• Tidak ada hasil yang ditemukan

Belanja Modal…

Dalam dokumen : YUANITA LAROSA HUSNI (Halaman 33-0)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Telaah Literatur

2.2.4 Belanja Modal…

Transfer ke daerah adalah dana yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang dialokasikan kepada daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Transfer ke daerah ditetapkan dalam APBN, Peraturan Presiden dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang selanjutnya dituangkan dalam Daftar Isian Pelakasanaan Anggaran (DIPA) yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan selaku Kuasa Pengguna Anggaran atas nama Menteri Keuangan Selaku Pengguna Anggaran untuk tiap jenis Transfer ke Daerah dengan dilampiri rincian alokasi per daerah. Transfer ke daerah terdiri dari:

dana perimbangan, dana otonomi khusus dan dana penyesuaian.

Dana otonomi khusus adalah dana yang dialokasikan untuk membiayai pelaksanaan otonomi khusus suatu daerah sebagaimana ditetapkan UU Nomor 18 tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Pemberian dana otonomi khusus tersebut dimaksudkan agar daerah tersebut dapat mensejahterahkan daerahnya yang dilakukan secara mandiri tanpa campur tangan pemerintah pusat. Pembagian dana otonomi khusus ini diatur dalam bentuk SK Gubernur Provinsi Aceh. Anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) melibatkan dua aktor utama yaitu eksekutif dan legislatif. Eksekutif sebagai pelaksana operasionalisasi daerah berkewajiban membuat draft/rancangan APBD, yang hanya bisa diimplementasikan kalau sudah disahkan oleh DPRD dalam proses ratifikasi anggaran.

Penelitian (Kurniawan, 2009) tentang Pengaruh pendapatan asli daerah, dana alokasi umum, dana alokasi khusus terhadap kinerja keuangan dengan belanja

modal sebagai variable intervening di kabupaten dan kota provinsi riau. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dalam hubungan langsung, secara parsial variabel PAD dan DAU berpengaruh tehadap kinerja keuangan, tetapi variabel DAK tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Namun secara simultan variabel PAD, DAU dan DAK berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Dan dalam hubungan tidak langsung secara parsial variabel PAD dan DAU berpengaruh terhadap kinerja keuangan melalui belanja modal, sedangkan variabel DAK tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan melalui belanja modal. Namun secara simultan variabel PAD, DAU, dan DAK berpengaruh terhadap kinerja keuangan melalui belanja modal.

Penelitian (Sihite, 2008) tentang pengaruh pendapatan asli daerah, dana alokasi umum dan fiscall stress terhadap kinerja keuangan di kabupaten dan kota propinsi sumatera utara. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan Fiscal Stress berpengaruh positif terhadap Kinerja Keuangan.

Sedangakan variabel Dana Alokasi Umum (DAU) negatif terhadap Kinerja Keuangan.

Penelitian (Abdullah & Febriansyah, Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Alokasi Khusus Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota se-Sumatera Bagian Selatan , 2015) tentang Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Alokasi Khusus Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota se-Sumatera Bagian Selatan. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Alokasi Khusus. Variabel dependen adalah kinerja

keuangan. Hasil yang ditemukan dari studi ini adalah pendapatan daerah efek pada kinerja keuangan. Sementara dana alokasi Umum dan dana alokasi khusus tidak berpengaruh pada kinerja keuangan..

BAB III

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Penelitian

Kerangka konseptual merupakan suatu kesatuan kerangka pemikiran yang utuh dalam rangka mencari jawaban – jawaban ilmiah terhadap masalah – masalah penelitian yang menjelaskan tentang variabel – variabel, hubungan antara variabel – variabel secara teoritis yang berhubungan dengan hasil penelitian terdahulu yang kebenarannya dapat diuji secara empiris (Sekaran, 2006) . Untuk memperoleh jawaban – jawaban ilmiah mengenai pengaruh dana alokasi umum, dana alokasi khusus dan belanja modal terhadap kinerja keuangan.

