a. Pengertian Belanja Pemerintah atau Pengeluaran Pemerintah
Pembelian pemerintah atau belanja pemerintah adalah komponen ketiga dari permintaan terhadap barang dan jasa setelah konsumsi dan investasi. Pemerintah pusat membeli senjata, peluru kendali, dan jasa pegawai pemerintah. Pemerintah lokal membeli buku-buku untuk perpustakaan, membangun gedung-gedung dan memperkerjakan guru-guru, pemerintah di semua tingkat membuat jalan dan pekerjaan publik
lainnya, seluruh transaksi ini membentuk pembelian barang dan jasa pemerintah.53
Pemerintah membeli barang untuk keperluan masyarakat, pengeluaran untuk menyediakan fasilitas pendidikan dan kesehatan, pengeluaran untuk menyediakan polisi dan tentara, pembayaran gaji untuk pegawai pemerintah dan pembelanjaan untuk mengembangkan infrastruktur dilakukan untuk kepentingan masyarakat. Pembelian pemerintah untuk barang dan jasa dapat digolongkan kepada dua golongan utama, yaitu konsumsi pemerintah dan investasi pemerintah.
Yang termasuk dalam golongan konsumsi pemerintah adalah pembelian barang dan jasa yang akan dikonsumsikan, seperti membayar gaji guru sekolah, membeli alat-alat tulis dan kertas untuk digunakan dan membeli bensin untuk kendaraan pemerintah. Sedangkan investasi pemerintah meliputi pengeluaran untuk membangun prasarana seperti jalan, sekolah, rumah sakit dan irigasi. Memberikan beasiswa, bantuan untuk korban banjir, dan subsidi-subsidi pemerintah tidak digolongkan sebagai pengeluaran pemerintah kepada produk nasional karena itu bukanlah untuk membeli barang dan jasa.54
Pajak yang diterima pemerintah akan digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan pemerintah. Di negara-negara yang sudah sangat maju pajak adalah sumber utama dari pembelanjaan pemerintah. Sebagian dari pengeluaran pemerintah adalah untuk membiayai administrasi pemerintahan dan sebagian lainnya adalah untuk membiayai kegiatan-kegiatan pemerintah. Membayar gaji pegawai-pegawai pemerintah, membiayai sistem pendidikan dan kesehatan rakyat, membiayai pembelanjaan untuk angkatan bersenjata, dan membiayai berbagai jenis infrastruktur yang penting artinya dalam pembangunan adalah beberapa bidang penting yang akan dibiayai pemerintah.
53 N.Gregory Mankiw, Makroekonomi Edisi Keenam, Judul Asli Macroeconomics 6th Edition, Panerjemah : Fitria Liza dan Imam Nurmawan. (Jakarta : Erlangga, 2006), hlm.61.
54 Sadono Sukirno, Makro Ekonomi Teori Pengantar Edisi Ketiga, ... , hlm.38.
pembelanjaan tersebut akan meningkatkan pengeluaran agregat dan mempertinggi tingkat kegiatan ekonomi negara.55
b. Jenis-Jenis Pengeluaran Pemerintah56
Pengeluaran pemerintah dapat diklasifikasikan melalui berbagai jenis, yaitu :
Menurut Mangkoesoebroto, pengeluaran pemerintah terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. Pengeluaran rutin digunakan untuk pemeliharaan dan penyelenggaraan pemerintah, seperti belanja pegawai, belanja barang, pembayaran bunga utang, subsidi, dan pengeluaran rutin lainnya. Melalui pengeluaran rutin, pemerintah dapat menjalankan misinya, dalam rangka menjaga kelancaran penyelenggaraan pemerintah, kegiatan operasional dan pemeliharaan aset negara. Sedangkan pengeluaran pembangunan digunakan untuk membiayai pembangunan di bidang ekonomi, sosial, dan umum dan yang bersifat menambah modal masyarakat dalam bentuk pembangunan baik prasarana fisik maupun non fisik yang dilaksanakan dalam periode tertentu.
