BAB III : PERBANDINGAN PENGATURAN TINDAK PIDANA
C. Perbandingan Perlindungan yang Diberikan Oleh Hukum Positif
1 Perlindungan Hukum Menurut Hukum Positif Perlindungan Terhadap Korban
Upaya perlindungan terhadap korban tindak pidana perkosaan tidak semata-mata merupakan tugas dari aparat penegak hukum, tetapi juga merupakan kewajiban masyarakat untuk membantu memulihkan kondisi korban perkosaan dalam kehidupan bermasyarakat. Upaya perlindungan kepada korban perkosaan dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu:69
a. Perlindungan Oleh Hukum
Secara umum, adanya hukum positif di Indonesia merupakan suatu aturan yang salah satu tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya kejahatan. Hal ini berarti, hukum juga bertujuan untuk melindungi masyarakat agar tidak menjadi korban kejahatan sebelum kejahatan itu terjadi. Berdasarkan hukum, maka pihak korban dapat menuntut kerugian atau ganti rugi terhadap pihak terpidana. Pengaturan perlindungan korban dalam Hukum pidana Positif Indonesia diatur dalam:
1) Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
Secara implisit, ketentuan Pasal 14c ayat (1) KUHP telah memberi perlindungan terhadap korban kejahatan. Pasal tersebut berbunyi:
“Pada perintah yang tersebut dalam Pasal 14a kecuali dalam hal dijatuhkan pidana denda, maka bersama dengan syarat umum, bahwa orang yang dipidana
69 Johan Runtu, Perlindungan Hukum Terhadap Korban Tindak Pidana Perkosaan Dalam Peradilan Pidana, (Jurnal Hukum, 2012). halaman 33-36.
tak akan melakukan tindak pidana, hakim boleh mengadakan syarat khusus bahwa orang yang dipidana itu akan mengganti kerugian yang terjadi karena tindak pidana itu, semuanya atau sebagiannya saja, yang akan ditentukan pada perintah itu juga, yang kurang dari masa percobaan itu.”
Menurut ketentuan Pasal 14c ayat (1), begitu pula Pasal 14a dan b KUHP, hakim dapat menjatuhkan pidana dengan menetapkan syarat khusus kepada terpidana dengan maksud guna mengganti kerugian yang ditimbulkan kepada korban.
2) Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Bab III Tentang Penggabungan Perkara Ganti Kerugian,
Pasal 98 s/d 101 yang mengatur tentang ganti rugi yang diberikan oleh korban dengan menggabungkan perkara pidana dan perdata. Jadi selain pelaku telah mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya, korban juga mendapatkan ganti rugi atas kerugian yang dideritanya. Dari dimensi sistem peradilan pidana maka kepentingan korban dalam proses penyelesaian perkara pidana mempunyai dua aspek, yaitu:
a) Aspek Positif
KUHAP, melalui lembaga praperadilan, memberikan korban perlindungan dengan melakukan kontrol apabila penyidikan atau penuntutan perkaranya dihentikan. Adanya kontrol ini merupakan manifestasi bentuk perlindungan kepada korban sehingga perkaranya tuntas dan dapat diselesaikan melalui mekanisme hukum. KUHAP juga menempatkan korban pada proses
penyelesaian perkara melalui dua kualitas dimensi, yaitu:
1) Pertama, korban hadir di sidang pengadilan dalam pemeriksaan perkara pidana sebagai “saksi korban” guna memberi kesaksian tentang apa yang didengar sendiri dan dialami sendiri (Pasal 1 angka 26 KUHAP).
2) Kedua, korban hadir di sidang pengadilan dalam pemeriksaan perkara pidana sebagai “saksi korban” yang dapat mengajukan gabungan gugatan
ganti kerugian berupa sejumlah uang atas kerugian dan penderitaan yang dialaminya sebagai akibat perbuatan terdakwa.