Kerangka penelitian dapat dilihat pada skema di bawah ini :

Gambar 3.1. Kerangka Penelitian

Berdasarkan penjelasan literatur dan hasil penelitian sebelumnya peneliti membentuk kerangka konseptual yang menggambarkan hubungan antara variabel dependen dan independen. Variabel independen dalam penelitian ini yaitu DAU, DAK dan Belanja Modal yang diduga akan berpengaruh secara simultan dan parsial

Dana Alokasi Umum (X1)

Kinerja Keuangan Dana Alokasi Khusus (Y)

(X2)

Belanja Modal (X3)

terhadap variabel dependen yakni Kinerja Keuangan. Tanda panah menunjukkan bahwa masing-masing variabel independen diduga berpengaruh baik secara parsial maupun simultan terhadap variabel dependen.

3.1.1 Pengaruh Dana Alokasi Umum terhadap Kinerja Keuangan

DAU merupakan salah satu transfer dana pemerintah pusat kepada pemerintah daerah yang bersumber dari APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Menurut Undang-Undang Nomor 33/2004, Dana Alokasi umum adalah dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah otonom dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dana Aokasi Umum merupakan salah satu dana yang berasal dari dana perimbangan dan dana perimbangan merupakan salah satu komponen pendapatan pada APBD. Dibeberapa daerah peran DAU sangat signifikan karena karena kebijakan belanja daerah lebih di dominasi oleh jumlah DAU dari pada PAD (Sidik, 2002).

Terdapat keterikatan yang sangat erat antara transfer dari Pemerintah Pusat dengan kinerja Keuangan Pemerintah Daerah yaitu kecenderungan dimana daerah lebih mengandalkan penerimaan DAU daripada PAD untuk kepentingan pembiayaan daerah menunjukkan bahwa tingkat kinerja Keuangan Pemerintah tersebut dipengaruhi oleh DAU. Semakin tinggi DAU tingkat ketergantungan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat maka semakin tinggi efesiensi keuangan pemerintah daerah. Karena semakin tinggi DAU yang diperoleh

pemerintah daerah, maka pemerintah daerah semakin hati-hati dalam pelaksanaan tugas pelayanan kepada masyarakat karena diawasi oleh pemerintah pusat.

Julitawati (2012) menguji pengaruh DAU sebagai bagian dari Dana Perimbangan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa DAU berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di provinsi tersebut. Rukmana (2013) juga menguji pengaruh DAU sebagai bagian dari Dana Perimbangan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. Hasil penelitiannya membuktikan bahwa DAU berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan Pemerintah Daerah.

3.1.2 Pengaruh Dana Alokasi Khusus terhadap Kinerja Keuangan

Dana Alokasi Khusus (DAK) juga merupakan dana yang berasal dari dana perimbangan selain dana alokasi umum dan dana bagi hasil. Tujuan DAK untuk mengurangi beban biaya kegiatan khusus yang harus ditanggung oleh pemerintah daerah. Pemanfaatan DAK diarahkan kepada kegiatan investasi pembangunan, pengadaan, peningkatan, perbaikan sarana dan prasarana fisik pelayanan publik dengan umur ekonomis panjang.

DAK digunakan untuk menutup kesenjangan pelayanan publik antar daerah dengan memberi prioritas pada bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, kelautan dan perikanan, pertanian, prasarana pemerintahan daerah, dan lingkungan hidup. Apabila dikelola dengan baik, DAK yang secara khusus digunakan untuk pembangunan dan rehabilitasi sarana dan prasarana fisik ini dapat membantu

menanggulangi kemiskinan dan secara umum dapat digunakan untuk membangun perekonomian nasional.

Menurut Undang-undang Nomor 33/2004, Dana Alokasi Khusus adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Julitawati (2012) menguji pengaruh DAK sebagai bagian dari Dana Perimbangan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Hasil penelitiannya membuktikan bahwa DAK berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di provinsi tersebut. Rukmana (2013) juga menguji pengaruh DAK sebagai bagian dari Dana Perimbangan terhadap kinerja keuangan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. Secara empiris, hasil penelitiannya membuktikan bahwa DAK berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.