Pengeluaran pemerintah menurut Boediono ada tiga pos utama pada sisi pengeluaran, yaitu pertama, pengeluaran pemerintah untuk pembelian barang dan jasa, kedua, pengeluaran pemerintah untuk gaji pegawainya, dan ketiga, pengeluaran pemerintah untuk pembayaran transfer.
Pengeluaran pemerintah menurut Supramoko dapat dinilai dari berbagai segi, sehingga dapat dibedakan menjadi: pertama, pengeluaran merupakan investasi yang menambah kekuatan dan ketahanan ekonomi di masa-masa yang akan datang. Kedua, pengeluaran memberikan kesejahteraan dan kegembiraan bagi masyarakat. Ketiga, merupakan penghematan pengeluaran yang akan datang. Keempat, menyediakan kesempatan kerja lebih banyak dan penyebaran tenaga beli yang lebih luas.
55 Sadono Sukirno, Makro Ekonomi Teori Pengantar Edisi Ketiga, ... , hlm.168.
56 Basuki Pujoalwanto, Perekonomian Indonesia, ..., hlm.177-179.
Pengeluaran pemerintah menurut Dumairy dapat dibedakan menurut dua klasifikasi, yaitu pertama, pengeluaran rutin yaitu pengeluaran untuk pemeliharaan atau penyelenggaraan roda pemerintahan sehari-hari, meliputi belanja pegawai, belanja barang, berbagai macam subsidi (subsidi daerah dan subsidi harga barang), angsuran dan bunga utang pemerintah, serta jumlah pengeluaran lain.
Kedua, pengeluaran pembangunan yaitu pengeluaran yang bersifat menambah modal masyarakat dalam bentuk pembangunan baik prasarana fisik dan non fisik. Dibedakan atas pengeluaran pembangunan yang dibiayai dengan dana rupiah dan bantuan proyek. Pengeluaran pembangunan merupakan pengeluaran yang ditujukan untuk membiayai program-program pembangunan sehingga anggarannya selalu disesuaikan dengan dana yang berhasil dimobilisasi.
c. Penentu-Penentu Pengeluaran Pemerintah
Jumlah pengeluaran pemerintah yang akan dilakukan dalam suatu periode tertentu tergantung kepada banyak faktor. Yang penting di antaranya adalah : jumlah pajak yang akan diterima, tujuan-tujuan kegiatan ekonomi jangka pendek dan pembangunan ekonomi jangka panjang, dan pertimbangan politik dan keamanan.
1) Proyeksi jumlah pajak yang diterima
Salah satu faktor penting yang menentukan besarnya pengeluaran pemerintah adalah jumlah pajak yang diramalkan. Dalam menyusun anggaran belanjanya pemerintah harus terlebih dahulu membuat proyeksi mengenai jumlah pajak yang akan diterima. Makin banyak jumlah pajak yang dapat dikumpulkan, makin banyak pula perbelanjaan pemerintah yang akan dilakukan.
2) Tujuan-tujuan ekonomi yang ingin dicapai
Faktor yang lebih penting dalam menentukan pengeluaran pemerintah adalah tujuan-tujuan ekonomi yang akan dicapai pemerintah. Beberapa tujuan penting dari kegiatan pemerintah adalah mengatasi masalah pengangguran, menghindari inflasi dan mempercepat pembangunan ekonomi dalam jangka panjang. Untuk
memenuhi tujuan-tujuan tersebut sering sekali pemerintah membelanjakan uang yang jauh lebih besar dari pendapatan yang diperoleh dari pajak. Untuk mengatasi pengangguran dan pertumbuhan ekonomi yang lambat, misalnya pemerintah perlu membiayai pembangunan infrastruktur irigasi, jalan, pelabuhan, dan pengembangan pendidikan. Usaha seperti itu memerlukan banyak uang dan pendapatan dari pajak saja tidak cukup untuk membiayainya.
Maka, untuk memperoleh dana yang diperlukan pemerintah terpaksa meminjam atau mencetak uang.
