 gram.
Kriteria Eksklusi: apabila tikus sakit pada saat penelitian.
Kriteria Drop out : apabila tikus mati pada saat penelitian.
4.3.3 Besaran Sampel
Pada penelitian ini perhitungan jumlah sampel dihitung dengan rumus (Federer, 1963):
(n-1) x (t-1) ≥ 15 n = jumlah replikasi t = jumlah perlakuan
Perhitungan sebagai berikut (n-1) x (2-1) ≥ 15, jadi n=16. Jumlah sampel per kelompok adalah 16 ekor tikus. Tiap kelompok ditambah 2 ekor sebagai cadangan. Ada 2 kelompok, jadi total jumlah sampel adalah 36 ekor tikus.
4.3.4 Teknik Penentuan Sampel
Teknik penentuan sampel dilakukan dengan cara berikut :
a) Dari populasi tikus (Rattus norvegicus) diadakan pemilihan sampel berdasarkan kriteria inklusi.
b) Dari jumlah sampel yang telah memenuhi syarat diambil secara random untuk mendapatkan jumlah sampel.
c) Dari sampel yang telah dipilih kemudian dibagi menjadi 2 kelompok secara random yaitu kelompok kontrol dan kelompok yang mendapat perlakuan, masing-masing kelompok dengan jumlah sampel.
4.4 Variabel
4.4.1 Klasifikasi Variabel
a. Variabel bebas : Testosterone Enanthate (Raitorio®) dosis tinggi b. Variabel tergantung : kadar estrogen
c. Variabel kontrol : - varian tikus (Rattus norvegicus) - jenis kelamin, umur, berat badan tikus - suhu, kelembaban, nutrisi, kandang
4.4.2 Definisi Operasional Variabel
1. Testosterone Enanthate dosis tinggi (Raitorio®) adalah suatu bentuk sediaan testosterone esther sebesar 10.000 mg, diinjeksikan intramuskular satu kali.
2. Kadar estrogen adalah kadar hormon estradiol dalam darah yang diukur dengan metode ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay). Darah diambil
69
pada awal penelitian untuk masing-masing kelompok penelitian dan 14 hari kemudian (setelah selesai diberi perlakuan).
3. Hewan percobaan yang digunakan adalah tikus betina putih (Rattus norvegicus) dari galur Wistar, betina, umur 90 hari, berat badan 200-250
gram.
4. Kualitas dan kuantitas kandang adalah kandang pemeliharaan dengan atap dari kawat, dilengkapi dengan tempat makanan dan minuman, dan disediakan satu kandang untuk 5 (lima) ekor tikus.
5. Kualitas dan kuantitas makanan berupa konsentrat makanan ayam dan minuman yang diberikan secara tak terbatas (ad libitum). Suhu ruang tikus dipertahankan 20-25ºC, kelembaban dan pertukaran udara yang ekstrim harus dihindari, aliran udara dalam ruang harus lemah dan mantap (ruang berventilasi baik dengan penyinaran normal).
4.5 Bahan dan Instrumen Penelitian 4.5.1 Bahan Penelitian
1. Testosterone Enanthate 10.000mg (1 vial 5000mg = 2 cc, Raitorio®) 2. Darah tikus betina sehat umur 90 hari
3. Reagen untuk pemeriksaan estradiol 4. EDTA (Ethylen Tetra Diamine) 5. Aquabides
4.5.2 Instrumen Penelitian
1. Kandang tikus dengan kelengkapan tempat makanan dan minuman 2. Pipet kapiler hematokrit
3. Tabung penampung darah
4. Set alat pemeriksaan estradiol darah tikus 5. Sarung tangan
6. Alat kit estradiol 7. Kamera digital
4.6 Tata Cara Penelitian
Penelitian dilakukan sebagai berikut : 4.6.1 Pemberian Perlakuan
Sejumlah sampel tikus diadaptasi selama 1 minggu, dengan 4-5 ekor tikus dalam satu kandang, diberikan makanan standar dan minum ad libitum.