Perolehan dan pemanfaatan DAK oleh daerah harus mengikuti rambu-rambu yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. DAK dialokasikan dalam APBN untuk daerah-daerah tertentu dalam rangka mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan termasuk dalam program prioritas nasional. DAK diberikan dengan tujuan untuk membiayai kegiatan-kegiatan khusus pada daerah tertentu yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional, khususnya untuk membiayai kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat yang belum mencapai standar tertentu atau untuk mendorong percepatan pembangunan daerah, maka semakin tinggi DAK maka akan semakin

tinggi Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah. Bertambahnya kucuran DAK ke daerah setiap tahun semestinya disertai rancangan lebih terarah dan pemanfaatannya benar-benar untuk kepentingan rakyat dan bukan rancangan yang memberi peluang terjadinya kebocoran anggaran. Jika kebocoran itu terjadi menunjukkan tingkat Kinerja Keuangan Pemerintah daerah rendah.

3.1.3 Pengaruh Belanja Modal terhadap Kinerja Keuangan

Belanja modal merupakan belanja pemerintah daerah yang manfaatnya melebihi satu tahun anggaran dan akan menambah aset atau kekayaan daerah dan selanjutnya akan menambah belanja yang bersifat rutin seperti biaya pemeliharaan pada kelompok belanja administrasi umum (Halim, 2004:73). Menurut KSAP (Komite Standar Akuntansi Pemerintahan) dalam PSAP (Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan) Nomor 02, belanja modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Belanja modal meliputi antara lain belanja modal untuk perolehan tanah, gedung dan bangunan, peralatan, aset tak berwujud. Aset tetap yang dimiliki pemerintah daerah sebagai akibat adanya belanja modal merupakan syarat utama dalam memberikan pelayanan publik. Untuk menambah aset tetap, pemerintah daerah mengalokasikan dana dalam bentuk anggaran belanja modal dalam APBD. Setiap tahun diadakan pengadaan aset tetap oleh pemerintah daerah sesuai dengan prioritas anggaran dan pelayanan publik yang memberikan dampak jangka panjang secara finansial (Ardhani, 2011). Belanja modal berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan kinerja keuangan daerah secara langsung, sedangkan

secara tidak langsung belanja modal berpengaruh positif terhadap pertumbuhan kinerja keuangan melalui pendapatan asli daerah sebagai variabel intervening (Nugroho, 2012). Upaya dalam menggenjot belanja modal merupakan perkara yang sangat penting bagi pemerintah daerah karena dapat meningkatkan produktivitas perekonomian sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pemerintah pusat dan semakin besar alokasi belanja modal pada tahun selanjutnya. Hal ini akan memberi dampak yang baik terhadap pertumbuhan kinerja keuangan dari tahun ketahun secara terus-menerus

3.1. Hipotesis

Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap masalah yang akan diuji kebenarannya, melalui analisis data yang relevan. Kebenaran dugaan sementara akan diketahui setelah dilakukan penelitian terhadap data variabel. Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka konseptual, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :

1. Dana Alokasi Umum berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Keuangan pada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

2. Dana Alokasi Khusus berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Keuangan pada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

3. Belanja Modal berpengaruh negative dan signifikan terhadap Kinerja Keuangan pada pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kausal. Penelitian ini dapat dikatakan sebagai penelitian kausal dikarenakan tujuan dari penelitian kausal yaitu untuk melihat hubungan yang bersifat sebab akibat antara satu variabel dengan variabel lainnya (Daulay, 2010).

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa data kuantitatif yang bersumber dari data APBD dan laporan realisasi APBD yang diperoleh dari data yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik melalui portal www.bps.go.id dan melalui portal Dirjen Perimbangan Keuangan Daerah (DJPK) di www.djpk.kemenkeu.go.id. Data tersebut merupakan kombinasi dari data runtut waktu (time-series) yaitu data yang secara kronologis disusun menurut waktu pada suatu variabel tertentu dan secara cross-section yang dikumpulkan pada suatu titik tertentu (Lubis, 2012) yang disebut dengan pooling data dengan combined model.