Karena itu, saksi korban dalam kapasitasnya, memberi keterangan bersifat pasif. Kehadiran “saksi Korban” di depan persidangan memenuhi kewajiban undang-undang, memberi keterangan mengenai peristiwa yang dilihat, didengar dan dialaminya sendiri. Tetapi, dalam kapasitasnya sebagai korban yang menuntut ganti kerugian maka korban sifatnya aktif dalam perkara penggabungan gugatan ganti kerugian.
b) Aspek Negatif
Sebagaimana diterangkan di atas, kepentingan korban dalam proses penyelesaian perkara pada sistem peradilan pidana mempunyai aspek positif.
Walau demikian, kenyataannya mempunyai aspek negatif. Dengan tetap mengacu pada pandangan KUHAP, perlindungan korban ternyata dibatasi, relatif kurang sempurna dan kurang memadai.
b. Perlindungan hukum terhadap korban tindak pidana perkosaan juga dilakukan selama proses peradilan yang dapat dilihat dalam uraian sebagai berikut:
1. Sebelum Sidang Pengadilan
Perlindungan hukum yang diberikan terhadap korban tindak pidana perkosaan, pertama kali diberikan oleh polisi pada waktu korban melapor. Saat ini Polri perlu membentuk suatu Ruang Pelayanan Khusus (RPK). Ruang Pelayanan Khusus (RPK) adalah sebuah ruang khusus yang tertutup dan nyaman di kesatuan Polri, dimana perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan atau pelecehan seksual dapat melaporkan kasusnya dengan aman kepada Polwan yang empatik, penuh pengertian dan profesional.
2. Selama Sidang Pengadilan
Selama proses sidang pengadilan, korban dalam memberikan kesaksian didampingi oleh anggota LBH/LSM supaya korban dapat lebih tenang dan tidak
merasa takut dalam persidangan. Apalagi dalam persidangan, korban harus dipertemukan lagi dengan pelaku yang dapat membuat korban trauma sehingga akan mempengaruhi kesaksian yang akan diberikan dalam persidangan. Bentuk-bentuk perlindungan selama sidang pengadilan juga diatur dalam PP No. 2 Tahun 2002 Tentang Tata Cara Perlindungan terhadap Korban dan Saksi Pasal 4 yang berbunyi:
a. Perlindungan atas keamanan pribadi korban atau saksi dari ancaman fisik dan mental;
b. Perahasiaan identitas korban dan saksi;
c. Pemberian keterangan pada saat pemeriksaan di sidang pengadilan tanpa bertatap muka dengan tersangka.
Perlindungan serupa juga terdapat dalam UU No. 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban Pasal 5 ayat (1) huruf (a) s/d (g) yang berbunyi:
a. Memperoleh perlindungan atas keamanan pribadi, keluarga, dan harta bendanya, serta bebas dari ancaman yang berkenaan dengan kesaksian yang akan, sedang, atau telah diberikannya;
b. Ikut serta dalam proses memilih dan menentukan bentuk perlindungan dan dukungan keamanan;
c. Memberikan keterangan tanpa tekanan;
d. Mendapat penerjemah;
e. Bebas dari pertanyaan yang menjerat;
f. Mendapatkan informasi mengenai perkembangan kasus;
g. Mendapatkan informasi mengenai putusan pengadilan;
3. Setelah Sidang Pengadilan
Setelah pelaku dijatuhi hukuman oleh hakim, maka sesuai dengan Pasal 5 ayat (1) huruf h s/d m II No. 13 Tahun 2006, maka korban berhak mendapatkan perlindungan yang antara lain sebagai berikut:
h. Mengetahui dalam hal terpidana dibebaskan;
i. Mendapatkan identitas baru;
j. Mendapatkan tempat kediaman baru;
k. Memperoleh penggantian biaya transportasi sesuai dengan kebutuhan;
l. Mendapatkan nasihat hukum; dan/atau
m. Memperoleh bantuan biaya hidup sementara sampai batas waktu perlindungan akhir.
Upaya negara untuk memberikan perlindungan dengan peraturan perundang-undangan belum maksimal. Hanya pendamping (LSM/LBH) yang memberikan layanan bagi perempuan korban perkosaan saja yang selama ini bergerak maksimal.
Meskipun sudah ada Undang-Undang Perlindungan Saksi dan Korban, tetapi apa yang ada di dalamnya belum dilaksanakan oleh aparat penegak hukum. Dari uraian di atas, masih ada aparat hukum yang dalam memperlakukan korban pada kasus perkosaan belum semaksimal seperti yang diperintahkan.
