• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen : YUANITA LAROSA HUSNI (Halaman 24-0)

BAB I PENDAHULUAN

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberi manfaat kepada beberapa pihak yaitu :

1. Kontribusi Praktis

Penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan peneliti dalam mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan pada Provinsi Sumatera Utara. Bagi peneliti lain, penelitian ini diharapkan mampu menjadi bahan referensi yang bermanfaat untuk melakukan penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan pengaruh dana alokasi umum, dana alokasi khusus dan belanja modal pada Provinsi Sumatera Utara.

2. Kontribusi Teoritis

Bagi ilmu pengetahuan khususnya dibidang akuntansi pemerintahan, hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah referensi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja Keuangan pada Provinsi Sumatera Utara.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teoritis

2.1.1 Teori Pengelolaan (Stewardship Theory)

Teori Stewardship menggambarkan situasi di mana manajemen tidak termotivasi oleh tujuan individu melainkan ditujukan untuk tujuan hasil utama mereka untuk kepentingan organisasi (Donaldson dan Davis, 1991). Di sektor publik, pemerintah sebagai Steward dengan fungsi mengelola sumber daya dan masyarakat sebagai kepala sekolah sebagai pemilik sumber daya. Organisasi sektor publik memiliki tujuan untuk memberikan pelayanan kepada publik dan dapat diperhitungkan kepada publik (publik). Pemerintah akan melakukan upaya maksimal dalam menjalankan pemerintahan untuk mencapai tujuan pemerintah, yaitu kesejahteraan rakyat. Jika tujuan pemerintah tercapai, masyarakat sebagai pemilik akan puas dengan kinerja pemerintah. Implikasi dari teori pengawasan untuk kajian ini dapat menjelaskan keberadaan pemerintah daerah sebagai lembaga yang terpercaya untuk melaksanakan kinerja keuangan daerah sesuai dengan kepentingan masyarakat sehingga kesejahteraan masyarakat dapat secara maksimal dicapai.

Manajemen pemerintahan dituntut untuk memberikan pelayanan (bertindaksebagai steward/pelayan) bagi kepentingan principal. Dengan demikian manajemen di lingkungan pemerintahan lebih dominan bertindak sebagai steward dibandingkan sebagai agent. Hal tersebut didukung penelitian yang dilakukan oleh Morgan et al. (1996) dan Van Slyke (2006). Hasil penelitian Morgan et al.(1996)

menunjukkan bahwa manajer menengah di pemerintahan daerah lebih banyak bersikap sebagai steward daripada agent yang menyebabkan kinerja organisasi dapat ditingkatkan. Hasil penelitian Van Slyke (2006) juga menunjukkan bahwa manajemen pemerintahan lebih banyak bertindak sebagai steward karena dipengaruhi oleh jenis layanan yang diberikan, tingkat kapasitas manajemen publik, jenis insentif dan sanksi yang digunakan, serta frekuensi informasi yang diperlukan.

Berdasarkan uraian tersebut, maka sangat relevan jika teori stewardship diterapkan pada penelitian organisasi sektor publik, khususnya pemerintahan.

2.1.2 Teori Signalling

Menurut Richard D. Morris (1987), teori sinyal dikembangkan untuk mengatasi masalah asimetri informasi di perusahaan dengan meningkatkan sinyal informasi dari pihak yang memiliki informasi lebih lanjut kepada para pemangku kepentingan yang tidak memiliki informasi. Dalam sektor publik, teori sinyal adalah teori yang menjelaskan alasan mengapa pemerintah memiliki insentif untuk sinyal kepada publik. Pemerintah memberikan isyarat kepada masyarakat karena adanya asimetri informasi antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah memberikan sinyal kepada publik dalam bentuk kualitas dan informasi keuangan yang dapat diandalkan dan pengungkapan dengan penjelasan yang lebih rinci. Hal ini dilakukan agar masyarakat dapat memberikan dukungan kepada pemerintah untuk menjalankan pemerintahan dengan baik. Implikasi dari teori sinyal untuk penelitian ini, untuk menjelaskan pemerintah daerah sebagai pihak diberi mandat

untuk memberi sinyal kepada masyarakat melalui pelaksanaan kinerja keuangan daerah maksimum dan berorientasi pada kepentingan publik

