• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I : PENDAHULUAN

F. Tinjauan Pustaka

1. Pengertian Tindak Pidana

Tindak pidana berasal dari istilah “strafbaar feit” yang merupakan Bahasa Belanda yang penafsirannya sendiri berbeda-beda dari para ahli hukum, namun dari semua istilah maupun penafsiran yang berbeda-beda itu, mengacu kembali kepada tindakan pidana atau tindakan yang dilarang oleh hukum pidana.

Menurut Moeljatno, istilah perbuatan pidana merupakan perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan, yang mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barangsiapa melanggar larangan tersebut.6 Ia juga membedakan dengan tegas antara dapat dipidanya perbuatan (criminal act) dengan dapat dipidananya orang (criminal responsibility atau criminal liability). Oleh karena hal tersebut dipisahkan, maka pengertian tindak pidana tidak meliputi pertanggungjawaban pidana. Pandangan ini disebut sebagai pandangan dualistis mengenai perbuatan pidana (tindak pidana).7

Tindak pidana dapat diartikan sebagai suatu perbuatan (criminal act) meliputi berbuat dan tidak berbuat yang sifatnya bertentangan dengan hukum sehingga melanggar hukum positif (asas legalitas Pasal 1 KUHP) dan disertai dengan ancaman (sanksi) yang berupa pidana (hukuman) tertentu.

1.1. Unsur-unsur Tindak Pidana

6 Mohammad Ekaputra, Dasar-dasar Hukum Pidana, (Medan: USU Press, 2018), Edisi 2, Cetakan ke 5, halaman 84.

7 Ibid., halaman 85.

Unsur unsur dari tindak pidana sangatlah penting karena dapat dijadikan sebagai sebuah patokan dalam upaya untuk menentukan apakah suatu perbuatan dapat digolongkan sebagai tindak pidana atau tidak. Dalam Buku II dan Buku III KUHP yang mengatur tentang kejahatan dan pelanggaran, dapat diketahui secara jelas bagaimana suatu tindak pidana itu dirumuskan.

Pengertian dari unsur-unsur tindak pidana (secara umum) ini berbeda dengan unsur-unsur tindak pidana yang tercantum didalam suatu rumusan pasal. Unsur-unsur tindak pidana (secara umum) memiliki pandangan yang lebih luas daripada yang tercantum dalam suatu rumusan pasal. Misalnya: unsur-unsur dari tindak pidana perkosaan ialah unsur-unsur yang tercantum dalam pasal 285 KUHP.

Berikut ini merupakan rumusan unsur-unsur tindak pidana yang dirumuskan oleh beberapa ahli hukum:

1. Pompee mengadakan pembagian elemen strafbaar feit atas 8: a Wederrechtelijkheid (unsur melawan hukum)

b Schuld (unsur kesalahan)

c Subsociale (unsur bahaya/gangguan/merugikan)

Pandangannya termasuk golongan pembagian strafbaar feit yang mendasar, namun ditambah dengan elemen subsocial yang diperkenalkan oleh Vrij.

Subsocial merupakan suatu keadaan sosial psikologis yang membawa akibat kepada masyarakat sehingga muncul perasaan kacau, terganggu, gelisah dan sebagainya yang diakibatkan oleh terjadinya suatu delik dan merupakan keadaan yang harus dipertimbangkan dalam penjatuhan pidana kepada orang yang melakukan delik.

2. D. Hazewinkel Suringa dalam Sudarto mengenai unsur-unsur tindak pidana

8 Bambang Poernomo, Asas-Asas Hukum Pidana, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985), halaman 37.

yang diambil dari rumusan undang-undang:9

a Dalam setiap delik terdapat unsur tindak atau perbuatan seseorang;

b Untuk beberapa delik, undang-undang menyebutkan apa yang dinamakan akibat konstitutif dan ini terdapat dalam delik materiil;

c Banyak delik memuat unsur-unsur yang bersifat psychisch misalnya:

dengan tujuan dan dolus atau culpa;

d Berbagai delik menghendaki adanya keadaan objektif, misalnya delik penghasutan (Pasal 160 KUHP). Ada pula yang menyebutkan faktor-faktor subjektif baik yang bersifat psychisch misalnya dalam delik pembunuhan berencana (Pasal 340 KUHP) atau tidak misalnya dalam delik pembunuhan terhadap anak seketika setelah anak itu dilahirkan (Pasal 341 dan Pasal 342 KUHP).

e Beberapa delik memuat apa yang disebut dengan “syarat tambahan untuk dapat dipidana” (bijkomende voor waarde van strafbaarheid), yang maksudnya adalah:

1) Terjadi sesudah terjadinya perbuatan yang diuraikan dalam undang-undang, bisa juga disertai dengan akibat kostitutifnya;

2) Justru memberikan sifat dapat dipidananya (Pasal 123, 164, 165 KUHP) yaitu, dapat ditandai dengan adanya kata “Jika....” misalnya:

Pasal 182 KUHP: Jika duel terjadi, Pasal 531 KUHP: Jika yang perlu ditolong mati.

f Sifat melawan hukum juga memegang peranan sebagai unsur delik seperti tersebut dalam Pasal 167 KUHP (merusak ketenteraman rumah).

