PERUBAHAN BELANJA NEGARA 4.1 Pendahuluan
4.2 Pokok-Pokok Perubahan Kebijakan dan Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun 2012Pemerintah Pusat Tahun 2012
4.2.1 Belanja Pemerintah Pusat Menurut Jenis
Perubahan anggaran belanja pemerintah pusat menurut jenis dalam APBN-P tahun 2012, terjadi pada semua jenis belanja, yaitu: (1) belanja pegawai; (2) belanja barang; (3) belanja modal; (4) pembayaran bunga utang; (5) subsidi; (6) belanja hibah; (7) bantuan sosial; serta (8) belanja lain-lain.
Dalam APBN-P tahun 2012 alokasi anggaran untuk belanja pegawai ditetapkan mencapai Rp212.255,1 miliar, yang berarti menurun Rp3.607,3 miliar atau 1,7 persen dari pagu anggaran belanja pegawai yang dialokasikan dalam APBN tahun 2012 sebesar
APBN APBN-P % perubahan I. Belanja Pemerintah Pusat 964.997,3 1.069.534,4 10,8
1. K/L 508.359,6 547.925,5 7,8
2. Non K/L 456.637,7 521.608,9 14,2 -
II. Transfer ke Daerah 470.409,5 478.775,9 1,8
1. Dana Perimbangan 399.985,6 408.352,0 2,1
2. Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian 70.423,9 70.423,9 -
1.435.406,8
1.548.310,4 7,9
Sumber: Kementerian Keuangan
TABEL IV.2 BELANJA NEGARA, 2012
(miliar rupiah)
Jenis Belanja
Rp215.862,4 miliar. Lebih rendahnya alokasi pagu anggaran belanja pegawai tersebut terutama berkaitan dengan adanya optimalisasi pada pos belanja pegawai non K/L sebesar Rp4.250,9 miliar
Anggaran belanja pegawai tersebut telah memperhitungkan realokasi dari belanja lain-lain sebesar Rp643,6 miliar. Realokasi tersebut merupakan dampak dari penetapan Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia, Radio Republik Indonesia dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sebagai Satuan kerja (Satker) dengan BA sendiri, sehingga anggaran belanja dari instansi tersebut yang semula merupakan bagian dari pos belanja lain-lain dialihkan ke pos belanja pegawai, belanja barang, belanja modal, dan bantuan sosial pada BA K/L.
Selanjutnya, alokasi anggaran belanja barang ditetapkan mencapai Rp162.012,3 miliar. Jumlah ini menunjukkan penurunan sebesar Rp25.989,4 miliar (13,8 persen) terhadap pagunya dalam APBN tahun 2012 sebesar Rp188.001,7 miliar. Penurunan tersebut utamanya disebabkan oleh kebijakan pemotongan belanja barang K/L sebesar Rp15.982,6 miliar, yang dilakukan dengan koridor-koridor sebagai berikut: (1) pemotongan dilakukan pada seluruh K/L sebagai bagian dari program penghematan belanja Pemerintah Pusat; (2) besaran pemotongan didasarkan pada kinerja penyerapan anggaran 3 tahun terakhir; dan (3) tetap menjaga terpenuhinya belanja non-operasional dalam rangka pencapaian target output dan
outcome dari kegiatan/program prioritas nasional. Berdasarkan hal tersebut, pemotongan
dilakukan terhadap komponen-komponen belanja barang non-operasional di luar kegiatan prioritas nasional, antara lain meliputi: belanja barang non-operasional lainnya, belanja jasa konsultan, belanja jasa profesi, belanja jasa lainnya, serta belanja perjalanan dinas lainnya. Selain itu, beberapa perubahan anggaran belanja barang dalam APBN-P tahun 2012 juga mencakup antara lain: (1) adanya realokasi anggaran dari pos belanja lain-lain untuk beberapa organisasi yang ditetapkan sebagai satuan kerja dengan bagian anggaran sendiri sebagaimana diuraikan di atas; (2) perubahan sumber pendanaan yang berasal dari pagu penggunaan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan badan layanan umum (BLU), serta pinjaman luar negeri dan hibah luar negeri; (3) anggaran belanja tambahan yang bersifat sangat mendesak yang diusulkan untuk ditampung dalam APBN-P 2012; (4) kompensasi angkutan umum akibat perubahan besaran subsidi energi untuk angkutan laut perintis, Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) perintis, dan bus perintis; serta (5) tambahan anggaran belanja barang K/L yang berasal dari tambahan anggaran pendidikan sebagai akibat dari peningkatan volume belanja negara.