Penanganan kasus perkosaan juga terlampau panjang karena harus mengikuti prosedur hukum yang membuat korban menjadi enggan berhadapan dengan hukum yang prosesnya sangat melelahkan. Oleh karena itu, perlu adanya reformasi hukum dan kebijakan, terutama sistem penegakan hukum yang berkeadilan gender.
Perubahan/reformasi ini diharapkan mampu membawa pemahaman mengenai kepekaan gender bagi aparat penegak hukum agar bersikap tanggap terhadap kepentingan lelaki dewasa sebagai korban kekerasan seksual (perkosaan) yang dialaminya.
2 Perlindungan Hukum Terhadap Korban Menurut Rancangan KUHP Dalam perlindungan berupa penjatuhan sanksi terhadap pelaku korban perkosaan, ancaman sanksi yang diatur dalam Rancangan KUHP tidak jauh berbeda dengan KUHP yaitu maksimal 12 tahun, perbedaannya ada dalam Rancangan KUHP dimasukkan hukuman minimun yaitu 3 tahun sedangkan KUHP tidak menentukan hukuman minimumnya.
Bentuk perlindungan lain berupa ganti rugi atau restitusi terhadap korban, tidak disertakan dalam rancangan KUHP secara eksplisit. Namun dalam perancangan undang-undang, mengenai tindak pidana perkosaan, akan dibentuk suatu pengaturan khusus yang mengaturnya yaitu rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa, apabila Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual disahkan, maka ia akan menjadi pengaturan khusus dari pada pengaturan tindak perkosaan. Hubungan antara RKUHP dan RUU PKS lebih jelasnya akan dijelaskan pada bab berikutnya. Adapun bentuk perlindungan yang diberikan kepada korban perkosaan disebutkan secara jelas dalam Pasal 21 Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual yaitu:
Pasal 21
(1) Ketentuan mengenai Hak Korban, Keluarga Korban, dan Saksi yang diatur dalam peraturan perundang-undangan tetap berlaku, kecuali ditentukan lain oleh Undang-Undang ini.
(2) Pelaksanaan perlindungan Saksi dan Korban diselenggarakan sesuai dengan undang-undang yang mengatur tentang perlindungan Saksi dan Korban, kecuali ditentukan lain oleh Undang-Undang ini.
Bentuk perlindungan tambahan yang ditentukan dalam rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual ini adalah:
Pasal 24: Hak atas Perlindungan berupa;
(1) Ruang lingkup Hak Korban atas Perlindungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf b meliputi:
a. penyediaan informasi mengenai hak dan fasilitas Perlindungan;
b. penyediaan akses terhadap informasi penyelenggaraan Perlindungan;
c. Perlindungan dari ancaman atau kekerasan pelaku dan pihak lain serta berulangnya kekerasan;
d. Perlindungan atas kerahasiaan identitas;
e. Perlindungan dari sikap dan perilaku aparat penegak hukum yang merendahkan dan/atau menguatkan stigma terhadap Korban;
f. Perlindungan dari kehilangan pekerjaan, mutasi pekerjaan, pendidikan, atau akses politik; dan
g. Perlindungan Korban dan/atau pelapor dari tuntutan pidana atau gugatan perdata atas peristiwa Kekerasan Seksual yang ia laporkan.
(2) Dalam rangka penyelenggaraan Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, kepolisian dapat mengeluarkan perintah Perlindungan sementara.
Pasal 25
(1) Pelaksanaan hak atas Perlindungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 diselenggarakan oleh aparat penegak hukum dalam setiap proses
peradilan pidana.
(2) Dalam keadaan tertentu, sesuai dengan kebutuhan dan keinginan Korban, Korban dapat meminta Perlindungan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban.
Dalam RUU PKS, korban juga diberikan hak-hak lainnya berupa hak penanganan, hak pemulihan baik sebelum, selama proses dan setelah proses peradilan yang akan dijelaskan lebih rinci pada Bab IV berikutnya.
