BAB V HASIL PENELITIAN
5.1 Uji Normalitas Data
Data kadar estradiol baik sebelum perlakuan maupun sesudah perlakuan pada masing-masing kelompok diuji normalitasnya dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk.
Hasilnya menunjukkan bahwa semua data tidak berdistribusi normal, dan hasilnya disajikan pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1
Hasil Uji Normalitas Data Kadar Estradiol masing-masing Kelompok Baik Sebelum maupun Sesudah Perlakuan
Kelompok Perlakuan N p Keterangan
Kontrol Pre
5.2 Analisis Efek Perlakuan Injeksi Testosterone Enanthate Dosis Tinggi
Analisis efek perlakuan diuji berdasarkan rerata kadar estradiol antara sebelum dengan sesudah diberikan perlakuan berupa injeksi Testosterone Enanthate dosis tinggi.
Hasil analisis kemaknaan dengan uji Wilcoxon Signed Ranks Test disajikan pada Tabel 5.2 berikut.
Tabel 5.2
Rerata Kadar Estradiol antara Sebelum dengan Sesudah Diberikan Perlakuan
Kelompok
79
Tabel 5.2 di atas menunjukkan bahwa rerata kadar estradiol sebelum perlakuan pada kelompok kontrol adalah 65,39153,97 dan rerata sesudah perlakuan adalah 86,04255,35. Sedangkan rerata kadar estradiol sebelum perlakuan pada kelompok Testosterone Enanthate adalah 16,2229,19 dan rerata sesudah perlakuan adalah 719,91897,93. Analisis kemaknaan dengan uji Wilcoxon Sign Rank Test menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol nilai p =
0,554 dan pada kelompok Testosterone Enanthate nilai p = 0,001. Hal ini berarti bahwa terjadi peningkatan kadar estradiol secara bermakna pada kelompok perlakuan (Testosterone Enanthate) (p < 0,05). Sedangkan pada kelompok kontrol tidak terdapat perbedaan secara bermakna.
Gambar 5.1 Perubahan Kadar Estradiol pada Masing-masing Kelompok
Gambar 5.1 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kadar estradiol pada kelompok Testosterone Enanthate, sedangkan pada kelompok kontrol tidak terdapat perbedaan.
5.3 Perbedaan Kadar Estradiol antar Kelompok
5.3.1 Uji Komparabilitas
Analisis komparabilitas diuji berdasarkan rerata kadar estradiol antar kelompok.
Hasil analisis kemaknaan dengan uji Mann-Whitney disajikan pada Tabel 5.3 berikut.
Tabel 5.3
Rerata Kadar Estradiol antar Kelompok Sebelum Perlakuan
Kelompok Subjek N Rerata Kadar
Estradiol SB U P
Kontrol
Testosterone Enanthate 18 18
65,39 16,22
153,97
29,19 147,0 0,632
Tabel 5.3 di atas menunjukkan bahwa rerata kadar estradiol kelompok kontrol adalah 65,39±153,97, rerata kelompok Testosterone Enanthate adalah 16,22±29,19. Analisis kemaknaan dengan uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa nilai U = 147,00 nilai p = 0,632. Hal ini berarti bahwa rerata kadar estradiol pada kedua kelompok tidak berbeda (p > 0,05).
5.3.2 Analisis Efek Perlakuan
Analisis efek perlakuan diuji berdasarkan rerata kadar estradiol antar kelompok
81
sesudah diberikan perlakuan. Hasil analisis kemaknaan dengan uji Mann-Whitney disajikan pada Tabel 5.4 berikut.
Tabel 5.4
Rerata Kadar Estradiol antar Kelompok Setelah Perlakuan
Kelompok Subjek N Rerata Kadar
Estradiol SB U P
Kontrol
Testosterone Enanthate 18 18
86,04 719,91
255,35
897,93 34,00 0,001
Tabel 5.4 di atas menunjukkan bahwa rerata kadar estradiol kelompok kontrol adalah 86,04±255,35 dan rerata kadar estradiol kelompok Testosterone Enanthate adalah 719,91±897,93. Analisis kemaknaan dengan uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa nilai U = 34,00 nilai p = 0,001. Hal ini berarti bahwa rerata kadar estradiol pada kedua kelompok berbeda (p < 0,05).