Alokasi anggaran belanja modal dalam APBN-P tahun 2012 ditetapkan sebesar Rp 176.051,4 miliar. Jumlah tersebut berarti menunjukkan peningkatan Rp24.076,3 miliar, atau 15,8 persen lebih tinggi dari pagu alokasi anggaran belanja modal yang ditetapkan dalam APBN tahun 2012 sebesar Rp151.975,0 miliar. Lebih tingginya alokasi anggaran belanja modal dalam APBN-P tahun 2012 tersebut, terutama disebabkan oleh kebijakan penambahan alokasi untuk berbagai program di bidang infrastruktur yang pendanaannya berasal dari pemanfaatan saldo anggaran lebih (SAL) sampai dengan tahun 2011. Program-program infrastruktur dimaksud antara lain meliputi: (1) pembangunan infrastruktur konektivitas Indonesia bagian Timur; (2) pengadaan infrastruktur pendukung domestic
connectivity dan koridor ekonomi, ketahanan pangan, mitigasi bencana, dan untuk klaster
4; (3) pembelian peralatan kepolisian dalam mengantisipasi kerusuhan. Selanjutnya, apabila dibandingkan dengan realisasi anggaran belanja modal dalam tahun 2011 sebesar Rp
117.854,5 miliar, maka alokasi anggaran belanja modal dalam APBN-P tahun 2012 tersebut lebih tinggi Rp 58.196,8 miliar atau 49,4 persen.
Selain itu, perubahan anggaran belanja modal dalam APBN-P 2012 juga disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) pemotongan belanja modal pada BA 999.08 sebesar Rp3.982,2 miliar; (2) realokasi anggaran dari pos belanja lain-lain untuk beberapa organisasi yang ditetapkan sebagai satuan kerja dengan bagian anggaran sendiri; (3) anggaran belanja tambahan sangat mendesak yang diusulkan untuk ditampung dalam APBN-P 2012; (4) pemotongan belanja modal K/L yang berasal dari optimalisasi hasil pengadaan dan penundaan pembangunan gedung kantor; serta (5) tambahan anggaran pendidikan untuk rehabilitasi sekolah dasar dan menengah.
Pembayaran bunga utang disusun dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian
pada akhir tahun 2011 sampai dengan awal tahun 2012, yang kemudian digunakan sebagai dasar dalam menetapkan asumsi imbal hasil (yield) SBN yang akan diterbitkan pada tahun 2012, asumsi rata-rata SPN 3 bulan, dan asumsi nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat. Pada saat penyusunan APBN tahun 2012, yield SBN yang akan diterbitkan dalam tahun 2012 diasumsikan berada pada kisaran rata-rata 7,5 persen untuk SBN jangka panjang, dan rata-rata 6,0 persen untuk SBN jangka pendek. Asumsi tersebut mengacu pada pergerakan yield pada akhir tahun 2010 sampai dengan paruh pertama tahun 2011 yang berfluktuasi pada kisaran 16,0 persen pada bulan Oktober 2010, kemudian naik menjadi 23,9 persen pada bulan Desember 2010, dan 23,4 persen pada bulan Maret 2011. Untuk tingkat bunga SPN 3 bulan, dan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengacu pada asumsi yang ditetapkan dalam APBN, yaitu masing-masing sebesar 6,0 persen dan Rp8.800 per USD. Berdasarkan hal tersebut, pembayaran bunga utang dalam APBN tahun 2012 direncanakan sebesar Rp122.217,6 miliar, terdiri dari bunga utang dalam negeri sebesar Rp88.503,3 miliar, dan bunga utang luar negeri sebesar Rp33.714,3 miliar. Kondisi perekonomian nasional yang cukup kondusif sepanjang tahun 2011 diperkirakan berdampak positif terhadap pembayaran bunga utang pada tahun 2012. Sentimen positif dari kondisi perekonomian nasional tersebut semakin mendorong masuknya investor asing dalam pasar surat utang Pemerintah dan membantu menurunkan yield surat utang Pemerintah baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan mempertimbangkan hal tersebut maka tingkat bunga SPN 3 bulan diproyeksikan dapat lebih rendah dibandingkan asumsi awal.