2.2 Telaah Literatur 2.2.1 Kinerja Keuangan

Republik Indonesia saat ini sedang memasuki masa pemulihan akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan. Seluruh pihak termasuk pemerintah sendiri mencoba mengatasi hal ini dengan melakukan reformasi di segala bidang. Salah satu usaha memulihkan kondisi ekonomi, sosial dan politik adalah dengan mengembalikan kepercayaan rakyat kepada pemerintah dengan mencoba mewujudkan suatu pemerintahan yang bersih dan berwibawa atau yang dikenal dengan istilah good governance. Upaya ini juga didukung oleh banyak pihak baik pemerintah sendiri sebagai lembaga eksekutif, DPR sebagai lembaga legislatif, pers dan juga oleh lembaga- lembaga swadaya masyarakat. Unsur-unsur pokok upaya perwujudan good governance ini adalah transparency, fairness, responsibility dan accountability.

Hal ini muncul sebenarnya sebagai akibat dari perkembangan proses demokratisasi di berbagai bidang serta kemajuan profesionalisme. Dengan demikian pemerintah sebagai pelaku utama pelaksanaan good governance ini dituntut untuk memberikan pertanggungjawaban yang lebih transparan dan lebih akurat. Hal ini semakin penting untuk dilakukan dalam era reformasi ini melalui pemberdayaan peran lembaga-lembaga kontrol sebagai pengimbang kekuasaan pemerintah. Ada beberapa perbedaan pertanggungjawaban keuangan antara

pemerintah daerah dengan pemerintah pusat. Pertanggungjawaban keuangan pemerintah daerah adalah diantaranya:

1. Pertanggungjawaban pembiayaan pelaksanaan dekonsentrasi.

2. Pertanggungjawaban pembiayaan pelaksanaan pembantuan

3. Pertanggungjawaban anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).

Sementara di tingkat pemerintah pusat, pertanggungjawaban keuangan tetap dalam bentuk pertanggungjawaban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Saat ini di Indonesia sedang dilakukan persiapan penyusunan suatu standar akuntansi pemerintahan yang lebih baik serta pembicaraan yang intensif mengenai peran akuntan publik dalam memeriksa keuangan negara maupun keuangan daerah. Namun tampak bahwa akuntabilitas pemerintahan di Indonesia masih berfokus pada sisi pengelolaan keuangan negara atau daerah.

Memasuki era reformasi, masyarakat di sebagian besar wilayah Indonesia, baik di propinsi, kota maupun kabupaten mulai membahas laporan pertanggungjawaban kepala daerah masing-masing dengan lebih seksama.

Beberapa kali terjadi pernyataan ketidakpuasan atas kepemimpinan kepala daerah dalam melakukan manajemen pelayanan publik maupun penggunaan anggaran belanja daerah. Melihat pengalaman di negara-negara maju, ternyata dalam pelaksanaannya, keingintahuan masyarakat tentang akuntabilitas pemerintahan tidak dapat dipenuhi hanya oleh informasi keuangan saja. Masyarakat ingin tahu lebih jauh apakah pemerintah yang dipilihnya telah beroperasi dengan ekonomis, efisien dan efektif.

Pemerintah dalam menyikapi kemajuan pola pikir masyarakat saat ini

harus dapat membuat suatu pelaporan pengukuran kinerja (performance measurement) berkaitan erat dengan suatu proses yang dinamakan managing for results (pengelolaan pencapaian). Proses ini timbul terhadap tuntutan yang meningkat bahwa manajemen pemerintahan perlu memakai pendekatan yang sama dengan manajemen di sektor swasta maupun organisasi-organisasi nir laba lainnya. Proses ini merupakan pendekatan komprehensif untuk memfokuskan suatu organisasi terhadap misi (mission), sasaran (goals ) dan tujuan (objectives).