Namun apabila, tiba saatnya RUU KUHP telah disahkan namun pengaturan khusus RUU PKS ini masih belum disahkan, maka korban perkosaan hanya memperoleh perlindungan dari hukum positif yang ada pada saat itu yaitu berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Korban dan Saksi.
BAB IV
PERLINDUNGAN TERHADAP LELAKI DEWASA SEBAGAI KORBAN PERKOSAAN PERSPEKTIF HUKUM PIDANA DAN RANCANGAN KUHP
DI INDONESIA
A. Korban Perkosaan Terhadap Lelaki Dewasa dalam Perspektif Victimologi Menurut para ahli, kejahatan seksual merupakan kejahatan yang tidak memandang siapapun, berikut data riset perkosaan terhadap korban didunia:
a Karen G. Weiss (2008), "Male Sexual Victimization: Examining Men's Esperience of Rafe and Sexual Assault": dari seluruh korban kekerasan seksual, hanya sekitar 30% korban perempuan dan 15% korban lelaki yang melapor ke penegak hukum.70
b American Journal of Public Health (2014): dalam beberapa kasus, lelaki dewasa menjadi korban kekerasan seksual sama seringnya dengan perempuan.
Pelakunya tak terbatas jenis kelamin tertentu, sebanyak 46% korban melaporkan pelakunya sebagai perempuan. Sementara 76% lainnya diidentifikasi merupakan pelaku pelecehan seksual oleh sesama jenis.71
c Statistik National Crime Victimization Surver: dalam tahun 2010 hingga 2013, sebanyak 28% kasus perkosaan dengan serangan seksual terhadap lelaki dan 4,1% terhadap perempuan dilakukan oleh perempuan tanpa bantuan laki-laki.72 d Riset dari Lara Stemple (2008) “Center for Disease Control and Prevention”,
“National Jusice Institute” di Amerika Serikat: bahwa 92.700 pria dewasa telah diperkosa secara paksa setiap tahunnya di USA. Sekitar 3% dari total pria Amerika (lebih kurang 2,78 juta jiwa) pernah mengalami perkosaan ataupun percobaan perkosaan dalam hidupnya.73
70 https://tirto.id/bukan-cuma-perempuan-laki-laki-juga-bisa-jadi-korban-perkosaan-esct diakses tanggal 11 Desember 2020.
71 Ibid.
72 Ibid.
73 https://republika.co.id/berita/od864a/pria-korban-kejahatan-seksual diakses pada tanggal 12 Desember 2020.
e Satistik dari “National Crime Victimization Bureau of Justice”: bahwa 11% dari total korban serangan seksual adalah laki-laki.
Selain itu, terdapat beberapa kasus nyata perkosaan terjadi terhadap lelaki dewasa yang sempat menggemparkan dunia:74
a Khalil (23 tahun) dari Clifton, Pakistan, menjadi korban perkosaan pada tahun 2009 oleh sekelompok wanita dengan memberinya susu yang mengandung obat bius.75
b Pada tahun 2011, Zimbabwe, tiga orang perempuan memperkosa belasan pria.
Saat ditangkap di kawasan Gweru, polisi menyita 33 kondom berisi air mani 17 pria. Menurut para korban, ketiga wanita itu awalnya menawarkan mereka minuman hingga pingsan.76
c Viktor (32 tahun), Rusia, berniat merampok toko kecantikan pada tahun 2009.
Dirinya justru menjadi korban pemerkosaan oleh Olga sang pemilik dengan menyekapnya di ruang peralatan dan memperkosanya selama tiga hari.77
d Pada tahun 2014 di Indonesia, Emayartini alias May Binti Mansyur (38 tahun), didakwa memperkosa enam pria remaja (12 tahun hingga 17 tahun) dan divonis 12 tahun penjara (Pasal 81 Ayat 2 (2) UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo. Pasal 65 Ayat (1) KUHP).78
e Pada tahun 2016, seorang pemuda (AW) dengan usia 22 tahun melaporkan dirinya diperkosa oleh Saipul Jamil (SJ). Pelaku dituntut dengan pasal 289 KUHP yaitu 9 tahun penjara. Namun kasus itu tidak dapat berlanjut, sebab dari keterangan korban, kejadian ini dilakukan oleh pelaku (SJ) dua tahun yang lalu (ketika korban masih berumur 20 tahun).