Berdasarkan berbagai perkembangan tersebut, pembayaran bunga utang dalam APBN-P tahun 2012, diperkirakan menurun sebesar Rp4.432,2 miliar (3,6 persen dari pagu alokasi dalam APBN tahun 2012), sehingga menjadi sebesar Rp 117.785,4 miliar. Jumlah ini terdiri dari bunga utang dalam negeri sebesar Rp84.749,3 miliar, dan bunga utang luar negeri sebesar Rp33.036,1 miliar. Penurunan perkiraan pembayaran bunga utang tersebut terutama disebabkan oleh lebih rendahnya pembayaran bunga utang dalam negeri sebesar Rp3.754,0 miliar, dan pembayaran bunga utang luar negeri sebesar Rp678,2 miliar. Penurunan pembayaran bunga utang dalam negeri tersebut disebabkan oleh efisiensi dalam pengelolaan utang, pasar SBN dalam negeri yang semakin likuid, dan didukung oleh perbaikan kondisi pasar keuangan global, sehingga berdampak pada turunnya imbal hasil penerbitan SBN. Selain itu, penurunan pembayaran bunga utang dalam negeri juga disebabkan oleh penurunan asumsi tingkat bunga SPN 3 bulan dari 6,0 persen pada APBN 2012 menjadi 5,0
persen. Faktor lain yang mendukung efisiensi ini adalah pemilihan tenor penerbitan, dan pemilihan instrumen yang tepat, sehingga dapat mengurangi realisasi diskon yang harus dibayarkan pemerintah. Sementara itu, penurunan pembayaran bunga utang luar negeri dipengaruhi oleh efisiensi dalam pengelolaan utang dalam mata uang asing, baik untuk pinjaman luar negeri maupun SBN valas. Pemilihan waktu yang tepat untuk menerbitkan SBN valas, serta rencana penyesuaian target penerbitan SBN valas juga menjadi faktor yang menentukan besarnya jumlah bunga utang tersebut. Dari sisi pinjaman luar negeri, realisasi penarikan pinjaman proyek yang relatif rendah pada 2011 berdampak pada turunnya proyeksi pembayaran bunga utang di tahun 2012.
Selanjutnya anggaran belanja subsidi dalam APBN-P tahun 2012 ditetapkan akan mengalami kenaikan yang cukup signifikan sehingga mencapai Rp245.076,3 miliar. Jumlah itu berarti mengalami kenaikan sebesar Rp36.226,1 miliar, atau 17,3 persen bila dibandingkan dengan alokasinya yang ditetapkan dalam APBN 2012 sebesar Rp208.850,2 miliar. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) penyesuaian subsidi BBM dan LPG Tabung 3 kg serta subsidi listrik akibat dampak perubahan harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang diproyeksikan rata-rata USD105/barel pada APBN-P 2012, atau USD15/barel lebih tinggi bila dibandingkan dengan asumsi harga minyak mentah Indonesia yang dipergunakan sebagai dasar penyusunan APBN tahun 2012 sebesar USD90/barel; (2) perubahan bauran energi (fuel mix) sebagai salah satu parameter penting dalam perhitungan subsidi listrik juga menjadi salah satu penyebab kenaikan anggaran belanja subsidi listrik; dan (3) penambahan durasi penyaluran raskin. Rincian perubahan beban subsidi dalam tahun 2012 selengkapnya dapat dilihat pada Tabel IV.3.
Subsidi BBM dan LPG Tabung 3 kg dalam APBN-P 2012 diperkirakan mencapai Rp137.379,8 miliar, yang berarti Rp13.780,2 miliar atau 11,1 persen lebih tinggi dibandingkan dengan pagunya dalam APBN 2012 sebesar Rp123.599,7 miliar. Peningkatan tersebut disebabkan oleh adanya (1) kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang diperkirakan mencapai rata-rata USD105/barel dari pagu APBN sebesar USD90/barel; dan (2) tambahan jenis subsidi Liquefied Gas for Vehicle (LGV) sebesar Rp54,0 miliar yang merupakan bagian
A. ENERGI 168.559,9 202.353,2 33.793,4 20,0 1. Subsidi BBM Dan LPG Tabung 3 Kg *) 123.599,7 137.379,8 13.780,2 11,1 2. Subsidi Listrik 44.960,2 64.973,4 20.013,2 44,5 B. NON ENERGI 40.290,3 42.723,1 2.432,7 6,0 1. Subsidi Pangan 15.607,1 20.926,3 5.319,2 34,1 2. Subsidi Pupuk 16.944,0 13.958,6 (2.985,4) (17,6) 3. Subsidi Benih 279,9 129,5 (150,4) (53,7) 4. Public Service Obligation 2.025,0 2.151,4 126,4 6,2 5. Subsidi Kredit Program 1.234,4 1.293,9 59,5 4,8 6. 4.200,0 4.263,4 63,4 1,5
JUMLAH 208.850,2 245.076,3 36.226,1 17,3 *) termasuk subsidi LGV
Sumber: Kementerian Keuangan
Nominal %
Subsidi Pajak
TABEL IV.3 SUBSIDI, 2012 (miliar rupiah)
dari subsidi BBM dan LPG Tabung 3 Kg dalam rangka mendukung program diversifikasi BBM ke bahan bakar gas (BBG) untuk transportasi umum.