Pengertian kinerja keuangan pemerintah daerah adalah tingkat capaian dari satu hasil kerja di bidang keuangan daerah dengan menggunakan indikator keuangan yang ditetapkan melalui suatu kebijakan atau ketentuan perundang-undangan selama satu periode anggaran. Bentuk dari pengukuran kinerja tersebut berupa pengukuran dalam rasio keuangan. Pemerintah Daerah sebagai pihak yang diserahi tugas menjalankan roda pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan masyarakat wajib menyampaikan pertanggungjawaban keuangan daerahnya untuk dinilai apakah pemerintah daerah berhasil menjalankan tugasnya dengan baik atau tidak. Hal ini juga disampaikan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006.

Pengukuran kinerja keuangan yang paling sesuai untuk digunakan dalam penelitian ini adalah rasio pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi diukur dari jumlah barang dan jasa yang dihasilkan yang dinyatakan dalam Product Domestic Regional Bruto (PDRB). PDRB yang digunakan adalah PDRB harga Berlaku dinyatakan dalam Rupiah.

2.2.2 Dana Alokasi Umum (DAU)

Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2016 Pasal 1, Dana Alokasi Umum yang selanjutnya disingkat DAU adalah dana yang dialokasikan dalam APBN kepada daerah dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dana alokasi umum merupakan salah satu transfer dana pemerintah pusat kepada pemerintah daerah yang bersumber dari pendapatan APBN, yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. DAU bersifat block grant yang berarti penggunaannya diserahkan kepada daerah sesuai dengan prioritas dan kebutuhan daerah untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. Dana alokasi umum dialokasikan untuk daerah propinsi dan kabupaten/kota dengan besaran DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 26% dari Pendapatan Dalam Negeri (PDN) netto yang ditetapkan dalam APBN sedangkan untuk proporsi yang dialoka sikan untuk propinsi dan kabupaten/kota ditetapkan sesuai dengan imbangan kewenangan antara propinsi dan kabupaten/ kota (Asyaidah, 2015).

Penelitian Asyaidah (2015) tentang pengaruh pendapatan asli daerah, dana perimbangan, dan SiLPA terhadap alokasi belanja modal kabupaten/kota di Indonesia. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pendapatan asli daerah, dana perimbangan, dan SiLPA berpengaruh terhadap alokasi belanja modal.

Penelitian Fitri (2014) telah meneliti pengaruh rasio keuangan daerah PAD, DAU terhadap alokasi belanja modal pada kabupaten/kota di Provinsi Riau tahan

2009-2012. Variabel independen dalam penelitian ini adalah rasio keuangan daerah yaitu rasio kemandirian keuangan daerah, rasio efektivitas keuangan daerah, rasio efisiensi keuangan daerah, PAD serta DAU. Sedangkan variabel dependen adalah alokasi belanja modal. Hasil penelitian menunjukkan hanya PAD yang memiliki pengaruh signifikan terhadap alokasi belanja modal sedangkan 4 variabel lain yaitu rasio kemandirian keuangan daerah, rasio efektvitas, keuangan daerah, rasio efisiensi keuangan daerah, dan DAU tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap alokasi belanja modal.

2.2.3 Dana Alokasi Khusus (DAK)

Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2016 Pasal 1 Dana Alokasi Khusus yang selanjutnya disingkat DAK adalah dana yang dialokasikan dalam APBN kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.

PP Nomor 55 tahun 2005 menjelaskan bahwa daerah yang akan menerima DAK harus memenuhi kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis. Kriteria umum dirumuskan berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang dicerminkan dari penerimaan umum APBD setelah dikurangi belanja PNS Daerah. Kriteria khusus dirumuskan berdasarkan peraturan yang mengatur penyelenggaraan otonomi khusus dan karakteristik daerah. Sedangkan kriteria teknis disusun oleh menteri teknis terkait dalam bentuk indikator-indikator kegiatan khusus yang akan didanai dari DAK. Dalam hal kegiatan yang didanai dengan DAK adalah kegiatan

yang bersifat kegiatan fisik, maka daerah penerima DAK wajib menganggarkan dana pendamping sekurang-kurangnya 10% dari alokasi DAK yang diterima.