3) Pertimbangan politik dan keamanan
Pertimbangan-pertimbangan politik dan kestabilan negara selalu menjadi salah satu tujuan penting dalam menyusun anggaran belanja pemerintah. Kekacauan politik, perselisihan diantara berbagai golongan masyarakat dan daerah sering berlaku di berbagai negara di dunia. Keadaan seperti itu akan menyebabkan kenaikan pembelanjaan pemerintah yang sangat besar, terutama apabila operasi militer perlu dilakukan. Ancaman kestabilan dari negara luar juga dapat menimbulkan kenaikan yang besar dalam pengeluaran ketentaraan dan akan memaksa pemerintah membelanjakan uang yang jauh lebih besar dari pendapatan pajak.57
d. Fungsi Pengeluaran Pemerintah
Dari uraian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengeluaran pemerintah, dapat disimpulkan bahwa pendapatan nasional tidak memegang peranan yang penting dalam menentukan pembelanjaan pemerintah. Dengan kata lain, pengeluaran pemerintah pada suatu periode tertentu dan perubahannya dari suatu periode ke periode lainnya tidak didasarkan kepada tingkat pendapatan nasional dan pertumbuhan pendapatan nasional. Pada masa kemunduran ekonomi, misalnya pendapatan pajak berkurang. Tetapi untuk mengatasi pengangguran itu pemerintah perlu menentukan lebih banyak program-program pembangunan, maka pengeluaran pemerintah perlu ditambah.
57 Sadono Sukirno, Makro Ekonomi Teori Pengantar Edisi Ketiga, ... , hlm.168-169.
Sebaliknya, pada waktu inflasi dan tingkat kemakmuran tinggi pemerintah harus lebih berhati-hati dalam pembelanjaannya. Harus dijaga agar pengeluaran pemerintah tidak memperburuk keadaan inflasi yang berlaku.58
e. Pengertian dan Fungsi APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara)
Anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) adalah gambaran terhadap kegiatan yang dilakukan pemerintah dalam memperoleh pendapatan dan pengeluaran untuk penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan. Sama halnya dengan perusahaan yang selalu menyusun anggaran pengeluaran dan pendapatan/pemasukan setiap tahun agar perusahaan bisa berkinerja dengan baik sesuai rencana tahunan, demikian juga pemerintah dalam APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) yang dibuat setiap tahun agar perekonomian nasional bisa terus bergerak dengan laju pertumbuhan bukan hanya berkelanjutan tetapi juga dengan laju akselerasi yang meningkat di satu sisi, dan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di sisi lain. Penyusunan RAPBN atau penetapan besarnya pengeluaran dan pendapatan untuk tahun depan, misalnya tahun 2011, didasarkan pada asumsi-asumsi mengenai nilai-nilai dari sejumlah variabel ekonomi makro pada tahun 2011, seperti tingkat inflasi, nilai tukar rupiah terutama terhadap dolar AS, pertumbuhan ekonomi dunia, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ingin dicapai dan harga minyak di pasar internasional. Perubahan maupun pemakaian APBN dalam upaya mencapai pertumbuhan ekonomi, pencapaian lebih banyak kesempatan kerja, stabilitas harga, dan stabilitas dalam posisi eksternal (yang tercerminkan dalam besar kecilnya defisit neraca pembayaran) dicerminkan oleh sifat dari kebijakan fiskal. Jika pemerintah menambah defisit APBN yakni menambah pengeluaran ataupun mengurangi pendapatan lewat misalnya mengurangi tarif pajak, maka dikatakan pemerintah melakukan kebijakan fiskal ekspansif karena paling tidak secara teori atau harapan pemerintah
58 Sadono Sukirno, Makro Ekonomi Teori Pengantar Edisi Ketiga, ... , hlm.169.
bahwa laju pertumbuhan ekonomi akan meningkat. Sebaliknya, disebut kebijakan fiskal kontraktif jika pemerintah mengurangi defisit APBN, yakni mengurangi pengeluaran atau menaikkan tarif pajak, karena laju pertumbuhan ekonomi akan merosot.59
f. Komponen-Komponen APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara)
APBN mempunyai dua komponen besar, yakni anggaran pengeluaran pemerintah pusat dan anggaran pendapatan negara.