Gambar 5.2 Perbandingan Kadar Estradiol antar Kelompok Perlakuan
Gambar 5.2 menunjukkan bahwa kadar estradiol sesudah diberikan perlakuan antara kelompok kontrol dengan kelompok Testosterone Enanthate berbeda.
0.00 100.00 200.00 300.00 400.00 500.00 600.00 700.00 800.00
Sebelum Sesudah
65.39 86.04
16.22
719.91
Estradiol
Kontrol
Testosterone Enanthate
83 BAB VI
PEMBAHASAN
6.1 Subyek Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan sebanyak 36 tikus betina dewasa. Kadar estradiol baik sebelum perlakuan maupun sesudah perlakuan pada masing-masing kelompok diuji normalitasnya dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk. Hasilnya menunjukkan bahwa semua data tidak berdistribusi normal, sehingga digunakan uji nonparametrik, yaitu uji Wilcoxon dan Uji Mann-Whitney.
6.2 Peningkatan Kadar Estradiol Setelah Injeksi Testosterone Enanthate Dosis Tinggi (Raitorio®)
Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa rerata kadar estradiol sebelum perlakuan pada kelompok kontrol adalah 65,39±153,97 dan rerata sesudah perlakuan adalah 86,04±255,35. Sedangkan rerata kadar estradiol sebelum perlakuan pada kelompok Testosterone Enanthate adalah 16,22±29,19 dan rerata sesudah perlakuan adalah 719,91±897,93. Dengan uji Wilcoxon Sign Rank Test didapatkan bahwa terjadi peningkatan kadar estradiol secara bermakna
pada kelompok perlakuan yaitu sesudah injeksi Testosterone Enanthate dosis tinggi (p < 0,05). Sedangkan pada kelompok kontrol tidak ada perbedaan secara bermakna.
Selanjutnya analisis komparabilitas antar kelompok perlakuan diuji berdasarkan rerata kadar estradiol kedua kelompok. Analisis kemaknaan dengan uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa rerata kadar estradiol pada kedua kelompok sebelum perlakuan tidak berbeda (p > 0,05). Sedangkan kadar estradiol sesudah perlakuan antara kedua kelompok berbeda secara bermakna (p < 0,05). Terjadinya peningkatan kadar estradiol setelah injeksi Testosterone Enanthate dosis tinggi (Raitorio®) menandakan bahwa ada perbedaan dengan kondisi yang seharusnya, yaitu kadar hormon estrogen dalam darah akan menurun karena adanya feedback negative dari kadar testosteron yang tinggi.
Salah satu tujuan dari penggunaan injeksi Testosterone Enanthate dosis tinggi ini adalah untuk meningkatkan libido, maka peneliti juga melakukan pengamatan terhadap perubahan perilaku seksual pada kedua kelompok tikus betina tersebut. Dari hasil pengamatan yang dilakukan selama 30 menit terhadap perilaku reseptif pada tikus betina, tidak tampak adanya perubahan perilaku seksual. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada peningkatan kadar testosteron dalam darah setelah diberikan produk tersebut, karena testosteron pada umumnya dikaitkan dengan aspek seksual dan reproduksi.
Pada wanita, androgen diproduksi sebanyak 0.2-0.3 mg/hari, 25 persen oleh ovarium, 25 persen oleh kelenjar adrenalis, dan 50 persen oleh konversi perifer dari prehormone androstenedione dan precursor dehydroepiandrosterone (DHEA).
Androstenedione diproduksi di dalam ovarium (50 persen), sedangkan DHEA diproduksi hampir seluruhnya di kelenjar adrenalis (90-95 persen) (Sperrof, 1999). Pada umumnya, testosteron bertanggung jawab terhadap berbagai sifat maskulinisasi tubuh.
Penyuntikan sejumlah besar hormon kelamin pria ke dalam hewan yang hamil menyebabkan perkembangan organ-organ seksual jantan walaupun janinnya betina.
85
Sebenarnya testosteron yang disekresikan sebagai respons terhadap LH mempunyai efek timbal balik dalam menghentikan sekresi LH oleh hipofisis anterior.