Penelitian Padang (2016) tentang analisis pengaruh kinerja keuangan daerah terhadap alokasi belanja modal dengan dana alokasi khusus sebagai variabel moderating pada kabupaten/kota di provinsi Sumatera Utara. Hasil penelitian menyimpulkan Rasio kemandirian keuangan daerah dan rasio efisiensi keuangan daerah berpengaruh negatif signifikan terhadap alokasi belanja modal tahun berikutnya; rasio efektivitas PAD berpengaruh positif tidak signifikan terhadap alokasi belanja modal tahun berikutnya; Rasio tingkat pembiayaan SiLPA berpengaruh positif signifikan terhadap alokasi belanja modal tahun berikutnya.

DAK tidak mampu memoderasi kemandirian keuangan daerah, rasio efektifitas PAD, rasio efisiensi keuangan daerah, rasio tingkat pembiayaan dengan alokasi belanja modal.

Penelitian Yasser (2015) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi alokasi belanja modal dengan pertumbuhan ekonomi sebagai variabel moderasi. Variabel independen dalam penelitian ini adalah pendapatan asli daerah, dana alokasi umum, dana alokasi khusus, dan SiLPA. Variabel dependen adalah alokasi belanja modal.

Hasil penelitian menyimpulkan pendapatan asli daerah dan dana alokasi khusus berpengaruh terhadap belanja modal, dana alokasi umum dan SiLPA tidak berpengaruh terhadap belanja modal. Pertumbuhan ekonomi tidak mampu memoderasi pendapatan asli daerah, dana alokasi umum, dana alokasi khusus dengan belanja modal.

2.2.4 Belanja Modal

Transfer ke daerah adalah dana yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang dialokasikan kepada daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Transfer ke daerah ditetapkan dalam APBN, Peraturan Presiden dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang selanjutnya dituangkan dalam Daftar Isian Pelakasanaan Anggaran (DIPA) yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan selaku Kuasa Pengguna Anggaran atas nama Menteri Keuangan Selaku Pengguna Anggaran untuk tiap jenis Transfer ke Daerah dengan dilampiri rincian alokasi per daerah. Transfer ke daerah terdiri dari:

dana perimbangan, dana otonomi khusus dan dana penyesuaian.

Dana otonomi khusus adalah dana yang dialokasikan untuk membiayai pelaksanaan otonomi khusus suatu daerah sebagaimana ditetapkan UU Nomor 18 tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Pemberian dana otonomi khusus tersebut dimaksudkan agar daerah tersebut dapat mensejahterahkan daerahnya yang dilakukan secara mandiri tanpa campur tangan pemerintah pusat. Pembagian dana otonomi khusus ini diatur dalam bentuk SK Gubernur Provinsi Aceh. Anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) melibatkan dua aktor utama yaitu eksekutif dan legislatif. Eksekutif sebagai pelaksana operasionalisasi daerah berkewajiban membuat draft/rancangan APBD, yang hanya bisa diimplementasikan kalau sudah disahkan oleh DPRD dalam proses ratifikasi anggaran.

Penelitian (Kurniawan, 2009) tentang Pengaruh pendapatan asli daerah, dana alokasi umum, dana alokasi khusus terhadap kinerja keuangan dengan belanja

modal sebagai variable intervening di kabupaten dan kota provinsi riau. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dalam hubungan langsung, secara parsial variabel PAD dan DAU berpengaruh tehadap kinerja keuangan, tetapi variabel DAK tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Namun secara simultan variabel PAD, DAU dan DAK berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Dan dalam hubungan tidak langsung secara parsial variabel PAD dan DAU berpengaruh terhadap kinerja keuangan melalui belanja modal, sedangkan variabel DAK tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan melalui belanja modal. Namun secara simultan variabel PAD, DAU, dan DAK berpengaruh terhadap kinerja keuangan melalui belanja modal.

Penelitian (Sihite, 2008) tentang pengaruh pendapatan asli daerah, dana alokasi umum dan fiscall stress terhadap kinerja keuangan di kabupaten dan kota propinsi sumatera utara. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan Fiscal Stress berpengaruh positif terhadap Kinerja Keuangan.

Sedangakan variabel Dana Alokasi Umum (DAU) negatif terhadap Kinerja Keuangan.