Secara random tikus dibagi menjadi 2 kelompok sebagai kelompok kontrol dan kelompok TE.
Kedua kelompok tersebut kemudian diambil darahnya melalui vena orbita masing-masing sebanyak 1 ml dengan mempergunakan pipet kapiler hematokrit, kemudian ditampung dalam tabung yang sudah diberi antikoagulan (EDTA), kemudian dilakukan pemeriksaan estradiol.
Kelompok perlakuan diberikan injeksi Testosterone Enanthate (Raitorio®) dengan dosis yang sudah disesuaikan dengan berat badan masing-masing secara intramuskular, sedangkan kelompok kontrol diberikan injeksi aquabides.
71
Kedua kelompok diambil kembali untuk diperiksa kadar estradiol setelah mendapatkan injeksi aquabides dan TE pada hari ke-14 setelah injeksi.
Pengamatan terhadap perilaku seksual tikus betina dilakukan dalam kandang dengan ukuran 50cm x 30cm x 30cm yang beralaskan sekam. Jantan diaklimatisasi dalam kandang kaca selama kurang lebih 20 menit. Setelah 20 menit aklimatisasi, tikus betina dimasukkan ke dalam kandang kaca.
Pengamatan dilakukan secara terus menerus, segera setelah tikus betina menunjukkan perilaku seksual reseptif, tikus jantan dikeluarkan dari kandang.
Bila dalam 30 menit tikus betina tidak menunjukkan perilaku seksual reseptif maka perkawinan dianggap gagal.
Dilakukan analisis statistik.
Seluruh sampel tikus dikembalikan ke tempatnya semula sebelum dilakukan penelitian untuk dipelihara kembali.
4.6.2 Perhitungan Dosis Long Acting Testosterone Enanthate Untuk Subyek Penelitian
Perhitungan dosis digunakan konversi dari manusia (berat badan 70kg) ke tikus (200 g) adalah 0,018. Dosis manusia 10.000 mg Long Acting Testosterone Enanthate (Raitorio®) setelah dikonversi pada tikus menjadi 0.018 x 10.000 mg =
180 mg (Laurence, dalam Ngatidjan, 2006).
Sediaan yang dipakai dalam penelitian ini adalah 2 ampul Long Acting Testosterone Enanthate (Raitorio®) yang mengandung 10.000 mg/4ml (2.500 mg/ml). Kelompok P1 diberi Long Acting Testosterone Enanthate (Raitorio®)
disuntikkan intramuskular pada paha tikus sesuai dengan berat badan tikus yang telah ditimbang. Untuk kelompok kontrol, masing-masing tikus diberi aquabides.
Penyuntikan Long Acting Testosterone Enanthate (Raitorio®) secara intramuskular dilakukan satu kali. Pada hari ke-14 kadar estradiol kedua kelompok tikus diperiksa kembali.
Perhitungan dosis sesuai dengan berat badan tikus adalah sebagai berikut:
No.
73
13 208 0.075 200 0.072
14 218 0.078 211 0.076
15 214 0.077 225 0.081
16 206 0.074 218 0.078
17 219 0.079 200 0.072
18 206 0.074 228 0.082
Tabel 4.1 Perhitungan dosis sesuai dengan berat badan tikus
4.6.3 Alur Penelitian
Skema 4.2 Alur Penelitian
4.6.4 Teknik Pengambilan Darah
Darah diambil dari vena orbita sebanyak 1 ml dengan mempergunakan pipet kapiler hematokrit, kemudian ditampung dalam tabung yang sudah diberi antikoagulan ( EDTA ).