Pemerintah telah dan akan melakukan langkah-langkah kebijakan penghematan beban subsidi BBM, antara lain berupa: (1) penyesuaian harga BBM bersubsidi khususnya jenis premium dan minyak solar untuk tahun 2012. Kebijakan ini akan diberlakukan apabila dalam kurun waktu 6 (enam) bulan harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesian
Crude Price/ICP) dalam kurun waktu berjalan mengalami kenaikan atau penurunan lebih
dari 15% (lima belas persen) dari harga ICP yang diasumsikan dalam APBN Perubahan Tahun Anggaran 2012; (2) pengendalian konsumsi BBM bersubsidi secara bertahap melalui (a) optimalisasi program konversi minyak tanah ke LPG Tabung 3 Kg; (b) konversi BBM ke bahan bakar gas (BBG); (c) peningkatan pemanfaatan energi alternatif seperti bahan bakar nabati (BBN) dan bahan bakar gas (BBG); (d) pengaturan konsumsi BBM bersubsidi; dan (e) penyempurnaan regulasi kebijakan subsidi BBM dan LPG Tabung 3 Kg.
Sementara itu, beban subsidi listrik dalam APBN-P tahun 2012 diperkirakan mencapai Rp64.973,4 miliar, yang berarti mengalami peningkatan sebesar Rp20.013,2 miliar atau 44,5 persen bila dibandingkan dengan pagu alokasi anggaran subsidi listrik yang ditetapkan dalam APBN 2012 sebesar Rp44.960,2 miliar. Peningkatan anggaran subsidi listrik dibanding dengan pagunya dalam APBN 2012 tersebut selain disebabkan oleh risiko perubahan berbagai parameter subsidi listrik seperti penyesuaian commercial operation date (COD) PLTU, keterlambatan pengoperasian Floating Storage Regasification Unit (FSRU), dan kenaikan harga batu bara, juga disebabkan oleh adanya carry over/kekurangan pembayaran subsidi listrik tahun 2010 sebesar Rp4.506,8 miliar.
Untuk mengendalikan anggaran subsidi listrik, Pemerintah bersama PT PLN (Persero) secara bertahap terus melakukan langkah-langkah dan upaya untuk menurunkan BPP tenaga listrik, antara lain melalui: (1) program penghematan pemakaian listrik (demand side) melalui penurunan susut jaringan (losses); dan (2) program diversifikasi energi primer di pembangkit tenaga listrik (supply side), dengan optimalisasi penggunaan gas, perubahan High Speed
Diesel (HSD) dan Marine Fuel Oil (MFO), peningkatan penggunaan batubara, pemanfaatan biofuel, dan panas bumi.
Selain subsidi BBM dan LPG Tabung 3 Kg sebesar Rp137.379,8 miliar dan subsidi listrik sebesar Rp64.973,4 miliar, terdapat cadangan risiko energi sebesar Rp23.000,0 miliar yang dapat digunakan apabila realisasi anggaran subsidi BBM jenis tertentu dan bahan bakar gas cair (liquefied petroleum gas (LPG)) tabung 3 (tiga) kilogram dan/atau subsidi listrik hingga akhir Tahun Anggaran 2012 melebihi pagu APBN-P 2012. Cadangan risiko energi tersebut dialokasikan dalam pos belanja lain-lain.
