BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap manusia diciptakan dengan wujud, rupa, suku, bangsa yang berbeda, perbedaan nyata yang ada antara laki-laki dan perempuan yakni jenis kelamin.
Selain itu, adanya perbedaan mengenai kondisi fisik, mental yang ada pada setiap orang itu tidaklah sama. Namun pada hakekatnya semua manusia adalah sama di hadapan Pencipta-Nya. Oleh sebab itu, sejatinya persamaan kedudukan antara perempuan dan laki-laki di Indonesia telah dijamin dalam UUD 1945 Pasal 27, yakni;
“Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”.1
Namun pada prakteknya, akibat pandangan stereotype gender yang menunjukkan bahwa dalam masa pertumbuhan, laki-laki akan mempresentasikan dirinya sebagai seseorang yang kuat dalam istilah lebih negatif (seperti jahat), sedangkan perempuan akan menunjukkan bahwa dirinya lebih lemah atau dalam istilah lebih positif (seperti baik hati)2 membuat ada perlakuan yang berbeda kepada laki-laki dan perempuan. Hal ini juga dapat dilihat dari, tradisi atau pemikiran yang sudah tertanam dipikiran masyarakat sejak dahulu hingga saat ini menganggap bahwa perempuan adalah makhluk lemah yang harus dijaga dan dilindungi.
Dari pandangan inilah kemudian muncul banyak kaum feminis yang memperjuangkan hak perempuan dalam hal memperjuangkan adanya kesetaraan
1 Pasal 27 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945
2 Miller, C.E, & Ruble, D.N. Developmental Changes In The Assessibility of Gender Stereotypes.
Unpublished manuscript, Department of Psychology, (New York University, 2005), halaman 134.
gender, sehingga muncul berbagai bentuk pengaturan, komisi, badan atau lembaga khusus yang berfokus pada perlindungan terhadap perempuan dan anak.
Jika dilihat secara umum, tujuan dari adanya gerakan perjuangan kesetaraan gender tersebut adalah agar perempuan dapat memperoleh hak ataupun perlakuan yang sama dengan laki-laki. Bila ditilik kembali, sudah banyak terdapat banyak lembaga, pengaturan, film, artikel, berita, jurnal berskala nasional maupun internasional yang berfokus pada pencegahan kekerasan terhadap kaum perempuan.
Namun ketika menyinggung soal kekerasan terhadap lelaki dewasa masih sedikit yang memberi ruang untuk mengulasnya. Walaupun ada, kasus tersebut dominan berkaitan dengan pelaku yang berorientasi pada korban anak-anak (pedofilia). Tindakan perkosaan tidak menutup kemungkinan terjadi pada gender yang “dianggap” paling kuat dan tangguh, yaitu lelaki dewasa.
Selama ini feminisme terkesan lebih menyorot pada laki-laki sebagai pelaku perkosaan, sebaiknya kita kembali lagi ke konsep awal dari feminisme itu sendiri yang bukan hanya persoalan perempuan yang harus lebih diangkat melainkan pada kesetaraan gender yang bukan memihak antara kaum laki-laki dan perempuan. Di Indonesia sendiri stigma mengenai perkosaan masih sembrono disematkan seolah-olah hanya perempuan yang selama ini menjadi korban, dan lelaki dewasa sudah pasti adalah pelakunya. Dengan ini, dapat disimpulkan bahwa
“persamaan hak dimata hukum” sudah tidak lagi berlaku sepenuhnya.
Pada tahun 2019 lalu, Indonesia digemparkan dengan berita mengenai terungkapnya seorang predator seks Reynhard Sinaga yang merupakan warga negara Indonesia. Ia memecahkan rekor dan dinobatkan sebagai pemerkosa yang memiliki korban perkosaan terbanyak dalam sejarah Inggris yakni sebanyak 136 (seratus tiga puluh enam) kali, belum termasuk kasus usaha percobaan perkosaan.
Menurut pengadilan Manchester, ia melakukan hal tersebut sejak tahun 2015
tetapi polisi menduga bahwa ia sudah melakukannya sejak beberapa tahun sebelumnya dan secara terus menerus, sampai ia ditangkap oleh kepolisian Inggris di tahun 2017.
Perbuatan yang dilakukan oleh Reynhard Sinaga diatur dalam Undang-Undang Pelanggaran Seksual yang diperbaharui pada tahun 2003 atau yang disebut sebagai Sexual Offense Act 2003. Dalam Undang-Undang ini, mengatur tentang Pelanggaran Seksual yang mencakup perkosaan, serangan dan penyerangan seksual. Adapun unsur-unsur yang membedakan beberapa tindakan tersebut menurut Undang-Undang ini adalah:3
Bagian I Perkosaan:
(1) Seseorang (A) melakukan pelanggaran jika—
(a) dia dengan sengaja menembus vagina, anus atau mulut orang lain (B) dengan penisnya,
(b) B tidak menyetujui penetrasi, dan (c) A tidak cukup percaya bahwa B setuju.