4.6.5 Mekanisme Kerja Penelitian
Model ELISA yang digunakan adalah Sandwich ELISA, yaitu menggunakan tiga macam antibodi. Antibodi pertama biasanya menggunakan
Kelompok Kontrol Kelompok Perlakuan
Tikus Betina Dewasa Muda
Pre Treatment
Diambil darah untuk periksa estradiol
Pemberian Plasebo 14 Hari Pemberian TE 14 Hari
Diambil Darah Untuk Periksa Estradiol
Analisis Post
Treatment
75
antibodi monoklonal yang dilapiskan pada microplate dan selanjutnya direaksikan dengan antigen. Setelah dilakukan pencucian baru ditambahkan antibodi kedua atau sampel serum yang akan dideteksi dan selanjutnya direaksikan dengan antibodi ketiga yaitu fragmen imunoglobulin yang akan dideteksi (Rantam, 2003).
Pemeriksaan dengan metode ELISA untuk estradiol yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Reagen diletakkan di suhu ruang sebelum digunakan.
2. Pipet 50 µL Standard, sampel, dan QC ke dalam well.
3. Tambahkan 100 µL E2 Enzyme Conjugate ke masing-masing well, kocok 2-5 menit dan kemudian inkubasi selama 2 jam di suhu 37ºC.
4. Buang cairan dan cuci 5x dengan wash solution (300 µL per well. Keringkan diatas tissue.
5. Tambahkan 100 µL TMB substrate solution kedalam masing-masing well termasuk blak.
6. Inkubasi plate di suhu ruang selama 20 menit.
7. Tambahkan 50 µL stopping solution dan homogenkan dengan cepat.
8. Baca microwell dengan microwell reader di panjang gelombang 45nm.
4.7 Analisis Statistik
Data yang diperoleh akan dianalisis sebagai berikut:
1. Analisis Deskriptif.
2. Analisis Normalitas dan Homogenitas:
a. Uji Normalitas data dengan Shapiro-Wilk test, didapatkan data tidak
berdistribusi normal ( p<0.05) (Rees, 2001).
b. Uji homogenitas tidak dilakukan karena data tidak berdistribusi normal (Archambault, 2008).
3. Analisis Inferensial:
Karena data tidak berdistribusi normal maka digunakan Uji Wilcoxon Test untuk mengetahui perbedaan antara pre dengan post (Weisstein, 2008) dan antar kelompok dengan Mann-Whitney Test (Schoonjans, 2008).
77 BAB V
HASIL PENELITIAN
Dalam penelitian ini digunakan sebanyak 36 tikus betina dewasa sebagai sampel, yang terbagi menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu kelompk P1 (kontrol) dan kelompok P2 (Testosterone Enanthate). Masing-masing berjumlah 18 ekor. Dalam pembahasan ini akan diuraikan uji normalitas data, uji komparabilitas, dan uji efek perlakuan.
5.1 Uji Normalitas Data
Data kadar estradiol baik sebelum perlakuan maupun sesudah perlakuan pada masing-masing kelompok diuji normalitasnya dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk.
Hasilnya menunjukkan bahwa semua data tidak berdistribusi normal, dan hasilnya disajikan pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1
Hasil Uji Normalitas Data Kadar Estradiol masing-masing Kelompok Baik Sebelum maupun Sesudah Perlakuan
Kelompok Perlakuan N p Keterangan
Kontrol Pre
5.2 Analisis Efek Perlakuan Injeksi Testosterone Enanthate Dosis Tinggi
Analisis efek perlakuan diuji berdasarkan rerata kadar estradiol antara sebelum dengan sesudah diberikan perlakuan berupa injeksi Testosterone Enanthate dosis tinggi.
Hasil analisis kemaknaan dengan uji Wilcoxon Signed Ranks Test disajikan pada Tabel 5.2 berikut.