74 Ibid.
75 https://makassar.terkini.id/5-kasus-wanita-perkosa-pria-paling-heboh-di-dunia-ada-dari-indonesia/ diakses pada tanggal 12 Desember 2020.
76 Ibid.
77 Ibid.
78 Ibid.
f Tahun 2010 di Surabaya, seorang pelaku diketahui telah memperkosa 38 orang lelaki yang diantanya adalah 13 anak lelaki sekolah dasar (SD), dan 25 lainnya adalah lelaki dewasa. Dari kasus tersebut, pelaku hanya dijerat Pasal 292 KUHP dan pasal 82 UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.79
g Tahun 2017, Reynhard Sinaga (36 Tahun), Inggris, ia terbukti melakukan perkosaan dan serangan seksual terhadap 48 korban. Pertengahan Oktober, Kejaksaan Agung Inggris mengajukan permohonan hukuman seumur hidup total dan Hakim Mahkamah Banding memutuskan hukuman seumur hidup total
"tidak tertutup". Pada Desember 2020, karena bertambahnya jumlah korban yang teridentifikasi Mahkamah Banding Inggris memutuskan untuk memperpanjang penambahan hukuman menjadi minimum 40 tahun penjara (permohonan bebas baru dapat mengajukan setelah menjalani pidana penjara minimal 40 tahun).80
Pembahasan mengenai kejahatan sudah pasti ada pihak yang dirugikan yaitu korban, maka pembahasan kejahatan tentu saja tidak terlepas dari Victimologi.
Victimologi berasal dari bahasa Latin “Victima” yang berarti korban, dan “Logos”
yang berarti ilmu. Secara terminologi Victimologi berarti suatu studi yang mempelajari tentang korban, penyebab timbulnya korban dan akibat-akibat penimbulan korban yang merupakan masalah manusia sebagai kenyataan sosial.81
Viktimologi berupaya melihat konteks kontribusi korban dalam perilaku pelaku.
Viktimologi sebenarnya ada delapan varian, tapi mengacu pada Lorraine Wolhuter dkk., terdapat tiga yakni:82
79 Darashynny, Tinjauan Yuridis Perkosaan Terhadap Laki-Laki, Skripsi Hukum. Banda Aceh:
FH Universitas Syiah Kuala, 2014, halaman 46.
80 https://m.cnnindonesia.com/international/20200207110441-134-463039/kronologi-aksi-predator-seks-reynhard-sinaga-terungkap diakses tanggal 12 Desember 2020
81 Dikdik M.Arief Mansur, Elisatris Gultom, Op.Cit., halaman 33.
82 https://www.balairungpress.com/2019/02/sri-wiyanti-eddyono-ruu-pks-penting-untuk-
hukum-yang-berperspektif-korban/#:~:text=Apa%20yang%20dimaksud%20dengan%20RUU,menangani%20kasus%2Dkasus%2
a Viktimologi positivis melihat adanya kontribusi korban yang memberi peluang dalam kejahatan.
b Viktimologi radikal mulai membongkar apabila korban dilihat lewat kontribusinya, itu malah akan menjadi reviktimisasi. Korban bukan lagi dilihat dari kontribusinya, melainkan dari dampak yang ia terima.
c Viktimologi kritis menindaklanjuti penanganan kasus kekerasan seksual yang tidak hanya terbatas pada pelayanan korban, melainkan juga hak-hak korban.
Hak-hak korban dalam sistem peradilan di Indonesia bisa dilihat dalam UU Nomor 31 Tahun 2014.
Sebagian besar penegak hukum di Indonesia masih menggunakan viktimologi positivis, mungkin disebabkan karena mereka tidak tahu dan tidak sadar bahwa sedang memakai viktimologi positivis, hal ini diketahui dari buku-buku rujukan yang dipakai, hampir semua penulis buku viktimologi masih lebih dekat kepada pendekatan positivis. Kini, orang-orang sudah mulai menyadari bahwa pincanglah hukum pidana jika tidak bicara tentang kepentingan korban.83
Dalam Basis hukum Indonesia sendiri, jika mengacu kepada hak-hak korban, viktimologi yang sesuai adalah viktimologi kritis dan viktimologi radikal. Sudah tidak relevan lagi diskusi tentang kontribusi korban dalam tindak kekerasan seksual.