Dari uraian unsur-unsur yang harus dimiliki suatu perbuatan sehingga dapat dikatakan sebagai suatu tindak pidana, maka dapat disimpulkan, secara umum unsur-unsur yang harus dimiliki suatu perbuatan agar dapat dikategorikan sebagai

9 Ibid., halaman 106.

tindak pidana adalah pada umumnya harus memiliki unsur dibawah ini:

1. Unsur objektif (unsur yang berasal dari luar diri pelaku);

2. Unsur subjektif (keadaan atau sikap bathin dari dalam diri pelaku yang melanggar hukum).

1.2. Jenis-jenis Tindak Pidana

Tindak pidana berdasarkan penggolongannya terbagi menjadi beberapa bagian, dimana perbedaan yang terdapat didalam suatu tindak pidana dengan yang lainnya memiliki ciri-ciri tertentu. Dalam KUHP Indonesia yang berlaku hingga saat ini membedakan tindak pidana (delik) menjadi 2 jenis yaitu:

1. Kejahatan/misdrijven (Buku II KUHP)

Menurut Jonkers, kejahatan disebut juga sebagai rechtdelicten (delik hukum )yang merupakan perbuatan yang tidak adil menurut filsafat. Selain itu juga dari sisi kriminologi, kejahatan memiliki sanksi yang lebih berat daripada pelanggaran10.

2. Pelanggaran/overtredingen (Buku III KUHP)

Menurut Jonkers, pelanggar disebut juga dengan wetsdelicten (delik undang-udang) merupakan perbuatan yang pada mulanya menurut keinsyafan (kesadaran) batin manusia tidak dirasakan sebagai perbuatan tidak adil, namun baru dirasakan sebagai perbuatan yang dapat dipidana (dilarang) karena perbuatan itu diancam dengan pidana11 oleh undang-undang untuk menjaga kepentingan umum.

Selain pembedaan yang dilakukan oleh KUHP, tindak pidana dalam buku Dr. M. Ekaputra juga dibedakan berdasarkan golongan tertentu diantaranya:12

1. Cara merumuskan tindak pidana

10 Mohammad Ekaputra, Op.cit., halaman 97.

11 Ibid., halaman 97.

12 Ibid., halaman 101-107.

a Delik Formil (formeele delicten): dalam delik ini yang dilarang adalah tindakan atau perbuatannya tanpa mempersoalkan akibat yang timbul dari tindakan itu.

b Delik Materiil (materiele delicten): yang difokuskan adalah akibat yang timbul dari perbuatan itu sendiri.

2. Cara melakukan tindak pidana

a Delik Komisi (commissie delicten): dalam delik ini, harus ada tindakan aktif yang diancamkan pidana

b Delik Omisi (ommissie delicten): dalam delik ini diharuskan dengan, jika tidak melakukan suatu tindakan yang diancam pidana.

c Delik Campuran (Delicta Commissionis per ommissionem commisceo):

delik yang berupa pelanggaran suatu perbuatan yang dilarang, akan tetapi dapat dilakukan dengan cara tidak berbuat.

3. Perbedaan subjek

a Delik Khusus (delicta propria): Subjek dari delik ini bersifat khusus, atau hanya berlaku bagi golongan atau orang-orang tertentu. Pada umumnya dianggap sebagai pelaku dari tindak pidana khusus

b Delik Umum (commune delicten): Delik ini berlaku kepada semua orang pada umumnya. Biasanya dirumuskan dengan kata “Barangsiapa...”.

Namun kata “Barangsiapa...” dalam KUHP Militer tidak berlaku untuk umum.

4. Bentuk kesalahan

a Delik Dolus (doleus delicten): perbuatan yang dilakukan secara sengaja.

b Delik Kulpa (culpose delicten): perbuatan yang dilakukan dengan kealpaan namun tetap diancam dengan pidana.

5. Berdasarkan sumbernya

a Tindak pidana umum: semua tindak pidana yang diatur dalam KUHP

(Buku II dan Buku III KUHP)

b Tindak pidana khusus: semua tindak pidana diluar hukum pidana umum sehingga diperlukan pengaturan secara khusus.

6. Berdasarkan perlu atau tidak pengaduan dalam hal penuntutan

a Delik biasa (gewone delicten): Tindak pidana yang dapat dilakukan penuntutan tanpa diharuskan dengan adanya pengaduan dari pihak yang bersangkutan

b Delik aduan (klacht delicten): Tindak pidana yang hanya dapat dilakukan penuntutan dengan adanya aduan dari pihak yang berhak mengajukan pengaduan.

7. Berdasakan sanksinya

a Delik bentuk pokok/ bentuk sederhana (eenvoudige delicten)

b Delik dikualifisir/diperberat (gequalificeerde delicten): tindak pidana yang dalam keadaan khusus atau tertentu diancam dengan sanksi pidana yang lebih berat jika dibandingkan dengan yang ada pada delik pokoknya.

c Delik diprivilisir/diperingan (gepriviligieerde delicten): tindak pidana yang menyimpang dari bentuk dasarnya sehingga dianggap lebih pantas jika sanksi diringankan.

8. Berdasarkan keberlanjutannya

a Delik berdiri sendiri (zelfstandige delicten): tindak pidana yang dilakukan terdiri dari suatu perbuatan tertentu.

b Delik berlanjut (voortgezette delicten): terdiri dari beberapa perbuatan yang berlanjut.

9. Berdasarkan kesinambungannya suatu delik

a Delik rampung (aflopende delict): tidak lebih dari satu perbuatan yang mencakup melakukan atau melalaikan bahkan menimbulkan akibat

tertentu.

b Delik berkesinambungan (voortdurende delict): tindak pidana yang menciptakan atau menimbulkan suatu keadaan berlanjut yang dilarang.

10. Berdasarkan kebiasaan dari pelaku atau tidak

a Delik Tunggal (enkelvoudige delict): delik yang selesai dengan satu perbuatan.

b Delik Gabungan (samengestelde delict): delik yang terdiri dari beberapa perbuatan