Tabel 5.2
Rerata Kadar Estradiol antara Sebelum dengan Sesudah Diberikan Perlakuan
Kelompok
79
Tabel 5.2 di atas menunjukkan bahwa rerata kadar estradiol sebelum perlakuan pada kelompok kontrol adalah 65,39153,97 dan rerata sesudah perlakuan adalah 86,04255,35. Sedangkan rerata kadar estradiol sebelum perlakuan pada kelompok Testosterone Enanthate adalah 16,2229,19 dan rerata sesudah perlakuan adalah 719,91897,93. Analisis kemaknaan dengan uji Wilcoxon Sign Rank Test menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol nilai p =
0,554 dan pada kelompok Testosterone Enanthate nilai p = 0,001. Hal ini berarti bahwa terjadi peningkatan kadar estradiol secara bermakna pada kelompok perlakuan (Testosterone Enanthate) (p < 0,05). Sedangkan pada kelompok kontrol tidak terdapat perbedaan secara bermakna.
Gambar 5.1 Perubahan Kadar Estradiol pada Masing-masing Kelompok
Gambar 5.1 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kadar estradiol pada kelompok Testosterone Enanthate, sedangkan pada kelompok kontrol tidak terdapat perbedaan.
5.3 Perbedaan Kadar Estradiol antar Kelompok
5.3.1 Uji Komparabilitas
Analisis komparabilitas diuji berdasarkan rerata kadar estradiol antar kelompok.
Hasil analisis kemaknaan dengan uji Mann-Whitney disajikan pada Tabel 5.3 berikut.
Tabel 5.3
Rerata Kadar Estradiol antar Kelompok Sebelum Perlakuan
Kelompok Subjek N Rerata Kadar
Estradiol SB U P
Kontrol
Testosterone Enanthate 18 18
65,39 16,22
153,97
29,19 147,0 0,632
Tabel 5.3 di atas menunjukkan bahwa rerata kadar estradiol kelompok kontrol adalah 65,39±153,97, rerata kelompok Testosterone Enanthate adalah 16,22±29,19. Analisis kemaknaan dengan uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa nilai U = 147,00 nilai p = 0,632. Hal ini berarti bahwa rerata kadar estradiol pada kedua kelompok tidak berbeda (p > 0,05).
5.3.2 Analisis Efek Perlakuan
Analisis efek perlakuan diuji berdasarkan rerata kadar estradiol antar kelompok
81
sesudah diberikan perlakuan. Hasil analisis kemaknaan dengan uji Mann-Whitney disajikan pada Tabel 5.4 berikut.
Tabel 5.4
Rerata Kadar Estradiol antar Kelompok Setelah Perlakuan
Kelompok Subjek N Rerata Kadar
Estradiol SB U P
Kontrol
Testosterone Enanthate 18 18
86,04 719,91
255,35
897,93 34,00 0,001
Tabel 5.4 di atas menunjukkan bahwa rerata kadar estradiol kelompok kontrol adalah 86,04±255,35 dan rerata kadar estradiol kelompok Testosterone Enanthate adalah 719,91±897,93. Analisis kemaknaan dengan uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa nilai U = 34,00 nilai p = 0,001. Hal ini berarti bahwa rerata kadar estradiol pada kedua kelompok berbeda (p < 0,05).
Gambar 5.2 Perbandingan Kadar Estradiol antar Kelompok Perlakuan
Gambar 5.2 menunjukkan bahwa kadar estradiol sesudah diberikan perlakuan antara kelompok kontrol dengan kelompok Testosterone Enanthate berbeda.
0.00 100.00 200.00 300.00 400.00 500.00 600.00 700.00 800.00
Sebelum Sesudah
65.39 86.04
16.22
719.91
Estradiol
Kontrol
Testosterone Enanthate
83 BAB VI
PEMBAHASAN
6.1 Subyek Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan sebanyak 36 tikus betina dewasa. Kadar estradiol baik sebelum perlakuan maupun sesudah perlakuan pada masing-masing kelompok diuji normalitasnya dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk. Hasilnya menunjukkan bahwa semua data tidak berdistribusi normal, sehingga digunakan uji nonparametrik, yaitu uji Wilcoxon dan Uji Mann-Whitney.
