Dana Bergulir LPDB KUMKM
PEMBI AYAAN UTANG APBN 2012 DAN APBN-P 2012 (miliar rupiah)
Jenis Pem biay aan Utang
5.2.2.1 Surat Berharga Negara (Neto)
Penetapan target pembiayaan melalui penerbitan SBN (neto) dalam APBN 2012 sebesar Rp134.596,7 miliar, dihitung berdasarkan perkiraan daya serap pasar SBN dan kebutuhan pembiayaan secara keseluruhan. Penyusunan target tersebut mempertimbangkan
outstanding SBN pada pertengahan tahun 2011, proyeksi penerbitan dan perkiraan transaksi debt switch/buyback SBN sampai dengan akhir tahun 2011, serta asumsi nilai tukar Rupiah
sebesar Rp8.800,0 per dolar Amerika Serikat.
Rencana penerbitan SBN (neto) pada APBN-P 2012 ditargetkan sebesar Rp159.596,7 miliar, atau naik Rp25.000,0 miliar (18,6 persen) jika dibandingkan dengan rencana penerbitannya dalam APBN 2012. Kenaikan yang cukup signifikan ini dikarenakan naiknya proyeksi defisit dalam APBN-P 2012. Namun demikian, Pemerintah tetap berupaya agar target penerbitan SBN (neto) tetap mengacu pada kapasitas dan daya serap pasar keuangan domestik. Pemenuhan terhadap kebutuhan pembiayaan dari penerbitan SBN (neto) masih akan tetap difokuskan pada permintaan pasar domestik. Sedangkan penerbitan SBN valas di pasar internasional dilakukan dalam jumlah yang terukur dan hanya bersifat komplementer dengan tetap memperhitungkan biaya dan risiko yang akan timbul. Pemilihan instrumen SBN valas dilakukan secara selektif untuk keperluan benchmarking portofolio, serta pengelolaan portofolio utang Pemerintah.
Adapun strategi operasional yang akan ditempuh Pemerintah dalam memenuhi target penerbitan SBN (neto) hingga akhir tahun 2012 antara lain: (1) memfokuskan penerbitan di pasar domestik secara reguler dengan tetap menghindari terjadinya crowding-out effect dan memperhitungkan batas risiko yang terkendali; (2) menerbitkan SBSN (Sukuk Negara) dengan underlying project untuk memperkaya alternatif instrumen pembiayaan; (3) melakukan buyback dan debt switching untuk pengelolaan risiko dan stabilisasi pasar; dan (4) menerapkan crisis management protocol dalam rangka menjaga stabilitas pasar. Untuk memenuhi target pembiayaan utang yang cukup besar tersebut, instrumen SBN yang akan diterbitkan meliputi: (1) SUN domestik, yang terdiri dari Obligasi Negara (baik reguler maupun ritel) dan Surat Perbendaharaan Negara (SPN); (2) SBSN domestik, baik reguler maupun ritel, jangka pendek maupun jangka panjang; dan (3) SBN valas, yang terdiri atas SUN valas dan SBSN valas.
Dari sisi kepemilikan SBN domestik, sampai dengan akhir Maret 2012 Bank Umum memiliki SBN sebesar Rp293.160,2 miliar (38,5 persen), Bank Indonesia sebesar Rp3.120,6 miliar (0,4 persen), dan investor nonbank sebesar Rp464.299,0 miliar (61,0 persen). Kepemilikan SBN nonbank terutama diserap oleh investor asing, reksadana, asuransi, dan investor lainnya, yang didalamnya termasuk investor individu, dimana yang tertinggi adalah investor asing sebesar Rp224.716,1 miliar (29,5 persen). Kepemilikan asing tersebut meningkat sebesar Rp1.858,9 miliar (0,8 persen) apabila dibandingkan dengan akhir Desember 2011 sebesar Rp222.857,1 miliar.
Ketidakpastian kondisi pasar global terutama di kawasan Eropa dan kebijakan quantitative
easing di Amerika Serikat menyebabkan mengalirnya arus modal global fund manager ke emerging market termasuk Indonesia yang memiliki fundamental ekonomi yang baik.
Mengingat sebagian aliran modal asing merupakan hot money yang juga bertujuan untuk memperoleh keuntungan melalui carry trade, maka peningkatan kepemilikan asing perlu diwaspadai terhadap kemungkinan terjadinya sudden reversal. Untuk mengantisipasi hal
ini, Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Keuangan dan Kementerian BUMN, menyepakati bond stabilization framework, yang meliputi penyiapan anggaran untuk pelaksanaan pembelian kembali SBN (cash buyback), melakukan koordinasi antara unit-unit terkait, dan melakukan kajian yang lebih mendalam mengenai bond stabilization
framework.