Selanjutnya, kedua komponen tersebut, masing-masing mempunyai banyak sub komponen. Anggaran pendapatan negara terdiri dari berbagai macam pajak, retribusi, royalti, bagian laba BUMN, dan berbagai pendapatan non-pajak lainnya. Namun demikian, yang paling dominan dan sekaligus paling krusial sebagai instrumen fiskal dari sisi penerimaan adalah pajak. Sedangkan anggaran pengeluaran pemerintah pusat terdiri dari dua sub komponen besar, yakni pengeluaran pemerintah pusat dan pengeluaran pemerintah daerah, yaitu transfer ke pemerintah daerah.
Yang terakhir ini mulai berlaku sejak penerapan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, yang dapat dibagi menjadi dua komponen, yakni dana perimbangan dan dana penyesuaian dan otonomi khusus.
Sedangkan anggaran pengeluaran pemerintah pusat meliputi gaji pegawai negeri, pengeluaran material, investasi, pembayaran bunga pinjaman, subsidi, dan lainnya.60
Jumlah anggaran negara terus bertambah setiap tahunnya, pada era Orde lama, periode saat perekonomian Indonesia sangat buruk, jumlah anggaran sangat minim, karena pemasukan pemerintah sangat kecil dan hal ini disebabkan karena kegiatan ekonomi nasional yang nyaris tidak bergerak (sektor swasta nyaris tidak ada) jika dibandingkan dengan sekarang. Tabel dibawah ini menunjukkan APBN pemerintah Indonesia untuk periode 1964-1965, saat keterpurukan ekonomi nasional mencapai titik klimaksnya. Dapat dilihat bahwa akibat pendapatan pemerintah jauh
59 Tulus T.H. Tambunan, Perekonomian Indonesia, (Bogor : Penerbit Ghalia Indonesia, 2012), hlm.228-229.
60 Tulus T.H. Tambunan, Perekonomian Indonesia, ... , hlm.229.
lebih kecil dibandingkan pengeluarannya, defisit APBN pada periode ini melebihi 100% dari jumlah pendapatan.61
Tabel 2.3
APBN 1964-1965 (Rp Juta)
g. Defisit Anggaran
Setiap perubahan terhadap pendapatan maupun penerimaan negara memberikan dampak terhadap anggaran pemerintah (goverment budget).
Selayaknyalah anggaran pemerintah ini sesuai dengan kemampuan negara (goverment budget constraint), seperti tampak pada rumus di bawah ini :
G ≤ T (2.14)
Keterangan : G = Belanja negara T = Pendapatan pajak
Bila pengeluaran negara lebih besar daripada penerimaan, maka akan terjadi surplus anggaran. Sebaliknya bila pendapatan negara lebih kecil daripada pengeluaran negara, maka akan terjadi defisit anggaran.
Defisit anggaran memang tidak disukai, tetapi boleh dilakukan asalkan tidak secara terus menerus (hanya dilakukan sementara). Dengan tidak adanya defisit anggaran berarti tidak ada uang baru yang dicetak, ini berarti tidak akan terjadi inflasi yang disebabkan oleh monetary expansion. Untuk negara yang pasar obligasinya tidak berkembang dengan baik, alternatif lain adalah mencetak uang. Seperti yang diungkapkan oleh Irving Fisher MV = PT, maka diberlakukannya monetary expansion (M↑) dengan cara mencetak uang, akan menyebabkan inflasi yang akhirnya terjadi peningkatan bunga. Tingkat
61 Tulus T.H. Tambunan, Perekonomian Indonesia, ... , hlm.229.
bunga yang tinggi berarti semakin tinggi pula bunga utang yang harus dibayar.62
Untuk memenuhi kebutuhan negara dalam keadaan defisit anggaran, cara yang paling umum dilakukan adalah meninggikan penerimaan negara melalui pajak atau meminjam dana (utang) dari masyarakat atau pihak lain melalui obligasi. Apabila membutuhkan pinjaman dari pihak lain, harus dipastikan kemampuan untuk mengembalikan pinjaman tersebut. Utang ini harus dibayar di masa mendatang sehingga dalam anggaran pemerintah harus dimasukkan komponen pembayaran utang negara.