6.2 Peningkatan Kadar Estradiol Setelah Injeksi Testosterone Enanthate Dosis Tinggi (Raitorio®)
Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa rerata kadar estradiol sebelum perlakuan pada kelompok kontrol adalah 65,39±153,97 dan rerata sesudah perlakuan adalah 86,04±255,35. Sedangkan rerata kadar estradiol sebelum perlakuan pada kelompok Testosterone Enanthate adalah 16,22±29,19 dan rerata sesudah perlakuan adalah 719,91±897,93. Dengan uji Wilcoxon Sign Rank Test didapatkan bahwa terjadi peningkatan kadar estradiol secara bermakna
pada kelompok perlakuan yaitu sesudah injeksi Testosterone Enanthate dosis tinggi (p < 0,05). Sedangkan pada kelompok kontrol tidak ada perbedaan secara bermakna.
Selanjutnya analisis komparabilitas antar kelompok perlakuan diuji berdasarkan rerata kadar estradiol kedua kelompok. Analisis kemaknaan dengan uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa rerata kadar estradiol pada kedua kelompok sebelum perlakuan tidak berbeda (p > 0,05). Sedangkan kadar estradiol sesudah perlakuan antara kedua kelompok berbeda secara bermakna (p < 0,05). Terjadinya peningkatan kadar estradiol setelah injeksi Testosterone Enanthate dosis tinggi (Raitorio®) menandakan bahwa ada perbedaan dengan kondisi yang seharusnya, yaitu kadar hormon estrogen dalam darah akan menurun karena adanya feedback negative dari kadar testosteron yang tinggi.
Salah satu tujuan dari penggunaan injeksi Testosterone Enanthate dosis tinggi ini adalah untuk meningkatkan libido, maka peneliti juga melakukan pengamatan terhadap perubahan perilaku seksual pada kedua kelompok tikus betina tersebut. Dari hasil pengamatan yang dilakukan selama 30 menit terhadap perilaku reseptif pada tikus betina, tidak tampak adanya perubahan perilaku seksual. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada peningkatan kadar testosteron dalam darah setelah diberikan produk tersebut, karena testosteron pada umumnya dikaitkan dengan aspek seksual dan reproduksi.
Pada wanita, androgen diproduksi sebanyak 0.2-0.3 mg/hari, 25 persen oleh ovarium, 25 persen oleh kelenjar adrenalis, dan 50 persen oleh konversi perifer dari prehormone androstenedione dan precursor dehydroepiandrosterone (DHEA).
Androstenedione diproduksi di dalam ovarium (50 persen), sedangkan DHEA diproduksi hampir seluruhnya di kelenjar adrenalis (90-95 persen) (Sperrof, 1999). Pada umumnya, testosteron bertanggung jawab terhadap berbagai sifat maskulinisasi tubuh.
Penyuntikan sejumlah besar hormon kelamin pria ke dalam hewan yang hamil menyebabkan perkembangan organ-organ seksual jantan walaupun janinnya betina.
85
Sebenarnya testosteron yang disekresikan sebagai respons terhadap LH mempunyai efek timbal balik dalam menghentikan sekresi LH oleh hipofisis anterior.
Sejauh ini bagian penghambatan yang lebih besar dihasilkan dari efek langsung testosteron terhadap hipotalamus dalam menurunkan sekresi GnRH. Terlalu sedikit testosteron akan menyebabkan hipotalamus menyekresikan sejumlah besar GnRH, disertai dengan peningkatan sekresi LH dan FSH oleh hipofisis anterior.
Testosteron mungkin juga mempunyai efek umpan negatif yang lemah, yang bekerja secara langsung pada kelenjar hipofisis anterior sebagai tambahan terhadap efek umpan balik hipofisis anterior terhadap hipotalamus. Umpan balik hipofisis ini diduga secara khusus menghentikan sekresi LH. Akibatnya, sejumlah kecil pengaturan sekresi testosteroon diyakini terjadi dalam cara yang sama.