Sejauh ini bagian penghambatan yang lebih besar dihasilkan dari efek langsung testosteron terhadap hipotalamus dalam menurunkan sekresi GnRH. Terlalu sedikit testosteron akan menyebabkan hipotalamus menyekresikan sejumlah besar GnRH, disertai dengan peningkatan sekresi LH dan FSH oleh hipofisis anterior.
Testosteron mungkin juga mempunyai efek umpan negatif yang lemah, yang bekerja secara langsung pada kelenjar hipofisis anterior sebagai tambahan terhadap efek umpan balik hipofisis anterior terhadap hipotalamus. Umpan balik hipofisis ini diduga secara khusus menghentikan sekresi LH. Akibatnya, sejumlah kecil pengaturan sekresi testosteroon diyakini terjadi dalam cara yang sama.
Dalam jaringan lemak, testosteron secara aktif dikonversikan menjadi estradiol, kemudian aromatisasi berperan memberikan umpan balik negatif kepada otak. Maka apabila terdapat testosteron dalam jumlah yang tinggi dalam darah, maka akan terjadi umpan balik negatif kepada otak untuk menurunkan produksi testosteron, sehingga kadar estrogen pun akan berkurang.
Terjadinya peningkatan kadar estrogen dan tidak adanya perubahan perilaku seksual setelah perlakuan menunjukkan bahwa kemungkinan bahan yang terkandung dalam produk tersebut tidak sesuai dengan kandungan yang tertera pada kemasan.
Selain itu juga ada kemungkinan bahwa kadar testosteron yang tinggi dalam darah teraromatisasi menjadi estradiol, sehingga kadar estradiol dalam darah juga meningkat.
Maka dari itu diharapkan masyarakat baik pria maupun wanita untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan produk tersebut, karena kadar estrogen yang tinggi dalam darah
dapat menyebabkan gejala-gejala sebagai berikut:
Pada wanita: risiko kanker payudara, perdarahan pada vagina, hiperplasia endometrium, dan penyakit kardiovaskuler.
Pada pria: terjadi penekanan pada poros hipotalamus-organ sehingga dapat menyebabkan infertilitas.
Hal lain yang perlu diperhatikan pada penggunaan produk ini untuk manusia ialah dosis yang digunakan sangat tinggi, apalagi untuk wanita, yaitu 5000-10.000 mg setiap 6-12 bulan sekali. Padahal untuk pria saja dosis yang digunakan hanya 250-300 mg setiap 3 minggu.
Pada wanita yang telah mengalami menopause akan terjadi penurunan produksi hormon testosteron, maka sebaiknya sebelum dilakukan terapi hormon dilakukan pemeriksaan Sex Hormone Binding Globulin (SHBG) atau Free Testosterone terlebih dahulu.
87 BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
7.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian pada tikus betina dewasa didapatkan simpulan sebagai berikut:
- Pemberian injeksi Testosterone Enanthate dosis tinggi (Raitorio®) tidak menurunkan, tetapi justru meningkatkan kadar estradiol pada tikus betina dewasa.
7.2 Saran
Sebagai saran dalam penelitian ini adalah:
1. Disarankan kepada para wanita untuk berhati-hati dalam memilih produk sulih hormon karena tidak semua produk yang dipasarkan mengandung hormon yang sesuai dengan fungsinya.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kemungkinan adanya kandungan lain pada produk Raitorio® tersebut.
3. Jika dilakukan penelitian selanjutnya mengenai produk ini, sebaiknya dilakukan pemeriksaan kadar LH pada semua sampel.
4. Perlu dilakukan penelitian dengan dosis Testosterone Enanthate yang sesuai dengan dosis yang dianjurkan untuk mengetahui apakah terjadi penurunan kadar estrogen seperti yang terjadi pada penelitian ini.
5. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efek samping yang dapat ditimbulkan oleh Testosterone Enanthate dosis tinggi (Raitorio®) tersebut.
6. Kepada para dokter diharapkan agar mempertimbangkan indikasi dan kontraindikasi sebelum memberikan injeksi Testosterone Enanthate dosis tinggi.