T – G ≥ D (2.15)
Ket :
G = Belanja negara T = Pendapatan pajak D = Utang
Besarnya utang yang harus dibayar adalah utang tahun berjalan termasuk juga bunga dari utang tersebut, sehingga rumusnya adalah :
T – G ≥ (1 + i) D (2.16) Ket :
G = Belanja negara T = Pendapatan pajak i = Bunga
D = Outstanding Utang
Dari rumus di atas, jelas sekali bahwa besarnya utang yang harus dibayar menjadi semakin besar karena adanya kewajiban membayar bunga atas utang tersebut.63 Indonesia mengalami defisit anggaran hampir disetiap tahunnya. Berdasarkan data dari tahun 1984-2004, tercatat hanya 5 tahun saja Indonesia bebas dari keadaan defisit. Kondisi defisit anggaran ini meningkat tajam sejak terjadinya resesi di tahun 1997.
62 Adiwarman A. Karim, Ekonomi Makro Islami Edisi Kedua, ..., hlm.242.
63 Adiwarman A. Karim, Ekonomi Makro Islami Edisi Kedua, ... , hlm.243.
h. Anggaran Pendapatan dan Pengeluaran Pemerintahan Islam 1) Anggaran Pendapatan Pemerintahan Islam
Sumber-sumber pendapatan negara pada zaman Rasulullah Saw tidak terbatas pada zakat yang baru diperkenalkan pada tahun ke-8 Hijriah. Akan tetapi, sumber penerimaan APBN terdiri dari kharaj, zakat, khums, jizyah, dan kaffarah. Berikut ini akan dijelaskan sumber-sumber penerimaan tersebut:64
a) Zakat dan Ushr
Zakat dan Ushr merupakan sumber pendapatan pokok, terutama setelah tahun ke-9 H dimana zakat mulai diwajibkan.
Berbeda dengan sumber pendapatan lain yang pemanfaatannya ditentukan oleh Rasulullah Saw, zakat hanya boleh diberikan kepada pihak-pihak tertentu yang telah digariskan oleh al-quran surat At-Taubah ayat 60:65
ِااَقِّرلا يِفَو ْمُهُ بوُلُ ق ِةَفَّلَؤُمْلاَو اَهْ يَلَع َنيِلِماَ ْلاَو ِنيِكاَسَمْلاَو ِءاَرَقُفْلِل ُتاَقَيَّصلا اَمَّنِ
ٌميِكَح ٌميِلَع ُوَّللاَو ِوَّللا َنِم ًةَضيِرَف ِليِبَّسلا ِنْبِاَو ِوَّللا ِليِبَس يِفَو َنيِمِراَغْلاَو
Artinya :Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk memerdekakan hamba sahaya, untuk membebaskan orang yang berhutang, untuk yang berada di jalan Allah dan untuk orang yang sedang di dalam perjalanan sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S At-Taubah : 60)66
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dijelaskan :
ِنْب ِللها ِيْبَع ِنْب َيْحَي ْنَع َقاَحْسِ ُنْب َءاَّيِرَكَز ْنَع ٍيَلْخَم ُنْب ُكاَّحَّضَلا ٍمِصاَع وُبَأ اَنَ ثَّيَح َثَ َ ب َمَّلَسَو ِوْيَلَع ُللها ىَّلَص َّيِبَّنلا َّنَأ اَمُهْ نَع ُللها َيِضَر ٍساَّبَع ِنْبا ْنَع ٍيَبْ َم يِبَأ ْنَع ِّيِفْيَص
64 Adiwarman Azwar Karim, Ekonomi Islam Suatu Kajian Ekonomi Makro, (Jakarta : IIIT Indonesia, 2002), hlm.129.
65 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Ekonomi Islam, ..., hlm.100.