Dalam jaringan lemak, testosteron secara aktif dikonversikan menjadi estradiol, kemudian aromatisasi berperan memberikan umpan balik negatif kepada otak. Maka apabila terdapat testosteron dalam jumlah yang tinggi dalam darah, maka akan terjadi umpan balik negatif kepada otak untuk menurunkan produksi testosteron, sehingga kadar estrogen pun akan berkurang.
Terjadinya peningkatan kadar estrogen dan tidak adanya perubahan perilaku seksual setelah perlakuan menunjukkan bahwa kemungkinan bahan yang terkandung dalam produk tersebut tidak sesuai dengan kandungan yang tertera pada kemasan.
Selain itu juga ada kemungkinan bahwa kadar testosteron yang tinggi dalam darah teraromatisasi menjadi estradiol, sehingga kadar estradiol dalam darah juga meningkat.
Maka dari itu diharapkan masyarakat baik pria maupun wanita untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan produk tersebut, karena kadar estrogen yang tinggi dalam darah
dapat menyebabkan gejala-gejala sebagai berikut:
Pada wanita: risiko kanker payudara, perdarahan pada vagina, hiperplasia endometrium, dan penyakit kardiovaskuler.
Pada pria: terjadi penekanan pada poros hipotalamus-organ sehingga dapat menyebabkan infertilitas.
Hal lain yang perlu diperhatikan pada penggunaan produk ini untuk manusia ialah dosis yang digunakan sangat tinggi, apalagi untuk wanita, yaitu 5000-10.000 mg setiap 6-12 bulan sekali. Padahal untuk pria saja dosis yang digunakan hanya 250-300 mg setiap 3 minggu.
Pada wanita yang telah mengalami menopause akan terjadi penurunan produksi hormon testosteron, maka sebaiknya sebelum dilakukan terapi hormon dilakukan pemeriksaan Sex Hormone Binding Globulin (SHBG) atau Free Testosterone terlebih dahulu.
87 BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
7.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian pada tikus betina dewasa didapatkan simpulan sebagai berikut:
- Pemberian injeksi Testosterone Enanthate dosis tinggi (Raitorio®) tidak menurunkan, tetapi justru meningkatkan kadar estradiol pada tikus betina dewasa.
7.2 Saran
Sebagai saran dalam penelitian ini adalah:
1. Disarankan kepada para wanita untuk berhati-hati dalam memilih produk sulih hormon karena tidak semua produk yang dipasarkan mengandung hormon yang sesuai dengan fungsinya.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kemungkinan adanya kandungan lain pada produk Raitorio® tersebut.
3. Jika dilakukan penelitian selanjutnya mengenai produk ini, sebaiknya dilakukan pemeriksaan kadar LH pada semua sampel.
4. Perlu dilakukan penelitian dengan dosis Testosterone Enanthate yang sesuai dengan dosis yang dianjurkan untuk mengetahui apakah terjadi penurunan kadar estrogen seperti yang terjadi pada penelitian ini.
5. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efek samping yang dapat ditimbulkan oleh Testosterone Enanthate dosis tinggi (Raitorio®) tersebut.
6. Kepada para dokter diharapkan agar mempertimbangkan indikasi dan kontraindikasi sebelum memberikan injeksi Testosterone Enanthate dosis tinggi.
89 DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2007. Sex-Specific Behaviour in Mice Affected by Sensory Organ, Findings Have Implication for Human Research. Available at:
http://www/angelfire.com/il/nalapralaya/rokok/html. Accessed Aug 8, 2007.
Archambault, S. 2008. Independent Samples T Test, (cited 2010). Available from:
http://www.wellesley.edu/psychology.psych205/indepttest.html
Arrington, C. 2009. Low Testosterone in Women. Availlable from:
http://www.anti-agingmd.com/testoterone.ht. Accessed February, 6, 2010.
Baziad, A. 2003. Menopause dan Andropause. Cetakan pertama. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. hlm. 177-185,196-205.