Penelitian (Abdullah & Febriansyah, Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Alokasi Khusus Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota se-Sumatera Bagian Selatan , 2015) tentang Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Alokasi Khusus Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota se-Sumatera Bagian Selatan. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Alokasi Khusus. Variabel dependen adalah kinerja

keuangan. Hasil yang ditemukan dari studi ini adalah pendapatan daerah efek pada kinerja keuangan. Sementara dana alokasi Umum dan dana alokasi khusus tidak berpengaruh pada kinerja keuangan..

BAB III

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Penelitian

Kerangka konseptual merupakan suatu kesatuan kerangka pemikiran yang utuh dalam rangka mencari jawaban – jawaban ilmiah terhadap masalah – masalah penelitian yang menjelaskan tentang variabel – variabel, hubungan antara variabel – variabel secara teoritis yang berhubungan dengan hasil penelitian terdahulu yang kebenarannya dapat diuji secara empiris (Sekaran, 2006) . Untuk memperoleh jawaban – jawaban ilmiah mengenai pengaruh dana alokasi umum, dana alokasi khusus dan belanja modal terhadap kinerja keuangan.

Kerangka penelitian dapat dilihat pada skema di bawah ini :

Gambar 3.1. Kerangka Penelitian

Berdasarkan penjelasan literatur dan hasil penelitian sebelumnya peneliti membentuk kerangka konseptual yang menggambarkan hubungan antara variabel dependen dan independen. Variabel independen dalam penelitian ini yaitu DAU, DAK dan Belanja Modal yang diduga akan berpengaruh secara simultan dan parsial

Dana Alokasi Umum (X1)

Kinerja Keuangan Dana Alokasi Khusus (Y)

(X2)

Belanja Modal (X3)

terhadap variabel dependen yakni Kinerja Keuangan. Tanda panah menunjukkan bahwa masing-masing variabel independen diduga berpengaruh baik secara parsial maupun simultan terhadap variabel dependen.

3.1.1 Pengaruh Dana Alokasi Umum terhadap Kinerja Keuangan

DAU merupakan salah satu transfer dana pemerintah pusat kepada pemerintah daerah yang bersumber dari APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Menurut Undang-Undang Nomor 33/2004, Dana Alokasi umum adalah dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah otonom dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dana Aokasi Umum merupakan salah satu dana yang berasal dari dana perimbangan dan dana perimbangan merupakan salah satu komponen pendapatan pada APBD. Dibeberapa daerah peran DAU sangat signifikan karena karena kebijakan belanja daerah lebih di dominasi oleh jumlah DAU dari pada PAD (Sidik, 2002).

Terdapat keterikatan yang sangat erat antara transfer dari Pemerintah Pusat dengan kinerja Keuangan Pemerintah Daerah yaitu kecenderungan dimana daerah lebih mengandalkan penerimaan DAU daripada PAD untuk kepentingan pembiayaan daerah menunjukkan bahwa tingkat kinerja Keuangan Pemerintah tersebut dipengaruhi oleh DAU. Semakin tinggi DAU tingkat ketergantungan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat maka semakin tinggi efesiensi keuangan pemerintah daerah. Karena semakin tinggi DAU yang diperoleh

pemerintah daerah, maka pemerintah daerah semakin hati-hati dalam pelaksanaan tugas pelayanan kepada masyarakat karena diawasi oleh pemerintah pusat.

Julitawati (2012) menguji pengaruh DAU sebagai bagian dari Dana Perimbangan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa DAU berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di provinsi tersebut. Rukmana (2013) juga menguji pengaruh DAU sebagai bagian dari Dana Perimbangan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. Hasil penelitiannya membuktikan bahwa DAU berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan Pemerintah Daerah.

3.1.2 Pengaruh Dana Alokasi Khusus terhadap Kinerja Keuangan

Dana Alokasi Khusus (DAK) juga merupakan dana yang berasal dari dana perimbangan selain dana alokasi umum dan dana bagi hasil. Tujuan DAK untuk mengurangi beban biaya kegiatan khusus yang harus ditanggung oleh pemerintah daerah. Pemanfaatan DAK diarahkan kepada kegiatan investasi pembangunan, pengadaan, peningkatan, perbaikan sarana dan prasarana fisik pelayanan publik dengan umur ekonomis panjang.