66 Al-Quran dan Terjemahnya, Departemen Agama RI, ..., hlm.156.
ِللها ُلْوُسَر يِّنَأَو ُللها َّلاِ َوَلِ َلا ْنَأ ِةَداَهَ ىَلِ ْمُهُعْدا َلاَقَ ف ِنَمَيْلا ىَلِ ُوْنَع ُللها َيِضَر اًذاَ ُم ٍمْوَ ي ِّلُك يِف ٍتاَوَلَص َ ْمَ ْمِهْيَلَع َضَرَ تْ فا ْيَق َللها َّنَأ ْمُهْمِلْعَأَف َكِلَذِل اوُعاَطَأ ْمُى ْنِإَف ْنِم ُذَ ْؤُ ت ْمِهِلاَوْمَأ يِف ًةَقَيَص ْمِهْيَلَع َضَرَ تْ فا َللها َّنَأ ْمُهْمِلْعَأَف َكِلَذِل اوُعاَطَأ ْمُى ْنِإَف ٍةَلْ يَلَو ْمِهِااَرَقُ ف ىَلَع ُّدَرُ تَو ْمِهِااَيِنْغَأ
Artinya :Nabi Muhammad Saw mengutus Muad ke Yaman, beliau bersabda : ajaklah mereka baca syahadat, jika sudah taat maka sampaikanlah bahwa Allah mewajibkan shalat lima kali sehari, jika taat maka sampaikanlah bahwa Allah mewajibkan sedekah harta yang diambil dari yang kaya diberikan pada yang fakir. (HR Bukhori).
Dari hadis di atas dapat dipahami bahwa zakat diambil dari orang kaya yang diberikan kepada fakir miskin. Zakat dapat meningkatkan pendapatan fakir miskin, sehingga mereka dapat membeli barang dan jasa yang dibutuhkan atau dipergunakan sebagai modal dan tentu saja hal tersebut juga dapat meningkatkan tabungan dan investasi. Hal ini diformulasikan, dengan adanya kewajiban zakat mengakibatkan pendapatan agregat (Y) dibagi pada pendapatan muzakki (Yz) dan pendapatan mustahiq (Yq).
Pengeluaran sedekah muzakki mengakibatkan bertambahnya mendapatan mustahiq. Pendapatan mustahiq tersebut dianggarkan untuk konsumsi dan bila mungkin ditabung dan diinvestasikan.67
Ushr adalah bea impor yang dikenakan kepada semua pedagang, dibayar hanya sekali dalam setahun dan hanya berlaku terhadap barang yang nilainya lebih dari 200 dirham. Barang-barang milik utusan dibebaskan dari bea impor di wilayah muslim, bila sebelumnya telah terjadi tukar menukar barang.68
b) Kharaj
Kharaj adalah pajak tanah dipungut dari nonmuslim ketika Khaibar ditaklukkan. Tanahnya diambil alih oleh orang muslim
67 Ilfi Nur Diana, Hadis-Hadis Ekonomi, ..., hlm.80.
68 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Ekonomi Islam, ..., hlm.489.
dan pemilik lamanya menawarkan untuk mengolah tanah tersebut sebagai pengganti sewa tanah dan bersedia memberikan sebagian hasil produksi kepada negara. Jumlah kharaj dari tanah ini tetap, yaitu setengah dari hasil produksi. Rasulullah Saw biasanya mengirim orang yang memiliki pengetahuan dalam masalah ini untuk memperkirakan jumlah hasil produksi. Setelah mengurangi sepertiga sebagai kelebihan perkiraan, dua per tiga bagian dibagikan dan mereka bebas memilih, menerima atau menolak pembagian tersebut. Prosedur yang sama juga diterapkan di daerah lain. Kharaj ini menjadi sumber pendapatan yang penting.69 Aturan mengenai juga kharaj dijelaskan dalam hadis dibawah ini :
ْنَع َةَزْمَح يِبَأ ْنَع ٍكْيِرَ ْنَع ٍرِماَع ُنْب ُدَوْس َْلأا اَنَ ثَّيَح ِوْيَوُّيَم ِنْب َيَمْحَأ ُنْب ُيَّمَحُم اَنَ ثَّيَح ْنَع َمَّلَسَو ِوْيَلَع ُللها ىَلَص ُّيِبَّنلا َلِئُس ْوَأ ُتْلَأَس ْتَلاَق ٍ ْيَ ق ِتْنِب َةَمِطاَف ْنَع ِّيِبْ َّشلا لاْا ِهِذَى َ َت َّمُث ِةاَكَّزلا ىَوِس اِّقَحَل ِلاَمْلا يِف َّنِ َلاَقَ ف ِةاَكَّزلا
҇ َّرِبْلا َ ْيَل ِةَرَقَ بْلا يِف يِتَّلا َةَي
لاْا ْمُكَىوُجُو اوُّلَوُ ت ْنَأ
҇ َةَي
Artinya :Nabi Muhammad Saw ditanya tentang zakat, maka beliau bersabda: seungguhnya pada harta itu ada kewajiban selain zakat.