4.2 Definisi Operasional Variabel

Untuk memberikan gambaran dan tujuan yang jelas dan menghindari pelebaran objek yang akan diteliti maka perlu diberikan definisi variabel operasional yang akan diteliti sehingga menjadi sebuah panduan dalam menyusun sebuah penelitian yang bermutu. Definisi operasional variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Variabel dependen yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel sebab atau variabel bebas. Variabel ini dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independen (Erlina, 2011). Dalam penelitian ini variabel dependen adalah kinerja keuangan.

2. Variabel independen yaitu variabel yang dapat mempengaruhi perubahan dalam variabel dependen atau yang menyebabkan, atau yang menyebabkan terjadinya variasi bagi variabel tak bebas (variabel dependen) dan mempunyai hubungan yang positif maupun negatif bagi variabel dependen lainnya (Erlina, 2011). Variabel independen dalam penelitian ini adalah dana alokasi umum, dana alokasi khusus dan belanja modal.

4.2.1 Kinerja Keuangan (Variabel Dependen – Y)

Kinerja keuangan pemerintah daerah adalah tingkat capaian dari satu hasil kerja di bidang keuangan daerah dengan menggunakan indikator keuangan yang ditetapkan melalui suatu kebijakan atau ketentuan perundang-undangan selama satu periode anggaran. Bentuk dari pengukuran kinerja tersebut berupa pengukuran dalam rasio keuangan. Pemerintah Daerah sebagai pihak yang diserahi tugas menjalankan roda pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan masyarakat wajib menyampaikan pertanggungjawaban keuangan daerahnya untuk dinilai apakah pemerintah daerah berhasil menjalankan tugasnya dengan baik atau tidak. Hal ini juga disampaikan dalam Permendagri No. 13 Tahun 2006. Adapun rasio yang digunakan dalam pengukuran kinerja keuangan Pemerintah Daerah adalah rasio pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan data jumlah capaian Produk Domestik

Regional Bruto (PDRB) berdasarkan harga berlaku (Abdul Halim, 2000).

4.2.2 Dana Alokasi Umum (Variabel Independen)

Dana alokasi umum adalah sejumlah dana yang harus dialokasikan pemerintah pusat kepada daerah otonom (Provinsi/Kabupaten/Kota) di Indonesia setiap tahunnya sebagai dana pembangunan. Dana alokasi umum menjadi salah satu komponen pendapatan pada APBD. Indikator yang digunakan adalah realisasi dana alokasi umum per kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara dalam APBD tahun anggaran 2013–2018, dengan skala pengukuran rasio.

4.2.3 Dana Alokasi Khusus (Variabel Independen)

Dana alokasi khusus adalah alokasi dari APBN kepada Provinsi/Kabupaten/kota tertentu dengan tujuan untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan pemerintahan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.

Indikator yang digunakan adalah realisasi dana alokasi khusus per kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara dalam APBD tahun anggaran 2013–2018, dengan skala pengukuran rasio.

4.2.4 Belanja Modal (Variabel Independen)

Variabel belanja modal ini diukur dengan menggunakan skala pengukuran rasio, yaitu dilihat dari total realisasi belanja modal tahun 2013-2018 dari masing-masing kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sumatera Utara.

Definisi operasional seluruh variabel dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.1. Skala Pengukuran Variabel Variabel

Penelitian

Definisi Indikator Skala

Kinerja Keuangan

Tingkat capaian dari satu hasil kerja di bidang keuangan daerah dengan menggunakan indikator keuangan

Dana dialokasikan pemerintah pusat kepada daerah otonom sebagai dana pembangunan. Dana alokasi umum menjadi salah satu komponen pendapatan pada APBD.

Dana alokasi dari APBN kepada daerah dengan tujuan untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan pemerintahan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.