Apapun yang terjadi, korban kekerasan seksual harus tetap dilindungi. Sayangnya, viktimologi kritis dan radikal tidak populer di Indonesia karena memang dari sistem hukum pidananya sendiri masih terdapat doktrin kausalitas yang mengakar begitu kuat.84
Menurut spesialis kejiwaan dr. Gina Anindyajati, SpKJ, menjadi korban kekerasan seksual termasuk pemerkosaan memang selalu berada dalam posisi sulit.
Di Indonesia sendiri masih kental dengan adat ketimuran, membuka diri sebagai
0pelecehan%20seksual. Diakses pada tanggal 13 Desember 2020.
83 Ibid.
84 Ibid.
korban artinya membuka aib. Rasa takut untuk melapor dikarenakan sistem penanganan korban kekerasan seksual belum seutuhnya berpihak pada korban. Selain itu, melapor juga membuat ingatan korban kembali pada kejadian yang sebenarnya tidak ingin dia ingat. Apalagi jika diproses, kepolisian kerap berulang kali mempertanyakan kronologi dan hal ini akan menyakiti psikis korban terus menerus.85
Penelitian lain menyimpulkan bahwa dalam beberapa kasus, pria heteroseksual yang menceritakan pengalamannya tidak memperoleh bantuan atau dukungan yang dibutuhkan. Hal ini mengakibatkan korban (lelaki dewasa) kesulitan dalam menceritakan bahwa mereka telah diperkosa. Kebanyakan korban akan berusaha untuk melupakan semuanya seakan-akan tidak ada yang pernah terjadi padanya, tetapi hal tersebut justru membawa dampak kepada mereka untuk melakukan perbuatan ke arah melukai diri sendiri hingga berkelakuan agresif dalam bersosialisasi dengan lingkungan sosial hingga impotensi seksual.86
Berdasarkan Viktimologi Radikal, dr Gina Anindyajati SpKJ, dalam acara bertajuk “Waspadai Kekerasan Seksual di Sekitar Kita: Dalam Tinjauan Medis"
mengemukakan sejumlah faktor resiko seseorang dapat menjadi korban seksual, maupun menjadi pelaku kekerasan seksual:87
1. Faktor resiko seseorang menjadi pelaku kekerasan seksual a. Berusia muda
b. Pernah dianiaya saat kecil
c. Menjadi korban kekerasan seksual sebelumnya d. Pekerja seks atau memiliki banyak pasangan seksual
e. Hidup di lingkungan masyarakat yang sanksi terhadap pelaku kekerasan seksual rendah
85 https://www.suara.com/health/2020/01/10/185257/korban-pemerkosaan-enggan-melapor-dokter-jiwa-ungkap-alasannya?page=all diakses pada tanggal 12 Desember 2020.
86 Darashynny, Op.Cit., halaman 51.
87 https://fk.ui.ac.id/infosehat/korban-dan-pelaku-kekerasan-seksual-simak-faktor-risikonya/
diakses pada tanggal 12 Desember 2020.
f. Masyarakat yang menganut peran gender tradisional
g. Norma sosial yang mendukung kekerasan seksual Masyarakat dengan ideologi seks sebagai hak laki-laki
2. Dampak menjadi korban kekerasan seksual a. Memiliki keterampilan sosial yang buruk b. Hubungan yang tegang dengan orang dewasa c. Perasaan tidak berdaya saat pernah menjadi korban d. Hubungan yang tidak memuaskan dengan orang dewasa e. Harga diri rendah Kerentanan dalam hal maskulinitas f. Perasaan terhina Kesendirian
g. Masalah keterikatan emosional, Masalah seksual
Adapun beberapa dampak psikis yang timbul terhadap korban perkosaan menurutnya antara lain:
1. Gejala kecemasan hingga depresi seperti adanya rasa tidak berdaya yang demikian hebat sehingga korban berpikir bahwa tidak ada gunanya lagi bagi dia untuk hidup juga mungkin terjadi;
2. Tahap yang paling parah adalah ketika korban sudah tidak lagi percaya pada dirinya sendiri, bahkan mungkin berkembang hingga mengalami gangguan jiwa sehingga membutuhkan pendampingan lebih lanjut.