(HR Turmudzi)
Yang dimaksud kewajiban selain zakat dalam hadis di atas adalah kewajiban sosial lainnya yaitu dapat berupa pajak, sedekah, sunnah, infak, hibah dan juga wakaf.70
c) Khums
Khums dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-Anfal ayat 41, yaitu :
69 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Ekonomi Islam, ..., hlm.488.
70 Ilfi Nur Diana, Hadis-Hadis Ekonomi, ..., hlm.96.
ِنيِكاَسَمْلاَو ىَماَتَيْلاَو ىَبْرُقْلا يِذِلَو ِلوُسَّرلِلَو ُوَسُمُ ِوَّلِل َّنَأَف ٍءْيَ ْنِم ْمُتْمِنَغ اَمَّنَأ اوُمَلْعاَو ِناَ ْمَجْلا ىَقَ تْلا َمْوَ ي ِناَقْرُفْلا َمْوَ ي اَنِيْبَع ىَلَع اَنْلَزْ نَأ اَمَو ِوَّللاِب ْمُتْنَمآ ْمُتْنُك ْنِ ِليِبَّسلا ِنْباَو ريِيَق ٍءْيَ ِّلُك ىَلَع ُوَّللاَو
Artinya :Dan ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlima untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak yatim, orang miskin dan ibnussabil, (demikian) jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S Al-Anfal : 41)71
Para ulama Syiah berpendapat bahwa khums sebesar 20%
dikenakan terhadap sumber pendapatan apapun, namun ulama Sunni beranggapan bahwa ayat tersebut berkenaan dengan harta rampasan perang. Menurut Imam Abu Ubaid beranggapan bahwa yang dianggap khums bukan hanya hasil rampasan perang tetapi juga barang temuan dan barang tambang.72
d) Jizyah
Jizyah adalah pajak yang dibayar oleh orang nonmuslim khususnya ahli kitab untuk jaminan perlindungan jiwa, harta atau kekayaan, ibadah, bebas dari nilai-nilai dan tidak wajib militer.
Pada zaman Rasulullah Saw besarnya jizyah adalah satu dinar per tahun untuk orang dewasa yang mampu membayarnya.
Pembayaran tidak harus berupa uang tunai, tetapi dapat juga berupa barang atau jasa.73
e) Kaffarah
Kaffarah berupa denda, misalnya yang dikenakan kepada suami istri yang melakukan hubungan badan di siang hari pada bulan puasa. Denda tersebut dimasukkan dalam pendapatan negara.
Contoh lainnya yaitu orang yang meninggal tanpa memiliki ahli
71 Al-Quran dan Terjemahnya, Departemen Agama RI, ..., hlm.145.
72 Adiwarman Azwar Karim, Ekonomi Islam Suatu Kajian Ekonomi Makro, ..., hlm.134.
73 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Ekonomi Islam, ..., hlm.488.
waris sehingga warisannya dimasukkan sebagai pendapatan negara.74
Beberapa sumber pendapatan yang tidak terlalu besar berasal dari beberapa sumber, seperti tebusan tawanan perang, pinjaman dari kaum muslim, rikaz, wakaf, nawaib (pajak bagi muslimin kaya dalam rangka menutupi pengeluaran negara selama masa darurat), sedekah, dan sumber penerimaan lainnya.75
Tabel 2.4
Sumber-Sumber Pendapatan pada Masa Rasulullah Saw.