Selanjutnya, alokasi anggaran subsidi pangan dalam APBN-P tahun 2012 diperkirakan mencapai Rp20.926,3 miliar, yang berarti naik Rp5.319,2 miliar, atau 34,1 persen dari pagu alokasi anggaran subsidi pangan yang ditetapkan dalam APBN tahun 2012 sebesar Rp15.607,1 miliar. Lebih tingginya perkiraan subsidi pangan bila dibandingkan dengan pagunya dalam APBN 2012 tersebut, berkaitan dengan tambahan durasi penyaluran raskin. Penambahan durasi penyaluran raskin untuk masyarakat berpenghasilan rendah tersebut merupakan salah satu bentuk kompensasi dari perubahan kebijakan BBM.Selain itu, tambahan subsidi pangan juga disebabkan oleh kenaikan harga pembelian beras (HPB) Perum Bulog dari semula Rp6.558,00/kg menjadi Rp7.500,00/kg. Perubahan tersebut
berkaitan dengan diterbitkannya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2012 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah, pada tanggal 27 Februari 2012. Dalam Inpres tersebut, Harga Pembelian Pemerintah (HPP) beras untuk petani mengalami kenaikan dari semula Rp5.060,00/kg menjadi Rp6.600,00/kg.
Alokasi anggaran subsidi pupuk dalam APBN-P tahun 2012 diperkirakan sebesar Rp13.958,6 miliar, yang berarti turun Rp2.985,4 miliar, atau 17,6 persen dari pagu anggaran subsidi pupuk yang ditetapkan dalam APBN tahun 2012 sebesar Rp16.944,0 miliar. Lebih rendahnya perkiraan beban anggaran subsidi pupuk dari pagunya dalam APBN tahun 2012 tersebut, terutama perubahan volume penyaluran pupuk bersubsidi pada tahun 2012 setelah dilakukan penyesuaian berkaitan dengan rendahnya realisasi penyaluran pupuk bersubsidi tahun-tahun sebelumnya.
Alokasi anggaran subsidi benih dalam APBN-P tahun 2012 diperkirakan sebesar Rp129,5 miliar, yang berarti turun Rp150,4 miliar, atau 53,7 persen dari pagu anggaran subsidi benih yang ditetapkan dalam APBN tahun 2012 sebesar Rp279,9 miliar. Lebih rendahnya perkiraan beban anggaran subsidi benih dari pagunya dalam APBN tahun 2012 tersebut, terutama disebabkan oleh adanya pengurangan beberapa jenis komoditas benih yang disubsidi, berkaitan dengan rendahnya realisasi penyaluran volume subsidi benih pada tahun-tahun sebelumnya.
Alokasi anggaran subsidi/PSO dalam APBN-P tahun 2012 diperkirakan sebesar Rp2.151,4 miliar, yang berarti meningkat Rp126,4 miliar, atau 6,2 persen dari pagu anggaran subsidi/ PSO yang ditetapkan dalam APBN tahun 2012 sebesar Rp2.025,0 miliar. Meningkatnya perkiraan beban anggaran subsidi/PSO dari pagunya dalam APBN tahun 2012 tersebut, disebabkan oleh peningkatan alokasi anggaran subsidi/PSO PT Pelni untuk mengantisipasi adanya kenaikan biaya dalam perhitungan PSO sebagai dampak dari perubahan kebijakan subsidi BBM dengan implikasi pada penyesuaian harga BBM.
Sementara itu, alokasi anggaran subsidi bunga kredit program dalam APBN-P tahun 2012 diperkirakan mencapai Rp1.293,9 miliar, yang berarti mengalami kenaikan Rp59,5 miliar atau 4,8 persen bila dibandingkan dengan pagu alokasi anggaran subsidi bunga kredit program yang ditetapkan dalam APBN 2012 sebesar Rp1.234,4 miliar. Lebih tingginya alokasi anggaran subsidi bunga kredit program dalam APBN-P tahun 2012 tersebut karena adanya tambahan jenis subsidi bunga kredit program yang baru, yaitu subsidi bunga untuk sarana dan prasarana BBM non subsidi. Pemberian subsidi bunga tersebut dalam rangka mendukung kebijakan diversifikasi BBM ke bahan bakar gas untuk transportasi umum. Terkait dengan subsidi pajak ditanggung pemerintah (DTP), alokasi anggaran subsidi pajak DTP dalam APBN-P tahun 2012 diperkirakan sebesar Rp4.263,4 miliar, yang berarti naik Rp63,4 miliar, atau 1,5 persen dari pagu anggaran subsidi pajak DTP yang ditetapkan dalam APBN tahun 2012 sebesar Rp4.200 miliar. Lebih tingginya perkiraan beban anggaran subsidi pajak DTP dari pagunya dalam APBN tahun 2012 tersebut, disebabkan oleh meningkatnya PPh atas bunga imbal hasil atas SBN internasional.