89 DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2007. Sex-Specific Behaviour in Mice Affected by Sensory Organ, Findings Have Implication for Human Research. Available at:
http://www/angelfire.com/il/nalapralaya/rokok/html. Accessed Aug 8, 2007.
Archambault, S. 2008. Independent Samples T Test, (cited 2010). Available from:
http://www.wellesley.edu/psychology.psych205/indepttest.html
Arrington, C. 2009. Low Testosterone in Women. Availlable from:
http://www.anti-agingmd.com/testoterone.ht. Accessed February, 6, 2010.
Baziad, A. 2003. Menopause dan Andropause. Cetakan pertama. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. hlm. 177-185,196-205.
Bhasin, S. et al. 2006. J Clin Endocrinol Metab. 91. p. 1995-2010.
Bolour, S., Braunstein, G. 2005. Journal of Impotence Research. p. 399-408.
Availlable from: http://www.nature.com-International. Accessed February, 6, 2010.
Buckler, H.M., Robertson, W.R., Wu, F.C.W. 1998. Which androgen replacement therapy for women? J. Clin Endocrinol Metab. 83: 3920–3924.
Carlson, N.R. 2001. Physiology of Behaviour. Alyn Bacon Inc. London, Sydney.
p.248-320.
Federer, W.T. 1963. Experimental Design Theory and Application. Man William
& Co, Inc. New York.
Fowler, B. 2003. Functional and Biological Markers of Aging. In: Klatz, R. 2003.
Anti-Aging Medical Therapeutics volume 5. Chicago: the A4M Publications. p. 43.
Ganong, W. 2003. Fisiologi Kedokteran. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC: 417-425.
Goldman, R. 2007. The New Anti-Aging Revolution. Malaysia: Advantage Quest.
p. 65-66.
Goodman, N.F.,MD. 2001. Medical Guidelines for Clinical Practice for The Diagnosis and Treatment of Hyperandrogenic Disorders. Vol. 7 No.2. p.
121-124.
Gooren, L.J.G., Polderman, K.H. 1990. Safety Aspects of Androgen Therapy. In:
Nieschlag, E., Behre, H.M., editors. Testosterone-Action, Deficiency, Substitution. Germany: Springer-Verlag Berlin Heidelberg. p. 186-197.
Guyton, A.C., Hall, J.E. 2000. Textbook of Medical Physiology. 10th edition. WB Saunders Company; 81:1283-1302.
Hall, J.E. 2008. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 17th ed. In: Fauci, Braunwald, Kasper, editors. The Female Reproductive System: Infertility and Contraception. New York: McGraw Hill. p. 2327.
Hardjopranjoto, S.H. 1995. Ilmu Kemajiran pada Ternak. Surabaya: Airlangga University Press, hal. 46-49.
Kenyon, C.A.P. 2006. Hormones and Sexual Behaviour. University of Playmouth Department of Psychology Study and Learning Material On Line.
Kusuma, E. 2009. Sumber informasi penggunaan injeksi Testosterone Enanthate dosis tinggi (Raitorio®) yang diperoleh beberapa dokter di Jakarta (Juni 2009).
Kusumawati, D. 2004. Bersahabat dengan Hewan Coba. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.
Malole, M.B.M., Pramono, C.S.U. 1989. Penggunaan Hewan-Hewan Percobaan di Laboratorium. Jabar. Institut Pertanian Bogor: 104-112.
Morgan, R. 2003. Hormone Replacement Therapy: A Primer – DHEA, Estrogen, HGH, Therapeutics volume 5. Chicago: the A4M Publications. p. 325-327, 330-332.
Neischlag, E and Behre, H.M. 1990. Testosterone Action: Deficiency Substitution.
Germany. Springer Verlag Berlin Heidelberg.
Ngatidjan. 2006. Metode Laboratorium Dalam Toksikologi. Yogyakarta. Penerbit Bagian Farmakologi dan Toksikologi Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada.
Pangkahila,W. 2007. Anti-aging Medicine: Memperlambat Penuaan Meningkatkan Kualitas Hidup. hal. 24-28, 70-74.