DAK digunakan untuk menutup kesenjangan pelayanan publik antar daerah dengan memberi prioritas pada bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, kelautan dan perikanan, pertanian, prasarana pemerintahan daerah, dan lingkungan hidup. Apabila dikelola dengan baik, DAK yang secara khusus digunakan untuk pembangunan dan rehabilitasi sarana dan prasarana fisik ini dapat membantu

menanggulangi kemiskinan dan secara umum dapat digunakan untuk membangun perekonomian nasional.

Menurut Undang-undang Nomor 33/2004, Dana Alokasi Khusus adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Julitawati (2012) menguji pengaruh DAK sebagai bagian dari Dana Perimbangan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Hasil penelitiannya membuktikan bahwa DAK berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di provinsi tersebut. Rukmana (2013) juga menguji pengaruh DAK sebagai bagian dari Dana Perimbangan terhadap kinerja keuangan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. Secara empiris, hasil penelitiannya membuktikan bahwa DAK berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.

Perolehan dan pemanfaatan DAK oleh daerah harus mengikuti rambu-rambu yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. DAK dialokasikan dalam APBN untuk daerah-daerah tertentu dalam rangka mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan termasuk dalam program prioritas nasional. DAK diberikan dengan tujuan untuk membiayai kegiatan-kegiatan khusus pada daerah tertentu yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional, khususnya untuk membiayai kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat yang belum mencapai standar tertentu atau untuk mendorong percepatan pembangunan daerah, maka semakin tinggi DAK maka akan semakin

tinggi Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah. Bertambahnya kucuran DAK ke daerah setiap tahun semestinya disertai rancangan lebih terarah dan pemanfaatannya benar-benar untuk kepentingan rakyat dan bukan rancangan yang memberi peluang terjadinya kebocoran anggaran. Jika kebocoran itu terjadi menunjukkan tingkat Kinerja Keuangan Pemerintah daerah rendah.

3.1.3 Pengaruh Belanja Modal terhadap Kinerja Keuangan

Belanja modal merupakan belanja pemerintah daerah yang manfaatnya melebihi satu tahun anggaran dan akan menambah aset atau kekayaan daerah dan selanjutnya akan menambah belanja yang bersifat rutin seperti biaya pemeliharaan pada kelompok belanja administrasi umum (Halim, 2004:73). Menurut KSAP (Komite Standar Akuntansi Pemerintahan) dalam PSAP (Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan) Nomor 02, belanja modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Belanja modal meliputi antara lain belanja modal untuk perolehan tanah, gedung dan bangunan, peralatan, aset tak berwujud. Aset tetap yang dimiliki pemerintah daerah sebagai akibat adanya belanja modal merupakan syarat utama dalam memberikan pelayanan publik. Untuk menambah aset tetap, pemerintah daerah mengalokasikan dana dalam bentuk anggaran belanja modal dalam APBD. Setiap tahun diadakan pengadaan aset tetap oleh pemerintah daerah sesuai dengan prioritas anggaran dan pelayanan publik yang memberikan dampak jangka panjang secara finansial (Ardhani, 2011). Belanja modal berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan kinerja keuangan daerah secara langsung, sedangkan

secara tidak langsung belanja modal berpengaruh positif terhadap pertumbuhan kinerja keuangan melalui pendapatan asli daerah sebagai variabel intervening (Nugroho, 2012). Upaya dalam menggenjot belanja modal merupakan perkara yang sangat penting bagi pemerintah daerah karena dapat meningkatkan produktivitas perekonomian sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pemerintah pusat dan semakin besar alokasi belanja modal pada tahun selanjutnya. Hal ini akan memberi dampak yang baik terhadap pertumbuhan kinerja keuangan dari tahun ketahun secara terus-menerus

3.1. Hipotesis

Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap masalah yang akan diuji kebenarannya, melalui analisis data yang relevan. Kebenaran

Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap masalah yang akan diuji kebenarannya, melalui analisis data yang relevan. Kebenaran

Dalam dokumen : YUANITA LAROSA HUSNI (Halaman 24-0)

Dokumen terkait