Pengeluaran anggaran yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal yang sifatnya menambah aset tetap, termasuk untuk biaya pemeliharaan yang sifatnya mempertahankan/menambah masa manfaat, meningkatkan kapasitas dan kualitas asset.

4.3 Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2014). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi

Sumatera Utara untuk periode 2013-2018 yang berjumlah 33 Kabupaten/Kota.

Penelitian dilakukan pada 33 Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara untuk periode 2013-2018 dengan jumlah observasi sebanyak 198 unit analisis (33 x 6 tahun).

Metode pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan sampling jenuh/ sensus terhadap seluruh populasi agar kesimpulan yang diambil dapat lebih menggambarkan karakteristik elemen populasi yang sebenarnya dan dapat digunakan untuk bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan optimalisasi perencanaan anggaran di masa mendatang pada pemerintah daerah kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Sumatera Utara.

Tabel 4.2 Populasi dan Sampel

No Kabupaten / Kota

1 Nias

2 Mandailing Natal 3 Tapanuli Selatan 4 Tapanuli Tengah 5 Tapanuli Utara 6 Toba Samosir 7 Labuhan Batu 8 Asahan 9 Simalungun 10 Dairi 11 Karo

12 Deli Serdang 13 Langkat 14 Nias Selatan

15 Humbang Hasundutan 16 Pakpak Barat

17 Samosir

18 Serdang Bedegai 19 Batu Bara

20 Padang Lawas Utara 21 Padang Lawas

23 Labuhan Batu Utara 24 Nias Utara

25 Nias Barat 26 Kota Sibolga 27 Kota Tanjung Balai 28 Kota Pematang Siantar 29 Kota Tebing Tinggi 30 Kota Medan

31 Kota Binjai

32 Kota Padang Sidempuan 33 Kota Gunung Sitoli Sumber :www.bps.go.id

4.4 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi, dengan data yang digunakan adalah data sekunder, yaitu data yang dikumpulkan oleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh atau dicatat oleh pihak lain) yang kemudian digunakan oleh peneliti. Data sekunder penelitian ini adalah berupa data APBD dan laporan realisasi APBD Tahun Anggaran 2013-2018 pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara yang diperoleh dari data yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik melalui portal www.bps.go.id dan melalui portal Dirjen Perimbangan Keuangan Daerah (DJPK) di www.djpk.kemenkeu.go.id.

4.5 Teknik Analisa Data

Metode analisis data dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda yang merupakan pooled data dimana software yang digunakan adalah program Eviews 9. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui arah hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat apakah masing-masing variabel bebas

berhubungan positif atau negatif serta untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila variabel independen mengalami kenaikan atau penurunan.

4.5.1 Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi mengenai suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi (standar deviation), maksimum dan minimum. Statistik deskriptif digunakan untuk mendeskriptifkan variabel-variabel dalam penelitian ini, yaitu dana alokasi umum, dana alokasi khusus, belanja modal dan kinerja keuangan. Hal ini diperlukan untuk melihat gambaran dari keseluruhan sampel yang berhasil dikumpulkan dan memenuhi kriteria sehingga dapat dijadikan sampel.

4.5.2 Pemilihan Model Analisis Regresi Data Panel

Data panel adalah data yang dikumpulkan secara cross section dan pada periode waktu tertentu. Dalam mengestimasi parameter model dengan data panel, terdapat beberapa teknik, yaitu:

1. Common Effect Model atau Pooled Least Square

Teknik ini mengasumsikan bahwa data gabungan yang ada, menunjukkan kondisi yang sesungguhnya. Hasil analisis regresi dianggap berlaku pada semua objek pada semua waktu. Kelemahan asumsi ini adalah ketidaksesuaian model dengan keadaan yang sesungguhnya. Kondisi tiap objek saling berbeda, bahkan satu objek pasa suatu waktu akan sangat berbeda dengan kondisi objek tersebut pada waktu lain (Winarno, 2015).