Bhasin, S. et al. 2006. J Clin Endocrinol Metab. 91. p. 1995-2010.
Bolour, S., Braunstein, G. 2005. Journal of Impotence Research. p. 399-408.
Availlable from: http://www.nature.com-International. Accessed February, 6, 2010.
Buckler, H.M., Robertson, W.R., Wu, F.C.W. 1998. Which androgen replacement therapy for women? J. Clin Endocrinol Metab. 83: 3920–3924.
Carlson, N.R. 2001. Physiology of Behaviour. Alyn Bacon Inc. London, Sydney.
p.248-320.
Federer, W.T. 1963. Experimental Design Theory and Application. Man William
& Co, Inc. New York.
Fowler, B. 2003. Functional and Biological Markers of Aging. In: Klatz, R. 2003.
Anti-Aging Medical Therapeutics volume 5. Chicago: the A4M Publications. p. 43.
Ganong, W. 2003. Fisiologi Kedokteran. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC: 417-425.
Goldman, R. 2007. The New Anti-Aging Revolution. Malaysia: Advantage Quest.
p. 65-66.
Goodman, N.F.,MD. 2001. Medical Guidelines for Clinical Practice for The Diagnosis and Treatment of Hyperandrogenic Disorders. Vol. 7 No.2. p.
121-124.
Gooren, L.J.G., Polderman, K.H. 1990. Safety Aspects of Androgen Therapy. In:
Nieschlag, E., Behre, H.M., editors. Testosterone-Action, Deficiency, Substitution. Germany: Springer-Verlag Berlin Heidelberg. p. 186-197.
Guyton, A.C., Hall, J.E. 2000. Textbook of Medical Physiology. 10th edition. WB Saunders Company; 81:1283-1302.
Hall, J.E. 2008. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 17th ed. In: Fauci, Braunwald, Kasper, editors. The Female Reproductive System: Infertility and Contraception. New York: McGraw Hill. p. 2327.
Hardjopranjoto, S.H. 1995. Ilmu Kemajiran pada Ternak. Surabaya: Airlangga University Press, hal. 46-49.
Kenyon, C.A.P. 2006. Hormones and Sexual Behaviour. University of Playmouth Department of Psychology Study and Learning Material On Line.
Kusuma, E. 2009. Sumber informasi penggunaan injeksi Testosterone Enanthate dosis tinggi (Raitorio®) yang diperoleh beberapa dokter di Jakarta (Juni 2009).
Kusumawati, D. 2004. Bersahabat dengan Hewan Coba. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.
Malole, M.B.M., Pramono, C.S.U. 1989. Penggunaan Hewan-Hewan Percobaan di Laboratorium. Jabar. Institut Pertanian Bogor: 104-112.
Morgan, R. 2003. Hormone Replacement Therapy: A Primer – DHEA, Estrogen, HGH, Therapeutics volume 5. Chicago: the A4M Publications. p. 325-327, 330-332.
Neischlag, E and Behre, H.M. 1990. Testosterone Action: Deficiency Substitution.
Germany. Springer Verlag Berlin Heidelberg.
Ngatidjan. 2006. Metode Laboratorium Dalam Toksikologi. Yogyakarta. Penerbit Bagian Farmakologi dan Toksikologi Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada.
Pangkahila,W. 2007. Anti-aging Medicine: Memperlambat Penuaan Meningkatkan Kualitas Hidup. hal. 24-28, 70-74.
Partodihardjo, S. 1992. Ilmu Reproduksi Hewan. Jakarta: Mutiara Sumber Widya, hal. 75; 165-202.
91
Pfaus, J.G. 1996. Frank A Beach Award. Homologies of Animal and Human Sexual Behaviours. Hormones and Behaviour, 30: 187-200.
Pocock, S.J. 2008. Clinical Trial: A Practical Approach. Cjicester : John Wiley &
Sons. p. 127-128.