Dari Kaum Muslim Dari Kaum
Non-Muslim Umum
Efisiensi dan efektivitas merupakan landasan pokok dalam pengeluaran pemerintah. Sebagai suatu panduan pokok bagi pengeluaran publik, teori pengeluaran islam memakai kaidah-kaidah yang diambil dari al-Qawaid al-Fiqhiyyah guna menghindari potensi-potensi inefisiensi pengeluaran dan juga norma-norma konsumsi Islam, serta dijadikan kaidah rasionalitas bagi pengeluaran negara.
Menurut as-Syatibi sebagai enam kaidah tersebut adalah :76
74 Adiwarman Azwar Karim, Ekonomi Islam Suatu Kajian Ekonomi Makro, ..., hlm.136.
75 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Ekonomi Islam, ..., hlm.100.
76 Umar Chapra, Masa Depan Ilmu Ekonomi : Sebuah Tinjauan Islam, (Jakarta : Ikhwan Abidin Basri, Gema Insani Pressdan Tazkia Institute, 2000), hlm.285.
a) Kriteria pokok bagian semua alokasi pengeluaran harus digunakan untuk kemaslahatan rakyat
b) Penghapusan kesulitan dan kerugian harus didahulukan dari pada penyediaan kenyamanan
c) Kemaslahatan mayoritas yang lebih besar harus didahulukan dari pada penyediaan kenyamanan
d) Suatu pengorbanan atau kerugian privat dapat ditimpakan untuk menyelamatkan pengorbanan atau kerugian publik, dan suatu pengorbanan atau kerugian yang lebih besar dapat dihindarkan dengan memaksakan pengorbanan atau kerugian yang lebih kecil e) Siapapun yang menerima manfaat harus bersedia menanggung
biaya
f) Suatu hal yang wajib ditegakkan dan tanpa ditunjang oleh penunjang lainnya tidak dapat dibangun, maka menegakkan faktor penunjang tersebut menjadi wajib hukumnya.
Kaidah-kaidah tersebut dapat membantu dalam mewujudkan efektifitas dan efisiensi pembelanjaan pemerintah islam, sehingga tujuan-tujuan dari pembelanjaan pemerintah dapat tercapai. Diantara tujuan pembelanjaan dalam pemerintahan islam, yaitu :77
a) Pengeluaran demi memenuhi hajat masyarakat b) Pengeluaran sebagai alat redistribusi kekayaan
c) Pengeluaran yang mengarah kepada semakin bertambahnya permintaan efektif
d) Pengeluaran yang berkaitan dengan investasi dan produksi
e) Pengeluaran yang bertujuan menekan tingkat inflasi dengan kebijakan intervensi pasar.
Berdasarkan jenisnya, belanja pemerintah (pengeluaran pemerintah dalam Islam dapat dibedakan menjadi) :78
77 Mustofa Edwin Nasution, Pengenalan Ekslusife Ekonomi Islam, (Jakarta : Kencana, 2007), hlm.224.
78 Adiwarman A. Karim, Ekonomi Makro Islami Edisi Kedua, ... , hlm.272.
a) Wasteful Spending
Kondisi dimana belanja pemerintah memberikan manfaat yang kecil dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan. Sehingga pengeluaran yang dikeluarkan relatif tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap masyarakat.
b) Productive Spending
Apabila belanja memberikan manfaat yang lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan. Pengeluaran pemerintah mengakibatkan pengaruh positif signifikan terhadap perekonomian.
c) Transfer Payment
Yaitu apabila jumlah manfaat yang diterima dan biaya yang dikeluarkan sama besarnya. Hal ini dilakukan pada jenis pengeluaran seperti subsidi kepada masyarakat, pemberian jaminan sosial kepada masyarakat yang membutuhkan misalnya asuransi kesehatan atau asuransi pengangguran.
Yaitu apabila jumlah manfaat yang diterima dan biaya yang dikeluarkan sama besarnya. Hal ini dilakukan pada jenis pengeluaran seperti subsidi kepada masyarakat, pemberian jaminan sosial kepada masyarakat yang membutuhkan misalnya asuransi kesehatan atau asuransi pengangguran.