Sedangkan ditinjau dari Viktimologi kritis, adapun pemenuhan hak korban perkosaan berupa ganti kerugian yang dapat diajukan ke pengadilan melalui LPSK oleh korban tindak pidana perkosaan, keluarga, atau kuasanya dapat berupa materiil dan immateriil. Ganti kerugian materiil berupa restitusi dan kompensasi, serta ganti kerugian immaterial dapat berupa bantuan yaitu rehabilitasi psiko-sosial. Dalam pemberian ganti kerugian, yang diutamakan terlebih dahulu adalah rehabilitasi psiko-sosial, karena untuk memulihkan kondisi seseorang tidak dapat dilakukan melalui
pemenuhan materi saja.88
Perlindungan hukum pada korban kejahatan merupakan masalah yang perlu memperoleh perhatian yang serius. Dalam Deklarasi Milan 1985, bentuk perlindungan yang diberikan mengalami perluasan tidak hanya ditujukan pada korban kejahatan (victims of crime), tetapi juga perlindungan terhadap korban akibat penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power).89
Korban kejahatan perkosaan yang pada dasarnya merupakan pihak yang paling menderita dalam suatu tindak pidana justru tidak memperoleh perlindungan sebanyak yang diberikan oleh undang-undang kepada pelaku kejahatan. Akibatnya pada saat pelaku kejahatan yang telah dijatuhi sanksi pidana oleh pengadilan, kondisi korban kejahatan seperti tidak dipedulikan sama sekali. Padahal, masalah keadilan dan penghormatan hak asasi manusia tidak hanya berlaku terhadap pelaku kejahatan saja, tetapi juga kepada korban kejahatan.90
Dalam kaitan pemeriksaan suatu tindak pidana, sering kali korban hanya diposisikan sebagai pemberi kesaksian, sebagai pelapor dalam proses penyidikan, dan sebagai sumber informasi, atau sebagai salah satu kunci penyelesaikan perkara.
Sebaliknya, pada saat korban tidak dapat memenuhi kewajibannya sebagai saksi di persidangan, ia akan dikenakan sanksi. Korban hanyalah pelengkap atau sebagian dari alat bukti bukan pencari keadilan.91
Korban perkosaan juga sering kali menjadi korban ganda, ketika harus ke rumah sakit untuk mengobati luka-lukanya, membiayai diri sendiri biaya pengobatan, perawatan rumah sakit dan transportasi. Sedangkan apabila pelaku terluka, atau membutuhkan perawatan, ia akan mendapatkan perlakuan khusus.
Prosedur pemeriksaan sejak penyidikan, penuntutan hingga pemeriksaan dilalui
88 I Gusti Ayu Christiari dan A.A. Sri Utari. Bentuk Ganti Kerugian Terhadap Korban Tindak Pidana Perkosaan Ditinjau Dari Perspektif Viktimologi, (Bali: Jurnal Hukum, FH Udayana, 2014).
89 Dikdik M. Arief Mansur dan Elisatris Gultom, Op.Cit., halaman 24.
90 Ibid., halaman 24.
91 Ibid., halaman 27-28.
korban jika ingin memperjuangkan hak perlindungan hukum, yang proses pemeriksaan tersebut justru menambah daftar penderitaannya. Sering kali korban harus melalui proses tersebut sebelum kondisi kesehatan benar-benar pulih, agar tidak melemahkan bukti yang ada.
Peran korban dalam persidangan lebih sebagai bagian dari pencarian kebenaran material yaitu sebagai saksi. Dalam tahap pemeriksaan, seperti halnya korban
Peran korban dalam persidangan lebih sebagai bagian dari pencarian kebenaran material yaitu sebagai saksi. Dalam tahap pemeriksaan, seperti halnya korban