Rantam, F.A. 2003. Metode Imunologi. Surabaya: Airlangga University Press.
hal. 83.
Rees, D. 2001. Essential Statistics. 4th ed. London: Chapman & Hall. p. 258.
Schoonjans, F. 2008. Mann-Whitney Test (Independent Samples), (cited 2010).
Available from: http://www.medcalc.be/manual/mannwhitney.php.
Shiverick, K.T. & Salafia, C. 1999. Cigarette Smoking and Pregnancy, Ovarian, Uterine, and Placenta Effects, 20, p. 265-272.
Speroff, L. 2004. Clinical Gynaecologic Endocrinology and Infertility. 6th. Ed.
Amerika Serikat: Lippincott Williams & Wilkins, p. 48-50; 67-68; 71-78;
879-880.
Weisstein, E. 2008. Wilcoxon Signed Rank Test, (cited 2010 March. 19).
Available from: http://mathworld.wolfram.com/WilcoxonSignedRanktest Wibowo, S. 2003. Andropause: Keluhan, Diagnosis dan Penanganannya. Dalam:
The Concepts of Anti Aging and How to Make Without Disorder. Jakarta:
FKUI. hal. 11-17.
World Health Organization. 1996. Penuaan dan Kapasitas Kerja. Jakarta: EGC.
hal.2.
92
LAMPIRAN Lampiran 1
Data hasil pemeriksaan kadar estradiol pada kontrol Pre dan Post injeksi placebo
NO. KONTROL PRE POST
1 K1 15 20
2 K2 370 4
3 K3 170 9.2
4 K4 4 20
5 K5 4.4 2.8
6 K6 3.6 2.4
7 K7 9.2 7.9
8 K8 8.4 2.4
9 K9 2 20
10 K10 6.8 11
11 K11 2 2.4
12 K12 2 2.4
13 K13 8 150
14 K14 2 170
15 K15 2 25
16 K16 5.6 5.6
17 K17 2 1090
18 K18 560 3.6
93
Lampiran 2
Data hasil pemeriksaan kadar estradiol pada perlakuan Pre dan Post injeksi Testosterone Enanthate Dosis Tinggi (Raitorio®)
NO. PERLAKUAN PRE POST
1 P1 4.4 20
2 P2 8.8 3200
3 P3 2 8.4
4 P4 8 260
5 P5 12 470
6 P6 6.4 2300
7 P7 18 800
8 P8 2.4 90
9 P9 5.2 20
10 P10 5.6 660
11 P11 60 340
12 P12 4 470
13 P13 6.4 240
14 P14 4.8 420
15 P15 2 570
16 P16 20 2200
17 P17 120 470
18 P18 2 420
Lampiran 3
Uji Normalitas Data Kadar Estradiol
Tests of Normality
kelompok
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Estradiol Pre Kontrol .462 18 .000 .481 18 .000
Perlakuan .337 18 .000 .516 18 .000
Estradiol Post Kontrol .428 18 .000 .363 18 .000
Perlakuan .304 18 .000 .710 18 .000
a. Lilliefors Significance Correction
95
Lampiran 4
Uji Wilcoxon Sign Rank Test antara Pre dengan Post masing-masing Kelompok
Descriptive Statisticsa Estradiol Post - Estradiol Pre Negative Ranks 7a 9.14 64.00
Positive Ranks 10b 8.90 89.00
Ties 1c
Total 18
a. Estradiol Post < Estradiol Pre b. Estradiol Post > Estradiol Pre
Ranksd
N Mean Rank Sum of Ranks Estradiol Post - Estradiol Pre Negative Ranks 7a 9.14 64.00
Positive Ranks 10b 8.90 89.00
Ties 1c
Total 18
a. Estradiol Post < Estradiol Pre b. Estradiol Post > Estradiol Pre c. Estradiol Post = Estradiol Pre d. kelompok = Kontrol
Test Statisticsb,c
Test Statisticsb,c