Partodihardjo, S. 1992. Ilmu Reproduksi Hewan. Jakarta: Mutiara Sumber Widya, hal. 75; 165-202.
91
Pfaus, J.G. 1996. Frank A Beach Award. Homologies of Animal and Human Sexual Behaviours. Hormones and Behaviour, 30: 187-200.
Pocock, S.J. 2008. Clinical Trial: A Practical Approach. Cjicester : John Wiley &
Sons. p. 127-128.
Rantam, F.A. 2003. Metode Imunologi. Surabaya: Airlangga University Press.
hal. 83.
Rees, D. 2001. Essential Statistics. 4th ed. London: Chapman & Hall. p. 258.
Schoonjans, F. 2008. Mann-Whitney Test (Independent Samples), (cited 2010).
Available from: http://www.medcalc.be/manual/mannwhitney.php.
Shiverick, K.T. & Salafia, C. 1999. Cigarette Smoking and Pregnancy, Ovarian, Uterine, and Placenta Effects, 20, p. 265-272.
Speroff, L. 2004. Clinical Gynaecologic Endocrinology and Infertility. 6th. Ed.
Amerika Serikat: Lippincott Williams & Wilkins, p. 48-50; 67-68; 71-78;
879-880.
Weisstein, E. 2008. Wilcoxon Signed Rank Test, (cited 2010 March. 19).
Available from: http://mathworld.wolfram.com/WilcoxonSignedRanktest Wibowo, S. 2003. Andropause: Keluhan, Diagnosis dan Penanganannya. Dalam:
The Concepts of Anti Aging and How to Make Without Disorder. Jakarta:
FKUI. hal. 11-17.
World Health Organization. 1996. Penuaan dan Kapasitas Kerja. Jakarta: EGC.
hal.2.
92
LAMPIRAN Lampiran 1
Data hasil pemeriksaan kadar estradiol pada kontrol Pre dan Post injeksi placebo
NO. KONTROL PRE POST
1 K1 15 20
2 K2 370 4
3 K3 170 9.2
4 K4 4 20
5 K5 4.4 2.8
6 K6 3.6 2.4
7 K7 9.2 7.9
8 K8 8.4 2.4
9 K9 2 20
10 K10 6.8 11
11 K11 2 2.4
12 K12 2 2.4
13 K13 8 150
14 K14 2 170
15 K15 2 25
16 K16 5.6 5.6
17 K17 2 1090
18 K18 560 3.6
93
Lampiran 2
Data hasil pemeriksaan kadar estradiol pada perlakuan Pre dan Post injeksi Testosterone Enanthate Dosis Tinggi (Raitorio®)
NO. PERLAKUAN PRE POST
1 P1 4.4 20
2 P2 8.8 3200
3 P3 2 8.4
4 P4 8 260
5 P5 12 470
6 P6 6.4 2300
7 P7 18 800
8 P8 2.4 90
9 P9 5.2 20
10 P10 5.6 660
11 P11 60 340
12 P12 4 470
13 P13 6.4 240
14 P14 4.8 420
15 P15 2 570
16 P16 20 2200
17 P17 120 470
18 P18 2 420
Lampiran 3
Uji Normalitas Data Kadar Estradiol
Tests of Normality
kelompok
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Estradiol Pre Kontrol .462 18 .000 .481 18 .000
Perlakuan .337 18 .000 .516 18 .000
Estradiol Post Kontrol .428 18 .000 .363 18 .000
Perlakuan .304 18 .000 .710 18 .000
a. Lilliefors Significance Correction
95
Lampiran 4
Uji Wilcoxon Sign Rank Test antara Pre dengan Post masing-masing Kelompok
Descriptive Statisticsa Estradiol Post - Estradiol Pre Negative Ranks 7a 9.14 64.00
Positive Ranks 10b 8.90 89.00
Ties 1c
Total 18
a. Estradiol Post < Estradiol Pre b. Estradiol Post > Estradiol Pre
Ranksd
N Mean Rank Sum of Ranks Estradiol Post - Estradiol Pre Negative Ranks 7a 9.14 64.00
Positive Ranks 10b 8.90 89.00
Ties 1c
Total 18
a. Estradiol Post < Estradiol Pre b. Estradiol Post > Estradiol Pre c. Estradiol Post = Estradiol Pre d. kelompok = Kontrol
Test Statisticsb,c
Estradiol Post - Estradiol Pre
Z -.592a
Asymp. Sig. (2-tailed) .554 a. Based on negative ranks.