2. Fixed Effect Model

Model ini dapat menunjukkan perbedaan konstanta antar objek, meskipun dengan koefisien regresor yang sama. Efek tetap di sini maksudnya adalah bahwa satu objek, memiliki konstanta yang tetap yang besarnya untuk berbagai periode waktu dan juga koefisien regresinya (Winarno, 2015).

3. Random Effect Model

Efek random digunakan untuk mengatasi kelemahan metode efek tetap yang menggunakan variabel semu, sehingga model mengalami ketidakpastian (Winarno, 2015).

Adapun langkah-langkah dalam melakukan pemilihan model data panel adalah sebagai berikut:

1. Uji Chow

Uji Chow adalah pengujian untuk memilih apakah model digunakan, common effect model atau fixed effect model (Widarjono, 2009). Dalam pengujian ini dilakukan dengan hipotesis sebagai berikut:

a. H0 = Common Effect Model b. H1 = Fixed Effect Model

Dengan kriteria pengambilan keputusan:

a. Terima H0 bila p-value > nilai signifikan (0,05).

b. Tolak H0 (terima H1) bila p-value < nilai signifikan (0,05).

2. Uji Hausman

Uji Hausman adalah pengujian statistik untuk memilih apakah fixed effect model atau random effect model lebih tepat digunakan dalam regresi data panel (Gujarati, 2012). Pengujian dilakukan dengan hipotesis berikut:

a. H0 = Random Effect Model b. H1 = Fixed Effect Model

Dengan kriteria pengambilan keputusan:

a. Terima H0 bila p-value > nilai signifikan (0,05).

b. Tolak H0 (terima H1) bila p-value < nilai signifikan (0,05).

3. Uji Lagrange Multiplier

Uji Lagrange Multiplier adalah pengujian statistik untuk memilih apakah common effect model atau random effect model lebih tepat digunakan dalam regresi data panel (Gujarati, 2012). Pengujian dilakukan dengan hipotesis berikut:

a. H0 = Common effect model b. H1 = Random effect model

Dengan kriteria pengambilan keputusan:

a. Terima H0 bila p-value > nilai signifikan (0,05).

b. Tolak H0 (terima H1) bila p-value < nilai signifikan (0,05).

4.5.3 Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik diperlukan sebelum melakukan pengujian regresi berganda. Uji asumsi klasik yang dilakukan dalam penelitian ini adalah uji multikolinearitas, uji autokorelasi, uji heterokedastisitas dan uji normalitas.

a. Uji Normalitas

Pengujian normalitas yang digunakan adalah uji kolmogorov-smirnov.

Kriteria yang dapat digunakan adalah dengan pengujian dua arah ( two-tailed test) yaitu membandingkan nilai p yang diperoleh dengan taraf signifikansi yang sudah ditentukan. Dalam penelitian ini, uji normalitas terhadap residual dengan menggunakan uji Jarque-Bera (J-B). Dalam penelitian ini, tingkat signifikansi yang digunakan α=0,05.

Dasar pengambilan keputusan adalah melihat angka probabilitas dari statistik J-B, dengan ketentuan sebagai berikut.

Jika nilai probabilitas p ≥ 0,05, maka asumsi normalitas terpenuhi.

Jika probabilitas < 0,05, maka asumsi normalitas tidak terpenuhi.

b. Uji Multikolinearitas

Suatu model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen, untuk mengetahui apakah ada gejala multikolineritas atas model regresi yakni dilakukan. Dalam penelitian ini, gejala multikolinearitas dapat dilihat dari nilai korelasi antar variabel yang terdapat dalam matriks korelasi.

Pengujian multikolinearitas tersebut dapat dilihat dari nilai Tolerance atau Variance Inflation Factor (VIF) (Nugroho, 2005). Nilai tolerance > 0,1 atau VIF < 10, maka dikatakan tidak ada multikolinearitas.

c. Uji Heteroskedastisitas

Pengujian ada tidaknya heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat

Pengujian ada tidaknya heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat

Dalam dokumen : YUANITA LAROSA HUSNI (Halaman 33-0)

Dokumen terkait