5.2.2.2 Pembiayaan Pinjaman Luar Negeri (Neto)
Dalam APBN 2012, pembiayaan dari pinjaman luar negeri (neto) ditetapkan sebesar negatif Rp1.892,3 miliar. Asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang digunakan adalah sebesar Rp8.800,0 per dolar Amerika Serikat. Rencana target indikatif pembiayaan yang bersumber dari pinjaman luar negeri (neto) dalam APBN 2012 tersebut terdiri atas: 1. Penarikan pinjaman luar negeri (bruto) Rp54.282,4 miliar, yang terdiri dari penarikan
pinjaman program Rp15.257,1 miliar dan pinjaman proyek Rp39.025,3 miliar 2. Penerusan pinjaman luar negeri Rp8.914,6 miliar; dan
3. Pembayaran cicilan pokok pinjaman luar negeri jatuh tempo Rp47.260,1 miliar.
Rencana pembiayaan melalui pinjaman luar negeri (neto) tersebut dihitung berdasarkan posisi outstanding pinjaman luar negeri pada pertengahan tahun 2011 dan tambahan penarikan sampai dengan akhir tahun 2011. Rencana penarikan pinjaman program dapat dipenuhi dari World Bank, Asian Development Bank (ADB), dan Japan International
Cooperation Agency (JICA). Sedangkan rencana penarikan pinjaman proyek diperkirakan
dapat dipenuhi dari pinjaman yang sedang berjalan (on going) dan pinjaman baru yang akan ditandatangani dan diperkirakan dapat ditarik sebagian pada tahun 2012.
Dalam APBN-P 2012, pembiayaan dari pinjaman luar negeri (neto) diperkirakan sebesar negatif Rp4.425,7 miliar atau mengalami perubahan sebesar Rp2.533,4 miliar (133,9 persen) jika dibandingkan dengan target semula yang ditetapkan dalam APBN 2012 sebesar negatif Rp1.892,3 miliar. Perubahan target pembiayaan luar negeri (neto) ini terutama disebabkan oleh kenaikan pembayaran cicilan pokok pinjaman luar negeri.
Penarikan pinjaman program dalam APBN-P 2012 diperkirakan sebesar Rp15.603,9 miliar atau naik Rp346,8 miliar (2,3 persen) jika dibandingkan dengan rencana penarikan dalam APBN 2012 sebesar Rp15.257,1 miliar. Kenaikan ini karena pengaruh depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Sementara itu, penarikan pinjaman proyek dalam APBN-P 2012 diperkirakan sebesar Rp38.127,2 miliar. Hal ini berarti turun 2,3 persen atau Rp898,2 miliar jika dibandingkan dengan rencana yang ditetapkan dalam APBN 2012 sebesar Rp39.025,3 miliar. Penurunan ini dikarenakan adanya penurunan pagu pinjaman proyek (drop loan) yang dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat maupun pinjaman proyek yang diteruspinjamkan kepada Pemda dan/atau BUMN.
Untuk pinjaman proyek yang dilaksanakan langsung oleh Pemerintah pusat dalam APBN-P 2012 diperkirakan sebesar Rp29.695,3 miliar atau turun Rp415,4 miliar (1,4 persen) dibandingkan dengan rencana yang ditetapkan dalam APBN 2012 sebesar Rp30.110,7 miliar. Penurunan ini diakibatkan adanya penurunan pagu pinjaman proyek oleh beberapa kementerian negara/lembaga seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Keuangan, Badan SAR Nasional (Basarnas) serta penurunan pagu pinjaman proyek yang diterushibahkan untuk kegiatan Simeuleu Physical Infrastructure Project-Phase II.
Sementara itu, untuk penarikan pinjaman proyek yang diteruspinjamkan (penerusan pinjaman/subsidiary loan agreement/SLA) diperkirakan mengalami perubahan alokasi dari sebesar Rp8.914,6 miliar dalam APBN 2012 menjadi sebesar Rp8.431,8 miliar. Perubahan tersebut disebabkan di satu sisi terdapat pengurangan alokasi penerusan pinjaman dan di sisi lain terdapat penambahan pagu penerusan pinjaman akibat diterbitkannya DIPA Lanjutan Penerusan Pinjaman Tahun Anggaran 2012, sebesar Rp3.319,0 miliar, yang merupakan sisa anggaran penerusan pinjaman yang tidak terserap pada tahun 2011. Perubahan tersebut termasuk pengurangan alokasi penerusan pinjaman untuk PT Pertamina dari semula Rp898,4 miliar menjadi Rp66,0 miliar dan penambahan alokasi penerusan pinjaman untuk PT Sarana Multi Infrastruktur dari semula Rp880,0 miliar menjadi Rp1.000,0 miliar (bersumber dari APBN 2012 sebesar Rp500,0 miliar dan DIPA Lanjutan TA 2012 sebesar Rp500,0 miliar). Rincian perubahan penerusan pinjaman dalam APBN dan APBN-P 2012 dapat dilihat pada
Tabel V.3.
APBN APBN-P Perubahan
1. PT Perusahaan Listrik Negara 6.771,7 6.771,7
-2. PT Perusahaan Gas Negara - 56,9 56,9
3. PT Sarana Multi Infrastruktur 880,0 1.000,0 120,0
4. PT Pertamina (Persero) 898,4 66,0 (832,5)
5. PT Pelabuhan Indonesia II 160,6 160,6
-6. PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia 39,6 39,6
-7. Pemprov DKI Jakarta 124,7 124,7
-8. Pemkot Bogor 30,8 59,6 28,8
9. Pemkot Palopo - 4,8 4,8
10. Pemkot Sawah Lunto - 17,5 17,5
11. Pemkot Banda Aceh - 35,9 35,9
12. Pemkab Morowali - 19,1 19,1
13. Pemkab Muara Enim 6,8 57,3 50,5
14. Pemkab Kapuas 1,9 18,2 16,3
8.914,6
8.431,8 (482,8)
Sumber: Kementerian Keuangan
Total
TABEL V.3
RINCIAN PENERUSAN PINJAMAN APBN 2012 DAN APBN-P 2012