(4) Orang yang bersalah melakukan pelanggaran menurut bagian ini dapat dikenakan hukuman penjara seumur hidup..
Bagian 2 Serangan (Serangan melalui penetrasi):
(1) Seseorang (A) melakukan pelanggaran jika—
(a) dia dengan sengaja menembus vagina atau anus orang lain (B) dengan bagian tubuhnya atau apapun,
(b) penetrasi bersifat seksual,
(c) B tidak menyetujui penetrasi, dan (d) A tidak cukup percaya bahwa B setuju.
(4) Orang yang bersalah melakukan pelanggaran menurut bagian ini dapat
3 https://www.legislation.gov.uk/ukpga/2003/42. Diakses pada tanggal 12 Februari 2021.
dikenakan hukuman penjara seumur hidup.
Bagian 3 Penyerangan seksual:
(1) Seseorang (A) melakukan pelanggaran jika—
(a) dia dengan sengaja menyentuh orang lain (B), (b) sentuhan itu bersifat seksual,
(c) B tidak setuju untuk menyentuh, dan (d) A tidak cukup percaya bahwa B setuju.
(4) Seseorang yang bersalah melakukan pelanggaran menurut bagian ini bertanggung jawab—
(a) dengan hukuman singkat, hukuman penjara untuk jangka waktu tidak melebihi 6 bulan atau denda tidak melebihi maksimum undang-undang atau keduanya;
(b) atas dakwaan, hukuman penjara untuk jangka waktu tidak lebih dari 10 tahun.
Perbuatan perkosaan yang tercantum dalam Sexual Offences Act 2003 ini mengalami perluasan makna tentang “perkosaan” jika dibandingkan dengan pengaturan perkosaan yang ada di Indonesia. Di Indonesia, perkosaan hanya dapat terjadi apabila adanya penetrasi penis ke dalam vagina, sedangkan dalam Sexual Offences Act 2003 Bagian 2 mencantumkan perkosaan mencakup pelanggaran berupa serangan dengan penetrasi. Pelanggaran ini termasuk perbuatan perkosaan karena perkosaan didefinisikan sebagai perbuatan yang memerlukan penetrasi penis. Oleh karena itu, penetrasi seksual non-konsensual pada vagina atau anus dengan bagian tubuh lainnya (seperti jari), atau benda, harus dapat dituntut sebagai perbuatan perkosaan berdasarkan bagian ini. Pengaturan bagian 2 sangat mencerminkan definisi bagian 1 tentang perkosaan, termasuk hukuman maksimum yang sama ( penjara seumur hidup ). Berdasakan Sexual Offences Act 2001 ini, perbuatan keji Reynhard Sinaga divonis dengan hukuman penjara
seumur hidup oleh Pengadilan Manchester.
Setelah kejadian ini terjadi, ada beberapa komentar yang menunjukkan rasa tidak percaya bahwa para korbannya adalah lelaki dewasa yang dalam keadaan tidak sadar saat kejadian berlangsung. Pandangan yang selama ini menempatkan lelaki dewasa sebagai individu kuat dan tangguh yang mustahil mengalami tindakan perkosaan, akibatnya lelaki dewasa yang mengalami kejadian ini sangat jarang melaporkan kejadian ini kepada pihak berwajib karena takut dianggap lembek, tidak jantan, bahkan tidak dipercaya oleh penegak hukum.4
Jika kasus serupa terjadi di Indonesia, tentu saja pelaku tidak akan dijatuhkan hukuman seberat yang dijatuhkan kepada Reynhard Sinaga di Pengadilan Manchester, Inggris. Hal ini disebabkan hukum pidana di Indonesia sendiri hanya mengatur aturan tentang tindak pidana pemerkosaan heteroseksual yaitu dengan unsur pelaku lelaki dewasa dan korbannya perempuan yang diatur dalam Pasal 285 KUHP. Sedangkan untuk perkosaan dengan pelaku perempuan dan korbannya lelaki dewasa atau perkosaan yang berorientasi homoseksual (pelaku dan korbannya sesama jenis yang sudah dewasa) belum diatur dalam KUHP Indonesia.
Berdasarkan uraian diatas, dapat dilihat bahwa pengaturan tindak pidana perkosaan di Indonesia masih kurang dalam perlindungan terhadap pihak atau kaum tertentu, maka untuk membantu penyempurnaan ketentuan pengaturan tindak pidana perkosaan di Indonesia, maka penulis akan mengadakan perbandingan antara pengaturan tindak pidana perkosaan yang dirumuskan dalam KUHP, rancangan KUHP, Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (UU PKS), serta Hukum Positif lainnya dan menelaah kekurangan yang seharusnya ada dalam pengaturan untuk menyempurnakan pengaturan tindak
4 https://tirto.id/bukan-cuma-perempuan-laki-laki-juga-bisa-jadi-korban-perkosaan-esct. Diakses pada tanggal 11 Desember 2020.
pidana perkosaan di Indonesia.