Dalam APBN-P tahun 2012, alokasi anggaran belanja hibah mengalami penurunan sebesar Rp5,8 miliar dari pagu yang dianggarkan dalam APBN tahun 2012 sebesar Rp1.796,7 miliar menjadi sebesar Rp1.790,9 miliar. Perubahan tersebut terutama disebabkan oleh
adanya penundaan pelaksanaan kegiatan karena belum selesainya dokumen perjanjian yaitu
Simeuleu Physical Infrastructure Project – Phase 2 sebesar Rp81,2 miliar dan Development of Seulawah Agam Geothermal in NAD Province sebesar Rp23,2 miliar. Di sisi lain terdapat
dana luncuran dari tahun 2011 karena tidak terserapnya keseluruhan anggaran yaitu Water
and Sanitation Program - Subprogram – D (WASAP-D) sebesar Rp11,7 miliar dan Infrastructure Enhancement Grant (IEG) sebesar Rp6,4 miliar. Adapun rincian belanja
hibah dalam APBN-P tahun 2012 adalah sebagai berikut: (1) Mass Rapid Transit (MRT)
project sebesar Rp1.570,6 miliar; (2) Program Local Basic Education Capacity (L-BEC)
sebesar Rp54,5 miliar; (3) Water and sanitation Program-Subprogram D (WASAP-D) sebesar Rp11,7 miliar; (4) Infrastructure Enhancement Grant (IEG) sebesar Rp6,4 miliar; dan (5) Water Resources and Irrigation System Management Project-APL 2 (WISMP-2) sebesar Rp147,8 miliar.
Sementara itu, anggaran belanja bantuan sosial dalam APBN-P tahun 2012 ditetapkan sebesar Rp86.028,0 miliar. Jumlah ini berarti meningkat sebesar Rp38.264,1 miliar atau 80,1 persen dari pagunya dalam APBN tahun 2012 sebesar Rp47.763,8 miliar. Peningkatan pagu anggaran belanja bantuan sosial dalam APBN-P tahun 2012 tersebut, terutama terkait dengan adanya belanja bantuan sosial yang berkarakteristik modal yang awalnya masuk ke dalam belanja modal kembali lagi ke dalam belanja bantuan sosial sesuai dengan standar akuntansinya. Alokasi anggaran belanja bantuan sosial dalam APBN-P tahun 2012 tersebut, terdiri atas: (1) alokasi anggaran melalui K/L sebesar Rp82.028,0 miliar, dan (2) alokasi dana cadangan penanggulangan bencana alam melalui BA BUN sebesar Rp4.000,0 miliar.
Anggaran belanja lain-lain dalam APBN-P tahun 2012 ditetapkan sebesar Rp68.535,0
miliar. Jumlah alokasi ini berarti meningkat sebesar Rp40.005,3 miliar, atau 140,2 persen jika dibandingkan dengan pagunya yang ditetapkan dalam APBN tahun 2012 sebesar Rp28.529,7 miliar. Perubahan alokasi anggaran belanja lain-lain dalam APBN-P tahun 2013 tersebut disebabkan antara lain: (1) meningkatnya alokasi cadangan stabiliasi harga pangan sebesar Rp1.000,0 milar; (2) dialokasikannya anggaran untuk pembayaran kompensasi perubahan besaran subsidi berupa: bantuan pembangunan infrastruktur perdesaan (BPIP) sebesar Rp7.883,3 miliar, program keluarga harapan (PKH) sebesar Rp593,4 miliar, dan bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) sebesar Rp17.088,4 miliar; (3) dialokasikannya anggaran konversi BBM ke BBG untuk transportasi umum sebesar Rp2.108,7 miliar yang digunakan untuk pembangunan infrastruktru liquefied gas for vehicles (LGV) dan compressed natural gas (CNG); (4) dialokasikannya cadangan ketahanan pangan sebesar Rp2.000,0 miliar; dan (5) dialokasikannya anggaran untuk mendukung fasilitas pelayanan kesehatan dalam rangka persiapan pelaksanaan BPJS Rp1.000,0 miliar.