b. kelompok = Kontrol c. Wilcoxon Signed Ranks Test
Descriptive Statisticsa
N Mean
Std. Minimum
Maximu Percentiles
97
Deviation m
25th
50th
(Median) 75th Estradiol Pre 18 16.2222 29.19411 2.00 120.00 3.6000 6.0000 13.5000 Estradiol Post 18 7.1991E2 897.93470 8.40 3200.00 2.0250E2 445.0000 6.9500E2 a. kelompok = Perlakuan
Wilcoxon Signed Ranks Test
Ranksd
N Mean Rank Sum of Ranks
Estradiol Post - Estradiol Pre Negative Ranks 0a .00 .00
Positive Ranks 18b 9.50 171.00
Ties 0c
Total 18
a. Estradiol Post < Estradiol Pre b. Estradiol Post > Estradiol Pre
Ranksd
N Mean Rank Sum of Ranks
Estradiol Post - Estradiol Pre Negative Ranks 0a .00 .00
Positive Ranks 18b 9.50 171.00
Ties 0c
Total 18
a. Estradiol Post < Estradiol Pre b. Estradiol Post > Estradiol Pre c. Estradiol Post = Estradiol Pre d. kelompok = Perlakuan
Test Statisticsb,c
Estradiol Post - Estradiol Pre
Z -3.724a
Asymp. Sig. (2-tailed) .000 a. Based on negative ranks.
b. kelompok = Perlakuan c. Wilcoxon Signed Ranks Test
99
Lampiran 5
Uji Mann – Whitney antara Kelompok Kontrol dengan Perlakuan
Group Statistics
kelompok N Mean Std. Deviation
Std. Error Mean Estradiol Pre Kontrol 18 65.3889 153.97314 36.29182
Perlakuan 18 16.2222 29.19411 6.88112
Estradiol Post Kontrol 18 86.0389 255.34703 60.18587 Perlakuan 18 7.1991E2 897.93470 211.64524
Mann-Whitney Test
Ranks
kelompok N Mean Rank Sum of Ranks
Estradiol Pre Kontrol 18 17.67 318.00
Perlakuan 18 19.33 348.00
Total 36
Estradiol Post Kontrol 18 11.39 205.00
Perlakuan 18 25.61 461.00
Total 36
Test Statisticsb
Estradiol Pre Estradiol Post
Mann-Whitney U 147.000 34.000
Wilcoxon W 318.000 205.000
Z -.478 -4.059
Asymp. Sig. (2-tailed) .632 .000
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .650a .000a a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: kelompok
101
Lampiran 6
KONVERSI PERHITUNGAN DOSIS UNTUK BEBERAPA JENIS HEWAN DAN MANUSIA
Mencit Tikus Marmot Kelinci Kucing Kera Anjing Manusia 20 g 200g 400g 1,5 kg 2 kg 4 kg 12 kg 70 kg Mencit
20 g 1,0 7,0 2,25 27,8 29,7 64,1 124,2 387,9
Tikus
200 g 0,14 1,0 1,74 3,9 4,2 9,2 17,8 56,0
Marmot
400 g 0,08 0,57 1,0 2,25 2,4 5,2 10,2 31,5
Kelinci
1,5 kg 0,04 0,25 0,44 1,0 1,08 2,4 4,5 14,2
Kucing
2 kg 0,03 0,23 0,41 0,92 1,0 2,2 4,1 13,0
Kera
4 kg 0,016 0,11 0,19 0,42 0,45 1,0 1,9 6,1
Anjing
12 kg 0,008 0,06 0,10 0,22 0,24 0,52 1,0 3,1
Manusia
70 kg 0,0026 0,018 0,013 0,07 0,076 0,16 0,32 1,0
Lampiran 7
Gambar-gambar produk injeksi Testosterone Enanthate Dosis Tinggi (Raitorio®)
ii